Seorang Gembala Sidang (30)

Visi atau Ambisi

Terkadang anda sulit membedakan antara visi yang diberikan Tuhan tentang gereja anda dengan dorongan keinginan semata untuk membuat gereja anda lebih besar. Seingat saya saya pernah menuliskan dalam sebuah artikel sejenis, tetapi pikiran untuk menuangkannya kembali begitu kuat. Apakah yang menjadi obsesi kita tentang pelayanan atau gereja kita adalah benar-benar berasal dari Tuhan? Bagaimana saya bisa tahu dan yakin? Saya teringat dengan sebuah ayat dalam Amsal 10:22 yang berkata, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” yang artinya bahwa jika Tuhan memberkati usaha atau pekerjaan anda, maka nantinya berkat itu tidak akan menyusahkan anda. Apa keuntungan kita ketika diakhir segala sesuatu, ternyata apa yang kita kumpulkan mendera kita dengan berbagai kesusahan?

Sayangnya ketika kita berbicara tentang berkat, kita langsung terkooptasi pada kebiasaan berpikir di sekitar kita, yaitu tentang uang, rumah, mobil, perusahaan, kesehatan, dsb. Konsep berkat di Perjanjian Lama banyak dikaitkan denganhasil ladang, rumah, kerajaan, kekuasaan, kekayaan, umur panjang, dsb. Sedangkan Perjanjian Baru memahami ‘berkat’ dengan lebih kepada arti spiritualnya. Mungkn belum terbayang saat itu bahwa pada suatu kali ‘ekklesia’ yang terdiri dari ‘people’ atau orang-orang yang telah keluar dari hidup berdosa mereka akan berkumpul di sebuah tempat dengan kemewahan tingkat tinggi, bahkan tidak terbayangkan bahwa kini orang datang ke Rumah Tuhan seperti orang pergi ke pesta karena kita juga yang mengajari mereka agar memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Matthew Henry berkata, “Worldly wealth is that which most men have their hearts very much upon, but they generally mistake both in the nature of the thing they desire and in the way by which they hope to obtain it.” Perkataannya adalah sindiran kepada praktek modern pelayanan, sekalipun ia menulisnya 300 tahun yang lalu.

Sejak 50 tahun belakangan ketika etik kerja Protestan sudah benar-benar menyerap prinsip sukses dari luar gereja mempengaruhi konsep pertumbuhan gereja. Mulanya, misi dan Pertumbuhan gereja adalah dua topik penting yang biasanya ada dalam organisasi kegerejaan atau yang disebut dengan denominasi/sinode. Misi adalah tentang penyebaran sedangkan pertumbuhan gereja adalah tentang gereja lokal. Sinode mengerjakan tujuannya melalui penyebaran atau misi dengan kurang memperhatikan pertumbuhan gereja. Kebanyakan Sinode pada awalnya amat berpusat pada penyebaran. Tetapi belakangan ini, terutama dalam 30 tahun terakhir, mau tidak mau Sinode mulai menggumuli soal pertumbuhan gereja.Gereja tidak dapat melepaskan diri dari tuntutan untuk memiliki kelompok besar, gedung besar, pengaruh besar, kekuatan keuangan besar, dsb.

Anda ingin memperluas pelayanan Sinode anda? Anda memerlukan uang! Dari mana uangnya datang? Dari gereja-gereja lokal. Gereja-gereja lokal di mana yang bisa memberikan bantuan keuangan yang signifikan? Dari perkotaan! Bagaimana gereja-gereja di kota bisa memberikan bantuan jika kondisi mereka kecil, bangku-bangku gereja juga diisi oleh orang-orang susah yang perli dibantu untuk dihidupi, dsb. Maka secara revolusioner gereja mengubah diri untuk menyesuaikan diri. Tetapi pertanyaannya adalah dengan siapa gereja menyesuaikan diri? Di sinilah hati Tuhan-pun mendua. Tuhan menjadi gamang, karena pasti Ia memperhatikan bagaimana kita membuat pilihan-pilihan. Lalu pilihan-pilihan itu diyakini sebagai satu-satunya jalan untuk melayani-Nya.

Dunia telah menjadi tempat yang sangat menggairahkan bagi gereja, bukan karena roh penginjilan yang sedang menyala di dunia ini, tetapi karena kesempatan untuk ‘bersolek’ untuk memasuki pesta dunia ini telah terbuka lebar. Dunia merangkul gereja dengan mengajari bagaimana caranya bertahan sampai ke hari depan. Dunia semakin merasa gereja harus mengalir bersama-sama dan menjadi bagian dari ‘kepentingan global’ bertahan dan menikmati. Sebagai gereja di dalam dunia, kita sudah semakin percaya diri bahwa kita sudah sangat cocok bagi dunia ini. Kita menerapkan prinsip-prinsip yang juga dipakai dunia ini untuk mengukur keberhasilan atau kesuksesan, kita telah benar-benar di -tune-up sehingga cocok berlari di jalan raya dunia ini. Gereja bahkan bersedia untuk menerapkan ISO untuk menyejajarkan dirinya dengan standar pelayanan perusahaan-perusahaan dunia ini. Demi kualitas sebagaimana Demming katakan, demi elegansi dan pelayanan berkelas maka apapun kita sesuaikan. Ukuran efisiensi, efektifitas, ekonomis dan estetis terpenuhi demi keberlangsungan gereja di dunia ini.

Memang, secara umum gereja harus benar-benar menata diri sehingga bisa tampil sesuai jaman, dan lebih mudah diterima. Tetapi belakangan sangat terasa bahwa kita sedang ‘membantu’ Tuhan supaya lebih kelihatan hidup bagi jaman ini. Bahkan kelihatannya Tuhan juga dipaksa untuk ‘menyatakan setuju’ kepada apa saja yang dikatakan oleh para ‘hamba-Nya’ sebagai visi.

Ketika Allah memanggil Abram (Abraham) untuk ke luar dari tanah Ur-kasdim, Allah memusatkan perhatian-Nya kepada Abram, tentang Abram. Lalu keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, hanya akan mungkin menjadi bangsa yang besar jika mereka adalah keturunan Abraham, Yesaya 66:8 dan Yeremia 18:9. Tetapi Allah saat itu benar-benar berbicara tentang orang dan tentang  sekelompok orang. Ia belum bicara tentang tanah yang kemudian disebutkan dalam Keluaran 3:17 sebagai tanah atau negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Allah memberikan deskripsi tentang tanah tersebut dalam kitab Keluaran, mengingat keturunan Abraham sedang ada di Mesir sebagai budak kala itu. Maka hanya dengan gambaran itulah maka mereka mau memilih untuk keluar dari tanah Mesir. Bagaimanapun, di Mesir mereka merasa sudah bisa dicukupi segalanya.

Visi yang Allah berikan kepada Abram saat itu adalah tentang “bagaimana dirinya akan menjadi cikal bakal bangsa yang besar, namanya mahsyur; dan akan dipakai untuk menjadi berkat (bagi bangsa-bangsa lain)“. Allah memberikan visi tentang orang-orang, kemudian barulah tentang tanah. Sejak hari di mana mereka sebagai sebuah bangsa memenuhi perkataan Tuhan untuk berdiam di negeri yang dijanjikan-Nya itu, maka seluruh catatan Alkitab berbicara tentang orang-orang. Yaitu bagaimana mereka gagal atau berhasil menaati perintah-Nya.

Ketika Allah mengutus Musa untuk membawa umat-Nya keluar dari tanah Mesir, Ia melakukannya karena kasih-Nya kepada keturunan Abraham yang menjadi budak di Mesir. Ia mengutus Musa untuk membawa umat-Nya ke luar dari tanah Mesir menuju tanah Perjanjian. Ia menyuruh Musa mengatakan kepada Firaun saat itu bahwa Allah Israel menyuruh mereka untuk menyembah-Nya di gunung Sinai yang jauhnya 3 hari perjalanan, Keluaran 2:18.

Setelah mereka keluar dari Mesir, dalam peerjalanan Allah berbicara kepada mereka tentang Torat, Kemah Pertemuan, tentang tabut perjanjian, tentang bait Allah, dsb. Allah memakai semua ‘peralatan’ untuk mendidik umat-Nya tentang bagaimana caranya menyaksikan bahwa di dunia ini, hanya Dia satu-satunya Allah yang benar, Ulangan 4:35, 39, 1 Sam. 2:2, 1 Raj. 8:60, Yes. 45:5, 18-19, dst. Apa yang diberikan Allah sebagai visi kepada para nabi, tidak ada kaitannya dengan kemuliaan seseorang, melainkan dengan maksud dan rencana Allah.

Gagasan tentang kebesaran sebagai hasil karya manusia dimulai ketika Daud merencanakan untuk membangun sebuah rumah bagi TUHAN, 2 Samuel 7. Apa yang terbit dalam hati Daud, Allah merestuinya, kata nabi Natan, 2 Sam. 7:3. Itulah awal gagasan manusia untuk ‘membahagiakan’ Allah mula pertama kali diperkenalkan. Sebelumnya dalam peristiwa menara Babel Allah justru menolaknya dan menentang rencana tersebut. Selain karena manusia harus menyebar pada awal sejarah peradaban manusia, tetapi juga dikarenakan karena motif semua itu adalah untuk nama besar mereka, Kejadian 11:4.

Sekarang, bandingkanlah kedua hal tersebut. Daud mengutarakan keinginan hatinya tentang membangun Rumah bagi Tuhan adalah karena Ia merasa malu membandingkan keadaan dirinya dengan keadaan tabut Perjanjian Allah yang mesti berdiam di bawah tenda. Ia mengutarakannya dengan kesedihan karena baru menyadari.

Dewasa ini, mungkin sulit juga menemukan seorang hamba Tuhan yang memiliki rumah lebih mewah dari gereja yang dilayaninya. Gereja selalu diutamakan lebih baik dari rumah pribadi seorang hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan yang terbeban bagi pembangunan gerejanya-pun kerap kali menjual rumahnya sendiri demi berdirinya sebuah gereja yang baik. Biasanya tindakan ini kemudian akan memicu sebuah gerakan dalam jemaat untuk bersatu hati mewujudkan visi membangun sebuah rumah bagi Tuhan.

Tetapi yang harus direnungkan dalam-dalam adalah soal legitimasi visi tersebut. Seringkali visi yang dimaksud seorang Gembala Sidang bukanlah berpusat pada orang melainkan kepada bangunan fisik, teknologi, dsb. Memang sulit membedakan apakah seorang Gembala Sidang benar-benar memiliki ‘umat Tuhan’ dibenaknya dan bukan gedung. Mana yang lebih kuat menguasai seorang Gembala Sidang, obsesi untuk memiliki sesuatu yang besar atau obsesi untuk melihat umat Allah diberkati dengan berkat-berkat rohani. Apa yang membuat seorang Gembala Sidang termotivasi? Apakah orang-orang atau bangunannya?

Anda mungkin akan berkata bahwa kedua-duanya menarik dan menimbulkan motivasi! Memang benar, tapi mana lebih dulu yang menguasai pikiran anda? Anda mungkin tidak akan menceritakan yang sesungguhnya. Anda telah memasukkan ‘visi’ sesungguhnya yang hanya anda sendiri yang tahu, ke dalam amplop yang bertuliskan visi Tuhan. Godaan ini juga mendera saya. Sulit sekali memisahkan apakah yang ada dalam pikiran saya adalah Babel atau rumah Tuhan yang dipikirkan Daud. Apakah yang ada di benak saya dan menjadi obsesi adalah orang-orang yang sedang menyembah dan menaati Allah atau hal-hal lainnya. Mungkin hanya kita sendiri yang tahu (selain Tuhan)  tentang ‘spirit’ yang mendorong mengapa kita mengutarakan kepada umat yang kita pimpin agar membangun ‘sebuah rumah bagi Tuhan.’ Sebagai seorang Gembala Sidang sangat mudah mengatas namakan visi dari Allah dan menuntun jemaat Tuhan untuk mewujudkan visi tersebut. Godaan ini merata pada semua pemimpina rohani.

Tahukah anda bahwa yang dipikirkan Daud, berbeda dari yang dipikirkan Solaiman, apalagi Herodes. Herodes membangun kembali reruntuhan bait Allah dengan sebuah maksud politis terhadap orang-orang Yahudi saudara-saudaranya. Ketika Solaiman menambahkan segala unsur terbaik ke dalam rencana pembangunan Bait Allah tersebut, maka dimulailah ide dan legitimasi untuk meminta umat Allah memberi untuk pembangunan rumah Tuhan sekarang ini. Tetapi sekali lagi, hati kitapun bertanya-tanya, “Untuk apa semua yang kita lakukan ini? Untuk siapa semua ini?”. Pertanyaan jenis ini yang muncul di hati seorang Gembala Sidang seperti lampu mercusuar di kejauhan, ia hanya bercahaya tetapi cahayanya selalu mengandung arti panggilan untuk mendatanginya. Seperti panggilan untuk kembali ke arah yang sebenarnya.

Saya kembalikan lagi perkataan firman Tuhan yang sejak awal saya tunjukan bahwa “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, kesusahan tidak akan menambahinya.” Bagaimana jika akhir dari semua karya besar yang kita bangun, ternyata hanya menimbulkan kesusahan saja. Bagaimana anda bisa menjamin kepada orang-orsng bahwa apa yang anda katakan visi, bukanlah sesuatu yang bakal menimbulkan persoalan di hari depan, menambah-nambah kesusahan bagi anda, keturunan anda dan orang-orang lain? Robert G. Ingersoll berkata, “Keberanian tanpa suara hati adalah seperti binatang buas.” Ungkapan ini tepat sekali menggambarkan bahwa visi tanpa nurani akan seperti binatang buas, akan menimbulkan korban yang tidak seharusnya.

Is it His vision, or just your own vision? Can I start with my own and then be His? Tough questions!

Tuhan memberkati!

 

 

 

Artikel oleh: May 5, 2011  Tags:   Kategori : Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

4 Komentar

  1. Remon Mantik - May 7, 2011

    Patut dipikirkan secara mendalam dan direnungkan baik-baik oleh setiap gembala sidang. Tuhan Yesus tolong kami sebagai gembala sidang, agar menjadi hamba yang baik dan berkenan, bukan hamba yang jahat dan rakus, tamak…..
    trims pak Budi….
    Tuhan Yesus berkati

  2. Adi P.Nugroho - May 7, 2011

    Menarik dan saya menggaris bawahi penyataan “mana lebih dulu yang menguasai pikiran anda?”. Kita sering kali juga bertanya2 atau dengar perkataan orang lain,”bagaimana hati kita”. Tapi “hati” itu sulit didefinisikan dan di pilah2 oleh orang lain bahkan bagi diri sendiri kadangkala. Apa yang ada dalam pikiran kita mungkin dapat dikata menjembatani apa yang “sebenarnya” ada dalam hati kita sebenarnya.

    Dari pengalaman saya pribadi, jika hati atau pikiran kita tersirat sedikit saja berbicara tentang kedagingan, itu merupakan motivasi yang pasti salah dan tidak akan diberkati Tuhan, pasti saja selalu ada rintangan yang signifikan membawa saya ke titik awal untuk menetapkan arah dan tujuan pelayanan yang selalu upgrade dari hari ke hari.kedagingan yang tersirat atau percikan kedagingan yang kecil sekalipun, saya sebut sebagai “evil desire”. Jadi tampaknya sekali lagi saya harus re-charge mengenai hal : “mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu”. Mungkin repot dan lama prosesnya, tapi cara itu lebih aman,nyaman dan terjamin (pemeliharaanNya) untuk langkah kerja kita kedepannya di hadapan Tuhan.

    Terima Kasih kepada pak Budi yang menambah input pemikiran saya. Tuhan Yesus Memberkati.

    Adi P.Nugroho
    GSJA “Yerusalem Baru”
    Tegal – Jateng

  3. Jimmy RA Legi - May 9, 2011

    memang betul pk Budi, pertanyaan “ut apa semua yg kita lakukan ini? ut siapa semua ini?” merupakan pertanyaan penting yg harus diajukan sebelum merealisasikan visi. itu batu uji terhadap ‘spirit’ (motivasi) yg melatar-belakangi pelaksanaan visi “membangun rumah Tuhan.” apakah visi tsb benar2 murni obsesi ut melihat umat Allah diberkati dgn berkat2 rohani at justru obsesi ut kepentingan “nama besar” kita(spt peristiwa menara babel). bila jawabannya ad yg pertama, maka kita pasti bersuka-cita ketika kita melihat hasilnya: umat Tuhan semakin kaya dlm Kristus; selain itu, kita juga pasti siap/rela, tidak marah/menyesal ketika kita harus “melepaskan” rumah Tuhan yg telah kita bangun dgn susah payah itu (krn kita sadar betul bahwa “rumah Tuhan” yg sudah kita bangun itu ad milik Allah, bukan milik kita). spt Musa yg “legowo” ketika dia tidak diberi kesempatan ut masuk/menikmati tanah perjanjian itu (hanya bisa melihat dari kejauhan). thanks

  4. Denius Wololi - May 12, 2011

    benar pak Budi sekarang Tuhan ingin kita periksa hati dan motivasi kita.suatu pagi tgl 14 april dalam doa pagi, saya bersyafaat dengan sedertan keperluan pelayanan dan Tuhan seola menghentikan saya dan berbicara, Saya tidak ingin mendengarkan doa seperti ini yang Aku inginkan ialah engkau berdoa untuk pertobatan jiwa-jiwa dan mujizat dalam pelayanan supaya banyak orang diselamatkan.Mulai saat itu saya akan berdoa untuk pertobatan jiwa2 dan baru kebutuhan pelayanan.Tuhan Yesus memberkati.

Tulis Komentar Anda