Mendua Hati

“Kecongkakan Israel menjadi saksi terhadap dirinya, namun mereka tidak berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan tidak mencari Dia kendati semuanya ini” (Hosea 7 : 10)

 Medua Hati

          Bangsa Israel pada zaman Hosea mencoba untuk menyembah berhala sekaligus satu-satunya Allah yang hidup dan benar. Oleh karena itu, Nabi Hosea menggunakan tiga perumpamaan untuk menggambarkan hati mereka yang mendua.

Pertama, mereka seperti roti setengah matang, artinya mereka tidak akan diterima baik oleh Allah maupun orang-orang kafir (ay 8).

Kedua, mereka seperti pria sombong yang tidak dapat melihat tanda-tanda penuaan dirinya, artinya mereka tidak menyadari kemunduran rohani mereka (ay 9, 10).

Ketiga, mereka seperti merpati tolol, yang terbang dari satu bangsa kafir kepada bangsa kafir lainnya dalam usaha yang sia-sia untuk mencari pertolongan (ay 11).

Saat ini, kita sebagai orang-orang kristiani juga kerap kali mengalami sindrom mendua hati. Kita percaya kepada Yesus, namun enggan menyerahkan setiap bidang kehidupan kita kepada-Nya. Kita pergi ke gereja, tetapi tidak mau hidup sesuai dengan iman kita jika hal itu menghalangi untuk memperoleh kesuksesan atau kesenangan duniawi.

 

Hati yang mendua menyebabkan beberapa akibat serius :

Pertama, kita tidak membuat Allah senang dan tidak menarik orang- orang yang belum percaya kepada Kristus.

Kedua, mungkin krisis harus terjadi supaya kita sadar akan kemunduran rohani kita yang sebenarnya.

Ketiga, kita menjalani kehidupan yang tidak penuh, sekalipun kita selalu berusaha mencari kesenangan duniawi.

 

Marilah kita setiap hari berdoa, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu” (Maz 86 : 11).

 

Hati yang mendua menggandakan masalah.  

 

Artikel oleh: September 17, 2013   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Hosea (Renungan Alkitab dari Kitab Hosea)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda