Ikuti AturNya!

Artikel oleh:

Ikuti Aturan-Nya

“Maka janganlah najiskan negeri tempat kedudukanmu, yang di tengah-tengahnya Aku diam, sebab Aku, Tuhan, diam di tengah-tengah orang Israel.” (Bilangan 35:34)

 

Sebagai umat pilihan Tuhan, Israel dipanggil untuk mempunyai cara hidup yang berbeda dengan bangsa lain di sekitar mereka, karena Tuhan ada di tengah-tengah mereka (ay. 34). Karenanya, tidak heran Tuhan memberikan banyak peraturan serta ketetapan dalam kehidupan mereka, termasuk kota perlindungan yang berkaitan dengan masalah pembunuhan yang tidak disengaja.

Kota perlindungan dikhususkan untuk mereka yang tanpa sengaja telah membunuh orang lain, untuk melarikan diri dan berlindung di sana. Sedangkan keluarga korban yang dibunuh tidak boleh mencari dia di sana untuk balas dendam. Kemudian rapat umat diadakan untuk menentukan apakah memang pembunuhan itu akibat ketidaksengajaan ataukah karena kesengajaan. Jikalau benar terjadi karena ketidaksengajaan, maka si pembunuh dikembalikan lagi ke kota perlindungan untuk tinggal di sana sampai imam besar meninggal. Barulah setelah itu, dia diperbolehkan kembali ke tempat tinggalnya. Pihak yang melakukan pembunuhan tanpa disengaja dan pihak yang menjadi korban tidak diperbolehkan berlaku sewenang-wenang.

Mengapa ada peraturan ini? Bagi si pembunuh, ketetapan ini diberikan untuk menghindarkan dia dari ketidakadilan atau pembalasan dendam yang membabi-buta dari pihak keluarga korban. Sedangkan bagi pihak keluarga korban, ketetapan ini menghindarkan mereka dari bertindak sesuka hati membalas dendam, yang justru membuat mereka berdosa di hadapan Tuhan. Masing-masing pihak harus dengan setia menghadapi dan menyelesaikan permasalahan ini di bawah ketetapan Tuhan yang adil. Jika dilanggar, maka mereka menajiskan negeri tempat tinggal mereka. Itu berarti mereka mengabaikan Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka.

Demikian juga dengan kita saat ini.  Tuhan ingin kita bertindak seturut dengan kehendak-Nya, tidak bertindak sesuka hati kita demi memuaskan hawa nafsu semata. Dengan demikian kita menyaksikan Tuhan melalui hidup kita, sehingga Tuhan makin dipermuliakan.

 

Jangan berlaku semena-mena seperti yang dibiasakan oleh orang yang tidak mengenal Tuhan.  Taatilah aturan Tuhan, maka kita selamat!

 

February 22, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Berharap PadaNya!

Artikel oleh:

Berharaplah PadaNya

“Maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka; juga haruslah kamu membinasakan segala patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukit pengorbanan mereka”

(Bilangan 33 : 52)

 

Tuhan berfirman kepada bangsa Israel agar mereka menghalau semua penduduk negeri Kanaan serta memusnahkan segala benda peninggalan mereka. Hal ini dilakukan bukan karena Allah kejam kepada penduduk Kanaan, tetapi karena Allah tidak ingin bangsa Israel tercemar dengan segala kebiasaan penyembahan berhala yang merupakan kekejian di mata-Nya. Agar bangsa Israel terhindar dari segala kekejian ini maka mereka harus menduduki negeri yang benar-benar bersih tanpa ada pengaruh jahat dari peninggalan sebelumnya. Ia menginginkan mereka untuk hidup damai dan tenang dan yang terpenting hati mereka tidak condong kepada allah lain, sebab Tuhan adalah Allah yang cemburu sehingga Ia sangat membenci umat-Nya yang mengikuti allah lain. Ia berkata kepada bangsa Israel, jika mereka ikut dalam penyembahan berhala seperti yang dilakukan oleh penduduk Kanaan, maka segala malapetaka yang menimpa penduduk itu akan menimpa mereka pula.

Orang sering menganggap bahwa penyembahan berhala ialah dengan cara menyembah sesuatu yang bukan Tuhan. Hal itu tidak salah, tapi sebenarnya penyembahan berhala terjadi ketika kita condong untuk mengasihi sesuatu lebih daripada kita mengasihi Tuhan; mungkin itu anak, pasangan hidup, orang tua, harta benda, kedudukan, dan lain sebagainya. Penyembahan berhala yang paling sering terjadi di hati kita ialah ketika kita menginginkan sesuatu yang belum waktunya Tuhan. Kita akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Secara tidak disadari  hal ini telah menjadi kesalahan di mata Tuhan, karena apa yang kita lakukan bukan lagi berharap sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi kitamulai melangkah kepada pengharapan lain di luar Tuhan, kita punya pilihan lain selain Tuhan, demi tercapainya tujuan kita.  Ia menginginkan hati kita sepenuhnya berharap hanya kepada-Nya. Yang menjadi pertanyaan apakah kita sudah sepenuhnya berharap hanya kepada Tuhan, atau kita punya pengharapan lain.

 

Berharaplah hanya kepada Tuhan, karena hanya Dialah satu-satunya yang dapat menolong dan menyelamatkan kita!

 

February 21, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

KASIH DALAM PERSAHABATAN

Artikel oleh:

Kasih Persaudaraan

Pengkotbah 4: 9 – 12

Oleh: Pdt. Rudy Suwardi

 

Ada dua orang prajurit yang sangat dekat satu sama lain. Pada suatu pertempuran, sebuah peluru menembus tubuh salah seorang prajurit. Sahabatnya sedang berada di dalam lubang persembunyian. Ia melihat semua yang terjadi. Ia ingin menyelamatkan sahabatnya tetapi komandannya mencegahnya. “Sudah terlambat! Temanmu sudah tewas.”  Tetapi ia tetap berlari dibawah desingan hujan peluru. Ia menggendong sang sahabat di punggungnya dan berlari kembali ke dalam lubang persembunyian. Tetapi sahabatnya sudah tewas. Selain itu dirinya  juga mengalami luka tembak. Komandannya sangat marah. “Lihat apa yang sudah kamu  lakukan! Betapa sia-sia!” Prajurit itu menjawab, “Tidak, Pak. Ketika aku sampai disana, ia masih hidup. Sebelum ia meninggal ia berbisik, “Aku tahu engkau akan datang untuk-ku. Aku tahu engkau tidak akan meninggalkan aku.”   Ia adalah seorang sahabat yang sejati.

Penulis  Kitab Pengkotbah ingin agar kita mengerti bahwa Persahabatan adalah sebuah investasi yang amat berharga. Ayat 9 menyatakan: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.”  “Upah yang baik” dapat juga diterjemahkan sebagai “pendapatan atau hasil yang baik” yang diperoleh dari suatu investasi yang tepat atau penanaman modal yang tepat.

Investasi yang tepat dalam hidup ini bukanlah investasi keuangan seperti misalnya dalam bentuk saham atau  deposito. Investasi yang tepat adalah investasi yang ditanam dalam suatu hubungan persahabatan. Kita akan memperoleh hasil yang paling baik dari investasi yang ditanam dalam persahabatan dibandingkan dengan hasil investasi jenis lainnya di dunia ini.

Dalam perjalanan hidup ini kita dapat memilih salah satu dari dua jenis investasi yang tersedia. Beberapa orang memilih untuk menanam modal dengan menimbun harta benda.  Sedangkan sebagian lainnya memilih untuk menanam budi dengan membangun persahabatan.

Mereka yang memilih menimbun harta, secara terus menerus mencoba untuk memperoleh harta lebih banyak lagi.

Chrisrtopher Winans, dalam bukunya yang berjudul “Malcolm Forbes: The Man Who Had Everything,”  menceritakan kisah tentang Malcolm Forbes, seorang milyuner yang memiliki  perusahaan penerbitan majalah Forbes di Amerika. Forbes pernah ikut dalam suatu tur motor di Mesir pada tahun 1984 bersama dengan geng motor besarnya yang bernama “Capitalist Tool”.  Setelah mengunjungi piramid “King Tut,” Forbes merenung. Lalu dalam perjalanan dengan bis ke hotel, Forbes bertanya dengan tulus kepada salah seorang pengawalnya: “Apakah menurut kamu aku akan dikenang setelah aku mati?”

Bp/Ibu, Forbes memang dikenang sampai saat ini. Ia dikenang sebagai orang yang  memiliki sebuah semboyan hidup yang berakar pada materialisme.  Semboyan Forbes adalah:  “Ia yang mati dengan mainan paling banyak adalah seorang pemenang.”  Semboyan itu adalah moto hidup dari Malcolm Forbes.  Bahkan, sebenarnya semboyan itu adalah ambisi hidupnya. Itu sebabnya ia mengoleksi motor-motor besar. Itu sebabnya mengapa ia mau membayar lebih dari satu juta dollar untuk sebutir telur Rusia. Itu sebabnya ia memiliki banyak kastil, balon udara dan mainan-mainan lain yang tidak terhitung jumlahnya yang sebenarnya sebagian besar tidak sempat dinikmatinya.

Tuhan Yesus Kristus memberikan Firman kepada kita pada Mat 16:26 “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Karena itu betapa fatal kesalahan Forbes yang tidak berhikmat, dengan semboyan hidupnya itu.  Jika kita menghabiskan seluruh waktu dalam hidup kita untuk menimbun lebih dan lebih banyak lagi harta, kita tidak akan benar-benar puas dan bahagia. Sebaliknya mereka yang berfokus untuk membangun hubungan, akan selalu mencoba untuk mencari teman dan menjadi teman.

Sekarang marilah kita fokuskan perhatian kita kepada empat karakteristik dari seorang sahabat sejati.

1.  Sahabat Sejati Menolong Anda Ketika Anda Jatuh Baca selanjutnya »

February 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Tetaplah Peduli!

Artikel oleh:

Tetaplah Bekerja

“Jawab Musa kepada bani Gad dan bani Ruben itu: Masakkan saudara-saudaramu pergi berperang dan kamu tinggal disini?”

(Bilangan 32 : 6)

 

Menjadi orang Kristen bukanlah hal yang sulit, tetapi untuk menjadi Kristen sejati seseorang harus berani mengorbankan sesuatu dalam hidupnya. Orang Kristen seringkali menjalani hidupnya dengan rutinitas agama tanpa memperhatikan hal-hal penting yang Tuhan inginkan. Tidak heran jika banyak orang Kristen yang maju mundur dalam kerohaniannya. Suatu hal yang Tuhan inginkan untuk selalu menjadi prinsip hidup Kristen adalah kesehatian.

Cerita diatas berbicara tentang pendudukan orang Israel terhadap tanah Kanaan yang Tuhan janjikan kepada mereka. Dua suku: Gad dan Ruben memilih untuk tidak masuk ke tanah perjanjian itu karena mereka melihat tanah di seberang sungai Yordan baik untuk peternakan mereka. Hal ini merupakan kesalahan sehingga Musa menegor mereka (Bilangan 32:6). Inti dari tegoran Musa adalah mereka tidak memiliki kesehatian dengan saudara-saudara mereka yang lainnya. Ketika melihat suatu keadaan yang baik, mereka melupakan kewajiban mereka untuk terus sehati dan saling peduli satu dengan yang lainnya.

Keadaan ini sangat sering terjadi dan menjadi kebiasaan hidup orang Kristen. Ketika seseorang menjadi Kristen yang diberkati Tuhan dan ia menjadi seorang yang “aman” dalam segala hal, sangat sulit untuk mengingat apalagi membantu kesusahan saudara Kristen yang lainnya. Ia berpikir bahwa: “Saya aman dan saya akan tenang dalam keamanan saya.” Sementara di luar sana masih sangat banyak orang yang perlu untuk dibantu dan diberikan perhatian. Tuhan menginginkan kita untuk tidak larut dalam ketenangan yang diberikan-Nya kepada kita. Tapi Ia menginginkan agar kita memiliki hati yang seperti hati-Nya, sebab Yesus tidak tinggal tenang dalam keilahian-Nya yang Agung, tapi mata-Nya selalu memandang dan menolong orang yang lemah.

Adalah suatu kejahatan di mata Tuhan jika kita tinggal tenang dan membiarkan orang lain dalam kemalangan mereka, padahal kita sanggup untuk memberikan pertolongan yang berarti bagi mereka.
Jadilah orang Kristen yang hidup dalam kesehatian dengan orang lain, peduli terhadap masalah orang lain dan jangan hanyut dalam kesenangan dan kedamaian kita sendiri.

 

Tuhan memberikan kita kedamaian untuk dapat menolong orang yang berada dalam kesusahan.

February 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Tetaplah Setia!

Artikel oleh:

Tetaplah Setia

“Maka gusarlah Musa kepada para pemimpin tentara itu, kepada para kepala pasukan seribu dan para kepala pasukan seratus, yang pulang dari peperangan…” (Bilangan 31 : 14).

 

Kesetiaan adalah hal langka yang banyak dibutuhkan oleh para pemimpin di dunia ini. Kepandaian, keahlian, dan kecakapan belumlah lengkap jika tidak dibarengi dengan kesetiaan. Banyak orang yang rajin, banyak orang yang pandai tapi orang yang setia itu terhitung dengan jari. Begitu banyak orang yang mudah berubah setia, bahkan ada yang pernah bersumpah setia sampai mati tetapi di kemudian hari sikapnya berubah 180 derajat. Ini namanya kesetiaan palsu, hanya karena takut menderita seseorang begitu mudahnya berubah setia, hanya karena takut tidak makan seseorang berubah setia dan meninggalkan Tuhan Yesus. Hanya gara-gara derajat dan pangkat, seseorang dengan mudahnya menyangkal Tuhan Yesus.

Kitab Wahyu menyatakan: “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2 :10). Kesetiaan itu harganya mahal, karenanya kitab Wahyu menganjurkan hendaklah engkau setia sampai mati, tentunya yang dimaksudkan di sini adalah setia kita kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juruselamat dan sesembahan kita.  Tetapi apa yang terjadi atas umat Tuhan saat itu? Ada beberapa orang karena pengaruh dunia ini menjadi berubah setia, karenanya Allah tidak mau kompromi, Ia bersegera memerintahkan Musa untuk memerangi bangsa Midian. Ini adalah keputusan Allah yang tidak mau kompromi dengan dosa. Mengapa harus orang Midian? Sebab bangsa ini penuh dengan dosa dan melakukan segala macam kejahatan, dengan nasihat Bileam bin Beor para perempuan Midian menjerat umat Israel untuk melakukan dosa dan berubah setia.

Dari perenungan ini, kita diajar untuk menjadi umat Tuhan yang memelihara kesetiaan. Baik kesetiaan kepada Tuhan, keluarga, pekerjaan, sahabat dan dalam segala hal yang baik. Setialah berdoa, setialah melayani, setialah di dalam kasih, setialah di dalam iman dan setialah di dalam pengharapan.

 

Tetaplah setia sampai Tuhan Yesus datang!

February 16, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Jangan Ragu!

Artikel oleh:

Jangan Ragu

“Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada Tuhan, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya” (Bilangan 30: 2)

 

Keraguan-raguan adalah sikap yang amat merugikan bahkan untuk beberapa hal juga sangat membahayakan.  Sebuah peluang emas akan hilang begitu saja jika seseorang ragu-ragu terhadap kesempatan baik yang ada di depan matanya. Seorang pelompat galah akan gagal melompati tiang tinggi jika ia ragu-ragu dengan galah yang digunakan untuk melompatinya. Suatu brigade akan hancur jika ia ragu-ragu mengambil suatu keputusan menyerang atau menunggu diserang oleh musuhnya.

Lalu apa kaitannya keragu-raguan dengan nazar? Memang hal ini tidak berkaitan secara langsung, tetapi secara tidak langsung tentu ada kaitannya. Hal ini berhubungan juga dengan pertanyaan, mengapa muncul nazar, dan Tuhan mengizinkannya? Nazar itu sebenarnya pengertian dari komitmen atau berjanji kepada Tuhan.  Ini muncul dan kemudian diatur di dalam Taurat sebab berkaitan dengan pengenalan umat kepada Allah yang masih dalam tahap pertumbuhan. Artinya umat belum mengenal dengan dekat pribadi Allah, apalagi dalam konteks bangsa Israel yang terkenal dengan tegar tengkuknya. Hanya orang-orang tertentu yaitu ditetapkan Tuhan sebagai nabinya yang mengenal suara Allah. Selain itu dalam masa Perjanjian Lama seseorang tidak bisa langsung bertemu Tuhan, melainkan harus melalui imam pengantara.  Nah dalam kondisi ini seringkali muncul sikap keragu-raguan bangsa Israel kepada kemahakuasaan Tuhan. Hal ini terbukti ketika mereka di padang gurun 40 tahun lamanya seringkali bangsa Israel meragukan kuasa Allah. Mereka mulai menggerutu, unjuk rasa kepada Musa dan melakukan penyembahan berhala.

Untuk itulah nazar kemudian diatur sedemikian rupa, dengan suatu maksud supaya umat tidak ragu-ragu lagi kepada Allah, dan sebaliknya umat harus membayar nazar, sebagai gambaran pengakuan mereka kepada kemahakuasaan Tuhan.

 

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan jangan ragukan perlindunganNya atas kita.

 

February 15, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Menyenangkan Tuhan

Artikel oleh:

Menyenangkan Tuhan

“Tuhan berfirman kepada Musa: “Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada  mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku”. (Bilangan 28:1-2)

 

Kecenderungan orang adalah menyenangkan diri sendiri, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia itu memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri. Untuk menyenangkan hatinya seseorang berusaha sedemikian rupa untuk memenuhi hobby-nya.  Menyenangkan diri sendiri itu sudah biasa dilakukan orang banyak tetapi menyenangkan hati orang lain itu sangatlah berat. Hal ini dapat dilihat ketika sekelompok orang naik bis kota, naik kereta, naik kendaraan umum lainnya, apalagi kalau hari raya. Maka baik yang tua ataupun yang muda, laki-laki atau perempuan, semua pada berebutan naik, sampai-sampai ada yang berbenturan jatuh dan luka.  Tidak seperti halnya dengan Paulus, ia tahu akan posisinya. Ia adalah bapak rohani yang patut dijadikan teladan. Ia tidak mementingkan diri sendiri, karenanya dengan penuh keberanian ia menyatakan: “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1 Korintus 10:33).

Meskipun demikian Paulus bukan tipe orang penjilat-menyenangkan hati orang untuk kepentingan dirinya sendiri.  Ia mengajar untuk melakukan segala sesuatu dengan tulus ihklas. Pada bagian yang lain ia berkata: “Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah” (Efesus 6:6). Menyenangkan hati Allah adalah hal utama di dalam hidup orang Kristen. Sama seperti kalau kita mau menyenangkan hati orang tua kita dengan bersikap baik, sopan, rajin belajar, bekerja giat, hidup rukun dan lain sebagainya. Terlebih lagi kalau kita mau menyenangkan hati Tuhan, maka kita pun harus bersikap lebih dari menyenangkan hati orang tua.  Menyenangkan hati Tuhan itu adalah pintu untuk menyenangkan diri kita sendiri dan menyenangkan keluarga kita.

 

Penuhi hidupmu dengan perilaku yang menyenangkan hati Tuhan.

 

February 14, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Hak Orang Percaya

Artikel oleh:

Hak

“Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa : “Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya” (Bilangan 27 : 6-7)

 

Begitu banyak orang hari-hari ini mengumandangkan tentang hak asasi manusia, yaitu diharapkan agar sesama manusia saling menghormati dan menghargai. Namun seringkali masalah hak asasi manusia disalahgunakan oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan diri sendiri.  Dengan mengatasnamakan hak asasi manusia seringkali seseorang merebut hak asasi orang lainnya. Bagaimana hal itu terjadi? Ketika seseorang mencari keuntungan dengan merugikan orang lain, penyerobotan tanah orang, pemalsuan barang, termasuk menjelek-jelekan orang lain. Ketika kita merugikan orang lain disitulah kita sedang mengganggu hak asasi seseorang.

Berbicara mengenai hak, maka Alkitab pun mengungkapkan tentang hal ini, Alkitab mencatat  tentang penghormatan hak. Penghormatan hak di sini adalah penghormatan hak atas manusia dan sekaligus penghormatan hak atas Allah yang Maha-Kudus. Seringkali kita berfokus kepada hak kita sendiri, dan kadang lupa memperhatikan hak Allah. Karenanya hormati hak Allah yaitu penghormatan nama-Nya, pengagungan kasih dan kekuatannya dan penyembahan kepada pribadi-Nya, kita memperhatikan hal ini dengan seksama.

Kisah perempuan Zelafehad adalah merupakan pelajaran yang Tuhan nyatakan kepada kita supaya kita memperhatikan hak orang lain dan jika itu ada pada kita, maka kita harus memberikannya. Tuhan Yesus pun mengajarkan: “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:30,38).

Lebih dari semuanya yang terpenting kita beroleh hak masuk dalam kerajaan Allah seperti yang tertulis di dalam 2 Petrus 1:11, “Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

 

Kita sudah memiliki hak waris atas kerajaan-Nya, maka berikan hak Allah yang harus diterima-Nya.

 

February 10, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Warisan Rohani

Artikel oleh:

Warisan Rohani

Kepada suku-suku itulah harus dibagikan tanah itu menjadi milik pusaka menurut nama-nama yang dicatat;” (Bilangan 26:53)

 

Tuhan memerintahkan Musa dan Eleazar anak imam Harun untuk menghitung seluruh bangsa Israel dari setiap suku dan kaum mereka. Ini adalah kali kedua seluruh bangsa Israel dihitung. Namun penghitungan kali ini berbeda dengan penghitungan yang pertama. Dalam penghitungan yang pertama ada pengangkatan pemimpin setiap suku dan jumlah orang dewasa setiap suku. Sedangkan dalam penghitungan yang kedua, tidak ada lagi pengangkatan pemimpin, namun dari setiap suku, kaum-kaum yang ada disebutkan namanya. Itu semua Tuhan perintahkan bukan tanpa maksud. Jika melihat pada ayat 53 sampai 56, maka nampak jelas bahwa maksud dari penyebutan nama kaum adalah untuk pembagian milik pusaka sesuai dengan nama kaum mereka, pada waktu mereka memasuki tanah Kanaan.

Kita sebagai orang percaya merupakan milik Kristus. Dengan demikian, kita juga keturunan Abraham, bukan secara lahiriah, tetapi tercangkokkan melalui Kristus (Roma 11:17). Dengan demikian kita juga berhak menerima janji Allah, sebab kita telah menjadi ahli waris dalam Kristus (Gal 3:29; 4:7).  Harta waris yang kita terima bukanlah tanah Kanaan lagi, namun lebih daripada itu, yaitu segala berkat rohani dalam kerajaan sorga (Ef 1:3). Oleh sebab itulah firman Tuhan mengingatkan kepada setiap kita orang percaya untuk tidak memusingkan diri dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini, sebab semuanya itu sifatnya sementara. Tuhan menghendaki setiap kita memikirkan perkara yang di atas, yang rohani dan sorgawi, yang bersifat kekal (Kol 3:1-2).

Sama halnya dengan harta warisan, yang berhak menerima adalah orang yang namanya ada dan tercantum dalam surat warisan, jika tidak, maka orang itu tidak berhak menerima harta warisan tersebut. Maka kita pun patut bersukacita, bukan karena semua tanda yang menyertai pelayanan dan kehidupan rohani kita, tetapi karena satu hal, yaitu nama kita tercatat di sorga sebagai ahli waris sorgawi.

 

Harta waris sorgawi lebih penting dan berharga daripada segala tanda dan mujizat di bumi!

 

February 9, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Jangan Takut!

Artikel oleh:

Berkat

“Diucapkannyalah juga sanjaknya, katanya:”Celaka! Siapakah yang akan hidup, apabila Allah melakukan hal itu?” (Bilangan 24 : 23)

 

Dalam pasal ini kita temukan nubuat Bileam. Nubuat ini disampaikan ketika bangsa Israel berada di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho. Mungkin nubuat ini disampaikan dengan “terpaksa” oleh Bileam. Dikatakan “terpaksa”, karena sebelumnya atas permintaan Balak, raja Moab, ia diminta untuk mengutuki bangsa Israel dengan upah besar. Hal ini terjadi ketika raja Balak mengetahui bangsa Israel berkemah di dekat negerinya, dan mendengar bagaimana bangsa Israel telah menaklukan orang Amori, hal ini membuatnya gentar dan ketakutan, sehingga mencari jalan keluar untuk mematahkan kekuatan orang Israel.

Jalan keluar yang dianggap jitu dengan mengundang Bileam, yang dianggap mempunyai kekutan supranatural. Balak menyakini bahwa apa yang diucapkan Bileam, itu yang akan terjadi. Memang awalnya Bileam tidak bersedia. Namun godaan hadiah besar dari Balak membuatnya goyah sehingga memenuhi permintaan Balak. Namun pada waktu dan tempat yang sudah ditetapkan, bukan brondongan kutuk atas Israel yang diucapkan Bileam, melainkan berkat dan nubuat dan hal ini dapat terjadi karena Allah berkuasa atasnya. Sudah pasti Balak sangat kecewa bahkan sangat geram kepada Biliam.

Hal ini memang suatu kebenaran, siapa pun yang memusuhi bangsa pilihan Tuhan, maka Allah akan membuatnya kecewa bahkan binasa. Oleh karena itu sebagai umat Tuhan, walaupun ada banyak tantangan dalam hidup ini, walaupun ada orang-orang tertentu, kelompok tertentu yang dipakai si Iblis (bapa segala kejahatan) untuk menghancurkan kita, untuk mengutuki kita, jangan takut!  Ada Allah kita yang selalu melindungi orang yang dikasihiNya. Sama seperti bangsa Israel yang tidak tahu bahwa ada orang yang berusaha untuk membinasakan mereka, namun Allah tetap menyatakan perlindunganNya dengan sempurna, dengan cara menghalau segala niat buruk orang yang membenci umat kesayanganNya.

 

Jaminan kita adalah Allah; maka janganlah kita takut!

 

February 8, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar