Demi Kasih

“Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan
membelakangi Tuhan” (Hosea 1 : 2)
lovehands 

         Demi cinta, seorang pria dari kota Chongqing berjalan lebih dari 400 kilometer ke Chengdu, provinsi Sichuan, dengan harapan dapat menaklukkan hati mantan pacarnya. Namun apa mau dikata, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak! Setelah memutuskan hubungan dengan pacarnya sesudah empat tahun menjalin asmara, pemuda itu menyadari bahwa ia tak dapat hidup tanpa sang gadis. Dengan tekad bulat, ia berjalan kaki menuju universitas tempat mantan kekasihnya menimba ilmu untuk kembali merebut hatinya. Akhirnya, ia pun sampai ke universitas tersebut setelah menempuh perjalanan selama 15 hari. Akan tetapi, sang mantan kekasih ternyata telah mengambil keputusan melanjutkan hidupnya tanpa sang pria.

Demi kasihnya kepada Tuhan, Hosea bersedia menikah dengan seorang perempuan sundal. Demi kasihnya kepada Tuhan, Abram bersedia meninggalkan kampung halamannya. Demi kasih kepada Tuhan, Maria bersedia mengandung bayi Yesus. Demi kasihnya kepada Allah, para murid bersedia mengalami berbagai aniaya pada zaman gereja mula-mula. Demi kasih kepada Tuhan, para tokoh besar yang hidup di zaman kita: Bunda Teresa, Paus Yohanes Paulus, dan beberapa pendeta yang kita kenal, melakukan tugas dengan setia. Mereka telah berhasil mengakhiri pertandingan yang baik. Mereka telah mempersembahkan hidup dan kehidupannya sebagai kurban yang harum kepada Tuhan. Berbeda dengan nasib pria yang berasal dari Congqing di atas. Lalu, apa hubungan antara para tokoh tersebut, pria dari Chongqing, dan kita? Sejatinya, dalam hubungan dengan cara hidup, kita memiliki dua kemugkinan. Akan berlaku setia di sepanjang kehidupan demi cinta dan kasih kita atau mencampakkan kasih Allah dengan kembali kepada dunia.

Kembali kepada dunia merupakan salah satu siasat paling jitu Iblis. Oleh sebab itu, orang percaya harus mewaspadai hal ini. Apakah jalan hidup yang kita tapaki sepanjang hari tidak menyeret untuk kembali pada dunia? Segera kembali dan bertobat, jika ternyata kita telah tersesat di dalamnya.

 

Dibutuhkan pengorbanan jika kita sungguh mengasihi Tuhan!

 

Artikel oleh: September 9, 2013   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda