Memulai Gereja Sel Dalam Gereja Anda

Di kalangan GSJA kita menyebut komsel/sel sebagai KKA (Kelompok Keluarga Allah) untuk menekankan tujuannya bahwa yang berkumpul dalam kelompok kecil adalah anak-anak tebusan Allah. Begitupun, kata ‘komsel/sel’ sudah terlalu melekat pada lidah kebanyakan orang Kristen. Jadi anda akan maklum jika saya menggunakan istilah ‘komsel/sel’ untuk KKA.

Pertanyaan banyak orang adalah “Apakah GSJA adalah Gereja Sel ataukah Gereja yang memiliki Sel?’.

Bagaimanapun, saya pernah menjalankan gereja sel yang sesungguhnya sewaktu kami masih ada di Medan. Saya belum pernah pergi berguru ke Solo untuk belajar Prinsip 12. Saya hanya membaca bukunya, menelitinya, membuatnya menjadi nyata sehingga saat kami meninggalkan kota Medan, ada lebih dari 70 sel saat itu (dewasa dan anak-anak).

Apa bedanya sebuah Gereja Sel dengan Gereja yang Memiliki Sel? Dengan mengacu pada G12 (Gerakan 12 menurut pola Yesus yang menyimbolkan bahwa pada dasarnya seseorang efektif memimpin 12 orang/murid)

Ciri-ciri Gereja Sel:

  • Kegiatan tengah minggu hanya ada komsel/sel. Tidak ada Kaum Wanita, kaum Pria atau Lansia, dsb. Sebab, tidak boleh ada apapun yang mengganggu konsentrasi gereja mengajak jemaat berkumpul dalam komsel
  • Jemaat akan didorong 100% berada dalam komsel/sel
  • Jemaat akan menerima pelayanan penggembalaannya via Komsel/sel
  • Para pemimpin Gereja yang setara dengan Majelis atau Diaken adalah pemimpin komsel/sel

  • Kegiatan gereja pada hari Minggu adalah selebrasi/perayaan bersama perbuatan Allah yang besar yang dikerjakan dalam Komsel/sel yang ada. Sehingga bisa saja kebaktian itu berisi banyak kesaksian.
  • Mereka yang berada di dalam komsel/sel akan menjalankan 2 fungsi kerohanian: menjadi anak yang baik dan menjadi bapak yang baik. Artinya ada saat dimana kita menjadi anggota komsel, kemudian diwaktu lain kita menjadi pemimpin komsel di tempat lain.
  • Akan ada komsel/sel yang mati, tetapi sebagian terbesarnya akan hidup terus. Setiap komsel menjaga jejak ‘leluhur’ rohaninya dengan mencantumkan ia termasuk Pemimpin Kelompok Sel (PKS) ke berapa dari garis siapa.
  • Mulanya hanya akan ada 12 komsel yang disebut “Para PKS-2″. Sedangkan PKS 1 adalah Gembala Sidang. Setelah melalui pelatihan dan bimbingan, maka PKS-2 menamakan diri PKS-2-IS misalnya yang berarti PKS-2-Irwan Solihin, lalu ada yang PKS-2-BM artinya PKS-2-Bambang Makmur, tergantung nama dari 12 PKS tersebut.
  • Setelah PKS-2 tersebut berperan menjadi anak yang baik di bawah bimbingan Gembala Sidang, maka PKS-2 menjalankan peran sebagai ‘bapa rohani’ yang baik dengan cara membuka komsel dan memimpinnya
  • Apa yang didapat dari PKS-1 atau kotbah PKS-1 atau yang ditetapkan di gereja, itulah yang dibagikan dalam komsel
  • Demikianlah berlanjut PKS-2 membuka komsel, yang anggota-anggotanya kemudian menjadi PKS-3, dst …
  • Komsel terdiri dari 3 kegiatan utama: Nyanyi, Sharing & Doa

Nah, semua itu berbeda dari konsep Gereja Yang Memiliki Sel karena Gereja Yang Memiliki Sel biasanya punya kegiatan-kegiatan lain di tengah minggu. Sehingga komsel/sel bukanlah yang utama. Sifat kebaktian pada hari Minggu juga bukanlah sekedar selebrasi tetapi benar-benar sebuah kebaktian untuk menampung orang-orang yang menjadi jemaat atau simpatisan gereja. Gereja yang Memiliki Sel tidak mewajibkan anggotanya untuk berada di dalam komsel. Pelayanan penggembalaan dan gereja diwadahi langsung dari kantor gereja dengan tenaga-tenaga yang lebih profesional.

Badan Pengurus Pusat GSJA dalam rapatnya beberapa bulan yang lalu membahas dengan meninjau kembali perjalanan sejarah gereja ini, melihat contoh-contoh perkembangan di gereja-gereja yang ada sekarang, dan memperkirakan apa yang sebaiknya diambil oleh GSJA, berpendapat bahwa:

GSJA adalah Gereja yang Memiliki Sel, tetapi setiap gereja dibebaskan untuk menjadi Gereja Sel sepanjang gereja kemudian mengalami pertumbuhan.

Badan Pengurus Pusat punya pertimbangan sebagai berikut:

  • Gereja ini telah tumbuh sejak masa lalu dengan cara yang ‘bukan gereja sel’ sehingga untuk mengubahnya menjadi Gereja Sel dapat menimbulkan efek yang bisa sebaliknya bagi sebagian gereja
  • Gereja Sel keliatannya efektif untuk gereja semi-perkotaan dengan nilai-nilai yang masih agak paternalistik. Sedangkan gereja-gereja dimana modernisasi telah membentuk masyarakatnya menjadi lebih individualistik, sistem Gereja Sel kurang efektif
  • Gereja yang berada di pusat kota seperti Jakarta, sangat sulit membentuk Gereja Sel, karena terlalu tersebar
  • Intinya: BPP membebaskan setiap gereja untuk memilih, yang penting gereja tersebut bertumbuh.

Bagaimana Cara Memulainya?

INGATLAH bahwa PRINSIP UTAMANYA ADALAH: Bagaimana setiap orang memiliki roh anak yang baik dan roh bapa yang baik.

Itulah yang selalu anda ungkapkan dan ingatkan jemaat anda. Hanya itu yang paling penting dari seluruh proses yang ada. Sebab jika mereka telah menangkap arti kata tersebut, anda sedang menggelindingkan bola di atas dataran yang licin dan menurun. Komsel anda akan bergerak dengan cepat melalui falsafah rohani tersebut.

1. Sosialisasikan rencana anda untuk menjadikan gereja anda sebagai Gereja Sel

  • Tetapkan 3 bulan minimal untuk mempersiapkan gereja anda menuju Gereja Sel
  • Buatlah tulisan tentang apa itu gereja, apa keuntungannya dan apa yang akan terjadi kepada setiap orang dalam gereja, apa yang bakal terjadi kepada kegiatan gereja dan kebaktian minggu, dsb.
  • Ungkapkan pergumulan anda sampai kepada keputusan untuk menjadikan gerea anda sebagai Gerea Sel
  • Sampaikan dengan keyakinan tentang langkah anda, jangan pernah memberikan indikasi bahwa anda ragu-ragu. Pertanyaan orang tentang Gereja Sel jika belum bisa dijawab saat itu, carilah jawabannya
  • Bicarakan, tuliskan, doakan dan publikasikan rencana anda

2. Persiapkan Diaken atau Majelis gereja anda

  • Bagaimanapun implikasi akan kena kepada mereka, sebab kepemimpinan akan menuntut mereka untuk menjalankan atau memimpin komsel
  • Tenangkan kerisauan mereka, dan yakinkan bahwa sekali mereka memulainya, semuanya akan berjalan lancar. Biasanya ada perasaan takut tidak berhasil, takut tidak disukai, takut memikul tanggung jawab, dsb.
  • Bantu mereka mengatasi semua pikiran dan perasaan yang menghalangi panggilan Tuhan pada mereka.
  • Mintalah mereka selalu mendoakan agar setiap jemaat Tuhan akan memiliki roh anak yang baik dan roh bapa yang baik

3. Jangan tergoda untuk cepat memulai, saya harus meyakinkan anda minimal 3 bulan sosialisasinya.

  • Yang anda butuhkan bukan secepatnya memulai. 3 bulan adalah masa persiapan sampai anda melihat semacam ‘Gerakan’ dalam jemaat. Tanda-tanda bahwa jemaat anda sudah mulai masuk dalam ‘Gerakan’ adalah ketika mereka sudah mulai membicarakannya, mulai menantikan saatnya.
  • Yang utama adalah sebuah Gerakan yang membuat jemaat mengabaikan persoalan-persoalan yang ada dan mengalihkan fokus mereka kepada tujuan baru
  • Gerakan biasanya akan menjadikan gereja anda bergeliat juga secara rohani, dengan tanda kegairahan berdoa, berkumpul, memuliakan Tuhan, dan memperkatakan firman

4. Persiapkan bahan-bahan yang ada, tersedia untuk menjadi bahan komsel bagi para PKS-2 anda

  • Investasikan waktu anda untuk mereka, bersama mereka, berdoa bersama mereka, pikullah tanggung jawab menjadi bapa rohani bagi mereka berapapun harganya
  • Jangan memasukkan kolekte sebagai bagian Gerakan Gereja Sel anda, biasanya hasilnya non-produktif
  • Usahakan anda selalu siap dengan 4 bahan pertemuan berikutnya
  • Ciptakan bahan sederhana yang tidak lebih dari 1 lembar dengan 1,5 spasi tulisannya yang berisi: Topik, Ayat, Penjelasan, Pertanyaan untuk didiskusikan, dan Pokok Doa

5. Setelah 3 Bulan, mulailah Komsel PKS-2 anda. Ingatlah bahwa PKS-2 lah yang akan melahirkan PKS-3, dan PKS-3 lah yang akan melahirkan PKS-4

6. Setelah Komsel anda berjalan semua, maka mulailah menerapkan prinsip bahwa pelayanan gereja akan dilakukan di dalam komsel: untuk konseling, konseling pranikah, dsb.

7. Di hari depan, mereka yang menjadi PKS-2 dapat ditingkatkan menjadi hamba-hamba Tuhan yang membantu anda dalam pelayanan

dan seterusnya ….

Realitanya, dalam pelaksanaan yang sangat ketat, pertemuan PKS untuk membudidayakan roh anak yang baik dan roh bapa yang baik adalah pertemuan sebanyak 2 kali dalam seminggu selama 3 bulan pertama. Selebihnya anda dapat mengaturnya supaya pertemuan bisa diatur sebulan sekali dalam hal dimana anda menjadi bapa yang baik.

Anda dapat menggunakan buku Give Me 40 Days karya Freeda Bowers yang dijual di toko-toko buku sebagai modal awal bahan selama 40 kali pertemuan, isinya sangat memberkati!

Tuhan memberkati!

Artikel oleh: July 13, 2010  Tags:   Kategori : Artikel  Sebarkan 

5 Komentar

  1. Yusuf Eko Widiarto - July 14, 2010

    Saya setuju! Intinya bahwa komunitas sel atau kami sebut di gereja kami Komunitas TOP (temu Orang Percaya) telah menjadi ‘ujung tombak’ dalam pertumbuhan gereja. Sebaiknya GSJA lokal lebih fleksibel menerapkan strategi dan metode bagi pertumbuhannya masing-masing dalam ‘urapan Roh Kudus’ dan pemberdayaan jemaat untuk penjangkauan jiwa terhilang dengan tidak perlu takut dan bingung jika tidak ada kebaktian kaum pria, kaum wanita, kaum muda, sebab gerejanya lebih tepat sesuai konteks dan kebutuhan dengan melaksanakan komunitas TOP atau KKA ini.
    Maju terus GSJA-ku bagi TUHAN!

  2. Elia P Ambarita - July 15, 2010

    Syalom Om Budi, puji Tuhan, saya senang dengan topik ini. Kalau boleh, hal-hal tentang komsel atau yang kita sebut KKA (Kelompok Keluarga Allah) lebih banyak dibicarakan diweb kita ini. Sebab banyak saya temui Hamba-hamba Tuhan GSJA yang belum mengerti tentang KKA/Komsel. Ketika saya berkunjung ke beberapa gereja, saya membaca di Warta Jemaatnya ada tercantum daftar pelayan di KKAnya, seperti: Pemimpin Pujian, Pengkhotbah, Pendoa Syafaat. Jadi saya pikir ini adalah ibadah yang diperkecil di rumah-rumah. Padahal melalui KKA ini kita ingin memenangkan jiwa-jiwa. Tentu, jiwa-jiwa yang menjadi target kita kemungkinan besar tidak akan mau datang ke “KKA” = ibadah yang diperkecil tadi itu karena mereka melihat bahwa itu ibadah. Dan kemungkinan tidak akan menjadi jawaban atas persoalan mereka karena kita berbicara satu arah.
    Di tempat kami pelayanan, kami melakukan KKA ini kadang-kadang tidak dimulai dengan Doa Pembukaan kalau ada jiwa baru disana. Kami memulai dengan “ngobrol” tetapi tujuannya jelas, >untuk memenangkan mereka. Bahkan di seluruh KKA yang ada tidak ada nyanyian. (Sekarang ada 16 KKA setelah Gempa 30 September dan sebelumnya hanya 9 KKA). Ini kami sesuaikan dengan kondisi. Sebab di daerah kami orang lain bisa menjadi marah ketika orang Kristen berkumpul dan bernyanyi. Ada beberapa jemaat dari gereja lain diusir dari tempat tinggal mereka karena tidak melihat situasi dan kondisi ketika mereka sedang mengadakan kegiatan gereja. Mereka nyanyi keras-keras dan khotbah pun keras-keras.
    Kadang-kadang kami memulai pembicaraan dari kesaksian jemaat yang ada. Kesaksian tersebut kami kembangkan sedemikian rupa. Dan kami melihat bahwa hal ini sangat efektif untuk memenangkan jiwa di tempat kami. Hampir setiap minggu ada jiwa baru di kebaktian minggu yang dimenangkan di KKA. Bulan Mei yang lalu kami telah membaptis 24 orang, beberapa diantaranya adalah latar belakang M. Dan sekarang kami sedang mempersiapkan untuk mengadakan baptisan lagi, karena banyak yang terjaring di KKA.
    Memang tidak semua KKA di tempat kami berhasil, ada beberapa yang stagnan, tidak berkembang tetapi kami melihat mayoritas berjalan dengan luar biasa. Kami menamai Pemimpin KKA sebagai Gembala Sel, bukan PKS karena PKS identik dengan Partai Keadilan Sejahtera, ha…ha…ha….. Kami juga ada Sel Inti, dimana saya sebagai sendiri sebagai Gembala Selnya. Dari 16 sel tersebut hanya 1 yang kami layani, selebihnya jemaat (Gembala Sel) yang melayani. Setiap minggu, yaitu pada Rabu malam seluruh Gembala Sel bertemu dengan saya dan kami share tentang pelayanan sel tersebut. Dan terkadang saya mengajar mereka.
    Di KKA kami banyak mengalami mukjizat dan itu membuat kami mengerti bahwa Tuhan Yesus hadir dalam KKA itu.
    Maaf Om Budi, saya nyerocos terus. Tapi saya happy banget membicarakan tentang KKA ini, sebab dibeberapa gereja yang telah menerapkan Komsel/KKA, saya melihat ledakan jiwa-jiwa. Kiranya Tuhan memberkati GSJA. Saya cinta GSJA. Maju terus GSJA. Haleluya!!!!!

  3. janai - July 16, 2010

    KKA atau komsel memiliki suatu Pengertian yg sama…ya kita coba menggunakan suatu bentuk yg bisa dikenal oleh semua org yaitu komsel/klompok sel dan sekarang lagi berkembang adalah Prinsp 12 yang telah banyak digunakan oleh banyak organisasi gereja bakhan kalangan GSJA sendiri sudah banyak yg memakai hal ini. Cobalah kita menghargai org yg banyak menemukan suatu ide yang telah membantu gereja kita dengan penyebutan seperti ini. Apakah KKA sama dengan yang diterapkan oleh GBI keluarga Allah?

  4. Obet Batlayar - August 14, 2010

    Syalom, kepada teman-teman saya mendorong untuk:
    1. Mari kita bersama sama menyambut kegerakan Allah yang dasyat di akhir Zaman ini dengan mengadakan Komsel di gereja kita masing-masing.
    2. Karena GSJA telah mempunyai ciri khas untuk komselnya yaitu KKA (Kelompok Keluarga Allah), maka adalah lebih baik untuk kita semua menggunakan nama yang sama.

    Selamat menikmati kuasa Tuhan melalui KKA. Tuhan Yesus memberkati

  5. egen - October 1, 2010

    Claudia Castellanos pernah berkata gereja yang tidak fokus akan kelompok sel akan ketinggalan jauh dalam memenangkan jiwa. Cesar Castellaos pernah berkata ia ingin sekali memenangkan kolombia dengan multiplikasi kelompok sel. Stiap gembala sidang yang mau bergerak kearah gereja sel maka kita punya mimpi untuk menjangkau kota dimamna kita berada.. Saya percaya diakhir zaman ini kelompok sel/gereja sel adalah jawaban Allah bagi gereja Tuhan sekarang ini untuk mengembalakan jemaat dan menginjil orang-orang diluar kristus…

Tulis Komentar Anda