Keberanian Dari Roh Kudus

Artikel oleh:

RK

“Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu”. (Kirah Para Rasul 4 : 29)

 

Dari pembacaan ini kita melihat adanya ketidaksenangan akan fenomena yang terjadi dalam kehidupan, di mana Yohanes dan Petrus sedang “melakukan pekerjaan pelayanannya”. Dan terbukti, bahwa hasil dari pengajaran mereka yakni di tempat dimana mereka menyampaikan berita tentang Yesus itu berbuah manis dengan jumlah 5000 orang yang percaya.  Dengan demikian, kepopuleran para Penguasa Bait Allah dan orang-orang Saduki merasa “tersaingi” oleh Yohanes dan Petrus. Dan hal itu dianggap oleh para Penguasa Bait Allah dan “sekutu”nya sebagai ancaman yang serius, yang pada akhirnya berdampak pada penangkapan Yohanes dan Petrus yang kemudian dihadapkan pada sidang Mahkamah Agama.

Apakah Yohanes dan Petrus merasa takut ketika berhadapan dengan para penguasa dan sekutunya? Ternyata tidak. Lalu apa yang menyebabkan para rasul “sedemikian beraninya” berhadapan dengan “para penentangnya”. Adakah kelebihan, kekuatan, kekayaan, kewibawaan duniawi yang mereka miliki? Ternyata, kepercayaan mereka yang sungguh pada apa yang mereka ajarkan dan penyerahan mereka pada kekuatan Roh Kudus yang memampukan dan memberi keberanian penuh kepada mereka. Dengan begitu, maka resiko dari apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mereka pikirkan.

Lalu mengapa dalam kehidupan kita sangatlah “sulit” bagi kita untuk beriman seperti apa yang para rasul lakukan? Ada begitu banyak hal yang merintangi “kesungguhan” kita untuk bersandar pada Tuhan. Atau mungkin juga kita merasa bahwa pengajaran tentang menyandarkan diri pada Tuhan dan kuasa Roh Kudus adalah bahagian dari kehidupan “mimpi” yang ditawarkan untuk meninabobokan kita untuk menghadapi realita kehidupan yang serba kompleks ini. Padahal yang sesungguhnya adalah bahwa kehidupan menyandarkan diri pada Tuhan dan kuasa Roh Kudus adalah suatu hal yang sepatutnya hidup dan berakar dalam kehidupan kita. Tuhan kita bukan Tuhan yang mati, tapi Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup.  Setiap janji dan perbuatanNya adalah nyata dan dipercaya mampu membebaskan kita dari ketidakbenaran dunia ini.

 

Yakini hal itu, maka kita akan semakin berani menjalani hidup ini, bahkan berani menjadi saksi Kristus.

 

 

 

June 25, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Bekerja Bersama Allah

Artikel oleh:

Bekerja Sama

“Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3 : 6)

 

Ada banyak orang Kristen di Amerika yang cenderung menempatkan tindakan mendengarkan Firman sebagai tujuan akhir.  Howard E. Butt, Jr, seorang pengkhotbah awam, sedemikian prihatin akan kenyataan tersebut sampai-sampai dia mengatakan bahwa, “Mendengarkan Firman adalah dosa orang Amerika yang terbesar!”

Di sebuah gereja Presbyterian yang sangat bersejarah, di Washington D.C., Butt menentang hal mendengarkan Firman sebagai “satu pelarian” semata-mata.  “Allah menghendaki transformasi.” lanjutnya “Orang percaya harus beranjak dari sekedar pendengar-pendengar Firman menjadi pengerja-pengerja Allah.”

Ya, itu benar sekali !  Bukan hanya di Amerika, tetapi di mana pun juga.  Allah senang kita telah menjadi  anak-anaknya.  Akan tetapi, Allah akan jauh lebih senang lagi jika mau menjadi kawan-kawan sekerja-Nya.  Ya, itu indah sekali!  Setiap orang percaya dipanggil Allah untuk bekerja bersama Dia menyelamatkan lebih banyak dan semakin banyak orang yang lain .

Seperti Petrus dan Yohanes, seorang yang bekerja bersama Allah akan memandang sesamanya seperti Allah memandang mereka.  Itu sebabnya, ketika bertemu dengan seorang pengemis yang lumpuh, hati mereka tergerak oleh belas kasihan, lalu melayani dia.

Bagaimana dengan saya dan Saudara?  Konon ada tiga kelompok orang percaya:

  • Orang tidak pernah mau bergerak,
  • Orang yang bergerak semaunya sendiri,
  • Orang yang bergerak bersama Allah.

Jika kita masuk kelompok ketiga, segeralah berkemas karena ada banyak pekerjaan besar yang telah menantikan kita.

 

Di dunia ini ada banyak penggangguran, tetapi di dalam Kerajaan Allah selalu ada kebutuhan besar untuk menambah tenaga kerja yang mau bekerja bersama Allah.

 

June 24, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Gaya Hidup Komunitas

Artikel oleh:

Komunitas

Mereka Terus memuji-muji Allah dan disenangi oleh semua orang. Setiap hari jumlah mereka terus bertambah” (KPR 2 : 47)

 

Gaya hidup berkomunitas ternyata sudah dimulai sejak zaman murid-murid Tuhan hidup setelah kenaikan Yesus. Orang-orang yang bertobat di bawah pelayanan mereka di Yerusalem berjumlah ribuan orang, tidak ada gedung gereja yang sanggup menampung mereka semua. Sementara itu mereka membutuhkan sebuah forum untuk berkomunitas. Akhirnya mereka berkumpul baik di bait suci, di rumah-rumah tertentu setiap hari untuk memuji Tuhan, mendengarkan pengajaran para rasul, saling berbagi kasih, saling mengadakan mujizat. Ternyata gaya hidup seperti itu menarik perhatian orang-orang lain di sekitar mereka, sehingga dengan sukarela mereka mau bergabung untuk menerima keselamatan.

Dalam kehidupan setiap hari, kita banyak berjumpa dengan komunitas-komunitas, contohnya: komunitas kantor, komunitas sekolah, komunitas lingkungan rumah, dan lain-lain. Tapi pertanyaannya apakah kita yang memberi pengaruh positif atau mereka yang memberi pengaruh negatif? Komunitas dalam zaman rasul-rasul memberi kepada semua anggotanya rasa aman, nyaman tanpa ada rasa curiga atau mencari keuntungan sendiri. Mereka bertumbuh bersama dan dibangun kearah kedewasaan rohani yang semakin lama semakin kuat dan berpengaruh.

Saudara, komunitas seperti itulah yang sedang kita usahakan dan doakan. Dimana setiap anggota jemaat dapat bertumbuh dalam hidup rohaninya dan semakin diberkati dan menjadi berkat. Dan tak kalah pentingnya, memiliki etos Rajawali yang unggul, yaitu: rajin, andalkan Tuhan, jujur, antusias, wawasan luas, akur, luwes, dan inovatif.

 

Bangunlah gaya hidup komunitas yang baik, positif, dan rohani, sehingga mampu berpengaruh bagi banyak orang untuk datang kepada Kristus.

 

June 23, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Roh Kudus Tercurah

Artikel oleh:

RK

“Akan terjadi pada hari-hari terakhir–demikianlah firman Allah–bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” (Kisah Para Rasul 2 : 17b)

 

Sekalipun hari Pentakosta tidak dirayakan semeriah hari Natal ataupun hari Paskah, bukan berarti hari Pentakosta bukanlah peristiwa yang penting.  Bagi orang-orang Yahudi jelas moment pentakosta adalah momen yang sangat penting.  Bagi mereka, hari pentakosta itu merupakan hari panen besar-besaran, yang menunjukkan pemeliharaan Tuhan.  Semua itu terjadi di hari ke-50 setelah pembebasan dari perbudakan Mesir, karena itu mereka menyebutnya pentakosta, yang berarti: hari ke-50.  Bagi Kekristenan saat ini pun hari pentakosta juga merupakan peristiwa yang penting.  Pentakosta melambangkan sebuah era baru dimana Tuhan bekerja dalam kehidupan anak-anak-Nya melalui Roh Kudus.  Memasuki zaman kisah rasul sampai zaman kita tinggal sekarang,  kita hidup dalam zaman Allah Roh Kudus; dimana Roh Kudus yang  berperan menjaga iman orang-orang percaya, dan memelihara kehidupan orang-orang percaya. Sampai saat ini Roh Kudus terus bekerja atas hidup orang percaya.

Sebelum peristiwa Pentakosta murid-murid bersehati berdoa menantikan janji Tuhan Yesus. Karena itu, dalam ayat 1-13 dicatat penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, sehingga di Yerusalem orang-orang Yahudi dari segala bangsa memahami kebenaran yang mereka beritakan. Jadi kebenarannya adalah bahwa semua peristiwa dimulai oleh Roh Kudus. Pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukan oleh rasul-rasul sampai berdirinya gereja adalah dimulai oleh Roh Kudus. Ketika Roh Kudus belum turun, tampaknya rasul-rasul tidak ada harapan, tapi begitu Roh Kudus turun mereka penuh dengan kuasa.  Demikian juga gereja-gereja masa kini, ketika ada masalah, perpecahan bukan satu-satunya jalan keluar tapi kita harus kembali kepada pimpinan Roh Kudus dan mohon Dia membuka jalan.

Jadi dapat dikatakan bahwa seseorang yang mempunyai Roh Kudus adalah seseorang yang mampu menjadi saksi bagi banyak orang.  Karena jika Roh Kudus ada dalam pribadi kita, tidak bisa tidak, ia akan mendorong kita untuk menjadi saksi-saksi Kristus.

 

Semakin seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, semakin kehidupannya menjadi saksi dan berkat bagi banyak orang. 

 

June 22, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Bawalah Dalam Doa!

Artikel oleh:

Bawalah Dalam Doa

“Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini..” (Kisah para Rasul 1 : 24)

 

Persekutuan yang hidup di antara para murid Yesus sangat terguncang selama beberapa hari oleh dua peristiwa yang sangat mengerikan. Para murid sangat terpengaruh oleh kematian Guru mereka di kayu salib. Kematian-Nya sangat menyakitkan bagi mereka. Pada saat yang sama, mereka juga sangat terkejut karena perbuatan Yudas yang membunuh dirinya setelah ia mengkhianati Kristus. Di dalam Yesus ada kepenuhan Keilahian berdiam di dalam diri-Nya; sedangkan Yudas justru dipenuhi dengan roh jahat, yang masuk ke dalam dirinya.  Kehilangan Yudas menyebabkan para murid harus memilih satu lagi untuk menggantikannya. Karena itu mereka berkumpul untuk memilih salah satu dari pengikut Yesus yang setia, yang pernah menjadi saksi mata kehidupan Yesus.

Kisah ini mengajarkan kita dalam hal menentukan pilihan siapa pemimpin yang terbaik, bagaimana dulu para rasul menentukan pilihan untuk menggantikan jabatan rasul yang ditinggalkan oleh Yudas si penghianat itu.  Petrus yang mewakili para rasul lain menyatakan bahwa pengganti Yudas haruslah orang yang senantiasa datang berkumpul dengan para rasul Yesus Kristus sejak dari baptisan Yohanes hingga Yesus diangkat ke sorga. Masalahnya, para rasul tersebut tidak hanya memiliki satu melainkan dua calon yang memenuhi syarat, yakni Matias dan Yusuf Barsabas. Sehubungan hanya satu orang saja yang dibutuhkan, maka para rasul harus memilih. Proses pemilihan kemudian berlanjut dengan doa (Ay 24-25).

Belajar dari pengkhianatan Yudas, mereka sadar bahwa faktor terpenting yang harus ada dalam diri seorang murid adalah ketulusan hati, bukan mencari orang yang hebat. Maka mereka pun berdoa kepada Tuhan meminta petunjukNya. Akhirnya, Tuhan memilih Matias, tokoh yang tidak terkenal. Namanya tak pernah muncul dalam kitab Injil maupun surat Rasuli. Ia bekerja dibalik layar. Namun, ketulusan hatinya membuat Tuhan berkenan atas dirinya.

 

Doa adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah!

 

June 21, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Menjadi Saksi

Artikel oleh:

Menjadi Saksi

“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”.
(Kisah Para Rasul 1 : 9)

 

Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga bukanlah akhir dari karya penyelamatan Tuhan Yesus, sebab setelah babak pertama yakni misi penyelamatanNya atas dunia yang berdosa ini, maka sekarang kita memasuki babak kedua yaitu bahwa Tuhan Yesus tetap bekerja melalui Roh Kudus (Kis. 1:1-2). Dan sambil kita menantikan babak ketiga yaitu ketika Yesus datang kembali sebagai Hakim yang adil (ayat 11).  Kenaikan Kristus ke sorga membuka jalan dan menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa kita akan turut diangkat dan ditinggikan. Hal ini menjadi harapan yang pasti bagi setiap orang percaya, Kristus telah menyediakan tempat di pangkuan Allah Bapa. Sebagaimana Kristus telah diangkat dan di tinggikan maka demikianlah kita sebagai orang yang percaya kepadaNya juga di angkat dan ditinggikan dalam kehidupannya.

Dari peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ini kita telah melihat bagaimana kesempurnaan kuasa dari Allah, bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan dan Allah yang Esa. Sehingga tidak ada yang harus kita ragukan lagi dari Allah. Walaupun Yesus telah terangkat ke sorga tapi bukan berarti mau menyatakan bahwa Tuhan Yesus tidak lagi bersama-sama dengan kita. Malah sebaliknya bahwa Dia akan hadir kepada setiap pribadi yaitu melalui Roh Kudus yang dicurahkan. Roh Kudus adalah kuasa Allah yang senantiasa tinggal dalam setiap pribadi yang mempercayai Tuhan Yesus sebagai Allah dan Juruselamat, seperti janji Tuhan Yesus yang tercatat dalam Matius 28: 20 “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senatiasa sampai kepada akhir zaman”.

Tuhan mencurahkan kuasa Roh Kudus bukan hanya sekedar Allah hadir ditengah-tengah kehidupan kita, namun lebih daripada itu supaya kita dimampukan oleh Tuhan menjadi saksiNya ditengah-tengah dunia ini. Kita tidak akan mampu menjadi saksi Kristus jika hanya mengandalkan kekuatan kita. Namun dengan kekuatan kuasa Roh-Nya, maka kita dapat menyatakan pada semua orang melalui kesaksian kehidupan kita bahwa Allah kita itu sungguh dahsyat dan berkuasa.

 

Pastikan melalui kehidupan kita, orang lain semakin ingin untuk mengenal Tuhan!

 

June 20, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Berkat Terbesar

Artikel oleh:

Berkat Terbesar

“Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru” (Yesaya 65 : 17)

 

Yesaya bernubuat mengenai hukuman bagi para penyembah berhala dan keselamatan bagi mereka yang setia kepada Tuhan. Dalam perikop kita hari ini, janji keselamatan itu diungkapkan secara lebih jelas dan rinci. Pemulihan yang Tuhan janjikan bagi umat-Nya itu juga digambarkan sangat dramatis, mengingatkan kita akan masa-masa awal penciptaan langit dan bumi.

Yesaya menggambarkan, ketika Tuhan memulihkan umat-Nya maka keadaannya seperti ketika Ia menciptakan langit dan bumi yang baru. Gambaran ini juga menegaskan bahwa semua penderitaan di masa lalu tidak akan mereka alami lagi. Suasana yang penuh sukacita meliputi umat-Nya.  Karya keselamatan yang Tuhan kerjakan ini akan dialami secara nyata oleh umat-Nya. Mereka akan merasakan berbagai bentuk berkat Tuhan. Mereka akan hidup dalam kesejahteraan sehingga mencapai usia yang panjang, menikmati hasil pekerjaan mereka, dan keluarga yang bahagia. Namun, lebih dari semua itu, mereka juga menikmati persekutuan yang intim dengan Tuhan dan dengan sesama.

Melalui bacaan ini ada beberapa hal yang dapat kita pelajari mengenai keselamatan: 1) keselamatan yang Tuhan kerjakan adalah sempurna, 2) berkat-berkat keselamatan itu juga sudah dapat kita nikmati selama kita di dunia, 3) puncak dari keselamatan itu bukanlah kesejahteraan material, melainkan pulihnya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Namun pada kenyataannya, dalam kehidupan orang-orang Kristen masa kini, pulihnya hubungan dengan Tuhan dan sesama sering tidak diperhitungkan sebagai berkat yang utama.

Sekarang, cobalah bandingkan janji Tuhan dalam bacaan hari ini dengan kehidupan Anda sendiri. Dari semua berkat yang Tuhan janjikan kepada umat Israel, berkat apa sajakah yang telah Anda nikmati dalam kehidupan Anda sekarang ini? Dari berkat-berkat tersebut, apa yang Anda pelajari mengenai karya keselamatan Tuhan dalam hidup Anda.

 

Berkat terbesar dari anugerah keselamatan adalah pulihnya hubungan Anda dengan Allah dan sesama. Sudahkan Anda mengalaminya?

 

June 19, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Tetap Percaya

Artikel oleh:

Tetaplah Percaya

“Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh” (Yesaya 62 : 1)

 

Keadaan Israel, Yerusalem khususnya sedang mengalami kehancuran. Yesaya melihat keadaan bangsanya seperti istri yang ditinggalkan suaminya. Sendirian dalam menjalani hidup dan keadaannya terasa hampa dan sunyi. Sunyi berarti tandus, seperti negri yang tidak memiliki kehidupan di dalamnya. Bangsa Israel seperti kehilangan kekuatan dan kebanggaannya, sandaran hidupnya.  Demikianlah ikatan antara Tuhan dengan umatNya digambarkan dengan persekutuan perkawinan, antara suami dengan istri. Kehilangan Tuhan adalah kehilangan segalanya dalam pandangan nabi Yesaya.

Namun dalam keadaan yang demikian, nabi tetap percaya bahwa ada saatnya Tuhan akan memulihkan umatNya sesuai janjiNya.  Pemulihan itu pada akhirnya akan mengembalikan bangsa Israel dalam hubungan bak suami istri, keterikatan yang sedemikian kuat dengan Tuhan, sehingga mereka akan disebut negeri ‘yang bersuami’ sebab Tuhan telah berkenan kepada mereka dan akan girang atas mereka.  Yesaya bukan semata meratapi kehancuran secara fisik yang dialami bangsanya, melainkan lebih dari itu kehancuran spiritual yang nampak jelas dibalik semua penderitaan mereka ditangkap dengan jelas oleh nabi Yesaya.  Dan itu yang membuat nabi ini gelisah dan tidak bisa tinggal diam. Ia begitu merindukan ada kebenaran yang kembali bersinar dari Yerusalem.  Bila kebenaran itu dimiliki oleh Yerusalem, maka semua keadaan mereka akan berubah dengan sendirinya. Kedudukan mereka di hadapan bangsa-bangsa lain kembali dipulihkan, terutama di hadapan Tuhan.

Mari kita belajar dari kepekaan nabi Yesaya untuk menangkap krisis kebenaran yang menjadi pemicu munculnya krisis dalam aspek-aspek hidup yang lainnya. Keberhasilan menangkap krisis yang sebenarnya pada akhirnya membuat Yesaya dapat menaikkan permohonan yang tepat kepada Tuhan dan merindukan pemulihan dalam hal yang tepat pula. Bukan secara jasmani yang terutama, tetapi pemulihan secara rohani dan pemulihan yang lainnya nanti akan mengikuti.

 

Meninggalkan Allah sama halnya dengan kehilangan segalanya untuk hidup.

 

June 18, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Puasa Yang Berkenan

Artikel oleh:

Berpuasa

“Sementara berpuasa, kamu berbantah dan berkelahi dan bertindak dengan kekerasan. Sangkamu cara kamu berpuasa menggerakkan Aku untuk mendengarkan doa-doamu?” (Yesaya 58 : 4)

 

Yesaya sebagai nabi Tuhan disuruh untuk berbicara tentang prilaku keagamaan umat Israel yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Mereka mengira dirinya sudah benar dan merasa benar karena sudah berpuasa dan mencari hadirat Tuhan sehingga mulai menyudutkan dan menyalahkan Tuhan karena harapan dan doa mereka tidak diperhatikan dan dipedulikan Tuhan Allah. Tuhan Allah menilai segala tingkah laku dan praktek keagamaan mereka. Hidup keagamaan mereka tidak menyenangkan hati Tuhan Allah.

Umat Tuhan pada masa itu berharap bahwa dengan melakukan ibadah puasa mereka akan mendapat ganjaran dari Tuhan. Tuhan akan meluputkan mereka dari hukuman dan malapetaka. Mereka menagih Tuhan! Namun ternyata Tuhan tidak dapat disuap melalui formalitas ibadah dan kesalehan palsu. Benar, mereka menjalankan puasa, tetapi kehidupan yang dijalani jauh dari makna ibadah puasa itu, yakni: perendahan diri dan pertobatan. Umat Israel hendak memisahkan ritual dari ritus hidup sehari-hari. Tuhan tidak menghendaki demikian. Tuhan Allah menilai puasa demikian bukan puasa yang dikehendakiNya; bukan puasa yang sesuai dengan perintahNya; bukan puasa yang menyenangkan hatiNya. Puasa yang dikehendaki Tuhan adalah bagaimana umat hidup saling mengasihi; tidak menyusahkan hidup orang lain; memberi makanan bagi yang lapar; memberi pakaian bagi yang telanjang; memberi tumpangan bagi yang tidak punya rumah; tidak menghakimi orang lain dengan kata-kata buruk; memberi kelepasan bagi yang tertindas dan melawan segala bentuk kejahatan yang ada. (58:6-9)

Dan ketika kita berpuasa, kiranya tidak membuat kita menjadi pribadi yang merasa diri benar dan paling benar sehingga mulai menghakimi orang lain dan menilai yang lain belum mengerti kehendak Tuhan yang sebenarnya.  Jika kita menyadari betapa besar manfaat puasa  itu, kiranya kita diingatkan untuk berlaku rendah hati dihadapan Tuhan dan sesama dan dijauhkan dari kesombongan rohani.

 

Kehendak Tuhan adalah kita mengalami pembaharuan spiritual ketika kita berpuasa dan beribadah kepada-Nya.

 

June 17, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Menjadi Terang

Artikel oleh:

Menjadi Terang

“Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari-Ku sampai ke ujung bumi.”

(Yesaya 49:6)

 

Israel sebagai hamba-Nya saat itu sedang mengalami penderitaan karena penjajahan dan pembuangan di Babel. Israel memikirkan tentang bagaimana mereka bisa menjadi bangsa yang utuh kembali. Namun, Tuhan mengingatkan bahwa mereka tidak boleh hanya memikirkan bangsa mereka sendiri. Kepada bangsa Israel, Tuhan mengatakan bahwa terlalu sedikit tugasnya dan impiannya jika hanya untuk menegakkan kembali suku-suku Yakub dan mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara (ay. 6). Mereka telah dipersiapkan untuk tugas yang lebih besar, yaitu menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya semakin banyak orang merasakan keselamatan dari Tuhan.

Allah hadir ditengah-tengah kehidupan manusia untuk membawa pembaharuan (ay.2), sehingga tidak hanya kepada bangsa Israel saja Allah datang membawa terangNya tetapi untuk seluruh dunia. Jadi, kita sebagai hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan harus menjadi terang bagi bangsa-bangsa di dunia ini, sehingga banyak bangsa-bangsa yang dahulunya masih memberhalakan alam ciptaan Tuhan, namun sekarang makin banyak bangsa-bangsa yang mengetahui siapa Allah sesungguhnya yang menguasai kehidupan ini.

Pernahkah kita menyadari bahwa Tuhan sedang memakai hidup kita untuk kehendakNya? Kita perlu merenungkan, peran apa yang perlu kita lakukan dalam melakukan kehendak Tuhan itu. Mungkin kita sadar, bahwa Tuhan menghendaki sesuatu yang perlu kita perankan, tetapi kita mengelak tugas yang mulia itu. Kita merasa tidak memiliki kemampuan. Kita merasa bahwa belum siap karena sibuk untuk menikmati dunia ini. Kita merasa takut tidak memperoleh dunia ini jika kita menuruti panggilan Tuhan. Padahal, Tuhan menjamin kehidupan umatNya, asalkan kita percaya padaNya.

Jangan biarkan beban dan pergumulan hidup membuat kita menjadi orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Melalui pergumulan hidup, Tuhan justru mempersiapkan kita agar bisa menjadi berkat bagi orang lain yang dalam pergumulan; agar melalui hidup kita, makin banyak orang dikuatkan.

 

Tuhan memanggil kita agar terang itu nyata bagi orang lain melalui hidup dan pelayanan serta perbuatan baik kita.

 

June 16, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar