Tuhan Tidak Berdiam Diri
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Kota-kota-Ku akan berlimpah-limpah pula dengan kebajikan, dan TUHAN akan menghiburkan Sion dan akan memilih Yerusalem pula.”
(Zakharia 1 : 17)
Berapa lama lagi, Tuhan? Seruan seperti ini sering kita temukan di Mazmur (13:2; 79:5; 80:5; dst.). Ini adalah pertanyaan yang mendesak kepada Tuhan karena sepertinya Tuhan membungkam terhadap penderitaan umat-Nya.
Menarik sekali, pertanyaan ini diajukan oleh malaikat yang menerima laporan dari para penunggang kuda-kuda warna-warni. Mereka melaporkan bahwa semua keadaannya aman (ayat 11). Lalu mengapa malaikat tersebut merespons keadaan aman tersebut seakan-akan Tuhan sedang berdiam diri tidak menyatakan belas kasih kepada umat-Nya? Karena keadaan aman yang dirasakan oleh bangsa-bangsa, padahal umat Tuhan sedang menderita merupakan petunjuk jelas bahwa bangsa-bangsa tersebut sedang melawan Allah dengan menjadi penyebab umat Tuhan menderita. Bahkan Tuhan menuding bangsa-bangsa itu sebagai penyebab penderitaan umat-Nya berkepanjangan: “sementara Aku murka sedikit” bangsa-bangsa itu “telah membantu menimbulkan kejahatan” (ayat 15). Tuhan tidak berdiam diri, walaupun malaikat itu menyebut tujuh puluh tahun umat Tuhan menderita. Angka 70 tahun menunjuk kepada pembulatan masa pembuangan yang dinubuatkan Yeremia mulai 587 sM sampai kepada masa Zakharia bernubuat (ayat 520 sM). Walau umat Tuhan sudah diizinkan kembali ke Yerusalem untuk membangun bait Allah oleh Koresy, raja Persia pada 539 sM, kenyataannya banyak rintangan, sehingga sampai saat itu, rumah Tuhan masih belum dibangun.
Penglihatan ini hendak menghibur umat Tuhan pasca-pembuangan, bahwa Tuhan tidak berdiam diri. Dia sedang bergiat membela umat-Nya. Celakalah musuh yang merongrong umat-Nya! Penghiburan buat umat Tuhan masa lampau juga penghiburan buat umat-Nya masa kini. Walaupun penebusan Kristus dan pengampunan-Nya telah kita terima, hidup kita masih diwarnai permusuhan dari dunia. Bahkan orang percaya dianiaya dan dibunuh. Namun kita tahu satu hari kelak Tuhan akan membebaskan kita dari dunia ini!
Dalam keadaan apapun yang kita alami, tetaplah percaya pada Tuhan, sebab Dia tidak berdiam diri!
June 18, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah)
belum ada komentar
Dukung dan Doakanlah
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
Dukung dan doakan keluarga besar Pdt Gideon Zakaria dari GSJA Cenderawasih, Jakarta, karena istri tercinta telah dipanggil Tuhan ke rumah Bapa. Doakanlah supaya Tuhan mencurahkan penghiburan besar bagi segenap keluarga yang ditinggalkan. Doakan juga supaya Tuhan memberkati semua ibadah penghiburan, pelepasan jenazah sampai kepada penguburan.
|
SUSUNAN KEBAKTIAN PENGHIBUR ALMARHUMAH IBU LYDIAWATY KIM |
|||||
|
HARI |
TANGGAL |
PUKUL |
PENGKOTBAH |
KETERANGAN |
|
|
SENIN |
10-Jun-13 |
19.30 |
PDT. YAKUP TJIA | KETUA WIL 1 GSJA JAKBAR | |
|
SELASA |
11-Jun-13 |
19.30 |
PDT. BAMBANG IRAWAN | CMN JGS JAKBAR | |
|
RABU |
12-Jun-13 |
19.30 |
PDT.JONATHAN BUDIMAN | JGS JAKBAR | |
|
KAMIS |
13-Jun-13 |
09.00 |
PDT.YUSAK RUSLIM | BPD GSJA DKI |
HARI PELEPASAN |
|
10.30 |
PDT. MULYANTO | BPP GSJA DI INDONESIA |
HARI PENGUBURAN |
||
June 12, 2013
Kategori : Berita Dukacita, Berita Gereja Lokal, Berita Terkini
belum ada komentar
Fokus Terhadap Firman!
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau menghiraukan Aku,
demikianlah firman Tuhan”
(Zakharia 1:4)
Ada beberapa kata dalam bahasa Ibrani yang mewakili kata mendengar. Dua di antaranya adalah qashab dan azan. Kedua kata ini memiliki pengertian harfiah yang mirip, yakni “memberikan telinga” untuk mendengar dan memperhatikan. Juga berhubungan dengan kata “taat dan mengambil tindakan”. Jadi, bukan sekadar mendengar, melainkan juga memperhatikan dengan saksama dan menanggapinya dengan ketaatan dan tindakan.
Salah satu dosa nenek moyang bangsa Israel yang diungkapkan oleh Zakharia adalah “tidak mendengar”. Bahkan, tidak juga berarti “masuk telinga kanan keluar telinga kiri”, sebab itu pun masih termasuk aktivitas mendengar walau tidak memperhatikan dan menaati. Dosa nenek moyang Israel adalah tidak menghiraukan. Mereka tidak menggubris firman Tuhan, mengabaikan dan menganggapnya tidak penting. Dan, itulah yang membuat mereka tidak mau berbalik kepada Tuhan.
Ada tiga kelompok orang berkaitan dengan mendengar. Pertama, orang yang mendengar dan memperhatikan lalu menanggapinya dengan ketaatan. Kedua, orang yang mendengar, tetapi setelah itu lupa apa yang didengar. Ketiga, orang yang sama sekali tidak menghiraukan. Termasuk kelompok manakah Anda? Cara paling mudah untuk menilainya adalah tatkala kita sedang mendengarkan firman Tuhan dalam ibadah. Apakah kita antusias mendengarkan firman Tuhan karena membutuhkan petunjuk hidup baru? Atau, kita hanya mendengar lalu lupa setelah keluar dari pintu gereja? Atau, jangan-jangan kita lebih asyik bermain handphone atau membaca warta jemaat tatkala firman Tuhan disampaikan? Silakan menguji diri sendiri.
“Fokuslah mendengar firman Tuhan ketika kita dalam suasana ibadah; jangan beri kesempatan kepada hati
dan pikiranmu untuk hal-hal yang lain!”
June 11, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Haggai (Renungan Alkitabiah dari Kitab Haggai)
belum ada komentar
Jadilah Umat Yang Taat!
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Aku akan mengambil engkau … dan akan menjadikan engkau seperti cincin meterai;
sebab engkaulah yang Kupilih”.
(Hagai 2:24)
Di beberapa kerajaan zaman dahulu, seorang raja yang ingin menandai atau mengamankan sebuah dokumen akan menyegelnya dengan menggunakan cincin meterainya. Ia menekankan cincinnya pada lilin yang lunak dan membiarkannya mengeras sehingga membentuk segel yang bertanda sama dengan cincin itu. Cincin meterai mewakili kemuliaan, kekuasaan, dan jaminan milik pribadi sang raja, sehingga benda itu menjadi sangat berharga.
Dalam Hagai 2:24, kita membaca bahwa Allah berkata Dia akan membuat Zerubabel “seperti cincin meterai”. Pernyataan ini begitu luar biasa, karena sebelumnya Tuhan telah menyatakan penghakiman kepada kakeknya, Konya bin Yoyakim dan garis keturunannya (Yeremia 22:24- 30). Allah berkata bahwa meskipun seandainya Konya adalah cincin meterai, Dia akan tetap mencampakkannya.
Bertahun-tahun kemudian, Zerubabel memimpin sekumpulan orang Yahudi kembali ke Yerusalem setelah masa pembuangan di negeri Babel. Karena ketaatannya kepada Allah dan usahanya dalam membangun kembali Bait Suci, Tuhan memperlakukan Zerubabel sebagai cincin meterai yang berharga (Hagai 2:24).
Kita tahu bahwa Allah itu adil dan dosa memiliki konsekuensinya sendiri. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Allah juga berbelas kasih dan Dia memberkati orang-orang yang melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Dengan menaati Tuhan, kita juga dapat mengalami sukacita karena menjadi seperti cincin meterai Allah yang berkenan bagi-Nya dan berguna bagi kehendak-Nya.
“Ketaatan adalah jalan menuju berkat! Pemberontakan adalah jalan menuju kehancuran!”
June 10, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Haggai (Renungan Alkitabiah dari Kitab Haggai)
belum ada komentar
Intim Dengan Tuhan
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima
dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!”
(Hagai 2 : 19)
Ada banyak hal yang mempengaruhi kehidupan seseorang, mulai dari keadaan lingkungan, keluarga, pergaulan, dan lain sebagainya. Namun di atas semua itu, ada satu faktor terpenting yang kerap dilupakan banyak orang, yaitu hubungan pribadi dengan Tuhan. Hal itulah yang terjadi pada Bangsa Israel di masa pelayanan nabi Hagai. Bangsa itu berusaha keras membangun kehidupannya, tapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lantas apa yang kurang? Melalui pernyataan profetisnya, Hagai menyatakan bahwa ketiadaan Bait Suci di tengah bangsa itu adalah penyebab semua kemandegan yang terjadi.
Pernahkah kita merasa telah banyak bekerja keras dan berkurban demi kehidupan yang lebih baik, tetapi malah mendapati semuanya itu seolah sia-sia. Tidak ada perubahan berarti dalam kehidupan kita. Keributan demi keributan yang mewarnai rumah-tangga bukannya mereda tapi malah makin parah, kondisi keuangan tetap paspasan bahkan kerap minus, dan lain sebagainya. Namun melalui firman Tuhan, saat ini kita diingatkan untuk melakukan introspeksi total atas kehidupan kita. Terutama tentang bagaimana keadaan hubungan pribadi kita dengan Tuhan.
Kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan umat-Nya hidup dengan standar biasa-biasa saja, atau malah di bawah standar alias berkekurangan. Dia mau kehidupan kita berbeda sehingga menjadi kesaksian iman bagi setiap orang yang melihatnya. Perhatikan janji Tuhan ini: “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia” (Ul. 28:13). Untuk itu, selain harus berani mengusahakan dan membayar harganya, kita juga harus memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Misalnya dengan semakin banyak berdoa, lebih serius dalam membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan.
“Bangunlah mezbah Tuhan dan kedekatan nyata dengan-Nya dalam kehidupan kita.”
June 9, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Haggai (Renungan Alkitabiah dari Kitab Haggai)
belum ada komentar
Jagalah Kekudusan Rumah Tuhan!
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Maka berbicaralah Hagai, katanya: “Begitu juga dengan umat ini dan dengan bangsa ini di hadapan-Ku, demikianlah firman Tuhan,
dan dengan segala yang dibuat tangan mereka; dan yang dipersembahkan mereka di sana adalah najis.”
(Hagai 2:15)
Kekristenan memang tidak mengultuskan gedung gereja dan segala barang yang ada di dalamnya. Sebab semuanya itu bukan benda keramat, melainkan benda mati biasa yang bisa rusak dan hancur, tidak punya kekuatan apa pun. Walaupun demikian, bukan berarti kita bisa bersikap sembarangan dan tidak perlu menjaganya, karena gereja adalah tempat kita beribadah kepada Tuhan.
Hal itu jugalah yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel ketika mengizinkan Hagai membangun Bait Suci. Tuhan meminta agar pembangunan tersebut dijauhkan dari hal-hal najis, termasuk segala persembahan bagi pembangunan Bait Suci tersebut. Bait Suci memang hanyalah sebuah bangunan yang dapat dihancurkan, tetapi itu tidak membuat Allah membiarkan bangsa Israel membangunnya secara sembarangan. Allah menghendaki agar pembangunan Bait Suci dijalankan dengan kekudusan. Sebab Bait Suci adalah lambang kehadiran, kemuliaan, dan kekudusan Allah.
Allah mau agar kita pun menjaga kebersihan dan kekudusan gereja. Banyak hal yang sebenarnya dapat kita perbuat, bahkan dari hal-hal kecil. Misalnya menjaga kebersihan kamar mandi, tempat parkir, atau ruang ibadah—tidak membuang bungkus permen atau ludah sembarangan di dalam gedung gereja atau tempat ibadah, tidak makan dan minum di ruang ibadah. Kita dapat juga menjaga dan merawat barang-barang yang ada di gereja seperti mimbar, kursi, dan alat-alat musik.
Mari kita buat gedung gereja dan segala perlengkapannya bersih dan asri, bukan hanya supaya enak dipandang, melainkan juga agar lambang kekudusan-Nya tetap tampak.
“Jagalah kekudusan Rumah Tuhan dengan bersikap dan bertindak kudus.”
June 9, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah)
belum ada komentar
Semangat yang Baru
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman Tuhan; bekerjalah,
sebab Aku ini menyertai kamu”
(Hagai 2:5)
Kitab Hagai yang ditujukan kepada orang Yahudi yang telah pulang dari tempat pembuangan ke Yerusalem memberikan contoh kepada kita bagaimana kita harus memiliki semangat dalam menjalani hidup ini. Mulanya mereka bersemangat untuk membangun kembali Bait Suci, namun tiba-tiba mereka menjadi lesu. Teringat akan kemegahan Bait Suci yang Salomo, mereka merasa pekerjaan mereka tidak ada artinya. Mereka membutuhkan semangat baru. Tanpa semangat yang baru maka mereka pasti tidak bisa berbuat lebih banyak lagi bagi pekerjaan Tuhan, malah akan membuat mereka makin terpuruk secara rohani. Namun, dengan semangat yang baru, maka Allah berjanji akan menyertai mereka.
Bagaimana kita dapat memperoleh semangat baru? Sebagian orang dapat memperolehnya dari kelompok yang mereka ikuti. Yang lain dengan cara bergantung pada prestasi mereka sendiri. Ada juga yang mencoba membangkitkan kepercayaan diri dengan cara banyak bicara. Namun semua itu tak lebih dari sikap menutupi kelemahan dan kekuatiran belaka.
Sebagai umat Allah, kepercayaan diri kita timbul dari hubungan kita dengan Dia. Hidup dekat bahkan makin intim dengan Tuhan akan menambah semangat kita di dalam Tuhan. Dia selalu menyertai kita. Kita adalah umat kepunyaan-Nya. Bila kita memegang teguh kebenaran ini, kita akan memiliki semangat untuk terus bekerja dengan cara-cara yang menyenangkan Tuhan dan membawa sukacita bagi kita.
“Kita akan mendapat semangat untuk bertahan manakala bersujud kepada Tuhan.”
June 8, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah)
belum ada komentar
Membangun Gereja-Nya
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
“Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”
Nubuat Hagai di dalam Kitab Suci acap kali dilewatkan. Padahal di dalamnya terkandung banyak hal penting bagi kita. Kitab yang singkat ini berisi empat pesan Allah kepada orang-orang buangan Yahudi yang telah kembali dari Babel. Misi mereka adalah membangun kembali Bait Allah di Yerusalem. Mereka mengawalinya dengan baik. Namun kemudian semangat mereka menyusut dan justru membangun rumah bagi mereka sendiri. Dalam pesan pertamanya, Hagai bertanya, “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (1:4).
Di dalam pesan keduanya (2:2-10), Hagai bertanya apakah ada orang yang mengingat bait Allah yang dibangun oleh Salomo dan dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar. Ternyata tidak banyak orang tua yang pernah mengalami pembuangan itu, yang dapat mengingat kejayaan masa silam. Jika dibandingkan, proyek pembangunan yang diabaikan tersebut tampak menyedihkan.
Marilah kita renungkan selama beberapa saat tentang pekerjaan membangun gereja. Bagi kita, gereja merupakan tubuh Kristus, yaitu orang-orang percaya itu sendiri (1 Korintus 12:27). Misi kita sebagai pengikut Yesus adalah menjadi kuat, mengabdi, bertumbuh, dan bersaksi serta membawa jiwa bagi Tuhan.
Bagaimanakah keadaan jemaat yang kita hadiri? Apakah jemaat itu sibuk mengerjakan pekerjaan Allah? Apakah kita juga terlibat dalam hal yang mulia itu? Ataukah pikiran kita telah terganggu dengan pekerjaan membangun kehidupan kita sendiri sehingga tidak lagi peduli dengan pekerjaan Tuhan?
“Komitmen kepada Tuhan itu seharusnya berjalan seiringdengan komitmen kepada gereja-Nya.”
June 7, 2013
Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah)
belum ada komentar
MENYENANGKAN HATI TUHAN
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
Zakharia 7: 1-14
Apa yang dapat membuat Bapak/Ibu merasa senang?
Kata “senang” diturunkan dari sebuah kata dalam bahasa German kuno “GLAT” (dalam bahasa Inggris “GLAD”), yang artinya adalah bersinar. Jadi tidak salah kalau lawan kata bersenang-senang yang artinya bersinar adalah ber-muram durja. Senang hati dapat dikatakan adalah senyum yang terlukis pada wajah Bapak/Ibu yang tidak terhapuskan.
- Bapak/Ibu dapat merasa senang karena sesuatu yang baik terjadi dalam hidup Bapak/Ibu, atau karena sesuatu yang buruk tidak menimpa keluarga Bapak/Ibu.
- Bapak/Ibu merasa senang karena menemukan selembar cek di dalam kotak pos Bapak/Ibu.
- Bapak/Ibu merasa senang karena hasil medical check up tidak menunjukkan adanya kelainan.
- Senang hati dapat timbul ketika Bapak/Ibu melihat keindahan matahari terbit di Bromo atau di Bali.
- Bapak/Ibu merasa senang melihat kehadiran seseorang yang Bapak/Ibu kasihi atau hanya karena berpegangan tangan dengan pasangan Bapak/Ibu.
- Bapak/Ibu juga merasa senang ketika melihat bayi tersenyum.
- Bapak/Ibu dapat merasa senang ketika menerima kabar baik melalui tilpon atau ketika menerima janji untuk masa depan, atau menerima pengampunan atas kesalahan di masa lalu.
- Percaya atau tidak, beberapa orang bahkan dapat merasa senang karena agama. Pemazmur dalam Mzm 92:5 menyanyikan pujian tentang Tuhan: “Sebab telah Kau buat aku bersuka cita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.”
May 22, 2013
Kategori : Bahan Khotbah
belum ada komentar
Bersikap Tunduk!
Artikel oleh: Antonius Mulyanto
Bacaan Alkitab: Ibrani 13: 7 – 25
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” (Ibrani 13:17a)
Di zaman sekarang ini tidak mudah menemukan orang yang memiliki roh penundukan diri. Sebaliknya banyak orang yang memiliki roh pemberontakan. Memberontak berarti tidak tunduk pada otoritas, di mana hal ini pasti akan menimbulkan konflik, baik itu konflik antar sesama anggota dalam sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, atau bahkan suatu negara. Hari ini firman Tuhan mengingatkan agar setiap orang percaya memiliki roh penundukan diri. Kata taatilah dalam ayat nas di atas menurut teks aslinya berarti menyesuaikan, mengalah dan menaati. Sedangkan kata tunduklah berarti tunduk kepada otoritas.
May 1, 2013
Kategori : Biblical Devotion from Hebrew (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ibrani)
satu komentar












