Ada Pengampunan

Pengampunan

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8 : 31-32)  

 

Dalam pandangan hukum Yahudi, perzinahan adalah kejahatan yang serius.  Merupakan salah satu dari tiga dosa yang terbesar dan dapat dikenakan hukuman mati.  Menurut para Rabi Yahudi: “Orang Yahudi lebih baik mati daripada melakukan penyembahan berhala, pembunuhan dan perzinahan”. Untuk menjatuhkan dan mencari kesalahan dalam diri Yesus, maka para ahli Taurat dan orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan baru saja berbuat zinah.  Mereka mengira akan dapat menjebak Yesus dengan suatu dilema yang tajam itu.  Jika Yesus tidak menyuruh perempuan itu dilempari dengan batu berarti Ia dianggap tidak menaati hukum Taurat. Dia dianggap melanggar hukum Musa karena Dia memaafkan orang yang berzinah.  Bahkan Ia pun akan dianggap setuju terhadap perbuatan zinah.  Dan juga berarti Ia pun tidak mau melepaskan Yerusalem daripada dosa zinah yang banyak dilakukan pada waktu itu.  Tetapi jika Dia mengatakan perempuan itu wajib dilempari dengan batu, maka Dia akan kehilangan nama baik-Nya yang diperoleh-Nya karena kasih dan belas kasihan-Nya terhadap orang berdosa. Atau pun Dia akan bertentangan dengan hukum Romawi karena orang-orang Yahudi tidak berwewenang untuk menjatuhkan atau melaksanakan hukuman mati terhadap siapapun.

Mereka mendesak Yesus dengan pertanyaan untuk memojokkan Yesus,  tetapi dengan tenang Yesus hanya membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah.  Tetapi karena berulang-ulang mereka bertanya, maka Yesus kemudian berdiri sambil berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempari batu kepada perempuan itu”. Lalu Ia kembali membungkuk dan menulis di tanah.  Orang-orang Yahudi tidak ingin menyucikan bangsanya dari dosa tersebut sebab kebanyakan dari mereka pun adalah pelaku-pelaku dosa. Kekejaman mereka terhadap perempuan itu sama besar dosanya dengan dosa perempuan itu. Hanya orang yang tidak berdosa yang berhak menghukum atau melemparkan batu, yakni Yesus Kristus.  Mereka semua bungkam dan suasana menjadi sunyi sepi. Hati nurani orang-orang yang mengadukan perempuan itu telah menempelak hati mereka sendiri.  Pada akhirnya mereka meninggalkan tempat itu satu demi satu. Mereka tidak berani melemparkan batu kepada perempuan itu karena mereka semua sadar diri bahwa mereka pun adalah manusia yang penuh dengan dosa dan tidak patut menjadi hakim. Yesus pun yang sama sekali tidak berdosa, tidak menghukum perempuan itu tetapi menasehatinya agar tidak berbuat dosa lagi.  Dalam Yesus ada pengampunan kekal!

 

 Yesus berkuasa mengampuni dosa kita, sebesar apapun dosa itu. Asal kita datang dan meminta pengampunan kepada-Nya.

 

Artikel oleh: October 1, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda