Hindarilah Amarah!

Marah

“Terhormatlah seseorang jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak” (Amsal 20 : 3)   

 

Elizabeth Kenny, seorang perawat Australia dan pencipta metode Kenny untuk merawat polio, pada suatu hari ditanya oleh seorang sahabatnya tentang bagaimana dia bisa selalu riang. Sahabatnya itu berkata, “Mungkin kamu memang dilahirkan tenang dan tersenyum”.  Perawat itu tertawa dan berkata: “Sebagai seorang gadis, saya juga sering marah. Tapi pada suatu hari ketika saya sedang marah kepada seorang teman karena masalah sepele, ibu saya menasehati saya yang sampai sekarang tetap melekat dibenak saya, dan selalu menjadi pedoman saya sejak itu. Dia berkata, “Elizabeth, orang yang bisa membuatmu marah berarti dia telah berhasil menaklukkan kamu”.

 

Kemarahan itu akan membahayakan diri sendiri; sebaliknya, dengan menjauhkan diri dari kemarahan maka kita menjadikan diri kita seorang yang “terhormat”. Artinya, seorang yang tidak pemarah patut disegani dan dihormati karena ia mampu mengendalikan emosinya. Hanya orang yang bodoh yang membiarkan amarahnya meledak-ledak.  Selain kita perlu menjauhkan diri dari sifat pemarah, kita pun perlu untuk menjauhkan diri terhadap orang yang pemarah karena dekat dengan orang-orang yang pemarah hanya merugikan dan menyusahkan diri kita.

Ketika berhadapan dengan kemarahan, maka jawaban yang lemah lembut akan mendorong kita untuk rukun kembali dan berdamai dengan sesama, sedangkan perkataan yang keras akan meningkatkan kemarahan dan permusuhan.  Efesus 4 :26-27, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis”.  Pengkhotbah 7:9, “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh”.  Paulus menasehati kepada jemaat di Kolose, dimana salah satu sifat yang harus dibuang adalah kemarahan (Kol 3 : 8). Kasih itu, berarti tidak pemarah (1 Kor 13). Dengan banyak cara kita dapat merusak hubungan, tapi hanya ada satu cara untuk membangunnya, yaitu dengan berkata TIDAK kepada kemarahan dan permusuhan.

 

Orang yang bijaksana akan menyelesaikan persoalan, menghindari amarah dan membuat musuh jadi teman baik.

 

Artikel oleh: March 18, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Proverbs (Renungan Alkitabiah dari Kitab Amsal)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda