Rasa Aman Yang Palsu

Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!” (Amos 6 : 1)

Rasa Aman Palsu

Pasal 6 ini adalah peringatan keras nabi Amos kepada bangsa Israel, di mana mereka sudah berpuas diri dengan keberadaan mereka saat itu. Mereka berpikir bahwa keberhasilannya secara materi merupakan bukti bahwa mereka hidup di bawah berkat Tuhan. Mereka merasa aman di Sion dan merasa tenteram di gunung Samaria.

        Sion adalah kota yang menjadi pusat peribadatan bagi bangsa Yehuda, tempat di mana mereka biasanya melakukan ritual agama dan mempersembahkan korban. Mereka berpikir bahwa semua yang dikerjakan itu berkenan di hadapan Tuhan. Sayang sekali, Tuhan tidak berkenan atas mereka sebab ibadah mereka hanyalah sebuah ritual agama yang rutin atau kebaisaan saja, tanpa disertai pertobatan sejati. Bangsa Israel masih suka menyembah berhala!

Saat ini, umat Tuhan juga mengalami hal sama. Kita mengira bahwa dengan rajin ke gereja, menyumbang gereja dalam jumlah besar, atau bahkan aktif dalam pelayanan adalah ibadah yang menyenangkan hati Tuhan. Itu tidak salah!  Tetapi hal itu hanyalah sebagian kecil saja.  Ibadah yang sesungguhnya adalah berkenaan dengan ketaatan kita melakukan firman Tuhan. Alkitab mencatat “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” (1 Yoh 2:4).  Sedangkan Samaria adalah pusat kekayaan dan kuasa. Bangsa Israel merasa aman dan tenteram karena memiliki harta atau materi yang berlimpah, padahal firman Tuhan jelas mengingatkan bahwa hal itu hanyalah suatu ‘rasa aman yang palsu’, seharusnya kita tidak mengandalkan hal itu, (Baca: Mat. 16:26).

Amos hendak mengingatkan kepada kita: “daripada hidup berbahagia dengan segala kemewahan materi, lebih baik bangsa Israel meratapi dosa-dosanya dan segera bertobat sebelum malapetaka itu datang menimpa.

 

Bukan berarti Anda dilarang untuk menjadi kaya, tetapi Anda

diingatkan untuk selalu waspada supaya hati Anda

jangan terpaut pada kekayaan itu. 

Artikel oleh: October 13, 2013   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Amos (Renungan Alkitab dari Kitab Amos)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda