Perkokoh Iman Kita

Perkokoh Iman Kita

“Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu-ribu orang dan yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang datang kemudian. Ya Allah yang besar dan perkasa, nama-Mu adalah TUHAN semesta alam ” (Yeremia 32:18)

              Dalam banyak buku dan khotbah, orang-orang kristiani sering kali ditanya apakah iman mereka cukup kuat untuk bertahan di saat-saat yang buruk. Namun, dapatkah kita mengajukan pertanyaan yang lebih baik pada diri kita sendiri, yakni : “Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan di saat-saat menyenangkan?”

Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang Kristen yang sering kali menjauh dari Tuhan, bukan saat hidup mereka sulit, tetapi justru saat hidupnya berjalan dengan baik. Saat itulah Allah tampaknya tidak diperlukan lagi.  Kita terlalu sering menafsirkan berkat-Nya sebagai tanda atas kebaikan kita, bukan kebaikan-Nya. Kita menganggap diri layak mengalami semua kejadian yang menyenangkan. Namun, kita tidak dapat memahami bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui hal-hal baik yang telah diberikan-Nya untuk kita.

Dalam bukunya The Problem of Pain (Hal Penderitaan), C.S. Lewis menulis, “Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan-kesenangan kita … tetapi Dia berteriak melalui penderitaan kita.” Jika kita menolak mendengar bisikan-Nya, Dia mungkin akan berteriak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Meskipun Allah telah memberi mereka “suatu negeri yang berlimpah- limpah susu dan madunya,” tetapi mereka berpaling dari-Nya, sehingga Dia “melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini” (Yeremia 32:22,23).

Merupakan langkah iman yang benar jika kita memperkokoh keyakinan iman kita ketika kita mengalami masa-masa atau hari-hari baik dan penuh curahan berkat Tuhan; sebab tak jarang pada masa kelimpahan berkat itu, kita mulai melupakan Tuhan dan lebih mengandalkan diri sendiri. Ketika kita sadar akan hal itu, maka hubungan kita dengan Tuhan tidak akan melemah, bahkan akan semakin dikuatkan, oleh anugerah dan berkat-Nya.

 

Kebaikan Allah menjadi alasan untuk menaati-Nya,

dan bukan kesempatan untuk tidak mematuhi-Nya.     

 

Artikel oleh: January 18, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yeremia)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda