RAHASIA HIDUP PENUH SUKACITA

FILIPI 1: 12-26

Sukacita

by: Pdt. Rudy Suwardi

Kebanyakan orang tidak menikmati hidupnya.  Mereka hanya sekedar bertahan dalam menjalani hidupnya. Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak dapat mengalami sukacita akibat banyaknya masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Hidup mereka haruslah sempurna untuk bisa merasakan sukacita.

Tetapi kita semua tahu, tidak ada kehidupan di dunia ini yang bebas dari masalah. Jika Sdr menunggu sampai Sdr terbebas dari semua persoalan, maka Sdr tidak akan pernah mengalami sukacita. Jika Sdr ingin belajar bagaimana bisa mengalami sukacita, maka Sdr harus melakukannya di tengah-tengah persoalan yang sedang Sdr hadapi.

Pertanyaan saya, menurut Sdr, siapakah yang memiliki gaya hidup yang paling sempurna?  Milyuner?  Celebrities?  Pengusaha? Eksekutif?  atau Pensiunan?

Sdr, saya beritahu jawabannya; mereka yang memiliki gaya hidup yang sempurna bukanlah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan materi. Mereka yang memiliki gaya hidup yang sempurna adalah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan sukacita.

Patut disayangkan, banyak orang tidak memiliki sukacita dalam hidupnya. Kalau sekarang kita menyebarkan sebuah angket survei, saya yakin, hasilnya adalah banyak orang yang hidup dari hari ke hari, hanya sekedar berusaha melewatinya. Karena itu banyak karyawan dalam hidupnya mempunyai semboyan TGIF: Thanks God It’s Friday. Terima kasih Tuhan, ini hari Jum’at dan besok adalah Sabtu dan Minggu.  Banyak orang hidup hanya menunggu weekends/ akhir minggu. Pada hari-hari lainnya mereka sekedar menjalani hidup tanpa sukacita.

Sdr,  kita semua pasti pernah merasakan sukacita. Jika Sdr pergi ke pekarangan sebuah sekolah, Sdr akan menjumpai kira-kira 90% anak-anak yang ada di sana sedang bersukacita. Apakah mereka punya masalah? Tentu saja.  Apakah mereka bersuka cita? Tentu saja. Sukacita bukanlah suatu keadaan tanpa persoalan, sukacita adalah sikap yang Sdr pilih terlepas dari persoalan yang sedang Sdr hadapi.

Kegembiraan atau kegirangan adalah terjemahan dari  “happiness.”  Happiness  sangat  tergantung dari happenings atau kejadian. Karena itu kegembiraan bersifat eksternal, sedangkan sukacita atau joy bersifat internal.

Sdr merasakan kegirangan/kegembiraan di Disneyland atau di Dunia Fantasi. Tetapi ketika Sdr keluar meninggalkan tempat itu, kegembiraan itu hilang. Sedangkan sukacita itu bersifat konstan atau berlangsung terus menerus.

Lalu bagaimana Sdr dapat terus merasakan sukacita terlepas dari situasi  yang sedang Sdr hadapi dalam hidup ini?

Pagi ini kita akan belajar dari orang yang memiliki sukacita paling besar dalam hidupnya.  Namanya adalah Paulus. Izinkan saya terlebih dahulu memberikan gambaran latar belakang dari kisah dalam perikop bacaan kita.

Paulus sedang berada dalam keadaan yang dari luar tampaknya sangat menyedihkan. Bayangkan, ia ditangkap dan sedang menjadi tahanan di suatu rumah di Roma untuk suatu kasus yang direkayasa. Ia sedang menunggu digelarnya sidang pengadilan yang kemungkinan hukumannya adalah hukuman mati. Sidang pengadilan itu rencananya akan digelar di hadapan Kaisar Nero yang sangat tidak menyukai orang-orang Kristen.

Dalam perjalanan ke Roma, kapal yang ditumpangi Paulus kandas, ia terdampar di sebuah pulau dan terkena gigitan ular beracun. Semuanya itu terjadi sebelum Paulus sampai di Roma dan kini ia akan tinggal selama 2 tahun dalam rumah tahanan di Roma.

Dalam rumah tahanan itu Paulus tidak mempunyai kebebasan. Selama 24 jam sehari Paulus dibelenggu dengan rantai pada tangan kanannya yang diikatkan pada tangan kiri prajurit Romawi. Prajurit Romawi itu berganti setiap 6 jam. Para prajurit itu bertugas untuk memastikan bahwa Paulus tidak melarikan diri.

Sdr pasti berpikir betapa sengsaranya Paulus menghadapi situasi demikian.

Tetapi apa yang dikatakan Paulus? Dalam ayat 18b ia berkata, “Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.”

Apa rahasia Paulus? Bagaimana ia dapat bersukacita dalam keadaan dibelenggu di dalam rumah tahanan?

Dalam bacaan kita pagi ini Paulus mengungkapkan tiga rahasia untuk memiliki hidup yang dipenuhi sukacita.

1. Aku Perlu Memiliki Perspektif yang Benar

Kita semua mempunyai masalah. Sdr pun membawanya ke sini pagi ini. Mungkin ada yang mempunyai masalah kesehatan, ada yang menghadapi masalah pekerjaan, masalah keluarga, atau masalah keuangan.

Kita dengan sangat mudah menjadi kecil hati karena adanya masalah-masalah pribadi, atau karena terlalu serius memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Tetapi Paulus mengajarkan kepada kita bahwa perspektif kita terhadap masalah,  jauh lebih penting daripada persoalan-persoalan itu sendiri.

Apa yang dimaksud dengan perspektif?  Perspektif adalah evaluasi atau penilaian yang benar terhadap keadaan kita. Kita memerlukan perspektif yang benar dalam kehidupan kita.

Dalam ayat 12, Paulus berkata: “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,”

Mengapa Paulus dapat bersukacita? Paulus sudah lama ingin datang ke Roma untuk mengadakah KKR Penginjilan, namun ia belum pernah dapat melakukannya. Sekarang ia berada di Roma, tetapi ia terbelenggu oleh rantai yang diikatkan pada tangan prajurit Romawi. Bagaimana Paulus dapat mengadakan KKR Penginjilan?

Tetapi Paulus memiliki perspektif yang benar. Prajurit-prajurit tersebut adalah prajurit pilihan dari istana. Karena itu Paulus melihat,  kelompok ini adalah sasaran yang paling tepat untuk dijangkau oleh Injil.

Selama 2 tahun, setiap prajurit itu, seorang demi seorang diikatkan kepada Paulus dengan rantai sehingga Paulus mendapat kesempatan untuk memberitakan Injil kepada mereka. Para  Prajurit ini kemudian membawa berita Injil ini ke baraknya dan mengulangi berita itu kepada teman-temannya. Pada akhirnya, seluruh prajurit di istana mendengar tentang Yesus! Karena belenggu rantai Paulus, para prajurit istana mendengar tentang Yesus.

Selain itu, mari dengarkan ayat 14: “Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.”

Orang-orang Kristen di Roma menjadi bersemangat karena contoh yang ditunjukkan oleh Paulus. Mereka melihat apa yang dilakukan oleh Paulus dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Kalau Paulus mengalami depresi oleh keadaan yang sedang dihadapinya, maka orang-orang Kristen lainnya di Roma juga akan mengalami depresi. Tetapi ternyata, sikap Paulus mempengaruhi sikap orang-orang percaya lainnya yang berada di sekeliling Paulus. Orang-orang percaya lainnya menjadi berani karena Paulus berani.

Sdr, kita dapat menarik pelajaran bahwa Tuhan mempunyai maksud dan tujuan dalam setiap persoalan kita. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan suatu penderitaan. Tuhan mempunyai suatu maksud yang lebih tinggi dalam setiap masalah yang Sdr hadapi.

Roma 8:28 mengatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Artinya adalah jika kita mengasihi Tuhan dan jika kita dipanggil sesuai dengan rencana-Nya, Tuhan akan merajut segala sesuatu yang kita alami menjadi kebaikan bagi kita. Setiap detil dari kehidupan kita dikerjakan Tuhan untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Tuhan selalu punya maksud dalam segala sesuatu yang kita alami.

Seringkali kita tidak dapat melihat maksud tersebut sampai suatu saat nanti di kemudian hari, tetapi kita harus yakin bahwa Tuhan punya suatu maksud dalam setiap masalah yang boleh kita alami.

Karena belenggu rantai Paulus, para prajurit istana mendengar tentang Yesus.  Selain itu orang-orang percaya di Roma mendapat dorongan untuk lebih berani berkata-kata tentang Firman.  Sebagai tambahan selama masa tahanannya, Paulus memiliki kesempatan untuk menulis 4 buah Surat dalam Perjanjian Baru, yaitu Surat kepada jemaat di Efesus, Filipi, Kolose, dan Filemon.

Sdr perlu memiliki perspektif yang benar.  Sdr perlu tahu bahwa Tuhan mempunyai suatu maksud dalam setiap keadaan yang Sdr alami. Apapun keadaan itu, Tuhan mempunyai suatu maksud atau tujuan bagi Sdr. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan suatu penderitaan. Kita perlu memiliki perspektif yang benar untuk menjalani hidup ini.

Rahasia kedua untuk memiliki hidup yang dipenuhi sukacita adalah:

2. Aku Perlu Menentukan Prioritas Yang Benar

Ketika kehidupan bertambah sulit, Sdr perlu menentukan prioritas dengan jelas. Banyak orang tidak mengalami sukacita karena prioritas dalam hidup mereka kacau. Mereka  berfokus pada diri sendiri dan juga berfokus pada kesenangan mereka sendiri. Mereka memberi fokus pada apa yang diharapkan orang lain dari diri mereka. Mereka bahkan menetapkan persoalan yang diberikan oleh orang lain kepada mereka sebagai prioritas. Apa prioritas Paulus?

Dalam ayat 15-17 Paulus menulis: “(15) Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. (16) Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, (17) tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.”

Pada intinya, Paulus mengatakan. “Orang-orang ini menendangi aku ketika aku jatuh. Mereka memanfaatkan kenyataan bahwa aku berada di dalam tahanan untuk membangun reputasi mereka.”

Kelompok orang tersebut bergembira di atas kesulitan Paulus. Mereka berpikir, bahwa semakin buruk kondisi Paulus, semakin menguntungkan kondisinya bagi mereka.

Bagaimana reaksi Paulus? Ia mengatakan kepada kita dalam ayat 18: “Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,”

Paulus mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun – termasuk kritikus – mencuri sukacitanya. Motivasi mereka mungkin salah, gaya mereka mungkin salah, tetapi semua itu tidak ada artinya. Mereka memberitakan Injil, yaitu sesuatu yang menjadi prioritas hidup Paulus.  Paulus hidup untuk melihat kabar baik tentang Yesus diberitakan. Dan sepanjang hal itu terjadi, Paulus tidak peduli dengan segala hal yang lain.

Ada suatu kisah yang dimuat dalam Renungan Daily Bread beberapa tahun yang lalu. Ketika Sheila dan Mark pindah ke rumah baru mereka, Sheila bertanya-tanya mengenai tetangganya. Apakah mereka dapat menerima kehadiran anak-anak mereka? Bagaimana juga dengan anjing mereka?  Ia segera tahu.

Beberapa hari setelah mereka pindah, anak-anak bermain-main di pekarangan belakang dan bola sepak mereka melambung melintasi pagar dan jatuh ke dalam pekarangan seorang Opa yang tinggal di sebelah. Anak mereka melompati pagar untuk mengambil bola, namun ia dikejar oleh sang Opa. Opa menyumpahi anak itu dan memberi peringatan agar kejadian itu jangan terulang lagi.

Beberapa hari kemudian, anjing mereka menggonggong dan Sheila keluar untuk menenangkannya. Ternyata Opa sudah menunggu dia di depan. Opa memberitahu bahwa jika Sheila tidak dapat menenangkan anjingnya, Opa akan memanggil polisi. Lalu ia mengutuk lagi. Sheila sangat marah. Pipinya menjadi merah. Panas, kata-kata kemarahan melintas dalam pikirannya, tetapi ia tidak menyatakannya. Sebaliknya, ia berdoa dan berpikir bagaimana ia dapat menjangkau Opa ini.

Siang hari itu, ketika ia membuat kue blueberry muffins, ia membuat lebih banyak dari biasanya. Lalu ia berdoa meminta keberanian kepada Tuhan. Ia mengisi sebuah piring yang besar dan membawanya ke sebelah. “Aku membuat kue ini untukmu,” kata Sheila kepada Opa. Opa itu tidak banyak berkata-kata. Tetapi ia menerima kuenya.

Pada minggu-minggu berikutnya, Sheila terus berbuat baik kepada Opa. Perlahan-lahan sikap Opa melunak, dan pada suatu hari Sheila bisa membawa Opa kepada Kristus.

Kita melihat dalam illustrasi ini, Sheila telah memiliki prioritas hidup yang benar. Apapun yang dialaminya tidak akan mencuri sukacitanya, juga tidak akan menyurutkan niatnya untuk membawa jiwa kepada Yesus.

Selanjutnya dengarkan apa yang dikatakan Paulus dalam Kis 20: 22-24: “(22) Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ. (23) selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. (24) Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Paulus mempunyai prioritas dalam hidupnya, yaitu Tuhan.  Bahkan hidupnya sendiri adalah nomor dua.

Jika tidak ada sesuatu yang menyebabkan Sdr bersedia untuk mati, maka sebetulnya Sdr tidak memiliki sesuatu untuk diperjuangkan dalam hidup ini. Paulus memiliki sesuatu yang harus diperjuangkannya sampai mati. Paulus memiliki prioritas.

Masalah dalam kehidupan ini adalah bahwa kita membiarkan hal-hal yang tidak penting mengalahkan hal-hal yang penting. Kita cenderung lupa akan hal yang penting dan kita hidup untuk hal-hal yang urgent  atau mendesak.

Berapa sering Sdr berselisih dalam keluarga untuk masalah yang sepele? Atau berapa sering Sdr merenung pada saat ulang tahun atau pada pergantian tahun dan kemudian menyadari bahwa satu tahun sudah berlalu dengan sia-sia?

Yesus berbicara tentang Tuhan sebagai prioritas dalam Mat 6:33 ”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.“

Dengan kata lain,Tuhan akan mencukupi semua kebutuhanmu dari hari ke hari jika engkau hidup bagi Dia dan jika engkau menjadikan Kerajaan Allah sebagai perhatianmu yang utama.”

Apa yang menjadi perhatian utama Sdr? Apa yang menjadi prioritas dalam hidup Sdr? Apakah itu pekerjaanmu? Apakah keluargamu? Apakah karirmu? Apakah pernikahanmu?  Yesus berkata: Tuhan akan mencukupi semua kebutuhanmu dari hari ke hari jika engkau hidup bagi Dia dan menjadikan Kerajaan Allah sebagai perhatianmu yang utama.”

Ada satu istilah yang meletakkan sesuatu selain Allah sebagai prioritas dalam hidup Sdr, yaitu berhala!  Pada saat Sdr membuat setiap hal yang lain sebagai prioritas dalam hidup Sdr, maka Sdr sudah menjadi penyembah berhala.

Jika Sdr mempunyai prioritas yang benar, yaitu jika prioritas Sdr adalah Tuhan, maka tidak akan ada sesuatupun yang dapat mengambil sukacitamu.

Amsal 3:6 berkata: “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Sdr, kita perlu memberi fokus pada apa yang benar-benar penting. Kita perlu menentukan Tuhan sebagai prioritas dalam hidup kita. Kita perlu mulai hidup sesuai dengan prioritas Tuhan, bukan sesuai dengan prioritas kita sendiri.

Berikutnya adalah rahasia ketiga untuk hidup yang penuh sukacita:

3. Aku Perlu Percaya Pada Kuasa Tuhan

Paulus percaya sepenuhnya bahwa Tuhan memegang kendali. Apakah ia hidup atau ia mati tidak menjadi masalah karena apapun yang terjadi Tuhan memegang kendali.  Dan kepercayaan seperti  ini mendatangkan sukacita  yang luar biasa.

Sdr perhatikan ada empat alasan bagi Paulus untuk percaya sepenuhnya pada kuasa Tuhan:

Alasan pertama dalam ayat 19 disebutkan adanya doa:  “karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.”  Paulus percaya bahwa kuasa Tuhan bekerja karena ia tahu,bahwa orang-orang Filipi berdoa untuknya dan Paulus tahu bahwa Tuhan mendengar doa.

Alasan kedua dinyatakan  dalam ayat yang sama (ayat 19).  Paulus juga menyatakan percaya pada kemampuan Roh Kudus untuk menolong. Apa yang terjadi pada dirinya yaitu penahanannya – pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang positif karena pertolongan yang diberikan oleh Roh Yesus Kristus.

Alasan ketiga, dinyatakan dalam ayat 20: “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”

Pada ayat 20 ini, Paulus menyatakan kepercayaannya pada pemberdayaan oleh Tuhan. Tuhan telah beberapa kali melepaskan dia dari cambukan orang Yahudi.  Tuhan yang sama juga telah menyelamatkan dia dalam tiga kejadian kapalnya yang kandas. Paulus percaya Tuhan yang sama akan terus memberi dia keberanian dan kekuatan.  Pada ayat 20, Paulus menggunakan kata ganda, yaitu “sangat kurindukan dan kuharapkan” untuk menyatakan betapa ia memerlukan kuasa dan kekuatan dari Tuhan di dalam hidupnya.

Alasan keempat dinyatakan pada ayat 21-24:  (21) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (22) Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. (23) Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; (24) tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

Paulus percaya pada rencana Tuhan untuk hidupnya. Kalau Paulus hidup, ia tahu bahwa artinya Tuhan masih memberikan tugas kepadanya di dunia ini. Kalau ia mati, ia tahu bahwa ia secara pribadi akan berada bersama Kristus. Pada akhirnya, keadaannya  adalah situasi win-win.

Paulus memilih lebih baik mati dan berada bersama Kristus. Bagi Paulus, keadaan itu jauh lebih baik. Tetapi ia tahu, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Karena itu dalam ayat 25-26 ia menulis: “Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman. (26) sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.”

Percaya penuh kepada Tuhan mendatangkan sukacita.  Dalam keseluruhan perikop yang kita baca, tidak tercantum sedikitpun tanda kekuatiran; juga tidak ada sedikitpun tanda yang negatif.

Meskipun Paulus terbelenggu pada prajurit Romawi dan meskipun ia menghadapi kemungkinan hukuman mati karena imannya, Paulus tetap sepenuhnya percaya karena ia tahu Tuhanlah yang memegang kendali.

Tingkat kepercayaan kita kepada Tuhan memberi dampak yang sangat kuat terhadap cara bagaimana kita dapat melewati pencobaan hidup dengan sukacita.

Adoniram Judson adalah misionaris pertama yang dikirim ke luar Amerika. Pada tahun 1800-an Judson dengan istrinya pergi ke Myanmar dimana ia melayani selama 40 tahun. Setelah 14 tahun bekerja keras, hasilnya hanyalah beberapa orang saja yang bertobat, tetapi ia sudah menguasai bahasa Myanmar. Dalam 14 tahun tersebut, ia menderita di penjara selama 1,5 tahun dan ia kehilangan istri serta anak-anaknya karena sakit.

Meskipun ia menghadapi begitu banyak hambatan, Judson berdoa agar Tuhan memberikan kepadanya umur yang cukup panjang supaya ia dapat menerjemahkan seluruh isi Alkitab ke dalam bahasa Myanmar dan supaya ia dapat mendirikan sebuah gereja dengan sedikitnya 100 jemaat.

Tuhan menjawab permintaan itu dan memberi tambahan usia 20 tahun. Pada akhir hidupnya, Judson menulis: “Jika aku sebelumnya tidak yakin bahwa setiap pencobaan dikendalikan oleh kasih dan belas kasihan yang tidak terbatas, aku tidak akan dapat bertahan melewati penderitaanku.”

Dengan kata lain, jika ia tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan sepenuhnya memegang kendali  dan berdaulat atas hal-hal yang bahkan sangat menyakitkan – Judson tidak akan menang.

Percaya penuh kepada Tuhan mendatangkan sukacita.  Apapun yang terjadi percayalah bahwa Tuhan memegang kendali. Kalau Tuhan masih memberi tugas kepada kita, Tuhan juga akan memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya.

Penutup

Sdr, kita sudah mengungkapkan tiga rahasia dari Paulus untuk memiliki hidup yang dipenuhi sukacita.

1. Aku Perlu Memiliki Perspektif yang Benar.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

2. Aku Perlu Menentukan Prioritas Yang Benar

”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.“

3. Aku Perlu Percaya Pada Kuasa Tuhan.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” 

Tidak ada sesuatupun dapat terjadi apabila tidak melalui tangan-Nya yang penuh kasih. Apakah kita hidup atau kita mati …. marilah kita memilih untuk menempatkan Kristus sebagai pusat dari kehidupan kita.

 

GSJA CWS Rajawali – 14 September 2014

 

 

Artikel oleh: September 19, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Philipians (Renungan Alkitabiah dari Kitab Filipi)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda