Seorang Gembala Sidang (24)

a-11

Warisan Sekolah Alkitab

Saya seorang pengajar di Sekolah Teologi – saya merasa berbakat di jalur tersebut. Saya memiliki cita-cita yang sering saya utarakan kepada istri saya. Jika Allah memberikan usia panjang kepada saya, betapa ingin saya mengakhiri pelayanan ini sebagai seorang pengajar di Sekolah Teologi. Mempengaruhi hidup setiap calon pemimpin dan Gembala Sidang, atau penginjil atau sebanyak-banyaknya orang adalah keinginan yang tak pernah hilang. Tetapi saya melakukannya dengan cara tertentu menuju ke sana.

Saya tak langsung terjun mengajar dan menghabiskan waktu sampai tua. Saya memiliki visi untuk melupakan sementara waktu berbagai teori dan ajaran tentang segala sesuatu yang berasal dari Sekolah Teologi. Saya memasuki tahap bakti yang murni menggumuli keseharian pelayanan saya dan berteologi dari tengah-tengahnya.

Saya menguji yang saya ketahui lalu saya temukan yang saya percayai. Saya banyak mendengarkan dan mengamati apa yang terjadi dalam pelayanan saya, dan berusaha menemukan missing links antara sekolah teologi dan pelayanan. Suatu kali semua itu akan saya bawa, jika Tuhan mengijinkannya, untuk saya tunjukkan kepada mereka yang masih baru bahwa jalan menuju ke sana adalah melalui hal-hal ini.

Saya mengambil jurusan teologi sewaktu saya menyelesaikan Master of Divinity. Setelah lulus dengan angka yang tak terlalu jelek, saya mendapat kesempatan merasakan dipuji orang karena menerima penghargaan karena academic excellence, dan karena Christian leadership and maturity. Seingat saya sampai hari ini, yang paling banyak pengaruhnya adalah penghargaan yang kedua.

Saya mengenang kembali saat menerima penghargaan yang kedua itu – mata saya berbinar-binar saat itu. Sedangkan penghargaan yang pertama, dengan mudah dikalahkan oleh banyak teman-teman lain. Bahkan salah satu teman saya mendapat angka sempurna untuk pendidikan Master of Divinity itu. Hebat juga! Saya kagum dengan orang-orang pintar tetapi rendah hati. Tetapi sekali lagi, tak ada orang yang bisa memahami betapa senangnya saya ketika mengetahui bahwa banyak para dosen yang memperhatikan diri saya sebagai seorang Budi Setiawan.

Kegembiraan saya adalah kegembiraan seorang anak kecil. Tokh pada hari ini tak satupun penghargaan itu terpasang di dinding rumah kami atau di kantor saya. Semua penghargaan itu ditumpuk di lemari kecil bersama palu dan paku. Saya sendiri tak berselera memajangnya. Itu hanya bermakna waktu saya menerimanya, atau setahun dalam kebodohan saya barangkali. Sebab setelah itu, pengalaman pelayanan membuat saya tertawa. Bahwa yang saya hadapi adalah sepuluh kali lipat dari yang pernah saya perhitungkan. Saya malu memasangnya di dinding, ha ha ha.

Membidangi teologi lalu masuk pelayanan adalah lintasan yang indah. Seperti berlatih menggunakan senjata kemudian menjadi seorang perawat. Atau berlatih angkat besi kemudian menjadi tukang pembuat roti. Berlatih bermain anggar kemudian memilih pertanian.

Indahnya terletak pada kesempatan berteologi dan berefleksi. Ketika pikiran orang dibiasakan untuk berpikir secara skematis dan analitis dengan cara menguasai beberapa bidang yang cocok untuk menjadi seorang pengajar, kemudian anda diletakkan dalam pelayanan di mana dibutuhkan daya refleksi dan kesabaran untuk memahami dengan benar, maka lengkaplah semua kemampuan dalam diri anda.

Sepanjang pengalaman saya yang masih relatif sedikit ini, saya menemukan bahwa berpikir teologis dalam konteks penggembalaan sungguh mengasyikkan. Anda pasti pernah lihat orang berselancar. Begitulah yang saya rasakan sementara. Menggunakan kemampuan berteologi sebagai alat selancar kita mengarungi lautan pelayanan adalah pekerjaan yang mengasyikkan. Saya suka meneliti tentang pola pikir yang ada di dalam Alkitab sepanjang bacaan rohani saya. Saya menuangkan pikiran-pikiran tersebut dalam tulisan saya The Paradigm of Jesus yang saya tulis dalam bahasa Indonesia.

Jika saya dengar kritikan orang bahwa banyak pengajar teologi di Sekolah Teologi pada umumnya bukanlah Gembala Sidang, jadi bagaimana bisa diharapkan Sekolah teologi memacu keinginan lulusannya untuk masuk dalam pelayanan sesungguhnya. Ya, saya bisa memakluminya karena memang ada juga kebenaran dari kritik tersebut. Bahwa pengalaman sering berbicara lebih kuat daripada sekedar teori adalah kebenaran umum. Tetapi pertanyaannya, berapa banyak Gembala Sidang yang bersedia kembali ke Sekolah Teologi setelah ia jaya dalam pelayanannya?

Teman saya Paul Lewis berkata bahwa gereja pada awalnya mengikuti konsep Yunani paedeia yang berfokus pada formasi karakter. Itulah akar yang mendasari pendidikan teologi seorang Gembala Sidang. Pada dasarnya pendidikan kependetaan adalah pendidikan yang berorientasi pada formasi karakter, selain isi pengetahuan yang diperlukan. Sehingga pendidikan teologi sepanjang masa adalah sebuah integrasi antara ortodoksi (ajaran yang benar), ortopati (pengalaman yang benar), dan ortopraksis (tindakan yang benar). Selama kita di seminari atau di Sekolah Teologi, kita dilatih untuk mengenali apa-apa yang penting dalam pelayanan. Tetapi dasar utamanya adalah pembentukan karakter kita. Semua yang kita pelajari harus bisa menyelamatkan pembentukan karakter dalam diri kita.

Sayangnya, waktu kita menjadi mahasiswa teologi kita telah bergeser secara tak sengaja kepada penguasaan pengetahuan sebagai alasan utama mengapa kita belajar teologi. Ortodoksi adalah tekanan utama. Sedangkan kegagalan utama dalam pelayanan ternyata jauh lebih besar pada karakter Gembala Sidang, bukan kepada teologinya.

Selain itu, apa sebenarnya warisan terbesar lainnya dari Sekolah Teologi bagi seorang Gembala Sidang? Warisan tersebut bukanlah pengetahuan, karena sebagian besar pengetahuan itu telah kita lupakan sewaktu masuk ke dalam pelayanan. Tetapi gagasan untuk “selalu belajar” itulah warisan yang sesungguhnya dari pendidikan teologi kita. Selalu ada yang mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh berhenti belajar atau berinteraksi dengan area pelayanan kita. Kita harus dalam proses berteologi terus menerus. Itulah yang sangat penting untuk kita.

Anda tak bisa berhenti ‘belajar’ setelah anda menjadi Gembala Sidang selama empat puluh tahun. Anda berpotensi untuk jatuh sama besarnya dengan mereka yang baru saja mulai masuk dalam pelayanan. Anda tergoda dengan hal-hal yang sama atau bahkan malah lebih banyak. Anda harus menggunakan seluruh ‘indra pelayanan’ anda untuk melihat keseluruhan jalannya pelayanan anda.

Jika seorang Gembala Sidang tidak cukup rendah hati, maka ia akan menolak untuk ‘belajar’ melalui refleksi hidup atas semua kejadian, lalu menyelesaikan persoalan menurut apa yang pernah dilakukannya. Itulah bentuk kesombongan di masa tua. Anda menolak cara lain selain yang biasa anda lakukan. Walaupun akan cukup banyak orang yang memaklumi anda jika anda menolak berubah, tak sedikit yang mulai menginginkan lahirnya pemimpin baru menggantikan anda.

Wisuda pendidikan teologi adalah permulaan dari sebuah perjalanan. Kalau di Indonesia persepsi yang kita miliki tentang wisuda adalah “akhir” sebuah perjalanan. Di beberapa negara Barat menganggapnya sebagai “permulaan” (commencement). Konsep Barat lebih tepat, karena mengandung peringatan bahwa wisuda barulah permulaan perjalanan yang sesungguhnya.

Jadi proses ‘belajar’ haruslah ada terus dalam hati seorang Gembala Sidang berapapun usianya. Maksud saya bukan sekolah resmi, tetapi kemampuan untuk mengamati dan berinteraksi secara teologis serta mengambil kesimpulan yang bijak. Inilah yang diperlukan seorang Gembala Sidang. Di awal tulisan ini saya memberikan sebuah sajak tentang seorang gembala, saya mengatakan:

“… Tak ada jejak untuk kembali, yang ada hanya bentangan hutan untuk dilalui. Jalan hutannya adalah jalan sekali tanpa jejak. Kekayaannya bukanlah jejak yang telah dibuatnya, melainkan penemuan baru dan rekaman pikiran bersahaja tentang gagal dan menang …”

Itulah warisan terbesar yang kita dapatkan dari Sekolah Teologi kita. Dimana anda sekarang? Ditepi jalan pada jalan besar pelayanan anda, sedang beristirahat dan termenung memikirkan apa yang harus dilakukan?

(Bersambung…)

Artikel oleh: October 10, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda