Starting Wisely

(Mengawali dengan Bijak)

A. Mulyanto

Amsal 2:1-9

Lukas menyaksikan, demikianlah pola pertumbuhan Tuhan Yesus

Semakin bertambah usianya,
Semakin bertambah besar

Semakin bertambah hikmatnya

Semakin dikasihi Allah dan sesamanya manusia (Lukas 2:52)

Itulah juga pola pertumbuhan setiap manusia Allaj

Semakin bertambah usianya,

semakin bertambah bijak, dan

semakin bertambah bajik.

Di tahun 2010 ini, Marilah kita sungguh-sungguh berdoa dan berusaha agar kehidupan kita semakin memancarkan 4 karakteristik kebajikan

· Kejujuran (ay 7a)

· Kesalehan (ay 7b)

· Keadilan (ay 8a)

· Kesetiaan (ay 8b)

1. KEJUJURAN (SINCERITY) VS
KEMUNAFIKAN (HYPOCRISY) AY 7A

Pada umumnya, kita cenderung memandang anak kecil lebih jujur dari orang dewasa. Pikiran seorang anak kecil belum tercemari oleh kejahatan atau belum tercampur dengan nilai-nilai moral yang jahat dari dunia ini. Ironisnya, semakin besar, semakin sukar menemukan ketulusan hati yang murni di tengah dunia yang ‘cemar’. Sungai hati banyak orang telah tercemari dengan limbah-limbah kemunafikan.

Umpamanya, selesai makan bersama, lalu kita menanyakan, “Makanannya enak nggak?” Orang dewasa, 90 %, akan langsung menjawab, “Enak!” secara diplomatis, etis, atau basa-basi. Sebaliknya, anak-anak memiliki jawaban yang jauh lebih variatif. Sebagian menjawab, “Eunek!” Sebagian yang lain berkata, “Terlalu pedas!” Sebagian yang lain berkata, “Biasa aja!” Sebagian lagi barulah akan menjawab, “Enak sekali!” Mana yang lebih jujur? Anak-anak yang menjawab apa adanya!

Pernahkah kita melihat sebuah sungai yang bersih? Kita pasti akan melihat dengan jelas batu-batu yang ada di dasar sungai tersebut oleh karena airnya sangat jernih.

Akan tetapi, kadang-kadang apa yang ada di dalam hati tidaklah sama dengan apa yang keluar dari mulut kita. Segera ambil tindakan untuk melepas topeng kepalsuan dan mulai kenakan topeng keberanian untuk berkata “Ya di atas Ya, dan Tidak di atas Tidak, karena selebihnya dari berasal dari si jahat” (Mat 5:36-37).

Petrus memberikian dorongan yang sangat indah,

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Petrus 1:22).

Salomo menasihatkan berulang kali,

· Karena orang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat (Ams 3:32)

· Berkat orang jujur memperkembangakan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya (Ams 11:11)

· Orang bodoh mencemoohkan korban tebusas, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan (Ams 14:9 bnd ay 11).

· Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi orang bebal tidak jujur. Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya (Ams 15:7-8).

· Lihat juga ayat –ayat berikut ini: Ams 11:3 , 12:6 , 14:2 , 15:9 , 16:13 , 20:11 , 21:8 21:18 , 21:29 , 23:16 , 29:10 , 29:27 .

Rekan-rekan kerja dan saudara-saudari terkasih, Marilah kita tanggalkan segala kemunafikan di awal tahun ini, dan mengembangkan kejujuran di sepanjang tahun ini bahkan sepanjang umur hidup kita.

2. KEBENARAN (PURITY) VS KENAJISAN (IMPURITY) AY 7B

Di bagian utara Asia dan Eropa, hidup sejenis hewan kecil bernama cerpelai. Binatang ini mempunyai bulu yang putih dan sangat indah, sehingga sangat menarik perhatian para pemburu dan penjual kulit. Cerpelai itu unik karena ia sangat menjaga kebersihan bulunya. Ia tidak akan membiarkan ada sedikitpun kotoran yang menempel pada bulunya, bahkan ia rela mengorbankan nyawanya untuk menjaga agar bulunya tidak tercemar.

Sebagai orang percaya, lebih dari cerpelai, kita dituntut untuk menjaga seluruh kehidupan kita agar tetap bersih di hadapan Tuhan. .

Salomo mengarjarka, “Anak-anak pun sudah dapat dikenal dari perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakukannya” (Amsal 20:11)

Saat saya menyusun khotbah ini, istri saya untuk pertama kalinya menemani anak bungsu kami bermain monopoli. Mula pertamanya, hanya terdengar canda tawa. Lama kelamaan, istri saya mengingatkan berulang kali, “Jeremy, jangan curang!” Setelah itu, secara lebih lengkap, diajarkan, “Jeremy, lebih baik kalah tapi jujur daripada menang tapi curang.” Setelah didengarnya nasihat tersebut 3 kali berturut-turut, dia mendatangai saya, seakan meminta klarifikasi, “Papi, bukankah lebih baik menang walau curang daripada jujur tapi kalah?” Saya tersentak, dan langsung menegaskan, “Jeremy, apa yang mami ajarkan itu benar. Lebih baik kalah tapi jujur daripada menang tapi curang!” Dengan kenih masih berkerut, dia kembali ke permainan monopoli, sambil bergumam panjang, “Ohhhh . . . begitu!”

Kisah nyata yang sederhana tersebut seharusnya menyentakkan kita semua bahwa dunia ini dengan segala cara kepada segenap lapisan masyarakat mengajarkan:

Yang penting menang walaupun harus curang.

Yang penting kaya walaupun harus korupsi.

Yang penting populer walaupun harus kompromi.

Mari kita tolak bersama-sama ajaran-ajaran yang sesat tersebut. Bersama dengan Salomo, mari kita sebarkan ajaran-ajaran yang lurus:

· “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui” (Amsal 10:9).

· “Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakukannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal (Amsal 19:1).

· “Orang benar yang bersih kelakukannya, berbahagialah keturunannya (Amsal 20:7)

· “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya daripada orang yang berliku-liku jalannya sekalipun ia kaya” (Amsal 28:6)

· Di tengah masyarakat, yang umumnya sudah bermental bengkok, Petrus menghiburkan,

“Karena kuasa Illahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib” (2 Petrus 1:3).

Syukurlah, Tuhan menganugerahkan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup tidak bercela jika kita mau menaati-Nya. Kesucian dan kesalehan itu mendatangkan berkat, melindungi kita dari rasa bersalah dan kecurangan, memberi vitalitas rohani, serta memberikan kita banyak kepercayaan tambahan. Oleh karena itu, marilah kita mulai saat ini menjaga hidup kita agar senantiasa suci dan saleh di hadapan Tuhan.

3. KEADILAN (DISCRETION) VS KECEROBOHAN (RASHNESS)

Orang yang adil adalah orang yang mengenali dan menghindari kata-kata, tindakan dan sikap yang dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Itulah sebabnya, orang-orang yang mengenal, semakin lama semakin menghargai dia.

Di 1 Raj 3:1-15, diceritakan bahwa Salomo berdoa, “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yg faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yg baik dan yg jahat . . .”

Di 1 Raj 3:16-28, langsung perikop selanjutanya, diceritakan bahwa Salomo diperhadapkan kepada masalah pelik: 2 orang ibu bersikukuh memperebutkan 1 bayi sebagai anak yang mereka lahirkan, sementara bayi yg lain meninggal.

· Salomo berkata, “Ambilkan aku pedang, . . . Penggallah anak yg hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan setengah lagi kepada yg lain.” Yg lain berkata,” Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!” Ibu yg pertama berseru, “Berikan saja bayi itu kepadanya . . . , jangan membunuhnya!”

· Salomo memutuskan, “Berikanlah kepadanya bayi yg hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia, dia itulah ibunya!”

Alkitab dalam Today English Version, secara lebih akurat, menyaksikan

When the people of Israel heard of Solomon’s decision, they were all filled with deep respect for him, because they knew then that God had given him the wisdom to settle disputes fairly (1 Raj 3:28).

Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yg diberikan raja, maka mereka semua penuh dengan rasa kagum kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat daripada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hidup kita masing-masing juga dipenuhi dengan pilihan-pilihan. Dan pilihan-pilihan itu harus kita pikirkan dengan penuh pertimbangan sehingga tidak mengambil keputusan yang salah.

Itulah yang diingatkan terus menerus oleh Salomo,

· “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan” (Ams 1:5).

· “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu” (Ams 3:21).

· “Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan. Karena aku para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan” (Ams 8:14-15).

· “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak” (Ams 15:22).

Marilah kita tanggalkan kecerobohan yang seirng menyeret diri kita sendiri kepada kegagalan dan menimbulkan kekecewaan pada banyak orang di sekitar kita. Baiklah kita latih diri kita untuk menimbang dengan saksama sebelum berkata atau bertindak atau memutuskan apa pun juga. Dengan demikian, tahun 2010 tidak lagi berisi rentetan kegagalan yang kelak kita akan sesali, melainkan rangkaian keberhasilan yang kelak kita akan syukuri.

4. KESETIAAN (LOYALTY) VS

KETIDAKSETIAAN (UNFAITHFULNESS)

Setia, menurut kamus besar bahasa Indonesia, berarti patuh, taat, bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya, ia tetap melaksanakannya; tetap dan teguh hati (dalam persahabatan); berpegang teguh (dalam pendirian dan janji).

Setia seringkali dikaitkan dengan sifat anjing, tetapi menurut pendapat saya lebih cocok dikaitkan dengan sikap seorang penjaga mercusuar. Mercusuar Pharos di Alexandria, Mesir, merupakan mercusuar yang pertama dan merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno. Menara batu putih yang tingginya 120m dan dibangun kira-kira 280 SM, melalui sorotan lampu minyak dari jendela yang terbuka telah menuntun banyak kapal memasuki pelabuhan dengan selamat.

Mercusuar biasanya ditempatkan di sebuah pulau yang terpencil di tengah-tengah lautan luas

Sebuah mercusuar dapat menjadi pertanda adanya sebuah pulau, batu cadas atau batu karang yang dapat membahayakan sebuah kapal. Di dalam mercusuar terdapat lampu, ruang layanan, ruang tidur dan duduk, gudang aki dan minyak, generator serta pintu masuk. Untuk menjaga mercusuar tetap bekerja, tiga orang akan tinggal di dalamnya selama jangka waktu tertentu dan dalam kesepian.

Karena sekarang sudah ada komputer, maka mercusuar dapat dioperasikan dari daratan. Akan tetapi, mercusuar di kepulauan Seribu, Jakarta Utara, sampai sekarang masih menggunakan tenaga manusia. Syarat untuk menjadi penjaga mercusuar tidak perlu berpendidikan tinggi tetapi tetap setia. Seorang yang rela berkorban dan bertanggung jawab atas tugasnya, demi menjaga lalu-lintas kapal yang datang maupun pergi. Jika ia lengah dalam menjalankan tugasnya, akan berakibat fatal karena kapal bisa bertabrakan ataupun kandas pada batu karang. Penjaga mercusuar hanya hidup terkurung di dalam menara dan tidak pernah keluar untuk berjalan-jalan. Dalam waktu 2-3 tahun, mereka diijinkan keluar hanya satu atau dua hari untuk refreshing dan melihat dunia luar.

Seandainya kita sebagai orang Kristen ditempatkan pada posisi yang tidak mengenakkan seperti yang dialami oleh penjaga mercusuar tersebut, bagaimana respon kita? Akankah kia mengeluh karena terisolasi, kemudian lari dari tanggung jawab tersebut? Dapatkah kita bersikap tetap setia seperti penjaga itu?

Tak jemu-jemu, Salomo menasihatkan berulang-ulang kali tentang betapa penting dan berharganya kesetiaan,

· “Jangalah kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah dan manusia” (Ams 3:3)

· “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya” (Ams 12:22).

· “Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan” (Ams 13:17).

· “Saksi yang setia menyelamatkan hidup, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan adalah pengkhianat” (Ams 14:25).

· “Seperti sejuk salju di musim panen, demikianlah pesuruh yang setia bagi orang-orang yang menyuruhnya. Ia menyegarkan hati tuan-tuannya” (Ams 25:13).

Saudara-saudariku, di awal tahun yang baru ini, mari kita tanggalkan ketidaksetiaan dan tumbuhkembangkan kesetiaan. Baiklah kita setia, tetap setia dan semakin setia kepada Tuhan, kepada pasangan hidup, kepada tugas dan panggilan Tuhan, bahkan kepada bangsa dan Negara. Baiklah kita setia, tetap setia dan semakin setia dalam bersaat teduh, beribadah, memberi persepuluhan, melayani dan bersaksi. Baikalah kita setia, tetap setia dan semakin setia dalam mememuhi komitmen dan janji yang telah dideklarasikan kepada Tuhan, diri sendiri dan sesama.

Dengan demikian, ketika Salomo bertanya, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia siapakah menemukannya?” (Ams 20:6) Kita dapat menjawabnya: kami adalah orang-orang percaya yang mau belajar untuk setia.

Baiklah kita menjadi orang yang selalu bertanggung jawab atas setiap hal yang Tuhan dan orang lain percayakan kepada kita! Dengan demikian, di akhir tahun 2010, kita akan mendengar sapaan: ”Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” Setelah kita mengakhiri kehidupan kita di bumi ini, Tuhan akan berkata, “Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21).

Seseorang yang tidak mau mencantumkan namanya menuliskan sebuah puisi:

Satu tahun yang belum pernah dicoba

berada di hadapanku

Kejutan apakah yang akan dibawanya

yang menggembirakan atau yang menyedihkan,

Aku sama sekali tidak dapat memastikan,

Tetapi Allah Bapaku mengetahuinya dengan baik.

Aku tidak terlalu mempedulikan

Apa yang akan terjadi dengan diriku?

Aku mempercayakan segala sesuatunya

Ke dalam tangan kasih Allah.

Sekali pun matahari tidak bersinar di siang hari

Bulan-bintang tidak menerangi jalanku di malam hari Jiwaku tetap tidaklah kuatir

Karena Allah lah hidupku dan terangku.

Sekali pun semua lampu di dunia ini menjadi suram,

Artikel oleh: January 8, 2010  Tags:   Kategori : Umum  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda