Cukupkanlah dirimu!

Cukup

“Celakalah orang-orang yang merancangkan kedurjanaan dan merencanakan kejahatan di tempat tidurnya…” (Mikha 2 : 1)

 

 

Materialisme ternyata bukan hanya merajai manusia zaman ini. Orang-orang pada zaman Mikha pun dirasuki dosa itu (ayat 1-2). Orang-orang Yehuda yang kaya menambah harta dengan cara jahat. Mereka menyalahgunakan kekuasaan dengan memaksa orang lain keluar dari rumahnya bila mereka menginginkannya. Ketamakan membuat mereka iri atas segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Ini bertentangan dengan Hukum Taurat yang terakhir, yang berkata, “Jangan mengingini rumah sesama-mu….” (Kel. 20:17).

Materialisme berakar dari ketamakan. Tamak berarti iri dan menginginkan milik orang lain. Itu berarti tidak puas atas pemberian Tuhan. Atau dengan kata lain ‘tidak tahu bersyukur’. Tamak membuat orang melakukan apa saja untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.  Namun Allah tidak tinggal diam. Penghakiman akan datang (ayat 3-5)! Tidak terelakkan! Mereka akan menuai apa yang telah mereka tabur. Harta yang mereka miliki selama itu akan lenyap. Asyur dan Babel akan menyerang negeri itu dan mengambil semua harta benda mereka. Mereka akan mati, jauh dari tanah mereka dan terpisah dari tanah dan rumah yang telah mereka bangun.

Mungkin kita tidak termasuk orang yang menghalalkan segala cara untuk menguasai harta orang lain yang kita inginkan. Namun bagaimana kekhawatiran kita tentang harta? Kita hidup dalam zaman konsumerisme. Para pemilik industri paham kelemahan kita. Mereka tahu cara meyakinkan kita untuk mengikuti tren agar bisa seperti orang-orang rupawan yang tampil dalam iklan. Atau bagaimana perasaan kita ketika tetangga membeli mobil baru?

Rasul Paulus mendorong kita untuk mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki (1Tim. 6:6-10). Ia memperingatkan bahwa hasrat untuk kaya bisa membinasakan manusia. Kabar baik bagi kita adalah kita dapat bertobat dari ketergantungan pada harta atau obsesi pada sesuatu yang belum kita miliki.

 

Kiranya Tuhan menolong kita untuk merasa cukup dengan milik kita sekarang.

Artikel oleh: November 3, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Micah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mikah)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda