Berbuatlah Baik!

Berilah

“Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air”.  (Amsal 25 : 21)

 

Setiap orang itu berbeda-beda, baik latar belakang kehidupan, keluarga, pekerjaan, karakter, kebiasaan dan juga keunikan masing-masing serta perbedaan-perbedaan lainnya. Di situlah kita harus saling melengkapi! Namun, jika kita perhatikan, dengan perbedaan-perbedaan tersebut, keadaan yang ada justru sebaliknya, bukannya saling melengkapi, tapi justru rentan dengan permasalahan yang menimbulkan gesekan serta permusuhan.

Ketika seseorang sedang saling bermusuhan, berarti di antara mereka tidak mampu menemukan titik kasih sebagai pijakan untuk mengerti dan mengampuni.  Ketika ada orang yang tidak cocok dengan kita ataupun mulai sirik dengan kita, maka pada akhirnya memusuhi kita dan mau menjatuhkan kita.  Pada tingkat tertentu kebencian dapat berubah menjadi keinginan untuk menyingkirkan dan meniadakan sebab dianggap lawannya menjadi penghalang utama atau membahayakan dirinya.

Ada senjata ampuh yang dapat kita keluarkan untuk melawan kebencian dan permusuhan, dan senjata itu namanya “senjata kasih”. Dalam ayat di atas dituliskan, “jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan air jika mereka haus.” Dalam Matius 6:39 dikatakan juga, “Jangan melawan kejahatan dengan kejahatan, tapi dengan kebaikan.”  Ketika kita berbuat baik kepada musuh-musuh kita maka mereka akan merasa malu, karena  dengan perbuatan baik kita itu, membuat mereka melihat kelemahannya sendiri. Kebaikan demikian adalah yang termulia dari semua kebaikan karena dengan berbuat begitu kita menyelamatkan musuh dan juga membuang rasa permusuhan.

Memang, suatu hal yang sangat sulit dilakukan yaitu mengasihi orang yang telah menyakiti kita. Tetapi kalau kita bisa melakukannya maka berkat Tuhan akan menjadi bagian kita. Saling mengasihi dan saling mengampuni sangat identik dengan kehidupan kekristenan. Firman Allah menasehati kita, kasihilah musuhmu dan berdoalah buat dia serta mohonlah berkat atas dia. Hal itu berarti ketika kita disakiti,  janganlah membalas menyakiti atau juga menyimpan kepahitan, tetapi kita harus tetap mengasihi serta berusaha untuk mengampuni dan harus melupakan kesalahan orang lain.

 

Cara dunia adalah membalas kejahatan dengan kejahatan.

Cara Alkitabiah adalah membalas kejahatan dengan kebaikan.

 

Artikel oleh: March 21, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Proverbs (Renungan Alkitabiah dari Kitab Amsal)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda