Kesetiaan Pernikahan

Kesetiaan Pernikahan

“Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya….” (Bilangan 5 : 12)

 

Kasih antara suami isteri dalam sebuah pernikahan dirasakan kurang lengkap apabila tidak disertai sikap saling setia dan saling percaya. Perselingkuhan adalah salah satu wujud ketidaksetiaan yang lahir dari kasih yang tidak benar. Hasil dari kasih yang tidak benar dan ketidaksetiaan ini adalah ketidakpercayaan. Bagian firman Tuhan ini memberikan contoh tentang murka Allah atas isteri yang tidak setia, hal ini tentu saja tidak berarti bahwa suami akan luput dari murka Allah apabila mereka melakukan perselingkuhan.

Bagaimana supaya kita memiliki kesetiaan dan kepercayaan yang teruji?  Pencobaan untuk berselingkuh tak dapat dihindari dari kehidupan suami isteri. Namun, tidak berarti bahwa kita harus menyerahkan diri pada pencobaan itu. Alasan Yusuf untuk tidak jatuh ke dalam pencobaan dari isteri Potifar adalah karena ia takut melakukan perbuatan dosa kepada Allah. Yusuf menyadari bahwa ia hidup di hadapan Allah dan untuk Allah, bukan di hadapan Potifar dan untuk Potifar. Kunci keberhasilan Yusuf keluar dari cobaan adalah tetap mempertahankan kesetiaan pada Allah yang hidup.

Kesetiaan adalah salah satu faktor terpenting dalam pernikahan. Bahkan janji untuk selalu setia kepada pasangan, diucapkan di altar ketika tali pernikahan mulai dijalin. Walaupun janji telah terucap, mempertahankan janji itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Buktinya, perceraian sering terjadi dengan alasan hadirnya orang ketiga dalam pernikahan. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab mengapa pasangan akhirnya berpaling kepada orang lain. Perlu instrospeksi diri dari masing-masing pihak mengapa hal ini bisa terjadi dan perlu usaha keras pula untuk memulihkan relasi yang rusak karena masalah ketidaksetiaan ini.

Kasih dan kesetiaan adalah kunci Pernikahan Kristen. Kasih yang dimaksud tidak sebatas kasih Eros yaitu kasih antara pria dan wanita, kasih yang dipengaruhi oleh perasaan – tidak stabil. Kasih yang diharapkan adalah kasih Agape, kasih yang ilahi, kasih yang murni, yang stabil dan kasih yang mencerminkan kasih Kristus.

Peliharalah kasih dan kesetiaan dalam pernikahan dan jangan mengotorinya!

 

Artikel oleh: January 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda