Berkat dari Konferensi Misi Se-Dunia Ke-4 Di Bangkok (2)

Artikel oleh:

WORLD MISSIONS LEADERS FORUM

BANGKOK, THAILAND

brad walz

Wednesday, Feb 4th, 2015

So all can hear: Spirit Empowered Missions Today

By Brad Walz

Chairman WAGF Missions Commission

(Diterjemahkan oleh: Pdt. Stefano Indra Bramono –

Direktur Dep. Misi Luar Negeri GSJA di Indonesia)

 indra bramono

Agar Semua Mendengar: Misi yang diberi kuasa Roh Kudus Hari Ini.

 

Pendahuluan

 

Kegerakan Aseemblies of God dimulai secara spontan sebagai hasil dari kegerakan Roh Kudus. Kegerakan tersebut bermula hampir 110 tahun yang lalu. Dan secara organisasi kegerakan ini ditanggapi pada 100 tahun yang lalu. Kisah Pentakosta di abad ke 20 sangat menakjubkan. Tidak perlu diragukan bahwa gereja Pentakosta adalah sebuah kekuatan spiritual. AOG juga dikenal sebagai badan kerohanian ke-5 terbesar di dunia. Kalau anda tidak mengikut sertakan umat Katolik dan Ortodoks, dan hanya menghitung umat Protestan saja maka akan menjadi ke-3 terbesar. Dan akan menjadi terbesar kalau disempitkan menjadi golongan Evangelical saja.

 

Badan keagamaan menurut sumber sekular:

  • Gereja Katolik Roma: 1,2 Milyar.
  • Ortodoks Timur: 200 – 300 juta.
  • Anglikan: 80 juta (secara realistik akan lebih rendah karena status “State Church – Gereja Negara” di Inggris).
  • Lutheran: 70 juta (secara realistik akan lebih rendah karena status “State Church – Gereja Negara” di Jerman).
  • WAGF dan Persekutuan yang terkait: 67 juta.

 

AOG dan pergerakan pentakosta hari ini adalah hasil dari pencurahan modern dari Roh Kudus. Meskipun demikian, kita harus selalu mengingkatkan diri sendiri bahwa tujuan kuasa Roh Kudus dicurahkan adalah: Agar Semua Bisa Mendengar!

 

  1. Peran Roh Kudus dalam Amanat Agung.

 

Bukan saja Yesus berjanji akan memberi kuasa Roh Kudus, pada waktu yang   bersamaan saat Ia memberi Amanat Agung, tetepi ada prinsipnya juga: Yesus dalam bentuk daging  memiliki keterbatasan waktu dan tempat. Ia hanya bisa berada di suatu tempat pada suatu saat. Bersama Roh Kudus tidak ada batasannya. Ia bisa berada dimana saja dan bekerja melalui kita. Satu-satunya batasannya, adalah gereja sendiri (karena sebenarnya Roh Kudus tidak dapat dibatasi oleh kita). Kita adalah alatnya untuk mengabarkan Injil. Kalau kita memilih untuk pergi keseluruh dunia, maka Ia akan disana. Kalau kita memilih untuk tidak melakukannya, keberadaannya untuk gerejaNya akan terbatasi. Ia masih dapat menampakan diriNya pada orang-orang tak terjangkau melalui mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Ia masih dapat melakukan tanda-tanda heran. Tetapi tujuan untuk menjadi bagian dari penyampaian Injil tidak tercapai kalau gereja tidak taat dan pergi (menjangkau jiwa-jiwa).

 

  • Yohanes 16: 5 -15.
  • Yohanes 17: 6 – 11.

 

Yesus terbatasi dengan badaniahnya, tetapi Roh Kudus tidak terbatasi. Ia dapat berada dimana saja. Dan Ia bekerja melalui kita. Oleh karenanya startegi dari Tuhan untuk mengabarkan InjilNya, adalah dengan mencurahkan Roh Kudus.

 

  1. Peran Roh Kudus untuk mengkoreksi pengabaian Amanat Agung.

 

Gereja harus mengerti bahwa ketaatannya adalah dalam bentuk menanggapi Amanat Agung. Adalah gereja Antiokia (bukan Yahudi) yang menjadi gereja yang diutus, bukan mereka yang di Yerusalem. Kita seringkali mengalami romantisme pada gereja mula-mula dan mengatakan: “Kita mau menjadi Gereja Perjanjian Baru.” Dan mengabaikan beberapa kegagalan yang mereka miliki. Meskipun Yerusalem adalah tempat dimana pertama terjadinya kegerakan Roh Kudus, tetapi Antiokia menjadi ibu kota kegerakan misi pertama. Bukan saja gereja Yahudi tidak memiliki keyakinan untuk membawa Injil keseluruh dunia, bahkan mereka memiliki potensi untuk menentangnya.

 

Beberapa kali juga gereja masa kini, dan orang-orang besar di dalam Tuhan kurang memiliki keyakinan untuk memberitakan Injil untuk segala bangsa, kebudayaan, dan orang-orang yang belum terjangkau. Pertanyaan yang sering kita tanyakan di Argentina dan berbagai negara-negara lain adalah: bagaimana orang besarnya Tuhan, tertutup dari hati Tuhan, dan mengabaikan hati Tuhan?”

 

Contoh yang terbaik dapat dilihat pada Petrus:

Petrus adalah orangnya Tuhan, dipenuhi Roh Kudus, dan dipakai oleh Tuhan.

Hasil Evangelisasi (KPR 2:14, 41) Sebuah tanggapan yang menakjubkan yang hanya beberapa orang saja memilikinya dewasa ini. Sangat sedikit hari ini dapat melihat 3000 orang diselamatkan dalam satu hari.

 

Keajaiban dan Tanda-tanda heran:

  • KPR 3:6.
  • KPR 5:15 – 16.
  • KPR 9: 40 – 41.

 

Kuasa:

  • KPR 4:13.

 

Komitmen sekalipun dalam aniaya:

  • KPR 4: 29 – 31.
  • KPR 5: 41.

 

Pada saat kita tiba di KPR 10, bukan saja Petrus belum pergi ke orang “bukan Yahudi”, bahkan hal tersebut belum masuk dalam layar “radar” nya. Ia memiliki 100% visi untuk orang-orang Yahudi, untuk Yerusalem dan Yudea, tetapi memiliki 0% visi untuk Samaria dan seluruh ujung dunia.

 

Tuhan harus mengkoreksi visinya di KPR 10.

  • KPR 10: 9 – 23.
  • KPR 10: 44 – 48.

 

Reaksi dari gereja orang-orang Yahudi:

  • KPR 11: 1 – 3. Bagaimana anda menyukainya saat orang berkata-kata seperti itu kepadamu dan kepada kebudayaannu?
  • KPR 11: 18. Pemakaian kata-kata: “Jadi juga…. (dan) bahkan.”

 

Penglihatan (visi) Paulus dan Panggilannya:

  • KPR 9:15.
  • Roma 15:16.

 

Seberapa banyak dari kita disini adalah orang Yahudi? Seberapa banyak dari kita disini adalah buah dari pelayanan Petrus? Seberapa banyak adalah hasil buah pelayanan Paulus?

 

  • Reflesi Pertama: Tuhan tidak mengkoreksi visi dari Petrus di KPR 10 untuk membawa dia ke orang bukan Yahudi, tetapi Ia mengkoreksinya, supaya Petrus tidak lebih menghambat Paulus untuk menjangkau orang-orang bukan Yahudi dan untuk pergi ke ujung dunia.

 

Apakah kita memiliki visi untuk menjalankan misi? Atau kita malah menjadi penghambat bagi mereka yang menjalankannya. Kita telah melihat di Amerika Latin banyak orang-orangnya Tuhan, Peter-Peter lain yang menjadi penghambat orang yang Tuhan telah panggil di gereja untuk pergi ke Samaria dan sampai ke ujung dunia. Mereka adalah orang besarnya Tuhan, tetapi dengan visi hanya sampai “Yahudi”, dan bukan kepada orang bukan Yahudi (atau orang bukan percaya).

 

  • Refleksi kedua: Kita mengerti lebih baik sekarang kenapa Antiokia adalah sebuah ibu kota gerakan misi, dan bukan Yerusalem.

 

  • Refleksi ketiga: Roh Kudus tidak dapat memaksa kita untuk taat. Kalau fokus pada Roh Kudus dan mengabaikan tujuan dari kedatangannya, maka kita akan mentrasformasikan diri kita ke sebuah kelompok “terasa baik, dan berkati saya” (Feel good, bless me) dan bukan agen Amanat Agung.

 

  1. Kuasa Roh Kudus dan Kegerakan Misi pada Kebangunan Pentakosta.

 

Roh Kudus dicurahkan pada awal 1900-an dan kegerakannya secara otomatis adalah menjadikan kegerakan misonari. Karena tujuan dari pencurahanNya juga mendapat tanggapan. Kenapa banyak dari gereja AOG merayakan hari jadinya ke 100-nya sebelum merayakan hari jadi Amerika Serikat? Karena para misionaris  telah melakukan misinya sebelum AOG resmi didirikan. AOG didirikan secari resmi tujuan terbesarnya adalah untuk mefasilitasi pengutusan para misionaris. Pergerakannya adalah PENGUTUSAN (misionari).

 

Kebangunan dan kegerakan misi juga secara internasional. Tidak terbatas hanya pada satu negara. Tetapi beberapa negara, dan tidak lain bersifat internasional. Swedia pada satu sisi adalah negara kecil tetapi pada satu masa bisa mengutus 1000 misionaris. Beberapa ahli sejarah merasa bahwa setengah dari dunia Pentakosta dapat dirunut balik dan merupakan pengaruh dari tiga negara Norwegia, Swedia dan Finlandia. Australia dan Selandia Baru mempengaruhi Asia. Gerakan misi adalah gerakan internasional.

 

Kesalahan gerakan misi: Para perintis misionari menantang gereja-gereja baru untuk pergi dan menjangkau Yerusalem dan Yudea mereka, tetapi tidak mempersiapkan dengan perencanaan yang benar untuk menanam “Samaria dan ujung dunia.”

 

Bukti sejarah yang terungkap. Pada 1984 hanya ditemukan 1 buku di rak dari Fuller Theological Seminary yang terlibat dengan konsep “bukan misi dunia barat” (non western missions). Pada saat hal itu dibicarakan, hampir selalu terbatas pada Asia, sebagai sang “Macan Asia” yang bangkit mempengaruhi ekonomi dunia. Misi tersebut menjadi misi yang diasosiasikan dengan harta.

 

Kebangkitan gereja-gereja diasosiasikan dengan salah menjadi misi yang berkaitan dengan harta; mereka tidak menyadari bahwa beberapa negara-negara yang sekarang menjadi kaya dalam beberapa abad sebenarnya mengikuti kebangkitan Pentakosta, sebagian merasakan  karena sebenarnya mereka yang menjadi taat dan berkomitmen terhadap Injil, sedikit banyak memiliki pemikiran “misi hanya untuk mereka yang memiliki uang.” Ini bukan konsep Alkitabiah; misi tidak dimulai dengan uang, tapi dimulai dengan orang. Dan juga mereka tidak sadar terhadap observasi evangelis dari Argentina Carlos Annacondia, yang mengatakan:

 

“Meskipun dewasa ini  gereja dari 3 raksasa Norwegia, Swedia dan Finlandia sedikit banyak mengalami kemandegan dan bahkan mungkin juga menurun, tidak ragu dalam benak saya bahwa keadaan kecukupan dan kekayaan dari negara-negara ini telah membawa hasil peninggalan spiritual dari apa yang mereka telah lakukan dengan membawa Injil keseluruh dunia. Kita seringkali berfikir negara-negara kaya melakukan misi karena kekayaan mereka; tetapi pendapat saya negara-negara ini menjadi kaya karena mereka negara misionari. Argentina tidak akan menjadi negara yang diberkati sampai pertama kali menjadi negara misionari.”

 

Jadi bisa dikatakan, dengan berjalannya jaman, gereja-gereja dunia barat, tidak menanamkan visi: “Mereka juga bisa melakukannya,” akhirnya mereka merampas berkat yang mereka perlukan sendiri. Pertama, untuk mentaati Amanat Agung. Kedua, kemiskinan tidak akan pernah terputuskan dengan hanya menerima Roh Kudus dan mentalitas menerima, tetapi harus dengan memberi dan menuai.

 

Sekitar tahun 1968 samapai 1973 David Kinsinger, seorang misionari DFM (Department of Foreign Misssion, sekarang bernama AGWM – Assemblies of God World Mission) dari Costa Rica, melakukan observasi sebagai berikut:

 

“Saya sangat terkesima dan juga seperti merasa sedih dengan kenyataan pada saat masa cuti ke negara asal di Amerika Serikat (Furloughs: cuti untuk presentasi ke gereja donor dan mengumpulkan dana), pada saat saya berkhotbah ratusan kali tentang misi dan mendorong mereka untuk memberi untuk misi, mereka kurang menanggapi, sampai hampir mendekati masa akhir saya melayani dan berkhotbah tentang misi yang sama kepada orang-orang Costa Rica. Bahkan selama 28 tahun saya melayani di tanah asing, saya belum mendengar para misonary lainnya berkhotbah tentang tujuan dan dorongan untuk orang-orang Kristen memberi untuk para pelayan di tanah asing. Dan saya bertanya pada diri sendiri: “Mengapa?”

 

“Kami percaya pada pekerjaan misi. Merupakan bagian dari pengajaran dan peninggalan kami di AOG. Kami sebagai misionaris adalah produk dari pekerjaan misi. Kami juga memiliki kesempatan berharga untuk memberikan persembahan kepada para misionaris, dengan kepuasan bahwa dengan demikian kami turut terlibat pada penjangkauan jiwa-jiwa yang kami tidak dapat jangkau sendiri. Jadi mengapa kami harus menahan kesempatan yang sama untuk memberkati orang-orang Kristen di luar negeri; dengan menjadi gagal mengajarkan dan mengkhotbahkan mereka dan mendorong mereka untuk memberi dalam pemberian misi untuk dunia yang terhilang?”

 

“Adalah merupakan keyakinan saya, bahwa dengan gagalnya melakukan hal tersebut kita telah memisahkan diri dan terus memisahkan diri dari kesempatan usaha penginjilan. Bayangkanlah, apa artinya kalau kita dapat membangunkan 2,5 juta orang Kristen (32 juta pada tahun 2000) dalam pelayanan dari pemberian dana misi untuk mengutus para misionarisnya pada mereka yang terhilang. Dapat berarti sebuah usaha multiplikasi dari penginjilan yang belum pernah kita lakukan dalam generasi kita. Saya tidak percaya waktu Yesus mengatakan untuk pergi keseluruh dunia itu hanya ditujukan untuk sebagian orang Kristen di Amerika Serikat. Ini adalah usaha seluruh dunia dan setiap umat Kristen harus terlibat. Hanya dengan keterlibatan total dari seluruh dunia, maka penginjilan total dunia dapat berdampak.”

 

Tidak ada ungkapkan lebih baik lagi dari apa yang diungkapkan oleh Carlos Annacondia di atas.

 

  1. Roh Kudus mulai membangkitan “Pengutus-pengutus Baru.”

 

Adalah seorang profesor dari gereja Anglikan di sebuah universitas sekular di Amerika Serikat bernama Philip Jenkins, yang pertama membantu mengartikulasikan sebutan “Gerakan Global dari Selatan – The Global South,” dan mendokumentasikan kebangkitan kekuatan orang-orang Kristen dari banyak bangsa bukan dunia barat. Dan Tuhan mulai membangunkan para pengutus-pengutus ini di tahun ’80-an dan ’90-an, dan bahkan dalam beberapa kasus masih terjadi sampai saat ini. Bagaimana mereka melakukan hal ini?: Dengan memanggil anak-anak muda.

Lukas 10:2.

 

Menggunakan Argentina sebagai ilustrasi, sewaktu mereka bangkrut di tahun 1984, Tuhan juga mulai memanggil anak-anak muda untuk pergi. Banyak yang tidak mengerti mereka, dan berfikir mereka gila. Argentina mengalami hyper-inflasi 10.000% di tahun 1989. Hanya sebagian kecil orang saja yang berfikir mereka dapat mengirimkan misionari-misionari. Tuhan bahkan memanggil anak kecil! Tercatat ada seorang anak perempuan berumur 5 tahun yang dipanggil pada tahun 1990 atau 1991. Tuhan memanggil anak-anak muda sewaktu gereja belum mengerti bagaimana cara mengutus. Tekanan terjadi dalam beberapa tahun bahkan sampai saat ini, karena hanya 25% dari gereja-gereja yang memberi dukungan dalam artian pemberian yang tetap, dan 50% memberi bukan untuk pekerjaan misi, tapi Tuhan tetap memanggil anak-anak muda dari gereja-gereja tersebut yang tentu saja membuat gembala sidangnya kurang merasa nyaman, karena merasa bahwa mereka adalah hamba Tuhan, tetapi masih sering memiliki visi “Petrus,” bukan visi “Paulus.” Bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus sedang memanggil “Pengutus-pengutus baru?” Saat Ia memanggil anak-anak mudaNya untuk pergi (merintis). Lukas 10:2.

 

Hari ini banyak misionaris yang diutus oleh “Pengutus-pengutus Baru” sebanyak mereka yang diutus oleh “Pengutus-pengutus tradisonal.” Kami mengadakan sensus, dan gambaran singkatnya adalah: Pengutus Tradisional mengutus 3.985 misionaris dibandingkan dengan Pengutus Baru mengutus 3.610 misionaris. (Ini hanya Misionaris Luar Negeri saja).

 

Buah Roh Kudus dari kebangunan para pengutus baru: Dimana 30 tahun lalu sebagian besar kekuatan misionari datang dari kurang 10 negara, tapi hari ini ada 96 struktur organisasi misi di 90 negara! (Target dari komisi misi WAGF: 100 negara akan memiliki Departemen Misi Luar Negeri dan semacamnya, dengan Pemimpin-pemimpinnya).

 

  1. Potensi untuk impact di dunia jika para pengutus baru menggunakan kuasa Roh Kudus pada Amanat Agung diluar “Yerusalem” dan “Yudea” mereka.

 

Dengan kata lain, menggunakan visi dari Paulus, bukan visi-nya Petrus. Tidak diragukan bahwa saat ini Afrika, Asia, Eropa Timur dan Amerika Latin tengah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menjangkau Yerusalem dan Yudea-nya mereka. Puji Tuhan! Tapi apakah mereka akan seperti Yerusalem dan menghentikan visi mereka untuk “Orang-orang Yahudi-nya?” Atau mereka akan menjadi seperti Antiokia dan menjadi sebuah “Ibu kota pekerjaan Misi?” Apakah mereka akan menjadi Petrus? Atau seperti Paulus? Apakah mereka memenuhi tujuan mereka untuk pencurahan Roh Kudus? Atau mereka akan mentransformasikan Roh Kudus kedalam sebuah “Kelompok saya merasa enak diberkati – Feel good bless me club?”

 

Mari luangkan waktu 3 menit lagi untuk  melihat statistik saat ini, dan potensi yang kita miliki apabila kita memiliki sebuah komitmen yang berbeda!

 

Statistik berikut ini datang dari sebuah tanggapan di tahun 2013, dari data nyata, bukan sekedar teori.

 

  1. Hari ini:

 

76,40% dari usaha misi (pribadi, bukan keuangan) masih datang dari 13 negara dan itu adalah kurang dari 10% gereja-gereja di dunia.

 

9,2% dari gereja-gereja dunia bertanggung-jawab untuk 76,40% usaha misi.

91,8% dari gereja-gereja dunia bertanggung-jawab hanya pada 23,60% usaha misi.

 

Ini adalah statistik pemberian/dukungan dana:

 

Pemberian dari gereja pengutus tradisional:

Per-tahun $ 12.849 ($ 1.070,75 per-bulan), atau $ 69,12 per-pengutus per-tahun ($ 5.76 per-pengutus per-tahun).

 

Pemberian per-kapita dari pengutus tradisional (kira-kira):

Per-tahun $ 64,73 ($ 5.39 per-bulan), atau $ 0,24 per-kapita pemberian dari pengutus tradisional (kira-kira), atau $. 0,02 per-bulan.

 

Pengamatan: Secara sekilas, ini sebuah kontras yang mencolok karena ada jurang kekayaan. Tetapi sesungguhnya lebih pada jurang visi secara realitas: Pemberian dari pengutus baru hanya $ 5.76 per-bulan per-gereja! Jurang ini tidak merefleksikan jurang ekonomi antara negara-negara barat dengan non-barat, atau negara berkembang dengan negara sedang berkembang. Itu menunjukkan refleksi dari misi visi pada waktu pengutus-pengutus baru menyadari akan panggilan dan mandat Tuhan untuk mereka.

 

 

B. Potensi yang ada:

 

Kita memiliki banyak negara-negara yang memilik 1 juta oran percaya didalam konteks negara termiskin. Kalau orang hanya akan memberi 10 sen dolar per-bulan, mereka akan memiliki 1 juta dolar per-tahun. Namun demikian situasi pemberian kepada misionaris ke negara lain hanya 20.000 dolar per-tahun, atau bahkan tidak ada sama sekali.

 

Per kapita pemberian dari pengutus-pengutus baru adalah $ 0,02 per bulan! Kalau pengutus-pengutus baru mau memberi hanya 20% dari nilai pengutus-pengutus tradisional ($ 1 per-bulan), maka penndapat akan menjadi $ 727.272.000 per-tahun, ditambah $ 284.426.000 dari pengutus-pengutus tradisional, untuk total keseluruhan lebih dari $ 1 miliard!

 

Mari tidak melihat dari perspektif uang. Itu menunjukan bahwa ide “Kita tidak bisa karena kita tidak memiliki sumber adalah kebohongan dari si musuh dan tidak benar, sekaligus tidak Alkitabiah. Mari kita lihat dari sudut pandang Manusia-nya. Ingat Lukas 10:2, tidak mengatakan “Ladangnya luas dan uangnya sedikit.” Kebanyakan negara-negara Barat memiliki sekitar 1-5 gereja-gereja yang akan mengirim misionari. Argentina telah menyentuh angka 10 gereja per misionari. Costa Rica berada di angka mendekati 7 gereja.

 

Angka Potensi Misionaris kalau setiap 10 gereja mengirim 1:

  • Afrika: 5.277
  • Asia-Pasifik dan Oceania: 3.225.
  • Asia bagian Selatan: 768.
  • Eropa: 2.081.
  • Amerika Latin: 14.886.
  • Amerika Utara (Aktual): 3.030.

 

Dari 90 pengutus, angka potensialnya bila setiap 10 gereja-gereja mengirim 1 misionari: 29.267 misionari. Dari seluruh World Assemblies of God Fellowship (WAGF) gereja-gereja dan titik-titik pekabaran Injil, bila 10 gereja-gereja mengirim 1 misionari: 36.345 misionari. Untuk mencapai angka 100.000 misionaris, maka 3.6 gereja-gereja seharusnya perlu mengirim 1 misionari.

 

Untuk mengingatkan kita lagi: hari ini kita memiliki 7.595 misionaris yang diutus oleh jejaring gereja-gereja WAGF. Kita memiliki potensi  unutk mengutus 36.345 dari mereka! Itu hampi 5 kali lipat dari apa yang kita kerjakan! Dan itu dengan rata-rata 1 misionari untuk setiap 10 gereja-gereja. Ada juga negara-negara yang melakukan dengan ratio 1 misonari untuk setiap 5 gereja-gereja.

 

 

 

 

 

March 18, 2015   Kategori : Umum  belum ada komentar

Rahasia Kebahagiaan

Artikel oleh:

“Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” (Kisah Para Rasul 16 : 9b)

Rahasisa Kebahagiaan

 

Tak ada seorang pun yang tidak ingin selamat dan bahagia atau dengan bahasa sederhana semua orang ingin bahagia. Namun, ternyata ada perbedaan definisi “bahagia” yang diberikan oleh dunia dengan Allah. Bagi dunia, kebahagiaan adalah ketika seseorang bisa meraih posisi jabatan yang tinggi, uang yang banyak, istri yang cantik, anak yang sehat. Segala sesuatunya selalu diukur dengan materi, materi, dan materi. Allah memberikan arti berbeda mengenai kebahagiaan. Dia sendiri adalah rahasia kebahagiaan bagi manusia yang mencarinya. Orang-orang yang menerima Allah tidak akan pernah mengalami kekecewaan karena janji-janjiNya selalu ditepati. Ketika Anda meminta pertolongan, maka pertolongan-Nya datang di saat yang tepat. Ketika Anda memohon kesembuhan maka kesembuhan-Nya Anda terima. Bahkan semua yang Anda butuhkan telah Dia sediakan sebelum Anda meminta kepada-Nya.

Penglihatan Paulus tentang orang-orang di Makedonia itu membutuhkan kebahagiaan dan keselamatan yang sejati. Dan hal itu hanya dapat diberikan oleh Tuhan Yesus. Tetapi bagi orang-orang seperti orang di Makedonia, mereka membutuhkan orang-orang yang memiliki beban atau panggilan untuk menjadi penyambung lidah Allah. Siapakah yang mau pergi untuk memberitakan keselamatan dari Tuhan?  Sampai kini pun mesih banyak orang yang berteriak seperti orang Makedonia “…….tolonglah kami!”.  Apakah Anda bersedia membawa kabar keselamatan dan kebahagiaan sejati untuk mereka yang membutuhkannya?

Sebab, hanya satu jalannya, yaitu setiap orang harus menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda secara pribadi. Menolak-Nya berarti siap menjalani kehidupan yang menyedihkan. Ingatlah bahwa kebahagiaan yang diberikan oleh dunia ini adalah semu dan sementara, tetapi kebahagiaan yang Allah berikan adalah nyata dan abadi.

 

Kristus adalah sumber kebahagiaan orang-orang yang hidup dalam Firman Allah.

 

March 28, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Keputusan Allah

Artikel oleh:

“…. Dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman” (Kisah Para Rasul 15 : 9)

 Keputusan Allah

       Seorang yang tidak mencantumkan namanya telah menuliskan satu bait peringatan puitis:

Engkau menyebut-Ku  Terang, tetapi tidak melihat-Ku,

Engkau memanggil-Ku Jalan, tetapi tidak menapakinya,

Engkau menyebut-Ku Hidup, tetapi tidak merindukan-Ku;

Engkau memanggil-Ku Hikmat, tetapi tidak mengikuti-Ku,

Engkau menyebut-Ku Baik, tetapi tidak mengasihi-Ku,

Engkau memanggil-Ku Kekal, tetapi tidak mencari-Ku,

engkau menyebut-Ku Benar, tetapi tidak mempercayai-Ku

Engkau memanggil-Ku Adil, tetapi tidak takut akan Aku,

Engkau menyebut-Ku Tuhan, tetapi tidak mematuhi-Ku,

Jika kelak aku menolakmu, jangan menyalahkan Aku!!

 

Lihatlah teladan para pemimpin gereja mula-mula.  Bukan ketika mereka berada di ruang ibadah, tetapi ketika mereka berada di ruang rapat.  Suatu ruangan yang pada zaman sekarang ini seringkali dipenuhi berbagai perdebatan, terkadang caci maki, atau bahkan kekerasan.  Mengapa?  Karena masing-masing ngotot mempertahankan pendapat pribadi dan mengerahkan segala daya upaya untuk mewujudkan keinginan pribadi.  Akan tetapi, dalam Kisah Para Rasul 15 ini, jelas sekali bahwa bukan hanya ruang ibadah, tetapi ruang rapat juga penuh dengan hadirat Tuhan.  Buktinya?  Tanpa ragu sedikit pun mereka mennyimpulkan bahwa keputusan-keputusan yang dihasilkan adalah “keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” (ay 28).

Sekarang coba kita telusuri lebih jauh.  Sudahkah kita menyebut dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan di sekolah, di tempat pekerjaan, dan di rumah kita masing-masing?  Jika ada tempat tertentu di mana Tuhan belum dapat hadir, segeralah benahi tempat itu, lalu undang Tuhan Yesus untuk melawat.

 

 Warga Surgawi yang baik akan selalu memastikan agar hidupnya selaras dengan keputusan Allah.

 

March 27, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Allah Melatih Kita

Artikel oleh:

“Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka”. (KPR 13 : 2)

 Allah Melatih KIta

        Seorang pelatih sepakbola yang terkenal dengan kedisiplinannya, dua hari sebelum pertandingan sesungguhnya memberikan porsi latihan yang lebih berat dari biasanya kepada para pemainnya. Tentu saja hal ini membuat anak-anak yang dilatihnya itu menggerutu, namun begitu mereka tetap menjalani setiap instruksi yang diberikan sang pelatih. Kelelahan begitu terlihat dari muka para pemain. Mereka seperti ingin berkata tidak sanggup, tetapi mereka tahu ada maksud baik pelatih mengapa memberikan latihan seperti itu. Hari pun telah berganti malam dan akhirnya sang pelatih menyelesaikan latihan pada hari itu. Seperti biasanya, sebelum membersihkan diri dan bergegas pulang, sang pelatih dan para pemain berkumpul. Disana, sang pelatih akhirnya menjelaskan mengapa ia melakukan semua ini, “Saya tahu kalian marah kepada saya atau jengkel karena latihan yang berat ini. Namun, tahukah kalian bahwa kita akan menghadapi tim sepakbola yang berat dan bila kita latihan dengan porsi yang sama maka hasilnya adalah kita akan kalah. Saya yakin kalian semua paham apa yang baru saja kita lakukan.”

Hari pertandingan sesungguhnya pun tiba juga. Kedua tim mengeluarkan kemampuannya di lapangan hijau. Namun, secara tidak terduga tim yang dilatih pelatih super disiplin ini memenangkan pertandingan. Ekspresi gembira terpancar di wajah para pemain. Mereka pun memeluk pelatihnya itu sambil menyanyikan lagu kemenangan.

Awalnya pun sikap yang kita tunjukkan kepada Allah saat menghadapi pergumulan atau masalah seperti para pemain yang dilatih oleh pelatih disiplin di dalam cerita tersebut. Kita menganggap Dia tidak memiliki hati, kejam, tidak adil – Semua hal-hal yang jahat kita tujukan kepada Allah saat itu. Namun, ketika kita menjalani masa-masa yang kita sebut masa penderitaan itu dengan sukses maka kita akan menikmati berkat Allah yang luar biasa.

Kita adalah spesial di mata-Nya. Sekalipun kita harus melalui cawan penderitaan, namun semua itu akan berlalu, dan pada saatnya nanti kita dapat merasakan dari lubuk hati yang terdalam, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

 

Anda telah dipilih, dikhususkan dan dilatih oleh Allah untuk tugas pelayanan khusus dalam dunia ini, yakni memenangkan sebanyak mungkin jiwa bagi Kristus.

 

March 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Roh Yang Mempersatukan

Artikel oleh:

“Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allahm mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kisah Para Rasul 11:1-18)

Roh Yang Mempersatukan

             Kita hidup dalam suatu masyarakat yang terkotak-kotak berdasarkan suku, agama, atau apa saja yang sesuai dengan kepentingan kita atau kelompok kita. Dalam kehidupan sosial yang terkotak-kotak seperti itu, tiap anggota kelompok harus taat kepada aturan-aturan menurut kehidupan sosial itu. Pola kehidupan seperti inilah yang terjadi di zaman jemaat perdana, di mana orang bersunat dan orang tidak bersunat dilarang berinteraksi di luar kelompoknya.

Petrus dianggap telah menyalahi aturan tersebut, ketika ia pergi, hidup, dan tinggal, serta melakukan pelayanan di antara kelompok tak bersunat (ayat 2). Sebagian jemaat Yahudi, yang adalah kelompok bersunat mempersalahkan Petrus atas perbuatannya itu karena telah melanggar aturan sosial di kalangan jemaat perdana. Petrus yang ingin mempertanggungjawabkan pelayanannya kepada mereka menyatakan bahwa pelayanan itu terjadi bukan karena keinginannya, melainkan terjadi karena pekerjaan Roh Kudus (ayat 5-7). Penceritaan ulang Petrus tentang apa yang terjadi menegaskan peran Roh Kudus dalam mengubah pandangan yang sudah terkotak-kotak dan kaku tersebut (ayat 8-10). Juga mengubah hati mereka yang terbelenggu tradisi menjadi hati yang hangat dan penuh kasih melihat petobat-petobat baru, tak peduli apa latar belakang mereka (ayat 18). Petrus tak sendirian karena ada rekan-rekan bersunat yang menjadi saksi pekerjaan Roh Kudus yang membaptis orang-orang tidak bersunat itu (ayat 12).

Pekerjaan memulihkan relasi antar manusia adalah pekerjaan yang tidak mudah, kalau tidak dapat dikatakan mustahil. Namun Kisah Para Rasul mengajar kita bahwa pemulihan itu adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam gereja dan dunia ini.  Pekerjaan itu dimulai dengan pemulihan relasi manusia dengan Tuhan lewat pertobatan dan lahir baru. Kemudian dilanjutkan dengan penerimaan ke dalam lingkup persaudaraan seiman di dalam gereja.

 

Tugas gereja dan tugas kita adalah menerima tanpa membeda-bedakan. Ingat, kita pun diterima Tuhan apa adanya!

March 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Pemulung Jiwa

Artikel oleh:

“Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati” (Kisah Para rasul 10 : 42)

 Pemulung Jiwa

       Sebagaimana umumnya orang Israel pada zaman itu, Petrus  dididik untuk tidak bergaul bahkan tidak memasuki rumah orang non-Israel.  Mengapa?  karena orang Israel sajalah umat pilihan Allah dan yang lain itu orang kafir.  Allah kemudian menunjukkan segala jenis binatang, melalui sebuah penglihatan, dan kemudian berkata kepada Petrus, “Sembelih dan makanlah.”  Petrus tentu saja menolak untuk makan binatang-binatang haram.  Sampai tiga kali Allah mengajarkan Petrus, “Apa yang dikatakan halal oleh Allah, tidak boleh kamu katakan haram.”

Pengajaran khusus itulah yang mempersiapkan Petrus untuk tidak lagi memandang keluarga Kornelius najis.  Mereka adalah jiwa-jiwa yang kudus bagi Allah.  Petrus pun memasuki rumah Kornelius, memberitakan Injil kepada semua keluarga besarnya, menyaksikan Roh Kudus dicurahkan dan akhirnya membaptis mereka.

D.L. Moody, pada suatu hari, melihat sebuah karya seni graveer logam yang menarik perhatiannya.  “Saya pikir,” katanya, “Itulah karya seni terindah yang pernah kulihat, sehingga aku langsung membelinya.”  Ukirannya adalah seorang pria yang keluar dari lumpur dengan kedua tangan bergantung kepada tangan Yesus.”  “Akan tetapi,” Moody melanjutkan, “Pada kesempatan lain, aku melihat sebuah karya seni lain yang menjadikan yang pertama tidak berarti lagi.  Sungguh nilainya jauh lebih tinggi.”  Ukirannya adalah tentang seorang pria yang berjuang ke luar dari lumpur dengan satu tangan bergantung kepada tangan Yesus sementara tangan yang lain menarik keluar seorang pria lain dari kubangan lumpur itu.”

Dalam satu arti, orang Kristen adalah seorang pemulung—pemulung jiwa.  Pekerjaan utamanya adalah memulung sampah masyarakat untuk didaur ulang menjadi orang kudus-Nya Allah.

 

Jika Allah berkenan untuk menyelamatkan kehidupan kita yang dulu najis, bukankah seharusnya kita juga memiliki beban untuk menarik keluar mereka yang masih berada di dalam lumpur dosa.

March 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Bernilai Bagi Allah

Artikel oleh:

“Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu” (KPR 9 : 5)

        Bekerja bagi Allah

        Seorang pria kaya mati dan sebuah pertanyaan diajukan saat pemakamannya, “Berapa banyak yang ditinggalkannya?”,  “Ia meninggalkan segalanya,” demikian sebuah jawaban diberikan.  Mungkin kita tidak asing lagi ketika ada seseorang yang memperkenalkan sahabatnya, “Ini Donny, dan ia bekerja di…” seolah-olah dimana seseorang bekerja atau apa jabatan seseorang menentukan nilainya. Walaupun tidak semua orang yang berprinsip seperti itu, namun tak sedikit juga orang yang memegangnya.

Jika kita semua sadar, Allah itu tidak pernah menilai manusia dari kesuksesannya. Dia mengasihi setiap orang sama rata. Nilai Anda dan saya tidak berasal dari latar belakang kita, pekerjaan, pakaian, rumah tinggal, atau jenis mobil yang dikendarai. Nilai kita berasal dari fakta bahwa Allah menciptakan kita dan mengasihi kita. Kita bernilai karena kita menjadi bagian dari keluarga-Nya, anak-anak-Nya.

Seperti juga Paulus, Tuhan tidak menilai hidupnya yang lama, yang najis, kotor, dan jahat, tetapi Tuhan berhak memakai siapa saja yang bersedia memberi dirinya bagi Tuhan dan mau bertobat dari hidupnya yang lama. Dan ketika Paulus me-responi panggilan Tuhan atas dirinya, maka disitulah ia menerima keselamatan.  Demontrasi kasih Tuhan terbukti dalam kisah pertobatan Paulus, bahwa bukan manusia yang mencari Tuhan, tetapi Tuhan yang mencari manusia yang terhilang. Mengapa Tuhan melakukan hal itu? Sebab dimata-Nya, setiap manusia itu bernilai, berharga dan merupakan ciptaan-Nya yang mulia.

Jadi, identitas Anda jangan bergantung pada harta atau posisi ataupun pada latar belakang kehidupan Anda.  Dapatkan identitas Anda dari Kristus, dan responilah panggilan Tuhan atas diri Anda, karena Anda sangat berharga bagi-Nya.

 

Darah Yesus adalah bukti bahwa kita sangatlah spesial di hadapan Allah

March 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul), Umum  belum ada komentar

Mulailah Bersaksi!

Artikel oleh:

“Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu berangkatlah Filipus” (Kisah Para Rasul 8:26-27a).

Mulai Bersaksi

             Perhatikanlah para penjaja makanan atau barang dagangan. Mereka tahu bahwa tidak semua orang yang mereka tawari akan membeli dagangan mereka. Tetapi, toh mereka terus tanpa jemu menjajakannya karena yakin bahwa sekali waktu akan ada yang tertarik dan membeli. Hal ini berbeda dengan salah satu alasan yang dimiliki oleh orang kristiani dalam menolak membagikan Kabar Baik. Mereka takut menghadapi penolakan dan karena itu mereka memilih untuk tidak berangkat dan memberitakannya.

Kita mungkin tidak pernah menduga akan ada orang seperti sida-sida dari Etiopia ini. Ia sedang dalam perjalanan sembari membaca gulungan kitab Yesaya. Firman Allah dan Roh Kudus melakukan pekerjaan ajaib di dalam kesenyapan. Ia sangat mengharapkan ada seseorang yang menerangkan arti Firman tersebut. Ya, ia seperti ikan yang mencari nelayan! Ketika Filipus berangkat menjumpainya, ia berhadapan dengan sebuah tugas yang relatif mudah. Filipus seperti memasukkan kail ke mulut ikan yang menganga. Sebuah kesempatan yang tidak selalu didapatkan, tetapi kalau ia enggan untuk berangkat maka kesempatan ini pun akan lewat.

Sangat mungkin ada orang-orang yang sedang menunggu pertemuan ilahi dengan kita. Ada orang-orang yang sudah sangat siap untuk mendengarkan Injil dan memberikan respons yang tepat. Mungkin itu adalah salah satu kesempatan yang hanya bisa kita dapatkan ketika kita mau berangkat. Maka, berangkatlah dan bersaksilah! Berdoalah agar kita menjumpai pertemuan-pertemuan ilahi yang telah Dia persiapkan, sehingga banyak orang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui kesaksian kita.

 

Pakailah waktu Anda untuk bersaksi

kepada orang lain, sehingga Kerajaan Allah

semakin dipenuhi dengan jiwa-jiwa baru!

 

March 18, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Melepaskan Pengampunan

Artikel oleh:

“Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” dan dengan perkataan itu meninggallah ia” (Kisah Para Rasul  7 : 60)

 Melepaskan Pengampunan

         Siapa orang yang tidak senang ketika ia mendengar bahwa ia dimaafkan dari kesalahannya. Pada dasarnya, tidak ada seorangpun yang senang hidup di dalam kesalahan. Kesalahan yang belum diampuni atau dimaafkan itu seperti hutang yang belum terbayarkan, dan pengampunan itu laksana pelunasan hutang.  Itu sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk berdoa “….ampunilah akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Tuhan tahu manusia membutuhkan pengampunan dan manusia harus belajar mengampuni.

Kita suka untuk diampuni, tapi kita sukar untuk mengampuni! Itulah kenyataan hidup yang terjadi. Sisi buruk ini harus kita kalahkan, kalau kita mau diampuni, maka kita pun harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Walaupun itu terasa berat, tapi itulah kunci untuk menerima pengampunan. Stefanus dalam penderitaannya karena dirajam batu, sebelum ia meninggal ia melepaskan kelegaan pada para penganiayanya dengan perkataan, “ampunilah mereka ya Tuhan”.

Tidak seorangpun di dunia ini yang luput dari kesalahan. Kalau kita bisa luput dari kesalahan, Tuhan Yesus tidak perlu datang ke dunia. Yesus datang ke dunia karena Dia sangat tahu bahwa manusia membutuhkan pengampunan dari dosa. Karena kita semua membutuhkan pengampunan, maka demikian juga kita harus melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepada kita.

 

Ketika kita tidak mampu untuk mengampuni, Roh Kudus yang akan memberi kita kekuatan untuk dapat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Jadi, selamat mengampuni!

 

March 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Krisis Sebagai Peluang

Artikel oleh:

“Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”. (Kisah Para Rasul 6 : 7)

 Krisis Menjadi Peluang

          Ketika jumlah orang-orang percaya makin bertambah, maka timbullah suara-suara yang menyatakan ketidakpuasan. Orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani mengeluh bahwa janda-janda mereka dibedakan. Dalam pembagian sehari-hari mereka tidak mendapat makanan sebanyak yang diterima oleh janda-janda yang berbahasa Ibrani. Itu berarti gereja mula-mula mengalami masa krisis.  Bila keadaan itu dibiarkan terus, maka hal itu bisa memicu konflik dan menimbulkan perpecahan. Para rasul cukup responsif, mau mencari tahu penyebab masalah, dan melakukan terobosan untuk solusinya.  Mereka cukup tanggap terhadap persoalan, keluhan, kebutuhan, dan harapan orang-orang yang dipimpinnya.

Para Rasul mempelajari penyebab timbulnya masalah, lalu menemukan bahwa diri merekalah yang harus dipersalahkan: “mereka melalaikan firman Allah untuk melayani meja” (Kis. 6 :2). Karena terlalu sibuk melakukan banyak pekerjaan, maka pelayanan mereka menjadi tidak fokus, tidak maksimal, dan ada yang merasa terabaikan.  Mereka mau berubah dan melakukan terobosan. Mereka mengusulkan solusi agar dipilih tujuh orang dari antara umat yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat untuk melayani meja. Dengan demikian, tugas diakonia untuk membantu orang-orang yang berkekurangan dapat berjalan lebih baik dan adil, dan para rasul dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. Usulan solusi itu diterima dengan baik dan dilaksanakan.  Hasilnya sangat menggembirakan! Seluruh umat kembali bersatu hati (Kis. 6 :5), firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid makin bertambah banyak (Kis. 6 :7). Krisis telah mereka jadikan sebagai peluang untuk maju.

Dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan usaha ada berbagai krisis yang  kita alami.   Krisis itu bisa mendatangkan bahaya, tetapi juga membuka peluang. Maka jangan takut terhadap krisis, tetapi dengan hikmat dan pertolongan Tuhan jadikanlah krisis sebagai peluang untuk maju.  Ingatlah firman-Nya: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

 

Jadikanlah krisis sebagai peluang untuk maju!

 

March 16, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar