Seorang Gembala Sidang (20)

a-116

Tipuan Iblis

“Tak kan ada seorangpun yang harus lebih peduli membahagiakan keluargamu,

selain dirimu sendiri.”

Saya baru saja pulang menemani istri saya ke kota asal saya di Bogor. Saya mengambil waktu khusus karena beberapa hari lagi ia akan berulang tahun. Saya pernah membayangkan apa yang akan terjadi jika saya tidak memilikinya. Anak kami Putri berusia empat belas tahun sekarang. Ia tumbuh sebagai anak yang mengagumkan. Punya kepribadian kuat seperti ibunya. Tetapi memasuki usia remaja, bukanlah mudah bagi kami sebagai orang tua untuk memahaminya. Saya bersyukur kepada Tuhan sebab Tuhan memakai istri saya Rini untuk melahirkan Putri. Saya berterima kasih kepada Tuhan karena perjuangan hidup saya tak lepas dari perjuangan seorang istri yang luar biasa.

Tak seorangpun memahami kehebatannya selain saya sebagai suaminya. Ia wanita hebat dan berpendirian. Berkali-kali ia dipakai Tuhan untuk menggunakan imannya menghentikan ‘badai’ atau ‘topan’ yang datang menimpa hidup kami. Mulai dari ketika Dimas putra kami yang adalah anak pertama yang meninggal dunia di tahun 1990 di kota Malang. Saat itu adalah saat yang paling rapuh dalam hidup saya karena benar-benar tak menyangka bahwa Tuhan mengijinkan kami kehilangan Dimas.

Melihat istri saya duduk sambil menangis selesai kami pulang dari pemakaman adalah saat yang paling memilukan hati. Tetapi ia adalah wanita hebat yang sanggup mengalahkan kejahatan kesedihan. Pada saat itu, saya menyembunyikan kedukaan yang dalam dan kekecewaan atas meninggalnya putra kami. Saya merasa ‘dikhianati’ oleh Tuhan, ‘ditinggalkan’ oleh Tuhan, dan ‘dilukai’ secara perlahan dalam keyakinan saya oleh Dia yang saya layani. Saya gamang dan tak tahu kepada siapa lagi saya harus berpegang.

Pada masa itu, segala sesuatu dilakukan oleh istri saya untuk membangkitkan harapan dan kekuatan, karena ia tahu bahwa sebenarnya sayalah yang memerlukannya. Tuhan memakainya untuk menyampaikan kalimat-kalimat profetik yang mengejutkan. Ia adalah wanita yang sensitif terhadap pekerjaan Roh Kudus. Ia mengenal Tuhan sepertinya Tuhan mengajarinya langsung setiap hari. Ia tak pernah ragu untuk hal-hal yang prinsipil. Ia memiliki iman yang luar biasa. Ia telah diberikan Tuhan ke dalam hidup saya sebagai anugerah.

Seorang istri  adalah karunia Tuhan. Tetapi sayangnya banyak yang menganggapnya sebagai beban! Keluarga adalah pelayanan kita yang pertama. Keluarga kita, baik istri, suami dan anak-anak, bukanlah beban. Keluarga adalah sukacita anda. Mereka diberikan Allah menjadi bagian dirimu agar anda bisa menikmati pelayanan anda. Bukan hanya itu saja, mereka diberikan untuk menguatkan dan menghibur anda bersama-sama menjalani. Mereka adalah partner pelayanan anda. Bahagiakan mereka dengan apa yang anda bisa lakukan. Jika anda ditanya orang, siapa yang paling berjasa bagi pelayanan anda sekarang ini, anda harus bisa menjawabnya ‘keluarga’ anda.

Iblis mulai menghancurkan anda dengan cara menimbulkan kemarahan anda pada keluarga anda. Ia membutakan mata anda. Ia akan memakai siapa saja termasuk jemaat yang anda layani. Caranya sederhana, dengan menjadikan keluarga anda sebagai saingan bagi pelayanan anda. Kuasa jahat akan menciptakan sebuah suasana hati yang sangat aneh. Ia membangkitkan hasrat pelayanan anda yang begitu tinggi. Keinginan untuk mengorbankan segala sesuatu demi pelayanan dan menjadi orang yang mengesankan dalam pelayanan. Tak ada yang salah kelihatannya, karena hal ini membuat anda seperti seorang hamba Tuhan yang sesungguhnya. Orang-orang akan menyukai pengorbanan anda.

Hanya saja, dalam ketinggian hasrat pelayanan itu, anda meninggalkan jauh keluarga anda di bawah. Anda mulai merasa bahwa antara mereka dan anda, ada perbedaan yang semakin hari semakin jauh, anda mulai merasa tidak cocok. Lalu mulailah tertanam dalam pikiran anda bahwa anda hanya bisa melakukannya sendiri. Tetapi itu adalah tipuan Iblis terhadap setiap Gembala Sidang. Anda bukanlah ‘hero’ bagi jemaat anda. Anda adalah ‘hero’ bagi keluarga anda. Jemaat anda hanya bisa menikmati berkat yang mengalir keluar dari hidup anda sebanyak cinta anda kepada keluarga anda sendiri.

Suatu kali saya duduk dengan seorang teman saya, dulu ia melayani, kini tidak lagi dalam pengertian ia sudah berpisah dari istrinya. Kini ia memiliki keluarga baru. Ia mewakili sekian hamba-hamba Tuhan yang ‘tidak akan membuat keputusan se-nekad dia’ tetapi memiliki persoalan yang rumit untuk dimengerti tetapi berbahaya jika dibiarkan. Saya tidak bicara tentang hamba Tuhan yang memang berjiwa nakal dan ingin mencoba-coba dosa. Tetapi tentang sejumlah rekan hamba Tuhan yang hanya share kesulitan dan ‘penderitaan mereka’ hanya karena masalah dalam keluarga mereka.

Tetapi saya tak akan menyia-nyiakan untuk memberi beberapa pesan penting bagi setiap istri Gembala Sidang yang membaca tulisan ini.

Ketahuilah bahwa bagi seorang pria seperti suami anda, rumah adalah tempat terindah yang dimilikinya, bukan tempat lain. Sama dalam pandangan saya, seramai apapun pelayanan kita sebagai Gembala Sidang, rumah adalah seperti tempat penyembuhan bagi seorang Gembala Sidang. Sehingga jika ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya sendiri, sama dengan anda ‘menggoreng’nya di atas api. Tidak sedikit Gembala Sidang pria yang menyiratkan kesedihan yang tak mudah diatasi, melihat keadaan rumah tangganya sendiri. Ia tidak mau memilih jalan yang ditempuh oleh beberapa teman saya tadi yang merasa ‘buntu’ dalam menyelesaikan masalah rumah tangga. Ia tidak mungkin bercerai karena ia tidak akan pernah menyangkali panggilannya. Tetapi menjalani hidup mereka sebagai sebuah kewajiban belaka dapat menjadikannya sebagai ‘zombie’. Itulah kehidupan yang mati atau kematian yang hidup.

Sayangilah dan kasihilah suami anda! Jadikan rumah anda sebagai ‘istana’ baginya dimana ia mendapatkan kekuatan dan dukungan penuh dari anda. Percayalah bahwa dengan menahan diri anda dari setiap kata-kata pedas yang bisa anda arahkan kepada suami anda yang adalah Gembala Sidang, selalu tercipta kekuatan dalam diri suami anda untuk menjadi pria yang lebih baik.

Pria Gembala Sidang sering kali enggan menceritakan apa yang sesungguhnya dikatakan orang tentang mereka sekeluarga, karena ia kuatir istri dan anak-anak tidak akan sanggup menerimanya. Dalam keadaan seperti itu, ia butuh kekuatan. Jika istrinya lebih sering menebar kekuatan, maka ia akan terheran-heran bahwa secara ajaib Tuhan menempatkan tebaran kekuatan itu pada tempat yang tepat dan menjadikan seorang Gembala Sidang tangguh.

Jika anda adalah seorang wanita Gembala Sidang, semoga suami anda memberikan ketenteraman kepada anda untuk melayani. Walaupun saya tak juga memungkiri sejumlah wanita Gembala Sidang harus menekan perasaannya ketika orang berbicara tentang suami mereka yang kurang memberikan keteladanan.

Bisa jadi seorang istri terlalu dikuasai gambaran bahwa suami anda ternyata jahat dan tak peduli dengan anda. Tetapi jika hati seorang pria yang baik dibuka sampai ke dalam batinnya, anda akan menemukan bahwa pria seperti suami anda masih memiliki nurani, masih mencintai anda dan akan memilih anda di atas semua yang ditawarkan dunia. Ia mungkin hanya merasakan pahit karena anda dianggapnya tak mengerti apa yang paling penting yang menjadi andalan kekuatannya sampai hari ini, yaitu ketenangan di rumahnya sendiri.

Teman saya yang lainnya memilih atas dasar keputusan yang hanya ia sendiri yang tahu, untuk berpisah dari istrinya yang adalah kawan kami juga dan menikah lagi dengan orang lain. Saya sulit menerima kenyataan itu dalam hati saya. Bagi saya, keadaan yang telah dihadapi serta pilihannya untuk berpisah dan menikah lagi dengan orang lain adalah keputusan yang sangat disesalkan tetapi di pihak lain keputusannya itu adalah ‘hak’nya yang harus dia sendiri yang mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Walaupun demikian, sebagaimana saya percaya bahwa “there is no good divorce”, tak pernah ada perceraian yang baik. Yang ada adalah kesempatan memperbaiki diri di tempat lain dan di waktu yang berbeda. Perceraian menghancurkan reputasi dan nama baik Tuhan yang kita layani, dan merusak diri kita serta keluarga kita.

Wibawa pelayanan kita hancur dan sulit terobati bagi anak-anak jika keluarga hamba Tuhan bercerai.

Kegagalan sebuah keluarga hamba Tuhan adalah harga mati untuk langkah mundur. Pelayanan gereja adalah misi keteladanan. Sehingga kegagalan dalam rumah tangga harus dihadapi secara gentleman dengan mundur dari kepemimpinan pelayanan.

Seorang hamba Tuhan harus dapat menyelesaikan masalahnya dengan merendahkan dirinya serta memikul tanggung jawab untuk beberapa hal yang diajarkannya kepada orang lain. Ia harus meminta agar Tuhan selalu menyegarkan cinta dan kasihnya terhadap keluarganya. Ia harus meminta Tuhan selalu menghidupkan kembali kasih sayangnya bagi istri dan anak-anaknya, terutama terhadap istrinya sendiri. Karena jika ia dapat memulihkan hatinya sendiri kepada istrinya, maka ia akan menyembuhkan sendiri seluruh pelayanannya yang tidak terurus selama ini.

Cinta dapat dihidupkan kembali, kasih sayang dapat disemai dan bertumbuh kembali, syaratnya: stay sticked ! Tetap terikat dan tetap bersama-sama. Ambil waktu dan investasikan dengan sungguh-sungguh, jika perlu berpuasa, ikuti konseling kembali, temui senior yang dapat menjaga kerahasiaan, share dengan mereka, minta mereka menumpangkan tangan di atas kepala anda berdua, ketahuilah bahwa anda ditetapkan untuk bahagia bersama keluarga anda.

Jangan berikan kesempatan kepada pikiran anda untuk berpikir tentang orang lain. Saya temukan bahwa mereka yang dalam proses ‘terluka’ oleh suatu sebab dalam keluarga mereka kemudian mulai berpikir untuk orang lain, menjalani pemulihan yang sangat lama dan menyulitkan. Beberapanya telah gagal! Semoga itu bukan jalan pilihan kita!

Anda harus percaya dengan keadilan Tuhan! Jika anda setia kepadaNya dan tetap berjalan di jalan yang seharusnya walaupun hidup yang kelihatan kurang ‘menyenangkan’ seperti yang anda kira sebelumnya, dalam keadilan-Nya Ia akan kembalikan sukacita dan kebahagiaan anda sekeluarga. Anda harus bertahan dan tetap fokus pada keluarga anda. Hanya soal waktu saja! Sebab saya mengenal Bapa di sorga sebagai Allah yang baik dan yang pekerjaanNya memulihkan orang. Itulah reputasi terbesarNya! Memulihkan, menyelamatkan dan meyembuhkan!

Sebenarnya tidak ada perbedaan antara tuntutan berlaku benar bagi seorang hamba Tuhan dan jemaat biasa. Sama saja isi tuntutannya! Yang membedakannya hanyalah bahwa sebagai hamba Tuhan ia harus berada di depan untuk menunjukkan keteladanan.

(bersambung …)

Artikel oleh: September 18, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

Satu komentar

  1. jemaatlama - September 21, 2009

    Dalam perjalanan kehidupan selalu ada pilihan,
    tekanan terbesar terjadi waktu kita PUNYA HAK PENUH untuk memilih satu di antara dua pilihan tetapi dua-duanya adalah pilihan yang tidak enak.
    Yang disampaikan di atas bukanlah teori, tetapi sesuatu yang sungguh terbukti; waktu kita memilih yang paling tidak enak tetapi benar, reputasi terbesar Allah menjadi bagian kita. Ia menyelamatkan, menyembuhkan, memulihkan! Haleluya!

Tulis Komentar Anda