Hak Monopoli Allah

Artikel oleh:

Monopoli

“Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus”. (Kisah Para Rasul 21 : 13b)

 

Pada suatu hari, satu panitia kebangunan rohani di satu kota yang terdiri dari pendeta-pendeta mengadakan rapat.  Beberapa mengusulkan untuk mengundang D.L. Moody sebagai pembicara KKR se-kota tersebut.  Akan tetapi, sesaat sebelum tercapai kesepakatan, seorang pendeta muda yang tidak menyukai Moody berdiri dan bertanya, “Mengapa harus Moody?  Apakah dia mempunyai hak monopoli terhadap Allah?”

Rapat itu menjadi hening untuk jangka waktu yang cukup lama.    Akhirnya, seorang hamba Tuhan yang sudah berusia lanjut dan dikenal sangat bijaksana angkat suara, “Tidak, dia tidak mempunyai hak monopoli terhadap Roh Kudus, tetapi Roh Kudus lah yang telah dizinkannya untuk mempunyai hak monopoli atas kehidupan D.L. Moody  seutuhnya.”  Tak seorang pun lagi yang berbicara menentang kesaksian hidup tersebut.

Paulus sebenarnya adalah profil yang muncul belakangan dalam Kisah Para Rasul, tetapi kemudian pelayanannya menjadi sedemikian berpengaruh dan dominan dalam pertumbuhkembangan gereja mula-mula.  Mengapa Paulus?  Apakah Paulus mempunyai hak monopoli atas Allah?  Sama sekali tidak!  Aklan tetapi, jelas sekali bahwa dia telah mengizinkan Kristus untuk memonopoli kehidupannya seutuhnya.  Sebagaimana terungkap dalam ikrarnya, “Aku ini relah bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus” (ay 13).

Sejarah mencatat ada begitu banyak bentuk monopoli yang merusak tatanan dan ketentraman masyarakat.  Sebaliknya, sejarah gereja justru mencatat bahwa orang-orang yang telah  dipakai untuk menghadirkan dan mengembangkan Kerajaan Allah secara signifikan adalah orang-orang yang dimonopoli Allah.

 

Orang percaya harus menolak segala praktek monopoli ekonomi.

Orang percaya wajib memperjuangkan agar Allah mempunyai hak monopoli penuh atas kehidupannya.

 

August 14, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Tawanan Roh

Artikel oleh:

Tawanan

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.” (Kisah  Para Rasul 20:22)

 

Pernyataan sebagai seorang ‘tawanan’ disampaikan sendiri oleh Rasul Paulus.  Bicara tentang tawanan, seringkali langsung berpikir tentang perbudakan atau akibat dari orang yang telah melakukan tindak kejahatan.  Memang, namanya ‘tawanan’ maka orang itu tidak bebas lagi mengikuti apa maunya sendiri tapi harus ikuti apa maunya ‘si penawan’.  Bagaimana dengan “tawanan Roh”?  Ditawan oleh Roh-Nya berarti hidup kita diatur serta di kontrol oleh kehendak Tuhan.  Paulus menjadi ‘tawanan’ Roh, artinya ia tidak dapat bertindak sekehendak hati, namun semuanya harus sejalan dengan pimpinan Roh Kudus.  Paulus menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba, maka dari itu dia belajar taat kepada Roh Kudus sehingga Paulus hanya mau melangkah dan berbicara atas kehendak Tuhan saja.

Sadar atau tidak, kita sebenarnya punya tugas penting dalam hal mengemban panggilan Tuhan dalam hidup ini. Tetapi tidak semua orang memberikan respon yang benar terhadap panggilan Tuhan. Yang lebih banyak justru lari menjauh untuk menghindari panggilan Tuhan. Karena untuk memenuhi panggilan Tuhan berarti kita harus keluar dari zona nyaman dan siap mengalami masa-masa sulit dengan segala resiko yang ada. Menyadari panggilan, berarti menyadari kehendak dan tujuan Tuhan dalam hidup kita. Panggilan Tuhan itu tidak harus menjadi pendeta, penginjil atau jadi nabi saja, tapi setiap orang yang rela dan siap menjadi saksi Tuhan dimanapun ia berada, maka orang itu sedang memenuhi panggilan Tuhan. Tuhan tidak mencari orang yang memiliki gelar yang tinggi, yang Dia cari adalah mereka yang punya hati hamba, penuh penyerahan diri dan taat padaNya.  Orang-orang yang dipakai Tuhan dan membuat sejarah adalah mereka yang menjadi “tawanan Roh”. Mereka tidak hanya  mengijinkan Roh Kudus menuntun hidup mereka, tetapi mereka membiarkan diri mereka “dikendalikan” oleh Roh Kudus, apapun dan bagaimanapun keadaan mereka saat itu.

Jadi, segala sesuatu yang berkenaan dengan kebenaran, kekudusan atau hidup yang tak bercacat cela sepenuhnya ada dalam kontrol Roh Kudus dan menjadi arah ke mana kita akan dibawa-Nya.

 

Hidup dalam pimpinan Roh Kudus inilah yang menjadi tanda bahwa kita ini adalah anak-anak Allah.

August 13, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Jangan Sesat!

Artikel oleh:

Waspada

 

“Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!”

(Kisah Para Rasul 19 : 28)

 

Penyembahan berhala adalah peribadatan kepada sesuatu di luar Allah yang hidup dan benar. Seringkali ritual ibadahnya menggunakan patung, dan ini dengan tegas dilarang oleh Hukum Taurat yang kedua (Keluarga 20 : 4).  Pada waktu itu yang menjadi kebanggaan kota Efesus adalah kuil dewi Artemis yang sangat termasyur di seluruh dunia.  Penyembahan kepada Dewi Artemis telah berlangsung begitu lama di Efesus sehingga mungkin Efesus identik dengan Dewi Artemis, begitu pula sebaliknya. Bahkan kuil Dewi Artemis di Efesus disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia pada masa purba. Maka adalah konsekuensi logis bila roda perekonomian di Efesus menjadi laju karena keberadaan kuil Artemis.

Penyembahan Artemis ini dimanfaatkan oleh Demetrius untuk mencari uang! Ia memproduksi kuil-kuilan Artemis dari perak (ay 24). Banyak orang yang membelinya sekedar sebagai souvenir, tetapi banyak juga yang membelinya dan terus membawanya sebagai jimat! Memang tahyul dan ajaran-ajaran kafir sering memberi keuntungan kepada orang-orang tertentu sekalipun hal itu menyesatkan. Namun, karena pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus, Demetrius merasa terusik dan bisnisnya terancam gulung tikar.  Dia berusaha untuk memprovokasi orang-orang di kota Efesus.  Dalam pidatonya, Demetrius berusaha mempengaruhi para tukang bahwa semua ini gara-gara ulah Paulus yang berusaha menghancurkan berhala Artemis itu.  Rasul Paulus benar-benar berada di ujung tanduk.

Waspadalah, sebab begitu banyak Demetrius yang masih berkeliling di zaman kita sekarang ini. Mereka mungkin sangat dekat dengan kita bahkan mereka adalah bagian dari hidup kita. Mereka ada di tengah-tengah masyarakat di mana kita berada, bahkan selalu hadir dalam persekutuan anak Tuhan lewat kegiatan ibadah dan pelayanan yang lainnya. Tetapi mereka merasa tidak nyaman jikalau orang lain mengalami damai sejahtera karena pemberitaan Injil. Mereka tidak suka jika orang lain lebih berhasil atau sukses dibandingkan dirinya. Karena itu mereka terus menebar fitnah dan merasa senang jika timbul perselisihan dan pertengkaran di antara anak-anak Tuhan.

 

Jangan cepat terprovokasi dengan cerita yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

 

August 12, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Kuasa Nama Yesus

Artikel oleh:

Kuasa Nama Yesus

“Tetapi roh jahat itu menjawab: “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?” (Kisah Para Rasul 19 : 15)

 

Ada tujuh orang bersaudara, anak dari seorang yang bernama Skewa, iman kepala Yahudi, berkeliling Efesus dan mengusir roh-roh jahat. Ketujuh bersaudara itu mendengar tentang Paulus, atau mungkin melihat bagaimana ia menyembuhkan orang sakit dan mengalahkan roh kenajisan di dalam nama Yesus. Karena itu, mereka memakai nama Yesus sebagai mantra, tetapi tidak mengenal Juruselamat itu secara pribadi. Mereka juga tidak berpegang kepada kuasa-Nya dan tidak percaya kepada-Nya.  Roh jahat di dalam diri orang yang kerasukan itu langsung bertindak, dan berteriak dengan keras, “Yesus aku kenal, dan Paulus juga bukan nama yang asing bagiku.” Roh jahat dari neraka mengaku dengan mengertakkan gigi bahwa ia mengenal Dia yang sudah mengalahkan maut. Maut tidak pernah mengalahkan Dia, karena Anak Domba Allah sudah menanggung segala dosa dunia dan memperdamaikan Allah dengan manusia. Roh jahat tahu tentang kayu salib dan Kristus yang hidup, yang bangkit dari kematian. Mereka juga tahu tentang hari penghakiman akhir.

Kristus tetaplah Juruselamat kita, dan bisa menyelamatkan kita saat ini dari kuasa roh jahat. Pernahkah kita pergi kepada ‘orang pintar’ untuk dia memberikan mantra tertentu, atau “menyembuhkan” kita? Pernahkah kita percaya kepada jimat atau benda-benda kegelapan lainnya di sekitar kita?  Akuilah dosa-dosa itu secara terbuka di hadapan Allah dan berdoa dengan seorang hamba Tuhan agar nama Yesus bisa membebaskan kita dari segala ikatan roh jahat.  Ingat bahwa kalau kita rela untuk menyerahkan satu jari saja kepada roh jahat, maka roh jahat itu akan menangkap tangan kita, lengan kita, bahkan seluruh tubuh kita. Tetapi barangsiapa yang dengan sepenuh hati bertobat dan datang kepada Yesus, maka Nama itu akan membebaskan kita sepenuhnya dan kemenangan Allah pasti nyata dalam kehidupan kita.

Setiap orang yang telah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus dapat menyebut nama-Nya untuk memohonkan pertolongan-Nya, tapi tidak boleh digunakan secara “sembarangan”. Dalam hal mujizat, bahwa hanya Allah saja yang berhak memutuskan waktu dan menentukan cara yang digunakan dalam bertindak menolong setiap orang percaya. Adapun tujuan akhir dari mujizat tersebut adalah bagi kemuliaan Allah, pertumbuhan iman, dan menjadi kesaksian bagi orang yang belum percaya.

 

Nama Yesus adalah nama yang penuh kuasa dan ajaib! 

 

August 11, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Bekerja Dan Melayani

Artikel oleh:

Bekerja & Melayani

“Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah”. (Kisah Para Rasul 18 : 3b)

 

Di Korintus, Paulus bertemu dengan Akwila dan Priskila (Ay 2-3). Akwila dan Priskila adalah sepasang suami istri yang datang dari Roma dan pekerjaan mereka sama seperti Paulus, tukang kemah. Paulus, di samping seorang penginjil, juga mempunyai pekerjaan sampingan membuat kemah/tenda. Hal ini mempertemukannya dengan keluarga Akwila yang juga mempunyai pekerjaan yang sama dan Paulus sempat tinggal dan bekerja bersama-sama mereka (Ay 3).

Walaupun mereka sama-sama pembuat kemah/tenda, tidak membuat satu dengan yang lain merasa sebagai saingan atau tersaingi sehingga membuat jarak diantara mereka. Mereka bersahabat, mereka bekerja sama dan mereka semakin berkembang baik usaha maupun kerohanian mereka. Pekerjaan seharusnya tidak boleh menghambat panggilan utama orang percaya yakni memberitakan Injil, baik melalui perkataan maupun perbuatan dan terlebih hubungan baik dengan sesama. Hal inilah yang ditunjukkan Paulus. Dan bagaimana dengan Akwila dan Priskila? Kehadiran Paulus di rumah mereka, serta kerjasama yang dilakukan selama ini juga tidak hanya menambah pengetahuan atau pemahaman mereka tentang iman kristen tetapi juga menumbuhkan semangat memberitakan Injil kepada mereka.

Apakah seorang hamba Tuhan atau pendeta boleh melakukan pekerjaan di luar pelayanannya?  Jawabannya, tidak masalah; hal itu tergantung pada keadaan dan motivasinya. Paulus bekerja sebagai tukang kemah salah satunya adalah agar tidak membebani jemaat yang dilayaninya, sehingga jemaat dapat memberikan persembahan mereka ke hamba Tuhan lain yang membutuhkannya, bahkan hasil dari pekerjaan Paulus pun dapat digunakan untuk membantu hamba-hamba Tuhan lainnya. Pekerjaan yang dilakukannya bukanlah hal yang utama, tetapi sebagai penunjang, yaitu selain untuk menambah uang bagi pelayanan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Paulus untuk dapat menyampaikan Injil di tengah-tengah pekerjaannya.

Mari kita sendiri yang menguji motivasi kita, apakah dalam bekerja itu nama Tuhan dipermuliakan, atau justru ada motivasi lain di balik itu? Biarlah segala yang kita lakukan, entah itu makan atau minum, atau bahkan bekerja sekalipun, kita lakukan dengan motivasi untuk mempermuliakan nama Tuhan (1 Kor 10:31).

 

Alkitab  tidak melarang seorang hamba Tuhan bekerja, bahkan seorang hamba Tuhan full timer sekalipun.

 

August 10, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Utamakan Perkara Rohani

Artikel oleh:

Utamakan Perkara Rohani

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia”. (Kisah Para Rasul 17 : 24)

 

Pada umumnya, jika seseorang menmgunjungi tempat-tempat yang baru, maka dia akan sibuk sekali mengambil foto dan berfoto di sana-sini.  Sebelum pulang, tidak lupa, dia membeli souvenir atau makanan khas setempat.  Sesampainya di rumah, dengan bersemangat dia menceritakan segala keindahan dan keistimewaan tempat-tempat baru yang dia kunjungi.

Rasul Paulus, kemungkinan besar, adalah satu dari ‘pelancong’ terbesar pada zamannya.  Hanya dalam pasal 17 saja, dia telah mengunjungi tiga kota yang berbeda, yaitu: Tesalonika, Berea dan Athena.  Di sepanjang umurnya, Paulus mengunjungi banyak pulau, dan melihat banyak pemandangan di berbagai negara.  Ketika dia pulang, dia banyak sekali menulis surat.  Surat-suratnya dibaca secara luas oleh jemaat mula-mula.  Akan tetapi, di dalam semua tulisannya, tidak ada satu baris pun yang menceritakan keindahan pemandangan, atau kehebatan arsitektur satu gedung atau keunikan budaya setempat.

Bukankah itu aneh sekali?  Tidak bagi Paulus! Sejak Paulus  mendapatkan penglihatan akan kemuliaan Allah dalam perjalanan ke Damsyik dan mendengar suara Yesus, maka sejak saat itu dia menjadi seorang yang ‘buta’ dan ‘bisu’ bagi Allah.  Ke mana pun dia pergi, dia tidak ‘melihat’ siapa pun kecuali Kristus dan jiwa-jiwa yang membutuhkan uluran tangan-Nya.  Setiap kali dia berbicara, dia tidak mau berbicara apa pun kecuali tentang Injil Allah.

Apakah itu berarti kita harus membuang semua foto-foto kenangan dan kamera-kamera kesukaan kita?  Tentu saja tidak!  Akan tetapi,  di sisi lain, kita harus mengevaluasi ulang pola pandang dan pola bicara kita.  Sebagai warga Kerajaan Allah, seharusnya kita lebih suka untuk memandang dan berbicara  perkara-perkara Surgawi dan bukan perkara-perkara duniawi.

 

Jika seseorang sungguh telah berjumpa dengan Allah, maka hidupnya dipimpin oleh indera ke enam, yaitu indra  akan perkara-perkara Surgawi.

 

August 9, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Bahaya Ketidakmatangan Rohani

Artikel oleh:

Anak

Ibrani 5:11–14

By: Pdt. Rudy Suwardi

 

Bp/Ibu sekalian mungkin masih ingat pada tema kotbah Bp. Gembala pada hari Minggu pertama bulan ini dengan judul “Growing Up”, atau “Bertumbuh Semakin Dewasa”.  Kita semua mendapat penjelasan bahwa growing up tidak sama dengan growing old. Setiap manusia secara otomatis akan mengalami growing old, menjadi lanjut usia seiring berjalannya waktu.  Tetapi untuk growing up atau bertumbuh semakin dewasa,  manusia harus menjalani proses, antara lain melalui  pembelajaran dan pengalaman.

Untuk menggambarkan proses pembelajaran itu, saya ingin mengadakan suatu Quiz sebagai ilustrasi.

Pertanyaan 1: Bagaimana anda menyimpan seekor jerapah di dalam lemari es?

Jawab 1: Buka lemari es, masukkan jerapah kedalamnya dan tutup pintunya. Jangan membuat masalah menjadi rumit.

Pertanyaan 2: Bagaimana anda menyimpan gajah di dalam lemari es?

Jawab 2: Buka pintu lemari es, keluarkan dulu jerapahnya, lalu masukkan gajahnya dan tutup pintunya. Disini  anda harus belajar bahwa ada kesinambungan dalam tindakan anda.

Pertanyaan 3: Singa, The Lion King, mengadakan rapat akbar binatang hutan. Semua binatang hadir dalam rapat akbar tersebut, kecuali satu ekor binatang. Binatang apa yang tidak hadir?

Jawab 3: Gajah. Karena dia sedang ada di dalam lemari es.

Pertanyaan ini menguji apakah anda belajar menggunakan ingatan anda.

Pertanyaan 4 (terakhir) : Anda harus menyeberangi sungai. Tetapi sungai itu dihuni oleh banyak buaya. Bagaimana anda dapat menyeberanginya dengan selamat?

Jawab 4: Berenanglah dengan santai. Kan semua buaya sedang mengikuti rapat akbar yang diadakan oleh Sang Raja Rimba.

Quiz tadi menggambarkan bagaimana anda menjalani suatu proses pembelajaran secara bertahap  supaya mengalami pertumbuhan/perkembangan dalam nalar atau pola pikir.

Pertumbuhan/perkembangan sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Adanya gangguan pada pertumbuhan atau bahkan terhentinya perkembangan dalam kehidupan manusia adalah suatu tragedi.

Bayangkan apa yang terjadi kalau pertumbuhan mental seseorang berhenti pada usia 2 tahun. Sampai masa tuanya ia tidak akan dapat mengurus dirinya sendiri.  Demikian juga kalau perkembangan rohani orang Kristen berhenti atau bahkan mengalami kemunduran. Banyak berkat yang dapat dinikmati di dalam Kristus, tetapi hanya orang-orang Kristen yang memiliki kerohanian yang matang atau dewasa yang dapat memahami dan menghargainya. Jika seseorang masih tetap hijau atau belum matang dalam kerohaniannya, ia tidak dapat memahami atau menghargai sepenuhnya atas posisinya sebagai orang percaya maupun berkat berkat yang ia miliki di dalam Kristus. Ia juga mudah diperdaya oleh pengajaran sesat.

Suatu tragedi telah terjadi dalam perkembangan kerohanian dari beberapa jemaat orang Yahudi yang sedang digembalakan oleh penulis Kitab Ibrani. Penulis Kitab Ibrani ingin mengajarkan kepada mereka suatu kebenaran besar tentang Melkisedek, Raja sekaligus Imam yang melambangkan Imam Agung Yesus Kristus. Tetapi penulis tidak dapat mengajarkan materi itu kepada jemaat orang Yahudi karena materinya melampaui apa yang dapat dimengerti oleh mereka. Mereka sangat malas, kekanak-kanakan, dan tidak dewasa. Mereka lambat untuk mengerti, tidak dapat mempelajari materi pelajaran tingkat lanjut.

Persoalannya bukan terletak pada topiknya, tetapi penulis Kitab Ibrani mengalami kesulitan untuk menerangkannya karena kerohanian jemaat Yahudi itu  telah menjadi tumpul.  Karena itu penulis Kitab Ibrani menunda pelajaran tentang Imam Agung itu ke pasal 7, karena ia ingin memperbaiki  kondisi rohani orang-orang Yahudi itu  terlebih dahulu.

Bp/Ibu perlu tahu, bahwa thema dari Kitab Ibrani adalah keunggulan Kekristenan yang melebihi Yudaisme. Namun orang-orang Yahudi selalu tergoda untuk kembali pada ritual-ritual dalam penyembahan di Bait Allah. Mereka sedang didorong untuk meninggalkan upacara persembahan korban seperti pada masa Perjanjian Lama yang sebenarnya sudah digantikan dengan pengorbanan Kristus sekali untuk selamanya.

Perikop yang telah kita baca memuat kata-kata teguran yang tajam terhadap ketidakmatangan rohani. Jemaat  Kristen Yahudi itu digambarkan sebagai orang-orang yang sulit untuk diajari karena pada ayat 11 mereka disebut “lamban dalam hal mendengarkan”, pada ayat 12 mereka ditegur “sudah seharusnya menjadi pengajar,” dan pada ayat 13 mereka disebut “anak kecil”, ayat 14, mereka dinilai “tidak dapat membedakan yang baik daripada yang jahat.”

Bagaimana dengan Bp/Ibu sekalian? Apakah anda adalah orang-orang Kristen yang sudah matang atau dewasa? Atau apakah ada yang merasa mandek atau berhenti dalam pertumbuhan rohaninya seperti jemaat Kristen Yahudi tersebut?

Pagi ini kita akan memakai keadaan orang-orang Kristen Yahudi dalam Kitab Ibrani itu sebagai indikator untuk menilai tingkat kematangan rohani kita masing-masing.

1.   Lamban Dalam Hal Mendengarkan

Ciri pertama dari orang Kristen yang belum dewasa rohani atau bayi rohani adalah lambat untuk mengerti atau bodoh.

Ayat 11 mengatakan, Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.

“Lamban dalam hal mendengarkan” adalah terjemahan dari “dull of hearing” yang secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai Baca selanjutnya »

August 1, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Hebrew (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ibrani)  belum ada komentar

Rahasia Kebahagiaan

Artikel oleh:

Tolong Selamatkan Kami

“Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” (Kisah Para Rasul 16 : 9b)

 

Tak ada seorang pun yang tidak ingin selamat dan bahagia atau dengan bahasa sederhana semua orang ingin bahagia. Namun, ternyata ada perbedaan definisi “bahagia” yang diberikan oleh dunia dengan Allah. Bagi dunia, kebahagiaan adalah ketika seseorang bisa meraih posisi jabatan yang tinggi, uang yang banyak, istri yang cantik, anak yang sehat. Segala sesuatunya selalu diukur dengan materi, materi, dan materi. Allah memberikan arti berbeda mengenai kebahagiaan. Dia sendiri adalah rahasia kebahagiaan bagi manusia yang mencarinya. Orang-orang yang menerima Allah tidak akan pernah mengalami kekecewaan karena janji-janjiNya selalu ditepati. Ketika Anda meminta pertolongan, maka pertolongan-Nya datang di saat yang tepat. Ketika Anda memohon kesembuhan maka kesembuhan-Nya Anda terima. Bahkan semua yang Anda butuhkan telah Dia sediakan sebelum Anda meminta kepada-Nya.

Penglihatan Paulus tentang orang-orang di Makedonia itu membutuhkan kebahagiaan dan keselamatan yang sejati. Dan hal itu hanya dapat diberikan oleh Tuhan Yesus. Tetapi bagi orang-orang seperti orang di Makedonia, mereka membutuhkan orang-orang yang memiliki beban atau panggilan untuk menjadi penyambung lidah Allah. Siapakah yang mau pergi untuk memberitakan keselamatan dari Tuhan?  Sampai kini pun mesih banyak orang yang berteriak seperti orang Makedonia “…….tolonglah kami!”.  Apakah Anda bersedia membawa kabar keselamatan dan kebahagiaan sejati untuk mereka yang membutuhkannya?

Sebab, hanya satu jalannya, yaitu setiap orang harus menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda secara pribadi. Menolak-Nya berarti siap menjalani kehidupan yang menyedihkan. Ingatlah bahwa kebahagiaan yang diberikan oleh dunia ini adalah semu dan sementara, tetapi kebahagiaan yang Allah berikan adalah nyata dan abadi.

 

Kristus adalah sumber kebahagiaan orang-orang yang hidup  dalam Firman Allah.

 

July 30, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Selalu Ada Solusi

Artikel oleh:

Selalu Ada Solusi

“Dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman” (Kisah Para Rasul 15:9)

 

Sekelompok orang Farisi yang bertobat rupanya masih melanjutkan kebiasaan mereka untuk menaati Hukum Taurat. Mereka datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan orang-orang non Yahudi: “Jika kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa, kamu tidak dapat selamat” (ay. 1,5). Jadi bagi mereka, untuk diselamatkan, tidak cukup jika hanya percaya kepada Yesus. Mereka ini bukan tidak setuju adanya penerimaan jemaat Antiokia terhadap orang-orang kafir melalui baptisan. Mereka juga tidak menyangkal bahwa kuasa pengorbanan Yesus Kristus dalam mengampuni dosa, tetapi mereka yakin bahwa dengan jalan penyunatan, Kristus menganugrahkan keselamatan kepada orang percaya. Hal ini tentu saja ditentang keras oleh Paulus dan Barnabas sehingga terjadi pertentangan yang bila dibiarkan dapat menimbulkan perpecahan.

Lalu ditetapkan agar Barnabas dan Paulus serta beberapa jemaat pergi ke pada rasul-rasul dan Penatua-Penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. Kristen Yahudi tetap bersikeras bahwa orang-orang yang bukan Yahudi harus di sunat. Sementara Paulus dan Barnabas juga bersikeras bahwa orang yang bukan Yahudi tidak harus disunat, karena keselamatan bukan karena sunat tetapi anugerah dalam iman kepada Yesus Kristus. Masing-masing pihak bersikukuh dengan kebenaran mereka masing-masing.

Dalam persidangan, Petrus menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Yahudi, atau non Yahudi untuk selamat, yaitu hanya oleh anugerah Tuhan Yesus semata (ay. 9,11). Ketika orang Yahudi percaya kepada Yesus sebagai Mesias, mereka dibebaskan dari tuntutan hukum Taurat yang tidak mampu mereka tanggung. Jadi merekapun diselamatkan oleh anugerah Allah. Demikian pula orang non Yahudi yang percaya Yesus, tidak seharusnya dituntut melaksanakan hukum Taurat itu. Sunat maupun kebiasaan melakukan hukum Taurat tidak dapat menambah keselamatan, karena Yesus sendiri telah menggenapi hukum Taurat. Yesus telah mati mengorbankan diri-Nya untuk menjadi korban pendamaian antara manusia dan Allah.

 

Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi perbedaan itu harus dibahas dengan hati dan kepala yang dingin.

 

July 29, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Jadilah Saksi Tuhan!

Artikel oleh:

Jadilah Saksi Tuhan

“Dan murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus”. (Kisah Para rasul 14 : 52)

 

Orang Yahudi mengetahui sejarah bangsa mereka, khususnya tentang janji akan Juruselamat dari keturunan Daud. Tetapi, siapakah Dia itu? Rasul Paulus menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yesus (13:23b-25). Orang Yahudi pun tahu bahwa pemimpin-pemimpin mereka di Yerusalem membunuh Tuhan Yesus karena Dia dianggap musuh agama Yahudi. Tetapi, siapakah yang benar dan siapakah yang salah? Rasul Paulus menegaskan bahwa Allah berada di pihak Tuhan Yesus. Dia membangkitkan Tuhan Yesus (13:30-37). Bahkan pembebasan dari dosa ada di dalam Tuhan Yesus dan bukan dari hukum Musa (13:38-41).

Paulus dan kawan-kawannya dalam pelayanan mereka mendapat respon positif dari penduduk di kota itu sehingga mereka mengundang Paulus kembali untuk memberikan pengajaran injil. Akan tetapi Paulus juga mendapat respon negatif dari orang Yahudi yang iri karna melihat hampir seluruh penduduk kota itu berkumpul untuk mendengarkan khotbah Paulus. Paulus berkeyakinan bahwa ia telah ditetapkan Tuhan untuk mengabarkan injil keslamatan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah sampai ke ujung bumi. Walaupun banyak pertentangan tapi Tuhan menyertai pelayanan Paulus hingga banyak jiwa diselamatkan dan menjadi percaya kepada Tuhan melalui pelayanan Paulus.

Kita bisa menjadi orang percaya semata-mata karena Tuhan menentukan kita untuk hidup yang kekal. Berita keselamatan terlalu “mencengangkan” dan “tidak akan dipercayai” oleh kita tanpa anugrah Tuhan. Betapa berharganya berita ini!  Itu sebabnya, Rasul Paulus, dengan berani dan tak kenal lelah, terus memberitakan berita kasih karunia itu.  Ini bukan tentang kehebatan kita menjadi saksi Tuhan, tetapi apakah kita bersedia dipakai dalam pelayananNya. Apabila kita tidak bersedia pun, Tuhan punya banyak cara untuk memanggil orang untuk datang dan percaya kepada Tuhan. Tuhan bisa menggerakkan hati seseorang tanpa perantaraan manusia sekalipun. Namun apabila kita bersedia menjadi saksi Tuhan dan membawa keslamatan pada orang yang belum percaya maka Tuhan akan menyertai pelayanan kita sebagaimana Paulus mendapat penyertaan Tuhan dalam pelayanannya.

 

Tugas yang sama Tuhan amanatkan agar kita menjadi terang dan saksi Tuhan serta membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan.

 

July 28, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar