Berkat dari Konferensi Misi Se-Dunia Ke-4 Di Bangkok (2)

Artikel oleh:

WORLD MISSIONS LEADERS FORUM

BANGKOK, THAILAND

brad walz

Wednesday, Feb 4th, 2015

So all can hear: Spirit Empowered Missions Today

By Brad Walz

Chairman WAGF Missions Commission

(Diterjemahkan oleh: Pdt. Stefano Indra Bramono –

Direktur Dep. Misi Luar Negeri GSJA di Indonesia)

 indra bramono

Agar Semua Mendengar: Misi yang diberi kuasa Roh Kudus Hari Ini.

 

Pendahuluan

 

Kegerakan Aseemblies of God dimulai secara spontan sebagai hasil dari kegerakan Roh Kudus. Kegerakan tersebut bermula hampir 110 tahun yang lalu. Dan secara organisasi kegerakan ini ditanggapi pada 100 tahun yang lalu. Kisah Pentakosta di abad ke 20 sangat menakjubkan. Tidak perlu diragukan bahwa gereja Pentakosta adalah sebuah kekuatan spiritual. AOG juga dikenal sebagai badan kerohanian ke-5 terbesar di dunia. Kalau anda tidak mengikut sertakan umat Katolik dan Ortodoks, dan hanya menghitung umat Protestan saja maka akan menjadi ke-3 terbesar. Dan akan menjadi terbesar kalau disempitkan menjadi golongan Evangelical saja.

 

Badan keagamaan menurut sumber sekular:

  • Gereja Katolik Roma: 1,2 Milyar.
  • Ortodoks Timur: 200 – 300 juta.
  • Anglikan: 80 juta (secara realistik akan lebih rendah karena status “State Church – Gereja Negara” di Inggris).
  • Lutheran: 70 juta (secara realistik akan lebih rendah karena status “State Church – Gereja Negara” di Jerman).
  • WAGF dan Persekutuan yang terkait: 67 juta.

 

AOG dan pergerakan pentakosta hari ini adalah hasil dari pencurahan modern dari Roh Kudus. Meskipun demikian, kita harus selalu mengingkatkan diri sendiri bahwa tujuan kuasa Roh Kudus dicurahkan adalah: Agar Semua Bisa Mendengar!

 

  1. Peran Roh Kudus dalam Amanat Agung.

 

Bukan saja Yesus berjanji akan memberi kuasa Roh Kudus, pada waktu yang   bersamaan saat Ia memberi Amanat Agung, tetepi ada prinsipnya juga: Yesus dalam bentuk daging  memiliki keterbatasan waktu dan tempat. Ia hanya bisa berada di suatu tempat pada suatu saat. Bersama Roh Kudus tidak ada batasannya. Ia bisa berada dimana saja dan bekerja melalui kita. Satu-satunya batasannya, adalah gereja sendiri (karena sebenarnya Roh Kudus tidak dapat dibatasi oleh kita). Kita adalah alatnya untuk mengabarkan Injil. Kalau kita memilih untuk pergi keseluruh dunia, maka Ia akan disana. Kalau kita memilih untuk tidak melakukannya, keberadaannya untuk gerejaNya akan terbatasi. Ia masih dapat menampakan diriNya pada orang-orang tak terjangkau melalui mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Ia masih dapat melakukan tanda-tanda heran. Tetapi tujuan untuk menjadi bagian dari penyampaian Injil tidak tercapai kalau gereja tidak taat dan pergi (menjangkau jiwa-jiwa).

 

  • Yohanes 16: 5 -15.
  • Yohanes 17: 6 – 11.

 

Yesus terbatasi dengan badaniahnya, tetapi Roh Kudus tidak terbatasi. Ia dapat berada dimana saja. Dan Ia bekerja melalui kita. Oleh karenanya startegi dari Tuhan untuk mengabarkan InjilNya, adalah dengan mencurahkan Roh Kudus.

 

  1. Peran Roh Kudus untuk mengkoreksi pengabaian Amanat Agung.

 

Gereja harus mengerti bahwa ketaatannya adalah dalam bentuk menanggapi Amanat Agung. Adalah gereja Antiokia (bukan Yahudi) yang menjadi gereja yang diutus, bukan mereka yang di Yerusalem. Kita seringkali mengalami romantisme pada gereja mula-mula dan mengatakan: “Kita mau menjadi Gereja Perjanjian Baru.” Dan mengabaikan beberapa kegagalan yang mereka miliki. Meskipun Yerusalem adalah tempat dimana pertama terjadinya kegerakan Roh Kudus, tetapi Antiokia menjadi ibu kota kegerakan misi pertama. Bukan saja gereja Yahudi tidak memiliki keyakinan untuk membawa Injil keseluruh dunia, bahkan mereka memiliki potensi untuk menentangnya.

 

Beberapa kali juga gereja masa kini, dan orang-orang besar di dalam Tuhan kurang memiliki keyakinan untuk memberitakan Injil untuk segala bangsa, kebudayaan, dan orang-orang yang belum terjangkau. Pertanyaan yang sering kita tanyakan di Argentina dan berbagai negara-negara lain adalah: bagaimana orang besarnya Tuhan, tertutup dari hati Tuhan, dan mengabaikan hati Tuhan?”

 

Contoh yang terbaik dapat dilihat pada Petrus:

Petrus adalah orangnya Tuhan, dipenuhi Roh Kudus, dan dipakai oleh Tuhan.

Hasil Evangelisasi (KPR 2:14, 41) Sebuah tanggapan yang menakjubkan yang hanya beberapa orang saja memilikinya dewasa ini. Sangat sedikit hari ini dapat melihat 3000 orang diselamatkan dalam satu hari.

 

Keajaiban dan Tanda-tanda heran:

  • KPR 3:6.
  • KPR 5:15 – 16.
  • KPR 9: 40 – 41.

 

Kuasa:

  • KPR 4:13.

 

Komitmen sekalipun dalam aniaya:

  • KPR 4: 29 – 31.
  • KPR 5: 41.

 

Pada saat kita tiba di KPR 10, bukan saja Petrus belum pergi ke orang “bukan Yahudi”, bahkan hal tersebut belum masuk dalam layar “radar” nya. Ia memiliki 100% visi untuk orang-orang Yahudi, untuk Yerusalem dan Yudea, tetapi memiliki 0% visi untuk Samaria dan seluruh ujung dunia.

 

Tuhan harus mengkoreksi visinya di KPR 10.

  • KPR 10: 9 – 23.
  • KPR 10: 44 – 48.

 

Reaksi dari gereja orang-orang Yahudi:

  • KPR 11: 1 – 3. Bagaimana anda menyukainya saat orang berkata-kata seperti itu kepadamu dan kepada kebudayaannu?
  • KPR 11: 18. Pemakaian kata-kata: “Jadi juga…. (dan) bahkan.”

 

Penglihatan (visi) Paulus dan Panggilannya:

  • KPR 9:15.
  • Roma 15:16.

 

Seberapa banyak dari kita disini adalah orang Yahudi? Seberapa banyak dari kita disini adalah buah dari pelayanan Petrus? Seberapa banyak adalah hasil buah pelayanan Paulus?

 

  • Reflesi Pertama: Tuhan tidak mengkoreksi visi dari Petrus di KPR 10 untuk membawa dia ke orang bukan Yahudi, tetapi Ia mengkoreksinya, supaya Petrus tidak lebih menghambat Paulus untuk menjangkau orang-orang bukan Yahudi dan untuk pergi ke ujung dunia.

 

Apakah kita memiliki visi untuk menjalankan misi? Atau kita malah menjadi penghambat bagi mereka yang menjalankannya. Kita telah melihat di Amerika Latin banyak orang-orangnya Tuhan, Peter-Peter lain yang menjadi penghambat orang yang Tuhan telah panggil di gereja untuk pergi ke Samaria dan sampai ke ujung dunia. Mereka adalah orang besarnya Tuhan, tetapi dengan visi hanya sampai “Yahudi”, dan bukan kepada orang bukan Yahudi (atau orang bukan percaya).

 

  • Refleksi kedua: Kita mengerti lebih baik sekarang kenapa Antiokia adalah sebuah ibu kota gerakan misi, dan bukan Yerusalem.

 

  • Refleksi ketiga: Roh Kudus tidak dapat memaksa kita untuk taat. Kalau fokus pada Roh Kudus dan mengabaikan tujuan dari kedatangannya, maka kita akan mentrasformasikan diri kita ke sebuah kelompok “terasa baik, dan berkati saya” (Feel good, bless me) dan bukan agen Amanat Agung.

 

  1. Kuasa Roh Kudus dan Kegerakan Misi pada Kebangunan Pentakosta.

 

Roh Kudus dicurahkan pada awal 1900-an dan kegerakannya secara otomatis adalah menjadikan kegerakan misonari. Karena tujuan dari pencurahanNya juga mendapat tanggapan. Kenapa banyak dari gereja AOG merayakan hari jadinya ke 100-nya sebelum merayakan hari jadi Amerika Serikat? Karena para misionaris  telah melakukan misinya sebelum AOG resmi didirikan. AOG didirikan secari resmi tujuan terbesarnya adalah untuk mefasilitasi pengutusan para misionaris. Pergerakannya adalah PENGUTUSAN (misionari).

 

Kebangunan dan kegerakan misi juga secara internasional. Tidak terbatas hanya pada satu negara. Tetapi beberapa negara, dan tidak lain bersifat internasional. Swedia pada satu sisi adalah negara kecil tetapi pada satu masa bisa mengutus 1000 misionaris. Beberapa ahli sejarah merasa bahwa setengah dari dunia Pentakosta dapat dirunut balik dan merupakan pengaruh dari tiga negara Norwegia, Swedia dan Finlandia. Australia dan Selandia Baru mempengaruhi Asia. Gerakan misi adalah gerakan internasional.

 

Kesalahan gerakan misi: Para perintis misionari menantang gereja-gereja baru untuk pergi dan menjangkau Yerusalem dan Yudea mereka, tetapi tidak mempersiapkan dengan perencanaan yang benar untuk menanam “Samaria dan ujung dunia.”

 

Bukti sejarah yang terungkap. Pada 1984 hanya ditemukan 1 buku di rak dari Fuller Theological Seminary yang terlibat dengan konsep “bukan misi dunia barat” (non western missions). Pada saat hal itu dibicarakan, hampir selalu terbatas pada Asia, sebagai sang “Macan Asia” yang bangkit mempengaruhi ekonomi dunia. Misi tersebut menjadi misi yang diasosiasikan dengan harta.

 

Kebangkitan gereja-gereja diasosiasikan dengan salah menjadi misi yang berkaitan dengan harta; mereka tidak menyadari bahwa beberapa negara-negara yang sekarang menjadi kaya dalam beberapa abad sebenarnya mengikuti kebangkitan Pentakosta, sebagian merasakan  karena sebenarnya mereka yang menjadi taat dan berkomitmen terhadap Injil, sedikit banyak memiliki pemikiran “misi hanya untuk mereka yang memiliki uang.” Ini bukan konsep Alkitabiah; misi tidak dimulai dengan uang, tapi dimulai dengan orang. Dan juga mereka tidak sadar terhadap observasi evangelis dari Argentina Carlos Annacondia, yang mengatakan:

 

“Meskipun dewasa ini  gereja dari 3 raksasa Norwegia, Swedia dan Finlandia sedikit banyak mengalami kemandegan dan bahkan mungkin juga menurun, tidak ragu dalam benak saya bahwa keadaan kecukupan dan kekayaan dari negara-negara ini telah membawa hasil peninggalan spiritual dari apa yang mereka telah lakukan dengan membawa Injil keseluruh dunia. Kita seringkali berfikir negara-negara kaya melakukan misi karena kekayaan mereka; tetapi pendapat saya negara-negara ini menjadi kaya karena mereka negara misionari. Argentina tidak akan menjadi negara yang diberkati sampai pertama kali menjadi negara misionari.”

 

Jadi bisa dikatakan, dengan berjalannya jaman, gereja-gereja dunia barat, tidak menanamkan visi: “Mereka juga bisa melakukannya,” akhirnya mereka merampas berkat yang mereka perlukan sendiri. Pertama, untuk mentaati Amanat Agung. Kedua, kemiskinan tidak akan pernah terputuskan dengan hanya menerima Roh Kudus dan mentalitas menerima, tetapi harus dengan memberi dan menuai.

 

Sekitar tahun 1968 samapai 1973 David Kinsinger, seorang misionari DFM (Department of Foreign Misssion, sekarang bernama AGWM – Assemblies of God World Mission) dari Costa Rica, melakukan observasi sebagai berikut:

 

“Saya sangat terkesima dan juga seperti merasa sedih dengan kenyataan pada saat masa cuti ke negara asal di Amerika Serikat (Furloughs: cuti untuk presentasi ke gereja donor dan mengumpulkan dana), pada saat saya berkhotbah ratusan kali tentang misi dan mendorong mereka untuk memberi untuk misi, mereka kurang menanggapi, sampai hampir mendekati masa akhir saya melayani dan berkhotbah tentang misi yang sama kepada orang-orang Costa Rica. Bahkan selama 28 tahun saya melayani di tanah asing, saya belum mendengar para misonary lainnya berkhotbah tentang tujuan dan dorongan untuk orang-orang Kristen memberi untuk para pelayan di tanah asing. Dan saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa?”

 

“Kami percaya pada pekerjaan misi. Merupakan bagian dari pengajaran dan peninggalan kami di AOG. Kami sebagai misionaris adalah produk dari pekerjaan misi. Kami juga memiliki kesempatan berharga untuk memberikan persembahan kepada para misionaris, dengan kepuasan bahwa dengan demikian kami turut terlibat pada penjangkauan jiwa-jiwa yang kami tidak dapat jangkau sendiri. Jadi mengapa kami harus menahan kesempatan yang sama untuk memberkati orang-orang Kristen di luar negeri; dengan menjadi gagal mengajarkan dan mengkhotbahkan mereka dan mendorong mereka untuk memberi dalam pemberian misi untuk dunia yang terhilang?”

 

“Adalah merupakan keyakinan saya, bahwa dengan gagalnya melakukan hal tersebut kita telah memisahkan diri dan terus memisahkan diri dari kesempatan usaha penginjilan. Bayangkanlah, apa artinya kalau kita dapat membangunkan 2,5 juta orang Kristen (32 juta pada tahun 2000) dalam pelayanan dari pemberian dana misi untuk mengutus para misionarisnya pada mereka yang terhilang. Dapat berarti sebuah usaha multiplikasi dari penginjilan yang belum pernah kita lakukan dalam generasi kita. Saya tidak percaya waktu Yesus mengatakan untuk pergi keseluruh dunia itu hanya ditujukan untuk sebagian orang Kristen di Amerika Serikat. Ini adalah usaha seluruh dunia dan setiap umat Kristen harus terlibat. Hanya dengan keterlibatan total dari seluruh dunia, maka penginjilan total dunia dapat berdampak.”

 

Tidak ada ungkapkan lebih baik lagi dari apa yang diungkapkan oleh Carlos Annacondia di atas.

 

  1. Roh Kudus mulai membangkitan “Pengutus-pengutus Baru.”

 

Adalah seorang profesor dari gereja Anglikan di sebuah universitas sekular di Amerika Serikat bernama Philip Jenkins, yang pertama membantu mengartikulasikan sebutan “Gerakan Global dari Selatan – The Global South,” dan mendokumentasikan kebangkitan kekuatan orang-orang Kristen dari banyak bangsa bukan dunia barat. Dan Tuhan mulai membangunkan para pengutus-pengutus ini di tahun ’80-an dan ’90-an, dan bahkan dalam beberapa kasus masih terjadi sampai saat ini. Bagaimana mereka melakukan hal ini?: Dengan memanggil anak-anak muda.

Lukas 10:2.

 

Menggunakan Argentina sebagai ilustrasi, sewaktu mereka bangkrut di tahun 1984, Tuhan juga mulai memanggil anak-anak muda untuk pergi. Banyak yang tidak mengerti mereka, dan berfikir mereka gila. Argentina mengalami hyper-inflasi 10.000% di tahun 1989. Hanya sebagian kecil orang saja yang berfikir mereka dapat mengirimkan misionari-misionari. Tuhan bahkan memanggil anak kecil! Tercatat ada seorang anak perempuan berumur 5 tahun yang dipanggil pada tahun 1990 atau 1991. Tuhan memanggil anak-anak muda sewaktu gereja belum mengerti bagaimana cara mengutus. Tekanan terjadi dalam beberapa tahun bahkan sampai saat ini, karena hanya 25% dari gereja-gereja yang memberi dukungan dalam artian pemberian yang tetap, dan 50% memberi bukan untuk pekerjaan misi, tapi Tuhan tetap memanggil anak-anak muda dari gereja-gereja tersebut yang tentu saja membuat gembala sidangnya kurang merasa nyaman, karena merasa bahwa mereka adalah hamba Tuhan, tetapi masih sering memiliki visi “Petrus,” bukan visi “Paulus.” Bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus sedang memanggil “Pengutus-pengutus baru?” Saat Ia memanggil anak-anak mudaNya untuk pergi (merintis). Lukas 10:2.

 

Hari ini banyak misionaris yang diutus oleh “Pengutus-pengutus Baru” sebanyak mereka yang diutus oleh “Pengutus-pengutus tradisonal.” Kami mengadakan sensus, dan gambaran singkatnya adalah: Pengutus Tradisional mengutus 3.985 misionaris dibandingkan dengan Pengutus Baru mengutus 3.610 misionaris. (Ini hanya Misionaris Luar Negeri saja).

 

Buah Roh Kudus dari kebangunan para pengutus baru: Dimana 30 tahun lalu sebagian besar kekuatan misionari datang dari kurang 10 negara, tapi hari ini ada 96 struktur organisasi misi di 90 negara! (Target dari komisi misi WAGF: 100 negara akan memiliki Departemen Misi Luar Negeri dan semacamnya, dengan Pemimpin-pemimpinnya).

 

  1. Potensi untuk impact di dunia jika para pengutus baru menggunakan kuasa Roh Kudus pada Amanat Agung diluar “Yerusalem” dan “Yudea” mereka.

 

Dengan kata lain, menggunakan visi dari Paulus, bukan visi-nya Petrus. Tidak diragukan bahwa saat ini Afrika, Asia, Eropa Timur dan Amerika Latin tengah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menjangkau Yerusalem dan Yudea-nya mereka. Puji Tuhan! Tapi apakah mereka akan seperti Yerusalem dan menghentikan visi mereka untuk “Orang-orang Yahudi-nya?” Atau mereka akan menjadi seperti Antiokia dan menjadi sebuah “Ibu kota pekerjaan Misi?” Apakah mereka akan menjadi Petrus? Atau seperti Paulus? Apakah mereka memenuhi tujuan mereka untuk pencurahan Roh Kudus? Atau mereka akan mentransformasikan Roh Kudus kedalam sebuah “Kelompok saya merasa enak diberkati – Feel good bless me club?”

 

Mari luangkan waktu 3 menit lagi untuk  melihat statistik saat ini, dan potensi yang kita miliki apabila kita memiliki sebuah komitmen yang berbeda!

 

Statistik berikut ini datang dari sebuah tanggapan di tahun 2013, dari data nyata, bukan sekedar teori.

 

  1. Hari ini:

 

76,40% dari usaha misi (pribadi, bukan keuangan) masih datang dari 13 negara dan itu adalah kurang dari 10% gereja-gereja di dunia.

 

9,2% dari gereja-gereja dunia bertanggung-jawab untuk 76,40% usaha misi.

91,8% dari gereja-gereja dunia bertanggung-jawab hanya pada 23,60% usaha misi.

 

Ini adalah statistik pemberian/dukungan dana:

 

Pemberian dari gereja pengutus tradisional:

Per-tahun $ 12.849 ($ 1.070,75 per-bulan), atau $ 69,12 per-pengutus per-tahun ($ 5.76 per-pengutus per-tahun).

 

Pemberian per-kapita dari pengutus tradisional (kira-kira):

Per-tahun $ 64,73 ($ 5.39 per-bulan), atau $ 0,24 per-kapita pemberian dari pengutus tradisional (kira-kira), atau $. 0,02 per-bulan.

 

Pengamatan: Secara sekilas, ini sebuah kontras yang mencolok karena ada jurang kekayaan. Tetapi sesungguhnya lebih pada jurang visi secara realitas: Pemberian dari pengutus baru hanya $ 5.76 per-bulan per-gereja! Jurang ini tidak merefleksikan jurang ekonomi antara negara-negara barat dengan non-barat, atau negara berkembang dengan negara sedang berkembang. Itu menunjukkan refleksi dari misi visi pada waktu pengutus-pengutus baru menyadari akan panggilan dan mandat Tuhan untuk mereka.

 

 

B. Potensi yang ada:

 

Kita memiliki banyak negara-negara yang memilik 1 juta oran percaya didalam konteks negara termiskin. Kalau orang hanya akan memberi 10 sen dolar per-bulan, mereka akan memiliki 1 juta dolar per-tahun. Namun demikian situasi pemberian kepada misionaris ke negara lain hanya 20.000 dolar per-tahun, atau bahkan tidak ada sama sekali.

 

Per kapita pemberian dari pengutus-pengutus baru adalah $ 0,02 per bulan! Kalau pengutus-pengutus baru mau memberi hanya 20% dari nilai pengutus-pengutus tradisional ($ 1 per-bulan), maka penndapat akan menjadi $ 727.272.000 per-tahun, ditambah $ 284.426.000 dari pengutus-pengutus tradisional, untuk total keseluruhan lebih dari $ 1 miliard!

 

Mari tidak melihat dari perspektif uang. Itu menunjukan bahwa ide “Kita tidak bisa karena kita tidak memiliki sumber adalah kebohongan dari si musuh dan tidak benar, sekaligus tidak Alkitabiah. Mari kita lihat dari sudut pandang Manusia-nya. Ingat Lukas 10:2, tidak mengatakan “Ladangnya luas dan uangnya sedikit.” Kebanyakan negara-negara Barat memiliki sekitar 1-5 gereja-gereja yang akan mengirim misionari. Argentina telah menyentuh angka 10 gereja per misionari. Costa Rica berada di angka mendekati 7 gereja.

 

Angka Potensi Misionaris kalau setiap 10 gereja mengirim 1:

  • Afrika: 5.277
  • Asia-Pasifik dan Oceania: 3.225.
  • Asia bagian Selatan: 768.
  • Eropa: 2.081.
  • Amerika Latin: 14.886.
  • Amerika Utara (Aktual): 3.030.

 

Dari 90 pengutus, angka potensialnya bila setiap 10 gereja-gereja mengirim 1 misionari: 29.267 misionari. Dari seluruh World Assemblies of God Fellowship (WAGF) gereja-gereja dan titik-titik pekabaran Injil, bila 10 gereja-gereja mengirim 1 misionari: 36.345 misionari. Untuk mencapai angka 100.000 misionaris, maka 3.6 gereja-gereja seharusnya perlu mengirim 1 misionari.

 

Untuk mengingatkan kita lagi: hari ini kita memiliki 7.595 misionaris yang diutus oleh jejaring gereja-gereja WAGF. Kita memiliki potensi  unutk mengutus 36.345 dari mereka! Itu hampi 5 kali lipat dari apa yang kita kerjakan! Dan itu dengan rata-rata 1 misionari untuk setiap 10 gereja-gereja. Ada juga negara-negara yang melakukan dengan ratio 1 misonari untuk setiap 5 gereja-gereja.

 

 

 

 

 

March 18, 2015   Kategori : Umum  belum ada komentar

Ketidakadilan

Artikel oleh:

Ketidakadilan

“Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya”. (Pengkhotbah 3 : 17)

 

Ketidakadilan dalam hidup ternyata bukan saja terjadi pada masa sekarang ini, tetapi juga sudah menjadi makanan sehari-hari manusia zaman dahulu. Praktek ketidakadilan itu sampai sekarang merajalela di setiap institusi, organisasi, daerah ataupun negara.  Kita tidak akan heran menemukan seorang yang tidak bersalah harus menerima hukuman karena ketidakadilan itu dan orang yang jahat dapat bebas berkeliaran dimana-mana karena uang dan kekuasaan menjadi pembelanya.  Tak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit orang yang kompromi dengan kejahatan demi uang dan kedudukan.  Mengapa sepertinya Allah membiarkan semua itu?

Seringkali kita mengharapkan supaya Allah bertindak cepat terhadap segala tindak kejahatan yang terjadi dimuka bumi.  Tetapi jika hal itu tidak terjadi, maka kita menjadi kecewa dan terkadang ada orang mulai menyalahkan Allah dengan berkata, “Mengapa Tuhan hanya berdiam diri terhadap ketidakadilan yang terjadi?!”  Pengkhotbah mempunyai jawaban atas semua kejadian itu, bahwa “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya”.  Artinya, ketika kita belum menemukan jawaban atas ketidakadilan itu; ketika kita tidak melihat campur tangan Allah atas semua masalah yang kita hadapi; bukan berarti Allah tidak peduli atau Allah melupakan kita, tetapi yang benar adalah: “Allah akan bertindak dengan adil pada waktu yang telah ditetapkan-Nya”. Kapan waktunya?  Itu bukan urusan kita. Kita hanya bisa menunggu dengan setia, sabar dan penuh pengharapan.  Allah tidak bekerja menurut patokan waktu manusia, tetapi menurut patokan-Nya sendiri—menurut waktu-Nya sendiri.  Tetapi yang pasti bahwa penghakiman Allah akan terjadi pada suatu saat nanti. Dan Dia akan datang untuk menjadi Hakim yang Adil bagi manusia.

Dari pada mengisi waktu kita dengan keluhan, sebaiknya kita menggantinya dengan satu keyakinan kuat bahwa Allah mengijinkan kita mengalami setiap keadaan yang pahit dan sukar itu supaya kita menjadikan diri-Nya pusat hidup kita.

 

Pandang hidup ini dengan perspektif yang tetap terarah kepada Allah, bukan kepada problema!

May 3, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Ketidakmengertian

Artikel oleh:

Ketidakmengertian

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. (Pengkhotbah 3 : 1)

 

Kita harus menyadari bahwa kita tidak mempunyai kontrol atas waktu. Waktu mempunyai suatu pengaruh yang mengherankan terhadap kita. Ia terselubung misteri.  Apakah sebenarnya waktu itu? Mengapa kita tidak dapat berjalan mundur ke waktu silam atau memperhitungkan keadaan kita di masa yang akan datang?  Waktu penuh dengan potensi dan kita semua memiliki waktu yang sama. Presiden ataupun para pemimpin dunia tidak mendapat waktu lebih banyak dari kita.  Seorang cendikiawan yang sibuk tidak mempunyai waktu lebih banyak dari si penganggur. Seorang pengusaha yang sukses tidak mempunyai lebih banyak waktu dari seorang yang gagal.  Semua mendapatkan jumlah waktu yang sama dalam satu hari, setiap hari.

Dengan demikian, tergantung pada diri kita masing-masing untuk mengelola waktu kita sedemikian rupa supaya bermanfaat bagi kehidupan kita.  Untuk itulah dengan sangat indah dan yakin, Musa berdoa, supaya Tuhan memberinya hati yang bijaksana untuk dapat mengelola waktu dengan baik seturut dengan kehendak Tuhan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90 : 12)

Waktu itu merupakan berkat Tuhan. Semua yang terjadi sepanjang waktu kita adalah variasi hidup, yang semuanya terjadi dibawah pemeliharaan Tuhan.  Syukur kepada Allah untuk variasi hidup ini. Kalau hidup ini tidak berubah-ubah, betapa monotonnya hidup kita.  Kita tentunya tidak akan suka bila terus menerus hidup dalam musim panas—ada saatnya kita merindukan musim hujan.  Dan segala sesuatu ada waktunya.  Ini menandakan betapa kreatifnya Allah sehingga Ia dapat memikirkan akan segala perubahan yang begitu sempurna dan begitu indah untuk makhluk ciptaan-Nya. Untuk itulah, diperlukan hati yang bijaksana untuk kita dapat mengenal waktu yang tepat dan bertindak dengan semestinya. Seringkali yang membuat kita menderita karena ketidakmengertian kita dan tidak peka terhadap waktu Tuhan bagi kita.

‘Waktu’ akan menjadi baik atau buruk, ‘penuh berkat’ atau ‘penuh kutuk’, tergantung dari cara kita menggunakannya. 

May 2, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Kekosongan

Artikel oleh:

Kekosongan

“Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (Pengkhotbah 2 : 25)

 

Pengajaran tentang hikmat memaparkan tentang bagaimana cara kita menghormati orang lain, menghindari kejahatan, cara mengendalikan kata-kata, nilai-nilai kerja keras, menjadi pendengar yang baik, dan lain-lain. Semuanya itu membawa kita kepada suatu kehidupan yang lebih bijaksana.  Nilai-nilai dari hikmat itu memungkinkan seseorang berjalan dalam terang dari pada tertatih-tatih dalam kegelapan. Tidak ada orang yang berpikiran sehat mau hidup dalam kegelapan terus-menerus.

Tetapi kemudian Pengkhotbah berpikir tentang pokok persoalannya.  Bagi Pengkhotbah sendiri, persoalan sebenarnya bukanlah masalah bagaimana kita menjalani hidup ini, melainkan karena “nasib yang sama menimpa baik yang berhikmat maupun yang bodoh” (ay 14).  Jadi, apakah gunanya orang berhikmat mengikuti semua arutan, bahkan mungkin mengetahui semua hukum yang benar, tetapi hanya untuk menemui tujuan yang sama seperti orang yang terbodoh di dunia?  Baginya, pada hari-hari selanjutnya, baik orang berhikmat ataupun orang bodoh, sama-sama akan dilupakan orang.  Orang berhikmat, mungkin akan mendapatkan suatu upacara pemakaman yang hebat disertai kata sambutan yang panjang lebar dengan menceritakan segala kebaikan dari orang tersebut. Tetapi setelah itu selesailah sudah! Demikian juga ketika orang bodoh dimakamkan. Mungkin akan berlangsung lebih singkat, lebih sederhana, dan tanpa kata sambutan yang berkesan. Setelah itu keduanya dilupakan. Selesai! Pada akhirnya, Pengkhotbah berkata dengan sinis, “Oleh sebab itu aku membenci hidup…”

Pencarian akan arti hidup yang sejati namun meniadakan peran Tuhan didalamnya, maka hasilnya mengecewakan dan mengalami kekosongan jiwa.  Sesungguhnya kepuasan itu adalah anugerah Tuhan.  Tanpa anugerah-Nya maka hidup itu seperti suatu kutukan, tetapi orang percaya dapat menikmati hidup dengan sepenuhnya (1 Tim 4:4; 6:6-8).  Pilihan ada di tangan kita.  Kita boleh memilih arti, tujuan serta kepuasan itu dengan melihat bahwa hidup itu adalah anugerah Tuhan dengan hidup dalam kerendahan hati dan penuh ucapan syukur; atau dengan memakai jalan orang berdosa (ay 26).

 

Meniadakan eksistensi Tuhan, yakni dengan menolak untuk berserah kepada Tuhan, maka kita berjalan bagaikan dalam sebuah lorong yang buntu, tanpa harapan!

 

May 1, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Ketidakbahagiaan

Artikel oleh:

Ketidakbahagiaan

“Tentang tertawa aku berkata: “Itu bodoh!”, dan mengenai kegirangan: “Apa gunanya?” (Pengkhotbah 2 : 2)

 

Hal yang paling menyedihkan dalam hidup manusia adalah jika kerja kerasnya tidak memiliki arti atau berakhir dengan sia-sia. Banyak orang yang telah mencapai puncak sukses namun berakhir dengan ironi: mereka tidak mendapatkan kebahagiaan bahkan sebaliknya hidupnya terasa hampa dan sia-sia.  Mengapa demikian?

¨ Karena segala usahanya bersumber dari kekuatan sendiri.

“Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan!” (ay 1).  Ia berpikir bahwa akan dapat menggapai kebahagiaan dari usahanya sendiri.  Pencapaian hidupnya dihasilkan dari apa yang bisa ia lakukan dengan kekuatannya sendiri. Memang ia akhirnya mendapatkan apa yang diusahakan, tetapi pada akhirnya ia pun berkata bahwa semuanya sia-sia dan usaha menjaring angin.

¨ Karena orientasi usahanya hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Penulis kitab ini hanya mencari sesuatu yang memiliki keuntungan bagi dirinya sendiri (ay 8-9), sehingga tidak mustahil untuk memenuhinya pun dia akan melakukan apa saja untuk mencapainya. Memang hasilnya melimpah dan sampai ia berkata: “aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku”, tetapi semuanya itu tidak membuat dia bahagia namun justru menjadi beban yang membuat dia menjadi penat sehingga dia berkata” “kesia-siaan dan usaha menjaring angin”.

¨ Karena tujuan usahanya adalah bagi kepuasan dirinya sendiri.

Penulis kitab ini bekerja dengan orientasi bagi pemuasan hasrat diri sendiri sehingga apapun dikerjakan hanya untuk pemuasan diri sendiri sekalipun itu adalah yang melanggar kekudusan Allah.  Mungkin hatinya bergembira dengan apa yang ia lakukan, tetapi sesungguhnya ia menjerit karena dasar hatinya kosong dan kesepian sehingga ia pun berkata: “kesia-siaan dan usaha menjaring angin”.

Di akhir perenungannya dalam kitab ini, ia menyadari bahwa hidupnya tidak akan sia-sia jika saja dia: Mengingat Penciptanya selagi muda (12:1).  Artinya, hidup akan memiliki arti jika kita melibatkan Allah dalam hidup kita sejak dini dalam setiap aktifitas kita sehari-hari. Dan juga tidak lupa menjalani hidup ini dengan takut akan Tuhan dan menaati perintah-Nya (12:3)

 

Hidup yang berarti hanya dapat kita miliki jika kita mempersilahkan Tuhan untuk menuntun, mengarahkan dan memimpin hidup kita.

 

April 30, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Kesia-siaan

Artikel oleh:

Kesia-siaan

“Itu pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri” (Pengkhotbah 1 : 13b)

 

Apakah Anda menginginkan jawaban dari arti hidup yang sesungguhnya? Jika kita berharap dari ulasan Pengkhotbah ini, maka kita tidak akan menemukannya. Sebab ternyata, untuk semua eksperimen yang dijalankannya, hasilnya tidak ada, sehingga ia pun memberikan kesimpulan yang mengecewakan bahwa mencari arti hidup itu seperti menjaring angin. Pernahkan Anda mencoba menangkap angin dan kemudian menyimpannya dalam botol?  Hal itu tidak akan dapat dilakukan, dan kalaupun bisa, hanyalah merupakan pekerjaan yang membuang-buang waktu. Seperti itulah gambaran perasaan Pengkhotbah dalam mencari arti dan tujuan hidup ini.

Kemudian langkah selanjutnya, ia membulatkan hati dan mencoba berpikir dengan teliti dan dengan hikmat yang dimilikinya mengenai “segala yang terjadi di bawah langit”.  Pengkhotbah meyakini bahwa Allahlah yang menimpakan semua itu termasuk kesusahan hidup.  Kita tidak saja seperti memikul suatu beban berat di punggung, tetapi sebenarnya baginya penderitaan itu adalah hukuman Allah dan kita sedang menjalaninya.  Namun kemudian, dalam pasal-pasal selanjutnya (3:9-11), Pengkhotbah mulai mengemukakan sebuah alasan. Bahwa hal itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita bahwa: Tak ada sebuah tempat pun yang dapat membuat manusia bahagia, jika didalamnya Allah dikesampingkan.

Rasul Paulus pun mengakui akan kenyataan hidup yang menjengkelkan ini, “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya” (Roma 8:20). Tetapi Paulus dapat melihat lebih dari itu dan menambahkan bahwa dunia telah ditaklukkan “dalam pengharapan”. Dia mampu melihat rencana agung Allah untuk membawa semua makhluk ke dalam hubungan yang benar dengan Allah.  Sekarang kalau semuanya dalam keadaan baik dan tidak ada kesulitan, baik dalam hidup maupun di dalam dunia ini secara umum, kita tidak akan berpaling kepada Allah. Kita akan hidup sesuka hati kita dan merasa tidak membutuhkan Allah.

 

Kebanyakan manusia mendekati Allah hanya pada saat menghadapi kesulitan atau kegagalan.

 

April 29, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Ketidakpuasan

Artikel oleh:

Ketidakpuasan

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1 : 2)

 

Dengan gamblang penulis kitab ini memberi kesimpulan akan hidup ini bahwa: Segala sesuatu adalah sia-sia!  Kesia-siaan muncul 30 kali dalam kitab ini dengan satu dan lain cara. Dia menyatakan bahwa hidup ini, jika dilihat secara mendalam, adalah sebuah kepulan asap, hembusan angin, sebuah tarikan nafas, tidak ada apa-apa yang dapat kita genggam. Hidup ini hanya sekejap, rapuh dan tidak dapat menjadi pegangan. Kesimpulannya bahwa: “Hidup itu sia-sia” dipaparkannya dalam beberapa kenyataan hidup, yaitu :

Hidup ini membosankan (ay 3).  Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payahnya di bawah matahari? Hidup adalah suatu pekerjaan berat yang membosankan.  Betul-betul membosankan. Jadi apagunanya seseorang mengerjakan segala pekerjaan dengan sekuat tenaga, yang seakan-akan ditetapkan baginya?  Ia mengungkapkan bahwa rutinitas hidup sehari-hari adalah hal yang membosankan.  Jika rutinitas kita sekarang ini dihilangkan, dalam waktu yang segera kita akan menciptakan rutinitas baru untuk perlindungan diri sendiri, sehingga hasilnya adalah tetap sama: membosankan.

Hidup ini tak pernah puas (ay 8).  Hidup ini mungkin saja merupakan suatu proses yang monoton, tetapi kita enggan menerima kenyataan bahwa hidup ini memang demikian. Kita mungkin berargumentasi seperti ini: kalau saja kita mempunyai gaji yang lebih besar, mendapat kenaikan pangkat, suami atau istri yang lebih menarik, hidup di tengah kota yang kita idamkan, study di universitas yang kita inginkan, dan hal yang lainnya, maka tentunya keadaan akan berbeda dan kita akan mendapat kepuasan.  Kita merasa bahwa kesalahan terletak pada situasi dan kondisi dari kehidupan kita dan jika keadaan itu dapat  diubah, realita pun akan baik adanya.  Tetapi dengan tegas Pengkhotbah menyerang pandangan itu dengan satu peluru: “Mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar”.

Yang pasti diketahuinya adalah kalau kita meghilangkan kemungkinan eksistensi Allah, maka hidup ini tidak akan dapat dimengerti. Jadi, betapa penting dan berartinya kesadaran kita akan Allah dan iman kita kepada Dia.

 

Hidup ini mempunyai nafsu yang tidak pernah dapat dipuaskan, bahkan oleh diri kita sendiri. Kepuasan yang sejati hanya ada di dalam Kristus.

 

April 28, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Dibentuk Sesuai RancanganNya

Artikel oleh:

Dibentuk sesuai dengan rencana-Nya

“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,” (Yudas 1 : 24)

 

Hidup adalah sebuah proses. Proses dari buruk menjadi baik, dari lemah menjadi kuat dan sebagainya, tapi bisa juga berlaku sebaliknya. Begitu banyak proses pembelajaran yang kita alami baik dari pendidikan formal, lingkungan maupun pengalaman yang dapat membentuk kita menjadi seperti siapa kita hari ini. Sebagai anak-anak Allah, kita harus mengetahui bahwa Tuhan telah merancang diri kita masing-masing. Ada “blueprint” bagi setiap kita yang disediakan bagi Allah, Dia telah menetapkan apa yang menjadi rencana-Nya bagi kita, seperti apa yang Dia katakan dalam kitab Yeremia 1:5.

Mungkin sebuah proses pembentukan itu akan sulit untuk dilalui, namun dari surat Yudas, kita bisa belajar bahwa Tuhan Yesus dengan setia siap untuk membimbing kita agar tidak tersandung dan jatuh dalam proses itu, hingga kita bisa mencapai akhir yang penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya. (Yudas 1:24). Kita punya Alkitab berisi firman Tuhan sebagai pedoman, kita punya Roh Kudus sebagai pembimbing, kita punya Gembala yang baik dalam diri Yesus Kristus, dan kita punya Allah yang punya rancangan penuh damai sejahtera bagi kita. Jika kita taat dan selalu menjaga kerohanian kita untuk tunduk pada kehendak Tuhan, roh kita pun akan selalu dipimpin langsung oleh Roh Allah. Sebaliknya, jika orang lebih mendasarkan hidup pada keduniawian, mereka akan lebih memilih rancangannya sendiri, hidup tidak sesuai dengan rencana Allah dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Yudas mengajak kita untuk tumbuh dalam iman, berdoa dalam Roh Kudus dan tetap memelihara diri kita dalam kasih Allah agar kita bisa melewati masa-masa proses dengan baik. Dalam pembentukan, kita harus tetap menunjukkan belas kasihan pada orang lain dan menyelamatkan mereka dari bahaya keruntuhan rohani.

 

Hasilnya akan sangat indah jika Anda mengijinkan untuk dibentuk sesuai rancangan yang disediakan Tuhan bagi kita.

 

April 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Pertahankan Iman

Artikel oleh:

Pertahankan Iman

“…..Supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman  yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus”. (Yudas 1 : 3)

 

Yudas menyadari betul tugasnya sebagai penjaga kawanan domba Allah. Ketika ia melihat bahaya penyusupan ajaran sesat yang mengancam kehidupan iman umat percaya, ia tidak tinggal diam. Ia mengingatkan umat Tuhan untuk senantiasa menjaga iman mereka.

Dalam ayat ini kita dapat menemukan kebenaran2 khusus mengenai iman yang kita pegang:

1) Iman adalah sesuatu yang diberikan kepada kita. Kepercayaan kita kepada Kristus bukanlah merupakan sesuatu yang kita temukan atau usahakan sendiri, melainkan pemberian-Nya sebagai karunia bagi kita.

2) Iman adalah sesuatu yang sekali dan untuk selama-lamanya diberikan pada kita. Iman Kristen mengandung kualitas yang tidak berubah-ubah dari dulu sampai selamanya; yakni: Kristus datang kedalam dunia dan mati untuk membawa keselamatan bagi manusia berdosa yang percaya pada-Nya.

3) Iman Kristen adalah sesuatu yang dipercayakan kepada umat Allah yang sudah dikuduskan. Artinya: iman Kristen bukanlah hak milik dari seseorang, tetapi hak milik gereja. Ia datang ke dalam gereja, dipeliharakan dalam gereja, dan dipahami dalam gereja.

4) Iman Kristen adalah sesuatu yang harus dipertahankan.

Setiap orang Kristen harus siap sedia membela imannya. Sangat menarik bahwa Yudas menggunakan kata “epagonizesthai” untuk kata membela atau memperjuangkan iman dalam ayat ini. Kata Yunani ini mengandung akar kata dalam bahasa Inggris “agony” yang berarti kesengsaraan. Hal ini berarti setiap orang percaya diajak untuk senantiasa membela imannya meskipun harga yang harus dibayar untuk itu sangat mahal. Sudah seberapa jauhkah iman kristen telah menjadi nyata dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, studi, lingkungan, dan pelayanan?

Iman Kristen tidak dapat dikompromikan dengan “kebenaran iman yang lain”.  Anda sebagai orang Kristen harus siap sedia membela imannya.

 

April 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Waspada Dalam Pergaulan

Artikel oleh:

Waspada Dalam Pergaulan

 “Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh” (2 Petrus 3 : 17b)

 

Bergaul dengan orang-orang yang hidup secara fasik (tidak mengenal hukum Tuhan) sangat berbahaya. Kata “fasik” (KJV) bisa berarti tidak mengenal hukum Tuhan. Orang-orang ini tidak hidup di dalam ketaatan kepada otoritas perintah-perintah firman Tuhan. Mereka menyeret banyak orang percaya yang tidak waspada ke dalam kesesatan mereka. Karena itu, sangatlah penting bahwa orang-orang Kristen memisahkan diri dari orang-orang yang mengajarkan kesesatan atau orang yang hidup bertentangan dengan Alkitab.

Seruan Petrus untuk “waspada” adalah untuk menjaga diri secara terus-menerus. Bahkan orang-orang yang tampaknya kuat secara rohani perlu untuk waspada, karena jika tidak demikian mereka pun bisa dengan mudah terserat. ”Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor. 10:12).

Jika kita melindungi diri dari bahaya yang ditimbulkan orang-orang yang tidak alkitabiah, kita memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Maka Petrus memerintahkan kita untuk “bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (ay. 18). Untuk Bertumbuh di dalam kasih karunia Allah, kita harus dengan rendah hati menundukkan diri kita kepada Allah (baca Yak. 4:6). Petrus juga mendorong kita untuk bertumbuh di dalam “pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

Prospek bagi orang yang menjaga dirinya dari kesalahan orang fasik dan yang dengan demikian memungkinkan dirinya untuk bertumbuh di dalam anugerah-Nya dan pengenalan akan Kristus sangatlah luar biasa. Ketika Petrus menutup suratnya, dia mengatakan dengan penuh pengharapan, “Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya”.

 

Pengenalan kita akan Kristus akan bertambah melalui pembelajaran Firman-Nya dan juga melalui pergaulan yang taat dengan-Nya.

 

April 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Buanglah Kecemaran!

Artikel oleh:

Buanglah Kecemaran

“Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” (2 Petrus 2 : 22)

 

Kekudusan bukan sekedar penolakan untuk melakukan perbuatan jahat. Kekudusan adalah penyerahan diri yang terus-menerus di dalam ketaatan kepada Allah. Kekudusan juga adalah kebencian yang amat sangat terhadap dosa.  Orang yang belum dilahirkan kembali mungkin mengetahui tentang Tuhan Yesus Kristus, dan juga mungkin menunjukkan penolakan terhadap dosa secara parsial atau sementara. Mereka telah pergi ke gereja dan mendengarkan Injil. Mereka tahu apa artinya hidup seperti seorang Kristen. Kemudian mereka mencoba untuk hidup seperti seorang Kristen sejati tanpa bertobat.  Tetapi ketika “terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.” Mereka menjadi aib dan mempermalukan Kristus dan gereja, sehingga Petrus berharap bahwa “bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka” (ay 21).

Petrus melanjutkan dengan memberitahukan mengapa adalah lebih baik jika mereka tidak pernah berada pada pihak Tuhan.  Petrus membuktikan bahwa keadaan murtad adalah lebih buruk daripada keadaan tidak tahu, karena kemurtadan mengolok-olok jalan kebenaran. Kehidupan mereka yang kedagingan terlihat seolah mengumumkan bahwa jalan Kristus mengizinkan kehidupan berdosa. Ini adalah penghujatan.

Karena kekristenan sejati tidak mungkin mengizinkan kehidupan di dalam nafsu, maka kebiasaan-kebiasaan mereka merupakan bukti dari keadaan mereka yang belum dilahirkan kembali. Meskipun anjing atau babi bisa dibersihkan di bagian luarnya, sifat alamiah mereka sebagai binatang tetap sama, dan mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang kotor yang biasanya mereka lakukan. Seperti itu jugalah orang-orang murtad yang tidak benar-benar lahir kembali.

Orang yang mengenal Kristus akan mencampakkan dosa.

April 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar