Jadilah Umat Yang Taat!

Artikel oleh:

Jadilah Umat Yang Taat!

“Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39).

 

Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ketaatan dalam ayat-ayat ini  dihubungkan dengan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan.  Dalam ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika seseorang secara tidak sengaja melanggar perintah Allah harus bertobat dan memberi korban sebagai pendamaian. Ayat 30 sampai 36 menunjukkan, jika pelanggaran itu disengaja, maka ada penghukuman. Sedangkan ayat 37 sampai 41 membahas tentang jumbai peringatan, supaya setiap orang senantiasa teringat akan perintah Allah dan melakukan semua perintah tersebut.

Ketaatan adalah hal yang sangat penting, sebab hal tersebut berkaitan dengan iman percaya kita. Jika kita berkata kita beriman, tetapi kita tidak taat, maka hal itu merupakan sebuah kebohongan. Dengan demikian, jika kita beriman kepada Allah, maka kita pun harus taat kepada Allah dan segala perintah-Nya, jika tidak, maka sama halnya kita menyangkali iman percaya kita sendiri kepada Allah.

Marilah kita belajar pada pribadi Abraham, pribadi yang disebut sebagai “bapa orang beriman”. Predikat tersebut tidak asal melekat pada diri Abraham, sebab dia telah membuktikan imannya dengan tetap berpegang teguh pada janji Allah dan senantiasa melaksanakan perintah Allah, bahkan saat diperintahkan untuk mengorbankan anaknya, ia taat. Dan karena ketaatannya, mujizat terjadi dan anaknya tidak jadi mati. Iman dan ketaatan yang sama Allah tuntut ada pada setiap kita sebagai identitas kita sebagai orang percaya (Rm 4:18-25; Kej 22:1-19).  Kristus sendiri telah memberikan teladan bagi setiap kita perihal ketaatan. Ia taat sampai mati demi menebus setiap kita. Marilah kita ikut teladan Kristus dengan hidup penuh dengan ketaatan terhadap kebenaran firman Tuhan.

 

Jangan lagi kita menunda-nunda untuk hidup taat, segera ambil komitmen untuk hidup dalam ketaatan mutlak kepada Allah.

 

January 27, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Jangan Menggerutu!

Artikel oleh:

Jangan Mengerutu

“Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” (Bilangan 14 : 2)

 

Dalam perjalanan menuju tanah Kanaan sudah banyak kali mereka bersungut-sungut ketika menghadapi kesulitan. Padahal penyataan Allah yang dahsyat dan agung melalui keajaiban-keajaiban yang dilakukan-Nya sudah mereka lihat dan alami bagi hidup mereka. Mengapa bisa demikian? Nampaknya mereka melupakan apa yang pernah Allah nyatakan di kaki gunung Sinai (Kel 19:5, 6). Mereka lupa identitas mereka di dunia ini sehingga ketika ada kesulitan, mereka selalu memberontak dan ingin kembali ke masa lalu mereka, yakni di Mesir (ayat 2-4).

Kalau dipikir-pikir, bukankah seharusnya mereka menjadi bangsa yang paling berbahagia karena bisa melihat penyertaan Tuhan dengan cara yang ajaib setiap hari? Mereka melihat dengan mata kepala sendiri tiang awan dan tiang api memimpin barisan mereka. Mereka melihat laut Teberau terbelah, mencicipi roti dari Sorga, mendapatkan air saat kehausan, makan buah korma saat kelelahan, bahkan makan daging di tengah padang gurun! Tuhan membuat pakaian dan kasut mereka tidak pernah rusak selama perjalanan panjang itu. Berulang kali bahkan Tuhan Allah sendiri menemui mereka di tengah perkemahan atau di atas gunung yang ditunjuk Tuhan. Mereka memiliki Tuhan Sang empunya langit dan bumi, bukankah itu sudah lebih dari cukup? Tapi yang dilakukan mereka adalah persis seperti yang kita lakukan setiap hari. Mengomel, mengeluh, menggerutu ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan kita. Secara mata mereka melihat penyertaan Tuhan, namun tidak mampu melihat kebaikan Tuhan.

Sadarkah kita bahwa complaining adalah dosa? Menggerutu, mengeluh, protes dan mengomel adalah bentuk pemberontakan kita atas kehendak Allah.  Di mata Tuhan, ketika kita mengeluh, hal itu sama dengan menghasut, menolak, bahkan melawan Tuhan.

Daripada kita menggerutu, lebih indah kalau kita bersyukur!

 

January 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Oleh Kuat KuasaNya

Artikel oleh:

Oleh Kuat KuasaNya

“Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bilangan 13 : 30)

 

Kaleb adalah satu dari 12 pengintai yang dikirim oleh Musa untuk mengintai situasi Kanaan.  Diantara 12 pengintai itu, 10 orang memberikan pandangan negatif bernada pesimis. Kaleb dan Yosua sebaliknya. Keduanya optimis dan percaya pada Tuhan. Lihatlah apa katanya. “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (ay 30). Bagaimana Kaleb bisa memiliki pandangan yang berbeda dari mayoritas pengintai lain? Itu karena Kaleb tahu bahwa kekuatan Tuhan ada di atas kekuatan siapapun mahluk di bumi ini. Jika ia meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan, dan apa yang ia hadapi sesuai kehendak Tuhan, maka tidak ada satupun alasan yang bisa membuatnya takut untuk gagal. Itu yang Kaleb percaya.

Selanjutnya marilah kita melompat ke depan untuk melihat sosok Kaleb 45 tahun kemudian. Saat itu Kaleb sudah tua. Penggalan kata-kata Kaleb sebagai berikut: “pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:11). Dengan sangat jelas Kaleb mengatakan bahwa dirinya masih sekuat 45 tahun yang lalu. Dia masih siap berperang dengan tenaga yang sama seperti dahulu, walau usianya sudah 85 tahun. Dalam diri Kaleb, ternyata hukum alam tidak berlaku. Kaleb ternyata mengalami mukjizat Tuhan dalam dirinya. Mengapa? Karena dia merupakan orang yang selalu meletakkan kekuatannya dan dirinya secara keseluruhan di dalam Tuhan.

Mukjizat adalah keajaiban yang terjadi dari kuasa Tuhan yang mampu melampaui logika dan hukum alam.  Ketika secara logika kekuatan dan ketahanan kita memudar dan semakin berkurang seiring waktu, mukjizat Tuhan mampu melakukan sebaliknya.

Apakah ada diantara kita yang hari ini tengah kehabisan tenaga atau daya akibat terus menerus dihantam berbagai permasalahan hidup? Adakah yang merasa semakin melemah dan hampir menyerah? Jika ada, ini saat yang tepat bagi Anda untuk berbalik mengandalkan Tuhan dan hidup dalam kasih karunia Kristus.

 

Jadilah kuat bukan karena kehebatan kita sendiri, melainkan oleh kasih karunia dalam Yesus Kristus.

 

January 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Jangan Memberontak!

Artikel oleh:

Jangan Memberontak

“Lalu kata Harun kepada Musa: “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami” (Bilangan 12 : 11)

 

Dalam pembacaan ini dikisahkan bagaimana Miryam dan Harun memberontak kepada Musa.  Secara garis keluarga, Miryam adalah kakak dari Harun dan Musa, sedangkan Musa adalah yang paling kecil.  Tetapi di hadapan Tuhan, urutan otoritas adalah Musa, Harun dan Miryam.  Jadi Musa adalah pemegang otoritas tertinggi.  Karena tidak tunduk kepada otoritas, Miryam harus menanggung akibatnya, ia  “…kena kusta, putih seperti salju”, (Ay 10a).

Di zaman sekarang ini tidak mudah menemukan orang yang memiliki roh penundukan diri. Sebaliknya banyak orang yang memiliki roh pemberontakan.  Memberontak berarti tidak tunduk pada otoritas, di mana hal ini pasti akan menimbulkan konflik, baik itu konflik antar sesama anggota dalam sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, atau bahkan suatu negara.  Hari ini firman Tuhan mengingatkan agar setiap orang percaya memiliki roh penundukan diri.  Kata taatilah dalam ayat nas di atas menurut teks aslinya berarti menyesuaikan, mengalah dan menaati.  Sedangkan kata tunduklah berarti tunduk kepada otoritas.

Tuhan menghendaki setiap orang percaya memiliki roh penundukan diri.  Tunduk kepada siapa?  Tunduk kepada Tuhan dan juga tunduk kepada pemimpin-pemimpin rohani kita.  Tidak sedikit orang Kristen yang tidak tunduk kepada pemimpin rohaninya, mereka malah suka membicarakan kelemahan dan kekurangan, serta meremehkannya.  Tanda bahwa di dalam diri seseorang ada Roh Kudus adalah adanya roh penundukan diri:  anak-anak tunduk kepada orangtua, isteri tunduk kepada suami, kita tunduk pada pemimpin rohani, pemimpin rohani kepada gembala dan seterusnya.  Musa, sebelumnya adalah seorang yang keras dan pemarah, tetapi setelah mengalami proses penundukan diri dari Tuhan di padang gurun Midian selama 40 tahun, menjadi  “seorang yang lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang ada di atas muka bumi.”  (Bilangan 12:3).

Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal penundukan diri;  Dia tunduk kepada kehendak Bapa-Nya, (Filipi 2:8).

 

Tanpa penundukan diri, di mata Tuhan kita bukanlah pribadi yang berkualitas!

 

January 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Jangan Bersungut!

Artikel oleh:

Jangan Bersungut

“Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.” (Bilangan 11 : 15)

 

Bersungut-sungut adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh bangsa Israel ketika menghadapi kesulitan hidup. Mereka tidak segera mencari wajah Tuhan untuk berdoa memohon bimbingan, petunjuk, dan pimpinan-Nya untuk mengatasi segala kesulitan. Sunggut-sungut adalah satu bentuk pemberontakan terhadap Allah, karena merupakan bentuk ekspresi menyalahkan dan menuduh Allah sebagai penyebab dari semua “nasib buruk” (ayat 2) dan menuntut pertanggungjawaban Allah. Yang paling buruk, sikap ini juga menandakan ketidakpercayaan dan ketidaktaatan kepada Allah mereka. Apakah kita seperti mereka?

Allah murka dan langsung mendatangkan hukuman yaitu api Allah yang akan menghanguskan mereka. Respons spontan atas nasib buruk juga diikuti dengan respons spontan atas hukuman Allah (ayat 2). Begitulah pola umum cara orang Israel berdosa dan bertobat. Serba spontan namun tidak bertahan lama. Serba spontan namun tidak memiliki kesungguhan. Ini dibuktikan dari peristiwa-peristiwa selanjutnya. Pola ini pula yang masih dianut Kristen kini. Begitu cepat melangkahkan kaki untuk berbuat dosa dan begitu cepat bertobat. Perlu dipertanyakan apakah pertobatan ini didasari suatu penyesalan dan pengakuan yang sungguh, yang dilanjutkan dengan tekad baru? Kerjakanlah keselamatanmu dengan sungguh-sungguh.

Kembali kepada hal “bersungut-sungut”. Apakah “bersungut” selalu dosa? Musa pun bersungut-sungut kepada Tuhan karena merasa bahwa tanggungjawabnya terlalu berat (Ay 11—15).  Emosi dan keputusasaannya sudah mencapai puncaknya, sehingga ia meminta Allah untuk membunuhnya. Respons Allah terhadap Musa sungguh sangat mengejutkan. Allah tidak murka, sebaliknya 70 tua-tua diangkat untuk memikul tanggung jawab bersama Musa. Mengapa Allah tidak murka? Karena ada motivasi murni di balik sikap Musa yang ingin mengungkapkan kekesalannya terhadap pemberontakan umat Israel yang terus-menerus dan mengungkapkan kebutuhannya yang nyata akan campur tangan Allah, jadi bukan karena nafsu serakah.  Apakah motivasi yang melatarbelakangi sikap bersungut-sungut dalam kehidupan Anda?

 

Jangan biasakan bersungut-sungut; itu sungguh tidak baik!

 

 

 

January 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Kehadiran Tuhan

Artikel oleh:

Kehadiran Tuhan

“Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api” (Bilangan 9 : 16)

 

Bagaimana cara Allah memimpin umat-Nya? Apakah Allah memberikan pengarahan, kemudian Allah membebaskan manusia untuk melaksanakan rencana Allah itu tanpa pengarahan lebih lanjut? Memang, Allah telah memberitahukan maksud-Nya kepada bangsa Israel, yaitu membawa bangsa Israel ke tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu, tetapi rencana Allah tidak diuraikan secara terperinci. Allah meminta bangsa Israel untuk taat mengikuti pimpinan-Nya hari demi hari.  Pimpinan Tuhan dibuktikan melalui tiang awan dan tiang api.  Tiang awan menutupi Kemah Suci di waktu siang dan tiang api di waktu malam. Ini tanda kehadiran Allah di antara umat Israel. Ini tanda penyataan Allah yang memelihara mereka sepanjang hari.

Kehadiran Allah tidak hanya memberikan ketenangan dan kedamaian hati. Lebih dari itu kehadiran-Nya memberikan arah dan tuntunan bagi jalan kehidupan bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Kehadiran-Nya mengarahkan dan menentukan segala gerak dan langkah mereka. Bahkan kehadiran-Nya juga mengajukan tuntutan kepada mereka agar mereka menaati apa yang dinyatakan Allah lewat kehadiran-Nya, agar dapat tiba di tanah perjanjian.  Pengalaman indah umat Israel juga merupakan pengalaman umat Kristen masa kini, yaitu Allah hadir dan selalu dekat kita baik siang maupun malam. Tidak ada jaminan yang paling hakiki dalam hidup umat Kristen dalam perjalanan ke tanah “Perjanjian”, selain kehadiran Allah yang nyata dalam hidup kita.

Umat Kristen masa kini memang tidak bisa melihat kehadiran tiang awan dan tiang api sebagai wujud kehadiran dan penyertaan Allah di dalam hidupnya. Penyertaan Allah nyata di dalam Roh Kudus yang dihadirkan Allah dalam kehidupan anak-anak-Nya (Rm 8:14), dan dalam firman-Nya.  Umat Kristen yang dipenuhi Roh Kudus akan tunduk dalam pimpinan Roh Kudus dan terang firman Tuhan. Dalam segala pergumulan hidupnya, ia senantiasa merasakan bimbingan firman dan Roh untuk mengetahui kehendak Tuhan. Hatinya pun senantiasa peka terhadap perintah Tuhan kita Yesus Kristus.

 

Pastikan Anda merasakan kehadiran Allah dalam semua aspek kehidupan Anda.

 

January 22, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Jadilah Terang!

Artikel oleh:

Jadilah Terang

“Demikianlah diperbuat Harun. Di sebelah depan kandil dipasangnyalah lampu-lampunya, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” (Bilangan 8 : 3)

 

Penahbisan suku Lewi dimulai dengan pemasangan tujuh lampu di bagian depan kandil (tempat lampu). Ketujuh lampu itu menerangi bagian depan kandil-artinya menerangi jalan masuk ke Ruang Kudus serta menerangi meja roti sajian. Para imam (yaitu Harun dan anak-anaknya) harus menjaga agar lampu-lampu itu tetap menyala sepanjang malam-dari petang sampai pagi. Dari satu sisi, penahbisan yang diawali dengan penyalaan lampu ini mengingatkan bahwa orang Lewi menjalankan peran sebagai terang dunia (Matius 5:14). Dari sisi lain, lampu-lampu yang menyala sepanjang malam itu menyadarkan bahwa Allah berdiam di tengah-tengah bangsa Israel bukan hanya di siang hari, tetapi juga di malam hari. Allah yang menjadi Pelindung umat-Nya itu tidak pernah tertidur (Mazmur 121).

Penahbisan suku Lewi itu berarti bahwa suku Lewi dikhususkan untuk melakukan pekerjaan bagi Tuhan serta ditahirkan (dibersihkan atau disucikan melalui persembahan korban penghapus dosa dan korban bakaran) sehingga mereka bisa (layak) melakukan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan atau Kemah Suci. Pengkhususan suku Lewi untuk melakukan pekerjaan jabatan yang berkaitan dengan Kemah Suci ini merupakan pengganti dari keharusan bagi seluruh bangsa Israel untuk menyerahkan anak sulung mereka kepada Tuhan (Bilangan 7:6-22). Penyerahan suku Lewi untuk melakukan pekerjaan bagi Tuhan ini di kemudian hari diadopsi oleh gereja menjadi penyerahan salah seorang anak untuk melayani pekerjaan Tuhan.

Berbicara soal “lampu-lampu”, maka “lampu” di dalam Alkitab bisa dipakai untuk melambangkan firman Tuhan (Mazmur 119:105, 2 Petrus 1:19). Demikianlah juga peran Kristen di dalam Perjanjian Baru yang disebut sebagai “imamat” rajani haruslah menyalakan “lampu-lampu” yang telah dimiliki untuk memberikan terang kepada sekitarnya dengan cara mengajarkan kepada sesamanya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  Seharusnya setiap orang Kristen memiliki kerinduan yang sama yakni menjadi umat Tuhan yang membawa terang Tuhan serta bersinar di dunia yang penuh kegelapan ini.

 

Jadilah terang Tuhan dimanapun dan kapanpun!

 

January 21, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Pelayanan Bagi Tuhan

Artikel oleh:

Pelayanan

“TUHAN berfirman kepada Musa: Satu pemimpin setiap hari haruslah mempersembahkan persembahannya untuk mentahbiskan mezbah itu.” (Bilangan 7:11)

 

Allah sangat peduli dan konsen dengan pelayanan di Kemah Suci, bahkan Allah senang menerima persembahan umat yang dipersembahkan bagi pelayanan di tempat kudus-Nya.   Kita mambaca bahwa semua peralatan dan perabotan dikuduskan untuk Tuhan, bahkan mereka harus membawa perabotan itu di bahu mereka. Pemimpin yang membawa pun dipilih dan dikuduskan dengan dedikasi penuh kepada Tuhan. Tuhan begitu detail dalam merencanakan segala sesuatu.

Kita bisa melihat bahwa mulai dari hari pertama, pemimpin yang bertugas memberikan teladan, mempersembahkan dengan ketaatan dan kemurahan hati (ay. 10-17). Di hari yang kedua (ay. 12), persembahan itu diberikan juga dengan kerelaan hati, dan tidak dengan hati yang terpaksa. Dan persembahan itu diberikan oleh mereka berdasarkan kemampuan mereka masing-masing, sehingga dapat menciptakan kesatuan hati di antara pemimpin. Tapi di mata Tuhan, Dia melihat dedikasi setiap individu. Persembahan yang diberikan juga mempunyai nilai yang berharga, utuh (ay. 13) dan sangat praktis, karena bisa digunakan untuk pelayanan Tabernakel.

Kita pun dapat memberikan diri kita seutuhnya, mendedikasikannya bagi pelayanan rumah Tuhan.  Bahkan, itulah yang Allah sukai dalam hidup kita. Apakah kita sudah melakukan pelayanan kita dengan ketiga sikap di atas, yaitu: kemurahan hati, kerelaan hati, kesatuan hati, dan seutuhnya dipersembahkan di hadapan Tuhan?  Biarlah kita belajar mendedikasikan kehidupan kita secara utuh bagi kemuliaan Tuhan, sesuai panggilan dan bidang pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita, yakni dengan menjadi   umat yang siap membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini.

Persiapkan hidupmu dan pelayananmu seutuhnya, dan semakin kudus serta indah bagi kemuliaan Tuhan!

 

January 19, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Berkat Kasih Karunia

Artikel oleh:

Berkat Kasih karunia

“TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bilangan 6 : 26)

 

Sejak penciptaan manusia, Allah sudah menyatakan diri sebagai Allah yang memberkati umat-Nya (Kejadian 1:27-28).  Berkat bagi seluruh kaum di muka bumi ini direalisasikan dengan diberikan-Nya Yesus Kristus untuk mati menebus dosa manusia. Berkat keselamatan tersebut diberikan semata-mata karena anugerah Allah, bukan karena kita layak menerimanya.

Setiap kita rindu diberkati oleh Tuhan. Namun, banyak orang Kristen keliru memahami berkat Tuhan tersebut. Untuk menghindari pemahaman yang salah, apa yang dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui seseorang diberkati atau tidak diberkati oleh Tuhan? Seringkali yang dipakai sebagai tolok ukur berkat adalah kesehatan, kesuksesan, dan kekayaan. Namun, firman Tuhan justru tidak menyebutkan atau membenarkan salah satu dari ketiga hal tersebut.  Berkat Tuhan adalah penyertaan dan perkenanan-Nya. Apakah artinya memiliki kesehatan prima, kesuksesan berbisnis dan kekayaan melimpah bila Tuhan tidak berada di pihak kita dan beserta dengan kita? Bagi Musa yang diberkati Tuhan, penyertaan dan perkenanan Tuhan atas dirinya ketika dia ditunjuk untuk memimpin bangsa Israel menuju ke tanah perjanjian sudah cukup baginya. Kehadiran Tuhan sebagai gembalanya selalu cukup bagi Daud, baik pada saat tenang maupun pada saat ia melewati lembah kekelaman. Bagi Paulus, sukacitanya tidak dibatasi oleh materi, tembok-tembok penjara, dan kesehatannya.

Banyak orang Kristen masa kini yang menganggap dan mengkotak-kotakkan berkat Tuhan sebatas pemenuhan kebutuhan “perut dan gengsi”. Pengaruh paham materialisme telah membungkam kepercayaan iman kita. Akibatnya kita dibelenggu oleh paham bahwa kita kini hidup di zaman yang serba bergantung pada materi. Tuhan hanya dianggap ada bila kebutuhan materi terpenuhi. Itu yang perlu diluruskan!  Pernahkah kita bertanya: “mengapa hingga saat ini aku masih bernafas? Darimanakah nafas itu aku peroleh?”

Berkat paling berharga di dunia ini bukanlah berkat materi, melainkan berkat keselamatan. Berkat materi bisa lenyap sewaktu-waktu, tetapi berkat keselamatan bersifat kekal.

 

Berkat keselamatan merupakan jaminan pemeliharaan Allah atas hidup kita saat ini dan bagi semua orang di dunia ini.

 

January 18, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

Kesetiaan Pernikahan

Artikel oleh:

Kesetiaan Pernikahan

“Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya….” (Bilangan 5 : 12)

 

Kasih antara suami isteri dalam sebuah pernikahan dirasakan kurang lengkap apabila tidak disertai sikap saling setia dan saling percaya. Perselingkuhan adalah salah satu wujud ketidaksetiaan yang lahir dari kasih yang tidak benar. Hasil dari kasih yang tidak benar dan ketidaksetiaan ini adalah ketidakpercayaan. Bagian firman Tuhan ini memberikan contoh tentang murka Allah atas isteri yang tidak setia, hal ini tentu saja tidak berarti bahwa suami akan luput dari murka Allah apabila mereka melakukan perselingkuhan.

Bagaimana supaya kita memiliki kesetiaan dan kepercayaan yang teruji?  Pencobaan untuk berselingkuh tak dapat dihindari dari kehidupan suami isteri. Namun, tidak berarti bahwa kita harus menyerahkan diri pada pencobaan itu. Alasan Yusuf untuk tidak jatuh ke dalam pencobaan dari isteri Potifar adalah karena ia takut melakukan perbuatan dosa kepada Allah. Yusuf menyadari bahwa ia hidup di hadapan Allah dan untuk Allah, bukan di hadapan Potifar dan untuk Potifar. Kunci keberhasilan Yusuf keluar dari cobaan adalah tetap mempertahankan kesetiaan pada Allah yang hidup.

Kesetiaan adalah salah satu faktor terpenting dalam pernikahan. Bahkan janji untuk selalu setia kepada pasangan, diucapkan di altar ketika tali pernikahan mulai dijalin. Walaupun janji telah terucap, mempertahankan janji itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Buktinya, perceraian sering terjadi dengan alasan hadirnya orang ketiga dalam pernikahan. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab mengapa pasangan akhirnya berpaling kepada orang lain. Perlu instrospeksi diri dari masing-masing pihak mengapa hal ini bisa terjadi dan perlu usaha keras pula untuk memulihkan relasi yang rusak karena masalah ketidaksetiaan ini.

Kasih dan kesetiaan adalah kunci Pernikahan Kristen. Kasih yang dimaksud tidak sebatas kasih Eros yaitu kasih antara pria dan wanita, kasih yang dipengaruhi oleh perasaan – tidak stabil. Kasih yang diharapkan adalah kasih Agape, kasih yang ilahi, kasih yang murni, yang stabil dan kasih yang mencerminkan kasih Kristus.

Peliharalah kasih dan kesetiaan dalam pernikahan dan jangan mengotorinya!

 

January 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar