Hanya Oleh Anugerah

Artikel oleh:

Hanya Anugrah

”Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23)

 

Dalam olahraga lompat tinggi, atlet yang berhasil melompat setinggi 6 meter dapat merasa lebih baik daripada mereka yang hanya bisa melompat setinggi 5 meter. Namun, betapa bodoh kalau ia lalu berpikir ia lebih mampu untuk melompat ke bulan daripada orang lain! Namun, bagaimana kalau diadakan lomba melompat ke bulan tanpa menggunakan alat? Ada yang lebih baik daripada orang lain? Tidak ada!

Dalam hal dosa, kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain seperti dalam olahraga lompat tinggi. Kita menggunakan standar penilaian kurva normal. “Orang kudus” dan “orang jahat” itu sama-sama minoritas, mayoritas adalah “orang baik-baik”-dan kita merasa aman tergolong dalam mayoritas itu.

Sungguh keliru! Alkitab menyatakan semua orang sudah berdosa (ayat 23). Tolak ukurnya bukan taraf kebaikan kita masing-masing-manusia tidak sedang bertanding lompat tinggi dengan sesamanya. Standarnya adalah kemuliaan Allah Yang Mahakudus dan Sempurna-itu seperti lomba melompat ke bulan!  Di hadapan standar ini, tidak ada satu orang pun yang memenuhi syarat. Semuanya gagal. Hanya oleh anugerah Allah-”pesawat ruang angkasa rohani”, kita mampu mengatasi gravitasi dosa dan terbang ke bulan.

Gereja Ortodoks menggambarkannya sebagai perpaduan antara dukacita dan sukacita. Kita berdukacita dengan berintrospeksi dan bertobat, merendahkan diri di hadapan Allah, menyadari keberdosaan dan keterbatasan kita. Selanjutnya kita mengucap syukur dan bersukacita karena anugerah yang telah disediakan-Nya melalui karya penebusan Kristus.

 

Kita berdosa bukan karena kita telah berbuat dosa tetapi kita berbuat dosa karena kita orang berdosa” (R.C. Sproul)

 

January 24, 2016   Kategori : Biblical Devotion from Rome  belum ada komentar

Iman Atau Perbuatan

Artikel oleh:

Iman atau Perbuatan

“Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum  Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20).

 

Pernahkah Anda mendengar orang berkata, “Allah itu bisa disogok atau disuap?”  Pasti tidak pernah. Tetapi kenyataannya banyak orang tidak sadar telah berusaha menyuap Allah agar mereka bisa dibenarkan dan diselamatkan masuk surga. Dengan apa? Dengan melakukan amal [bagi-bagi harta atau yang lainnya], berbuat baik atau bahkan dengan taat melakukan hukum Taurat. Mereka berpikir semua itu cukup untuk membayar tebusan dosa mereka yang diwariskan Adam. Padahal “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23).  Dan mereka juga berpikir semakin giat mereka beramal, berbuat baik dan melakukan hukum Taurat dengan sempurna jalan menuju ke surga semakin lebar bagi mereka.

Tetapi hal itu tidak akan pernah berhasil.  Sebab Alkitab dengan jelas berkata bahwa manusia dibenarkan “…bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rm. 3:28). Sebab bila ukuran dibenarkan bergantung pada perbuatan baik atau amal seseorang maka berbahagialah mereka yang kaya dan yang memiliki moral yang baik. Dan celakalah mereka yang miskin dan hidupnya bejat. Hal itu berarti keselamatan adalah hasil dari usaha manusia bukan kasih karunia Allah sehingga manusia menjadi arogan. Tetapi harta dan moral tidak akan membuat seseorang dibenarkan dan diselamatkan masuk ke surga. Terus apa gunanya amal dan perbuatan baik itu? Pasti ada gunanya. Tetapi bila seseorang belum beriman pada Yesus Kristus, maka amal dan perbuatan baiknya hanya seperti kain kotor (Yes. 64:6).

Bagi orang yang beriman pada Yesus, perbuatan baik bukan menjadi syarat agar bisa masuk surga. Perbuatan baiknya merupakan akibat dari seseorang yang telah mengalami kelahiran kembali dan dosanya yang telah dihapus oleh darah Yesus melalui IMAN dalam nama Yesus.  Jadi yang diperlukan Allah pertama-tama agar manusia bisa dibenarkan dan diselamatkan bukan perbuatan baik manusia tetapi IMAN, baru setelah itu perbuatan-perbuatan baik harus dimunculkan dalam kehidupannya sebagai buah pertobatan.

 

Yang membuat seseorang dibenarkan bukan perbuatan baiknya tetapi karena imannya. Rumusnya adalah YESUS + IMAN = SURGA.

 

January 23, 2016   Kategori : Biblical Devotion from Rome  belum ada komentar

Menjadi Pelaku Firman

Artikel oleh:

Pelaku Firman

“Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain” (Roma 2:24)

 

Tuhan tidak mungkin mempermalukan diri-Nya. Kalau toh Ia memilih bangsa Israel, sebenarnya Ia berharap bangsa ini akan dapat mempermuliakan nama-Nya. Ternyata yang terjadi kebalikannya. Karena bangsa Israel pula nama Tuhan dicemooh. Tingkah laku mereka tidak sama dengan hukum Taurat yang mereka sanjung tinggi. Mereka hanya bermegah, tetapi tidak menjadi pelaku firman.

Jangan mengira bahwa karena Anda menjadi anggota gereja terpandang lalu dengan otomatis nama Tuhan dimuliakan. Tidak! Orang-orang lain tidak akan melihat nama gereja tempat kita beribadah, tetapi perbuatan kitalah yang disorot.  Memuji Tuhan di gereja adalah salah satu cara untuk mempermuliakan Tuhan. Namun dalam sekejap Anda dapat meruntuhkan martabat nama Tuhan dengan sikap yang mempermalukan Tuhan. Karena berapa banyak orang Kristen yang belum menjadi contoh dan teladan. Perbuatan daging mereka masih nyata. Perkataan mereka pedas dan tidak terkendali. Memarahi orang dengan sumpah serapah. Mendamprat orang dengan perkataan yang seharusnya tidak patut diucapkan oleh seorang kudus. Bagaimana Allah akan dipermuliakan kalau sikap kita tidak menunjukkan seorang yang tinggal di dalam terang?

Orang-orang Kristen yang biasa menyebut-nyebut nama Tuhan belum tentu hatinya melekat pada Tuhan. Menyebut-nyebut nama Tuhan itu baik dan kita juga setiap hari hendaknya menceritakan perbuatan Allah yang ajaib. Tetapi perbuatan itu yang lebih penting lagi. Bagaimana Anda dapat memuji Tuhan saat ini, bila tadi malam Anda baru saja berbuat dosa? Bertobatlah dan jadikanlah diri Anda menjadi berkat bagi orang lain.

Tidak mudah memang untuk menjadi pelaku firman. Tetapi Tuhan berjanji untuk menyertai kita dan memampukan kita menjadi pelaku firman. Tetapi kita harus mempunyai kemauan untuk melakukannya.

 

Jangan menjadi orang Kristen seperti tong kosong yang nyaring bunyinya.

 

January 22, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Rome  belum ada komentar

Pribadi Yang Asyik

Artikel oleh:

Pribadi Asyik

“Sebab Allah tidak memandang bulu”. (Roma 2:11)

 

Sekarang ini kita menemukan ada orang-orang yang berkepribadian terlalu minder alias pede terlampau minus. Kalau lihat orang yang cantik atau ganteng, jadi merasa yang paling jelek sedunia, jadinya tidak nyaman bergaul sama mereka. Mau bergaul dengan yang kaya, juga risih, takut dikatakan tidak tahu diri dan punya motivasi untuk ambil keuntungan dari mereka. Bergaul dengan orang yang pandai atau  genius, malu ah, bakalan jadi orang paling tulalit. Berhadapan dengan orang yang lebih rohani, rasanya juga kaku banget, salah satu alasannya karena merasa punya dosa yang jauh lebih banyak dibanding dia. Akhirnya kita hanya berani bergaul dengan orang yang kita anggap “senasib”. Hanya di depan mereka kita bisa merasa pede. Bahkan kalau di depan yang kita anggap lebih buruk, kita bisa jadi sangat pede, karena merasa punya nilai plus ‘gitu. There is something wrong here!

Sebenarnya banyak dari mereka yang kita anggap lebih dari diri kita itu tidak menganggap kita lebih rendah, lho! Sebenarnya mereka mau bergaul dengan kita, tapi kita yang justru menutup diri. Jangan salahkan mereka kalau akhirnya mereka tidak mau bergaul dengan kita, karena bergaul dengan orang yang minderan itu sama sekali nggak asyik.  Terang saja, orang minder itu lebih sensitive atau gampang tersinggung. Anehnya, orang minder itu juga mudah jadi over pede di tengah-tengah orang yang dianggapnya lebih rendah dari dirinya.

Tuhan Yesus sudah memberi contoh supaya kita tidak minder sekaligus juga tidak sombong. Dia bisa bergaul dengan para penguasa, dan juga bisa bergaul dengan pengemis, pemungut cukai, bahkan pelacur. Type yang seperti Tuhan Yesus jelas asyik banget jadi teman bergaul.  Kalau Tuhan saja tidak bikin gap dalam pergaulan-Nya, kenapa kita musti bersikap seperti itu? Justru kalau kita menilai orang hanya berdasarkan penampilan luarnya doang, kita tentunya salah. Tuhan menciptakan manusia sama nilainya. Seharusnya tidak ada yang perlu merasa minder maupun sombong.

 

Mulai sekarang, belajarlah menjadi pribadi yang asyik seperti Tuhan kita.

 

January 21, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Rome  belum ada komentar

Hormatilah Tuhan!

Artikel oleh:

Hormatilah TUhan

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka”. (Roma 1 : 19)

 

Bukti lainnya mengenai keberadaan Tuhan di dalam hati manusia adalah walaupun orang-orang yang tidak percaya tidak takut kepada Tuhan tetapi mereka “takut pada kematian”. Kita bisa mengerti hal ini karena hal selanjutnya yang akan terjadi pada mereka setelah kematian adalah — penghakiman pada hari yang terakhir dan hukuman kutukan dalam kekekalan di Neraka. Dalam 2 Kor. 5:10 tertulis: “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”  Akan tetapi, ide untuk berhadapan muka dengan Tuhan pada hari penghakiman yang terakhir adalah sangat tidak terpikirkan, dan manusia berusaha mati-matian untuk menekan dan melupakan kebenaran ini, dan manusia berusaha keras untuk melupakan semua hal-hal yang berkaitan dengan hal ini.

Sebagai orang-orang yang dalam sifat alaminya berdosa, kita dilahirkan dalam keadaan mati secara rohani, dan berada dalam “perhambaan”, dari dosa dan Iblis, seperti yang dinyatakan dalam Efesus 2:2, “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka … “  Dan kitab Mazmur 58:3 menambahkan demikian:  “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.” Siapakah yang dimaksud dengan “orang-orang fasik” dan “pendusta-pendusta”? Seluruh umat manusia sebelum mereka diselamatkan adalah termasuk orang-orang fasik dan pendusta-pendusta.

Adalah jauh lebih baik untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita kepada Tuhan daripada memberontak melawan Tuhan yang merupakan tindakan yang sia-sia. Bahkan tindakan seperti itu akan mengakibatkan lebih banyak lagi dosa-dosa dan kesusahan-kesusahan yang akan membuat kita semakin jauh dari Tuhan dan semakin dekat kepada kegelapan yang kekal. Ingatlah bahwa Tuhan juga adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun yang akan membuka tangan-Nya kepada mereka-mereka yang mau mencari Dia dengan “sepenuh hati” (Yeremia 29:13).

 

Cara untuk menghormati Tuhan adalah dengan bertobat dari pikiran dan sikap hidup yang berdosa.

 

January 20, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Rome  belum ada komentar

Hidup Oleh Iman

Artikel oleh:

Hidup Oleh Iman

“Sebab didalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman”. (Roma 1 : 17)

“Hidup oleh iman”. Kita kerap mendengar slogan ini, bahkan mungkin terlalu sering. Apa sebenarnya artinya? Acap kali orang menjawab, “artinya kalau saya beriman, saya akan hidup.” Apa artinya hidup? “Ya, saya masuk surga kalau saya mati nanti. Pokoknya saya percaya Yesus itu Tuhan, masuk surga, selesai sudah.”  Itu tidak salah. Kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman. Namun, tentu tidak selesai di situ. Apabila keselamatan semata urusan masuk surga, kenapa kita masih hidup sekarang, tidak mati saja, supaya langsung masuk surga? Atau mungkin ada yang mengatakan, beriman itu pokoknya percaya Yesus itu Tuhan, titik. Bagaimana saya hidup, itu urusan lain. Kalau begitu, iman jenis ini cuma soal menghafal dalam pikiran seperti menghadapi ujian di sekolah.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma meminta supaya kita hidup oleh iman. Kata asli yang digunakan untuk “hidup” (ayat 17) di sini sebetulnya berbicara tentang suatu kekuatan, daya yang terus berkelanjutan. Dengan kata lain, Paulus hendak menekankan bahwa iman ada dalam kehidupan kita sehari-hari di mana pun dan kapan pun; saat kita makan, saat kita minum, saat kita bekerja, saat kita mengambil keputusan, saat kita hendak berbelanja, saat kita hendak marah-iman memberikan “hidup” dalam hidup kita.

Contoh sederhana; soal tidur. Tanpa iman, banyak orang tidur dalam kekhawatiran, kegelisahan. Banyak orang tidur dengan hati tidak tenang, entah memikirkan pekerjaan, keuangan, dan lain-lain. Namun, iman yang membuat kita hidup adalah iman yang menjadikan kita dapat berkata seperti Daud, “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab Tuhan menopang aku”, (Mazmur 3:6).

 

Iman membuat hidup jadi lebih hidup, sehingga kita dapat merasakan kasih Tuhan itu cukup.

 

January 19, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Rome  belum ada komentar

Harta Sorgawi

Artikel oleh:

Harta

“Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 19 : 21)

 

Tahukah Saudara, bahwa orang muda yang kaya dalam kisah ini bukan hanya kaya tapi juga orang yang cukup rohani?  Karena waktu Yesus berkata tentang perintah-perintah Allah, dia berkata, “Semuanya telah kuturuti sejak dari masa mudaku”, bahkan dia berani berkata di hadapan Yesus, “Apa lagi yang masih kurang.” Tetapi Yesus kemudian membuat sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan yakni bila dia ingin sempurna, maka Yesus menyuruhnya untuk menjual seluruh milikmu dan kemudian mengikut Yesus.” Lalu, apa yang terjadi?  Orang muda ini pergi meninggalkan Yesus dengan sedih.  Jika kita tidak mengerti ayat ini baik-baik, akan timbul pertanyaan dalam diri kita, apakah berarti orang Kristen tidak boleh memiliki kekayaan? Apakah berarti orang Kristen harus jual seluruh hartanya?

Yesus mau menjelaskan bahwa ada banyak orang yang terikat dengan kekayaannya sehingga yang menjadi hal utama dalam dirinya bukan lagi Tuhan, tetapi kekayaan. Dengan lain kata, ia pergi ke gereja supaya diberkati secara jasmani.  Rupanya bagi anak muda ini, hartanya adalah segala-galanya. Tuhan sebenarnya sedang menguji dia, tapi ternyata dia berkeberatan. Dia lebih berat ke hartanya dibandingkan ikut Yesus, dia lebih takut miskin ketimbang ikut Yesus. Tuhan katakan, jangan kumpulkan harta di bumi, karena ngengat dan karat menghabiskannya. Waktu kita hanya kumpulkan harta kita di bumi, semuanya itu sia-sia.

Maka mulai sekarang, marilah kita memperbaharui hidup kita, dengan tidak terikat dan melekat dengan barang-barang yang bisa mengganggu kita untuk mencari dan menggapai hal-hal yang paling berharga dalam hidup kita. Jadikanlah barang-barang yang kita miliki sebagai sarana yang membantu perkembangan diri kita menuju hidup yang mulia dan bermartabat. Barang berharga dan disayangi boleh dimiliki, tapi jangan menjadi penghambat untuk menggapai dan memperoleh hal-hal penting dan berharga yang berhubungan dengan kehidupan kekal.

Di dalam hidup kita, ada tempat yang kosong dan tidak bisa diisi oleh apapun, kecuali Yesus hadir di situ. Tapi orang-orang dunia ini terus mencoba mengisinya dengan berbagai macam hal, seperti karir, kekayaan, kemewahan, obat terlarang, seks bebas dan kekuasaan.

 

Kejarlah harta rohani, sebab hal itulah yang makin mendekatkan diri kita dengan sorga!

 

January 12, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Matthew (Renungan Alkitabiah dari Injil Matius)  belum ada komentar

Arti Mengampuni

Artikel oleh:

Arti Pengampunan

“Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”.

(Matius 18 : 22)

 

Seorang supir truk sedang duduk makan di sebuah restaurant. Sedang asyik-asyiknya dia menikmati makanannya, tiba-tiba pintu restaurant dibuka dengan kasar. Dan masuklah beberapa orang gang motor ke dalam restaurant itu.  Mereka berjalan menuju ke arah supir truk dan berkata: ”Kami mau pakai meja ini”. Supir truk menjawab dengan kalem: ”Maaf ya mas, saya belum selesai makan.”. Kemudian pemimpin gang motor itu mengambil cangkir kopi, gula, dari supir truk dan meletakkan semuanya di atas piring makanan dan berkata: ”Sekarang kamu sudah selesai”. Bagaimana respon supir truk ini? Dia bangkit dengan tenang dan berjalan keluar menuju pintu. Anggota-anggota gang motor langsung mentertawakan supir truk itu. Mereka berkata : Dia bukan laki-laki, tapi banci. Namun tidak lama kemudian terdengar suara gaduh di luar restaurant. Apa yang terjadi? Ternyata si supir truk menabrak sampai hancur semua motor-motor gang itu dengan truknya yang besar. Ini hanyalah kisah dalam sebuah film.

Ada sebuah kisah nyata, bukan dari film, terjadi tahun 1900 awal. Ketika itu, Turki memimpin pemusnahan orang-orang Armenia. Seorang pemimpin Turki menyerbu ke rumah-rumah orang Armenia. Dia membunuh orang-orang yang lanjut usia. Mengambil wanita–wanita untuk pasukannya dan untuk dirinya. Akhirnya seorang wanita berhasil meloloskan diri. Wanita ini kemudian mengikuti pendidikan menjadi seorang perawat. Ternyata setelah selesai dia ditempatkan di sebuah rumah sakit Turki. Suatu malam, dengan hanya diterangi oleh lentera, dia melihat wajah pemimpin Turki yang jahat itu sedang terbaring sakit parah. Bagaimana respon wanita ini? Dia melakukan semua yang bisa dikerjakannya untuk menolong pria tersebut sampai sembuh. Suatu hari, dokter dan perawat berdiri di samping ranjang orang Turki tersebut. Dokter itu berkata seperti ini: ”Tanpa perhatian wanita ini, kamu sudah lama mati”. Kemudian pemimpin Turki itu memandang wanita tersebut dan berkata: “Sepertinya kita pernah ketemu”. “Ya” jawab perawat tersebut:  “Kita pernah ketemu”. Lalu jawab orang Turki itu: “Mengapa kamu tidak membunuh saya?” Wanita itu menjawab:  “Saya seorang pengikut Yesus yang memerintahkan kepada kami: ”Kasihilah musuhmu”.

Pengampunan yang diungkapkan Yesus tidak berbicara mengenai berapa kali orang percaya harus mengampuni. Yesus sedang berbicara tentang pengampunan yang terus menerus yang harus dilakukan oleh orang-orang percaya.

 

Yesus menekankan bahwa hidup mengampuni adalah gaya hidup murid-murid-Nya.

 

 

 

January 11, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Matthew (Renungan Alkitabiah dari Injil Matius)  belum ada komentar

Berkat Dibalik Penderitaan

Artikel oleh:

Dibalik

“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (Matius 17 : 22, 23)

 

Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (ay 22b-23a), mengapa dikatakan, “hati murid-murid itu sedih sekali?” (ay 23b).  Karena mereka belum mengerti bahwa ada berkat besar di balik penderitaan yang harus Yesus jalani.  Ada kebangkitan yang memberi hidup kekal setelah tiga hari kematian Yesus.

Ketika kaisar Valens mengirimkan beberapa utusan untuk merayu Eusebius dengan kata-kata manis dan iming-iming kemewahan, dia menjawab, “Tuan-tuan, bujukan kalian hanya cocok untuk menggodai anak-anak; tetapi kami yang diajar dan dibesarkan dalam Kitab Suci siap untuk menderita seribu kematian daripada membiarkan satu bagian Kitab Suci diselewengkan.”  Kemudian, sang kaisar mengancam untuk merampas semua miliknya, menyiksanya, membuangnya, bahkan membunuhnya.  Akan tetapi, Eusebius menjawab:

“Seorang yang tidak memiliki apa-apa untuk dipertahankan, tidaklah takut akan perampasan.  Seorang yang tahu persis bahwa kewarga negaraannya adalah di Surga, tidaklah takut akan pembuangan.  Seorang yang sadar bahwa tubuhnya hanyalah debu yang akan kembali kepada debu, tidaklah takut akan penyiksaan. Seorang yang yakin bahwa rohnya akan kembali kepada Bapa ketika meninggal, tidaklah takut akan kematian.  Kematian justru adalah saat pembebasannya atas segala pengaruh dosa dan segala kesedihan”.

Jadi, bagi orang yang sungguh percaya, selama hidup dan hatinya  dilingkupi kebenaran, maka setiap jenis penderitaan justru akan membawanya lebih dekat kepada Allah.

Di balik kado indah yang Iblis kirimkan, ada racun atau bom yang membinasakan; di balik pahitnya obat yang Allah kirimkan ada kuasa yang menyembuhkan dan menguatkan.

 

January 10, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Matthew (Renungan Alkitabiah dari Injil Matius)  belum ada komentar

Mengenal Tuhan

Artikel oleh:

Mengenal Tuhan1

“Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16 : 16)

 

Yesus bertanya kepada para murid “Menurut pendapat orang, siapakah Anak Manusia itu?” Disini Yesus mau melihat, siapakah Dia menurut pandangan banyak orang, yang sudah mengenal, mendengar bahkan melihat sendiri diri Yesus dan pekerjaan-Nya. Maka para murid menyampaikan banyak pandangan dari orang banyak, ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, Elia; ada pula yang mengatakan bahwa Ia adalah Yeremia. Semua itu adalah penilaian yang cukup hebat. Namun nampaknya bukan itu yang mau dicari oleh Yesus, disini Yesus mau mengetahui bagaimana pemahaman murid-Nya. Maka Yesus masuk ke pertanyaan-Nya yang terpenting, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Yesus menguji, sejauh mana para murid-murid-Nya mengenal diri-Nya. Pertanyaan ini ingin mempertegas kembali kepada murid-muridNya bahwa apakah mereka mengenal Yesus itu sedemikian dalam. Bukankah mereka telah lama bersama-sama di dalam pelayanan yang dilakukan oleh Yesus?  Yesus menegaskan kembali pertanyaanNya supaya jangan hanya tumbuh di dalam pikiran dan hati mereka tentang apa kata orang tentang Dia. Kalau hanya bergantung kepada kata orang, ini yang membuat kita belum mengenalnya dengan sungguh-sungguh. Dan bisa saja itu tidak benar, hanya perkiraan saja.  Simon Petruslah yang memberikan jawaban, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Zaman ini adalah zaman dimana ada begitu banyak pertanyaan yang sedang diajukan oleh manusia dalam hidupnya. Apakah itu pertanyaan tentang kehidupan, tentang pekerjaan, tentang ekonomi, tentang keluarga, tentang masa depan, tentang gereja, tentang jodoh, tentang kesehatan dan sebagainya. Setiap pertanyaan itu menuntut jawaban yang tepat dalam kehidupan manusia. Tetapi ada satu pertanyaan yang terpenting dan yang dilupakan oleh banyak manusia. ‘Siapakah Yesus menurut Anda sendiri?’ Kalau kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan benar, bukan dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan perkataan orang namun melalui pengalaman hidup kita bersama Yesus selama ini,  maka semua pertanyaan tentang kehidupan tadi terjawab dengan sendirinya.

 

Yesus mengajukan pertanyaan itu untuk membuat manusia sadar, bahwa hal terpenting dalam kehidupan ini adalah mengenal Tuhan dengan benar.

January 9, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Matthew (Renungan Alkitabiah dari Injil Matius)  belum ada komentar