Kemerdekaan Orang Kristen

Artikel oleh:

Keluaran 12: 40-41

Merdeka1

By: Inawaty Suwardi

Bangsa Indonesia memperingati kemerdekaannya yang ke 70 dari penjajahan bangsa asing. Pada momentum peringatan kemerdekaan Indonesia ini, saya akan berbicara tentang kemerdekaan kita sebagai orang Kristen. Sebuah kemerdekaan yang lebih daripada sekedar kebebasan yang bersifat jasmani dan sementara.

Alkitab juga membicarakan tentang kemerdekaan tetapi bukan kemerdekaan dari penjajahan/perbudakan secara jasmani.Alkitab membicarakan kemerdekaan secara rohani karena Kristus memerdekakan kita.

Saya ingin mengajak Bapak/Ibu sekalian untuk merenungkan dua hal, (1) Dari apa orang Kristen dimerdekakan, (2) Untuk apa orang Kristen dimerdekakan?

I.                    Dari apa orang Kristen sudah dimerdekakan?

Dimerdekakan dari dosa

Setelah 430 tahun bangsa Israel berada di Mesir, Tuhan mengutus Musa menghadap Firaun untuk meminta kemerdekaan. Firaun tidak mau mendengar  apa yang dikatakan oleh Tuhan melalui Musa. Karena itu Tuhan mengirimkan berbagai tulah kepada mereka.

Tulah-tulah diturunkan di Mesir,  darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah, hujan es, belalang, dan gelap gulita …………….. namun dengan semakin banyak tulah, Firaun malah semakin mengeraskan hatinya dan menolak perintah Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel.

Firaun berusaha sekuat tenagamempertahankan agar bangsa Israel tetap berada dibawah perbudakan mereka.Namun tulah terakhir berhasil mematahkan cengkraman Firaun, dan bangsa Israel diberi kemerdekaan.

Diperlukan darah untuk kemerdekaan bangsa Israel!

Dari Kitab keluaran pasal 12 kita mengetahui, bahwa untuk kemerdekaan bangsa Israel diperlukan persembahan korban, namun bukan sembarang korban.Ayat 5 mengatakan, Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun.(6b) seluruh Jemaah Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada waktu senja, (7) Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.(13) Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal. Apabila aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu.

Bangsa Israel dimerdekakan dengan darah.  Orang Kristen juga dimerdekakan dengan darah! 1 Yoh 1:7 “………………….. dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Zig Ziglar, seorang penulis dan pelatih motivasi, menulis tentang Harry Houdini, seorang pesulap  terkenal di Amerika. Houdini membual bahwa iaselalu dapat melepaskan diri dari sel penjara manapun di negaranya. Ia sering mendemonstrasikan kemampuannya untuk membuktikan ucapannya. Namun dalam salah satu pertunjukannya, Houdini mengalami kegagalan.

Ketika pintu sel yang berat ditutup dengan suara nyaring, Houdini menarik seutas logam yang disembunyikan di dalam ikat pinggangnya dan mulai mencungkil kunci pintu sel penjara. Selama 30 menit ia mengutak-atik kunci, tetapi tidak dapat membukanya. Satu jam berlalu, ia sudah mandi keringat, tetapi masih belum bisa membuka kunci itu. Dua jam telah berlalu,  pada akhirnya ia kelelahan dan frustrasi sehingga ia terjatuh dan badannya menimpa pintu sel yang tidak dapat dibuka kuncinya itu. Tetapi, ketika ia jatuh menimpa pintu, daun pintunya langsung terbuka. Ternyata pintumya tidak pernah dikunci! Di dalam pikiran Houdini, pintu itu dikunci. Itu sebabnya ia gagal, karena pikirannya terkunci sehingga ia mengalami frustrasi.

Bp/Ibu, belenggu yang berasal dari dosa tidaklah sama dengan sel penjara yang membuat Houdini terbelenggu, karena belenggu itu semu, pintu sel itu sebenarnya tidak terkunci. Tetapi belenggu dosa sama seperti  belenggu dalam pikiran Houdini.

Yesus sangat peduli dengan manusia yang terbelenggu oleh dosa.Karena itu Yesus memerdekaakan manusia dari perbudakan atau belenggu dosa.

Orang Kristen memperoleh kemerdekaan dari belenggu dosa ketika ia bertobat dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Pada waktu memperoleh kemerdekaan dari belenggu dosa, orang Kristen sebetulnya menerima satu paket kemerdekaan. Yoh 8:36 :Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”

Dari paket kemerdekaan itu, dapat disusun naskah Proklamasi Orang Kristen sebagai pernyataan iman kita.

1 Kami merdeka dari dosa Roma 6:18 :Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
2 Kami merdeka dari kegagalan

 

Flp 4:14 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
3 Kami merdeka dari ketamakan

 

Flp 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
4 Kami merdeka dari ketakutan 2 Tim 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
5 Kami merdeka dari keraguan Rom 12:3 “……………..Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
6 Kami merdeka dari kelemahan Mzm 27:1 TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?
7 Kami merdeka dari kuasa Iblis 1Yoh 4:4 “……………….sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”
8 Kami merdeka dari kekalahan 2 Kor 2:14 “…………….. Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya.”
9 Kami merdeka dari kebodohan 1 Kor 1:30 “……………….. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.”
10 Kami merdeka dari kekuatiran 1 Pet 5:7 “………………..Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
11 Kami merdeka dari keterikatan (kecanduan) 2 Kor 3:17 “………….. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.”
12 Kami merdeka dari kutukan Rom 8:1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

 

II.                  Untuk apa orang Kristen dimerdekakan?

 

1.       Dimerdekakan untuk melayani Baca selanjutnya »

August 29, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Hati Yesus

Artikel oleh:

Hati Yesus

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”. (Lukas 5 : 32)

 

Ketika Yesus memanggil Lewi untuk mengikuti Dia (27), maka respons Lewi begitu total, ia berdiri, meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus (28). Tampaknya, mengikut Yesus merupakan keputusan besar bagi diri Lewi pada waktu itu, sehingga perlu dirayakan dengan mengundang teman-temannya, sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain (29). Ada anggapan bahwa orang harus benar-benar memisahkan diri dari orang berdosa bila ingin hidup kudus. Namun tidak demikian menurut Yesus.  Toh, Yesus hadir bersama orang-orang berdosa lainnya ketika Lewi mengadakan perjamuan dirumahnya.

Memang, situasi tersebut mengundang reaksi, dimana orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut (30). Komitmen mereka untuk melaksanakan Taurat membuat mereka takut berelasi dengan orang-orang yang dianggap berdosa. Bukan hanya itu. Mereka juga akan mengkritik orang yang bergaul dengan orang berdosa. Maka Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai dokter yang dibutuhkan orang sakit, bukan orang sehat (31-32).  Pernyataan Yesus sangat hebat dan sungguh-sungguh luar biasa, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (31).  Yesus datang untuk melayani mereka yang berdosa dan membutuhkan pertobatan. Jadi ketika para pemungut cukai dan para pendosa datang meminta disembuhkan, Yesus tidak akan menolak mereka.  Hati misi yang ada dalam diri Yesus sungguh luar biasa. Hati misi adalah hati yang tidak memilih-milih atau melakukan diskriminasi terhadap seseorang. Ketika bertemu Lewi, seorang pemungut cukai, Yesus berkata dengan lembut kepadanya, “Ikutlah Aku.”

Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Apakah kita juga rindu agar orang-orang berdosa menjadi murid Kristus? Kapankah terakhir kali kita mengundang seorang belum percaya untuk menerima Yesus menjadi Juruselamatnya? Rindukah kita untuk memiliki hati seperti Lewi yang mengajak orang lain juga menjadi murid Kristus setelah Yesus mengajak dia menjadi murid-Nya?

 

Jangan lupakan tugas kita yang utama di dunia ini, yakni membawa orang lain untuk mengenal kasih Yesus!

 

August 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Tetaplah Taat!

Artikel oleh:

Tetaplah Taat

“Simon menjawab: Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. (Lukas 5 : 5)

 

Hubungan yang sehat dengan Allah ditandai oleh adanya ketaatan terhadap kehendak Allah. Tidak adanya ketaatan menunjukkan adanya masalah dalam pengenalan kita akan Allah. Simon Petrus adalah seorang nelayan yang berpengalaman. Dia telah bekerja keras sepanjang malam untuk menangkap ikan, namun hasilnya nihil.  Waktu Tuhan Yesus menyuruh dia menyebarkan jala di tempat yang dalam, dia mengalami keadaan yang membuat dia merasa serba salah. Di satu sisi, akal sehatnya (yang didukung oleh pengalaman) mengatakan bahwa tidak ada gunanya melakukan hal itu karena sepanjang malam dia telah gagal.  Di sisi lain, dia segan menolak perintah Sang Guru, yaitu Tuhan Yesus. Akhirnya, pertimbangan kedua mengesampingkan pertimbangan pertama dan ia menaati perintah Tuhan Yesus. Hasilnya di luar dugaan. Jala yang dipakai mulai koyak karena banyaknya ikan yang ditangkap.

Kesulitan kita untuk hidup dalam ketaatan terhadap kehendak Allah sama seperti kesulitan yang dihadapi oleh Simon Petrus. Kehendak Allah tidak selalu masuk akal bagi kita. Kita terikat oleh ruang (kita hanya mengetahui apa yang ada atau terjadi di sini) dan oleh waktu (kita hanya mengerti apa yang ada atau terjadi saat ini), padahal Allah mengetahui segala sesuatu di setiap tempat dan di segala waktu, bukan hanya saat ini, tetapi juga yang akan datang.

Bila kita ingin bertumbuh dalam ketaatan, kita harus bertumbuh dalam pengenalan kita akan Allah. Sadarilah bahwa Allah itu mahatahu, mahabijaksana, dan selalu memiliki maksud baik terhadap diri kita. Kehendak-Nya selalu lebih baik daripada apa yang bisa kita pikirkan.

 

Apapun yang Anda hadapi, entah manis atau pahit, tetaplah taat pada kehendak Tuhan, maka hasilnya pasti mencengangkan!

 

August 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Lebih Baik Anda Lari!

Artikel oleh:

Lebih Baik ANda Lari

“Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik” (Lukas 4:13).

 

Pelatih binatang berkata bahwa rahasia menaklukkan binatang buas, seperti: singa, harimau, dan macan tutul adalah menjaga supaya mereka tetap takut kepadanya. Bila binatang-binatang buas ini berhasil mengatasi ketakutannya, mereka akan menyerang pelatihnya. Karena itu pelatih harus selalu menatap binatang-binatang buas ini supaya mereka keder. Yang agak ditakutkan adalah, bila posisi binatang ini berada di belakang pelatihnya dan mereka tiba-tiba mempunyai keberanian untuk menyerangnya.

Saudara, peperangan antara Anak Allah dengan setan di padang gurun menunjukkan bahwa peperangan antara manusia dengan iblis tidak pernah berhenti. Permusuhan ini berlanjut sejak manusia pertama berhasil diperdayai oleh setan. Kali ini iblis tidak berdaya menghadapi Anak Manusia. Iblis tidak berhasil menipu dan membujuk Yesus. Apakah iblis menyerah? Apakah iblis putus asa? Tidak! Alkitab berkata bahwa ia “…. menunggu waktu yang baik”. Begitulah sifat iblis yang tidak kenal menyerah sampai musuhnya berhasil diperdayai.

Alkitab mengibaratkan iblis seperti singa  yang mengaum-aum yang mencari orang yang dapat ditelannya (1 Pet. 5:8). Kita harus berani menatap matanya – seperti pelatih binatang buas – dan menunjukkan kepadanya bahwa kita diberi otoritas oleh Allah untuk mengalahkannya. Iblis sebenarnya telah “dijinakkan” oleh Tuhan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kuku-kukunya dan taring giginya yang lancip telah dibuat tumpul, tetapi tipuannya masih ampuh untuk menghancurkan hidup kita. Kita harus selalu waspada dan berjaga-jaga. Jangan memberikan kesempatan kepadanya sedikit pun. Kalau tidak, ia akan menerkam Anda.

Setan adalah musuh yang tak tampak oleh mata telanjang. Anda harus mempertajam indra rohani Anda supaya Anda mewaspadai gerak-geriknya. Dan yang penting lagi adalah mengenakan perlengkapan senjata Allah. Jangan ragu untuk menggunakan otoritas yang Allah berikan kepada kita. Bila iblis muncul, janganlah berdialog dengannya, melainkan usirlah di dalam nama Yesus.

 

Iblis adalah salah satu “jenis” singa yang paling banyak membawa korban jiwa.

August 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Persiapkan Hati Untuk Tuhan

Artikel oleh:

Buka Hati

“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya” (Lukas 3 : 4b)

 

Salah satu tokoh sentral dalam Injil, selain Yesus, juga Yusuf dan Maria, dan juga Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis adalah figur yang sederhana yang taat. Dia adalah tokoh yang mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus yang kita nanti-nanti.  Yohanes Pembaptis sangat rendah hati. Dia hanya mempersiapkan jalan bagi Dia yang akan datang yang jauh lebih besar dan berkuasa daripadanya. Makanya Yohanes berkata, “Membuka tali kasutnya pun saya tidak pantas”, (Ay 16)

Penekanan utama dari kotbah Yohanes Pembaptis ialah: “Bertobatlah dari dosa-dosamu dan berilah dirimu dibaptis”.  Ini mengingatkan kita bahwa pembaharuan diri dan pembersihan hati adalah yang paling utama dalam penantian kita terhadap sang Penebus kita. Dia menekankan bahwa persiapan rohani adalah lebih mendasar daripada persiapan jasmani.  Karena itu yang paling utama ialah Yesus dan bukan kita. Yang paling hakiki ialah sabda-Nya dan bukan perkataan kita. Dan yang paling mendasar ialah Yesus yang datang mengunjungi hatimu dan dirimu. Yesus adalah yang utama dan pertama dan kita adalah yang ke tiga dan seterusnya.

Ini bermuatan kerendahan hati dan menempatkan Dia sebagai yang utama dan pertama. Kalau kita menempatkan Yesus sebagai yang pertama tentu kita akan selalu rendah hati, tidak menyombongkan diri dan tidak mencari kehormatan pribadi. Kita menyadari bahwa apa yang kita peroleh, rejeki, kebahagiaan dan prestasi hidup semata-mata bukan karena kehebatan, kepintaran dan kemampuan kita namun karena Dia sumber segala talenta dan kemampuan, tentu karena mereka yang mendukung dan mendoakan kita.

Inilah muatan pertobatan itu, pembaharuan diri yang terus menerus dan membersihkan hati dari sikap kesombongan dan mengisinya dengan kelemahlembutan dan rendah hati. Yesus akan memampukan kita bila kita terbuka menyambut kedatangan-Nya.

 

Jagalah hati,  dan jangan kita kotori. Undanglah Tuhan Yesus bertahta dalam hati dan kehidupan kita!

 

August 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Menanti Janji Tuhan

Artikel oleh:

Menanti Janji TUhan

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu itu pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu” (Lukas 2: 29)

 

Dalam pembacaan Injil ini kita bertemu dengan Simeon, seorang Israel yang setia menantikan janji Allah tentang datangnya seorang Mesias. Simeon telah menerima janji dari Roh Kudus sendiri bahwa ia tidak akan mati sampai ia menjumpai Mesias yang dijanjikan Allah.  Dari Simeon, kita melihat bahwa janji dan firman Allah memang pasti digenapi, tetapi soal kapan itu ditepati, itu adalah hak Allah untuk menentukannya. Mungkin janji itu digenapi hari ini, besok, minggu depan, tahun depan, atau bertahun-tahun lagi, atau bahkan baru menjelang ajal. Tugas kita sepanjang saat penantian itu adalah tetap setia, tetap hidup “benar dan saleh” dan dengar-dengaran dengan perkataan Roh Kudus. Percayalah bahwa “Ia yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Kita juga melihat bahwa Roh Kudus berperan penting dalam seluruh kehidupan Simeon. Dialah yang memberikan janji itu tentang Mesias dan Dialah juga yang menuntun Simeon untuk mengenali bayi mungil di Bait Allah sebagai Mesiasnya.

Dalam pasal ini juga diceritakan tentang seorang nabi perempuan bernama Hana (Ay 36). Perjumpaan dengan Yesus, walaupun dalam bentuk bayi, tidak hanya menghasilkan iman yang diam dan berpangku tangan. Biarpun yang dihadapinya hanyalah bayi kecil, namun Hana tidak bisa berdiam diri. Ia memberitakan hal ini kepada semua orang. Bayangkanlah betapa bingungnya orang-orang mendengar bahwa bayi berumur satu bulan ini adalah Mesias?   Namun, Hana tidak berhenti dengan bersyukur saja karena telah melihat sang Mesias. Ia melanjutkan kabar sukacita ini kepada “semua yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem”, walaupun usianya sudah 84 tahun.  Bagaimana dengan kita yang lebih muda? Adakah iman kita hanyalah iman yang diam saja? Ataukah kita juga mau ambil bagian dalam menyaksikan karya keselamatan Allah yang dimulai sejak kelahiran Yesus?

Kiranya bersama dengan Simeon dan Hana, kita menjadi umat yang tetap setia menanti janji Bapa; semakin beriman pada Mesias yang sudah datang dan semakin rajin mengabarkan sukacita kedatangan Mesias kepada dunia ini.

 

Beritakanlah kabar sukacita kepada semua orang. Jangan hanya berdiam diri!

August 22, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Beritakan Kabar Sukacita!

Artikel oleh:

Beritakan Kabar Sukacita

“Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.”  (Lukas 1:19)

 

Sebagai orang Kristen, kita sering berpikir bahwa ibadah ke gereja tiap Minggu, hadir di persekutuan-persekutuan doa dan ikut terlibat dalam kegiatan apa pun di gereja adalah cukup dan itu sudah membuktikan bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan  atau Pengikut Kristus.  Sesungguhnya keberadaan kita lebih dari itu!  Setiap orang percaya yang telah mengalami lahir baru memiliki predikat sebagai seorang utusan Tuhan.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan tugas malaikat Gabriel yaitu membawa kabar baik.  Demikian pula setiap amanat yang kita terima dari Tuhan merupakan tugas yang mulia.  Untuk memenuhi panggilan Tuhan ini kita harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.  Segala tugas yang dipercayakan kepada kita biarlah kita lakukan dengan sungguh-sungguh.  Seringkali kita yang pada mulanya begitu menggebu-gebu melayani Tuhan, pada saat diperhadapkan dengan suatu ujian atau tantangan, kita mulai mundur dengan teratur dan meninggalkan tanggung jawab kita sebagai utusan Tuhan.  FirmanNya menasihatkan,  “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11).  Tugas ini bukan saja bagi para pendeta atau hambat Tuhan yang sudah sekolah Theologia, namun tugas kita semua sebagai pengikut Kristus.

Pengalaman Yunus ini biarlah menjadi suatu peringatan buat kita bahwa kita ini adalah utusan-utusan Tuhan yang diberi tanggung jawab untuk membawa kabar keselamatan kepada orang lain.  Jangan lari dari panggilan Tuhan, tetapi biarlah kita gunakan kesempatan yang ada untuk melakukan tugas yang dipercayakan kepada kita dengan sungguh-sungguh.  Firman Tuhan berkata, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang;  akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”, (Yohanes 9 : 4).

 

Sudahkah Saudara siap diutus Tuhan ditengah market-place, dimana pun kita berada, untuk memberitakan kabar sukacita keselamatan dari Tuhan?

August 21, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Luke (Renungan Alkitabiah dari Kitab Lukas)  belum ada komentar

Pengaruh Yang Baik

Artikel oleh:

Garam

“Nama yang tertua ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelaki dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem”. (Yehezkiel 23 : 4)

 

Pasal ini berbicara tentang Ohola dan Oholiba yang memberikan kiasan dari kedua kakak adik itu, Samaria dan Yerusalem, dengan memakai gambaran-gambaran alegoris.  Persundalan yang dimaksud dalam Pasal ini dan dalam kitab Yehezkiel secara keseluruhan adalah dalam konteks Israel sebagai umat pilihan Allah berpaling dari Allah dan menyembah ilah-ilah lain.  Ilustrasinya adalah Samaria (Ohola) dan (Oholiba (Yerusalem), sebagai “istri-istri” sah Tuhan, memilih pasangan-pasangan sundal mereka sebagai tempat mereka menyandarkan diri demi kepuasan seksual mereka.

Ketika Israel masih di Mesir, mereka sudah berkompromi dengan iman mereka. Padahal mereka diperbudak di sana, demi perut mereka. Ini nyata dari keluh kesah mereka di padang gurun karena kekurangan air dan makanan, sementara di Mesir mereka berkelimpahan (mis. Bil. 11:4-6). Tuhan menuding mereka, Samaria (Israel Utara) dan Yehuda, sebagai pelacur-pelacur yang tidak memiliki kehormatan karena demi memuaskan kedagingan mereka, mereka berbuat kejahatan dengan membiarkan bagian tubuh terhormat mereka dijamah orang lain.

Dalam cerita ini kita melihat, adik meniru dosa kakaknya, bahkan lebih hebat lagi dalam berdosa. Padahal ia melihat akibat dan hukuman dosa yang dialami kakaknya. Betapa mengerikan efek dosa yang bukan hanya membelenggu seseorang, tetapi menebarkan pengaruh buruk yang akhirnya membelenggu orang lain.

Selidikilah hidup kita, apakah selama ini kita menjadi pengaruh yang baik bagi orang lain, terlebih bagi keluarga kita atau sebaliknya?  Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk mampu menjadi pengaruh yang baik bagi orang lain, sehingga Tuhan dimuliakan melalui kehidupan kita.

 

Jadilah orang yang berpengaruh! Bukan pengaruh yang negatif  tetapi pengaruh yang positif, yang menyenangkan hati Tuhan.

 

August 8, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ezekiel (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yehezkiel)  belum ada komentar

Lakukan Yang Benar!

Artikel oleh:

Lakukan Yang Benar

“Aku akan mencurahkan geram-Ku atasmu dan menyemburkan api murka-Ku kepadamu dan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang dungu, yang menimbulkan kemusnahan.” (Yehezkiel 21:31)

 

Terkadang dalam perjalanan kehidupan, kita sering tidak menyadari bahwa kejahatan dan dosa yang kita lakukan mendatangkan kemarahan Allah. Alkitab mencatatnya, “Maka Aku mencurahkan geram-Ku atas mereka dan membinasakan mereka dengan api kemurkaan-Ku; kelakuan mereka Kutimpakan atas kepala mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH” (Yehezkiel 22:31). Ayat ini memberikan sebuah pengertian bahwa apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai.  Demikian halnya dengan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Amon (Yeh. 21:28-32; Yer. 49:1-6).

Dari beberapa bagian kitab-kitab ini, kita akan melihat murka Allah kepada bani Amon.

Pertama, Allah akan memusnahkan mereka. Setiap dosa mempunyai konsekuensi yang harus diterima. Sama dengan orang-orang Amon, Allah juga sungguh sangat marah kepada mereka, karena mereka telah berbuat sesuka hati mereka, yaitu membunuh (membelah perut) perempuan-perempuan hamil di Gilead (Am. 1:13). Hal ini mereka lakukan untuk mempertahankan kekuasaan dan memperluas daerah mereka sendiri. Inilah yang mengakibatkan Allah sangat murka kepada bani Amon.

Kedua, Allah mengutuk mereka menjadi Gomora. Gomora menjadi padang jeruju dan tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya (Zef. 2:8-11). Tuhan mengutuk bani Amon karena dosa kecongkakan dalam kehidupan mereka. Kecongkakan yang telah mereka lakukan adalah dengan mencela dan membesarkan diri sendiri terhadap umat Tuhan. Demikian pula semua orang, baik laki-laki dan perempuan, hidup dalam kecongkakan dan menjadikan harta benda mereka menjadi segalanya dalam kehidupan mereka (Yer. 49:3-4). Oleh karena itu, Allah menghukum mereka, dan melenyapkan para allah yang mereka sembah.

 

Lakukan apa yang benar di mata Tuhan dan berjuang untuk menjadikan Allah yang terutama dalam perjalanan kehidupan kita di dalam dunia ini.

 

August 7, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ezekiel (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yehezkiel)  belum ada komentar

Sadarlah Sungguh-Sungguh!

Artikel oleh:

Sadarlah

“Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, pada masa Aku, oleh karena nama-Ku, tidak memperlakukan kamu selaras dengan tingkah lakumu yang jahat dan busuk, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan Allah.” (Yehezkiel 20 : 44)

 

Meskipun kita berulang kali jatuh dalam dosa, Dia tidak memperlakukan kita selaras dengan seluruh pelanggaran yang telah kita perbuat, melainkan Dia tetap mencurahkan anugerah-Nya kepada kita. Respons kita yang sepantasnya adalah mengasihi Dia dan tidak lagi mengulangi perbuatan dosa yang Allah tidak sukai..

Manusia yang berdosa, termasuk kita, cenderung tidak mematuhi perintah Allah. Walaupun umat Israel telah dipilih dari antara segala bangsa untuk menjadi umat Allah, namun dari generasi ke generasi, bangsa Israel menyembah ilah-ilah lain dan tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Mereka melakukan praktek ibadah yang mendukakan hati Allah.  Sekalipun demikian, Allah memperlakukan umat Israel tidak selaras dengan kejahatan mereka karena Allah itu begitu baik. Allah tidak membiarkan umat-Nya terus-menerus hidup dalam dosa, melainkan Dia memberikan anugerah sehingga umat-Nya tidak terus menerus menyembah ilah-ilah asing (20:32).

Allah berkata tentang masa mendatang saat Dia akan bertindak sebagai Seorang Hakim yang memisahkan umat-Nya yang sejati dengan kaum pemberontak (20:38). Allah juga telah menjanjikan suatu masa saat umat-Nya beribadah kepada Dia dengan sepenuh hati (20:40-44).

Allah tidak pernah berubah. Sampai saat ini pun, Allah begitu baik dan kebaikan-Nya tidak pernah berubah.  Dia memperlakukan kita melampaui segala kejahatan kita. Puncak dari pernyataan kasih dan kebaikan Allah adalah karya salib, karena Kristus telah mati untuk kita saat kita masih dalam keadaan berdosa (Roma 5:8). Allah yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia selalu memberikan anugerah-Nya yang terbaik bagi kita semua. Oleh karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan sekarang adalah, “Apakah respon kita?”.

 

Sadarlah sungguh-sungguh dan lakukanlah segala sesuatu yang benar dan memuliakan nama Tuhan! Jangan lagi hidup dalam perhambaan dosa!

 

August 6, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ezekiel (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yehezkiel)  belum ada komentar