Pembekalan Materi Pada Sidang MPL PGIS di GSJA CWS Rajawali Depok 24 Agustus 20013

Peran dan Tanggung Jawab  Umat Kristiani dalam  Menyonsong Pemilu 2014

by. Letjen TNI (Purn) HBL Mantiri

HBL2

* Disampaikan dalam pembekalan  PGIS tanggal 24Agustus 2013

            Tidak terasa, waktu terus berjalan, dan kita sudah akan memasuki tahun 2014. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka kita perlu menyongsong Pemilu 2014. Di setiap negara yang demokratis, Pemilu selalu menjadi isu strategis, demikian pula di Indonesia. Umat Tuhan di negeri ini semestinya tidak bersifat apatis. Meskipun kondisi tanah air yang sedang amburadul dan para pemimpin negeri ini banyak yang tidak menunjukkan keteladanan, namun Pemilu merupakan tahapan krusial yang sangat menentukan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, sudah semestinya umat Tuhan di negeri ini untuk turut berperan dan turut menentukan masa depan Indonesia.

Umat Kristiani dan Nasionalisme

            Harus diakui bahwa pada saat ini telah terjadi kecenderungan penurunan nilai-nilai nasionalisme di berbagai kalangan rakyat Indonesia. Padahal nasionalisme merupakan perekat kesatuan bangsa. Apalagi bangsa Indonesia memiliki keragaman yang sangat tinggi, terkait dengan keragaman suku bangsa, agama, bahasa daerah, maupun adat-istiadat. Bangsa Indonesia terdiri dari 300 etnis, dan memiliki lebih dari 721 bahasa daerah, dimana masing-masing bahasa daerah juga memiliki keragamanan dialek bahasa. Tanpa nasionalisme yang tinggi, keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia dapat menyebabkan terjadinya perpecahan bangsa dan konflik antar kelompok masyarakat. Sebaliknya, dengan nasionalisme yang tinggi, keragaman bangsa justru menjadi kekayaan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Pada prinsipnya, hidup adalah pilihan, demikian pula dalam kehidupan berbangsa, apakah kita ingin menjadi bangsa yang kuat atau sebaliknya menjadi bangsa yang lemah. Kalau kita ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, maka penguatan nasionalisme harus dilakukan sebagai sesuatu yang bersifat mutlak.

Kita semestinya bangga sebagai bangsa Indonesia. Meskipun pada saat ini banyak diantara kalangan rakyat Indonesia yang malu sebagai bangsa Indonesia, namun kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Tahapan pembentukan bangsa Indonesia telah melalui proses yang panjang, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Majapahit telah mengawali gerakan penyatuan wilayah nusantara. Antar wilayah nusantara telah memiliki interaksi yang tinggi sejak jaman nenek moyang kita. Kita dapat melihat bahwa antar daerah di wilayah nusantara memiliki banyak kesamaan dalam budaya, maupun bahasa. Jadi, wilayah nusantara memang telah memiliki hubungan erat sejak jaman nenek moyang kita.

Kristalisasi bangsa Indonesia semakin menguat dan secara monumental dikumandangkan pada saat Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Hal itu juga didorong adanya perasaan senasib dan sependeritaan pada saat era penjajahan, terutama oleh Belanda dan Jepang yang menjajah dari Sabang hingga Merauke. Pada jaman penjajahan, semangat persatuan semakin menguat untuk bersatu padu melawan penjajahan. Dan untuk mempertahankan kesatuan bangsa Indonesia, para pejuang tanah air telah berkorban tidak hanya pengorbanan berupa tenaga, pikiran, harta dan waktu, bahkan mereka telah berkoban darah dan nyawa. Oleh karena itu, kita mestinya menghargai pengorbanan para pejuang. Kita harusnya berbesar hati bahwa bangsa Indonesia terbentuk atas perjuangan yang luar biasa, sangat heroik, dan perjuangan itu dilakukan melalui proses yang sangat panjang. Tidak semua bangsa di dunia ini terbentuk melalui proses yang luar biasa seperti yang dialami oleh bangsa Indonesia. Dan terbentuknya bangsa Indonesia juga atas kehendak Tuhan. Kita pun sebagai umat Tuhan yang ditempatkan menjadi bangsa Indonesia semestinya bersyukur dan bahkan semestinya memiliki rasa kebanggaan yang tinggi sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tuhan yang telah menjadikan kita sebagai bagian dari Indonesia tentu ada maksud dan tujuan, yaitu untuk kebaikan kita dan kemuliaan nama Tuhan.

Tuhan menganugerahkan bangsa Indonesia berupa tanah air yang luar biasa. Negeri kita merupakan negeri yang kaya dan sudah semestinya kita sangat bersyukur atas anugerah Tuhan tersebut. Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas, yaitu sekitar 1.904.569 km2. Bandingkan dengan Singapura, yang luas wilayahnya sekitar 710.2 km2 atau hanya sekitar 0,04% dari wilayah Indonesia. Indonesia memiliki pulau lebih dari 17.000 pulau, dan panjang garis pantai 93.000 km. Diperkirakan Indonesia memiliki 25% panjang pantai di dunia. Kalau sekarang Indonesia masih terpuruk sebagai  negara dunia ketiga, dan Singapura telah melesat menjadi negara maju, hal itu dikarenakan bangsa Indonesia telah salah dalam mengelola kekayaan tanah air Indonesia.

Indonesia juga memiliki biodiversitas yang tinggi. Indonesia memiliki beragam jenis hewan darat, burung, ikan dan tumbuhan. Luas wilayah Indonesia hanya sekitar 1,3% dari luas bumi, namun Indonesia memiliki 10% jenis tumbuhan yang ada di dunia, 12% jenis mamalia yang ada di dunia, 16% jenis reptil yang ada di dunia, 17%  jenis burung yang ada di dunia, dan 25%  jenis ikan yang ada di dunia. Beberapa lokasi terumbu karang di Indonesia dikenal sebagai terumbu karang terbaik di dunia. Indonesia juga kaya akan bahan tambang, seperti emas, minyak bumi, gas alam, batu bara, timah, tembaga, dsb. Beberapa wilayah di Indonesia dikenal memiliki tanah yang sangat subur. Indonesia juga memiliki banyak lokasi dengan keindahan alam yang luar biasa, tidak hanya Pulau Bali. Jadi, Indonesia sebenarnya sangat berpeluang untuk menjadi bangsa yang besar, makmur dan sejahtera. Oleh karena itu, bangsa Indonesia semestinya bangga menjadi bangsa Indonesia dan antar komponen bangsa perlu bersinergi untuk mengupayakan terjadinya transformasi, dari bangsa yang sedang terpuruk menjadi bangsa  yang maju.

Memang bangsa Indonesia sedang terpuruk. Masih banyak rakyat Indonesia yang miskin. Hutang pemerintah Indonesia kian menumpuk, bahkan telah menembus angka Rp. 2.000 triliun. Pada surat kabar Kompas tanggal 9 Juli 2013, Menteri Keuangan Chatrib Basri menjelaskan bahwa total hutang pemerintah hingga 31 Desember 2012 mencapai Rp. 2.156 triliun. Di sisi lain, menurut Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) Suryamin, produk domestik bruto (PDB) Indonesia berdasarkan harga berlaku sekitar  Rp. 8.242 triliun pada tahun 2012. Artinya rasio hutang pemerintah terhadap PDB nasional sekitar 26% pada tahun 2012, berarti posisi hutang pemerintah telah mencapai 26% dari output yang diproduksi di wilayah Indonesia, baik berupa barang maupun jasa, meskipun hutang tersebut sebagian besar merupakan hutang jangka panjang. Namun, sikap hanya semata-mata meratapi keterpurukan Indonesia bukanlah sikap yang bijaksana. Dalam I Tesalonika 5:16-18, Firman Tuhan telah dinyatakan demikian: ”Bersukacitalah senatiasa. Tetaplah Berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itu yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Bangsa Indonesia harus bangkit, umat Tuhan di negeri ini jangan hanya berdiam diri dan bersikap apatis. Umat kristiani di negeri ini juga jangan bersikap eksklusif. Namun, umat Tuhan semestinya bersinergi dengan berbagai komponen bangsa untuk mengupayakan transformasi Indonesia

Umat Kristiani dan Politik

Berbicara mengenai politik, banyak kalangan masyarakat yang memiliki pandangan bahwa politik itu kotor, atau politik itu tidak bermoral. Padahal, sebenarnya tidak semua pelaku politisi menghalalkan segala cara. Walau bagaimana pun, di negara yang modern diperlukan sistem politik untuk mengatur kehidupan bernegara.

Melalui sistem politik, diatur mengenai pembagian kekuasaan. Sistem politik merupakan alat negara untuk mewujudkan cita-cita pembentukan negara Indonesia, dan cita-cita pembentukan negara Indonesia telah tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Tanpa adanya sistem politik, maka penguasa dapat berlaku secara otoriter. Oleh karena itu, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem dan praktek politik tidak dapat dihilangkan.

Memang harus diakui bahwa pada saat ini para elit politik di tanah air banyak yang menunjukkan keteladanan yang buruk. Banyak elit politik di tanah air yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan, dibandingkan kepentingan bangsa dan negara. Praktek money politics  dan korupsi yang dilakukan para elit politik juga marak terjadi. Para politisi yang tidak bermoral tersebut tidak terlalu memperdulikan kondisi bangsa dan negara Indonesia yang sedang terpuruk dan porak-poranda. Bagi mereka, yang penting kekuasaan dan harta, bukan kemajuan dan keunggulan bangsa yang menjadi prioritas mereka dalam berpolitik. Kondisi demikian menjadi salah satu penyebab banyaknya masyarakat yang apatis terhadap politik. Namun, umat Tuhan sebaiknya tidak bersikap apatis. Umat Tuhan perlu memiliki sikap politik, yaitu sikap politik yang pro kemajuan bangsa. Dalam Pemilu, umat Tuhan semestinya memilih pemimpin yang memiliki integritas moral, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan menghargai keberagaman bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Dalam Matius 7:6, Firman Tuhan telah dinyatakan demikian: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu”. Oleh karena itu, Umat Tuhan perlu “melek” politik, agar tidak menjadi korban politik.

Bagi umat Tuhan yang terpanggil menjadi politisi, maka dalam menjalani aktivitas politik hendaknya dilandasi oleh prinsip-prinsip keimanan kristiani. Dengan kondisi politik nasional yang sedang carut-marut, maka justru diperlukan lebih banyak umat Tuhan yang terjun di dunia politik, agar dapat menjadi garam dan terang di dunia politik. Dalam Matius 5:13-16, Firman Tuhan telah dinyatakan demikian: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya dibawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”.

Dalam berpolitik, politisi kristiani hendaknya didasarkan pada nilai-nilai kristiani, jangan sebaliknya, justru serupa dengan para politisi yang menghalalkan segala cara. Ada 9 nilai moral (9 morale qualities) yang harus dipegang teguh para politisi kristiani, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri, seperti telah tertulis dalam Galatia 5: 22-23. Politisi kristiani harus memperjuangkan aspirasi rakyat. Politisi kristiani harus bisa menjadi teladan. Apabila nilai-nilai kristiani dipegang teguh dengan konsisten, maka jangka panjangnya para politisi kristiani akan lebih mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Selain itu, para politisi kristiani juga perlu bersinergi dengan para politisi yang memiliki integritas moral untuk memperjuangkan terjadinya transformasi politik, yaitu dari praktek politik  kotor yang marak terjadi di tanah air menjadi praktek politik yang bermartabat bagi kemajuan dan keunggulan bangsa Indonesia. Para politisi kristiani harus mengawal para pemimpin pemerintahan yang baik, agar program-programnya yang pro rakyat dan mensejahterakan rakyat dapat terimplementasi secara optimal. Sebaliknya, kepada para pemimpin pemerintahan yang korup dan hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan, maka politisi kristiani harus berani secara lantang tetapi santun untuk mengkritisi dan meluruskan kesalahan dari pemimpin pemerintahan tersebut. Dalam Lukas 17:3, Firman Tuhan telah dinyatakan demikian: ”Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia”.

Umat Kristiani dan Pemilu 2014

Memang Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan, dan berimbas kepada demoralisasi bangsa atau telah terjadi penurunan kualitas moral dari bangsa Indonesia. Nasionalisme yang meluntur, perilaku kekerasan yang marak terjadi, konflik fisik yang marak terjadi antar kelompok masyarakat, maupun pungutan liar yang terjadi dimana-mana merupakan bukti penurunan moralitas bangsa Indonesia. Kondisi demikian sebagian dikarenakan para pemimpin di tanah air banyak memberikan contoh perilaku yang buruk.

Budaya korupsi telah demikian mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Para elit pemerintah dan elit politik justru banyak yang secara kolektif melakukan praktek korupsi, dan bersenang-senang di atas keterpurukan dan kemiskinan rakyat di sekitarnya. Salah satu akibatnya, rakyat memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap elit politik dan elit pemerintahan. Sebagai gambaran, dalam sebuah survei internasional mengenai kepercayaan masyarakat terhadap politisi, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 144 negara, dimana Singapura berada pada peringkat 1, Brunei Darussalam peringkat 14, dan Malaysia peringkat 17. Sedangkan dalam survei persepsi masyarakat terhadap transparansi pemerintah dalam pengambilan kebijakan, Indonesia berada pada peringkat 82, dibawah Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 17), Brunei Darussalam (peringkat 75) dan Thailand (peringkat 89).  Oleh karena itu, krisis kepemimpinan ini harus diakhiri secepat mungkin.

Pemilu 2014 merupakan salah satu momentum yang dapat dipergunakan untuk mengupayakan proses transformasi bangsa. Oleh karena itu, sikap apatis terhadap Pemilu 2014 adalah keliru. Pemilu yang demokratis merupakan salah satu prinsip dasar dari demokrasi. Prof. Melvin I Urofsky, yaitu seorang profesor sejarah dan kebijakan publik dari Virginia Commonwealth University, mengatakan bahwa sebagus apapun sebuah pemerintahan dirancang, ia tidak bisa dianggap demokratis, kecuali para pejabat yang memimpin pemerintahan itu dipilih secara bebas oleh warga negara dalam cara yang terbuka dan jujur untuk semuanya. Bahkan Abraham Lincoln dalam salah satu pidatonya tahun 1863 mengatakan bahwa pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, tak akan pernah hilang dari muka bumi ini.

Dalam menghadapi Pemilu 2014, umat kristiani perlu melakukan doa syafaat. Umat kristiani perlu berdoa agar Pemilu 2014 berjalan dengan baik, tidak mengalami penyimpangan yang hanya menguntungkan beberapa oknum politisi dan partai yang menghalalkan segala cara. Umat Tuhan juga perlu berdoa agar keamanan nasional tetap terjaga, tidak terjadi bentrokan atau kekerasan fisik antar pendukung partai yang berbeda. Selain itu, umat Tuhan juga perlu berdoa meminta hikmat dan pengertian agar tidak salah dalam menyalurkan suara/aspirasi dan pihak yang menang/terpilih dalam Pemilu 2014 adalah pihak yang kredibel dan mampu membawa perkembangan positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam I Timotius 2:1-2, Firman Tuhan dinyatakan “…. naikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”.

Jadi, Pemilu merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sering kali umat Tuhan dan hamba Tuhan enggan membicarakan masalah politik, termasuk Pemilu. Oleh sebagian orang, politik dipersepsikan sebagai sesuatu yang “tabu” atau “kotor”. Namun, sebenarnya politik tidak “kotor”, meskipun seringkali memang dijumpai banyak politisi yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepentingannya. Oleh karena itu, yang “kotor” adalah oknum politisi yang melakukan praktek politik yang menghalalkan segala cara, namun jangan politik secara umum yang disalahkan, karena dalam kehidupan berbangsa dan bernegara politik tetap diperlukan. Dan umat Tuhan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat tidak dapat lepas dari pengaruh kebijakan politik. Oleh karena itu, umat Tuhan perlu punya sikap politik yang jelas dan tegas. Sikap politik umat Tuhan harus dilandasi Firman Tuhan sebagai pedoman hidup. Semoga Pemilu 2014 membawa banyak perubahan positif bagi kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, serta aspirasi umat Tuhan dapat lebih terakomodasi.

Transformasi Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil. Atas kehendak Tuhan dan upaya bersama yang sungguh-sungguh dari berbagai komponen bangsa Indonesia, maka transformasi Indonesia dapat terwujudkan. Dalam 2 Tawarikh 7:14, Firman Tuhan tertulis “Dan umatKu, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka”.

Sekian paparan singkat dari kami. Kiranya paparan ini bermanfaat dan dapat mempermuliakan nama Tuhan.

 

 

Artikel oleh: August 28, 2013   Kategori : Umum  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda