Yesus Sang Pembela

Yesus Sang Pembela

“Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku — Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.” (Keluaran 28:43).

 

Harun bukanlah imam yang sempurna. Tetapi Yesus adalah imam yang sempurna. Karena peraturan Allah menyebutkan bahwa hanya Harun dan keturunannya yang patut memegang jabatan imam, maka Yesus disebut Imam Besar, tetapi menurut peraturan Melkisedek. Penulis Ibrani berkata, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia” (Ibrani 8:1, 2).

Perhatikan, di dalam Bait Suci para imam tidak pernah duduk. Tidak ada satu pun referensi di Alkitab yang menyebutkan adanya kursi di dalam Bait Suci. Satu-satunya “seat” (kursi) dalam Bait Allah adalah “the mercy seat” (kata ini diterjemahkan dengan ‘tutup pendamaian’). Anda tentu tahu bahwa tutup pendamaian atau the mercy seat ini adalah penutup dari tabut perjanjian – satu-satunya perkakas yang berada di dalam ruang maha suci. Tidak ada satu pun imam yang pernah bermimpikan untuk menyentuh apalagi duduk di atas ‘kursi belas kasihan’ tersebut. Tetapi Yesus melakukannya. Sebab dikatakan bahwa Yesus duduk. Ada dua hal yang harus Anda ketahui mengenai Yesus duduk di sebelah kanan Bapa:

Pertama, duduk di sebelah kanan itu menunjukkan tempat yang penuh kehormatan dan otoritas. Bukankah Anda juga diwajibkan melakukan segala sesuatu dengan tangan kanan? Misalnya bersalaman. Tidak ada yang melakukannya dengan tangan kiri.  Kedua, di Sanhedrin (pengadilan tertinggi Yahudi), adalah hal yang biasa bagi 2 panitera pengadilan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri hakim. Yang duduk di sebelah kiri menuliskan penghukuman, sedangkan di sebelah kanan menuliskan pembebasan.  Yesus duduk di sebelah kanan untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan hukuman maut, bahkan menjadi pembela dan penolong bagi orang percaya.

 

Bila Yesus adalah Pembela kita, masih adakah yang perlu kita takuti?

 

Artikel oleh: October 7, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda