Bersama dengan Si Manusia Sorgawi – Brother Yun

Saya ingin berbagi kisah saat Brother Yun di tengah-tengah kami …

“Walaupun anda telah membaca buku tentang saya …. saya hanyalah manusia biasa. Saya juga bisa lemah dan putus asa. Tetapi Tuhan selalu menyelamatkan saya untuk ‘bangkit dan berjalanlah’ kata Tuhan secara langsung di telinga saya,” kata Yun.

Bersama sebagian jemaat yang hadir yang telah lama merindukan kebersamaan Yun di tengah kami

Yun bersama istri saya dan Putri kami.

Ia tertahan beberapa saat karena banyaknya jemaat yang ingin berpotret bersamanya.

Saya telah meminta staff  saya untuk membawa Yun menunggu saya di kantor saya sebelum kami menyelesaikan kebaktian pertama kami jam 6 pagi. Sebab Yun akan berbicara di kebaktian kedua kami pk. 8 pagi. Ketika saya saya berjumpa dengannya di luar kantor saya, ia menyambut dengan pelukan hangat, kami bertemu pertama kali. Jemaat yang kami layani telah membaca buku Manusia Sorgawi lebih dari 2 tahun yang lalu. Saya pernah mengutarakan kepada jemaat kami betapa menyenangkannya jika Yun bisa ada di tengah-tengah kami – kami meminta jemaat untuk membaca buku Manusia Sorgawi yang  kami bagikan gratis karena bantuan jemaat sebanyak 700 buah. Saya teringat waktu dimana saya membaca buku Yun, dibalik mobil di rumah kami, saya menangis karena merasa tidak layak, jika membandingkan diri saya dengan Yun. Ia mengalami ribuan kali penderitaan dari yang saya pernah hadapi. Tetapi ia teguh melewatinya. Kisah yang sama dari ratusan pembaca lainnya di jemaat kami, membaca sambil berurai air mata karena kisah iman dan perjuangan cinta seorang anak Tuhan di daratan Tiongkok.

Kami berdoa hari Sabtu malam mempersiapkan hati untuk kedatangan Yun, yang bagi saya pribadi sangat istimewa. Dan waktu keesokan harinya kami mulai dengan kebaktian pertama, bukan Yun yang bicara di kebaktian pk. 6 pagi, saya sudah tidak tahan dengan perasaan saya sendiri, saya kembali dihinggapi perasaan haru yang dalam. Sementara memuji Tuhan saya sudah menangis di kebaktian pk. 6 itu. Jadi saya merasa bahwa segala persiapan saya tidak sia-sia. Allah sedang melawat kami.

Jadi ketika ia memeluk saya, padahal kami baru pertama kali bertemu, saya harus menahan rasa haru sampai saya membawanya masuk kembali ke kantor saya, diiringi oleh istrinya, penerjemahnya yang berasal dari GKBJ dan seorang misionaris Finlandia yang telah 20 tahun di China fasih bahasa Mandarin.

Di kantor itulah saya menceritakan pada Yun betapa kami menunggu saat ini, dan saya pribadi telah menantikan saat ini, saya tidak kuasa menahan perasaan saya ketika kami berdua menangis bersama dan berlutut, Yun berkata dalam bahasa Inggris sederhana yang berarti “Doakan saya!”, saya segera menjawabnya, sambil berurai air mata, “Tidak! Andalah yang harus mendoakan saya!” Saya tarik tangan kanannya ke atas kepala saya sementara kami berdua berlutut dan menangis, ia memeluk saya erat ke dadanya dekat dengan Alkitabnya lalu ia mulai mendoakan saya.

Saya hanya mendengar di telinga saya suara tangisan saya sendiri dan suara mereka yang berdoa di ruangan kantor saya saat itu, semua dikuasai oleh Roh Kudus dalam ruangan kantor saya. Sekitar 10 menit ia mendoakan saya, kemudian saya rasa juga Tuhan memulihkan hati dan kekuatan saya. Saya telah mendapatkan apa yang saya cari, yaitu didoakan oleh seorang yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Saya memohon kepada Allah agar hati saya selalu dibaharuiNya sehingga makin mencintai Tuhan dan menaatiNya.

Jadi saya telah meminta kepada Yun agar kotbah tidak usah panjang karena kami telah membaca bukunya, saya hanya ingin agar selesai ia menyampaikan renungan, ia akan mendoakan staff dan para pemimpin gereja serta jemaat pagi itu yang penuh sesak dalam ruangan, sekitar 380 orang yang berkumpul bersama anak-anak pra remaja yang duduk di lantai mendengarkan Yun. Sejak ia menerima kabar bahwa gereja kami di pagi hari meminta agar ia mendoakan kami, ia berkata melalui penerjemahnya, “Saya penasaran, ingin lihat gereja itu, mengapa mereka meminta yang berbeda dari yang diminta gereja-gereja lain!”. Saya mengerti, bahwa yang lebih dari apa yang bisa dikatakannya, saya menginginkan impartasi iman dan hidupnya kepada jemat yang kami layani. Itulah yang terpenting.

Kami merasakan hadirat Tuhan yang luar biasa melalui doa-doanya, saya mengatakan bahwa saya hanya meminta Yun mendoakan satu hal saja, yaitu agar kami semua benar-benar mencintai Tuhan dan menaati-Nya. Hanya itu, bukan doa kesembuhan, bukan permintaan lain. Saya bersyukur bahwa Yun kemudian mendoakan sebagian kami karena saya harus membatasi waktu mengingat hal itu akan melelahkan Yun. Yun harus berkotbah di beberapa gereja lainnya hari Minggu itu.

Ia yang telah banyak melalui penderitaan di daratan Tiongkok kini pergi menginjil dan mengingatkan dunia bahwa kita harus menginjil dan membawa orang kepada Yesus. Sore itu kami masih mengadakan kebaktian dengannya. Saya sangat bahagia berjumpa dengannya, ia dan istrinya sederhana, tetapi roh di dalam dirinya sangat kaya dan mengagumkan.

Tuhan memberkati!

Artikel oleh: April 18, 2010  Tags:   Kategori : Artikel  Sebarkan 

7 Komentar

  1. pitriani lie - April 19, 2010

    Waaaaah… Pak Budi. Sy baru baca kisah Brother Yun ada disana aja udah terharu,sy bisa merasakan suasana surgawi hadir diantara umat Tuhan disana. bgm kalau sy hadir di kebaktian di gereja Bapak wkt itu…ya?

  2. pitriani lie - April 19, 2010

    Dari sini aja udah terasa luar biasa. Puji Tuhan! Kiranya jemaat disana jadi berkat lewat ketaatan pada Firman-Nya. Amin.

  3. Meryana Sianturi - April 25, 2010

    Pak Budi,saya sangat senang bisa melihat Profil bpk Yun.Memang udh lama sy tahu tentang buku bpk Yun,Sy yakin berkatnya sangat LUARBIASA bisa ketemu langsung dgn bpk Yun ,kiranya banyak hamba -hamba Tuhan terinspirasi oleh kesaksian bpk Yun, GBU

  4. Elia P. Ambarita - April 27, 2010

    Ketika saya membaca kesaksian Pak Budi ini saja sudah membuat saya terharu dan menahan ai mata, apalagi mungkin kalau membaca bukunya Bapak Yun. Saya ingin sekali membeli bukunya, sayangnya di Padang belum ada. Terimakasih ya Pak Budi buat keaksiannya. Tuhan memberkati.

  5. Hendra Mulyana - June 19, 2010

    Wah… asyik juga deh kalo kebagian buku-buku gratis gitu yang bisa membangun kerohanian, cuma sayangnya suka ada hamba-hamba Tuhan yg justru mengomentari sinis pembagian buku dan pensponsoran pembukaan gereja-gereja baru yang dilakukan oleh gereja lokal lain (mungkin karena semangat persaingan yang kuat sehingga memandang negatif hal yang positif). Benar-benar Hamba Tuhan dengan hati, sangat kontras dengan adanya hamba Tuhan yang membanggakan bahwa sebagai laki-laki ia tidak pernah menangis. God bless us!

  6. Udin Timothy Sinaga - July 22, 2010

    Luar biasa ya Pak Budi Brother Yun, kapan bisa datang ke Medan ya, dan bagaimana cara menghadirkannya?

  7. lestari tabitha - October 22, 2012

    sebelumnya saya adalah seorang muslim. semua keluarga saya adalah muslim. tetapi 4 tahun yg lalu Tuhan Jesus sdh membuka mata hati saya untuk percaya kepadaNya. di awal saya memulai belajar untuk mengenal Tuhan Jesus pendeta saya meminjamkan buku kepada saya Manusia Surgawi. dan dlm tempo satu hari buku itu sudah saya baca smua dan membuat saya menagis terharu. dan sampai sekarangpun saya masih ingat cerita buku manusia surgawi. sudah beberapa toko buku besar di Surabaya, malang dan jember saya mencari buku manusia surgawi tdk pernah saya dapatkan. sangat susah sekali mendapatkan buku itu, karena saya ingin membacanya lagi.

Tulis Komentar Anda