Dilarang Tinggi Hati!

Dilarang Tinggi Hati

“Dengarlah, pasanglah telingamu, janganlah kamu tinggi hati, sebab TUHAN telah berfirman”. (Yeremia 13 : 15)

 

Sejak dahulu sampai sekarang Allah tidak suka terhadap orang yang tinggi hati.  Maka, tidaklah heran bahwa dalam Alkitab, termasuk dalam pasal ini, Tuhan menegur orang yang tinggi hati.  Tinggi hati nampak dari sikap yang tidak mau ditegor, gampang tersinggung dan mudah marah. Sikap merupakan ungkapan dari pikiran, oleh karenanya Allah mengajarkan pada kita untuk selalu memelihara dan mengelola pikiran kita.  Filipi  4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.

Sikap yang tidak terkendali akan melahirkan emosi, dan terefleksi dalam setiap tindakan kita yang sangat tidak menyenangkan bagi orang lain. Segala tindakan kita yang penuh emosi itu akan menyebabkan kesesakan dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mungkin sulit bagi kita mengerti akibat sikap kita bagi orang lain. Namun lambat atau cepat kita akan menuai tindakan kita yang semakin tidak kondusif. Mungkin kita akan menyalahkan respon lingkungan terhadap sikap kita. Akibatnya kita akan merasa sendirian, menganggap orang lain bodoh, kolot dan tidak dapat diajak maju.  Perasaan seperti ini akan semakin kuat mencengkeram kita, dan semakin hari tindakan kita semakin menjadi ‘kebenaran’ bagi diri kita sendiri.

Apabila ini terjadi, kita akan menuai kebiasaan yang selalu merendahkan orang disekeliling kita yang tidak bisa menerima sikap kita; kita tidak bisa lagi menerima ide dan pikiran orang lain, mudah marah dan tersinggung. Apapun yang orang lain lakukan, selalu salah. Apabila kondisi ini berlarut-larut, maka akan membentuk karakter kita.  Jadi, pada hakekatnya, karakter itu adalah buah dari pikiran kita. Jelaslah bahwa tinggi hati bukan ciri-ciri orang beriman, karena tinggi hati bukanlah kasih.  Boleh saja kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Yesus Kristus, tetapi kalau kita tidak mau mengasihi Allah dan sesama kita, masihkah kita layakkah disebut sebagai anak Tuhan?

 

Tidak ada pilihan lain bagi kita, selain menjaga pikiran kita setiap saat, selaras dengan kehendak Allah.

 

Artikel oleh: July 2, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda