Puasa Yang Berkenan

Berpuasa

“Sementara berpuasa, kamu berbantah dan berkelahi dan bertindak dengan kekerasan. Sangkamu cara kamu berpuasa menggerakkan Aku untuk mendengarkan doa-doamu?” (Yesaya 58 : 4)

 

Yesaya sebagai nabi Tuhan disuruh untuk berbicara tentang prilaku keagamaan umat Israel yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Mereka mengira dirinya sudah benar dan merasa benar karena sudah berpuasa dan mencari hadirat Tuhan sehingga mulai menyudutkan dan menyalahkan Tuhan karena harapan dan doa mereka tidak diperhatikan dan dipedulikan Tuhan Allah. Tuhan Allah menilai segala tingkah laku dan praktek keagamaan mereka. Hidup keagamaan mereka tidak menyenangkan hati Tuhan Allah.

Umat Tuhan pada masa itu berharap bahwa dengan melakukan ibadah puasa mereka akan mendapat ganjaran dari Tuhan. Tuhan akan meluputkan mereka dari hukuman dan malapetaka. Mereka menagih Tuhan! Namun ternyata Tuhan tidak dapat disuap melalui formalitas ibadah dan kesalehan palsu. Benar, mereka menjalankan puasa, tetapi kehidupan yang dijalani jauh dari makna ibadah puasa itu, yakni: perendahan diri dan pertobatan. Umat Israel hendak memisahkan ritual dari ritus hidup sehari-hari. Tuhan tidak menghendaki demikian. Tuhan Allah menilai puasa demikian bukan puasa yang dikehendakiNya; bukan puasa yang sesuai dengan perintahNya; bukan puasa yang menyenangkan hatiNya. Puasa yang dikehendaki Tuhan adalah bagaimana umat hidup saling mengasihi; tidak menyusahkan hidup orang lain; memberi makanan bagi yang lapar; memberi pakaian bagi yang telanjang; memberi tumpangan bagi yang tidak punya rumah; tidak menghakimi orang lain dengan kata-kata buruk; memberi kelepasan bagi yang tertindas dan melawan segala bentuk kejahatan yang ada. (58:6-9)

Dan ketika kita berpuasa, kiranya tidak membuat kita menjadi pribadi yang merasa diri benar dan paling benar sehingga mulai menghakimi orang lain dan menilai yang lain belum mengerti kehendak Tuhan yang sebenarnya.  Jika kita menyadari betapa besar manfaat puasa  itu, kiranya kita diingatkan untuk berlaku rendah hati dihadapan Tuhan dan sesama dan dijauhkan dari kesombongan rohani.

 

Kehendak Tuhan adalah kita mengalami pembaharuan spiritual ketika kita berpuasa dan beribadah kepada-Nya.

 

Artikel oleh: June 17, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda