Tetaplah Taat!

Artikel oleh:

Salib

“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepadaMulah ia percaya.”  (Yesaya 26 : 3)

 

Iblis tidak dapat mengambil atau merampas berkat Tuhan dari kita jika kita berada dalam otoritas Kristus dan taat pada firman Tuhan.  Iblis hanya dapat mencuri damai sejahtera itu jika kita membiarkannya menyerang atau jika kita tidak taat melakukan apa yang firman Tuhan perintahkan untuk dilakukan di tengah-tengah badai hidup yang melanda.  Apabila kita taat kepada Tuhan, Tuhan akan memelihara kita.

Ketaatan kita kepada Tuhan akan menghasilkan kedamaian seperti sungai yang terus mengalir dengan derasnya.  Jika kita membiarkan damai sejahtera Tuhan memerintah dalam hati kita dengan cara tidak memberi kesempatan pada kekuatiran untuk masuk, maka roh ketakutan pun akan terusir.  Seringkali problema dan kesukaran yang menindas hati serta pikiran kita hanyalah imajinasi kita belaka.  Sesungguhnya Tuhan akan memelihara kita dalam damai sejahteraNya yang sempurna jika pikiran kita terus tertuju pada Tuhan.  Jadi, dalam keadaan apa pun kita harus memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan dan merenungkan firmanNya siang dan malam, sehingga jika tiba-tiba kita diperhadapkan pada keadaan yang sulit kita akan mampu menanggapinya dengan tenang.  Maka dalam menghadapi segala sesuatu Rasul Paulus menasihati, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”  (Filipi 2:5).

Jika kita selalu mengijinkan pikiran untuk terus tinggal dalam masalah dan kita tidak menyerahkan ketakutan itu kepada Tuhan, maka masalah yang sebenarnya hanya merupakan lekukan kecil itu akan menjadi gunung yang tinggi dan akan sukar sekali untuk disingkirkan.  Kita harus menghapus imajinasi itu dan mengarahkan pikiran kita kepada firman Tuhan, atau jika tidak, kecemasan akan merampas damai sejahtera yang menjadi hak kita sebagai anak-anak Tuhan, sebab damai sejahtera itu pemberian Tuhan dan tidak mungkin kita dapat dari dunia ini. Jadilah, langkah iman yang harus kita jalani setiap hari adalah berjalan dalam rencanaNya dengan penuh ketaatan.

Hidup dalam damai sejahtera sangat ditentukan oleh ketaatan kita terhadap firman Tuhan.

 

May 23, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Pengharapan Yang Mulia

Artikel oleh:

Pengahrapan

“Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu.” (Yesaya 24 : 4)

 

Apakah kita percaya bahwa Allah berkuasa atas alam semesta ini? Bila ya, maka kita perlu meninjau kembali hukum-hukum alam yang berlaku atas alam semesta ini. Kita harus mengakui adanya kemungkinan bahwa hukum-hukum alam yang kita terapkan keliru. Bila Allah berkuasa atas alam semesta ini, maka apa yang terjadi di bumi ini bukan hanya merupakan serangkaian kebetulan, melainkan merupakan hasil rancangan Allah.

Nubuat akhir zaman dalam perikop ini yakni tentang bumi yang akan menjadi hancur dan porak-poranda tentu saja merupakan sesuatu yang tidak masuk akal bagi orang-orang pada masa lampau. Bagi pendengar pada masa itu mungkin saja mencibirkan berita nubuatan ini karena tidak masuk dalam logika manusia.  Akan tetapi, kerusakan lingkungan dan berbagai bencana alam yang terjadi pada masa kini membuat kita menyadari bahwa kehancuran bumi ini merupakan sesuatu yang masuk akal. Dari satu sisi, perilaku manusia berdosa yang mengutamakan kesenangan dan kenyamanan telah mempercepat kerusakan lingkungan (24:5). Dari sisi lain, kehancuran bumi pasti terjadi karena hal itu merupakan rencana Allah. Sekalipun demikian, orang beriman menantikan datangnya bumi baru dan langit baru saat Yesus Kristus memerintah sepenuhnya di bumi ini (bandingkan dengan 24:23 dan dengan Wahyu 21).

Bagi orang beriman, nubuat tentang kehancuran bumi bukanlah sekedar nubuat yang mengerikan, melainkan nubuat yang menimbulkan pengharapan bahwa Allah akan memulihkan semua kemerosotan yang terjadi di bumi ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa dalam nubuat tentang kehancuran bumi ini terdapat pula sorak-sorai nyanyian pujian tentang keadilan Allah (24:16).

 

Di balik penghukuman Allah, terdapat pengharapan tentang pemerintahan Allah yang kekal, dimana semua orang percaya akan menikmati persekutuan yang indah dan mulia bersama Bapa sorgawi.

 

May 23, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Mengandalkan Tuhan

Artikel oleh:

Andal

“Tuhan semesta alam yang telah memutuskannya untuk mematahkan kesombongan, untuk menghinakan segala yang permai dan semua orang mulia di bumi” (Yesaya 23:9)

 

Pada abad yang ke 6 SM Tirus merupakan sebuah kota pelabuhan yang sangat strategis dan juga kaya. Kota Tirus adalah juga kota yang sangat kuat dan berjaya kurang lebih tiga tahun, akan tetapi oleh karena kesombongan dan kejahatan dan ketamakannya maka kota Tirus dijungkir balikkan oleh Tuhan

Kalau kita melihat apa yang sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan ini kita pasti setuju kalau apa yang terjadi di dalam dunia ini tidak semakin baik akan tetapi semakin buruk. Kemerosotan moral terjadi dimana-mana dan yang paling memprihatinkan adalah tidak adanya kesadaran untuk berubah dan memperbaiki diri. Demikian juga dengan apa yang terjadi di Tirus pada waktu itu dimana telah terjadi degradasi moral, ketamakan dan keserakahan seolah telah menjadi budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Tuhan sangat membenci dengan kesombongan, keserakahan dan ketamakan. Mungkin selama ini tanpa kita sadari kita telah menjadi sombong dengan apa yang kita raih dan kita miliki. Kadang hal itu tidak disadari oleh manusia. Dan yang lebih parah lagi kalau kita mulai mengandalkan kekuatan kita sendiri yang merasa tanpa Tuhan pun kita sanggup. Ingat Tuhan sangat membenci orang seperti itu. Akan tetapi Tuhan akan sangat menghargai dengan orang yang selalu mengandalkan Tuhan Dan Tuhan pasti akan memberkatinya.

Marilah dalam kehidupan ini kita senantiasa memandang kebesaran Tuhan dan senantiasa menjadikan Tuhan yang terutama dalam kehidupan kita dan percayalah Tuhan yang akan senantiasa menopang kehidupan kita.

 

Tuhan akan sangat menghargai orang yang mau selalu mengandalkan Tuhan dalam segala aspek hidupnya.

Apakah termasuk Anda orangnya?

 

May 22, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Terima Perbedaan

Artikel oleh:

Terima Perbedaan

“Aku akan menggerakkan orang Mesir melawan orang Mesir,supaya mereka berperang, setiap orang melawan saudaranya , dan setiap orang melawan temannya, kota melawan kota, kerajaan melawan kerajaan”. (Yesaya 19:1)

 

Sejak zaman dahulu sampai kini, Mesir memang selalu bergejolak. Kita semua tahu kepemimpinan presiden Hosni Mobarak yang mengalami kehancuran karena karakternya sendiri yang tidak disukai oleh para lawan politiknya dan kemudian diwarnai dengan peperangan di antara mereka sendiri yang pro dan kontra, khususnya apa yang dinamakan Revolusi Mesir tahun 2011.

Sebetulnya, masing-masing dari kita adalah merupakan bagian dari sebuah lingkungan di mana kita akan bertemu dengan banyak pribadi-pribadi lain dengan banyak karakter. Beberapa di antaranya ada yang tidak sepaham dengan kita, beberapa orang lagi malah mungkin pernah menyerang hati kita. Itulah warna hidup yang harus kita sadari.   Mengapa Tuhan menciptakan banyak ragam banyak perbedaan? Kenapa tidak semua diciptakan sama rata saja supaya tidak terjadi resiko perpecahan? Tuhan menciptakan semuanya baik, berarti keragaman ini pun baik di mata Tuhan. Keberadaan orang lain di sekitar kita dapat menjadi pengaruh positif bagi diri kita sendiri. Bahkan teguran pun bisa membuat kita lebih mawas diri.

Seperti firman dalam PB yang berkata “Banyak anggota tetapi satu tubuh”, kita menyadari karakter yang berbeda dan kemampuan yang beragam akan menjadi harmoni yang indah bila disatukan dalam kasih Tuhan. Sekalipun di lingkungan kita bukan semuanya anak Tuhan, atau bahkan kita sendirian sebagai anak Tuhan, justru manfaatkan kondisi itu untuk menunjukkan “perbedaan” kita yaitu integritas Kristen yang terpuji, bukan perbedaan yang membuat pertentangan atau yang mencemarkan nama Tuhan.

 

Dalam menjalani hidup ini, siapkan hati untuk menerima segala perbedaan, karena itu baik di mata Tuhan, berarti itu baik bagi kita juga.

May 21, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Bertobatlah!

Artikel oleh:

Bertobatlah

“Sebab engkau telah melupakan Allah yang menyelamatkan engkau, dan tidak mengingat gunung batu kekuatanmu”. (Yesaya 17 : 10)

 

Perikop ini adalah ucapan Ilahi terhadap Damsyik dan Efraim. Pada masa itu terbentuk sebuah aliansi koalisi untuk melawan kekuatan Asyur yang mulai menjadi ancaman bagi keberadaan bangsa-bangsa Timur Tengah kuno di sekitarnya. Pembentuk koalisi ini adalah dua negara yang bertetangga, yang sebenarnya telah berkoalisi sejak lama (sejak dinasti Omri), yaitu Siro-Fenisia dan Israel (kerajaan Utara).  Yang menjadi sorotan bagi sang nabi adalah kisah yang terjadi di balik koalisi ini. Selain berkoalisi dalam bidang militer dan politik, koalisi ini juga merambah kepada koalisi agama. Banyak pemujaan berhala yang didapati di Israel. Israel telah melupakan Allah (17:10) dan lebih percaya kepada Baal, nama dewa tertinggi Fenisia (17:10b). Ucapan Ilahi pada perikop ini sekaligus tertuju kepada kedua bangsa yang akan dihancurkan Tuhan lewat penyerangan Asyur. “Damsyik tidak akan tetap sebagai kota…”(17:1) “…kubu-kubu akan hilang dari Efraim…” (17:3).

Bagi Yehuda, berita penghukuman atas Israel dan Fenisia itu begitu mengerikan. Ini sekaligus sebagai peringatan bahwa hal yang sama akan terjadi pada mereka bila tidak bertobat.  Namun demikian, inti berita utama dari perikop ini justru bukan pada penghukuman yang dijatuhkan. Sebaliknya tujuan utama tertulis pada ayat 7-8, bahwa “manusia akan memandang kepada Dia yang menjadikannya”. Harapan di balik hukuman adalah pertobatan, yaitu kembali kepada Tuhan Sang Pencipta alam. Hukuman merupakan alat untuk menyadarkan manusia akan Sang Penciptanya.

Penghukuman Allah di dunia ini selalu berfungsi ganda, yaitu untuk penyucian dan pemurnian. Dalam penyucian, semua yang jahat harus dimusnahkan dan orang yang berkeras dalam dosa-dosanya akan menghadapi hukuman kekal. Akan tetapi, dalam pemurnian, setiap pertobatan dianugerahi pengampunan dan pemulihan. Jadi jangan sia-siakan kesempatan selama masih di dunia ini. Berilah respons positif terhadap peringatan akan penghukuman Allah!

 

Jika Allah masih menegor kita dengan keras, itu berarti Dia sayang pada kita dan Dia rindu kita bertobat dan dibaharui!

May 20, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Bersedia Dihancurkan

Artikel oleh:

Bersedia Dihancurkan

“Ucapan ilahi tentang Moab. Sungguh, dalam suatu malam Ar-Moab sudah dirusakkan, dibinasakan; sungguh, dalam suatu malam Kir-Moab sudah dirusakkan, dibinasakan!” (Yesaya 15:1)

 

Pertobatan sejati adalah meninggalkan tuntas dosa-dosa, dan bersedia mulai dari awal. Bila masih ada dosa yang digenggam erat-erat dan enggan untuk dilepaskan, itu berarti orang tersebut belum sungguh-sungguh bertobat. Ucapan ilahi terhadap Moab membuktikan bahwa Tuhan masih memperhatikan bangsa-bangsa lain. Tuhan tidak ingin hanya menghukum mereka, tapi juga ingin mereka bertobat. Berita penghukuman yang akan menimpa Moab (ay.1) membawa kepada perkabungan nasional secara besar-besaran (ay.2-6), dan disertai ratapan yang memilukan (ay.5-9). Semua itu agar bangsa Moab bertobat dan meninggalkan segala hal yang jahat dimata Tuhan.

Apa yang harus mereka lakukan? Mereka harus berpaling dan meminta petunjuk kepada Tuhan yang dikenal sebagai Tuhan bangsa Israel. Hal ini tentu, tidak mudah bagi Moab untuk berharap kepada Tuhan, karena mereka “tinggi hati” (ay16: 6), untuk mengakui bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Justru itulah pengakuan itu yang dituntut TUHAN. Pertobatan sejati dimulai dari mengaku diri tidak ada apa-apanya, hanya mencari dan menantikan uluran belas kasih Tuhan (ay.13-14).

Seperti Moab, seringkali yang menghalangi kita untuk bertobat adalah kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa kita tidak berdaya terhadap dosa. Jadi kita harus bersedia dihancurkan dan bersedia untuk mulai dari awal, supaya Tuhan bisa membentuk kita menjadi baru, tak bercacat, dan sempurna.

Yang merintangi kita dari pembaruan hidup yang berarti, bukan karena Tuhan tidak bersedia, tetapi karena kita tidak terbuka kepada-Nya.

 

May 19, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Tuhan Yang Berkuasa

Artikel oleh:

Keep

“Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka” (Yesaya 13 : 11a)

 

Kekuasaan seseorang atau suatu bangsa di dunia ini terjadi seizin Tuhan dan di dalam kemahatahuan Tuhan. Sebesar apa pun kekuasaan yang kita miliki, Tuhan tetap berkuasa untuk meruntuhkan atau mengizinkan.

Saat Yesaya 13:1-14:13 ditulis oleh Nabi Yesaya, negara Babel belum diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Negara yang amat diperhitungkan pada waktu itu adalah negara Asyur. Dalam bagian ini, Tuhan mengumumkan kejatuhan bangsa Babel di kemudian hari setelah Tuhan mengizinkan bangsa ini memiliki kekuasaan yang amat besar di muka bumi dengan menduduki tanah Perjanjian dan membawa umat Tuhan ke dalam pembuangan. Mungkin saja, bangsa Yehuda terheran-heran dengan nubuatan tentang kejatuhan bangsa Babel pada waktu itu. Namun, setelah peristiwa itu terjadi, umat Tuhan dapat menginsafi bahwa di dalam tangan Tuhan-lah seluruh sejarah yang telah dan akan terjadi.

Bacaan hari ini memperlihatkan betapa ngerinya kehancuran bangsa Babel, padahal bangsa Babel memiliki kekuatan dan kekuasaan yang begitu besar. Tuhan akan memakai bangsa-bangsa untuk menunggangbalikkan Babel. Sebelumnya, Tuhan memakai bangsa Babel sebagai alat untuk mendidik umat-Nya, tetapi kecongkakan bangsa Babel menentang Tuhan yang Mahakuasa mengakibatkan Babel mengalami murka Allah yang tidak terperikan pada hari yang disebut sebagai “hari TUHAN” (13:6).

Hanya Tuhan sajalah yang patut kita takuti karena hanya Dialah Pemilik kekuasaan yang mutlak. Terkadang kita cemas, bahkan mungkin putus asa, saat melihat ancaman dari kekuasaan manusia. Dalam keadaan seperti itu, ingatlah bahwa Tuhan tidak tinggal diam.

 

Pada waktu-Nya, Ia akan bertindak di dalam keadilan-Nya.

 

May 14, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Hidup Yang Berdampak

Artikel oleh:

Telur

“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah”. (Yesaya 11 : 1)

 

Bagian dalam pasal 11 ini menceritakan kehidupan bangsa Israel yang sedang ada dalam ambang kehancuran.  Tuhan memakai bangsa-bangsa lain yang lebih kuat dari bangsa Israel untuk menghakimi perbuatan jahat bangsa Israel yang tidak setia. Namun penghakiman itu tidak untuk selamanya, karena di bagian ini Tuhan berbicara mengenai janji pemulihan Israel.

Janji pemulihan Israel diceritakan dengan memberikan generasi pemimpin yang baru dari keturunan Isai. Raja yang dijanjikan ini akan memerintah dengan 3 kekuatan yaitu: 1) hikmat dan pengertian dari Tuhan; 2) nasihat dan keperkasaan dari Tuhan; 3) pengenalan akan Tuhan yang membuatnya takut akan Tuhan.  Tiga kekuatan ini sangat mempengaruhi kualitas kepemimpinannya.  Semua dilakukannya dengan satu kesadaran bahwa ia harus memerintah dengan takut akan Tuhan. Hidup di bawah pimpinan raja yang demikian akhirnya akan menciptakan keadaan yang aman, tidak mengancam satu dengan yang lain (ay.6-8), tidak ada permusuhan, sebab tiap-tiap orang tidak berbuat jahat. Dengan demikian raja yang dijanjikan melalui keturunan Isai ini akan membawa bangsa-bangsa memuliakan Tuhan.

Dan janji ini digenapi secara klimaks melalui kehadiran Yesus Kristus. Kita diingatkan bahwa keberadaan satu orang saja dapat mempengaruhi keadaan di sekitarnya. Setiap kita mempunyai kelompok orang-orang tertentu yang dapat kita pengaruhi, mulai dari kelompok yang kecil hingga kelompok yang lebih besar dengan jumlah orang yang lebih banyak. Siapapun kita dan dalam konteks apapun kita memimpin orang, Tuhan memanggil kita untuk menjadi pengaruh yang baik dan benar dalam takut akan Tuhan.  Mungkin kita memang bukan keturunan Isai seperti yang dimaksud dalam bacaan ini, tetapi Tuhan pun sanggup memakai kita untuk menciptakan keadaan yang lebih baik (aman, tidak ada permusuhan, kejahatan dan kebusukan hidup) melalui hidup kita yang berdampak.

 

Apakah Anda mau menjadi pengaruh yang baik atau yang buruk, tergantung pilihan Anda!

 

May 13, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Tetaplah Yakin!

Artikel oleh:

Yakin

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9 : 5)

 

Mengapa sering kali kita tidak bisa melihat jawaban Allah untuk setiap pengharapan kita. Tidak lain karena ketidakpercayaan kita atau keraguan kita. Padahal sumber pengharapan kita adalah Tuhan Yesus yang sudah datang ke dunia menyelamatkan kita. Jangan ragukan kasih setia Tuhan! Ingatlah namaNya dan dengan apa Dia disebut!

Yesus disebut “Penasihat Ajaib”. Ketika Yesus lahir dalam hidup kita, maka Dia akan menjadi penasihat kita dalam setiap langkah hidup kita. Ketika masalah dan pencobaan datang menerpa kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, keluarga, ekonomi, dan lainnya, Tuhan akan hadir bagi kita. Dia akan mencurahkan hikmatNya bagi kita, sehingga kita sanggup mencari jalan keluar atas setiap masalah dan problema yang kita hadapi.

Yesus disebut “Allah yang Perkasa”.  Walaupun keadaan yang kita hadapi terlihat tidak mungkin bagi kita untuk dapat mengatasinya, namun di dalam Yesus segalanya menjadi mungkin. Sebesar apapun masalah yang merintangi, jika kita tinggal bersama Yesus, maka Dia yang akan memberikan kemenangan bagi kita.

Yesus disebut “Bapa yang Kekal”. Turunnya Yesus ke dunia ini merupakan wujud kasih Bapa yang tak terbatas. KasihNya akan memulihkan kehidupan kita dari segala kepahitan, amarah, dendam, kebencian, luka, dan segala dosa yang ada.

Yesus pun disebut “Raja Damai”. Saat ini dunia bergejolak dengan begitu hebatnya, krisis melanda hampir seluruh bagian dunia ini, kejahatan semakin bertambah, bencana alam terjadi di mana saja dan kapan saja. Tidak ada tempat yang dapat menjamin keamanan hidup kita, tidak ada seorangpun juga yang dapat menjamin kehidupan kita akan selalu nyaman, bahkan harta kekayaan juga bukan jaminan bahwa hidup kita akan selalu terjamin.  Tetapi ketika kita masuk dan hidup dalam Yesus, maka Dia akan memberikan damai sejahtera bagi hidup kita. Damai sejahteraNya dapat mengatasi segala kekuatiran dan ketakutan yang ada.

 

Pastikan Anda tetap beriman pada Kristus; jangan ragukan kuasaNya, maka hidup Anda pasti sentosa!

 

May 12, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar

Responi PanggilanNya!

Artikel oleh:

Respon

“Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6 : 8)

 

Pasal ini dimulai dengan Yesaya sebagai imam dalam bait Allah. Dia sendirian dan dalam keadaan berdoa. Jikalau kita ingin ketemu dengan Allah kita harus berada dalam sikap hati yang memungkinkan Allah berbicara kepada kita. Banyak orang bingung mengapa Allah tidak berbicara kepada mereka, tetapi mereka tidak memberi kesempatan kepada Allah untuk berbicara. Pada waktu Yesaya dalam sikap berdoa Allah menyatakan diriNya. Yesaya melihat, “Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci” Penglihatan ini meyakinkan Yesaya bahwa Tuhan masih berkuasa.  Raja Uzia, seorang raja yang baik, meninggal beberapa hari sebelum penglihatan ini (Yesaya 6:1). Mungkin Yesaya bingung dan putus asa. Mungkin ia kecewa dengan raja yang baru dan merasa raja yang baru itu tidak akan sungguh mengutamakan Allah. Dengan perasaannya yang demikian ini Yesaya dapat melihat bahwa Tuhan masih duduk pada takhtaNya, bahwa Tuhan, Raja di atas segala raja, masih memerintah dalam dunia ini.

Kalimat pertama yang didengar Yesaya tidak merupakan suatu pernyataan. Sebaliknya Allah mulai berbicara dengan melontarkan satu pertanyaan kepada Yesaya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Bagaimana tanggapan Yesaya? Dia sudah melihat kemuliaan Allah. Dia sudah menyadari dosanya sendiri. Dia sudah menerima pengampunan akan dosanya. Jelas dia merasa berutang.  Jelas ia rindu membalas kasih Tuhan. Apalagi dia baru saja sempat mendengar suara Allah berbicara langsung kepadanya. Demikianlah ia langsung menyerahkan diri dengan mengucapkan, “Inilah aku, utuslah aku!” Dia tidak minta keterangan dulu mengenai seluk-beluk tugasnya. Pengorbanan yang dituntut dan imbalan yang akan diterimanya tidak dipertimbangkan.  Sebagai akibat dari kasih dan rasa terharunya dia menawarkan dirinya secara spontan, tanpa ragu-ragu, tanpa memperhitungkan untung-rugi atau beratnya dari seorang utusan Tuhan.

 

Ketika kita mendengar suaraNya, jangan keraskan hati kita, namun responilah dengan cepat dan penuh ketaatan!

 

May 11, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  belum ada komentar