Victorious Ending

VICTORIOUS ENDING (Mengakhiri dengan Penuh Kemenangan)
2 Timotius 4:6-8

Di penghujung setiap perjamuan, sebelum mereka pergi, orang-orang Romawi mengambil secawan anggur dan dicurahkan sebagai persembahan bagi dewa-dewi. Demikianlah di penghujung hidupnya, sebelum meninggalkan dunia ini, Paulus menyerahkan darahnya untuk dicurahkan sebagai persembahan bagi Allah.

Paulus tidak memandang pemenggalan sebagai “eksekusi yang mengerikan”, dia memandangnya sebagai momen untuk mempersembahkan darahnya bagi Allah. Sejak pertobatannya, dia telah mempersembahkan segala sesuatu bagi Allah: uangnya, kegemilangan pendidikannya, waktunya, kekuatan tubuhnya, ketajaman pikirannya dan pengabdian hatinya.

Pemenggalan kepala sbg hukuman yang tertinggi bagi warga Romawi akan mencurahkan segenap darahnya yang dengan sukacita dan sukarela Paulus PERSEMBAHKAN bagi ALLAH.

Ketika Paulus berkata, “Saat ’KEMATIAN’ ku sudah dekat.” Kata yang dipakainya untuk KEMATIAN adalah ANALUSIS yg mengungkapkan berbagai gambaran yang sangat hidup.

  • Pelepasan kuk dari kerbau selesai membajak
  • Pelepasan rantai yg membelenggu tawanan,
  • Pelepasan tiang pancang tenda,
  • Pelepasan sauh kapal dari dermaga.

Kematian bagi orang percaya yang mengakhiri hidupnya dengan penuh kemenangan sama sekali tidak menakutkan! Kematian bagi para pemenang iman itu sama seperti

  • Beristirahat dari jerih lelah,
  • Menikmati kemerdekaan yang seutuhnya,
  • Memasuki rumah surgawi yang kekal,
  • Berlayar menuju tempat berlabuh yang paling menyenangkan yaitu hadirat Allah.

Paulus memberikan 3 teladan hidup untuk dapat mengakhiri kehidupan kita dengan penuh kemenangan.

I. BERJUANGLAH SECARA MAKSIMAL (”Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik” (ay. 7a))

Sebenarnya bagian ini diterjemahkan dalam New Intertional Version (NIV) ”I have fought the good fight”. Paulus sedang mengungkapkan kepuasan dan keyakinan bahwa dia telah berjuang secara maksimal. Itulah yang Allah harapkan bagi setiap hamba Tuhan dan anak Tuhan: kita tidak menjadi pribadi yang asal atau minimalis, tetapi yang maksimalis.
Apapun hasil akhirnya, yang memuaskan hati seorang pelatih adalah atlit binaannya telah berusaha maksimal. Berapapun nilai akhir seorang murid, yang menyenangkan hati orang tua adalah anak-anaknya telah berusaha optimal.

Pada waktu tim Belanda kembali ke negara mereka, wartawan melaporkan, “Even in second place, the Dutch team are champions in the eyes of their country” – “Walaupun berada di posisi kedua, tim Belanda adalah juara di mata bangsa dan pemerintah Belanda.” Para wartawan lebih lanjut menceritakan, “Warmly received, the team and its fans then erupted together in a popular Dutch folksong entitled: ‘Blood, sweat and tears’ – Dengan penyambutan yang meriah, segenap tim dan para pendukung mengumandangkan bersama-sama lagu rakyat berjudul ‘Darah, Keringat dan Air Mata’.”

Mengapa? Karena tim kesebelasan sepak bola Belanda telah berjuang maksimal di sepanjang kejuaran Dunia 2010 di Afrika Selatan!

Puji Tuhan! Allah pun tidak menuntut kita untuk menjadi seperti orang lain, sebesar dan seterkenal apapun mereka. Allah lebih senang krita masing-masing jadi diri sendiri. Yang penting, kita semua berjuang secara maksimal, baik dalam keluarga, study, pekerjaan maupun pelayanan kita.

Itulah teladan hidup Paulus yang pertama dan teladan yang kedua:

II. BERTEKUNLAH SAMPAI LANGKAH AKHIR (”Aku telah mencapai garis akhir” (Ay 7b)DE)

Seringkali, kita mendengar pernyataan, ”Mudah untuk memulai, tapi tidak mudah untuk menyelesaikan.” Akan tetapi, Paulus bersaksi, ”Tidaklah mudah untuk memulai apalagi untuk menyelesaikan.” Paulus memulai pengenalan-Nya kepada Kristus dengan sulit, sampai Tuhan mengizinkan kedua matanya buta terlebih dahulu. Paulus memulai pelayanannya dengan susah payah, sampai ditolak oleh hampir semua umat di Yerusalem kecuali Barnabas. Akan tetapi, syukurlah Paulus terus bertekun dan melakukan perjalanan misi ke-1,2, dan 3 sampai akhirnya dia ditangkap di Yerusalem lalu dipenjarakan di Roma.

Setelah keluar dari pemenjaraan yang pertama, Paulus tidak surut semangatnya. Tradisi secara kuat sekali menyaksikan bahwa Paulus menjadikan kota Roma sebagai pusat misi yang kedua untuk dia dapat memberitakan Injil Keselamatan ke daerah Spanyol yang belum terjangkau. Sekitar lima tahun kemudian, di usia yang tak lagi muda, sekitar 65-70 tahun, Paulus ditangkap dan dijebloskan kembali ke dalam penjara di Roma. Ketika menuliskan suratnya yang terakhir ini, Paulus, dengan penuh syukur menulis, ”Aku telah mencapai garis akhir” (Ay 7b). Sesungguhnya, dalam perjuangan iman, yang terpenting bukanlah langkah awal melainkan langkah akhir!

Tim Spanyol pun tidak mengawali perjuangan mereka dengan mudah dalam kejuaraan dunia sepak bola 2010. Mereka justru kalah pada pertandingan perdana 0-1 dari tim Swiss. Akan tetapi, mereka terus bertekun meraih kemenangan demi kemenangan sampai menjadi juara dunia!

Itu berarti, walaupun seseorang pernah gagal, tidak perlu dia berkecil hati. Walaupun beberapa pernah terjatuh berulang kali dalam perjuangan hidupnya, entah dalam konteks studi, keluarga atau karirnya, jangan pernah berputus asa. Iangatlah bahwa yang paling penting bukan langkah awal atau langkah-langkah yang lain , tetapi langkah akhir. Oleh karena, marilah kita semua bangkit dan terus bertekun memperjuangakan yang terbaik bagi Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi sampai langkah akhir.

Seorang rohaniwan besar menolak memberi izin untuk biografinya ditulis selama ia hidup. Dengan kegentaran yg kudus, dia berkata,

“Saya sudah melihat banyak atlit terjatuh pada putaran akhir pertandingan. Saya juga melihat cukup banyak pemimpin yang terpandang menjadi ternoda karena kecerobohan yang dilakukan di penghujung hidupnya. Saya hanya mau biografi saya ditulis setelah saya bersama seperti Paulus dapat mendeklarasikan: “Saya sudah mencapai garis akhir!

Rekan-rekan sekerja dan saudara-saudariku, marilah kita tetap berjaga-jaga dan bertekun sampai langkah akhir.

Paulus telah memberikan dua teladan yang luar biasa yaitu ”Berjuanglah secara maksimal” dan ”Bertekunlah sampai langkah akhir”. Selanjutnya, teladan Paulus yang ketiga lebih penting lagi bagi setiap orang percaya yang rindu mengakhiri kehidupannya dengan penuh kemenangan.

III. TETAPLAH PELIHARA IMAN YANG BENAR (”Aku telah memelihara iman” (AY 7c))

Paulus mengakhiri kehidupannya dengan penuhkemenangan, bukan hanya karena dia selalu berusaha maksimal dan terus bertekun sampai akhir, tetapi dia dapat tetap memelihara iman yang benar. Baik kawan maupun lawan tidak ada yang mempertanyakan integritas Paulus, baik dalam hubungan dengan harta, takhta maupun wanita.

Dengan latar belakang dunia niaga, pelaku business yang bonafide adalah mereka dapat mendekalarasikan kepada kolega dan masyarakat, “saya telah berpegang teguh pada perjanjian kontrak dan menunaikan semua tanggung jawab dengan benar.”

Dengan latar belakang pertandingan olimpiade, segenap atlit terbaik dari segala penjuru dunia berkumpul di Athena. Satu hari sebelum pertandingan, semua peserta berkumpul untuk mengikrarkan SUMPAH di hadapan dewa-dewi bahwa mereka telah berlatih selama lebih dari 10 bulan dan tidak akan pernah berbuat curang untuk meraih kemenangan. Juara Olimpiade sejati adalah mereka yang telah berlatih maksimal dan memenangkan perlombaan tanpa kecurangan.

Demikianlah, kemenangan tim Spanyol dalam kejuaraan dunia sepak bola 2010 menjadi sangat istimewa karena mereka juga dinobatkan sebagai tim yang palin menjunjung tinggi Fair Play.

Juara Olimpiade pada zaman Paulus sudah senang sekali jika menerima kalungan mahkota daun salam, tetapi mahkota tsb segera akan menjadi layu. Akan tetapi, orang percaya yang mengakhiri hidupnya dengan PENUH KEMENANGAN akan menerima mahkota kebenaran yang tidak akan pernah layu. Mahkota kebenaran tersebut bukan hanya disediakan Tuhan bagi Paulus dan Timotiius, melainkan bagi SEMUA ORANG yang merindukan kedatangan-Nya. Mahkota kebenaran yang tidak pernah layu disediakan Tuhan bagi segenap orang percaya yg BERKEMENANGAN: yang berjuang secara maksimal, yng terus bertekun sampai akhir, dan yang tetap memelihara iman yg benar.

Jadi, mereka yang selama ini hidup dan melayani asal dan minimalis, berubahlah! Mereka yang sempat tergoda untuk menyimpang atau berpikir untuk menyerah, berbaliklah kembali kepada Allah! Mereka yang mulai kehilangan kasih yang mula-mula dan mengobral integritas, bertobatlah dengan sungguh. Dengan mengingat treladan Paulus dan teladan agung Kristus Yesus sendiri, marilah kita lanjutkan kembali perjuangan iman kita dengan maksimal dan terus bertekun sampai garis akhir dengan tetap memelihara iman yang benar.

Paulus tahu dengan pasti bahwa pengadilan dunia ini akan menjatuhkannya hukuman mati yang brutal sebagaimana diputuskan oleh Nero, yaitu eksekusi pemenggalan kepala. Akan tetapi, dia tahu dengan lebih pasti bahwa Pengadilan illahi akan menganugerahkannya hidup yg kekal. Kita semua tahu bahwa dunia dan sistem dunia ini tidak adil. Itulah sebabnya, sekalipun kaki kita masih berjejak di bumi ini, tetapi baiklah hati dan segenap kerinduan kita tertuju kepada sapaan Tuhan Yesus, “Sabas, hai hambaku yang baik dan setia. Masuklah dalam kebahagiaan Tuanmu!” Itulah VICTORIOUS ENDING, itulah akhir perjuangan orang percaya yang penuh kemenangan.

Artikel oleh: July 28, 2010  Tags:   Kategori : Artikel  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda