Berjumpa dengan Tuhan (8) Yehezkiel: Melihat Visi untuk Tuhan

Pertemuan :        Untuk Suatu Panggilan Baru
Tempat:               Di tepi suatu sungai di Babel
Bacaan Alkitab:   Yehezkiel 1:1 – 3:27


Penulis muda itu sedang duduk di kursinya sambil membelai janggutnya yang hitam dan bergelombang. Tugasnya adalah membuat salinan pesan-pesan yang penting bagi para pemimpin Yahudi.  Ia harus menyalin setiap surat dengan akurat.  Ia belum menjadi pemimpin – tetapi sebentar lagi ia akan menjadi seorang imam – meskipun demikian di sana tidak ada Bait Allah, tempat untuk ia menjalankan fungsi ke-imaman-nya.  Penulis itu hidup di Babel, hampir 800 mil jauhnya dari Yerusalem dan dari Bait Allah.
    ”Kapan engkau akan menjadi seorang imam?” temannya di kursi sebelah bertanya kepadanya.
“Sebentar lagi …….” Yehezkiel muda menjawab.
“Kapan engkau akan berusia 30 tahun?” temannya itu terus bertanya. Seorang pemuda ditahbiskan menjadi imam pada usia 30 tahun. Hari ini adalah ulang tahun Yehezkiel yang ke 30.  Hari ini seharusnya adalah hari yang paling besar dalam hidupnya. Hari ini seharusnya ia dibawa ke Bait Allah dan pertama-tama ia harus diurapi dengan darah untuk penyucian, dan selanjutnya diurapi dengan minyak sebagai lambang hikmat. Ia seharusnya dimasukkan ke dalam air di bejana emas seperti semua kaum Lewi ketika ditahbiskan menjadi imam.
Yehezkiel tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya, tetapi ia tidak akan memberitahukannya kepada siapapun. Bagaimana mungkin ia dapat merayakannya …….. ia berada di pengasingan ………….. ia adalah seorang tawanan yang hidup di antara orang-orang Babel yang kafir ……… ia sudah dibawa sebagai tawanan dari Yerusalem.  Yehezkiel sedang bermimpi mengenai pentahbisannya ketika pikirannya diinterupsi oleh sebuah pengumuman.
“Ini, ada sebuah surat dari Yeremia ……..” seorang pengantar surat masuk ke kelas. Suasana kelas menjadi gaduh, para pelajar berbisik satu sama lain. Para pelajar itu adalah para ahli tulis, mereka mempelajari Firman Tuhan dengan jalan membuat salinan. Mereka semua belajar untuk menjadi imam.
“Surat dari Yeremia?” mata Yehezkiel berbinar. Ia suka membuat salinan dari surat-surat  Yeremia. Beberapa temannya mengatakan bahwa Yehezkiel bahkan mengembangkan gaya Yeremia. Ketika teman-temannya membandingkan Yehezkiel dengan Yeremia, Yehezkiel tersenyum ………….. ia mengagumi Yeremia karena Yeremia adalah seorang nabi Tuhan.
“Bacakan surat Yeremia kepada kami,” guru memberikan surat itu kepada Yehezkiel agar membacakannya dengan lantang. Yehezkiel dengan cepat melihat gulungan surat itu, membukanya dan melihat isinya sekilas.
“Tidak ….” Yehezkiel berkata kepada dirinya sendiri. Ia tidak setuju dengan apa yang sudah dibacanya. Teman-temannya melihat garis-garis  di dahinya. Wajah Yehezkiel yang semula terlihat bersuka cita berubah menjadi asam, mereka semua tahu bahwa surat itu memuat kabar buruk.
“Tidaklah sopan jika tidak membacakannya dengan lantang …….” Sang guru bertepuk tangan dengan keras agar Yehezkiel membacakannya dengan suara keras. Yehezkiel berdiri di samping kursinya, menelan ludahnya dan membacakan salam,
“Kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel …………….”
Para pelajar di kelas itu bergumam, tidak seorangpun di antara mereka yang suka menjadi tawanan di Babel. Berhala ada dimana-mana, makanan mereka telah dijadikan persembahan korban di kuil-kuil berhala, dan pakaian orang-orang Babel berbeda. Yehezkiel lagi-lagi melegakan tenggorokannya untuk menarik perhatian mereka.  Lalu ia membacakan apa yang menjadi perintah dari Yeremia kepada mereka untuk dilaksanakan,
“Dirikanlah rumah untuk kamu diami …………. Buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya ……….. ambillah isteri …………… bangunlah keluargamu ……..”
“Tidak ……!” suara seorang pelajar muda yang tegas menolak. “Kita tidak akan tinggal di tanah kafir ini, kita harus berjuang, kita harus melarikan diri ……………..”
“Tenanglah …………” sang guru menenangkan mereka yang berhati panas. Lalu sambil mengangguk kepada Yehezkiel, ia memberikan isyarat,  “Dengarkanlah, Yehezkiel akan membacakan sisa surat ini.”
Yehezkiel menunggu sampai kelas tenang kembali setelah interupsi tadi, lalu ia melanjutkan membaca perintah-perintah dari Yeremia. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”
“ITU TIDAK BENAR!” kembali orang-orang yang panas hati menginterupsi bacaan Yehezkiel. Sebagian orang di kelas memberikan persetujuan. Setiap orang bergumam. Beberapa orang  menegur pemuda yang bicara blak-blakan.
“Jangan bereaksi ……. ” guru memperingatkan para pelajar di kelas itu. “Dengarkanlah keseluruhan surat  Yeremia sebelum engkau menanggapinya.”
“YA!” kelas itu berteriak kepada orang-orang yang panas hati, lalu mereka berpaling kepada Yehezkiel agar melanjutkan bacaannya. Ia membuka lagi gulungan itu dan membacanya.
“Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.”
Berita 70 tahun di pengasingan itu mengguncangkan kelas para pelajar muda. Kebanyakan mereka berusia 20-an. Mereka semua ingin pulang secepat mungkin dan tidak mau menunggu hingga 70 tahun. Mereka akan berusia 90 tahun lebih – jika mereka panjang umur – ketika mereka kembali ke tanah kelahirannya. Senyum mereka hilang, semua tawa hilang.  Harapan adalah obat yang mujarab yang menjadikan penderitaan lebih mudah. Tetapi sekarang tidak ada harapan, mimpi-mimpi mereka untuk pulang direnggut dari mereka.
“Seorang nabi mengatakan bahwa kita akan segera pulang,” suara seorang remaja terdengar dari belakang. Mereka yang lebih muda duduk di belakang. Pelajar muda itu memberitahukan mengenai seorang nabi yang muncul di desa mereka untuk meramalkan bahwa semua orang Israel akan segera pulang ke Yerusalem.
Yehezkiel menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan kepada pemuda yang menyebutkan adanya seorang nabi. Yehezkiel mengangkat tangannya untuk membuat tenang, lalu menjelaskan bahwa Yeremia menulis tentang nabi-nabi palsu di dalam suratnya. Ia membacakan peringatan Yeremia,
“Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabi palsu di Babel yang meramalkan bahwa Israel tidak akan dihakimi …… ada juga nabi-nabi palsu di Yerusalem yang meramalkan bahwa kota Tuhan tidak akan dihancurkan ……… nabi-nabi palsu di Babel juga meramalkan bahwa orang-orang tawanan akan pulang.”
Ruangan itu sunyi setelah mendengarkan kata-kata Yeremia yang membuat mereka depresi. Para pelajar itu saling menatap mata teman-temannya. Tidak ada seorangpun yang berani tersenyum. Tidak seorangpun tahu apa yang harus dikatakan. Yehezkiel melanjutkan bacaannya,
“Setelah 70 tahun Tuhan akan mengunjungi bangsa-Nya untuk membawa mereka kembali ke Yerusalem.”
Surat Yeremia menunjukkan hati bangsa Israel yang memberontak …… mereka tegar tengkuk …… menyembah berhala ………….. berzinah dengan agama-agama lain ……… mencari perlindungan dari negri-negri asing. Lalu Yehezkiel membacakan kata-kata yang indah dari Yeremia,
“Apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu”
Untuk pertama kalinya dalam pembacaan, Yehezkiel tersenyum terhadap apa yang dikatakan oleh Tuhan, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku.”
Yehezkiel adalah pelajar yang terakhir meninggalkan sekolah pada hari itu. Jubahnya melambai-lambai ditiup angin sore hari, ada badai yang muncul dari sebelah utara. Karena Yehezkiel bukan berasal dari daerah tersebut, ia tidak tahu bahwa badai biasanya datang dari barat, bukan dari utara. Ia harus berjalan sejauh kira-kira satu mil di sepanjang sungai untuk sampai di rumahnya. Perjalanannya selalu menarik, selalu ada kapal layar atau tongkang yang dapat dilihatnya. Banyak jenis kapal yang belum pernah dilihatnya dari utara, dari Persia dan Asyur.
Yehezkiel tinggal di tepi Sungai Kebar, sungai buatan yang paling besar di Babel – terbentang dari Tigris sampai ke Sungai Efrat. Ia bangga dengan  keahlian teknis yang membuat sungai buatan itu, tetapi juga sedih atas kematian dari ribuan budak yang menggali sungai yang menghubungkan dua sungai yang paling besar di dunia itu.
“Aku berada di pusat peradaban …..” Yehezkiel berpikir ketika ia melihat sebuah kapal layar putih yang besar semakin mendekat. Lalu ia merasa bersalah atas kesenangan yang dirasakannya, “Yerusalem adalah pusat dari imanku ………… Yerusalem adalah kota Tuhan.”
Di depannya terlihat rumahnya yang kecil berdinding lumpur. Atapnya yang datar dan jendela-jendelanya yang kecil mirip dengan rumahnya di Yerusalem, karena talentanya yang ia gunakan untuk membangun rumah di Yerusalem, adalah talenta yang sama yang digunakannya untuk membangun rumah ini.
Bulan Juli adalah panas, lebih panas di sini di gurun Babel daripada hidup di pegunungan Yerusalem. Panasnya tidak tertahankan pada musim panas, dan sore hari adalah yang paling buruk.
“Badai akan membuat lebih sejuk,” pikir Yehezkiel, “tetapi masih lama.”
Ketika ia sampai di rumah, badai masih mengintai di horison. Setelah makan malam, Yehezkiel pergi ke halaman untuk berdoa. Isterinya sibuk membereskan piring dan sisa makanan. Ia memperhatikan buih-buih putih di atas air yang memukul-mukul batu. Karena badai yang mendekat, tidak tampak adanya kapal layar, semua tetangganya sudah masuk ke dalam rumah untuk menghindarkan diri dari tiupan pasir yang menghembus ke rumah-rumah yang kokoh. Yehezkiel sendirian menghadapi badai.
“Angin puyuh …….” Ia berkata perlahan ketika ia melihat pasir gurun naik dan berputar membentuk seperti corong yang menyedot udara yang panas ke dalam awan petir yang dingin.
Angin topan menari-nari menyeberangi permukaan gurun, lalu menyedot air ke atas ke dalam puting beliung ketika badai itu menyeberangi Sungai Kebar.
Badai yang hitam pecah di sekeliling Yehezkiel, tetapi tidak terjadi hujan ……. Hanya angin ……. dan petir ……….. dan guntur.  Awan semakin lama semakin hitam.
Lalu Yehezkiel melihatnya. Dari tengah-tengah awan yang tebal ia melihat api merah yang membara, kilat menyala dari awan sampai ke bumi. Di tengah-tengah awan Yehezkiel melihat api merah yang pekat, lebih pekat dari warna bara api. Merahnya hampir berwarna hitam. Awan yang gelap tampak seperti asap api.
Tetapi baunya tidak tercium seperti asap.
Lalu Yehezkiel melihat empat makhluk hidup di dalam awan, mereka semua kelihatan seperti manusia, tetapi mereka mempunyai sayap dan sedang terbang. Mereka terbang langsung menuju dirinya. Yehezkiel tidak pernah melihat malaikat, tetapi ia segera tahu bahwa makhluk-nakhluk di langit itu adalah para malaikat. Manusia tidak terbang.
Yehezkiel mencoba melihat semuanya, mencoba mengingat apa yang dilihatnya, mencoba menjelaskan adegan yang mempesona yang dimainkan di hadapannya.
“Apa yang sedang Engkau beritahukan kepadaku?” ia berdoa kepada Tuhan
Tuhan belum menjawab, masih ada hal-hal lain yang harus dilihat oleh Yehezkiel. Empat makhluk itu memiliki tubuh manusia dan sayap malaikat, tetapi wajah mereka aneh, karena mereka mempunyai empat muka.  Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang.
“Apa yang sedang Engkau jelaskan kepadaku?” Yehezkiel berdoa lagi.
Tuhan masih belum menjawab.
Lalu Yehezkiel melihat roda-roda raksasa, seperti roda kereta pertempuran, tetapi roda-roda itu begitu besar, dan itu menakutkan. Yehezkiel tidak pernah melihat roda yang sedemikian besar, lebih tinggi daripada pohon. Setiap roda berada di dalam roda yang lain, keduanya bergerak , keduanya berputar, keduanya mendekati dirinya.
Lalu Yehezkiel menyadari bahwa roda-roda itu mengikuti empat makhluk bersayap itu. Kemanapun mereka pergi, roda-roda itu mengikuti mereka. Ketika malaikat itu berbalik ke satu sisi, roda-roda itu mengikutinya.
Lalu Yehezkiel melihat awan berubah menjadi langit yang seperti kristal. Tidak ada lagi badai yang mengerikan, tetapi berubah menjadi langit yang sangat indah yang tidak dapat digambarkan. Yehezkiel tidak takut pada apa yang ia lihat, atau apa yang ia rasakan. Pengalaman itu begitu menyenangkan. Ia tahu, bahwa itu berasal dari Tuhan, ia tahu Tuhan sedang berbicara dengan dia.
Lalu Yehezkiel mendengarnya – suara raungan yang sangat dahsyat – suara itu semakin mendekat dan semakin keras. Suaranya seperti ombak badai yang memukul-mukul ke tepi pantai – tetapi lebih keras. Suaranya seperti hentakan kaki serdadu yang marah ketika memasuki pertempuran – tetapi lebih keras.  Suaranya seperti kuda yang sedang berlari – tetapi lebih keras. Suaranya seperti suara raungan Tuhan – tetapi bukan Tuhan. Yehezkiel mendengar kepakan sayap-sayap para malaikat di langit ketika mereka terbang di atas kepalanya. Yehezkiel melihat ke atas untuk melihat mereka berhenti sejenak di atas kepalanya, lalu ia melihatnya.
Sama persis seperti yang diperkirakannya. Setiap orang memiliki gambaran tentang rupa dari tahta Tuhan, tetapi Yehezkiel melihatnya. Tinggi di langit di atas dia, adalah tahta Allah, tampaknya seperti terbuat dari batu safir biru yang berkilauan.
Pelangi yang sangat indah – sempurna warnanya –keseluruhan 7 warna dari spektrum membuat pelangi menjadi lebih indah dari yang pernah dilihat oleh Yehezkiel. Seperti sinar matahari, pelangi itu memancarkan kemuliaan Tuhan.
Yehezkiel tidak meminta apa-apa lagi dari Tuhan. Ia jatuh bertiarap di hadapan Tuhan menanggapi kebesaran Tuhan.
“Berdirilah!” Tuhan berbicara kepada Yehezkiel.”  Aku mempunyai pesan untukmu.”
Yehezkiel bangkit perlahan-lahan,  mencoba untuk mencerna semua yang terjadi di sekelilingnya. Lalu Tuhan berbicara kepadanya,
“Aku mengirimkan engkau sebagai pembawa berita kepada Israel, bangsa yang pemberontak ……..” Tuhan memberitahukan kepadanya, “Roh-Ku akan masuk ke dalam dirimu dan Roh-Ku akan berbicara melalui engkau.”
Yehezkiel mengerti bahwa Tuhan memanggil dirinya untuk menjadi seorang nabi, bukan seorang imam. Meskipun ia terlahir dari kaum Lewi dan terlahir untuk menjadi imam. Yehezkiel tahu bahwa Tuhan akan memberikan tugas yang luar biasa kepadanya. Tuhan memberitahukan kepadanya, “Engkau akan menyampaikan pesan-Ku kepada bangsa pemberontak ini.”
Tuhan menjelaskan bahwa bangsa Israel tidak akan mendengarkan dia, tetapi ia tidak boleh takut kepada mereka. Tuhan menjelaskan, “Setidaknya mereka akan tahu banwa ada seorang nabi di antara mereka.”
Lalu Tuhan mengingatkan Yehezkiel, “Bangsa-Ku adalah pemberontak …… engkau tidak boleh menjadi pemberontak.”
Lalu kemuliaan Tuhan mulai pergi. Ia mendengar suara gemuruh, suara batu menggilas batu, pasir berciut-ciut di atas pasir – itu adalah suara gempa bumi yang besar. Hadirat Tuhan pergi meninggalkannya.
Lalu Yehezkiel mendengar suara lain yang sudah dikenalnya, yaitu suara kepakan sayap para malaikat – mengepak satu sama lain – berkibar di udara seperti burung besar yang mengangkat dirinya sendiri ke udara dengan mengangkat sayapnya menuju ke surga.  Suara itu adalah suara para malaikat yang pergi, ketika kemuliaan Tuhan pergi.
Roh kudus mengangkat Yehezkiel dari rumahnya di tepi Sungai Kebar dan membawanya ke desa Tel Abib, beberapa mil jauhnya. Itu adalah desa dari orang-orang Yahudi tawanan, mereka juga mendirikan rumah yang mirip seperti rumah di Yerusalem. Desa itu juga dekat dengan Sungai Kebar.
Yehezkiel masuk ke sebuah rumah, tidak ada seorangpun yang menolak untuk memberikan ruangan kepada nabi muda ini. Mereka mengenalinya sebagai seorang calon imam muda yang sedang dididik sebagai penulis. Tetapi sekarang mereka tahu bahwa ia adalah hamba Allah. Tidak ada seorangpun yang bertanya apa yang dikatakan Tuhan kepadanya, tidak ada seorangpun yang bertanya apa yang diinginkannya. Tidak ada seorangpun yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Selama tujuh hari Yehezkiel duduk di dalam ruangan. Dalam kesunyian ….. dalam doa ………… dalam meditasi …….. sendiri. Ia tidak dapat berbicara, karena itu ia tidak berusaha untuk bicara. Orang-orang di tel Abib tahu bahwa ia tidak bisa berbicara karena itu mereka tidak berusaha berbicara kepadanya. Orang-orang itu merasa takut. Pada hari ketujuh, Tuhan berbicara kepadanya,
“Anak manusia………” panggilan yang baru yang diberikan oleh Tuhan, “Anak Manusia, engkau adalah seorang penjaga atas bangsa-Ku Israel.” Tuhan menjelaskan bagaimana tugas Yehezkiel adalah bertanggung jawab atas keamanan dan perlindungan bagi orang-orang di dalam kota. Tuhan memberitahukan kepada Yehezkiel,
“Jika engkau menolak untuk memperingatkan orang mengenai penghakiman yang akan datang, Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya dari padamu karena mereka tidak berdosa.”
Yehezkiel memahami tanggung jawabnya. Lalu Tuhan memberikan penjelasan lebih lanjut,
“Jika engkau memperingatkan orang, tetapi mereka tidak mau mendengarkanmu, mereka akan mati dalam kesalahannya. Tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.” Tuhan membuat Yehezkiel menjadi lumpuh sehingga ia tidak dapat keluar mendatangi orang-orang.  Seorang nabi biasanya pergi ke jalan-jalan dan pasar-pasar untuk mengumumkan pesannya. Tetapi Yehezkiel berbeda. Para tua-tua dan para pemimpin dipaksa untuk datang kepada Yehezkiel untuk mendengar pesan Tuhan.

SETELAH PERJUMPAAN
Setelah penglihatan yang menyebabkan perubahan dalam hidupnya, Yehezkiel bernubuat kepada bangsa di Babel. Ia menggunakan lambang-lambang, kotbah dan peringatan-peringatan untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada mereka. Tuhan memakai Yehezkiel untuk mengingatkan “seluruh bangsa Israel” mengenai dosa yang membawa mereka ke pengasingan. Ia bernubuat tentang hancurnya Yerusalem dan bangsa-bangsa disekitarnya yang berperang melawan bangsa Tuhan. Ia menubuatkan pemulihan bangsa Israel ke Tanah Perjanjian dan penghukuman terhadap para penjajah dari bangsa Tuhan. Ia bernubuat tentang pemulihan kejayaan bangsa dibawah kerajaan Daud dan pemulihan Bait Allah. Meskipun Yehezkiel tidak mampu melayani di Bait Allah untuk mana ia dilahirkan, ia melihatnya dalam penglihatan dan menggambarkan kejayaannya masa depan.  Nubuatannya lebih banyak tentang  Bait Allah yang akan datang  pada millennium mendatang.

10 PELAJARAN DARI PERJUMPAAN DENGAN TUHAN

1.    Perjumpaan dengan Tuhan dapat terjadi setelah impian kita gagal dan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.
Orang-orang Yahudi tawanan diasingkan si sebuah negri asing. Kebanyakan dari kita tidak pernah mengalami pengasingan, dan juga kita tidak pernah mengalami kejutan budaya menjadi orang-orang tahanan di penjara.
Baru-baru ini seorang wanita memberi kesaksian kepada keluarganya di Texas; ia mencoba untuk memberitahu mereka tentang perbedaan antara rumahnya yang baru di sebuah kota kecil di Virginia dan rumah sebelumnya di Texas. Tidak seorangpun berempati dengannya sampai ia berkata: “Bayangkan hidup di kota yang tidak ada rumah makan Meksikonya.”  Keluarganya melenguh, “Itu gawat!”
Bangsa Tuhan hidup di Babel dimana tidak ada rumah makan halal, tidak memiliki keadaan yang nyaman seperti di Israel. Semua hal adalah milik orang Babel dan bangsa Tuhan rindu untuk pulang ke rumah.
Lalu surat Yeremia datang dan memberitahukan kepada mereka untuk menetap di Babel, membangun rumah dan membangun keluarga. Surat Yeremia memberitahukan kepada mereka bahwa mereka baru bisa pulang setelah 70 tahun. Mereka tahu bahwa Yeremia adalah nabi Tuhan, jadi apa yang dikatakannya adalah benar. Mereka harus membangun rumah mereka di negara asing. Kebanyakan dari mereka akan mati di negeri asing.
Karena kekecewaan itu, Yehezkiel berjumpa dengan Tuhan dan mendengar bahwa ia akan menjadi seorang nabi bagi Israel. Tuhan memberikan pesan, baik mengenai penghakiman maupun mengenai pengharapan.

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mzm 43:5)

2.    Perjumpaan dengan Tuhan dapat memberikan kepada kita sebuah visi baru mengenai arah kehidupan,
Yehezkiel memperoleh visi dari Tuhan ketika berjumpa dengan Dia, dan menerima pesan ganda. Pertama, untuk memperingatkan bangsa Israel bahwa mereka tegar tengkuk dan kedua, untuk menuliskan nubuatan-nubuatan mengenai Bait Allah yang baru yang akan dibangun pada masa yang akan datang. Hukum Pertama mengenai Kepemimpinan adalah Hukum tentang Visi; ketika para pengikut percaya dengan visi dari seorang pemimpin, mereka akan percaya pada kepemimpinannya. Yehezkiel memimpin orang melalui sebuah visi tentang apa yang ingin dilakukan Tuhan melalui mereka. Yehezkiel memberikan visi dari Tuhan kepada mereka.

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum. (Ams 29:18)

3.    Perjumpaan dengan Tuhan dapat menghasilkan sebuah tugas baru.
Yehezkiel telah mempersiapkan diri untuk tugas keimaman dan pada usia 30 tahun ia berada di ambang pintu dari tujuan hidupnya. Tetapi pada detik-detik terakhir Yehezkiel berjumpa dengan Tuhan dan memulai suatu pelayanan baru. Ia akan menjadi salah seorang Nabi Besar Tuhan, ia tidak lagi akan menjadi seorang imam. Dari perjumpaan dengan Tuhan datang suatu tugas baru.

Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.” (Yos 1:9)

4.    Tuhan mungkin memberikan kepada Sdr sebuah pesan khusus dalam perjumpaan dengan Dia.
Yehezkiel dididik untuk menjadi seorang imam, seorang imam khusus. Yehezkiel tampaknya sudah dididik untuk menjadi seorang imam penulis atau imam pengajar. Diperlukan berbagai jenis tugas dalam pengoperasian Bait Allah  dan pelayanan terkait lainnya. Banyak cara bagi seorang imam untuk melayani Tuhan, tetapi Yehezkiel tidak akan melaksanakan salah satupun diantaranya. Ia berjumpa dengan Tuhan dan mendapat pesan baru untuk disampaikan kepada bangsa Tuhan. Ia ditugaskan untuk menjadi seorang nabi bagi Tuhan. Yehezkiel kemudian mengalami perjumpaan yang terus menerus dengan Tuhan, dan dari perjumpaan-perjumpaan tersebut, ia menerima banyak pesan dari Tuhan yang ia tuliskan di dalam kitabnya.

Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak.” (Yeh 3:11)

5.    Tuhan dapat menyiapkan kita untuk suatu perjumpaan dengan Tuhan.
Ketika surat Yeremia (Yeremia 29:1-21) tiba di Babel, hal itu mungkin menimbulkan kemurungan dan pesimisme. Mungkin banyak yang menolak berita dari surat Yeremia. Meskipun demikian, bahkan di dalam suratnya, Yeremia memperingatkan tentang nabi-nabi palsu yang menubuatkan kemakmuran bagi Israel. Tuhan memakai surat dari Yeremia untuk mempersiapkan Yehezkiel mengalami perjumpaan dengan Tuhan

Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. (Yer 29:1)

6.    Tuhan memakai kondisi politik dan budaya untuk mempersiapkan kita mengalami perjumpaan dengan Dia.
Ketika Nebukadnezar membawa 10.000 orang tawanan Israel ke Babel, ia membawa bakat-bakat terbaik. Mereka adalah para pejuang, negarawan, dan para pemimpin rohani, semuanya masih muda dan mudah dipengaruhi. Para pemimpin Babel ingin melatih para pemuda Yahudi mengenai kebudayaan, bahasa dan bisnis kafir. Nebukadnezar ingin agar para pemuda Yahudi itu mengelola pemerintahannya di antara orang-orang Yahudi. Yehezkiel adalah salah seorang tawanan yang dibawa ke Babel.
Dengan cara yang serupa, Fidel Castro melakukannya ketika ia menjabat sebagai Presiden Kuba pada tahun 1959. Castro mengirimkan para pemuda Kuba terbaik ke berbagai perguruan tinggi di Rusia agar ketika mereka pulang dapat mengelola sebuah sistem komunis baginya.
Pola Tuhan yang lebih besar adalah menggunakan Babel untuk menghukum bangsa Yahudi atas dosa-dosa dan pemberontakan mereka. Salah satu paku di dalam gambar besar tersebut adalah Yehezkiel, Tuhan sedang mempersiapkan pemuda Yahudi itu untuk menulis sebuah kitab mengenai millennium yang akan datang dimana Israel akan pulang ke Tanah Perjanjian dan Bait Allah akan dipulihkan.

Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau,(2) dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,(3) maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. (Ul 30:1-3)

7.    Kita tidak memahami semua yang kita lihat dan kita alami dalam perjumpaan dengan Tuhan
Yehezkiel melihat banyak fenomena dalam penglihatannya tentang Tuhan, yaitu angin puyuh, empat malaikat, sayap-sayap yang mengepak, awan yang bersinar, atmosfir yang luas seperti kristal, dan sebuah roda di dalam roda. Para ahli Alkitab tidak sependapat mengenai apa yang dilihat oleh Yehezkiel  dan apa artinya. Barangkali, Yehezkiel sendiripun tidak mengerti akan semua hal yang dilihatnya. Tetapi dalam perjumpaannya dengan Tuhan, ia mengerti kepada Siapa ia berbicara, Dialah Tuhan. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya, dan apa yang harus dikatakannya.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9)

8.    Perjumpaan dengan Tuhan bersifat pribadi
Ketika Tuhan berbicara kepada semua orang Yahudi di Babel melalui surat dari Yeremia, Tuhan menjumpai Yehezkiel secara pribadi.  Ada beberapa hal dalam kehidupan ini yang dilaksanakan di depan publik dan ada hal-hal lain yang dilakukan di dalam suatu kelompok.  Tetapi, ada hal-hal tertentu yang selalu dialami sendiri.  Yehezkiel berjumpa dengan Tuhan secara individu dan sendiri.

Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. (Mzm 27:8)

9.    Ketika tampaknya keluarga dan tempat dimana kita dilahirkan telah ditetapkan untuk kita, perjumpaan dengan Tuhan dapat mengubah segalanya.
Kebanyakan orang Yahudi yang dilahirkan dalam suku Lewi telah ditetapkan untuk melayani beberapa tugas tertentu di Bait Allah. Sedikit saja dari suku Lewi yang dipanggil untuk jabatan yang paling tinggi, yaitu imam yang melayani. Tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil  untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun (Ibr 5:4). Yehezkiel berjumpa dengan Tuhan pada suatu hari dan menghentikan pelayanan keluarga dan persiapan profesionalnya. Berjumpa dengan Tuhan adalah suatu peristiwa yang mengagumkan, tidak ada apapun di dalam hidup kita atau pekerjaan kita yang dapat menyamainya.

Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya. (1 Tes 5:24)

10.    Hanya karena kita tidak mengerti segala hal tentang perjumpaan kita dengan Tuhan tidak berarti tidak adanya interpretasi terhadap peristiwa tersebut.
Tentu saja Yehezkiel tidak mengerti setiap hal yang ia lihat. Kebanyakan para komentator Alkitab menginterpretasikan angin puyuh dari utara sebagai bangsa Babel yang dengan cepat menjatuhkan Israel dari utara untuk menghancurkan Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem dan membawa sisa-sisa orang-orang Yahudi ke Babel. Empat makhluk adalah mungkin para malaikat dan empat wajah mereka melambangkan empat  Injil, yaitu empat penekanan yang berbeda dari masing-masing Injil, yaitu empat gambar Mesias dari bangsa Yahudi. Wajah Singa adalah Matius, Lembu adalah Markus, manusia adalah Lukas dan rajawali adalah Yohanes. Ada banyak lambang lain dalam perjumpaan Yehezkiel dengan Tuhan, semuanya ada untuk memberikan tantangan kepada kita untuk mempelajarinya agar kita dapat memahami tujuan Tuhan bagi bangsa-Nya.

(10) Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu.(11) Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (1 Pet 1:10-11)

RANGKUMAN
1.    Aku dapat menemukan Tuhan setelah impianku gagal
2.    Aku dapat memperoleh impian-impian yang segar setelah berjumpa dengan Tuhan
3.    Aku mendapat suatu tugas baru dari impian yang segar yang datang melalui suatu perjumpaan
4.    Aku mungkin mendapat pelayanan pribadi dari Tuhan ketika berjumpa dengan Dia
5.    Aku akan siap untuk melayani Tuhan melalui suatu perjumpaan
6.    Aku mungkin memahami krisis politik dan kebudayaan setelah perjumpaan dengan Tuhan
7.    Aku mungkin tidak mengerti semua pengalamanku ketika berjumpa dengan Tuhan
8.    Aku biasanya berjumpa dengan Tuhan secara pribadi.
9.    Aku dapat mengatasi kondisi kelahiranku melalui perjumpaan dengan Tuhan
10.    Aku tidak perlu mengerti segala hal yang terjadi dalam suatu perjumpaan dengan Tuhan

Sumber:  ENCOUNTERING GOD FOR SPIRITUAL BREAKTHROUGH, oleh Elmer L Towns
Alih Bahasa: Inawaty Suwardi, Rajawali Family Ministry

Artikel oleh: April 22, 2012   Kategori : Bahan Khotbah  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda