Artikel oleh:

misi-2014-

June 6, 2014   Kategori : Umum  Komentar ditutup

Harta Bukan Segalanya

Artikel oleh:

Orang Kaya Sukar Masuk Sorga

“Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang miskin” (Markus 10 : 21)

 

Banyak orang yang tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidupnya. Mereka umumnya mengira kalau kesejahteraan, kedamaian hidup itu hanya bisa diperoleh dalam kekayaan yang melimpah, jabatan yang tinggi. Dalam kenyataannya banyak orang kaya dan pejabat tinggi tetap merasa tidak bahagia, tidak tenang dalam hidupnya. Memang kekayaan, pangkat, ketenaran, dan sebangainya, tidak akan pernah bisa memberikan ketenangan, kedamaian batin; apalagi kalau kekayaan, jabatan itu diperoleh dengan cara-cara yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab.

Bacaan hari ini dikisahkan tentang seorang kaya yang merasa tidak tenang dengan hidupnya. Ia merasa sudah melaksanakan perintah Allah seperti yang tertuang dalam hukum Taurat. Meskipun demikian hidupnya tetap tidak tenang. Karena itu ia kemudian bertanya kepada Yesus untuk memohon petunjuk-Nya. Jawaban Yesus sangat mengejutkan dan membuat ia semakin kecewa.  Memang harus diakui, ikatan yang paling sulit dilepaskan manusia untuk mengikuti Yesus adalah harta benda. Karena memiliki uang maka orang dapat beli narkoba dan menghancurkan hidupnya. Karena memiliki banyak uang maka orang bisa main perempuan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Bahkan karena harta warisan, orang tua dan saudara sekandung saja, rela dianiaya bahkan dibunuh. Baca selanjutnya »

July 28, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Seturut KehendakNya Saja!

Artikel oleh:

Hamba Melayani

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”(Markus 9 : 35)

 

Dalam Injil dilukiskan sesuatu yang “bertolak belakang”. Ketika Yesus berbicara tentang kematian-Nya, para murid sedang asik membahas masalah ambisi dan kuasa. Ketika Yesus sedang berbicara tentang salib yang akan Dia pikul, para murid sedang berdebat perihal siapa dari antara mereka yang terbesar. Ketika Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Surga, para murid berbicara tentang kerajaan dunia.  Ketika Yesus bertanya pada para murid menyangkut topik yang sedang mereka perdebatkan, para murid tersadar bahwa Yesus rupanya mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka terdiam. Mereka tak sanggup memberi jawaban, apalagi pembelaan diri. Mereka merasa malu.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini?  Kalau kita membawa segala sesuatu ke hadapan Yesus, maka hal itu akan membuat perubahan besar pada diri kita. Misalnya, kalau kita sebelum bertindak, terlebih dahulu bertanya: “Apakah saya akan melakukan hal ini, kalau Tuhan melihat aku melakukannya?” Atau kalau kita hendak mengatakan sesuatu, kita bertanya terlebih dahulu: “Apakah saya akan mengatakan hal ini atau suka bercerita seperti ini kalau Yesus ternyata sedang mendengarkan saya?”  Kalau pertanyaan seperti ini kita tanyakan sebelum kita melakukan sesuatu,  maka banyak perubahan yang terjadi dalam tindakan Baca selanjutnya »

July 27, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Ditangan Yesus

Artikel oleh:

Di tangan Yesus

“Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” 

(Markus 8 : 4)

 

Yesus meminta para murid untuk menunjukkan kepedulian bagi orang banyak yang mengikuti-Nya hingga kelaparan. Yesus tidak tega membiarkan mereka pergi dalam keadaan lapar.  Karena itu, para murid harus memberi mereka makan. Melihat jumlah orang yang begitu banyak, para murid mau lepas dari tanggung jawab. Mereka hanya memiliki tujuh roti dan beberapa ikan yang mungkin hanya cukup untuk bekal mereka sendiri dan bukan untuk orang banyak.  Mana mungkin dengan tujuh roti dapat memberi makan bagi empat ribu orang? Sungguh sesuatu yang mustahil.

Pertanyaan yang sama dikemukakan juga oleh para murid yaitu bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang? Tetapi Yesus dengan tegas bahwa orang banyak itu harus diberi makan (ayat 2 – 3).  Yesus kemudian mengambil prakarsa dengan tujuh roti itu. Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada orang banyak itu. Bahkan masih sisa tujuh bakul roti. Kalau lima roti dan dua ekor ikan dimakan 5000 laki-laki serta sisa 12 bakul adalah menunjuk pada bangsa Yahudi maka tujuh roti tanpa ikan dimakan 4000 orang serta sisa 7 bakul adalah menunjuk pada bangsa- Baca selanjutnya »

July 26, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Masalah Hati

Artikel oleh:

Masalah hati

“Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”. (Markus 7 : 6)

 

Ada banyak orang mengenal Tuhan dan bertobat, bukan karena argumentasi doktrin dan ajaran, melainkan karena tersentuh oleh kebaikan hati seseorang yang menjalankan hidupnya sebagai totalitas ibadah. Agustinus seorang bapak gereja tersohor, ia adalah seorang ahli filsafat. Kita mungkin membayangkan ketika ia menjadi seorang kristiani pastilah melalu perdebatan logika serius dengan Uskup Ambrosius. Kenyataannya tidak. Agustinus berkata bahwa kebaikan Ambrosiuslah yang mengubah kehidupannya; bukan argumentasi ilmiah.

Namun, sayangnya apa yang seharusnya tidak menjadi apa yang nyata. Yang ideal, yang dulu diwanti-wanti Musa semakin luntur, orang Farisi dan ahli Taurat terjebak dalam seremoni dan tradisi. Beratus tahun kemudian orang Yahudi pada zaman Yesus lebih mengutamakan ritual tradisi ketimbang hakekat dalam ibadah.  Mereka lebih suka memelihara tradisi nenek moyang secara harafiah dan enggan menggali makna. Akibatnya memandang ritual dan tradisi itu adalah segalanya.  Padahal Tuhan tidak hanya melihat tampak luarnya saja melainkan dan yang terutama adalah apa yang terkandung dalam hati seseorang. Hati itulah sebenarnya Baca selanjutnya »

July 25, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Berkat Memberi

Artikel oleh:

Memberi

“Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.”  (Markus 6 : 43)

 

Karena kondisi ekonomi tak menentu, hari-hari ini sebagian orang terpaksa mengencangkan ikat pinggangnya begitu rupa;  sebisa mungkin tidak boros atau konsumtif.  Akibat dari itu orang cenderung menjadi egois dan tidak lagi memiliki kepedulian terhadap orang lain.  Kita menghemat begitu rupa dengan harapan kita berkecukupan dan berkelimpahan, tidak kekurangan suatu apa pun.  Tertulis:  “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”  (Amsal 11:24)..

Untuk mengalami kelimpahan atau hidup diberkati, kita harus mengikuti prinsip yang Tuhan ajarkan kepada kita:  “Berilah dan kamu akan diberi:  suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.  Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Lukas 6:38).  Namun seringkali kita berpikir,  “Bagaimana saya bisa memberi kepada orang lain, sedangkan untuk kebutuhan sendiri saja pas-pasan?”  Jangan pernah membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita!  Tuhan Yesus melakukan mujizat yang besar.  Hanya dengan 5 roti dan 2 ikan Ia sanggup memberi makan 5000 orang lebih, bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul.  Ketika mendapatkan 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus  “…menengadah ke langit dan mengucap berkat,”  (Markus 6:41).  Tuhan Yesus mengucap syukur atas apa yang ada padaNya meski Baca selanjutnya »

July 24, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Akibat Kurang Iman

Artikel oleh:

Orang Kapernaum

“Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Markus 6:1-6)

 

Inilah salah satu pernyataan yang sangat mengejutkan dalam seluruh Injil, di mana Yesus tidak mampu membuat mukjizat. Bukan karena Ia tidak mampu, tetapi karena tidak mudah berbuat begitu saja. Adakah sesuatu yang tidak mungkin bagi Yesus? Dalam konteks ini, Injil mengatakan “ya”. Sebab tidak mungkin bagi Yesus membuat mujizat dalam situasi tidak ada iman. Yesus mampu melakukan sesuatu dan ingin melakukan sesuatu untuk orang-orang sekampung dan untuk kita, tetapi Ia membutuhkan iman untuk menerima kuasa-Nya.

Orang-orang di Kapernaum mengalami kekecewaan dan merasa terluka karena “ketidakmampuan” Yesus membuat mukjizat di antara mereka. Maka mereka menolak Yesus.  Tidakkah demikian juga dengan kita? Kitapun acapkali kecewa, putus asa, sedih dan malah terluka menyaksikan ‘kebisuan’ Tuhan atas yang menghantui diri dan dunia kita sekarang ini. Di mana-mana terjadi ketidakadilan, pembunuhan, bencana, dan sebagainya. Dalam berbagai peristiwa itu Yesus seakan-akan tidak konsern dan tak peduli; padahal, sebaliknyalah yang terjadi. Bukankah hal ini terjadi karena kekurangan iman di antara umatNya?

Mengapa orang sekampung tidak percaya kepada-Nya? Alasannya kata Yesus adalah “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya” (ayat 4).  Orang-orang Kapernaum berpikir, mereka Baca selanjutnya »

July 23, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Tuhan Pasti Sanggup

Artikel oleh:

Tuhan Pasti Sanggup

“Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!” (Markus 5:34)

 

Pernah memikirkan bagaimana kehidupan seorang perempuan yang sakit perdarahan selama 12 tahun?  Bayangkan cucian bajunya setiap hari. Bayangkan betapa tidak nyamannya ia beraktivitas setiap hari. Ia sudah berusaha berobat, menemui banyak dokter. Namun, hingga tabungannya ludes, ia tak juga kunjung sembuh. Dalam tradisi Yahudi, perempuan dalam kondisi perdarahan dianggap najis, tidak dapat ambil bagian dalam ibadah di tempat kudus, dan apa yang disentuhnya juga ikut menjadi najis (Imamat 15). Mirip dengan rekan-rekan muslim saat berpuasa. Jika sedang haid, ibadah puasanya tidak diperhitungkan. Tentulah perempuan ini sangat frustrasi dengan kondisinya.

Dalam situasi demikian, mendekati Yesus tentulah penuh perjuangan. Ia sedang dalam kondisi najis, dan apa yang disentuhnya akan ikut menjadi najis. Kalau sampai ketahuan, mungkin ia akan diusir atau dipukul. Menyentuh jubah Yesus tentu membuat ia bergumul. Bagaimana jika Yesus juga menolaknya? Betapa terkejutnya ia ketika Yesus mendadak berhenti dan mencari siapa yang menyentuhnya. Ia takut dan Baca selanjutnya »

July 20, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Janganlah Takut!

Artikel oleh:

Jangan Takut

“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Markus 4 : 40)

 

Apakah yang sesungguhnya membuat para murid ketakutan dalam Markus 4 : 35—41 : Tuhan Yesus atau angin ribut? Jawabannya adalah Tuhan Yesus. Mengapa demikian?

Pertama, mereka belum pernah menyaksikan ada orang yang bisa menaklukkan badai dan topan dahsyat dengan perkataan saja. Sebagai nelayan, mereka telah terbiasa dengan fenomena alam, walaupun benar bahwa apa yang mereka alami saat itu sangat dahsyat. Oleh karena itu, ketika melihat bahwa Tuhan Yesus sanggup menundukkan angin ribut, mereka sangat kagum.

Kedua, mereka belum sampai pada pemahaman bahwa Tuhan Yesus sebagai Pencipta semesta alam ini memiliki kedaulatan atas segala sesuatu, sehingga tidak sulit bagi-Nya untuk mengendalikan topan yang dahsyat.

Ketiga, mereka hanya memperhatikan yang kelihatan, yaitu Tuhan Yesus yang tertidur dan membiarkan mereka, padahal Tuhan Yesus menekankan bahwa kehadiran-Nya pasti menjamin keamanan dan keselamatan (rohani dan jasmani) mereka. Sungguh, murid-murid belum Baca selanjutnya »

July 19, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Tanah Yang Subur

Artikel oleh:

israel-1354134716

“Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Markus 4 : 20)

 

Tuhan Yesus mengumpamakan firman itu sebagai benih. Benih itu memiliki kuasa untuk bertumbuh dan berbuah dari dalam dirinya sendiri. Namun demikian, tempat di mana benih itu ditabur memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana pertumbuhan dari benih itu. Kita tidak memiliki kuasa dalam membuat benih itu mengeluarkan akar. Kita juga tidak memiliki kuasa untuk membuat benih itu bertumbuh.  Kita dapat menanam benih itu dalam kondisi dimana ia akan bertumbuh. Kondisi-kondisi itu bukan kita yang tentukan.  Jika kita ingin benih bertumbuh maka yang kita lakukan adalah mempelajari kondisi apa yang dapat membuat benih itu bertumbuh kemudian manaruhnya dalam kondisi itu. Jika itu yang terjadi, dengan sendrinya benih itu akan bertumbuh dan berakar.

Demikian juga dengan Firman Allah. Firman Allah itu memiliki kuasa untuk bertumbuh dari dalam dirinya sendiri, sama seperti benih itu.  Diri kita adalah tempat dimana Firman Allah itu ditabur. Seperti benih itu, kita tidak dapat membuat Firman Allah itu berakar atau Baca selanjutnya »

July 18, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Bersaudara Dalam Tuhan

Artikel oleh:

Bersaudara

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Markus 3 : 35)

 

Dalam Injil hari ini Yesus berkata: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lewat pertanyaan ini bukan berarti Yesus menyangkal bahwa Maria adalah ibu-Nya dan orang-orang yang di luar itu adalah saudara-saudara-Nya. Tetapi, Yesus mau menegaskan bahwa bagi-Nya bukan keluarga-Nya yang “utama”. Dalam hal ini, Yesus mengajak untuk membangun relasi yang lebih mendalam, bukan hanya persaudaraan fisik, tetapi yang lebih penting membangun persaudaraan spiritual.

Dalam perikop kita Yesus memperkenalkan kepada kita suatu bentuk kekeluargaan dan persaudaraan yang baru. Kekeluargaan kita bukan berdasarkan hubungan darah atau suku, marga, bangsa dan adat budaya kita lagi. Tapi oleh  darah Yesus sendiri.  Melalui percaya dan menerimaNya menjadi Tuhan dan Allah kita masing-masing, kita disebut anak-anak Allah.  Relasi spiritual jauh lebih penting dari relasi hubungan darah.  Dalam hal ini, Yesus semakin memperluas lingkup keluarga-Nya pada siapa saja yang taat pada Allah. Persaudaraan yang berlandaskan Allah jauh lebih kuat daripada persaudaraan yang berlandaskan kesamaan darah. Maka Yesus mengajak semua orang beriman Baca selanjutnya »

July 17, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar