RAHASIA HIDUP PENUH SUKACITA

Artikel oleh:

FILIPI 1: 12-26

Sukacita

by: Pdt. Rudy Suwardi

Kebanyakan orang tidak menikmati hidupnya.  Mereka hanya sekedar bertahan dalam menjalani hidupnya. Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak dapat mengalami sukacita akibat banyaknya masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Hidup mereka haruslah sempurna untuk bisa merasakan sukacita.

Tetapi kita semua tahu, tidak ada kehidupan di dunia ini yang bebas dari masalah. Jika Sdr menunggu sampai Sdr terbebas dari semua persoalan, maka Sdr tidak akan pernah mengalami sukacita. Jika Sdr ingin belajar bagaimana bisa mengalami sukacita, maka Sdr harus melakukannya di tengah-tengah persoalan yang sedang Sdr hadapi.

Pertanyaan saya, menurut Sdr, siapakah yang memiliki gaya hidup yang paling sempurna?  Milyuner?  Celebrities?  Pengusaha? Eksekutif?  atau Pensiunan?

Sdr, saya beritahu jawabannya; mereka yang memiliki gaya hidup yang sempurna bukanlah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan materi. Mereka yang memiliki gaya hidup yang sempurna adalah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan sukacita.

Patut disayangkan, banyak orang tidak memiliki sukacita dalam hidupnya. Kalau sekarang kita menyebarkan sebuah angket survei, saya yakin, hasilnya adalah banyak orang yang hidup dari hari ke hari, hanya sekedar berusaha melewatinya. Karena itu banyak karyawan dalam hidupnya mempunyai semboyan TGIF: Thanks God It’s Friday. Terima kasih Tuhan, ini hari Jum’at dan besok adalah Sabtu dan Minggu.  Banyak orang hidup hanya menunggu weekends/ akhir minggu. Pada hari-hari lainnya mereka sekedar menjalani hidup tanpa sukacita.

Sdr,  kita semua pasti pernah merasakan sukacita. Jika Sdr pergi ke pekarangan sebuah sekolah, Sdr akan menjumpai kira-kira 90% anak-anak yang ada di sana sedang bersukacita. Apakah mereka punya masalah? Tentu saja.  Apakah mereka bersuka cita? Tentu saja. Sukacita bukanlah suatu keadaan tanpa persoalan, sukacita adalah sikap yang Sdr pilih terlepas dari persoalan yang sedang Sdr hadapi.

Kegembiraan atau kegirangan adalah terjemahan dari  “happiness.”  Happiness  sangat  tergantung dari happenings atau kejadian. Karena itu kegembiraan bersifat eksternal, sedangkan sukacita atau joy bersifat internal.

Sdr merasakan kegirangan/kegembiraan di Disneyland atau di Dunia Fantasi. Tetapi ketika Sdr keluar meninggalkan tempat itu, kegembiraan itu hilang. Sedangkan sukacita itu bersifat konstan atau berlangsung terus menerus.

Lalu bagaimana Sdr dapat terus merasakan sukacita terlepas dari situasi  yang sedang Sdr hadapi dalam hidup ini?

Pagi ini kita akan belajar dari orang yang memiliki sukacita paling besar dalam hidupnya.  Namanya adalah Paulus. Izinkan saya terlebih dahulu memberikan gambaran latar belakang dari kisah dalam perikop bacaan kita.

Paulus sedang berada dalam keadaan yang dari luar tampaknya sangat menyedihkan. Bayangkan, ia ditangkap dan sedang menjadi tahanan di suatu rumah di Roma untuk suatu kasus yang direkayasa. Ia sedang menunggu digelarnya sidang pengadilan yang kemungkinan hukumannya adalah hukuman mati. Sidang pengadilan itu rencananya akan digelar di hadapan Kaisar Nero yang sangat tidak menyukai orang-orang Kristen.

Dalam perjalanan ke Roma, kapal yang ditumpangi Paulus kandas, ia terdampar di sebuah pulau dan terkena gigitan ular beracun. Semuanya itu terjadi sebelum Paulus sampai di Roma dan kini ia akan tinggal selama 2 tahun dalam rumah tahanan di Roma.

Dalam rumah tahanan itu Paulus tidak mempunyai kebebasan. Selama 24 jam sehari Paulus dibelenggu dengan rantai pada tangan kanannya yang diikatkan pada tangan kiri prajurit Romawi. Prajurit Romawi itu berganti setiap 6 jam. Para prajurit itu bertugas untuk memastikan bahwa Paulus tidak melarikan diri.

Sdr pasti berpikir betapa sengsaranya Paulus menghadapi situasi demikian.

Tetapi apa yang dikatakan Paulus? Dalam ayat 18b ia berkata, “Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.”

Apa rahasia Paulus? Bagaimana ia dapat bersukacita dalam keadaan dibelenggu di dalam rumah tahanan?

Dalam bacaan kita pagi ini Paulus mengungkapkan tiga rahasia untuk memiliki hidup yang dipenuhi sukacita. Baca selanjutnya »

September 19, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Philipians (Renungan Alkitabiah dari Kitab Filipi)  belum ada komentar

Kuduskan Bait Allah!

Artikel oleh:

Bait Allah

                  Yesus sangat kecewa ketika berkunjung ke Bait Allah atau Rumah Tuhan itu.  Rumah tempat berdoa dan beribadah telah menjadi tempat berdagang atau berjual beli.  Tempat kudus telah menjadi “sarang penyamun”.  Orang Yahudi yang datang dari jauh membutuhkan lembu, domba dan burung merpati sebagai persembahan mereka di Bait Suci.  Menyadari akan kebutuhan itu maka banyak yang datang ke Bait Suci bukan lagi untuk tujuan beribadah tetapi berjualan untuk mendapatkan keuntungan. Yang ada di sana bukan saja para pedagang hewan dan penjual burung merpati tetapi juga penukar uang.  Kedatangan para peziarah ke Bait Suci dari seluruh dunia yang membawa bermacam-macam uang logamnya menyebabkan semakin banyaknya penukar uang di sekitar Bait Allah.  Hal itu disebabkan pula karena hanya uang Yahudi yang dapat dipakai sebagai pemberian untuk Bait Allah sedangkan uang logam lainnya dianggap asing dan tidak bersih.  Tentu saja keuntungan yang diperoleh dari para penukar uang itu sangat besar.

Jadi, mengapa Yesus marah dan mengusir para pedagang di Bait Allah itu, yakni:  Karena Rumah Allah dinajiskan.  “Dinajiskan” berarti ada kekotoran-kekotoran jasmani dan rohani ketika melakukan ibadah kepada Allah. Salah satunya dengan Baca selanjutnya »

September 19, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Arti Kehadiran-Nya

Artikel oleh:

Arti

              Masalah besar terjadi dalam sebuah pesta di Kana.  Masalah tersebut turut juga mengusik hati Maria ibu Yesus yang hadir di pesta itu karena menurut beberapa tulisan kuno bahwa Maria adalah bibi dari pengantin pria.  Pada masa itu (entah sampai sekarang) anggur merupakan hal yang sangat penting dalam pesta Yahudi.  Para rabi mengatakan, “tanpa anggur tak ada sukacita”. Bukan karena orang-orang tersebut datang ke pesta untuk mabuk karena kebanyakan minum anggur, tetapi karena anggur memang merupakan minuman penting bagi orang Timur Tengah. Bahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari selalu ada persediaan anggur. Jadi, kehabisan anggur dalam pesta kawin adalah penghinaan bagi kedua mempelai. Dan Maria tahu hal itu, makanya ia datang kepada Yesus dan menyampaikan masalah itu kepada-Nya.

Walaupun jawaban Yesus kepada Maria ibu-Nya tersirat ungkapan penolakan, yaitu: “mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba”, tetapi Maria tetap percaya kepada Yesus.  Terbukti, dimana Maria memberitahu para pelayan supaya menaati Baca selanjutnya »

September 18, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Yohanes Pembaptis, Sang Perintis

Artikel oleh:

Yohanes

          Mengenai diri Yohanes yang terkenal dengan sebutan “Yohanes Pembaptis” Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya, diantara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Mat 11:11). Keagungannya itu sesuai dengan kedudukannya sebagai perintis atau pelopor kedatangan Mesias. Bahkan kepadanya diberikan kehormatan yang tinggi untuk membaptiskan Yesus.

Yohanes Pembaptis menjadi orang terkenal pada zamannya sehingga berbondong-bondong orang datang kepadanya sambil mendengarkan perkataan-perkataannya.  Banyak orang yang memberi diri dibaptis dan menjadi pengikutnya.  Bahkan mereka mengira dialah Mesias (Luk 3:15), tetapi ia mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias itu, dan juga bukanlah Elia seperti yang mereka sangka (ay 21).  Pertanyaan-pertanyaan menyelidik dilontarkan kepadanya, khususnya dari utusan pemimpin agama di Yerusalem mengenai siapakah dirinya yang sebenarnya.  Yohanes dapat saja dengan jujur menjawab, “Aku adalah anak zakaria, imam itu.  Aku telah dipenuhi Roh Kudus sejak lahir”. Tetapi dengan kerendahan hati ia menjawab, “Akulah orang yang berseru-seru di padang gurun”. Yohanes menyebut dirinya “suara”. Istilah yang dipakai oleh Roh Kudus pada masa PL ketika Roh Kudus berbicara melalui nabi Yesaya, “Adalah bunyi suara orang yang berseru-seru di Baca selanjutnya »

September 17, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Firman Yang Menjadi Manusia

Artikel oleh:

 Firman

                  Siapakah “Firman” itu?  Tidak lain adalah Yesus Kristus, Tuhan kita.  Dialah Firman Allah yang mengutarakan atau mengungkapkan pikiran, kehendak dan isi hati Allah.  Kristus adalah pernyataan Allah yang sempurna. Jadi, jika kita mau memiliki pengertian yang lebih dalam dan lengkap tentang Allah, maka tidak ada cara lain selain kita harus mempelajari pribadi dan karya Yesus; meneliti dan merenungkan keagungan sang Juruselamat kita itu; sebab Dialah “Firman yang telah menjadi manusia”. Dengan pengenalan seperti itu maka kita akan “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar” tentang Allah, (Kolose 1:10).

Manusia dengan segala kemegahan dan kekayaan serta keahliannya tidak akan mampu mengadakan sehelai daun rumput.  Yang hanya bisa dilakukan oleh manusia adalah daun yang imitasi yang terbuat dari plastik ataupun benda mati lainnya.  Tetapi “Firman” itu telah menjadikan segala sesuatu.  Oleh Firman-Nya yang berkuasa semuanya tercipta.  Jadi Dia bukanlah ciptaan tetapi sebagai Pencipta.  Sebagaimana Dia sudah Baca selanjutnya »

September 16, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Hidup Untuk Tuhan

Artikel oleh:

Hidup Untuk Tuhan

“Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel” (Ulangan 32 : 52)

 

Ada bermacam-macam tujuan orang mendekat kepada Allah. Bila ditanyakan kepada sebagian besar orang, maka akan muncul jawaban-jawaban spontan seperti, ”Ingin mendapatkan kedamaian, ketenangan, berkat, pengampunan, kesembuhan, kecukupan”, dan lain sebagainya. Semua orang pasti mendambakan hal-hal tersebut diberikan oleh Allah. Namun jika mau direnungkan lebih mendalam, ada kecenderungan kita sebagai manusia terjebak dalam ego kita yang memperjuangkan kepentingan diri kita sendiri, atau mendapatkan keuntungan atau nilai plus-plus pada saat kita dekat dengan Allah. Dan jika Allah tidak memberikannya, kita merasa ada yang salah dengan keputusan atau rencana Allah.

Musa dalam hidupnya berjuang untuk taat dan setia pada Allah. Ada kalanya ia gagal, seperti di Bilangan 20:12. Karena kegagalannya, ada konsekuensi yang harus diambilnya sebagai wujud tanggung jawabnya atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Musa tidak diperkenankan Baca selanjutnya »

September 14, 2014   Kategori : Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  belum ada komentar

Komitmen Dengan Tuhan

Artikel oleh:

Komitmen

“Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup”. (Ulangan 30 : 6)

 

Bangsa Israel mengalami berbagai kesulitan, tetapi Tuhan memulihkan kembali perjanjianNya dengan Israel. Tuhan sedang menyampaikan bahwa setiap orang yang mau memastikan hidupnya terikat dengan perjanjian Tuhan, ia pasti mengalami perlindungan secara ilahi; mereka tidak akan bisa dipengaruhi oleh krisis apapun. Bukan suatu kebetulan ketika Tuhan mengikat perjanjian dengan Abraham, Ishak, Yakub; mereka mengalami krisis kelaparan, tetapi mereka mengalami pemeliharaan Tuhan.

Apa yang Tuhan minta dari kehidupan kita?  Pertama, kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk membangun hubungan dengan Tuhan.  Berdoa adalah bagian yang sangat penting, karena doa membuka pintu sorga dan menerima dari Sang Sumber Berkat. Ketika kita memutuskan untuk memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, itu adalah keinginan Tuhan; apabila kita tetap berjalan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, hidup kita sedang berjalan dalam perjanjian. Jangan menjalani kehidupan Kekristenan asal-asalan tetapi harus terikat dalam perjanjian dengan Tuhan.

Kedua, kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk tidak melakukan yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Kita tidak perlu melakukan berbagai cara untuk berbahagia, tetapi kita perlu melakukan berbagai cara untuk menolak melakukan yang bertentangan dengan Baca selanjutnya »

September 13, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  belum ada komentar

Allah Sumber Berkat

Artikel oleh:

Allah Sumber Berkata

“Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu” (Ulangan 28 : 2)

 

Tidak ada orang menolak hidup sukses dan diberkati. Untuk mendapatkannya, ada orang-orang yang menempuh cara-cara yang baik dan benar. Namun, ada pula yang melakukan tindakan tak terpuji untuk mendapatkannya. Tidak sedikit orang yang memakai jasa dukun atau jimat supaya toko, warung atau usahanya laris. Ada yang berbuat curang terhadap saingannya supaya pekerjaannya berhasil, ada yang korupsi. Ironisnya, terkadang anak-anak Tuhan juga ikut melakukan tindakan-tindakan serupa. Memang, ada banyak cara untuk sukses dan menjadi kaya ditawarkan oleh dunia ini, namun hasil akhirnya tidak baik. Bagaimana seharusnya sebagai anak-anak Tuhan kita bersikap?

Kebenaran firman Tuhan lebih ajaib dari jimat mana pun atau cara apa pun yang diberikan oleh dunia. Bahkan, sejak Perjanjian Lama, Allah sudah memberikan resep berkat-Nya. “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Baca selanjutnya »

September 12, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  belum ada komentar

Memberi Persembahan

Artikel oleh:

Memberi Persembahan

“Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu” (Ulangan 26 : 16)

 

Siapa dari kita yang tidak perlu uang?  Pasti semua memerlukannya, bahkan gereja pun memerlukan untuk biaya operasional dan pelayanan. Lantas dari mana asalnya? Apakah karena usaha kita? Jika ia itu adalah jawaban orang yang tidak beragama. Jika kita katakan dari Tuhan, lantas buat apa kita kasih persembahan untuk Tuhan, itu khan asalnya dari Tuhan. Sudah sejauh mana hebat kita memberi persembahan buat Tuhan dengan gagahnya kita datang ke gereja memberi persembahan, ucapan syukur dan perpuluhan buat Tuhan. Dalam 1 Tawarikh 29: 14 dikatakan “Sebab siapakah aku ini dan bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini, sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadaMu”. Kita tidak akan pernah bisa membayar kasih Tuhan.

Mengapa kita harus memberikan persembahan? Persembahan yang kita berikan adalah bentuk pengakuan kepada Tuhan bahwa Dialah yang memberikan kehidupan kepada kita.  Tanah Kanaan adalah lambang berkat dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan umatNya. Sehingga Baca selanjutnya »

September 11, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  belum ada komentar

Hak Orang Miskin

Artikel oleh:

 Hak Orang Miskin

“Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai”. (Ulangan 24:17)

 

Orang-orang miskin secara umum mudah diperdaya dan dieksploitasi. Namun jika yang miskin itu adalah perempuan maka dia lebih mudah lagi diperlakukan sewenang-wenang. Dan jika yang miskin itu adalah anak-anak perempuan atau lanjut usia, maka dia lebih mudah lagi dijadikan sasaran empuk berbagai kejahatan. Jika dia berasal dari latar belakang minoritas, memiliki cacad fisik atau psikis, atau mempunyai stigma sosial, maka jadilah dia orang yang paling rapuh, gampang dihancurkan atau dikorbankan, atas nama kejahatan atau kepentingan umum atau bahkan atas nama agama.

Kita diingatkan agar memberikan perhatian dan pemikiran serius kepada penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara yang miskin dan lemah, terlebih bila yang miskin itu adalah anak yatim dan janda atau orang asing. Tuhan mengingatkan kita agar tidak hanya sibuk dengan membangun gereja semewah-mewahnya, wisata rohani, seminar, dll namun menutup mata dan hati kepada penderitaan banyak orang di sekitar Baca selanjutnya »

September 10, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  belum ada komentar