PAHLAWAN KESELAMATAN

Amos 7:10-17

Oleh Pdm. Rudy Suwardi, GSJA CWS Rajawali

trumpet

Banyak orang berhati mulia, memilih pekerjaan untuk menjaga keselamatan manusia. Salah satunya adalah penjaga mercusuar. Ironisnya, kehidupan mereka yang dapat disebut pahlawan itu, luput dari perhatian publik. Penyelamat jalur lalu lintas laut di kawasan pesisir itu harus hidup jauh dari keramaian.

Pada masa lalu, sebelum teknologi navigasi kapal laut berkembang pesat dengan bantuan GPS, mercusuar merupakan alat yang sangat penting di setiap garis pantai. Pada malam-malam yang gelap atau berkabut tebal, cahaya lampu mercusuar menandai daerah-daerah yang berbatu karang atau daerah laut yang dangkal. Selain dengan lampunya yang bersinar terang, mercusuar juga menjalankan fungsinya dengan alarm atau bunyi sirine yang memberikan peringatan kepada kapal-kapal yang lewat. Penjaga mercusuar bertugas untuk menjaga agar lampu maupun sirine selalu berfungsi dengan baik.

Kapal-kapal di laut sangat berterima kasih karena sirine tanda bahaya terus menerus membunyikan peringatan sepanjang malam. Cahaya lampu mercusuar juga tidak pernah berhenti menerangi jalan ke arah pantai yang aman.

Bayangkan, jika anda adalah penjaga mercusuar pada suatu malam yang gelap. Anda sedang bertugas menjaga agar sirene berbunyi dan lampu mercusuar menyala dengan baik. Ada seorang turis datang berkunjung dan berkata, “Bagaimana aku bisa tidur malam ini? Cahaya lampu mercusuar yang silau masuk melalui jendela kamar-ku. Dan sirinenya, astaga! Apakah memang harus begitu kencang? Apakah anda bisa mematikan suaranya sebentar sampai kami tidur pulas?”

Jika anda tidak membunyikan sirine untuk memberi peringatan kepada kapal-kal yang lewat, atau tidak menyalakan lampu mercusuar untuk menerangi jalannya kapal, apa yang akan terjadi dengan orang-orang di dalam kapal?  Hanya karena ada turis yang kadang-kadang protes, tidak berarti anda harus memadamkan lampu atau mematikan sirine mercusuar!

Anda pasti sudah tahu, Tuhan memanggil semua orang Kristen seperti Tuhan memanggil Amos, untuk menjadi saksi Kristus dan untuk memberitakan Injil, yaitu Kabar Baik tentang Yesus Kristus.  Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 mengatakan: (19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Seperti penjaga mercu suar, kita harus melaksanakan Amanat Agung dengan cara membunyikan  sirine tanda bahaya dan menjaga terang kita bercahaya di dunia ini.

Menjalankan tugas yang dinyatakan dalam Amanat Agung tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapi. Tetapi Tuhan telah memanggil kita untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada dunia. Karena itu jangan menyerah!

Pagi ini kita akan belajar dari Amos tentang hambatan-hambatan yang dihadapinya dalam menjalankan tugas menyampaikan pesan Tuhan, sekaligus bagaimana mengatasi hambatan-hambatan tersebut.

Dalam melaksanakan tugas mewartakan berita Injil, anda dan saya akan menghadapi tiga jenis hambatan.

1.       Seorang penginjil akan menghadapi oposisi pribadi

Amos 7:10: Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: “Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.”

Amos adalah orang Yehuda (Kerajaan di bagian selatan) yang melayani di Israel (utara). Pada masa Amos melayani, Israel dipimpin oleh Raja Yerobeam, sedangkan Yehuda dipimpin oleh  Raja Uzia.

Di bawah pemerintahan raja Yerobeam bin Yoas (783SM-743SM), Israel melebarkan daerah kekuasaannya dan memegang kendali atas rute-rute perdagangan utama di Timur Tengah. Kerajaan Israel pun menjadi sebuat pusat perdagangan/perniagaan. Ini adalah masa damai, namun rakyat Israel kembali melupakan perjanjian mereka dengan Allah. Orang-orang kaya mengambil keuntungan atas orang-orang miskin dalam menumpuk kekayaan mereka, dengan demikian kesenjangan antara si kaya dan si miskin menjadi semakin lebar saja. Pernak-pernik upacara keagamaan dilakukan, namun hanya lip service belaka.

Dalam situasi demikian muncul nabi Amos. Dengan tajam Amos menyerang praktek-praktek keagamaan pada masa itu yang superficial, cetek/tidak mendalam, yang mencoba menutup-nutupi kebejatan moral dan korupsi sosial yang menyebar luas dalam masyarakat. Amos dengan setia telah menyampaikan peringatan Tuhan kepada bangsa Israel. Pesan-pesan itu terdengar begitu tajam oleh bangsa Israel yang sedang menikmati kemakmuran.

Mereka punya uang. Mereka punya rasa aman. Mereka punya rasa nyaman. Mereka bahkan punya agama. Tetapi Tuhan mengirim Amos untuk memberitahukan kepada mereka bahwa semua yang mereka miliki tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari murka Tuhan yang akan datang. Tuhan akan menghakimi mereka karena hati mereka tidak benar. Berita itu begitu keras, apalagi bagi bangsa Israel yang sedang mengalami kejayaan. Karena itu pesan itu langsung ditolak.

Apa yang terjadi ketika orang menolak berita Injil? Pada umumnya orang tidak akan menyerang isi berita Injil secara langsung. Sebaliknya, mereka pertama-tama akan menyerang pembawa berita. Itulah yang terjadi dengan Amos. Bukan dengan serangan fisik, tetapi dengan tuduhan,  yaitu tuduhan terhadap motif pribadi.

Amazia, imam di Betel melaporkan kepada Raja Yerobeam bahwa Amos mengadakan konspirasi untuk melawan Raja. Konspirasi melawan Raja tentu saja merupakan kejahatan yang sangat besar. Melawan Raja adalah perbuatan yang akan mendapatkan hukuman mati. Apa dasar Amazia menuduh Amos? Tidak ada. Tetapi karena Amazia tidak dapat menyerang substansi dari berita yang disampaikan Amos, maka Amazia harus menyerang sesuatu. Karena itu Amazia menyerang pribadi Amos.

Kondisinya tidak berbeda dengan masa kini. Ketika anda dengan setia menyampaikan berita Injil, anda juga akan diserang secara pribadi seperti Amos. Mengapa? Karena orang-orang tidak dapat membantah kebenaran Injil. Tetapi mereka harus mencari cara untuk meloloskan diri dari pembicaraan. Pertama-tama mereka akan meloloskan diri dengan memperlihatkan perlawanan pribadi.

Mereka akan menyerang agama secara umum: “Agama hanyalah alat penopang bagi orang-orang yang lemah.”

Mereka akan menyerang gereja: “Gereja cuma menginginkan uangmu saja.”

Mereka menyerang pastor: “Pengkotbah itu membosankan. Ia hanya membuatku tertidur.”

Mereka menyerang jemaat: “Jemaat adalah orang-orang yang hipokrit, mereka sering bertengkar satu sama lain.”

Tetapi yang paling sulit dihadapi adalah ketika mereka menyerang pribadi anda, seperti yang dilakukan Amazia terhadap Amos.  Anda diusir: “Jangan ganggu aku.” Pintu dibanting. Anda diolok-olok, anda  kehilangan teman, anda dijauhi kerabat. Orang-orang menghindar dari anda. Itu adalah contoh-contoh oposisi yang menyerang pribadi yang akan anda hadapi selaku pemberita Injil yang setia.

Apakah anda dapat mengatasinya? Apakah anda akan tetap gigih menyampaikan berita Injil meskipun anda menghadapi oposisi pribadi? Sebelum anda menjawabnya, anda perlu tahu bahwa oposisi pribadi bukanlah satu-satunya hambatan yang perlu dihadapi. Hambatan berikutnya adalah fitnah.

2.       Seorang penginjil akan menghadapi fitnah pemutarbalikan kata.

Ayat 11: Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.”

Pada pasal-pasal sebelumnya Amos sudah seringkali berkotbah kepada orang-orang Israel.  Amos sudah memberi peringatan bahwa Israel sudah berbuat dosa terus menerus kepada Tuhan. Tuhan membenci dosa dan akan menghakimi mereka. Tetapi sebelum Tuhan melakukan penghakiman, Tuhan memberi kesempatan agar mereka bertobat.

Ketika pesan Tuhan disampaikan dengan cara demikian, anda dapat melihat anugerah Tuhan, bukan? Anda dapat melihat kemurahan Tuhan, bukan? Anda dapat melihat kebenaran dan keadilan Tuhan, kekudusan serta keprihatinan-Nya.  Anda juga dapat melihat kasih Tuhan. Itulah Injil. Standar Tuhan karena kekudusan-Nya.

Sebaliknya anda melihat pemberontakan manusia. Mereka gagal hidup menurut standar Tuhan. Tetapi Tuhan mengasihi manusia. Tuhan mau mengampuni dosa manusia dengan mencurahkan darah Anak-Nya yang Tunggal. Tuhan juga mau memberikan kebenaran-Nya dengan memberikan hidup baru di dalam Anak-Nya yang sudah bangkit.  Itulah kepenuhan Injil.  Kebenaran-Nya tidak dapat diperdebatkan.

Tetapi manusia tidak berdebat tentang kebenaran Injil. Apa yang mereka lakukan? Mereka melakukan apa yang dilakukan oleh Amazia. Mereka memfitnah dengan memutar-balikkan kata-kata. Mereka hanya mengutip sebagian, atau dengan sengaja salah mengutip. Mereka memelintir perkataan anda menjadi sesuatu yang mudah untuk ditolak.

Amazia melaporkan kepada Raja Yerobeam hanya sepenggal dari pesan Amos. Amazia hanya melaporkan sebagian pesan Amos kepada Yerobeam bahwa Yerobeam akan mati terbunuh, kerajaannya akan ditaklukkan dan bangsanya akan ditawan.

“Anda tahu bukan bahwa orang-orang Kristen pergi kesana-kemari untuk memberitahukan kepada orang-orang bahwa mereka akan masuk ke neraka.”  Itulah fitnah dengan pelintiran atau pemutar-balikan kata. Contoh tersebut memperlihatkan pelintiran terhadap berita Injil untuk menjadi sesuatu yang mudah ditolak.

Jika anda menyampaikan Injil kepada seseorang, dan mereka dengan sengaja memutarbalikkan perkataan anda, apakah anda dapat mengatasinya? Jangan memberikan jawaban. Masih ada satu hambatan yang harus dihadapi seorang pemberita Injil.

3.       Seorang penginjil akan menghadapi godaan bujuk rayu

Ayat 12-13: (12) Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana! (13) Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan.”

Banyak orang Kristen mencari-cari alasan dari Alkitab untuk tidak melakukan penginjilan. Tampaknya untuk setiap kesempatan yang diberikan Tuhan bagi kita untuk bersaksi, kita dapat menemukan sepuluh alasan untuk tidak melakukannya.

Ayat 12 dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari mengatakan: “Lalu Amazia berkata kepada Amos, “Hai nabi, pulanglah ke Yehuda! Berkhotbalah di sana. Biarlah mereka yang memberi nafkah kepadamu!”

Menurut ayat tersebut, Amazia berubah sikap. Amazia tiba-tiba menjadi orang baik. Ia bersikap seperti seorang kakak. Bayangkan, ia menghampiri Amos dan melingkarkan tangannya di bahu Amos. “Engkau tahu, Amos, aku mulai menyukai-mu. Engkau adalah seorang nabi, dan aku menghargaimu. Tetapi engkau tidak berasal dari daerah ini. Engkau tidak mengerti adat istiadat bangsa Israel. Mengapa engkau tidak pulang saja ke Yehuda. Engkau sudah mengerti adat istiadat mereka. Apakah engkau tidak rindu dengan makanan di kota asalmu? Orang-orang Yehuda juga menyukaimu. Mengapa engkau tidak berkotbah saja disana. Engkau masih tetap dapat melaksanakan kehendak Tuhan – tetapi di Yehuda. Lakukanlah disana, di tempat yang lebih nyaman untukmu.”

Apakah anda mengira Amos akan mengatakan “Ya”? Amos tidak sama seperti orang banyak. Dalam pasal 1 dikatakan bahwa Amos adalah seorang peternak domba dari Tekoa, sebuah kota kecil di Yehuda. Sekarang ia berada di Kerajaan utara, menyampaikan pesan Tuhan kepada para imam dan raja. Memang lebih mudah jika ia pulang saja ke selatan dan berkotbah kepada orang-orang di Tekoa. Setidaknya mereka lebih memahami siapa dia,  paling tidak mereka lebih menyukai dia.  Bayangkan, betapa menggodanya bujuk rayu  Amazia.

Godaan yang sama bisa terjadi pada diri kita. Barangkali anda mendengar saran, “Jangan menyampaikan Injil kepada para tuna rungu, anda sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Biarkan orang lain saja yang menjangkau mereka.”  “Jangan bersaksi kepada anak-anak jalanan. Jangan mengumpulkan mereka di rumahmu. Nanti rumahmu kotor.”  “Anda akan tetap dapat mewartakan Injil,  tapi hanya kepada orang-orang yang sama sepertimu. Kepada mereka yang berperilaku seperti anda. Kepada orang-orang yang mudah didekati.” Betapa menggoda, bukan?

Amos tahu, Tuhan tidak menghendaki dia berkotbah di Yehuda. Tuhan memberikan pesan untuk disampaikan di Israel. Karena itu ia tahu ia harus melakukannya di Israel. Jika anda tergoda oleh bujukan untuk mewartakan injil hanya kepada orang-orang yang mudah didekati, apakah anda dapat bertahan terhadap bujuk rayu itu? Apakah anda dapat memberitakan Injil sampai ke tempat-tempat yang sulit, jika anda tergoda oleh bujuk rayu untuk tetap tinggal di dalam zona nyaman anda?

Anda sudah melihat tiga hambatan yang akan dihadapi seorang pewarta Injil. Seorang penginjil akan menghadapi oposisi pribadi. Seorang penginjil akan menghadapi fitnah pemutarbalikan kata.  Seorang penginjil akan menghadapi bujuk rayu.

Selanjutnya mari kita belajar dari Amos bagaimana mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Ada dua tips dari Amos:

A.      Mengenali Sumber dari berita yang diwartakan

Ayat 14-16: (14) Jawab Amos kepada Amazia: “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. (15) Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel. 16) Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak.”

Ayat-ayat diatas dan ayat 1 dari pasal 1 memberitahukan kepada kita siapa Amos. Dalam pandangan dunia, ia bukanlah seseorang yang hebat. Tetapi yang lebih penting adalah dalam pandangan dirinya sendiri, ia bukanlah siapa-siapa.

Menurut pendapat saya, pada masa kini harga diri atau self-esteem terlalu di besar-besarkan. Banyak kursus-kursus oleh para pembicara yang menyebut diri mereka motivator memberi janji kepada pesertanya untuk dapat mengembangkan self-esteem atau rasa percaya diri. Apakah anda tahu bahwa Alkitab tidak pernah menyuruh kita untuk meninggikan diri sendiri? Mengapa?

Secara alamiah, kita adalah makhluk yang egois. Cobalah anda perhatikan anak-anak usia 2 tahun. Apakah mereka diajari untuk selalu berkata “ini punyaku” Apakah mereka diajari untuk melemparkan mainan-mainannya ketika keinginannya tidak dituruti? Tentu saja tidak. Kita dilahirkan egois – itu adalah akibat dari kejatuhan dunia ke dalam dosa.

Menghargai diri sendiri bukanlah masalah bagi manusia. Masalahnya bukan kita tidak mempunyai cukup self-esteem. Tetapi masalahnya adalah kita tidak mempunyai cukup God-esteem. Kita tidak cukup menghargai atau meninggikan Tuhan. Padahal Galatia 2:20 berkata “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Amos tidak mempunyai masalah dengan hal itu. Ia menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa tanpa Tuhan. Ia tidak dilahirkan sebagai seorang nabi. Ia hanyalah seorang gembala dan pemungut buah ara. Tetapi Tuhan memanggil dia keluar dari keadaannya.

Amos tidak dilahirkan sebagai seorang yang istimewa. Pekerjaannya juga tidak membuat Amos istimewa. Tetapi Tuhan membuatnya istimewa. Tuhan memanggilnya. Tuhan memberinya pesan. Tuhan mengirim dia. Hanya itu yang diperlukan Amos.

Amos paham bahwa sumber atau asal dari pesan bukanlah dari dirinya sendiri.  Sumber atau asal dari pesan itu adalah Tuhan. Dan Tuhan yang Maha Kuasa akan memperlengkapi dia. Tuhan akan menopang dia. Tuhan akan mencukupi kebutuhannya dan memberkatinya. Amos hanya perlu taat kepada-Nya. Dan Amos melakukannya.

Ketika ia taat kepada Tuhan, hal berikutnya yang ia lakukan adalah berupaya mengatasi hambatan-hambatan yang menghadang dia. Dengan penuh percaya diri ia mengenali Sumber dari pesan yang  diberitakannya dan selanjutnya:

B.      Mewartakan kekuatan berita dengan lantang

Ayat 17: Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.”

Berita yang disampaikan Amos tidak pernah berubah, bukan? Ia menyampaikan berita itu dengan menghadapi hambatan demi hambatan. Dan apa yang dilakukannya? Ia dengan setia menyampaikan pesan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia menyampaikan pesan dengan setia meskipun ia menghadapi oposisi pribadi. Ia menyampaikan pesan dengan setia meskipun ia menghadapi fitnah pelintiran kata. Ia menyampaikan pesan dengan setia meskipun ia menghadapi bujuk rayu.

Tuhan memberikan sebuah pesan kepadanya tentang kekudusan, tentang dosa, tentang kasih, tentang pertobatan, tentang anugerah dan tentang penebusan. Tuhan memberikan pesan itu kepadanya dan Amos dengan setia menyampaikannya kepada bangsa Israel.

Bagaimana dengan anda? Pesan apa yang diberikan Tuhan kepada anda untuk diberitakan? Tentu saja Tuhan memberikan pesan yang sama dengan yang diberikan Tuhan kepada Amos. Bedanya, pesan-pesan yang diberikan Tuhan kepada anda untuk diberitakan sudah dilengkapi.

Anda lebih beruntung dari Amos karena keseluruhan kisah keselamatan – yaitu pengorbanan Yesus Krristus di atas kayu salib di Kalvari telah selesai. Pesan keselamatan tidak hanya disediakan untuk bangsa Israel, tetapi pesan keselamatan disediakan untuk seluruh dunia. Kepada Yerusalem, kepada Yehuda, kepada Samaria, dan kepada segenap bangsa-bangsa di bumi ini.

Apa yang anda lakukan dengan berita itu? Apakah anda menahan berita keselamatan karena takut seseorang akan membuat tuduhan yang menyerang pribadi anda? Apakah anda menahan berita keselamatan karena anda takut seseorang akan memfitnah dengan memelintir perkataan anda?  Apakah anda menahan berita keselamatan karena anda kalah terhadap bujuk rayu yang menipu anda untuk tetap tinggal di zona nyaman?

Jika karena alasan apapun juga, anda menahan berita Injil keselamatan yang telah diberikan Tuhan kepada anda, atau anda tidak mewartakannya sesuai dengan panggilan-Nya kepada anda, maka anda tidak taat kepada Tuhan. Anda sudah melanggar Amanat Agung. Anda sudah berdosa kepada Tuhan.

PENUTUP

Mari datang bersama-sama ke hadirat Tuhan.

Pagi ini Tuhan memberi kesempatan kepada anda untuk berubah. Pagi ini anda dapat datang kepada Tuhan untuk bertobat.

Di antara anda ada yang perlu bertobat karena sudah menahan berita Injil karena merasa takut terhadap serangan para oposisi terhadap pribadi anda.

Ada yang perlu bertobat karena sudah menahan berita Injil karena takut difitnah

Ada yang perlu bertobat karena sudah tergoda oleh bujuk rayu untuk tetap berada di zona nyaman

Ada juga yang perlu bertobat karena sudah tidak percaya atau meragukan Tuhan  sebagai sumber atau asal berita Injil.

Ada yang perlu bertobat karena tidak berani menyerukan dengan lantang kekuatan dari Injil.

Pagi ini anda dapat memperbaharui komitmen bahwa untuk akan menjalankan Amanat Agung. Anda akan menjadi saksi-Nya seperti lampu mercusuar dan berani mewartakan Injil dengan lantang seperti sirine mercusuar.

Mari berdoa.

 

(Kotbah di GSJA CWS Rajawali tanggal 11 Agustus 2013, oleh Rudy Suwardi)

Artikel oleh: August 22, 2013   Kategori : Umum  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda