Hidup Itu Keras

Artikel oleh:

Hidup itu Keras

“Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. “.

(Pengkhotbah 8 : 11)

 

Dalam hidup ini seringkali kita berhadapan dengan hal-hal yang sulit untuk dicerna dengan logika. Di sinilah kita mengakui ada banyak misteri di dalam hidup yang tidak mudah dipahami. Kita tidak tahu, mengapa Allah membiarkan hal-hal yang buruk menimpa orang-orang baik, sementara orang jahat justru nampaknya mujur terus?  Di manakah letaknya keadilan Allah jika demikian? Jika kita terus bertanya, “Mengapa Allah begini atau begitu” dan tidak dapat menemukan penjelasan yang memuaskan, kita pasti kecewa, bahkan frustrasi dalam mengenal Allah. Ada banyak orang meninggalkan Tuhan karena mereka semakin lama semakin tidak yakin bahwa Allah itu ada. Ketidakyakinan itu muncul karena mereka menganggap bahwa Allah tidak berbuat apa-apa bagi mereka. Allah dituduh tidak dapat membuktikan keadilan-Nya dalam hidup mereka. Bagi mereka, itu berarti Allah tidak ada!

Pengkhotbah adalah seorang yang sangat jujur dan realistis dalam menggambarkan kehidupan manusia yang keras. Ia berbicara secara terbuka dan blak-blakan tentang fakta hidup manusia:

Pertama, Pengkhotbah melihat adanya kehidupan yang keras. “Orang yang satu menguasai orang yang lain hingga ia celaka.” (Ay 1).

Kedua, Pengkhotbah melihat adanya ketidakadilan dalam kehidupan beragama. Terkadang agama dipakai untuk memihak kelompok yang salah, membela dan merestui sepak terjang orang yang berbuat kejahatan, sedangkan orang-orang yang berlaku benar tidak dihargai.

Ketiga, Pengkhotbah melihat orang jahat seringkali nampak hidup dalam kemenangan, (Ay 11), sehingga tidak ada keadilan di tengah masyarakat.

Keempat, Pengkhotbah melihat, yang benar diganjar seperti orang fasik dan orang fasik hidupnya dipenuhi pahala yang seharusnya menjadi milik orang benar (Ay 14).

Fakta-fakta di atas tentu membuat kita berpikir, untuk apa hidup benar jika kenyataan lebih memihak kepada orang yang tidak benar.  Atas fakta-fakta itu, Pengkhotbah justru menekankan 2 hal :

¨ Kita harus yakin, bahwa orang-orang fasik hidupnya tidak akan beroleh kebahagiaan sejati. Mungkin mereka dianggap berbahagia di dunia ini, tetapi kebahagiaan itu semu.

¨ Kita harus belajar untuk beriman, bahwa sekalipun ada banyak hal yang sulit dipahami dengan logika, namun dengan iman kita dapat memahami semuanya itu dan tetap hidup di dalam kesukacitaan dan pengharapan kepada Yesus jaminan hidup kekal.

 

Kenyataan hidup memang keras dan sering mengecewakan kita, tapi kasih setia Tuhan kekal untuk selama-lamanya

May 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Nama Baik

Artikel oleh:

Nama Baik

“Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran”. (Pengkhotbah 7 : 1)

 

Jika kita berbicara soal harta benda, kekayaan, tidak ada orang yang mengaku cukup kaya. Hal itu berarti pula bahwa manusia cenderung merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya.

Pengkhotbah mengajarkan sebuah hikmat yang tak terduga yaitu tingginya nilai rumah duka. Di sana ia mengatakan bahwa rumah duka adalah kesudahan semua manusia. Pada ayat ke 2—3 dikatakan bahwa “…dirumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya….” Apa yang harus diperhatikan?  Tentu saja sifat dari kematian yang sering tidak terduga dan mengejutkan orang lain. Kerap orang berpikir “hidup adalah anugerah…. nikmati sajalah!” Memang betul demikian, tetapi Pengkhotbah dalam ayat ke 8 berkata juga: “Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya….” Jadi, ada baiknya waktu kita hidup seperti sekarang, kita juga memikirkan menyelesaikan garis akhir hidup kita dengan baik.

Simak juga Pengkhotbah 7:1, yang mengatakan bahwa “nama yang harum lebih baik dari pada minyak”. Kalimat ini tepat dengan peribahasa yang kita pahami bersama yaitu “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama baik.” Nama baik lebih berharga daripada minyak yang merupakan simbol dari kelimpahan atau kepemilikan terhadap harta benda. Apakah minyak (harta) merupakan sebuah hal yang tidak kita perlukan?  Semua orang perlu harta, tetapi Pengkhotbah mengatakan nama harum adalah lebih baik.  Artinya, nama baik harusnya lebih diutamakan daripada pengejaran akan harta.

Seringkali kita memilih menggenggam tangan kita erat-erat untuk mempertahankan harta kita, dan mengabaikan hal yang lebih penting daripada harta itu, yaitu hidup kita sendiri dan sesama kita. Akhirnya kita kehilangan kebebasan, kehilangan sahabat dan saudara hanya karena kita mempertahankan harta secara membabi buta.

 

Hidup ini fana, harta juga fana tapi nama baik dikenang orang sepanjang masa!

 

May 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Orang Yang Bahagia

Artikel oleh:

Orang Yang Bahagia

 “Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit”. (Pengkhotbah 6 : 2)

 

Mengapa Allah sepertinya kejam kepada beberapa orang dengan menahan kebahagiaan itu, yaitu dimana mereka tidak diberi-Nya karunia untuk menikmati kekayaan yang adalah karunia-Nya juga (ay 2)?  Hal itu menjadi pelajaran untuk kita supaya dengan demikian kita tidak akan bergantung pada uang atau kekayaan maupun kekuasaan.  Semua itu hanyalah penopang-penopang sementara dan bukan merupakan jaminan hidup yang sesungguhnya.  Jika kita tidak hati-hati, maka uang, kekuasaan dan ketenaran bisa membuat kita terpisah dari Allah dan juga akan membuat kita berpikir untuk tidak membutuhkan Allah, padahal semua yang kita miliki adalah pemberian Allah.

Kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan hidup itulah yang kita cari dalam kehidupan ini. Tetapi jika kita mencarinya melalui uang dan kemewahan, ataupun hawa nafsu duniawi, maka bukan kenikmatan dan kebahagiaan yang kita dapatkan tetapi ketidakpuasan dan keputusasaan.  Kesenangan tidak berkaitan dengan posisi ekonomi dan sosial kita. Kesenangan dan kebahagiaan itu berkaitan dengan keinginan-keinginan kita dan sebaliknya keinginan-keinginan itu berkaitan dengan kepercayaan kita kepada Allah.  Hanya Allah yang patut kita puja dan hanya kepada-Nya kita harus taat dan menaklukkan diri kita, bukan kepada uang dan kekayaan.  Tetapi yang terjadi adalah hal yang menakjubkan!  Betapa banyaknya waktu yang kita pergunakan untuk mencari uang, menginvestasikannya ataupun membelanjakannya. Uang terlampau menguasai sebagian besar pemikiran-pemikiran kita.

Ingatlah bahwa kebahagiaan itu tergantung kepada Allah.  Bila  kita hidup di dalam Yesus, maka pasti menikmati kehahagiaan hidup yang sejati, sekalipun Anda tidak memiliki uang yang banyak. Jangan membangun diri Anda diatas uang, tetapi pada Allah yang hidup.

Uang harus diturunkan dari tahta hati kita supaya Yesus dinaikkan diatas tahta hati kita

May 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Fokus Pada Tuhan

Artikel oleh:

Fokus Pada Tuhan

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya”.

(Pengkhotbah 5 : 10)

 

Tidakkah menyenangkan jika kita benar-benar kaya raya? Masih muda, sudah menjadi milyarder dan mempekerjakan lebih dari dua ribu karyawan di banyak kota. Bertualang dengan kapal pribadi dan mampu melakukan apa saja yang Anda inginkan. Alangkah bahagianya!  Tetapi tahukah Saudara, bahwa Pengkhotbah menjawab semua mimpi itu dengan perkataan tajam, “Tidak!”  Dengan tegas ia katakan bahwa uang atau kekayaan tidak membuat seseorang berbahagia.  Pengalaman Pengkhotbah ini membuktikan sendiri bahwa memang benar segala kekayaan dan kekuasaan tidak menjamin kebahagiaan hidup seseorang.  Jadi apa yang diperbuat oleh kekayaan itu sendiri?

Uang meningkatkan selera, bukan kepuasan (ay 9).  Siapa saja mencintai uang tidak pernah merasa cukup. Memang, seleranya akan bertambah banyak—ia akan mengingini lebih banyak lagi, tetapi tidak akan puas dengan apa yang dia dapatkan.  Ini merupakan teka teki kehidupan yang membingungkan. Kehausan yang tak terpuaskan itu, nyata secara menyolok dalam diri para penjudi, orang yang kaya raya dan orang yang materialistis, yang walaupun banyak uang namun tidak pernah merasa cukup. Dengan demikian, maka uang atau kekayaan bisa menjadi tuan dan memperbudak kita. Tuhan Yesus memperingatkan kita untuk waspada terhadap mammon (Mat 6:19-14).

Kekayaan meningkatkan kekuatiran, bukan ketenangan (ay 11), Alasannya sangat jelas kenapa orang kaya tidak dapat tidur, karena dia kuatir akan semua kekayaannya.  Memang di zaman sekarang ini,  sudah ada alarm tanda pencurian, kotak penyimpanan khusus dan bank.  Jadi, mungkin orang kaya itu tidak dapat tidur karena dia terbaring dalam suasana yang gelisah memikirkan investasinya. Mungkin tingkat bunga naik atau turun mempengaruhi pikiran dan hatinya. Mungkin bursa saham sedang suram atau investasi yang gagal dan banyak hal lain.  Jadi, orang kaya tak bisa tidur nyenyak karena kelimpahannya.

Intinya adalah bukan uangnya yang salah tetapi kita yang mengelolanya. Uang akan menjadi berkat bagi kita jika  diperlakukan sebagai berkat Allah, diterima dengan ucapan syukur dan dipergunakan bagi kemuliaan Tuhan.

 

Seharusnya pusat pujian dan sembah kita hanya terfokus kepada Allah sebagai sumbernya!

 

May 22, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

A NEW HEART

Artikel oleh:

Yehezkiel 36: 16 – 28

A New Heart

By: Inawaty Suwardi

Bp/Ibu/Sdr sekalian tentunya sudah mendengar tentang mukjizat yang saya alami pada bulan yang lalu. Seperti telah saya sampaikan melalui kesaksian, saya mengalami serangan jantung pada tanggal 27 Maret 2015 sehingga harus dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Namun karena penjelasan dokter mengenai penyakit saya kurang informatif, saya mencari second opinion ke dokter spesialis jantung di Singapura. Berdasarkan hasil CT Scan dari rumah sakit di Jakarta, dokter di Singapura menyatakan adanya “total blocking” atau penyumbatan 100% pada pembuluh darah jantung saya.  Karena itu dokter memutuskan untuk memasang sten/ring pada pembuluh jantung saya pada sore hari itu juga.  Tetapi Bp/Ibu, pada proses kateterisasi, dokter tidak menemukan penyumbatan. Dokter mengatakan: “Good news, Mam. No more blocking. It has dissolved.” (Kabar baik Ibu, tidak ada lagi penyumbatan, sudah larut). Karena itu pemasangan sten dibatalkan.

Saya merasa bingung saat itu, kok bisa? Serta merta Tuhan memberitahukan kepada saya bahwa Dialah yang sudah menyembuhkan saya. Hari itu saya belum meminta penyembuhan. Saya hanya berdoa agar proses pemasangan ring berjalan dengan lancer. Karena itu Tuhan mengingatkan saya akan satu ayat: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2: 9)

Bp/Ibu, mukjizat yang saya alami menginspirasi saya dalam memilih topik renungan pagi ini, yang saya beri judul A NEW HEART.

Jantung adalah heart dalam Bahasa Inggris.  Namun secara rohani kita menerjemahkan heart sebagai hati, sehingga terjemahannya tentu saja “Hati Yang Baru.”

Ayat 26 dalam bacaan kita pagi ini mengatakan: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”

Bp/Ibu, melalui mukjizat saya sepertinya  sudah memperoleh jantung yang baru  atau a new heart. Tetapi Bp/Ibu, dalam dunia kedokteran, untuk memperoleh jantung yang baru orang harus mengalami proses transplantasi jantung. Dalam ayat 26 tersebut, Tuhan  berjanji untuk melakukan transplantasi hati secara rohani kepada manusia, Artinya janji itu diberikan Tuhan 2500 tahun yang lalu.

Dalam suatu proses transplantasi untuk mendapatkan heart/jantung/hati yang baru, diperlukan adanya tiga hal, yaitu: (1) kita memerlukan diagnosa, (2) kita memerlukan dokter dan (3) kita memerlukan donor.

Marilah kita bedah satu persatu.

DIAGNOSA

Pertama untuk menjalani transplantasi jantung, kita memerlukan diagnosa. Alkitab pada ayat 26 sudah memberikan diagnosa bahwa manusia mempunyai masalah yang serius, yaitu hati kita keras. Baca selanjutnya »

May 20, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ezekiel (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yehezkiel)  belum ada komentar

Ibadah Yang Diberkati

Artikel oleh:

Ibadah Yang Diberkati

“Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat”

(Pengkhotbah 4 : 17)

 

Kalau kita mau jujur, maka kadang-kadang ibadah yang kita lakukan sama sekali tidak berarti, apalagi bila ibadah kita hanya sekedar keharusan dan rutinitas saja.  Sehingga yang terjadi adalah: kita seperti ‘dipaksa’ untuk beribadah, bukan lagi didasari dengan hati yang sungguh dan kerinduan kepada Tuhan.  Ketika kita masih mempersoalkan dan mengeluh karena singers tidak menyanyi dengan baik, atau karena pola ibadah tradisional yang tidak berkenan dihati, atau karena pendeta tidak memakai stelan jas yang seharusnya dipakainya, ataupun hal yang lain yang bersifat lahiriah, maka kita tidak sedang beribadah, bahkan kita sebenarnya belum mengerti ibadah yang sesungguhnya.

“Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!”  Ketika Pengkhotbah menuliskan ayat ini, pastilah yang ada dalam pikirannya adalah Bait Suci yang dibangun Salomo.  Dia memikirkan ribuan orang mendatangi Bait Suci itu untuk mempersembahkan korban dan beribadah.  Bait Suci itu merupakan bangunan yang indah dan besar, merupakan salah satu pemandangan yang menakjubkan dunia kuno, dihiasi dengan mewah dan membangkitkan rasa hormat. Namun, untuk sekarang ini, bentuk bangunan Bait Suci yang besar dan megah tidak lagi mendominasi bangunan gereja-gereja masa kini.  Hal itu bukanlah masalah!  Karena Rumah Allah tidaklah harus suatu bangunan yang mengesankan.  Tidak peduli gereja itu sebuah katedral besar atau sebuah gubuk seng, yang terpenting adalah hadirat Allah ada disitu.  “Rumah Allah” adalah tempat dimana Allah berdiam, dimana kita bisa menjumpai dan berkomunikasi dengan Allah.

Ibadah berarti juga komunikasi kita dengan Dia, sang Pencipta. Tidak peduli bangunan gereja-Nya seperti apa, tetapi yang terpenting adalah sikap hati kita, ketika kita masuk dalam hadirat-Nya dalam ibadah kita.  Mungkin saja kita mempersiapkan penampilan luar kita dengan memilih pakaian yang bagus dan rapih, atau dengan menyisir rambut kita, ataupun dengan mempersiapkan uang yang akan dipersembahkan sebagai kolekte.  Tetapi bagaimana dengan persiapan hati dan diri kita?  Ingatlah bahwa ibadah yang diberkati adalah dengan mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan (Roma 12:1) sehingga hidup kita ini mengalami lawatan dan sentuhan Allah yang menyegarkan jiwa kita.

 

Ibadah adalah persekutuan kita dengan Allah sehingga disitu kita mengalami serta merasakan kehadiran-Nya dalam hidup kita

May 18, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

Proses Tuhan

Artikel oleh:

Proses Tuhan

“Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup”. (Pengkhotbah 4 : 2)

 

Orang-orang yang berkuasa, pemerintah yang otoriter dan totaliter mempunyai suatu sejarah panjang dan tidak terhormat sebagai penyebab perpecahan dalam masyarakat dan keluarga. Dimana saja mereka mengulurkan tangan, kesepian dan penderitaan meningkat, sedangkan kedamaian dan kebahagiaan hilang. Melalui aturan main dan kekejaman mereka, orang terpisah satu dengan yang lain, jauh dari orang yang dicintai dan terisolasi dalam kesepian yang mendalam.

Kekejaman Rezim Nazi dari masa perang yang lalu merupakan ilusi menonjol dan menyakitkan tentang praktek kekuasaan yang salah dan tak berperikemanusiaan. Kaum Yahudi pada mulanya digiring ke dalam perkampungan-perkampungan, seperti hewan, dan walaupun hal ini menyebabkan kaum Yahudi saling berdekatan satu sama lain, kesepian sudah mulai terjadi. Mereka dipisahkan dari lingkungan yang ramah dan dari kerabat-kerabatnya. Perlahan-lahan isolasi ditingkatkan pada saat siaran radio ditiadakan dan surat kabar dilarang beredar.  Tetapi kemudian tiba saat pemukiman paksa dan teror paling akhir yaitu konsentrasi dimana bahkan anak-anak kecil pun direbut dari pelukan ibunya. Kesepian turun seperti hitamnya malam tak berbintang.

Mengingat kenyataan hidup, dimana para penguasa yang tak mengenal Tuhan bertindak dengan kejam dan tanpa kasih, maka Pengkhotbah tidak melihat adanya pilihan lain kecuali keputusasaan. Bagi Pengkhotbah sendiri, orang yang berbahagia adalah orang yang sudah meninggal ataupun mereka yang belum dilahirkan!  Mungkin, karena orang yang sudah meninggal, tidak lagi merasakan pahitnya hidup ini, demikian juga orang yang belum lahir, belum mengecap romantika kehidupan yang terjadi dibawah matahari.

Apakah kita harus menyesali kehidupan ini?  Tentunya tidak!  Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita ini adalah atas seijin Tuhan dan merupakan proses Tuhan untuk membawa kita lebih mendekat kepada Tuhan.  Dengan sangat luar biasa, Rasul Paulus bersaksi bahwa penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya ataupun pedang, tidak akan memisahkan dirinya dari kasih Kristus (Rom 8 : 35).  Bagaimana dengan Saudara?

 

Jalani proses Tuhan dengen penuh ketabahan, nicsaya akan indah pada waktunya!

 

May 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar

KETIKA HIDUP SEPERTINYA TIDAK ADIL

Artikel oleh:

Lukas 7: 18 – 35

Keadilan Tuhan

By: Pdt. Rudy Suwardi

Pernahkah Anda merasa hidup ini tidak adil? Orang-orang Kristen memang mudah merasa frustrasi ketika melihat orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus tampaknya memiliki hidup yang lebih baik. Seorang pengusaha berlaku curang, tetapi tetap memenangkan kontrak-kontrak yang besar. Orang yang selalu berpesta pora kelihatannya tetap sehat dan kuat, sedangkan Anda dan orang-orang yang Anda kasihi bergumul dengan masalah keuangan atau masalah kesehatan. Hal seperti ini mungkin membuat anda merasa dicurangi. Seakan-akan semua ketaatan yang anda lakukan kepada Tuhan tidak ada gunanya.

Bila Anda pernah memiliki perasaan demikian, Anda tidak sendirian. Yohanes Pembaptis juga pernah memiliki perasaan tersebut. Dalam perikop yang baru saja kita baca, Yohanes Pembaptis sedang merasa kecewa bahwa hidup ini sepertinya tidak adil.

Bp/Ibu, benarkah hidup ini tidak adil? Kita akan merasa kecewa jika kita memaksakan definisi atau standar keadilan kita kepada Tuhan. Ketika  Tuhan melakukan sesuatu atau ketika Tuhan tidak berbuat sesuatu yang sesuai dengan pengharapan kita, maka kita akan menilai Tuhan tidak adil.

Pagi ini kita akan mencari jawaban dari pertanyaan “Benarkah hidup ini tidak adil?” Kita akan merenungkannya dengan mempelajari keadaan yang sedang dialami oleh Yohanes Pembaptis dalam perikop yang kita baca.

Ada lima pelajaran yang dapat kita tarik dari perikop ini. Kita mulai dengan pelajaran pertama hari ini

1.   Tuhan tidak harus bekerja sesuai dengan pengharapan kita.

Ayat 18 menyatakan:  Ketika Yohanes mendapat kabar tentang segala peristiwa itu dari murid-muridnya

Bp/Ibu perlu tahu bahwa murid-murid Yohanes Pembaptis membawa berita kepadanya karena ia sedang berada di dalam penjara. Yohanes Pembaptis berada di dalam penjara karena ia berani menegur Raja Herodes yang menikah dengan Herodias.  Adapun Herodias sebelumnya adalah istri dari Filipus, adik dari Raja Herodes. Perkawinan itu melanggar hukum sehingga Yohanes mengatakannya tidak halal.

Karena keberaniannya menegur raja, maka Yohanes Pembaptis dipenjarakan di penjara bawah tanah di dalam istana. Dapat kita bayangkan betapa menderitanya Yohanes Pembaptis dikurung di dalam penjara, apalagi penjara itu di bawah tanah, sedangkan kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang yang selalu berkelana.

Kabar yang disampaikan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis adalah mungkin tentang mukjizat terbaru yang dilakukan oleh Yesus yakni membangkitkan anak muda di Nain yang telah meninggal dunia. Lihat pasal 7: 13-17.

Dalam keadaan lesu di penjara, Yohanes bertambah bingung dengan adanya berita yang ia dengar tentang pelayanan Yesus. Ia tidak pernah membayangkan bahwa seorang Mesias akan melakukan perbuatan seperti itu.

Yohanes berpikir tentang hal yang sama dengan apa yang kita pikirkan. Kita semua memiliki skenario dalam pikiran kita masing-masing. Kita memiliki pendapat tentang apa yang seharusnya diperbuat oleh orang-orang lain.

Kadang-kadang kita berharap agar Tuhan melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Kita biasanya menentukan secara rinci dalam doa-doa kita tentang apa yang kita inginkan terjadi dalam hidup kita. Apabila Tuhan tidak melakukannya sesuai dengan rincian kita, maka kita nilai Tuhan tidak berhasil memenuhi pengharapan kita.

Pengharapan kita mencakup berbagai jenis situasi. Umpamanya, kita berharap agar Tuhan menolong kita memperoleh pekerjaan tertentu. Kita berharap agar Tuhan menyembuhkan kita dari sakit-penyakit tertentu. Juga kita mungkin berharap agar kehidupan Kristen kita bebas dari segala macam persoalan.

Kadang-kadang kita menengok ke sekeliling kita, dan membanding-bandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain. Kalau kita  menilai keadaan kita lebih buruk dari orang lain, paling tidak kita berpikir sendiri, “Tuhan, ini tidak adil.  Engkau tidak memperlakukan aku dengan baik.”

Bahkan orang yang sehebat Yohanes Pembaptis sekalipun bergumul dengan kebingungannya tentang apakah Tuhan sudah memperlakukan dia dengan adil. Ia menuntut agar perjuangannya di dalam pelayanan tidak diabaikan atau dilupakan begitu saja. Ia merasa dirinya tidak layak berada dalam penjara. Ia seharusnya menerima pertolongan dari Yesus untuk keluar dari penjara, bukan anak muda di Nain yang malah dibangkitkan dari kematian.

 

2.   Keraguan yang jujur bukanlah dosa. Baca selanjutnya »

May 7, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Perjalanan misi ke Sulbar 13-17 April 2015

Artikel oleh:

Sunjaya

By Sunjaya Wijaya

Pada Hari Jumat Pk. 17.00 pesawat Wings Air mendarat di Bandara Tampa Padang, Mamuju.  Saya segera mengambil bagasi dan keluar dari bandara.  Tidak lama kemudian sebuah mobil Captiva diparkir tidak jauh dari warung tempat saya minum teh dan makan ubi goring.  Rev Tim Eckert dengan anaknya TJ, Pdt. John Ingatum dan Pdt. Deivi C. Supit keluar dari mobil menemui saya.

Kami segera tancap gas menuju Desa Lumika.  Sebelum tiba di Lumika kami mampir ke Desa Salueno dan bertemu dengan beberapa keluarga yang berkomitmen untuk mendukung perintisan gereja baru di Salueno. Ada seorang ibu tua yang menyatakan bersedia menghibahkan tanahnya untuk gereja. kami tiba di Lumika  PK. 22.00.

2. Di depan GSJA Lumika                   Di depan GSJA Lumika

                  3. Pdt. Henokh gembala sidang GSJA LumikaPdt. Henokh gembala sidabg GSJA Lumika

Jemaat GSJA Agape, Lumika telah menyiapkan makan malam. Kami makan sop ayam kampung asli yang maknyuss, eunak tenan.  Setelah makan kamipun masig-masing pergi ke peraduan. Hari Rabu pagi setelah sarapan pagi, kami berangkat menuju Kota Kalumpang.  Perjalanan menuju Kalumpang diiringi dengan musik dari batu-batu yang melejit menghantam kerangka mobil    Captiva.  Aroma bau karet ban yang ber-gesekkan dengan batu-batu jalanan sesekali memenuhi ruangan mobil.  Ketidaknyamanan ini tidak mengha-langi kami untuk menikmati indah-nya panorama khas pegunungan Sulawesi Barat.  Kami melewati belasan sungai kecil tanpa jem-batan.  Untung-nya tidak ada hujan yang besar sehingga kedalaman air sungai masih memungkinkan untuk diseberangi mobil.  Sekitar PK. 09.00  kami tiba di Kota Kalumpang.   Kami menuju rumah seorang bapak polisi yang bernama Daniel.  Bapak Daniel dan istrinya sangat mendukung rencana untuk membuka perintisan gereja di Kalumpang.  Keluarga Bpk. Daniel sudah menyiapkan daging rusa goreng dan sop rusa. Kamipun tak kuasa menolak.  Kapan lagi bisa merasakan daging rusa.

Kami merencanakan hari itu akan mengunjungi tiga tempat, yaitu : Batu Isi, Saluleke dan Makaliki.  Kami memutuskan untuk ke Batu Isi, lalu Baca selanjutnya »

May 5, 2015   Kategori : Umum  belum ada komentar

Ketidakadilan

Artikel oleh:

Ketidakadilan

“Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya”. (Pengkhotbah 3 : 17)

 

Ketidakadilan dalam hidup ternyata bukan saja terjadi pada masa sekarang ini, tetapi juga sudah menjadi makanan sehari-hari manusia zaman dahulu. Praktek ketidakadilan itu sampai sekarang merajalela di setiap institusi, organisasi, daerah ataupun negara.  Kita tidak akan heran menemukan seorang yang tidak bersalah harus menerima hukuman karena ketidakadilan itu dan orang yang jahat dapat bebas berkeliaran dimana-mana karena uang dan kekuasaan menjadi pembelanya.  Tak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit orang yang kompromi dengan kejahatan demi uang dan kedudukan.  Mengapa sepertinya Allah membiarkan semua itu?

Seringkali kita mengharapkan supaya Allah bertindak cepat terhadap segala tindak kejahatan yang terjadi dimuka bumi.  Tetapi jika hal itu tidak terjadi, maka kita menjadi kecewa dan terkadang ada orang mulai menyalahkan Allah dengan berkata, “Mengapa Tuhan hanya berdiam diri terhadap ketidakadilan yang terjadi?!”  Pengkhotbah mempunyai jawaban atas semua kejadian itu, bahwa “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya”.  Artinya, ketika kita belum menemukan jawaban atas ketidakadilan itu; ketika kita tidak melihat campur tangan Allah atas semua masalah yang kita hadapi; bukan berarti Allah tidak peduli atau Allah melupakan kita, tetapi yang benar adalah: “Allah akan bertindak dengan adil pada waktu yang telah ditetapkan-Nya”. Kapan waktunya?  Itu bukan urusan kita. Kita hanya bisa menunggu dengan setia, sabar dan penuh pengharapan.  Allah tidak bekerja menurut patokan waktu manusia, tetapi menurut patokan-Nya sendiri—menurut waktu-Nya sendiri.  Tetapi yang pasti bahwa penghakiman Allah akan terjadi pada suatu saat nanti. Dan Dia akan datang untuk menjadi Hakim yang Adil bagi manusia.

Dari pada mengisi waktu kita dengan keluhan, sebaiknya kita menggantinya dengan satu keyakinan kuat bahwa Allah mengijinkan kita mengalami setiap keadaan yang pahit dan sukar itu supaya kita menjadikan diri-Nya pusat hidup kita.

 

Pandang hidup ini dengan perspektif yang tetap terarah kepada Allah, bukan kepada problema!

May 3, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ecclesiastes (Renungan Alkitabiah dari Kitab Pengkhotbah)  belum ada komentar