Bernilai Bagi Allah

Artikel oleh:

Bernilai Bagi Allah

“Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu” (KPR 9 : 5)

Seorang pria kaya mati dan sebuah pertanyaan diajukan saat pemakamannya, “Berapa banyak yang ditinggalkannya?”,  “Ia meninggalkan segalanya,” demikian sebuah jawaban diberikan.  Mungkin kita tidak asing lagi ketika ada seseorang yang memperkenalkan sahabatnya, “Ini Donny, dan ia bekerja di…” seolah-olah dimana seseorang bekerja atau apa jabatan seseorang menentukan nilainya. Walaupun tidak semua orang yang berprinsip seperti itu, namun tak sedikit juga orang yang memegangnya.

Jika kita semua sadar, Allah itu tidak pernah menilai manusia dari kesuksesannya. Dia mengasihi setiap orang sama rata. Nilai Anda dan saya tidak berasal dari latar belakang kita, pekerjaan, pakaian, rumah tinggal, atau jenis mobil yang dikendarai. Nilai kita berasal dari fakta bahwa Allah menciptakan kita dan mengasihi kita. Kita bernilai karena kita menjadi bagian dari keluarga-Nya, anak-anak-Nya.

Seperti juga Paulus, Tuhan tidak menilai hidupnya yang lama, yang najis, kotor, dan jahat, tetapi Tuhan berhak memakai siapa saja yang bersedia memberi dirinya bagi Tuhan dan mau bertobat dari hidupnya yang lama. Dan ketika Paulus me-responi panggilan Tuhan atas dirinya, maka disitulah ia menerima keselamatan.  Demontrasi kasih Tuhan terbukti dalam kisah pertobatan Paulus, bahwa bukan manusia yang mencari Tuhan, tetapi Tuhan yang mencari manusia yang terhilang. Mengapa Tuhan melakukan hal itu? Sebab dimata-Nya, setiap manusia itu bernilai, berharga dan merupakan ciptaan-Nya yang mulia.

Jadi, identitas Anda jangan bergantung pada harta atau posisi ataupun pada latar belakang kehidupan Anda.  Dapatkan identitas Anda dari Kristus, dan responilah panggilan Tuhan atas diri Anda, karena Anda sangat berharga bagi-Nya.

 

Darah Yesus adalah bukti bahwa kita sangatlah spesial di hadapan Allah.

 

July 24, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Mulailah Bersaksi!

Artikel oleh:

Mulailah Bersaksi

“Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu berangkatlah Filipus” (Kisah Para Rasul 8:26-27a).

             Perhatikanlah para penjaja makanan atau barang dagangan. Mereka tahu bahwa tidak semua orang yang mereka tawari akan membeli dagangan mereka. Tetapi, toh mereka terus tanpa jemu menjajakannya karena yakin bahwa sekali waktu akan ada yang tertarik dan membeli. Hal ini berbeda dengan salah satu alasan yang dimiliki oleh orang kristiani dalam menolak membagikan Kabar Baik. Mereka takut menghadapi penolakan dan karena itu mereka memilih untuk tidak berangkat dan memberitakannya.

Kita mungkin tidak pernah menduga akan ada orang seperti sida-sida dari Etiopia ini. Ia sedang dalam perjalanan sembari membaca gulungan kitab Yesaya. Firman Allah dan Roh Kudus melakukan pekerjaan ajaib di dalam kesenyapan. Ia sangat mengharapkan ada seseorang yang menerangkan arti Firman tersebut. Ya, ia seperti ikan yang mencari nelayan! Ketika Filipus berangkat menjumpainya, ia berhadapan dengan sebuah tugas yang relatif mudah. Filipus seperti memasukkan kail ke mulut ikan yang menganga. Sebuah kesempatan yang tidak selalu didapatkan, tetapi kalau ia enggan untuk berangkat maka kesempatan ini pun akan lewat.

Sangat mungkin ada orang-orang yang sedang menunggu pertemuan ilahi dengan kita. Ada orang-orang yang sudah sangat siap untuk mendengarkan Injil dan memberikan respons yang tepat. Mungkin itu adalah salah satu kesempatan yang hanya bisa kita dapatkan ketika kita mau berangkat. Maka, berangkatlah dan bersaksilah! Berdoalah agar kita menjumpai pertemuan-pertemuan ilahi yang telah Dia persiapkan, sehingga banyak orang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui kesaksian kita.

 

Pakailah waktu Anda untuk bersaksi kepada orang lain, sehingga Kerajaan Allah semakin dipenuhi dengan jiwa-jiwa baru!

 

July 23, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Tetaplah Taat!

Artikel oleh:

Tetaplah Taat

Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. (Kisah Para Rasul 7 : 60)

 

Kisah Stefanus ini juga memberikan gambaran tentang konsekuensi terhadap kesaksian yang benar. Stefanus yang memberi kesaksian yang benar tentang Yesus Kristus, menghadapi konsekuensi yang sangat berat. Stefanus, tidak hanya menghadapi kemarahan dari anggota Mahkamah Agama, tapi lebih dari itu, ia mengalami tindakan penganiayaan dari anggota mereka. Karena kemarahan yang besar itulah, para anggota Mahkamah Agama menyeret Stefanus keluar kota dan melemparinya dengan batu sampai mati.  Kematian Stefanus ini telah mengingatkan kita bahwa kuasa maut telah dikalahkan dan dipatahkan oleh Tuhan Yesus. Kematian daging bukan lagi sesuatu yang harus ditakutkan oleh orang-orang yang beriman pada Tuhan, sekalipun setiap saat kita berhadapan dengan bahaya maut dan kita dipandang seperti domba-domba sembelihan (Roma 8:36).

Bagaimana Stefanus menghadapi kematiannya? Alkitab memberikan gambaran ini: ketika menghadapi penganiayaan, Stefanus melakukan 2 hal penting. Pertama, ia berdoa kepada Yesus Kristus, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (ay. 59); kedua, ia memberikan kata-kata pengampunan, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (ay. 60).  Stefanus melakukan suatu hal yang luar biasa! Ia telah memperlihatkan kesabaran dan ketekunannya dalam menghadapi penganiayaan dari para anggota Mahkamah Agama. Ia tidak marah atau melawan, sebaliknya Stefanus berdoa dan meminta pengampunan kepada Tuhan. Kalimat terakhir dari bagian ini mencatat, “Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.”

Kisah hidup Stefanus memberi pelajaran bagi kita bahwa, apabila kesaksian kita ditolak, kita tidak perlu marah, membenci atau mendendam. Sebaliknya, kita perlu mendoakan orang-orang tersebut dan tetap taat terhadap FirmanNya. Ketaatan memang harus diperjuangkan setiap hari dalam kehidupan setiap anak Tuhan, sebab keinginan untuk menjadi taat selalu diperhadapkan dengan godaan untuk tidak taat.

 

Tetaplah taat dan jangan pernah mundur meskipun ada harga yang harus dibayar

July 22, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Krisis Sebagai Peluang

Artikel oleh:

Krisis - Peluang

“Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”. (Kisah Para Rasul 6 : 7)

 

Ketika jumlah orang-orang percaya makin bertambah, maka timbullah suara-suara yang menyatakan ketidakpuasan. Orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani mengeluh bahwa janda-janda mereka dibedakan. Dalam pembagian sehari-hari mereka tidak mendapat makanan sebanyak yang diterima oleh janda-janda yang berbahasa Ibrani. Itu berarti gereja mula-mula mengalami masa krisis.  Bila keadaan itu dibiarkan terus, maka hal itu bisa memicu konflik dan menimbulkan perpecahan. Para rasul cukup responsif, mau mencari tahu penyebab masalah, dan melakukan terobosan untuk solusinya.  Mereka cukup tanggap terhadap persoalan, keluhan, kebutuhan, dan harapan orang-orang yang dipimpinnya.

Para Rasul mempelajari penyebab timbulnya masalah, lalu menemukan bahwa diri merekalah yang harus dipersalahkan: “mereka melalaikan firman Allah untuk melayani meja” (Kis. 6 :2). Karena terlalu sibuk melakukan banyak pekerjaan, maka pelayanan mereka menjadi tidak fokus, tidak maksimal, dan ada yang merasa terabaikan.  Mereka mau berubah dan melakukan terobosan. Mereka mengusulkan solusi agar dipilih tujuh orang dari antara umat yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat untuk melayani meja. Dengan demikian, tugas diakonia untuk membantu orang-orang yang berkekurangan dapat berjalan lebih baik dan adil, dan para rasul dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. Usulan solusi itu diterima dengan baik dan dilaksanakan.  Hasilnya sangat menggembirakan! Seluruh umat kembali bersatu hati (Kis. 6 :5), firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid makin bertambah banyak (Kis. 6 :7). Krisis telah mereka jadikan sebagai peluang untuk maju.

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan usaha ada berbagai krisis yang  kita alami.   Krisis itu bisa mendatangkan bahaya, tetapi juga membuka peluang. Maka jangan takut terhadap krisis, tetapi dengan hikmat dan pertolongan Tuhan jadikanlah krisis sebagai peluang untuk maju.  Ingatlah firman-Nya: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

 

Jadikanlah krisis sebagai peluang untuk maju!

 

July 21, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Libatkan Roh Kudus

Artikel oleh:

Libatkan RK

“Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia.”

(Kisah Para Rasul 5 : 32)

 

Kehidupan rohani orang Kristen yang benar pasti mengalami pertumbuhan, makin hari makin bertumbuh dewasa. Itulah yang dikehendaki Tuhan. Untuk mencapai kedewasaan rohani tidak dapat kita upayakan dengan kekuatan sendiri, mau tidak mau kita harus melibatkan Roh Kudus dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Alkitab banyak sekali menceritakan tokoh-tokoh yang mengalami dan melakukan perkara-perkara yang luar biasa oleh karena penyertaan Roh Kudus. Saat ini Allah memberikan Roh Kudus kepada kita sebagai Pribadi yang senantiasa menyertai dan menolong kehidupan orang percaya. Tuhan juga hendak memakai setiap kita dengan luar biasa sesuai dengan rencanaNya, asalkan kita mau membuka hati dan bersekutu dengan Roh Kudus. Namun masih banyak anak Tuhan yang tidak menyadari kehadiran Roh Kudus, bahkan tidak mengijinkan Roh Kudus masuk dalam kehidupannya. Jangankan bersekutu dengan Roh Kudus, kesadaran untuk bersekutu dengan Tuhan pun sudah tidak ada lagi. Maka tidaklah mengherankan bila mereka tidak pernah mengalami terobosan baru, hidupnya biasa-biasa saja, monoton, jatuh bangun dalam dosa dan tidak punya ‘nilai lebih’.

Apabila kita ingin mendapatkan kasih karunia Allah dan berkemangan dalam hidup, firman Tuhan mengajarkan agar kita membangun persekutuan dengan Roh Kudus. Tuhan ingin agar kita bersahabat dengan Roh Kudus. Menjadi sahabat berarti selalu berjalan bersama-sama dalam segala hal di setiap waktu, bukan hanya dalam hal-hal tertentu atau saat-saat tertentu saja.  Selain itu kita harus menjadikan Roh Kudus rekan sekerja; artinya kita melibatkan Roh Kudus dalam segala hal agar Ia menuntun dan menolong kita dalam mengamil setaip keputusan, baik bagi diri kita sendiri maupun di dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Petrus dalam pelayanannya senantiasa melibatkan Roh Kudus dan mengakui bahwa Roh Kudus adalah rekan sekerjanya. Tanpa penyertaan Roh Kudus dia tidak akan memiliki keberanian saat dihadapkan pada Mahkamah Agama.  Karena ‘kedekatannya’ dengan Roh Kudus, hidup Petrus menjadi kesaksian bagi dunia.

 

Hidup yang berkemenangan adalah hidup yang senantiasa melibatkan Roh Kudus dalam segala aspek hidupnya

July 20, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Jangan Berdusta!

Artikel oleh:

Jangan Berdusta

“Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” (Kisah Para Rasul 5 : 3)

 

Cara hidup jemaat mula-mula yang menonjol yakni mereka dengan rela hati selalu berbagi dengan orang lain sehingga ‘tidak ada seorang pun dari mereka yang berkekurangan’ (4:34).  Di saat semua orang menjual segala kepunyaan mereka dan di bawa kepada para rasul, namun ternyata Ananias dan Safira memiliki pemikiran yang berbeda. “Dengan sepengetahuan istrinya, Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan tanah milik mereka” (ayat 2). Mengapa mereka melakukan ini? Kita hanya bisa menebak-nebak. Tapi yang jelas perilaku mereka yang ini kemudian diketahui oleh Petrus. Kita semua tahu bagaimana akhir hidup Safira dan Ananias karena ‘persekongkolan mereka untuk mendustai Allah’.

Melalui peristiwa Ananias dan Safira dapat memberikan kepada kita dua pelajaran berharga yang patut kita perhatikan. Pertama, Jangan mendustai Roh Kudus. Hukuman yang dialami oleh Ananias dan Safira terjadi bukan karena banyak atau sedikitnya persembahan, melainkan karena Ananias telah merencanakan dengan isterinya untuk berdusta mengenai jumlah hasil penjualan sebidang tanah yang mereka miliki. Mereka tidak menyadari bahwa mereka bukan sedang mendustai manusia, melainkan mendustai Roh Kudus yang sedang memanifestasikan kuasa yang luar biasa pada masa-masa itu.  Kedua, Memberi dengan motivasi yang benar. Mengapa Ananias dan Shapira begitu berani mendustai Roh Kudus? Alkitab memang tidak mencatat secara detail, tetapi mungkin saja dalam hati mereka ada perasaan ingin juga mengikuti jejak yang lain dalam hal memberi, tetapi dengan motivasi supaya ‘dilihat’ oleh rasul-rasul, atau mungkin karena malu. Akhirnya mereka menjual sebidang tanah tetapi tidak rela memberikan semua hasil penjualannya, dan bersekongkol mendustai rasul-rasul dan Roh Kudus. Motivasi yang salah dalam memberi akhirnya memicu tindakan yang salah.

Dari tragedi ini kita dapat pelajari bersama, lakukanlah setiap tindakan dengan motivasi yang benar termasuk dalam hal menabur dan memberi bagi pekerjaan Tuhan. Biarlah roh memberi dan pengurapan belas kasihan yang sedang Tuhan curahkan dengan luar biasa hari-hari ini yang mendorong kita untuk memberi yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan, bukan dengan terpaksa tapi dengan sukarela.

 

Setiap kebenaran yang dengan sengaja memilih untuk melanggarnya adalah sama dengan dosa mencobai Tuhan

July 19, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Keberanian Dari Roh Kudus

Artikel oleh:

RK

“Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu”. (Kirah Para Rasul 4 : 29)

 

Dari pembacaan ini kita melihat adanya ketidaksenangan akan fenomena yang terjadi dalam kehidupan, di mana Yohanes dan Petrus sedang “melakukan pekerjaan pelayanannya”. Dan terbukti, bahwa hasil dari pengajaran mereka yakni di tempat dimana mereka menyampaikan berita tentang Yesus itu berbuah manis dengan jumlah 5000 orang yang percaya.  Dengan demikian, kepopuleran para Penguasa Bait Allah dan orang-orang Saduki merasa “tersaingi” oleh Yohanes dan Petrus. Dan hal itu dianggap oleh para Penguasa Bait Allah dan “sekutu”nya sebagai ancaman yang serius, yang pada akhirnya berdampak pada penangkapan Yohanes dan Petrus yang kemudian dihadapkan pada sidang Mahkamah Agama.

Apakah Yohanes dan Petrus merasa takut ketika berhadapan dengan para penguasa dan sekutunya? Ternyata tidak. Lalu apa yang menyebabkan para rasul “sedemikian beraninya” berhadapan dengan “para penentangnya”. Adakah kelebihan, kekuatan, kekayaan, kewibawaan duniawi yang mereka miliki? Ternyata, kepercayaan mereka yang sungguh pada apa yang mereka ajarkan dan penyerahan mereka pada kekuatan Roh Kudus yang memampukan dan memberi keberanian penuh kepada mereka. Dengan begitu, maka resiko dari apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mereka pikirkan.

Lalu mengapa dalam kehidupan kita sangatlah “sulit” bagi kita untuk beriman seperti apa yang para rasul lakukan? Ada begitu banyak hal yang merintangi “kesungguhan” kita untuk bersandar pada Tuhan. Atau mungkin juga kita merasa bahwa pengajaran tentang menyandarkan diri pada Tuhan dan kuasa Roh Kudus adalah bahagian dari kehidupan “mimpi” yang ditawarkan untuk meninabobokan kita untuk menghadapi realita kehidupan yang serba kompleks ini. Padahal yang sesungguhnya adalah bahwa kehidupan menyandarkan diri pada Tuhan dan kuasa Roh Kudus adalah suatu hal yang sepatutnya hidup dan berakar dalam kehidupan kita. Tuhan kita bukan Tuhan yang mati, tapi Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup.  Setiap janji dan perbuatanNya adalah nyata dan dipercaya mampu membebaskan kita dari ketidakbenaran dunia ini.

 

Yakini hal itu, maka kita akan semakin berani menjalani hidup ini, bahkan berani menjadi saksi Kristus.

 

 

 

June 25, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Bekerja Bersama Allah

Artikel oleh:

Bekerja Sama

“Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3 : 6)

 

Ada banyak orang Kristen di Amerika yang cenderung menempatkan tindakan mendengarkan Firman sebagai tujuan akhir.  Howard E. Butt, Jr, seorang pengkhotbah awam, sedemikian prihatin akan kenyataan tersebut sampai-sampai dia mengatakan bahwa, “Mendengarkan Firman adalah dosa orang Amerika yang terbesar!”

Di sebuah gereja Presbyterian yang sangat bersejarah, di Washington D.C., Butt menentang hal mendengarkan Firman sebagai “satu pelarian” semata-mata.  “Allah menghendaki transformasi.” lanjutnya “Orang percaya harus beranjak dari sekedar pendengar-pendengar Firman menjadi pengerja-pengerja Allah.”

Ya, itu benar sekali !  Bukan hanya di Amerika, tetapi di mana pun juga.  Allah senang kita telah menjadi  anak-anaknya.  Akan tetapi, Allah akan jauh lebih senang lagi jika mau menjadi kawan-kawan sekerja-Nya.  Ya, itu indah sekali!  Setiap orang percaya dipanggil Allah untuk bekerja bersama Dia menyelamatkan lebih banyak dan semakin banyak orang yang lain .

Seperti Petrus dan Yohanes, seorang yang bekerja bersama Allah akan memandang sesamanya seperti Allah memandang mereka.  Itu sebabnya, ketika bertemu dengan seorang pengemis yang lumpuh, hati mereka tergerak oleh belas kasihan, lalu melayani dia.

Bagaimana dengan saya dan Saudara?  Konon ada tiga kelompok orang percaya:

  • Orang tidak pernah mau bergerak,
  • Orang yang bergerak semaunya sendiri,
  • Orang yang bergerak bersama Allah.

Jika kita masuk kelompok ketiga, segeralah berkemas karena ada banyak pekerjaan besar yang telah menantikan kita.

 

Di dunia ini ada banyak penggangguran, tetapi di dalam Kerajaan Allah selalu ada kebutuhan besar untuk menambah tenaga kerja yang mau bekerja bersama Allah.

 

June 24, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Gaya Hidup Komunitas

Artikel oleh:

Komunitas

Mereka Terus memuji-muji Allah dan disenangi oleh semua orang. Setiap hari jumlah mereka terus bertambah” (KPR 2 : 47)

 

Gaya hidup berkomunitas ternyata sudah dimulai sejak zaman murid-murid Tuhan hidup setelah kenaikan Yesus. Orang-orang yang bertobat di bawah pelayanan mereka di Yerusalem berjumlah ribuan orang, tidak ada gedung gereja yang sanggup menampung mereka semua. Sementara itu mereka membutuhkan sebuah forum untuk berkomunitas. Akhirnya mereka berkumpul baik di bait suci, di rumah-rumah tertentu setiap hari untuk memuji Tuhan, mendengarkan pengajaran para rasul, saling berbagi kasih, saling mengadakan mujizat. Ternyata gaya hidup seperti itu menarik perhatian orang-orang lain di sekitar mereka, sehingga dengan sukarela mereka mau bergabung untuk menerima keselamatan.

Dalam kehidupan setiap hari, kita banyak berjumpa dengan komunitas-komunitas, contohnya: komunitas kantor, komunitas sekolah, komunitas lingkungan rumah, dan lain-lain. Tapi pertanyaannya apakah kita yang memberi pengaruh positif atau mereka yang memberi pengaruh negatif? Komunitas dalam zaman rasul-rasul memberi kepada semua anggotanya rasa aman, nyaman tanpa ada rasa curiga atau mencari keuntungan sendiri. Mereka bertumbuh bersama dan dibangun kearah kedewasaan rohani yang semakin lama semakin kuat dan berpengaruh.

Saudara, komunitas seperti itulah yang sedang kita usahakan dan doakan. Dimana setiap anggota jemaat dapat bertumbuh dalam hidup rohaninya dan semakin diberkati dan menjadi berkat. Dan tak kalah pentingnya, memiliki etos Rajawali yang unggul, yaitu: rajin, andalkan Tuhan, jujur, antusias, wawasan luas, akur, luwes, dan inovatif.

 

Bangunlah gaya hidup komunitas yang baik, positif, dan rohani, sehingga mampu berpengaruh bagi banyak orang untuk datang kepada Kristus.

 

June 23, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Roh Kudus Tercurah

Artikel oleh:

RK

“Akan terjadi pada hari-hari terakhir–demikianlah firman Allah–bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” (Kisah Para Rasul 2 : 17b)

 

Sekalipun hari Pentakosta tidak dirayakan semeriah hari Natal ataupun hari Paskah, bukan berarti hari Pentakosta bukanlah peristiwa yang penting.  Bagi orang-orang Yahudi jelas moment pentakosta adalah momen yang sangat penting.  Bagi mereka, hari pentakosta itu merupakan hari panen besar-besaran, yang menunjukkan pemeliharaan Tuhan.  Semua itu terjadi di hari ke-50 setelah pembebasan dari perbudakan Mesir, karena itu mereka menyebutnya pentakosta, yang berarti: hari ke-50.  Bagi Kekristenan saat ini pun hari pentakosta juga merupakan peristiwa yang penting.  Pentakosta melambangkan sebuah era baru dimana Tuhan bekerja dalam kehidupan anak-anak-Nya melalui Roh Kudus.  Memasuki zaman kisah rasul sampai zaman kita tinggal sekarang,  kita hidup dalam zaman Allah Roh Kudus; dimana Roh Kudus yang  berperan menjaga iman orang-orang percaya, dan memelihara kehidupan orang-orang percaya. Sampai saat ini Roh Kudus terus bekerja atas hidup orang percaya.

Sebelum peristiwa Pentakosta murid-murid bersehati berdoa menantikan janji Tuhan Yesus. Karena itu, dalam ayat 1-13 dicatat penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, sehingga di Yerusalem orang-orang Yahudi dari segala bangsa memahami kebenaran yang mereka beritakan. Jadi kebenarannya adalah bahwa semua peristiwa dimulai oleh Roh Kudus. Pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukan oleh rasul-rasul sampai berdirinya gereja adalah dimulai oleh Roh Kudus. Ketika Roh Kudus belum turun, tampaknya rasul-rasul tidak ada harapan, tapi begitu Roh Kudus turun mereka penuh dengan kuasa.  Demikian juga gereja-gereja masa kini, ketika ada masalah, perpecahan bukan satu-satunya jalan keluar tapi kita harus kembali kepada pimpinan Roh Kudus dan mohon Dia membuka jalan.

Jadi dapat dikatakan bahwa seseorang yang mempunyai Roh Kudus adalah seseorang yang mampu menjadi saksi bagi banyak orang.  Karena jika Roh Kudus ada dalam pribadi kita, tidak bisa tidak, ia akan mendorong kita untuk menjadi saksi-saksi Kristus.

 

Semakin seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, semakin kehidupannya menjadi saksi dan berkat bagi banyak orang. 

 

June 22, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar