Semangat Pura-Pura!

Semangat

“Pergilah, carilah Anak itu dengan teliti. Dan kalau kalian menemukan Dia, beritahukanlah kepadaku, supaya aku juga pergi menyembah Dia.” (Matius 2 : 8)

Herodes yang diceritakan di sini adalah Herodes Agung. Herodes dilahirkan pada tahun 73 SM. Ia seorang yang pandai dan cakap, mahir dalam taktik perang, berbakat dalam bidang politik.  Ia merenovasi Bait Allah menjadi sangat megah, ia membangun kuil untuk kaisar Agustus, ia membangun gelanggang olah raga, teater dan konsorsium. Ia juga memperkokoh benteng pertahanan.

Namun, di sisi lain Herodes mempunyai karakter yang buruk. Ia seorang yang suka menjilat dan mengkhianat demi memperoleh kekuasaan. Dan yang paling mengerikan dalam sejarah, ia dikenal sebagai seorang raja pembunuh. Ia membunuh semua anggota keluarga besarnya karena curiga mereka bersekongkol merebut tahtanya. Isterinya, anaknya, iparnya, pamannya semua ia bunuh, karena kuatir tahtanya direbut. Bahkan 5 hari sebelum meninggal ia membunuh anak sulungnya, Anti Pater, karena ketahuan merasa senang karena ia setelah ayahnya meninggal ia yang akan memimpin kerajaan. Oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa lebih baik menjadi babi Herodes dari pada menjadi anaknya.

Respon Herodes terhadap Natal mengingatkan kita bahwa pada dasarnya ada orang yang menolak kehadiran Kristus dalam hatinya.  Ia menolak Kristus dan ia menolak orang-orang yang Tuhan pakai untuk mengarahkan hidupnya kepada Allah. Inilah semangat hidup “herodes” yang ada dalam diri orang-orang Masa kini.  Ia ingin mengatur sendiri hidupnya, ke arah yang ia mau. Ia melawan segala sesuatu yang ingin memimpin hidupnya kepada kebenaran. Ia menolak kebenaran dan akhirnya ia menolak Allah sendiri. Ia ingin hidupnya dibawah kendalinya sendiri.

Yang lebih mengerikan lagi adalah semangat kepura-puraan Herodes. Pura-pura ingin menyembah Yesus, tetapi jauh di lubuk hatinya ia punya maksud hati yang tetap jahat.  Dalam lingkungan kekristenan pun ada orang yang mempunyai semangat “pura-pura,“  Tetap datang gereja, ikut melayani, jadi panitia, tetapi semua itu hanya pura-pura karena dosa tetap dijalani.

 

Orang yang punya semangat “pura-pura” merupakan biang masalah di gereja; sumber keributan di persekutuan.

 

Artikel oleh: December 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Matthew (Renungan Alkitabiah dari Injil Matius)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda