Kasih Yang Terbaik

Artikel oleh:

Kasih

“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan dimana Aku berada, disitu pun pelayan-Ku akan berada”. (Yohanes 12 : 26)

 

Sesudah mereka makan, Maria saudara perempuan Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus mengambil minyak narwastu murni dan kemudian mengurapi kaki Yesus serta menyekanya dengan rambutnya.  Ada 2 tokoh dalam cerita ini, yaitu: Maria dan Yudas Iskarioth. Keduanya adalah murid Tuhan, tetapi mempunyai sikap yang berbeda dalam mengekspresikan kasihnya kepada Yesus Kristus.

Maria—Ia mempunyai keinsafan yang dalam mengenai Yesus Kristus dan oleh karena itu kasih-Nya kepada-Nya murni. Kasih yang murni dan penuh hormat akan rela mengorbankan apapun bagi orang yang dikasihi. Maria, memberikan minyak yang berharga mahal kepada Yesus. Ia tidak merasa sayang dengan pemberiannya.  Maria yang sering mendengar ucapan-ucapan indah dan penuh kemurahan dari mulut Yesus, yaitu ketika Yesus berada dirumahnya dan ia duduk mendengarkan ucapan-ucapan dari Yesus. Yesus melimpahi Maria dan keluarganya dengan kebaikan dan anugerah Ilahi. Itulah yang mendorong Maria menunjukkan tanda kasih kepada Dia yang telah lebih dahulu mengasihinya. Kasih yang murni semacam itu mencari hadiah yang indah untuk diberikan kepada yang dikasihinya.  Bagi Yesus, bukan banyaknya pemberian kita, melainkan apakah pemberian itu merupakan pemberian yang terbaik dari kita.  Pemberian kita yang terbaik adalah pemberian yang didasari oleh kasih kita yang besar kepada Yesus.

Yudas—Siapapun dapat dipakai oleh iblis untuk melancarkan rencana jahatnya. Yudas, dengan talenta yang baik yang diberikan Allah kepada-Nya dalam bidang keuangan, tetapi sangat disayangkan karena ia memakainya dengan cara yang salah. Ia menjadi tamak akan uang dan menyalahgunakan kepercayaan yang Yesus berikan kepadanya.  Dengan memakai alasan yang rohani, ia coba menghalangi perbuatan kasih Maria (ay 5).  Tetapi Yesus tahu segala sesuatu, sehingga Dia memberikan alasan yang benar mengenai apa yang dilakukan oleh Maria. Ini awasan bagi kita untuk tidak memakai cara-cara ataupun alasan-alasan yang rohani tetapi dengan tujuan yang jahat. Betapa berdosanya kita, jika demi tujuan pribadi yang sesat, kita mengelabui orang dengan cara atau pun alasan yang rohani.

 

Kasih yang terbaik memberikan yang terbaik.

 

April 22, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Cara Allah Selalu Indah

Artikel oleh:

Indah

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya”. (Yohanes 11:25-26)

 

Ketika mendengar berita bahwa Lazarus dalam kondisi yang sakit parah, kita mungkin merasa heran bahwa Yesus berdiam dua hari penuh di tempat dimana Dia berada dan tidak langsung bergegas mengunjungi Lazarus.  Apakah karena kasih-Nya kepada Lazarus mulai berkurang?  Tentunya bukan itu alasannya! Ada beberapa alasan dari para penafsir Alkitab yang mengatakan, antara lain: Pertama, Yesus memang menunggu supaya waktu Dia sampai di situ Lazarus sudah meninggal, jadi ada unsur kesengajaan. Kedua, dengan keterlambatan itu akan menyebabkan mujizat yang Dia akan lakukan lebih mengesankan lagi, dimana kemuliaan Allah akan dinyatakan. Tetapi ada juga alasan yang lain, yaitu bahwa Yesus mengambil tindakan atas dasar inisiatif-Nya sendiri dan bukan atas bujukan orang lain. Dari peristiwa ini sangat jelas menunjukkan bahwa tindakan Yesus dilakukan-Nya bukan atas dasar bujukan atau paksaan, melainkan dilakukan-Nya pada waktu dan saat yang ditentukan-Nya sendiri.

Ini merupakan peringatan bagi kita. Seringkali kita menginginkan Tuhan melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan, harapan  dan cara kita. Kita memaksakan keinginan kita kepada Tuhan. Dalam doa-doa yang kita naikkan kepada-Nya, seringkali dengan nada memaksa Tuhan kita berkata, “biarlah kehendakku yang jadi, Tuhan!”. Padahal cara seperti itu menandakan ketidak-percayaan kita dan ketidak-tundukkan kita kepada kehendak dan rencana-Nya.  Yesus tidak mau kita memaksakan kehendak kita. Tetapi bukan berarti juga kita menjadi masa bodoh dan tidak melakukan apa-apa. Doa dan usaha itu penting tetapi dengan satu syarat dimana kita tetap pada jalur kehendak Tuhan dan tunduk kepada otoritas-Nya.  Ketika kita merasakan seolah-olah Allah itu berdiam diri, sebenarnya Dia tetap setia memperhatikan kita.  Ketika 2 hari lewat, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur” (yang dimaksudkan-Nya adalah bahwa Lazarus sudah mati). Itu tandanya bahwa Yesus senantiasa memperhatikan semua kejadian dalam rumah Maria dan Marta.

Keterlambatan-Nya bukan karena ia tidak lagi peduli kepada mereka, tetapi Dia menunggu saat yang baik untuk mendatangkan hasil yang terbaik, supaya kuasa-Nya dinyatakan, iman para murid dikuatkan dan orang lain menjadi percaya.  Yesus pun memperhatikan kesusahan, kesakitan dan penderitaan kita. Ia tidak pernah terlambat menolong kita, namun kitalah yang terkadang merasa Ia terlambat.  Ingat bahwa waktu-Nya selalu tepat.

 

Cara Allah berbeda dengan cara kita; rencana Allah berbeda dengan rencana kita.  Namun, apa yang Dia buat selalu indah!

 

April 21, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Gembala Yang Baik

Artikel oleh:

Gembala

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10 : 10)

 

Bagian terbesar dari tanah Yudea adalah daratan tinggi yang melintang dari Betel sampai Hebron dan meliputi 35 mil dan juga bervariasi sepanjang 14 sampai 17 mil. Tanahnya sebagian besar adalah kasar dan berbatu dan karenanya tidak bisa dihindarkan bahwa tokoh yang paling dikenal di daratan tinggi di Yudea adalah seorang gembala.  Hidup gembala itu sangat berat karena tugas dan tanggungjawabnya adalah keselamatan domba-domba yang dijaganya. Tidak ada kawanan domba yang sedang makan rumput yang tanpa gembala.  Dia tidak pernah ada cuti; siang malam ia harus menjagai domba-dombanya. Domba-domba sangat mudah tersesat dan hilang, makanya gembala harus selalu mengawasi dengan cermat.  Tugas gembala pun sangat berbahaya karena selain ia melindungi domba dari binatang buas tetapi juga selalu ada pencuri dan perampok yang siap untuk mencuri domba-domba itu.

Sir George Adam Smith yang pernah menjelajahi tanah Palestina,menulis: “Di beberapa padang gurun tanah Palestina, dimana pada tengah malam serigala-serigala berkeliaran dan menggonggong, dan jika engkau berjumpa dengan dia (yaitu gembala) tanpa tidur, mengamat-amati tempat yang jauh, diserang udara dingin, bersandar pada tongkatnya, mengamati dombanya yang tersebar, setiap mereka ada dalam hatinya, engkau dapat mengerti gembala dari Yudea tampil di depan dalam sejarah umat itu; mengapa mereka memberi nama gembala kepada raja-raja dan menjadikannya symbol dari pemeliharaan; mengapa Kristus mengambil gembala sebagai tipe dari pengorbanan diri sendiri…”  Kesiagaan yang terus menerus, keberanian yang tak kenal takut, kasih dan sabar terhadap domba-dombanya, itulah yang menjadi ciri terpenting dari seorang gembala.

Sebagai Gembala yang baik, Yesus tidak akan membiarkan kita sebagai domba-domba-Nya hidup dalam kesesatan dan tiada pengharapan. Dia datang agar kita mendapatkan kehidupan yang berkelimpahan. Yaitu kelimpahan kasih dan berkat-berkat jasmani, terlebih berkat rohani bagi kita yang percaya.

 

Hanya jika Anda hidup dengan Kristus, maka hidup itu menjadi sungguh berharga dan Anda akan menikmati arti hidup yang sebenarnya dan sejati.

 

April 20, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Untuk Kemuliaan Tuhan

Artikel oleh:

Untuk KEmuliaan Tuhan

“Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya”. (Yohanes 9 : 31)

 

Orang yang buta sejak lahir menimbulkan pertanyaan besar dihati murid-murid-Nya dan kemudian mereka ajukan pertanyaan itu, yaitu: Siapa yang berdosa? Apakah orang yang buta itu atau orang tuanya?  Orang-orang Yahudi selalu menghubungkan penderitaan dengan dosa.  Mereka berasumsi bahwa di mana ada penderitaan, disitu pasti ada dosa.  Tetapi Yesus dengan tegas mengatakan bahwa untuk kasus orang ini (buta sejak lahir) bahwa penderitaannya untuk memberi kesempatan menunjukkan kemuliaan Tuhan dalam diri orang itu. Adakalanya seseorang menderita penyakit memang oleh karena dosa orang itu sendiri (5 : 14), tetapi tidak harus selalu demikian.  Dalam hal ini Yesus tidak bermaksud mempersoalkan dosa orang itu. Ia merasa kasihan kepada orang buta itu dan ingin menolong menyembuhkannya sehingga dengan demikian pekerjaan Allah nyata kepada banyak orang melalui kesaksian dari orang buta itu.  Kebenaran yang tertinggi adalah bahwa kemuliaan Allah terletak pada belas kasihan-Nya.

Penderitaan, kesengsaraan, sakit penyakit, kekecewaan, kehilangan, selalu merupakan kesempatan-kesempatan untuk memperlihatkan kemurahan Tuhan. Semua penderitaan yang terjadi memberi kemampuan kepada yang mengalaminya untuk menunjukkan Tuhan sedang bekerja. Jika kesusahan dan malapetaka menimpa seseorang yang tidak mengenal Tuhan, orang itu mungkin akan jatuh pingsan ataupun menderita berkepanjangan. Akan tetapi jika hal itu menimpa seseorang yang berjalan dengan Tuhan, hal itu justru memperlihatkan kekuatan, keindahan, daya tahan dan keagungan yang ada dalam hatinya sebagai orang beriman.

Kemudian, dengan memberikan pertolongan kepada mereka yang sedang mengalami penderitaan, kita dapat menunjukkan kepada orang lain kemuliaan Allah. Jika kita menyerahkan diri untuk menolong mereka yang dalam kesulitan, kesakitan dan dukacita, maka saat itulah Tuhan menggunakan kita sebagai tangan-tangan-Nya untuk menyatakan pertolongan-Nya bagi dunia. Yesus telah memberi teladan bagi kita untuk bekerja giat selama waktu masih siang (ay 4).  Jadi, sudah saatnya kita bangkit dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Penderitaan merupakan suatu kesempatan untuk menunjukkan kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita.

 

April 19, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Ada Pengampunan

Artikel oleh:

Ada Pengampunan

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8 : 31-32)   

 

Dalam pandangan hukum Yahudi, perzinahan adalah kejahatan yang serius.  Merupakan salah satu dari tiga dosa yang terbesar dan dapat dikenakan hukuman mati.  Menurut para Rabi Yahudi: “Orang Yahudi lebih baik mati daripada melakukan penyembahan berhala, pembunuhan dan perzinahan”. Untuk menjatuhkan dan mencari kesalahan dalam diri Yesus, maka para ahli Taurat dan orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan baru saja berbuat zinah.  Mereka mengira akan dapat menjebak Yesus dengan suatu dilema yang tajam itu.  Jika Yesus tidak menyuruh perempuan itu dilempari dengan batu berarti Ia dianggap tidak menaati hukum Taurat. Dia dianggap melanggar hukum Musa karena Dia memaafkan orang yang berzinah.  Bahkan Ia pun akan dianggap setuju terhadap perbuatan zinah.  Dan juga berarti Ia pun tidak mau melepaskan Yerusalem daripada dosa zinah yang banyak dilakukan pada waktu itu.  Tetapi jika Dia mengatakan perempuan itu wajib dilempari dengan batu, maka Dia akan kehilangan nama baik-Nya yang diperoleh-Nya karena kasih dan belas kasihan-Nya terhadap orang berdosa. Atau pun Dia akan bertentangan dengan hukum Romawi karena orang-orang Yahudi tidak berwewenang untuk menjatuhkan atau melaksanakan hukuman mati terhadap siapapun.

Mereka mendesak Yesus dengan pertanyaan untuk memojokkan Yesus,  tetapi dengan tenang Yesus hanya membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah.  Tetapi karena berulang-ulang mereka bertanya, maka Yesus kemudian berdiri sambil berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempari batu kepada perempuan itu”. Lalu Ia kembali membungkuk dan menulis di tanah.  Orang-orang Yahudi tidak ingin menyucikan bangsanya dari dosa tersebut sebab kebanyakan dari mereka pun adalah pelaku-pelaku dosa. Kekejaman mereka terhadap perempuan itu sama besar dosanya dengan dosa perempuan itu. Hanya orang yang tidak berdosa yang berhak menghukum atau melemparkan batu, yakni Yesus Kristus.  Mereka semua bungkam dan suasana menjadi sunyi sepi. Hati nurani orang-orang yang mengadukan perempuan itu telah menempelak hati mereka sendiri.  Pada akhirnya mereka meninggalkan tempat itu satu demi satu. Mereka tidak berani melemparkan batu kepada perempuan itu karena mereka semua sadar diri bahwa mereka pun adalah manusia yang penuh dengan dosa dan tidak patut menjadi hakim. Yesus pun yang sama sekali tidak berdosa, tidak menghukum perempuan itu tetapi menasehatinya agar tidak berbuat dosa lagi.  Dalam Yesus ada pengampunan kekal!

 

Yesus berkuasa mengampuni dosa kita, sebesar apapun dosa itu. Asal kita datang dan meminta pengampunan kepada-Nya.

 

April 18, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Datanglah Pada Yesus!

Artikel oleh:

Datanglah Pada YEsus

“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup”. (Yohanes 7 : 37-38)

 

Kebanyakan orang Kristen berada dalam tingkat kehidupan yang lebih rendah dari pada yang sepatutnya. Mereka tidak mengalami kehidupan pada tingkat yang tertinggi, karena mereka sudah merasa puas dengan kehidupan yang yang biasa-biasa saja daripada yang paling baik.  Apakah kehidupan kita menjadi pengaruh yang baik dan suci bagi orang lain?  Yesus  mengundang kita memasuki kehidupan yang mulia dan memberikan kita hanya satu tuntutan, yaitu: harus merasa haus.  Barangsiapa haus! “Barangsiapa”, berarti bukan hanya pendeta ataupun orang yang terlibat dalam pelayanan melainkan siapa saja; semua orang.

Apakah Saudara “haus” akan sesuatu kehidupan Kristen yang lebih tinggi? Jikalau demikian, hanya perlu dua tindakan: datang dan minum. Datanglah kepada Kristus dan minum sepuas-puasnya dari air sumber hidup yang diberikan Yesus kepada barangsiapa yang haus.  “Datang” berarti membuka hati dan menerima Dia masuk untuk memerintah segenap kehidupan kita.  Bila seorang berdosa disadarkan akan kenistaannya lalu menghendaki penyucian, apabila ia menyadari beban dosa yang berat dan menginginkan keampunan, apabila ia menyadari sepenuhnya kelemahannya dan merindukan kekuatan dan kelepasan, apabila ia terkena ketakutan dan menginginkan damai sejahtera, maka kepada orang semacam itu Kristus berkata: “Datanglah kepada-Ku”.  Datang kepada Kristus berarti bertindak dengan iman dan menyerahkan segenap hidup kita kepada Tuhan.

Yesus Kristus adalah air sumber hidup. Air hidup itu mengalir ke dalam kita, lalu keluar dari kita melalui Roh Kudus. “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya”.  Ia mau memenuhi kehidupan kita dengan berkat-berkat rohani dari diri-Nya sendiri.  Roh Kuduslah yang membuka pancaran air hidup di dalam roh orang yang menyambut-Nya dan karena Ia tinggal di dalam roh orang yang percaya, Ia menetapkan aliran pancaran air hidup itu.  Aliran-aliran air hidup itu akan mengalir dari dalam hati orang percaya melalui manifestasi karunia-karunia Roh Kudus. Semua itu adalah tanda bahwa Kristus diam di dalam hidup orang percaya.

Jika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita dan memenuhi kehidupan kita, maka kita akan rindu untuk memuliakan Yesus Kristus.

April 17, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Karena Yesus Sanggup

Artikel oleh:

Hebat

“Tetapi Ia berkata kepada mereka: Aku ini, jangan takut!” (Yohanes 6 : 20)

 

Tuhan Yesus mampu memberi makan kepada begitu banyak orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan.  Suatu peristiwa yang dilakukan oleh Yesus untuk meneguhkan kuasa dan kesanggupan-Nya.  Namun, ternyata kita juga tidak boleh melupakan orang-orang yang turut andil dalam peristiwa ajaib ini. Yaitu orang-orang yang ikut menentukan terjadinya mujizat tersebut.  Mereka memang bukan pembuat mujizat, karena hanya Yesuslah satu-satunya yang sanggup melakukan mujizat. Tetapi orang-orang ini sangat berpengaruh terhadap mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus.

Disitu terdapat Andreas, yang sangat berbeda perangainya dengan Filipus.  Filipus adalah seorang yang kurang beriman kepada Tuhan.  Filipus seakan-akan mengatakan “keadaan ini sangat gawat dan tak ada satu pun yang dapat dilakukan”. Sedangkan Andreas adalah orang yang mengatakan: “Akan aku coba apa yang dapat aku lakukan, dan aku yakin bahwa Yesus akan melakukan yang selebihnya”.  Andreaslah yang membawa anak laki-laki kecil yang memiliki 5 roti dan 2 ekor ikan kepada Yesus sehingga dengan tindakan atau inisiatif dari Andreas itulah maka mujizat itu dimungkinkan terjadi.  Andreas tidak tahu apa yang ia lakukan ketika ia membawa anak kecil itu kepada Yesus pada hari itu.  Ternyata ia menyediakan bahan untuk mujizat tersebut.  Anak kecil itu pun  tidak punya banyak untuk diberikan, tetapi dengan apa yang ia punyai itu Yesus menemukan bahan untuk suatu mujizat yang besar.

Yesus memerlukan apa saja yang dapat kita bawa kepada-Nya. Mungkin yang dapat kita bawa itu tidak banyak, tetapi Yesus memerlukannya.  Bagaimana mungkin dalam hidup kita akan terjadi mujizat atau pun perkara-perkara besar yang dapat dilakukan oleh Allah jika kita sendiri berdiam diri ataupun masa bodoh dengan diri sendiri dan tidak mau meresponi panggilan Allah itu.  Di dunia ini tidak akan banyak terjadi kemenangan jika kita tidak mau membawa sesuatu kepada Yesus untuk diubahnya menjadi suatu kemenangan. Ingatlah hal yang kecil, bila kita bawa kepada Yesus akan sangat berarti.

 

Apapun yang kita bawa kepada Yesus akan menjadi sesuatu yang bernilai, karena Yesus sanggup melakukan perkara yang ajaib.

April 16, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Yesus Adalah Allah

Artikel oleh:

Kuasa

“Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak”. (Yohanes 5 : 19)

Orang Yahudi tidak percaya kepada Tuhan Yesus karena alasan bahwa orang-orang Yahudi menggunakan Kitab Suci yang mereka baca dan hafal hanya untuk mendukung konsep berpikir mereka dan berusaha supaya Kitab Suci sejalan dengan cara berpikir mereka yang manusiawi, sehingga mereka tidak mengenal dan tidak dapat percaya kepada Allah dengan benar. Banyak orang Kristen pun memakai Firman Tuhan hanya untuk membenarkan konsep mereka dan bahkan untuk menutupi kesalahan mereka sendiri, pada akhirnya mereka sulit untuk percaya pada Kristus secara utuh dan benar.

Dalam ayat-ayat pasal ini, khususnya ayat 19, Yesus ingin menunjukkan bahwa Dia sehakekat dan sederajat dengan Bapa dan tidak dapat dipisahkan oleh apapun.  Pertama, Yesus adalah sehakekat dengan Allah berdasarkan pekerjaan yang dilakukan-Nya (ayat 19). Ada orang yang menafsirkan bagian ini dengan salah bahwa posisi Anak lebih rendah dari pada Bapa dan bahwa Anak tidak dapat melakukan apa-apa bila Bapa tidak menunjukkannya. Tetapi yang ingin ditunjukkan di bagian ini yaitu bahwa hal-hal yang dilakukan oleh Bapa juga dilakukan oleh Anak bukan dengan peniruan melainkan karena kesamaan hakekat antara Bapa dan Anak sehingga seperti pada saat penciptaan pun bukan hanya Bapa yang bekerja tetapi ketiga Pribadi Allah, Bapa, Anak dan Roh Kudus turut mencipta. Demikian juga pada saat penebusan.

Kedua, Yesus membangkitkan orang mati dan akan menghakimi (ayat 21-22). Kebangkitan yang diberikan Yesus adalah kebangkitan secara rohani yaitu kelahiran baru dan secara jasmani yaitu di mana pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya maka semua orang percaya akan mengalami transformasi tubuh kemuliaan.  Pada saat itu juga Tuhan Yesus akan menghakimi dunia dan tugas penghakiman dunia ini mustahil dilakukan oleh seorang manusia karena dibutuhkan kemahatahuan Allah dan kemahaadilan Allah. Ini membuktikan bahwa Yesus adalah sama dengan Allah.

Tetaplah berpegang teguh pada Kristus dan yakini dengan benar bahwa Dia mempunyai posisi yang sederajat dengan Bapa!

 

April 15, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

All About Jesus

Artikel oleh:

All About Jesus

“Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”. (Yohanes 5 : 14)

 

Di Yerusalem terdapat sebuah kolam yang terkenal pada masa itu, yaitu kolam Betesda. Pada saat-saat tertentu kolam Betesda itu bergoncang dan goncangan-goncangan yang terjadi pada kolam itu dipercaya bahwa malaikat yang menggoncangkannya. Dengan demikian siapa pun orang yang sakit yang pertama-tama masuk ke kolam pada saat kolam itu bergoncang maka orang itu dipercaya bisa mengalami kesembuhan, apapun penyakit yang dideritanya. Tidak heran begitu banyak orang sakit datang ke kolam itu dan menunggu terjadinya goncangan.

Orang zaman dulu percaya kepada roh-roh tertentu, baik roh jahat maupun roh yang baik. Bagi masyarakat zaman sekarang hal itu hanyalah takhayul, tetapi orang-orang zaman dulu mempercayainya sebagai suatu kebenaran.  Kepercayaan itulah yang diyakini oleh orang-orang sakit yang sedang antri di pinggir kolam Betesda menunggu goncangan kolam itu.  Tetapi masalahnya bukanlah tentang kolam itu, tetapi fokus kepada seseorang perlu dikasihani dan membutuhkan pertolongan.  Dia adalah seorang yang sudah sangat menderita. Selama tiga puluh delapan tahun dia mengalami penderitaan sakit dan ia sama sekali tidak mempunyai penolong.  Keberadaannya di dekat kolam yang dipercaya bisa menyembuhkan itu pun adalah sia-sia karena dengan kondisinya yang sangat lemah, maka tidak mungkin ia adalah orang pertama yang bisa masuk ke kolam itu.

Untuk dialah Yesus mendekati kolam itu.  Yesus mulai dengan tindakan-Nya dengan bertanya kepada orang itu apakah ia mau disembuhkan.  Sudah lama sekali orang itu mengharapkan kesembuhan dan untuk itulah dia ada diantara orang-orang yang sakit lainnya di dekat kolam itu. Mungkin sekali ia sudah tidak ada pengharapan untuk sembuh dan sudah sangat putus asa. Tetapi mengapa Yesus bertanya kepadanya? Yesus tentunya menginginkan respon dari dalam diri orang itu. Ketika orang sakit itu memberikan jawaban yang intinya bahwa ia masih mengharapkan terjadi kesembuhan, maka Yesus memberikan tantangan iman kepadanya untuk bangkit berdiri dan mengangkat tilamnya. Ini adalah perintah yang mustahil dilakukan, tetapi disini semangat hidup dan kemauannya diuji dalam kelemahan.  Mujizat itu dapat terjadi bila kumauan kita (yang didasari oleh  iman) dan kuasa Allah itu bekerjasama.

Di dunia ini terlalu banyak hal yang bisa menjatuhkan kita, tetapi kalau kita mempunyai keinginan serta ketetapan hati yang teguh dengan penuh iman kepada Allah, maka meskipun nampaknya tanpa harapan, tetapi bersama dengan Yesus kita bisa menaklukkan banyak hal yang selama ini membelenggu kita.

 

Jika didalam hati Anda hanya ingin tetap seperti keadaan Anda sekarang, maka perubahan itu tidak akan terjadi.

 

April 14, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Joel (Renungan Alkitab dari Kitab Yoel)  belum ada komentar

Percayalah Sungguh!

Artikel oleh:

Perwira Romawi

“Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi”. (Yohanes 4 : 5)

 

Dalam kisah ini, seorang pejabat kerajaan datang menemui Yesus.  Ia kemungkinan besar adalah seorang pejabat Romawi yang mengawasi daerah Galilea. Menurut hukum Romawi, sebenarnya pegawai Romawi ini memiliki kewenangan atas Yesus karena Yesus tinggal di wilayahnya.  Walaupun dia adalah pejabat, namun dia tidaklah memerintah dengan menggunakan otoritasnya kepada Yesus, tetapi dia telah merendahkan diri dan datang kepada Yesus dan meminta pertolongan.  Ada banyak orang yang tidak datang kepada Yesus karena mereka harus merendahkan dirinya. Mereka harus mengakui bahwa mereka tidak dapat melakukannya sendiri. Mereka harus mengakui bahwa mereka memiliki kebutuhan. Dan yang sulit bagi sebagian orang adalah jikalau harus datang kepada Yesus dengan rendah hati. Meminta tolong harus dilakukan dengan rendah hati dan bukan dengan nada memerintah atau sombong.

Apakah yang Yesus katakan ketika dia datang meminta pertolongan? Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”  Pegawai Romawi ini tidak dengan mudahnya menerima jawaban dari Tuhan Yesus.  Dia menghadapi tantangan terhadap imannya, tetapi dia tidak putus asa. Dia malahan berkata kepada Yesus: ”Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Terkadang, waktu kita meminta kepada Allah, Tuhan tidaklah langsung menjawab permintaan kita.  Iman yang tidak bisa menghadapi tantangan bukanlah iman yang sejati. Janganlah langsung kecewa ketika doa kita belum dijawab oleh Tuhan. Kita harus terus berdoa dengan tekun tanpa henti, karena setiap orang yang meminta menerima dan yang mencari akan mendaoatkan dan setiap orang yang mengetok, maka baginya pintu dibukakan (Mat 7:7-8).

Bahkan, ketika Tuhan Yesus mengatakan kepada pegawai istana ini agar dia pulang dan bahwa anaknya hidup, Alkitab mengatakan bahwa orang itu percaya, lalu pergi. Sebelum ada bukti apapun, pegawai istana sudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Jika kita hanya bisa percaya setelah ada bukti, maka kita tidaklah memiliki iman.  Iman adalah percaya walaupun buktinya belum ada.

 

Kita banyak tahu mengenai perkataan Yesus, namun kita terkadang sulit percaya kepada apa yang dikatakanNya.

 

April 13, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar