SETIAP ORANG ADALAH SESEORANG

Artikel oleh:

1 Korintus 12: 12-31

Seseorang

By. Pdt. Rudy Suwardi

 

Di sebuah kota kecil, di daerah pegunungan di Eropa, pada beberapa abad yang lalu, seorang bangsawan sedang memikirkan warisan apa yang akan ditinggalkannya bagi penduduk kota itu. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk membangun sebuah gereja sebagai warisan. Gambar rencana bangunan gereja yang lengkap dirahasiakan kepada masyarakat karena sang bangsawan ingin memberikan kejutan kepada mereka.

Ketika penduduk kota berkumpul untuk melihat gedung gereja yang sudah siap diresmikan, mereka sangat kagum akan keindahan dan kelengkapan fasilitas gedung itu. Semua orang memuji kemegahan bangunan tersebut. Namun ada satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang yang hadir,  “Tetapi, mana lampunya? Apa yang akan dipakai untuk penerangan di dalam gedung gereja?”

Tanpa menjawab, sang bangsawan menunjuk pada gantungan-gantungan yang tertanam di dinding. Ia lalu membagikan lampu kepada setiap keluarga dengan pesan agar dibawa pada saat ibadah dan digantungkan di dinding. “Setiap kali kalian hadir, wilayah di mana kalian duduk akan menjadi terang,” demikian penjelasan sang bangsawan. “Setiap kali kalian tidak hadir, tempat itu akan menjadi gelap. Apabila banyak diantara kalian yang tidak datang ke gereja, maka banyak bagian dari rumah Tuhan akan menjadi gelap.”

Bp/Ibu, illustrasi tersebut menggambarkan betapa pentingnya kehadiran setiap jemaat di dalam ibadah di gereja itu. Bayangkan kalau hanya sedikit jemaat yang hadir, gedung gereja itu akan menjadi gelap.

Hari ini saya ingin menekankan betapa pentingnya peran setiap jemaat bagi gereja, bukan sekedar kehadirannya di gereja. Lebih dari itu adalah keterlibatannya dalam semua apek kegiatan gereja. Karena itu kotbah hari ini saya beri judul “Setiap Orang Adalah Seseorang.” Maksudnya, setiap orang yang hadir dalam ruangan ini adalah seorang yang sangat berarti di dalam tubuh Kristus.

Bp/Ibu, Tuhan merancang gereja-Nya atau Tubuh Kristus agar dapat melaksanakan rencana Tuhan di bumi ini sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya. Tuhan ingin membangun setiap otot di dalam tubuh Kristus.  Ia tidak menginginkan ada bagian atau anggota tubuh yang superior atau lebih unggul. Tetapi Tuhan juga tidak menginginkan keadaan sebaliknya, Ia tidak ingin ada anggota tubuh yang dianggap rendah. Tuhan ingin agar setiap orang atau segala sesuatu berada dalam proporsi yang seimbang atau simetris. Tidak ada anggota tubuh yang tidak berkembang. Tuhan menginginkan setiap anggota tubuh berkembang dan menjalankan fungsinya.

Dalam bacaan kita, Paulus sedang membahas tentang pentingnya kerjasama atau teamwork dalam gereja. Kita memang menjadi Kristen secara perseorangan, tetapi setelah menjadi orang Kristen, kita harus berfokus  pada kesehatan, kesatuan dan kesejahteraan bersama sebagai tubuh Kristus.

Dalam perikop bacaan kita, Paulus menjelaskan kepada kita bahwa setiap orang adalah seseorang, karena kita ada bersama-sama di dalam tubuh Kristus.  Mari kita simak beberapa prinsip berikut ini.

1.   Hargai Solidaritas di dalam Tubuh Kristus.

Ayat 12-13 merupakan dasar teologis dari perumpamaan yang digunakan dalam perikop ini. Paulus menjelaskan bahwa setiap anggota tubuh sangatlah penting karena setiap orang percaya adalah anggota Tubuh Kristus.  Ayat 12 menyatakan: Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

Istilah “tubuh” diperkenalkan pada ayat 12, lalu digunakan berulang kali sebanyak 18 kali di dalam perikop ini. Sedangkan istilah “satu” disebut sebanyak 5 kali dalam ayat 12-13. Karena itu penekanannya adalah pada kesatuan. Tubuh kita yang terdiri dari banyak anggota dipersatukan dalam satu tubuh.

Pada ayat 12 semua orang percaya secara kolektif disebut “Kristus.” Paulus sudah mendapat pencerahan tentang kebenaran ini di jalan menuju Damsyik ketika ia rebah ke tanah dan kedengaran olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (KPR 9:4). Ia telah menganiaya orang-orang Kristen dan tidak menyadari bahwa dengan demikian sebenarnya ia sedang menganiaya Kristus.

Saulus, yang kemudian bernama Paulus, akhirnya belajar bahwa setiap orang percaya adalah anggota dari tubuh Kristus. Karena itu, Saudara dan saya adalah anggota dari tubuh Kristus …… dan kita adalah satu tubuh.

Pada ayat 13, Paulus menjelaskan alasan untuk kesatuan gereja, yaitu bahwa kita semua sudah di tempatkan di dalam tubuh Kristus. Ayat 13: Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.

Dengan menggunakan analogi antara tubuh manusia dan tubuh Kristus, kita menghadapi dua masalah pokok yang secara terus menerus mengganggu gereja dan membuat kita tidak dapat menikmati kesatuan di dalam keberagaman.

Ada dua kecenderungan dalam jemaat. Pertama adalah inferiority complex atau memandang rendah diri sendiri. Sedangkan kecenderungan kedua adalah sebaliknya yaitu  superiority complex atau memandang tinggi diri sendiri. Kita harus ingat bahwa Setiap orang adalah seseorang karena kita ada bersama-sama di dalam tubuh Kristus.

2.   Jangan memandang rendah dirimu di dalam Tubuh Kristus. Baca selanjutnya »

June 30, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from 1 Corinthians (Renungan Alkitabiah dari Kitab 1 Korintus)  belum ada komentar

UNITED WE STAND

Artikel oleh:

1 Korintus  3: 18-23

United We Stand

By: Inawaty Suwardi

Seorang pengunjung rumah sakit jiwa merasa sangat heran ketika mengamati hanya ada 3 orang satpam yang bertugas menjaga, sedangkan pasien yang dirawat berjumlah lebih dari 100 orang. Pengunjung itu bertanya kepada manajemen rumah sakit, “Apakah anda tidak khawatir pasien-pasien sebanyak itu akan mengalahkan satpam dan melarikan diri?  “Tidak,” jawab si manajer. “Orang-orang yang sakit jiwa tidak pernah bersatu.”

Bp/Ibu, kalau anda menghubungkan ilustrasi ini dengan begitu banyak  perselisihan atau perpecahan yang terjadi di gereja, barangkali Bp/Ibu akan menarik kesimpulan bahwa orang-orang Kristen adalah kumpulan orang-orang yang sakit jiwa. Kita memang melihat ada masalah yang nyata dengan persatuan di gereja.

Graham Kendrick, seorang penyanyi dan pengarang lagu rohani, menulis dalam Leadership Journal, sebagai berikut:

“Sangat menarik untuk diketahui, bahwa dari semua pujian yang disebutkan di dalam Kitab Wahyu, tidak ada satupun yang dinyanyikan secara solo. Dua puluh empat tua-tua memuji dan menyembah dan melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta. Suara dari berlaksa-laksa malaikat berkumandang, setiap makhluk hidup di surga dan di bumi dan di bawah bumi dan semua yang ada di dalamnya bergabung dalam satu pujian. Orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu diberi kecapi dan nyanyian untuk dinyanyikan. Pada setiap saat, orang-orang dalam jumlah besar dan para malaikat bersatu dalam nyanyian yang sama di dalam  persatuan yang sejati.”

Jemaat di Korintus tidak menyanyikan pujian dalam harmoni. Mereka berselisih dan terpecah sehingga keluar dari jalur yang seharusnya menuju ke Kerajaan Allah. Paulus menulis kepada mereka dengan caranya yang khas untuk  mengajak dan menasehati mereka supaya bersatu. Paulus menunjukkan empat kebenaran bagaimana mengatasi perpecahan di gereja.

1.   Kita dapat bersatu jika memiliki pandangan yang benar tentang diri sendiri.

Lihat ayat 18, Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.

Paulus sedang berurusan dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi menurut pandangan dunia. Korintus adalah kota yang terkenal dengan kemewahan dan kemakmurannya. Seni berkembang dengan pesat dan orang-orang percaya di Korintus memiliki akses terhadap tulisan dari para ahli filsafat Yunani kuno. Korintus adalah kota perdagangan yang besar dengan 700 ribu penduduk. Korintus juga merupakan kota persimpangan dunia dimana perkembangan terbaru serta pendidikan terbaik ada di sana.

Karena itu penduduknya mempunyai kecenderungan untuk memandang diri mereka sebagai orang berhikmat atau orang bijak. Sikap ini adalah menipu diri sendiri. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa hal ini adalah dosa. Ams 26:12 mengatakan, Jika engkau melihat orang yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada bagi orang itu.”

Istilah “orang bebal” menunjukkan suatu kondisi yang lebih dari sekedar kurang cerdas  atau kurang berpengalaman. Istilah orang bebal ditujukan bagi  seseorang yang keras kepala dan dengan sengaja memilih jalannya sendiri, bukan mengikuti jalan Tuhan.

Jemaat di Korintus memandang diri mereka sendiri sebagai orang berhikmat  atau orang bijak. Menurut standar dunia, pandangan mereka mungkin benar. Tetapi mereka hanyalah membawa hikmat dunia ke dalam gereja dan mencoba mengaplikasikannya untuk hal-hal rohani. Karena itu Paulus mengatakan pada ayat 19 bahwa hal itu adalah kebodohan, (19) “Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”

Bp/ibu mungkin bertanya, apa perbedaan antara hikmat dunia dengan hikmat Tuhan?

Hikmat dunia atau hikmat manusia adalah kecerdasan, pengetahuan, atau pengertian/kognitif.

Tuhan memberikan kepada manusia kemampuan untuk mengetahui hal-hal tertentu. Tuhan menciptakan manusia dan memberikan kemampuan untuk belajar, untuk mengumpulkan pengetahuan, untuk menemukan, untuk menyelidiki dan menarik kesimpulan. Dalam bidang-bidang seperti matematika, ilmu pengetahuan, bisnis, pertanian dan kegiatan akademik lainnya, manusia mungkin dapat menggunakan kecerdasan atau kemampuan mental. Tuhan memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengetahui bidang-bidang tersebut tanpa pencerahan khusus dari Tuhan. Itulah yang disebut pengetahuan manusia atau hikmat manusia atau hikmat dunia.

Hikmat Rohani yang disebut juga hikmat Tuhan atau kebenaran adalah lebih dalam dari sekedar pengetahuan kognitif/pengertian yang sederhana. Hikmat Tuhan adalah pemahaman rohani dan hanya diperoleh melalui penerangan Roh kudus.

Untuk mengetahui hal-hal yang rohani, atau untuk mengetahui hal-hal tentang Tuhan dan kebenaran Firman-Nya, diperlukan pemahaman khusus yang hanya datang dari Roh Kudus seperti dijelaskan oleh Paulus di dalam pasal 2 (Hikmat yang benar).

Masalah utama di Korintus adalah bahwa mereka sebenarnya telah menerima Roh Kudus pada saat pertobatan, tetapi karena adanya dosa yang tidak terkendali dan adanya perpecahan di gereja, mereka telah mendukakan Roh Kudus. Mereka tidak berjalan menurut Roh tetapi menurut daging. Mereka tidak mau bertobat serta berdamai dengan Tuhan dan mereka tetap hidup seperti biasa. Keadaan ini menyebabkan mereka seakan terus berada dalam dunia rohani namun tanpa  pimpinan dan hikmat Roh Kudus. Jadi mereka memimpin gereja dengan hikmat manusia bukan dengan hikmat Tuhan.

Keadaan yang dialami jemaat di Korintus harus diwaspadai oleh orang Kristen, bahkan oleh gereja masa kini. Pada saat kita merasakan kehadiran dan kuasa  Roh Kudus, dan ketika kita berjalan di dalam aliran atau pergerakan Roh Kudus, pemahaman kita terhadap kebenaran Tuhan terbuka. Tetapi dengan berjalannya waktu manusia dapat terhanyut menjauh dari pimpinan Roh Kudus, namun mereka masih terus memimpin gereja atau memimpin departemen. Kepemimpinan seperti ini selalu berakhir dengan bencana, karena kondisi demikian adalah penyebab utama dari perpecahan di dalam gereja.

2.    Kita dapat bersatu jika memiliki pandangan yang benar terhadap Allah Baca selanjutnya »

June 27, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from 1 Corinthians (Renungan Alkitabiah dari Kitab 1 Korintus)  belum ada komentar

Allah Yang Hidup dan Berkuasa!

Artikel oleh:

Allah Yang Berkuasa

“Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya”. (Yeremia 10 : 10)

 

Pernah melihat anak-anak yang asyik berbicara sendiri saat bermain? Seolah-olah ada seseorang di sampingnya yang mendengar dan menanggapi, seorang teman imajinasi. Menurut para ahli psikologi, fenomena ini wajar dalam pertumbuhan anak. Orangtua tak perlu khawatir, tetapi perlu memantau agar persahabatan imajiner itu tidak mengalihkan anak dari kehidupan nyata.

Meski sama-sama tak terlihat, Allah bukanlah pribadi hasil imajinasi. Alam semesta dan isinya adalah bukti nyata keberadaan-Nya (ayat 12-13). Dalam taraf tertentu, angin, hujan, dan unsur alam lainnya dapat dikendalikan manusia, tetapi Siapa yang membuat semua itu dan berkuasa menghadirkannya dalam musim-musim yang berbeda di berbagai belahan dunia? Siapa gerangan yang meletakkan emas dan perak di perut bumi untuk ditambang manusia dan menumbuhkan pepohonan kayu di hutan-hutan raya? Betapa gemasnya Tuhan karena semua bukti itu tak membuat umat Israel mengakui dan menghormati keberadaan-Nya. Mereka justru datang memohon pada patung-patung dari emas dan perak. Mereka berusaha menyenangkan dewa-dewa dari kayu, takut dimurkai, seolah-olah benda-benda mati itu hidup. Sementara, Allah yang hidup justru mereka abaikan. Betapa bodohnya!

Seberapa sering kita mendengarkan dan berbicara kepada Allah sebagai Pribadi yang hidup? Seberapa kita yakin bahwa Dia dapat mendengarkan dan dapat berbicara? Bagaimana seharusnya kita bersikap bilamana kita yakin bahwa Dia nyata dan sungguh hadir dalam hari-hari kita? Berhati-hatilah agar imajinasi kita tentang dunia yang semu tidak mengalihkan pandangan kita dari Allah yang hidup!

 

Allah bukanlah hasil imajinasi manusia; Dia adalah sang Pencipta yang sungguh hidup dan berkuasa.

 

June 27, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Pelihara Kekudusan

Artikel oleh:

Pelihara Kekudusan

“Tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian, bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka. (Yeremia 7 : 26)

 

Allah memerintahkan Yeremia untuk menyampaikan seruan pertobatan kepada bangsa Israel. Mereka harus bertobat dari pola kehidupan yang kacau dan berantakan. Hidup mereka mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan. Sisi pertama adalah hidup  beribadah kepada Allah dengan datang ke bait-Nya. Sisi kedua adalah hidup melakukan ketidakadilan, penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, perzinahan, dan penyembahan berhala (3, 5-10).  Pola hidup demikian didasarkan pada keyakinan bahwa bait Allah adalah lambang kehadiran Allah, dan datang ke bait-Nya memberikan jaminan bahwa Allah tetap bersama dan memelihara mereka, tidak peduli apa pun dosa-dosa yang telah mereka lakukan (10). Bangsa Yehuda bukan lagi beriman kepada Allah yang berpribadi ketika mereka menjalankan ibadahnya, namun  mereka beriman kepada sistem, simbol-simbol, tradisi, maupun tata cara ibadah mereka sendiri (8-10). Bagi kelangsungan hidupnya mereka mengandalkan dan bergantung kepada sistem dan tata cara  ibadah yang dibuat oleh manusia. Relasi telah diganti dengan sistem dan seremoni manusia.

Apakah Allah suka?  Sesungguhnya Allah menentang itu semua!  Bukankah Silo dimana Tabut Perjanjian Allah ditempatkan juga sudah dihancurkan dan Tabut Perjanjian Allah dirampas oleh orang Filistin? Karena bangsa Israel mengira bahwa dengan adanya Tabut Perjanjian maka hidup mereka akan tetap penuh damai sejahtera, walaupun hidup mereka telah menyimpang dari firman-Nya.

Apa artinya bagi kita orang Kristen?  Hanya dengan menjadikan diri kita beragama Kristen saja tidak cukup. Allah menuntut kekudusan hidup bukan sekadar hidup beragama. Kekristenan tanpa kekudusan adalah sia-sia. Kekristenan yang demikian hanya akan mendatangkan penghukuman Allah. Namun kesalahan ini sering terjadi di dalam gereja Tuhan. Kita sering menyangka bahwa dengan sibuk melayani Tuhan, bahkan rajin ke gereja akan membebaskannya dari tanggung jawab moral. Itu pemahaman yang keliru. Kristen harus memaparkan kebenaran. Namun pemaparan kebenaran tanpa kekudusan adalah penghujatan dan pelecehan kepada Allah yang Maha Kudus.

 

Yang terpenting adalah: Tetap memelihara kekudusan hidup kita!

 

June 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Hidup Benar Bagi Tuhan

Artikel oleh:

Hidup Benar Bagi Tuhan

“Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu” (Yeremia 6 : 13)

 

Nabi Yeremia menyaksikan pemandangan yang mengerikan yang terjadi pada umat Tuhan. Untuk menyembunyikan dosa, mereka membangun kehidupan di belakang kedamaian dan keamanan yang palsu. Ketamakan dan kerakusan memenuhi hidup mereka yang dikamuflasekan dengan hati yang pura-pura hancur. Seluruh kehidupan mereka penuh dengan kepalsuan – air mata palsu, pertobatan palsu, dan penyembahan palsu.  Dengan demikian maka umat Allah kehilangan “rasa malu” dan kedukaan karena dosa.  Mereka tidak lagi memandang Allah sebagai Allah yang murka terhadap dosa.  Yeremia berteriak, “Seharusnya mereka merasa malu…”.  Tetapi mereka tidak punya malu lagi.

Sekarang ini pun banyak terjadi kemerosotan iman dan ketiadaan hormat terhadap Tuhan. Jemaat dininabobokan dengan ajaran-ajaran yang enak didengar saja. Khotbah yang didengar setiap minggu bertemakan berkat dan kasih Allah yang tak berkesudahan.  Tidak disinggung sedikit pun akan penghukuman Allah dan murka-Nya terhadap orang yang berdosa. Karena hal ini akan membuat telinga pendeta dan jemaatnya memerah, dan orang-orang “penting” atau orang-orang kaya dalam gereja akan kabur.

Firman Tuhan berkata, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah  dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Timotius 4:2).  Firman Tuhan harus diberitakan secara keseluruhan. Teguran harus disampaikan bagi mereka yang hidupnya tidak benar.  Memang, tidak ada rasa nyaman saat khotbah disampaikan bila temanya tentang dosa, penghukuman dan pengadilan bagi orang berdosa. Namun, jika kita mau bertumbuh makin sempurna di dalam Kristus, maka kita harus relakan hati kita ditegur dan dibentuk Tuhan; yang salah diperbaiki; yang rusak dibentuk kembali dan menjadi bejana yang indah di mata Tuhan.  Kita sedang berada di penghujung akhir zaman, tanda-tanda dunia semakin nyata bahwa kuantitas dan kualitas dosa semakin meningkat. Apakah kita ikut-ikutan dengan perbuatan yang tidak tahu malu lagi berbuat dosa itu?

 

Katakan “tidak” pada dosa, dan hiduplah yang benar!

June 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Tuhan Gunung Batu

Artikel oleh:

Tuhan Gunung Batu

“Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu!  Sesungguhnya, hanya pada Tuhan, Allah kita, ada keselamatan Israel!”  (Yeremia 3:23)

 

Biasanya bukit-bukit dan gunung-gunung yang tinggi menjadi kebanggaan bangsa-bangsa;  dan menurut pemikiran mereka apabila musuh datang menyerang, mereka akan lari secepatnya ke bukit atau gunung, dan apabila musuh telah tiada mereka akan kembali ke ladangnya untuk bekerja.  Jadi bukit-bukit dan gunung-gunung menjadi harapan semua orang untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari segala marabahaya.

Tetapi Yeremia menegaskan bahwa semua itu adalah tipu daya belaka dan sia-sia.  Ada tertulis:  “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!”  (Amos 6:1).  Bukankah masih banyak orang pergi ke gunung-gunung, gua-gua dan juga makam-makam untuk mencari pertolongan dan berkah.  Kalau pun di situ mereka beroleh jawaban, itu hanyalah tipu muslihat Iblis, hanya sementara dan semu belaka, yang akhirnya akan datang membawanya kepada kehancuran.  Memang manusia memiliki kecenderungan mengandalkan kekuatan diri sendiri dan bergantung pada sesuatu yang kelihatan.  Bukit dan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi menjulang bisa berbicara tentang uang yang ada di banak, emas, mobil dan aset-aset berharga yang kita miliki, dokter yang selalu kita andalkan, suami atau isteri, anak-anak atau juga sahabat. Betapa banyak  ‘gunung-gunung’  mengelilingi kita untuk tempat kita berlindung dan berlari kepadanya ketika kesesakan datang.  Nampaknya begitu kokoh dan bisa kita banggakan.

Demikianlah gunung-gunung pengharapan kita itu tidak kekal dan mudah lenyap.  Ada sumber pertolongan yang jauh lebih hebat dari gunung-gunung yang tampak, yaitu Tuhan.  Dialah satu-satunya penolong hidup kita.

 

Tuhanlah sandaran dan kekuatan kita; hanya  Dia yang menjadi sumber pertolongan kita.

 

June 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Tuhan Maha Mengenal

Artikel oleh:

Tuhan Maha Mengenal

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1 : 5)

 

Pernahkah kita berpikir bahwa mengapa kita dilahirkan di dunia ini? Mengapa kita lahir di Indonesia dan bukannya di Amerika atau di Afrika? Mengapa kita dilahirkan di keluarga kita yang seperti ini? Mengapa kita dilahirkan di keluarga Kristen, atau mungkin di keluarga yang berlatar belakang non Kristen?  Dan masih banyak sekali pertanyaan “mengapa” yang kita tidak tahu jawabannya. Tetapi satu hal kita mengerti, bahwa ada rencana Tuhan bagi kita dengan membuat kita lahir di dunia ini.

Ketika Tuhan memanggil Yeremia untuk menjadi hambaNya, Tuhan tidak berkata dalam suara menakutkan, “Yeremia, jadilah hamba Tuhan, kalau tidak maka kamu akan kena hukuman”. Bukan seperti itu yang Tuhan lakukan, tetapi Tuhan menyampaikan dengan kalimat yang luar biasa, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (ay. 4-5).

Apa yang kita dapat pelajari dari panggilan Tuhan ini?

Pertama, Tuhan telah mengenal kita jauh sebelum kita dibentuk Tuhan (1 : 5a).  Ia bukan Tuhan yang menciptakan sesuatu lalu lupa dengan ciptaanNya. Tuhan mengenal orang-orang yang diciptakanNya, bahkan dikatakan, sebelum Ia menciptakan kita, Tuhan telah terlebih dahulu mengenal kita. Jika demikian, mengapa kita harus kuatir akan kehidupan kita? Jika Tuhan saja selalu ingat akan kita, orang-orang yang diciptakanNya?

Kedua, Tuhan telah menetapkan tujuan kita sebelum kita lahir (1 : 5b). Tujuan utama kita diciptakan adalah memuliakan nama Tuhan melalui kehidupan kita. Dengan demikian, ketika kita mendengar panggilan Tuhan dalam kehidupan kita, sudah tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Mungkin saja akan banyak masalah atau persoalan yang akan ada dalam kehidupan kita, tetapi Tuhan sudah memerintahkan kita untuk tidak takut akan apapun juga, karena Tuhan telah berjanji untuk selalu menyertai kita.

 

Penyertaan Tuhan itu lebih cari cukup! Janganlah takut!

June 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Sampai Maut Memisahkan!

Artikel oleh:

Sampai Maut Memisahkan Kita

“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta.  Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang  memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8 : 7)

 

Seseorang disebut setia bila komitmennya telah teruji oleh waktu, integritas hidupnya tak tergoyahkan oleh harta, dan pendiriannya tetap teguh saat melewati berbagai proses kehidupan. Seseorang disebut setia terhadap pasangan bila ia sudah melewati berbagai proses kehidupan.

Kitab ini ditutup dengan gambaran cinta sejati yang terus membara sampai maut memisahkan keduanya. Cinta sejati sanggup mengalahkan segala godaan. Ungkapan “cinta kuat seperti maut” (8:6) berarti cinta sejati merupakan perekat yang mempersatukan sepasti hadirnya kematian dalam kehidupan manusia. Cinta sejati adalah cinta yang dikobarkan Allah pada suami istri yang Dia berkati. Cinta demikian akan langgeng karena Tuhanlah yang mempersatukan dua pribadi yang berbeda. Cinta sejati adalah cinta dengan kecemburuan yang kudus (kegairahan, 8:6), artinya tidak ada tempat bagi orang lain untuk masuk dalam rumah tangga mereka karena pasangannya adalah pilihan dan anugerah Tuhan. Cinta sejati tidak dapat dibeli atau ditukar dengan harta benda (8:7). Usaha raja Salomo untuk membeli cinta mempelai perempuan dengan segala kemewahan istananya berakhir dengan kegagalan. Cinta sejati tidak mungkin dipadamkan, termasuk oleh permasalahan hidup yang berat (8:7). Cinta sejati mampu menghadapi ujian terberat.

Janji setia yang pernah Anda ucapkan kepada pasangan Anda di hadapan Tuhan di gereja disaksikan oleh hamba Tuhan, kedua belah pihak orang tua, dan seluruh jemaat.  Saat itu, Anda berjanji untuk mengasihi pasangan dalam segala keadaan. Bila pernikahan Anda tidak diberkati di gereja, pasti Anda juga bertekad untuk setia kepada pasangan Anda.

 

Kapan kesetiaan itu berakhir? “Sampai maut memisahkan kita.”

 

June 20, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Song of Solomon (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kidung Agung)  belum ada komentar

Syukur Yang Dalam

Artikel oleh:

Syukur Yang Dalam

“Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti bala tentara  dengan panji-panjinya?” (Kidung Agung 6 : 10)

 

Perasaan tersanjung muncul saat seseorang menyadari ketidaklayakan diri mendapat semua yang terbaik dari Tuhan.  Dalam anugerah Tuhan, suami atau istri melihat pasangannya sebagai karunia terbaik dari Tuhan yang memunculkan rasa syukur yang dalam.

Bagian ini mengisahkan dua orang kekasih (suami istri) yang dalam impiannya menjadikan Salomo dengan segala kebesarannya sebagai model kebahagiaan dan puncak sukacita dalam hidup rumah tangga mereka. Mereka merasa tersanjung karena merasakan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Mereka saling memuji dan saling menerima satu sama lain sebagai anugerah terbaik yang pernah mereka terima. Mempelai laki-laki kagum memandang kekasihnya yang bagaikan bala tentara dengan panji-panjinya. Kecantikan istri yang dipuji seperti dua kota terindah di dunia, yaitu Tirza dan Yerusalem, tidaklah berlebihan (6:4).

Di mata suaminya, istrinya lebih berharga dibandingkan dengan permaisuri, selir, dan para dara (6:8-9). Sang suami kagum terhadap karakter mulia sang istri yang merupakan tanda dari seorang bangsawan (7:1), padahal sang istri berasal dari sebuah desa, yaitu desa Sulam (6:13). Pujian sang suami mencapai puncaknya melalui ajakan menikmati cinta (7:8). Ajakan itu kemudian diresponi oleh istrinya (7:9-13). Kerinduannya begitu kuat sampai ia berharap dapat mencium kekasihnya dengan bebas seperti mencium saudaranya laki-laki (8:1).

Bersyukurlah atas anugerah Tuhan memberi pasangan hidup kepada Anda. Nyatakan cinta Anda sepenuh hati dan bahagiakanlah kekasih Anda. Anda akan merasa tersanjung mendapat anugerah terbesar dalam hidup Anda, yaitu pasangan hidup Anda.

 

Tidak mampu melihat keindahan pasangan Anda berarti menghina Allah, Sang pemberi anugerah.

 

June 19, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Song of Solomon (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kidung Agung)  belum ada komentar

Sediakan Waktu

Artikel oleh:

Sediakan Waktu

“Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap” (Kidung Agung 5 : 6)

 

Dalam sebuah acara pemakaman, seorang pria setengah baya tampak terguncang dan menangis tanpa henti. Pria ini ternyata adalah suami dari jenazah yang akan segera dikuburkan. Ia sangat bersedih atas kepergian istrinya. Ternyata, lebih dari merasa kehilangan, sang suami merasa menyesal tidak menyediakan diri dan memberikan cukup waktu untuk menikmati kebersamaan dan kebahagiaan bersama istrinya itu ketika masih hidup. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang semua sudah terlambat. Istrinya sudah pergi.

Perempuan dalam perikop bacaan hari ini juga mengalami penyesalan setelah gagal menyediakan diri untuk kekasihnya. Suatu malam ketika ia sedang tertidur lelap, sang kekasih datang dengan tergopoh-gopoh. Akan tetapi, ia merasa malas dan berat untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia tak mau repot mengenakan baju serta mengotori kakinya yang telah terbasuh (ayat 3).

Sementara itu si kekasih terus menanti dan bahkan sempat berusaha membuka pintu sendiri (ayat 4). Ketika akhirnya si perempuan berhasil mendorong dirinya untuk bangkit dan membukakan pintu, ternyata si kekasih sudah pergi.  Si perempuan sangat menyesal, bahkan sampai mencari kekasihnya ke mana-mana, tetapi sudah hilang entah ke mana (ayat 6).

Siapa saja orang-orang yang kita kasihi dan berharga bagi kita? Sudahkah kita memberikan cukup waktu untuk mereka?  Jangan sampai kita terlalu sibuk atau malas sehingga tidak bisa menyediakan diri untuk mereka. Prioritaskan pula mereka di hidup kita. Sebelum habis kesempatan untuk melakukannya dan kita hanya bisa menyesal.

 

Sebelum terlambat, sediakan waktu yang terbaik untuk orang yang kita kasihi.

 

June 18, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Song of Solomon (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kidung Agung)  belum ada komentar