Sumber yang Tidak Pernah Kering

air

Oleh : Yusuf Eko Widiarto*

Pentingnya Air Bagi Manusia

Dua per tiga bumi kita berwujud air. Ya, air telah menguasai bumi kita dengan kuantitas volume tinggi yang tersebar di berbagai tempat. Air juga telah menyandera kehidupan seluruh makhluk di bumi. Seakan Tuhan telah menciptakan makhluk dengan sebelumnya memberikan persyaratan untuk menandatangi kontrak kesepakatan antara manusia dan air. Manusia sebagai “makhluk penguasa” bersama-sama dengan makhluk lainnya membutuhkan air; sementara air ingin dijaga kelestariannya oleh manusia. Walau hanya berandai-andai, semestinya seperti itu. Sewajarnya seperti itu. Namun kenyataannya, seperti itukah?

Dalam kehidupan manusia sendiri, tanpa makanan, manusia dapat bertahan hingga 8 hari, sementara tanpa air, manusia hanya dapat bertahan hidup hingga 3-5 hari saja. Keseharian manusia pun tidak dapat dipisahkan dari air. Di kawasan Asia, khususnya Indonesia, air berfungsi untuk mandi, memasak, minum, mencuci baju, olahraga, pembangkit tenaga listrik, bahkan media transportasi.

Tak ada yang dapat memungkiri kenya­ta­an bahwa air merupakan komoditas yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Bayangkan, dunia tanpa air tentu tidak akan ada peradaban dan kemajuan yang dirai­h manusia saat ini. Yang ada hanya kemati­an. Manusia memang tak bisa lepas dari air. Bahkan, air itu sendiri merupakan bagian terbesar dalam tubuh manusia. Sebuah data mengatakan bahwa manusia dapat bertahan hidup satu bulan tanpa makanan, namun hanya seminggu tanpa air! Agar sehat, manusia butuh minum 2 liter air sehari. Rata-rata manusia minum se­bany­ak 75.000 liter air sepanjang hidupnya. Itu baru berbicara soal ‘minum’, belum yang lain-lain. Berapa jumlah air yang diperlu­kan untuk kehidupan? Bagaimana dengan kebutuhan total seluruh umat manusia di bumi ini?

Kebutuhan air yang sangat besar me­munculkan banyak persoalan. Kekurangan air di berbagai daerah di seluruh dunia adalah hal yang paling utama. Ya, dengan jumlah penduduk mencapai 7 miliar jiwa per tahun 2011 ini, air menjadi semakin su­lit. Mengutip pernyataan Chris Johns dalam Editorial National Geographic Indonesia edisi April 2010, hingga tahun 2025, seba­nyak 1,8 miliar orang akan hi­dup di daerah yang langka air. Dalam edisi ten­tang air “Dunia yang Dahaga” itu, di­ulas pula perjuangan masyarakat di daerah Timur Tengah dan negara-negara Afrika un­tu­k mendapatkan air bersih yang semakin sulit dan – saya memandangnya – sangat menyengsarakan. Meskipun sebagian besar dari bumi ini disusun oleh air, hanya sebagian kecil yang dapat dinikmati karena manusia tidak dapat minum dan menggunakan air asin (air laut). Sementara itu, walaupun dikatakan bahwa jumlah air di bumi selalu tetap dari awal pembentukan sampai saat ini, jumlah demand bertambah, dan proses mengembalikan air ke dalam bentuk siap pakai juga sangat panjang.

 

Banyak Sumur Sudah Kering Tidak Ada Air Lagi

Menurut http://green.kompasiana.com pada Rabu, 14 September 2011 bahwa sekarang ini telah terjadi krisis air, dimana-mana terjadi kekeringan atau kekurangan air bahkan sumur-sumur pun sudha kering tidak ada airnya.

Pada Minggu, 11 September 2011 salah satu harian online, ‘Republika Online’ berlamat http://republika.co.id juga menegaskan bahwa banyak sumur sudah kering di beberapa daerah di Indonesia dan daerah yang kekurangan air semakin meluas seperti di Bengkulu, Madura, Temanggung dan Tegal, Jawa Tengah.

Sejak memasuki musim kemarau, ungkap Subroto, hanya beberapa sumur warga yang masih mengeluarkan air. Namun, debitnya sedikit dan tak layak pakai karena berbau dan berwarna kecokelatan seperti air teh. Air itu jika dipakai untuk mencuci pakaian menyebabkan warna kain semakin kusam.

Bila digunakan untuk mandi, air itu kerap menimbulkan gatal pada kulit. "Namun, warga, yang tidak mampu membeli air bersih untuk keperluan mencuci dan mandi, terpaksa tetap menggunakan air sumur yang kotor tersebut," katanya. Ia menyebutkan, hampir setiap pagi dan sore ratusan warga antre di 60 rumah warga yang memiliki sumur artesis di wilayah Kalinyamat Kulon untuk membeli air bersih.
Salah satu warga Kalinyamat Kulon, Cayem (65), mengaku hampir setiap hari membeli air paling sedikit lima jeriken berisi masing-masing 20 liter dengan harga Rp 1.000 per jeriken, untuk digunakan lima anggota keluarga. "Pokoknya setiap hari harus menyediakan uang antara Rp 5.000-Rp10 ribu, khusus untuk membeli air di rumah warga yang memiliki sumur artesis," katanya.
Warga Karang Tengah, Tlogopucang, Waliyati (37), di Temanggung, kemarin, mengungkap harapannya akan bantuan air bersih. Sumurnya yang sedalam 25 meter sejak 1,5 bulan lalu tak lagi mengeluarkan air. Selama Ramadhan, sejumlah daerah yang kekeringan telah mendapat bantuan air bersih dari Pemkab Temanggung, namun pasca-Lebaran bantuan dihentikan.
Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Masyarakat (Linmas) Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Temanggung, Eko Suprapto, membenarkan telah menghentikan bantuan air bersih ke daerah yang kekeringan karena anggaran untuk 150 tangki, telah habis sehari sebelum Lebaran.

Ia mengatakan, saat ini tengah mengajukan penambahan anggaran penyaluran bantuan air bersih kepada bupati sebanyak 200 tangki untuk mencukupi kebutuhan September-Oktober 2011. Menurut dia, kekeringan yang melanda wilayah Temanggung terus meluas. Sebelum Lebaran, daerah yang mengalami kekeringan sebanyak 29 dusun di 12 desa dalam empat kecamatan. Saat ini daerah kekeringan meluas menjadi 36 dusun di 13 desa.

Dari Bengkulu, terbetik kabar kekeringan di tiga kecamatan di Kabupaten Kaur. "Tiga kecamatan itu adalah Kecamatan Maje, Tanjung Kemuning, dan Kaur Utara. Warga saat ini mengonsumsi air setengah asin. Dan, dikhawatirkan kesehatan masyarakat itu terganggu," kata Yulian, warga Tanjung Kemuning, kemarin.
Kepala Desa Linau Sirajudin mengakui ada sejumlah desa di Kecamatan Maje yang kekurangan air bersih. Sumur bor yang ada di dua desa tak mampu melayani kebutuhan warga. "Hanya beberapa ratus meter terdapat perbukitan yang tidak mungkin ada mata airnya. Bila mau mencari air bersih, mereka menggunakan kendaraan ke salah satu sungai, sekitar tiga kilometer dari desa tersebut," katanya.

Sebagian warga di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, malah harus membeli air ke daerah lain yang berjarak sekitar 15 km. "Air yang dibeli itu hanya untuk memasak dan minum. Sedangkan untuk kebutuhan mencuci dan mandi, kami memanfaatkan air yang ada di bendungan. Namun, kondisi airnya mulai keruh karena sudah lama," ungkap Mohammad Sahlan, seorang warga.

Salah satu dampak negatif kekeringan air yang terjadi dalam waktu panjang dalam liputan Redaksi Sore Trans7 pada Rabu, 14 September 2011 disebutkan di salah stau daerah di Indonesia karena sulitnya air maka masyarakat memanfaatkan air comberan untuk keperluan mandi bahkan untuk minum dan memasak. Menyedihkan sekali bukan? Jelas-jelas bahwa air comberan ini bukanlah air sehat dan bersih, sebaliknya air yang kotor yang didalamnya terdapat berbagai bakteri dan mikroba yang bisa mendatangkan banyak sakit-penyakit.

 

Berhematlah Memakai Air Bersih Yang Ada

Mungkin bagi sebagian kita yang masih bisa menikmati air bersih dan sehat yang berasal dari sumur keluarga, air PDAM, dan sarana lainnya dengan jumlah simpanan yang cukup, sangat penting untuk belajar berhemat dalam pemakaiannya. Perhatikan beberapa kran yang sudah rusak agar segera diperbaiki, jangan dibiarkan mengeluarkan air terbuang percuma tanpa dipakai.

Sisi lainnya, pemakaian air seperti PDAM khan berhubungan dengan keuangan juga. Jika banyak pemakaiannya pastilah besar pembayarannya.

 

Jagalah Kebersihan Air Kita

Sikap yang benar yang harus dilakukan agar hidup kita sehat adalah dengan tetap menjaga kebersihan air kita di dalam keluarga. Perhatikanlah lingkungan rumah kita, bersihkan dari sampah atau kotoran lainnya. Sebab air yang bersih dan sehat menjadi penopang utama dalam kesehatan tubuh kita.

Waktunya sekarang kita memiliki gaya hidup ‘bersahabat dengan alam’ dengan membuang sampah pada tempat pembuangan sampah dan praktek hidup praktis sehari-hari mencerminkan kebersihan dan kesehatan keluarga dan lingkungan kita.

 

Yesus, Sang Sumber Mata Air Hidup Kita

Melalui Injil Yohanes  4:4-15.19b-26,39a,40-42 Minggu  ini  sabda Yesus tentang mata air yang memancar sampai ke hidup kekal memberikan pencerahan kepada kita sekiranya kita juga bergantung kepada-Nya. Dialog Yesus  dengan perempuan Samaria menunjukkan bahwa Yesus adalah sumber mata air abadi itu. Yesus pula merupakan sumber mata air hidup. Walau banyak orang tahu bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sunguh manusia, namun terkadang iman kepercayaan kita sering goyah. Kegoyahan iman kita itu sebenarnya berasal dari diri kita sendiri, sedangkan faktor lain hanya sedikit saja. Banyak orang beriman tidak mau atau malas mepertajam keimanannya, sehingga ketika angin puting beliuang melanda mereka, mereka akhirnya goyah.

Juga disebutkan judul perikop Yohanes 7:37-44 adalah “Air Sumber Hidup” sebagai penegasan bahwaYesuslah Sumber Air Hidup tersebut.

Firman Tuhan ini berawal ketika Yesus pergi ke Yerusalem untuk mengikuti Hari Raya Pondok Daun. Ada sebuah kebiasaan yang dilakukan para Imam pada saat pesta tersebut berlangsung, yaitu mereka menimba air dari Sumur Siloam lalu dipercik kepada umat. Akhirnya mereka punya pemahaman bahwa ketika mereka menerima percikan air itu dari Imam, maka mereka diberkati dan tidak haus lagi untuk selama-lamnya. Ajaran inilah yang ditentang Tuhan Yesus ketika Dia sedang mengikuti pesta tersebut. Di ayat 37, Yesus berdiri dan berseru dengan mengawali sebuah kalimat: “Barang siapa haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Untuk memperoleh air hidup ini, seseorang harus "meminumnya". Tindakan minum ini bukanlah suatu tindakan sesaat yang satu kali saja, namun suatu tindakan minum yang bertahap-tahap dan berkali-kali. Kata "minum" ditulis dalam bahasa Yunani ‘pinetô’, dalam betuk imperatif masa kini yang berarti suatu tindakan yang berkesinambungan atau berulang-ulang yang menyatakan bahwa : Meminum air hidup, menuntut persekutuan terus-menerus dengan sumbernya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Tidak seorang pun bisa meminum air hidup apabila hubungannya terputus dengan sumber ituTentu timbul pertanyaan dalam hati kita, mengapa Yesus tidak menawarkan barang siapa yang lapar? Kenapa mesti haus? Bukankah lapar dan haus sama-sama membutuhkan makanan dan minuman? Tetapi kalau kita memahami perkataan Yesus ini, secara ilmu biologis bahwa di dalam tubuh manusia terdiri dari 75 -90% adalah air, dan inilah kebutuhan manusia yang paling urgen. Apabila manusia mengalami kekurangan cairan di dalam tubuhnya, maka manusia itu sering mengalami gangguan kesehatan. Demikian juga halnya dengan makhluk hidup lainnya, seperti tumbuh-tumbuhan , apabila kekurangan air maka tumbuhan itu akan layu dan menjadi kering, bahkan bisa mati.

Demikianlah Yesus berkata haus berarti membutuhkan air sebagai sumber kekuatan. Di sini Yesus langsung menyebut diri-Nya sebagai air kehidupan mengapa? Karena air yang dinikmati manusia sekarang, termasuk air percikkan dari para Imam kepada orang-orang Yahudi pada saat itu adalah air yang tidak memberikan kepuasan, yang suatu saat berhenti , tidak memberikan damai sejahtera, tidak memberikan pertumbuhan yang benar, bahkan selalu haus, haus, dan haus…..

Tetapi Yesus adalah sumber air yang paling utama di dalam kehidupan orang percaya, yang selalu mengalirkan Roh Kudus senantiasa. Ia mampu memberikan kekuatan dan memulihkan, mampu memberikan pertumbuhan yang benar dan memberikan damai sejahtera setiap saat.

Realita kehidupan manusia pada saat ini selalu haus dan kurang puas, bukan hanya masalah makanan dan minuman tetapi haus juga akan harta kekayaan, jabatan dan kedudukan. Misalnya Raja Herodes yang haus akan kekuasaan, Salomo haus akan wanita (isteri) dan Raja Ahab haus akan harta tetapi tetap saja mereka tidak pernah puas. Ketika kita haus secara kedagingan maka kita tidak pernah puas, tetapi kalau kita datang kepada Yesus sebagai sumber air hidup yang kekal, maka kita tidak akan haus lagi, seperti yang dikatakan dalam Yohanes 4 : 14 :”Tetapi barang siapa minum air yang akan Kuberikan kepadaNya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya”.

Renungkanlah: “Sudahkah kita memiliki sumber air kehidupan yang kekal yaitu Yesus Kristus, yang mampu memberikan kekuatan bagi kehidupan kita?” Ingatlah bahwa “Sumber Air Kehidupan Yang Kekal” itu tidak pernah kering! Tuhan memberkati Saudara.

*) Yusuf Eko Widiarto adalah Gembala sidang GSJA CitraRaya, Tangerang, Banten dan Sekretaris BPD GSJA Banten Periode 2010-2013.

Artikel oleh: September 19, 2011   Kategori : Artikel  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda