Seorang Gembala Sidang (3)

a-14

Gembala Sidang adalah Manusia Biasa

Entah anda menyukainya atau tidak, saya harus membicarakan soal yang satu ini. Mulut tertutup tetapi hati menjerit dan berkelana seperti orang gila, adalah gambaran sebagian besar hamba Tuhan yang menjadi Gembala Sidang atau barangkali seorang istri Gembala Sidang serta anak-anak mereka pada waktu bertemu dengan pengalaman yang tidak enak. Keluarga kita turut merana karena harus mengorbankan banyak hal demi mendukung pelayanan dan kedudukan kita. Pengorbanan itu tidak kelihatan, seperti orang terkena pukulan tenaga dalam, akibatnyapun bisa merusak.

Keluarga Gembala Sidang adalah keluarga “manusia” juga. Pasangan kita adalah istri yang adalah seorang wanita ‘biasa’ yang dapat terluka jika serangan begitu hebat. Demikian juga dengan anak-anak kita, mereka dapat menyesali diri karena terlahir sebagai anak-anak pendeta jika anda tak bisa mengasihi mereka apapun keadaannya. Anak kami Putri pernah berkata, “Nggak enak juga ya jadi anak pendeta. Apa-apa dinilai orang!”. Kami butuh waktu meyakinkan dia bahwa semua orang di sekitar kita mengijinkan dia untuk menjadi dirinya sendiri. Ia tak perlu hidup menurut ukuran orang kepadanya. Kami hanya membertahukan beberapa hal penting untuk dijaganya untuk kebaikannya sendiri. Tetapi membebaninya dengan tuntutan yang tidak masuk akal hanya karena ‘takut dengan penilaian’ orang lain adalah sebuah kesalahan besar. Tidak jarang kita temukan anak-anak Gembala Sidang menjadi bagian dari ‘pemberontak’ karena mereka ingin ke luar dari kungkungan “apa kata orang.” Mereka memerlukan orang-orang yang dapat memahami dan menerima mereka sebagai manusia biasa juga.

Ungkapan bahwa pendeta juga adalah manusia ‘biasa’ di atas mungkin terasa seperti sindiran untuk sebagian orang. Manusiawinya seorang Gembala Sidang adalah bahwa sebagai manusia ia punya hasrat, kelemahan, kekuatan dan kejenuhan. sebuah keluarga Gembala Sidang adalah sebuah keluarga biasa juga. Bahkan saking manusiawinya, seorang Gembala Sidang seringkali sangat menginginkan agar orang-orang akan merespon terhadap segala kejadian hidupnya dengan cara biasa orang menanggapi pengalaman orang lain. Seorang pendeta, inherent di dalam jabatannya tuntutan untuk lebih tinggi dalam tingkat kerohanian dan lebih baik dari jemaat. Jabatannya mengharuskannya berada di garis depan untuk memberi keteladanan, kepemimpinan dan pengorbanan. Keberanian terhebatnya bukanlah menghadapi tantangan pelayanan. Keberanian terhebatnya adalah memikul tanggung jawab sebagai Gembala Sidang.

Beberapa hasrat dalam diri seorang Gembala Sidang dapat ditemukan pada jutaan manusia lainnya yang berjalan di atas muka bumi ini. Dapat ditemukan juga pada jutaan orang yang memilih untuk tidak bergereja atau tidak percaya kepada Tuhan. Anda dan seorang biasa yang bukan pendeta mengalami fase kehidupan yang kurang lebih sama juga. Fase mendewasa, fase pergumulan, fase kalah, fase menang, fase gagal, fase berhasil, dan seterusnya.

Hal ini adalah kenyataan! Barangkali anda pernah melihat sebuah kawah seperti kawah tak aktif di gunung Tangkuban Perahu—Bandung. Berdirilah di tepi kawah yang tidak aktif itu yang hanya menunjukkan asap dari semburan kecil belerang. Rasakan anginnya yang dingin dan resapi keindahan pemandangannya. Anda akan takjub dan terheran-heran, “Koq ada kawah seindah ini?”. Dan sekarang ketuk kening anda dengan jari dan katakan kepada diri anda bahwa di bawah kawah yang dingin dan membeku, terdapat lahar dan perut magma yang sangat berbahaya dan mematikan yang dapat meletus setiap saat.

Rasakan tabrakan pikiran antara keindahan dan kengerian. Nah perasaan yang menyertai di titik benturan itu adalah perasaan yang akan anda miliki waktu kita mencoba mengerti tentang seorang Gembala Sidang. Saya tak muluk-muluk menggambarkan tentang keberadaan seorang Gembala Sidang! Nanti anda akan melihatnya dalam dualisme pesimis dan optimis, gagal dan menang, serta ‘jahat’ dan ‘baik’, dan sebagainya. Tetapi sekali lagi, saya menyimpannya untuk saat terbaik menceritakannya kepada anda, supaya anda mengakui bahwa keindahannya lebih dari tantangannya. Hidup dengan dua tuntutan adalah ciri khasnya.

Jika secara pribadi seorang Gembala Sidang dapat mengalami pengalaman lembah dan jurang atau pengalaman atap bumi dan puncak gunung, maka jangan lupakan keluarganya juga. Penggembalaan yang paling menguji bagi seorang Gembala Sidang adalah keluarganya sendiri. Dalam kenyataannya, kepentingan keluarga seorang Gembala Sidang yang hatinya tulus dan baik, sering kali dikorbankan. Anda mungkin dapat menyangkal kalimat saya di atas. Anda mungkin berkata bahwa seorang gembala yang baik, tak harus dalam posisi mempertentangkan kedua kepentingan. Mungkin anda benar jika anda menutup telinga terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Jika anda membuka telinga anda, saya ajak anda untuk mendengarkan ratapan dan tangisan di kamar-kamar pribadi keluarga mereka. Seringkali mereka tidak tahu harus pergi ke mana jika sedang menghadapi masalah.

Sejumlah pendeta meninggal lebih cepat karena tak menjaga kesehatannya. Kesalahannya terletak pada gaya hidup yang berubah maupun gaya hidup yang tidak sehat, yaitu tidak berolah raga. Di beberapa tempat pedesaan, ada Gembala Sidang yang meninggal dalam kesusahan yang tak tertanggulangi karena tidak memiliki cukup makanan. Di berbagai tempat di perkotaan, sejumlah Gembala Sidang telah meninggal karena kelebihan makanan.

Hati seorang gembala, memiliki kelemahan yang sangat besar. Keinginannya untuk menjadi berkat bagi orang lain telah menjadi celah yang dipakai Iblis dan kesia-siaan. Yang terbaik dari seorang gembala dapat menjadi ‘berkat’ sebagian orang, tetapi bagi dirinya sendiri hal itu mungkin menjadi ‘kutuk’. Kelemahan seorang Gembala Sidang terlihat dari karakter dasar mengapa ia terpanggil menjadi seorang Gembala Sidang. Kepeduliannya atas orang lain, kepekaannya pada masalah orang lain adalah kelemahan yang dapat membinasakan diri dan keluarganya sendiri.

Persoalan orang lain atau jemaat sering menjadi monster rakus yang tak kenal belas kasihan. Ia akan mengkonsumsi segala sesuatu bahkan tanpa menyisakan sedikitpun di meja. Kekuatannya begitu hebat sampai setitik waktu, tenaga atau ketenanganpun akan direbut dan ditelannya. Saya akan menyinggungnya kembali untuk mengingatkan anda soal ini di akhir tulisan saya.

Kita tak dapat memenuhi semua keinginan orang, membahagiakan semua orang dan memuaskan semua orang yang kita layani. Dosa yang sangat besar bagi seorang Gembala Sidang adalah ketika ia memaksakan sesuatu yang Allah sendiri tidak sanggup melakukannya. Dia sendiri tidak bisa memuaskan semua! Itu sebabnya salib dan pengorbanan harus menjadi pengalaman-Nya. Yesus sendiri tak kan sanggup memenuhi keinginan semua orang, dan harapan semua orang. Saya telah mengatakan bahwa persoalan, harapan dan keinginan orang adalah bagaikan monster yang rakus yang akan mengoyak-ngoyak anda sehingga anda berantakan jika anda tidak mewaspadainya. Atau juga seperti black-hole di angkasa hampa yang dapat menelan planet, matahari atau galaksi sekalipun. Anda tak akan bahagia jika ingin menenuhi semua keinginan orang atau anda ingin memuaskan semua orang.

Jadi, jika anda mendengar bahwa yang tidak dapat dilakukan Allah adalah berdosa, maka saya daftarkan lagi satu hal yang tidak dapat dilakukan Allah, yaitu memuaskan semua orang. Allah berkali-kali frustrasi terhadap Umat Israel karena Ia sendiri tak dapat memenuhi kepuasan ratusan ribu orang Israel dalam perjalanan mereka menuju tanah Kanaan. Jangan pernah bermimpi bahwa anda akan bisa memuaskan semua orang. Jangan juga menyimpan keinginan itu karena keinginan jenis seperti itu adalah kanker yang akan menggerogoti kekuatanmu dalam membahagiakan dirimu dan keluargamu.

Jika anda adalah seorang Gembala Sidang ingatlah bahwa anda tidak bisa menuntut orang lain untuk memahami keadaan anda. Anda akan kecewa jika anda memaksakannya! Yang terbaik adalah anda harus segera masuk ke ruang kendali diri anda dan menetapkan beberapa hal yang sangat penting untuk anda, dan menjalaninya dengan penuh keyakinan. Ini adalah lawan dari keinginan memuaskan semua orang. Menuntut orang lain memahami keadaan anda adalah sifat kekanak-kanakan yang mesti disingkirkan dari jiwa seorang pemimpin. Seorang pemimpin bukanlah cetakan murah dari trauma maupun deposit masa lalunya. Pemimpin sejenis Gembala Sidang adalah seorang yang telah berhasil keluar dari perangkap gerakan berputar sifat manusia yang menarik diri ke arah pusaran. Bukanlah kodrat seorang Gembala Sidang untuk menuntut orang lain memahami anda.

Saya tak menyangkal pendapat bahwa di dalam Perjanjian Lama ada paralelisasi antara tuntutan kekudusan imam dan tuntutan kekudusan seorang Gembala Sidang atau hamba Tuhan. Hamba Tuhan dituntut oleh dirinya dan firman Tuhan untuk menempatkan diri minimal ‘setingkat’ lebih tinggi dari orang yang dilayaninya. Untuk semua komitmennya itu, ia menerima respek yang cukup dari mereka yang dilayaninya. Tetapi, bedanya sekarang adalah bahwa pada era keterbukaan seperti sekarang ini, tak ada yang sakral untuk diperdebatkan dan dipertanyakan orang tentang kita. Orang dengan mudah mempertanyakan legalitas panggilan kita sebagai hamba Tuhan jika mereka terbentur pada hal-hal yang tidak memenuhi harapan mereka. Jangan terkejut jika anda menghadapinya satu kali akan menghadapinya!

Gembala Sidang di jaman modern mendapat tekanan dua kali lebih banyak dari tekanan yang diterima imam pada masa lalu. Gembala Sidang di jaman modern, dibayangi oleh tuntutan untuk menjalankan tugas sebagaimana firman Allah katakan dan dibayangi juga oleh tuntutan perubahan jaman yang mempengaruhi masyarakat yang menjadi jemaatnya. Untuk tekanan yang besar itu, seorang hamba Tuhan bisa mengubah diri menjadi seorang dengan komitmen yang sangat tinggi, memilih kalah, atau menjadi seorang penipu hebat. Saya katakana ia menjadi seorang penipu besar jika kemudian ia mengendalikan orang dengan sebuah tujuan yang bukan tujuan Allah melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia harus melakukannya dengan cara yang begitu halus dan licin supaya tidak kentara dan ketahuan. Bagi seorang hamba Tuhan, peralatan yang ada di tangannya itulah yang paling berbahaya. Ketika Alkitab telah menjadi alat yang dipakai untuk mencpai tujuannya, maka hanya satu musuhnya, yaitu Allah sendiri. Nurani dan persahabatan manusia dapat menjadi perlindungannya selama melakukan yang tidak boleh dilakukan.

Seringkali saya bertanya di dalam hati saya, benarkah seorang hamba Tuhan dapat ‘tidak menyadari yang dilakukannya? Atau benarkah seorang hamba Tuhan tidak tahu apa yang dilakukannya? Saya tidak terlalu yakin! Menurut hemat saya titik perenungan selalu disediakan Tuhan seperti perhentian ketika anda naik ke gunung Sinai, selalu ada titik perhentian untuk merenung jalannya hidup. Tergantung setiap orang, apakah selama perenungan itu ia memilih jalan kejujuran untuk ‘meratapi’ kesalahannya dan bertobat, ataukah ia memilih untuk ‘menutup’ telinga hatinya terhadap kejujuran dan melanjutkan jalan biasa yang dilaluinya. Saya meyakini sesuatu, yaitu bahwa Tuhan sering menggunakan nurani atau kata hati kita untuk menegur dan membimbing. Tetapi sangat disayangkan, suara ‘mesin’ semangat dan ambisi kita terlalu keras sehingga suara nurani tidak terdengar dengan baik.

Sepanjang kita sebagai pemimpin adalah orang yang akan memikul tanggung jawab atas pelayanan kita sendiri, maka kita harus selalu yakin bahwa kita menyadari keputusan-keputusan kita dan menyadari konsekuensi atas keputusan kita. Setahu saya, amat jarang sebuah keputusan dapat segera mengakhiri ‘keberadaan’ seseorang. Sehingga setiap pertanggung jawaban dapat menjadi saat kebangkitan dari kebingungan.

(Bersambung …)

Artikel oleh: August 24, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

2 Komentar

  1. Adi - August 25, 2009

    Luar biasa…betapa tulisan ini mengingatkan kita, bahwa sebutan GEMBALA SIDANG atau bahkan SEORANG HAMBA TUHAN sekalipun, harus memiliki dan menghadapi SEMUA itu….Jangan pernah anggap biasa saja “sebutan” itu……..

  2. Rieska - April 18, 2011

    DOA SEORANG GEMBALA

    Bila ada surat yang ingin diberikan kepada kami,
    gerakkanlah tangan mereka menulis “doa” untuk kami.
    Kalau ada pujian manusia yang kami dengar
    biarlah itu menjadi obat duka
    yang akan lenyap tanpa tersisa bersama-sama dengan lukanya
     
    Saat baju kami dibasahi air mata orang-orang yang kami cintai,
    kirimkanlah kekang baja bagi tangan kami agar tidak membunuh diri kami sendiri
    Waktu mata kami melihat gulungan kegagalan terbentang,
    berikanlah kecerdasan untuk menghitung kasih karunia
    Ketika ada sahabat, kawan dan lawan,
    jadikanlah mereka pagar hidup dan rambu-rambu peringatan
    Di masa datangnya cerca, keluh kesah, kritik, serta duri yang dipanahkan
    tambahkan rasa cinta terhadap panggilan kami
    Di kala ada hati yang ingin memberi kami hadiah,
    bisikkanlah kepada mereka, “doa” adalah hadiah terbaik bagi kami.
     
    Agst25.09

Tulis Komentar Anda