Mega Churches yang Sedang Bertumbuh di Singapore

(Dalam sebuah artikel pada bulan Juli 2010 yang lalu di sebuah website, yang baik juga kami terjemahkan untuk kepentingan PI GSJA agar mengenali apa yang terjadi di negeri jiran Singapura tentang pertumbuhan gereja. Sekalipun mengandung beberapa sinisme, tetapi baik juga untuk dibaca untuk memperluas wawasan kita. Ambil positifnya saja!)

Koran Singapura The Straight Times menurunkan artikel berjudul “Rise of the Mega Church – Gospel & Glitz” yang memperhatikan kemunculan mega churches sehingga mengalahkan gereja-gereja tradisional yang utama di Singapura. Gerehja-gereja berukuran besar yang top memiliki kecepatan pertumbuhan 2 digit misalnya City Harvest Church yang didirikan tahun 1989 dengan kehadiran saat ini 33.000 orang melampaui gereja Methodist (total 32.460 anggota). Kedua terbesar adalah New Creation, yang didirikan tahun 1983 kini memiliki kehadiran 20.000 orang yang sama ukurannya dengan 2 gereja tradisional seperti Anglikan ( 20.577 orang) dan AOG/GSJA dengan jumlah 21.809.

Sebagaimana pertumbuhan kekristenan adalah sekitar 2% (dari 13% di tahun 1990 menjadi 15% di tahun 2000 hasil sensus), ada dugaan bahwa pertumbuhan gereja-gereja besar sebenarnya adalah “stolen’ dan bukannya “saved”. Waktu mereka bertumbuh menjadi gereja besar, jumlahgereja kecilpun makin bertambah karena ‘ukuran’ yang mengecil pada gereja-gereja yang sudah ada. Kita diingatkan dengan Matius 25:29, “Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”. Bagi sebuah gereja kecil, setiap keluarga membentuk persentase besar yang mempengaruhi seluruh gereja. Kehilangan sebuah keluarga bagi sebuah gereja kecil adalah kehilangan besar.

Gereja-gereja berukuran mega disebutkan memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

1. Motivasional/Feel Good Theology –  sangat berbeda dari teologi tradisional yang sering bernuansa “api neraka danbelerang

2. Prosperity Theology/teologi kemakmuran – mengkotbahkan kehidupan yang menyenangkan sekarang, bukan hanya nanti setelah meninggal. Orang-orang Kristen diberkati untuk menjadi berkat bagi dunia.

3. Pelayanan Penuh – kebaktian-kebaktian mulai dari kelahiran sampai kematian dengan pelayanan penitipan anak-anak, gereja anak, bisnis networking, kegiatan-kegiatan Kaum Muda

4. Terkoneksi secara mendunia – terhubung ke dalam jaringan Multinational Global dari gereja-gereja ukuran mega dengan berbagai pengaturan para pembicaranya

5. Menekankan tentang 5M

  • Management (Money) – suatu model pasar yang didasarkan pada pendekatan dunia bisnis usaha
  • Music – Penyembahan sejenis konser rock
  • Message (Pemberitaan) – sifatnya motivasional dan aplikatif. Menekankan pada bagaimana menjalani hidup yang baik dan menyenangkan sebagai orang percaya
  • Members – pelayanan-pelayanan support yang ekstensif untuk semua usia dan kebutuhan
  • Multinational – memiliki kontak dengan Church Growth International, Hillsongs, International Coalition of Apostles (ICA), New Apostolic Reformation

Ada keprihatian-keprihatinan. Gereja-gereja ini memiliki pengaruhatas ribuan orang yang serupa dengan pengaruh para bintang pada pengagum mereka seperti Singaporean Idols, dan keuangan besar engan jumlah ratusan juta bagi proyek-proyek besar. Potensi korupsim penyalah gunaan dan penyelewengan kekuasaan dan fokus pada kekayaan berlebihan diperbesar berkali-kali lipat.

Pendeta-pendeta dari American Christian Right sering mengunjungi singapura untuk memotivasi penginjilan market place dimana gereja bergerak keluar dari gunung tradisional agama. Dipimpin oleh tokoh seperti Peter C. Wagner, ada sejenis marter plan untuk menaklukkan seluruh bangsa-bangsa dengan simbol “Love Singapore” atau “Transformation 2009” dengan mengadopsi penuh penaklukkan ke 7 gunung kebudayaan oleh Joel’s Army:

  • Bidang seni dan hiburan
  • Bidang bisnis
  • Pendidikan
  • Keluarga
  • Pemerintahan
  • Media
  • Agama

Gereja-gereja berukuran mega ini bersatu dengan gereja-gereja Anglikan, Methodist dan Sidang Jemaat Allah, untuk ‘posses the land’/menguasai negeri (Yosua 1:10-11). Tanah Perjanjian bukan hanya soal iman pribadi dan agama, tetapi sunguh-sungguh penaklukkan penduduk lama seperti ketika Israel mengusir 7 pemerintah terdahulu di tanah Perjanjian dalam Yosua 3:10. Ketujuh area atau bidang tersebut dikenal oleh orang-orang Kristen sebagai “reclaiming culture” dengan mandat alkitabiah yang diambil dari Kel. 9:16, Wahyu 17:9-10, Ulangan 28:13-14, dan Matius 6:9-10.

Artikel oleh: October 20, 2010   Kategori : Bahan Khotbah, Kesaksian  Sebarkan 

4 Komentar

  1. Hendra Mulyana - October 20, 2010

    Saya sudah melakukan berbagai test, ternyata tidak bisa mengirimkan komentar di artikel [http://www.gsja.org/2010/08/05/kiasankah-ungkapan-yesus-mencungkil-mata-memenggal-tangan/], jadi numpang di artikel ini.

    To Noman: “hanya saja kedalaman maknanya berbeda” itu maksudnya adalah

    Jika itu dianggap sebagai bahasa kiasan mungkin hanya akan memberi makna harus menjauhi dosa;

    Namun jika itu dianggap sebagai bahasa harfiah akan memberi makna sebagai berikut:

    (1) Perzinahan itu betul-betul dibenci Tuhan, sehingga jika harus kehilangan mata kanan atau tangan kanan pun untuk menghindarinya masih lebih baik daripada jatuh ke dalamnya.

    (2) Neraka itu betul-betul ada, sehingga jika harus kehilangan mata kanan atau tangan kanan pun untuk menghindarinya masih lebih baik daripada masuk ke dalamnya.

    (3) Upah dosa adalah maut yaitu kematian kekal di dalam siksaan neraka itu sungguh-sungguh demikian, sehingga jika harus kehilangan mata kanan atau tangan kanan pun untuk menghindarinya masih lebih baik daripada masuk ke dalam neraka.

    (4) Manusia tidak dapat selamat dari hukuman neraka jika mau mengandalkan usaha/perbuatannya sendiri dalam melakukan Hukum Taurat, karena jika sungguh-sungguh ingin selamat karena melakukan Hukum Taurat maka satu per satu bagian tubuh yang menyesatkan harus dibuang. Manusia membutuhkan anugerah penebusan yang dari Tuhan. Nabi Yesaya mengatakan “segala kesalehan kami seperti kain kotor” (Yes 64:6), bahkan Ayub yang disebut Allah sebagai seorang yang saleh-jujur-menjauhi kejahatan pun menaruh pengharapan akan Penebusnya yang hidup (Ayub 19:25).

    (5) Yang kekal jauh lebih berharga dari yang fana/sementara (II Kor 4:17-18).

    (6) Pernikahan mempunyai makna yang luhur dan harus dihargai karena itu merupakan gambaran dari hubungan Kristus dengan Jemaat (sebagai kumpulan orang percaya bukan sebagai individu orang percaya) dengan menyerahkan diri-Nya bagi jemaat untuk menguduskannya – (Ef 5:32).

    Demikian penjelasan saya. Tuhan memberkati!

    “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17 TB) Silahkan jika ada yang mau memberi komentar-komentar yang bersifat kritik, saya terbuka untuk itu. Saya juga menghargai prinsip yang diajarkan oleh agama lain: “Jangan membantah/berdebat kecuali dengan bantahan yang terlebih baik (cara yang paling baik).”

    Doa saya adalah agar pada waktu orang-orang yang belum diselamatkan membaca tulisan-tulisan ini [http://www.gsja.org/2010/08/05/kiasankah-ungkapan-yesus-mencungkil-mata-memenggal-tangan/], Roh Kudus menginsafkannya akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:8) dan menuntunnya untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi (I Kor 12:3).

  2. Yusuf Eko Widiarto - October 20, 2010

    Shalom
    Salah satunya yang bertumbuh adalah CHC City Harvest Church digembalakan Pastor Khong Hee. Bagus kalau kapan2 GSJA di Indonesia undang Pastor Khong untuk seminar atau Team Pengembangan GSJA bisa pergi ke sana untuk ‘magang’ beberapa hari dan hasinya
    dipresentasikan kepada para gembala/perintis.Pasti ada manfaatnya.

  3. Purnadi Kertonugroho - October 20, 2010

    Benar sekali apa yang dituliskan dalam artikel ini. Satu hal yang menjadi ciri paling khas City Harvest Church (CHC) adalah pengajaran “Cultural Mandate” (yang mancakup 5 karakteristik yg disebutkan di atas), ini pengajaran yang sudah lama ada di gereja2 pentakosta tetapi dalam gereja modern masa kini (termasuk CHC) dikembangakan dan diterapkan lebih jauh. Ada satu hal yang Pastor Kong Hee selalu ajarkan dalam jemaat CHC: “loving God wholeheartedly, loving people fervently”. Saya sangat diberkati melalui gereja ini, walaupun dalam 5 bulan terakhir CHC mengalami tekanan luar biasa (yang terjadi justru karena CHC membawa misi “cultural mandate” tersebut). Tetapi saya melihat gereja ini mejadi semakin kuat dan semakin diberkati. Saya setuju sekali bila gereja2 GSJA dapat mengambil manfaat dan belajar dari CHC. Selama 5 tahun terakhir, CHC banyak terlibat dalam pelayanan gereja2 di Indonesia, tetapi GSJA sepertinya belum mencoba untuk menjalin hubungan dengan CHC.

    Sebelum menjadi anggota CHC di Singapura, saya adalah jemaat CWS Gedung Kenanga dan ICWS Jakarta, sewaktu di kebaktian Remaja CWS, PDt. Budi Setiawan adalah Gembala Remaja CWS (sekitar tahun 1989). Kami sekarang berbakti di CHC setiap minggu di Singapore EXPO (dekat Changi airport) dan tahun depan (sekitar bulan Maret 2011) akan pindah ke Suntec Exhibition. Berikut website yang mungkin dapat menjadi sumber info dan pertimbangan bila GSJA Indonesia akan memulai hubungan dengan CHC:
    http://www.chc.org.sg. Saya sangat senang karena Pdt. Budi Setiawan dan GSJA juga membangun situs internet ini karena ciri lain dari ‘mega churches’ saat ini adalah memiliki situs web yang ter-update dengan baik, bahkan Ps. Kong Hee dan staffnya memiliki situs blog, twitter dan facebook (http://www.facebook.com/konghee, http://twitter.com/konghee,http://www.konghee.com/www/), jadi GSJA sudah menuju ke arah yang tepat untuk menjadi ‘mega churches’ di Indonesia.

  4. Yusuf Eko Widiarto - October 21, 2010

    Bagus kalau BPP memfasilitasi Para Gembala yang mau ‘studi’ ke CHC agar gereja yang digembalakan bisa berkembang. Banyak pengalaman gereja2 di Indonesia yang berkembang karena telah belajar dari gereja2 yang berkembang pula.Inilah waktunya GSJA bisa berkembang dan berdampak bagi Indonesia bahkan dunia

Tulis Komentar Anda