Hikmat Allah

Himat Allah

“Tetapi  hikmat yang dari atas  adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yakobus 3:17)

 

Yakobus membagi dua macam sumber hikmat, yaitu hikmat dari atas (yaitu dari Allah) dan hikmat dari bawah (dunia).  Hikmat dari bawah (dunia) terbagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu hikmat dari dunia, hikmat dari hawa nafsu manusia dan dari setan-setan.  Hikmat dari Allah sangat bertentangan dengan ketiga hikmat itu.   Lebih jelas Yakobus memaparkan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki hikmat Allah, yaitu: lemah-lembut, murni (tulus atau suci), pendamai, ramah, penurut (taat), penuh belas-kasih, tidak memihak dan tidak munafik dan buah-buah kebaikan lainnya.

Memang sudah seharus setiap orang percaya mengeluarkan buah-buah kebaikan dari dalam dirinya sebagai wujud dari imannya yang sejati kepada Allah. Percuma orang menyatakan dirinya orang Kristen yang beriman sedangkan cara hidupnya dan perbuatannya tidak mencerminkan cara hidup seperti Kristus.  Orang yang memiliki hikmat Allah akan melakukan perbuatan baiknya dengan kelemah lembutan (ay 13). Istilah lemah lembut ini tidak menunjuk pada sikap tubuh atau gerak-gerik seseorang, ataupun suara yang lembut, tetapi mengacu pada sikap hati yang penuh kasih Kristus, rendah hati, dan penuh hikmat Allah.

Hikmat yang kedua adalah hikmat yang bersumber dari bawah. Jika hikmat dari Allah menuntut ketaatan kepada Allah dan firman-Nya, maka hikmat dari bawah adalah sebaliknya, yaitu ketaatan kepada hikmat dari bawah itu.  Masalah dan kesulitan hidup yang kita hadapi dalam kehidupan memerlukan  pemecahannya; dan untuk itulah kita memerlukan hikmat. Jika kita meminta pertimbangkan dari orang dunia dengan memakai falsafah dunia atau pandangan duniawi, maka berarti kita cenderung memakai hikmat dunia.  Jika pertimbangan yang kita ambil adalah lahir dari emosi kita, dari sifat daging kita, maka hikmat yang kita pakai adalah hikmat yang dari hawa nafsu manusia.  Jika kita meminta petunjuk dari roh-roh jahat, jin-jin, petunjuk dari dukun atau paranormal dan sejenisnya, berarti kita cenderung menggunakan hikmat dari setan.  Menggunakan hikmat yang manakah Saudara saat ini?  Biarlah Allah dimuliakan dalam setiap langkah hidup kita.

 

Hikmat Allah menuntut ketaatan dan penyerahan diri pada Tuhan.

 

Artikel oleh: April 7, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from James (Renungan Alkitabiah dar Kitab Yakobus)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda