Pokok-Pokok Penting Dalam Pergaulan di PGI

b-2

Dalam pergaulan saya dengan berbagai kalangan teman-teman di PGI, saya temukan beberapa hal penting yang sebaiknya kita ketahui dulu sebelum kita benar-benar melebur diri kita dalam kegiatan dan pergaulan sesama anggota PGI. Semoga Ketua-Ketua Daerah dan Wilayah dapat memanfaatkan artikel ini untuk memetakan tipe pergaulan yang dibutuhkan ketika bersinggungan dengan PGI di mana saja.

Ingatlah bahwa PGI didirikan pada tanggal 25 Mei 1950 dengan tujuan tertentu oleh 21 Sinode di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dengan  “Manifes Pembentoekan DGI” sebagai berikut:

“Kami anggota-anggota Konferensi Pembentoekan Dewan Geredja-geredja di Indonesia, mengoemoemkan dengan ini, bahwa sekarang Dewan Geredja-geredja di Indonesia telah diperdirikan, sebagai tempat permoesjawaratan dan oesaha bersama dari Geredja-geredja di Indonesia, seperti termaktoeb dalam Anggaran Dasar Dewan Geredja-geredja di Indonesia, jang soedah ditetapkan oleh Sidang pada 25 Mei 1950.
Kami pertjaja, bahwa Dewan Geredja-Geredja di Indonesia adalah karoenia Allah bagi kami di Indonesia sebagai soeatoe tanda keesaan Kristen jang benar menoedjoe pada pembentoekan satoe Geredja di Indonesia menoeroet amanat Jesoes Kristoes, Toehan dan Kepala Geredja, kepada oematNja, oentoek kemoeliaan nama Toehan dalam doenia ini.”

Pada Sidang Raya ke X di Ambon tahun 1984, nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) diubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Ada beberapa saran yang bisa kami berikan sebelum para Pelayan Injil masuk lebih dalam ke dalam pergaulan bersama-sama dengan teman-teman dari berbagai gereja yang tergabung dalam Persektuan Gereja-Gereja di Indonesia:

  1. Mengerti tujuan terbentuknya PGI. Sesuai dengan tujuan PGI (dulu DGI) didirikan yaitu untuk pembentukan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia (GKYE) sebagai visinya. Dengan simbol perahu yang membawa salib yang dilingkari oleh tulisan oikoumene. Ia adalah organisasi gerejawi di aras nasional yang terus-menerus mengupayakan terwujudnya persatuan, kesatuan dan keesaan di kalangan umat Kristen di Indonesia.  Weinata Sairin berkata, “PGI juga tidak boleh terbelenggu oleh sikap introvert dan eksklusif sehingga menutup mata terhadap lingkungan eksternalnya. Berdasar visi teologisnya yang kukuh, PGI bersama gereja-gereja harus dengan sigap dan tanggap mengungkapkan suara kenabiannya di tengah-tengah kehidupan umat sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Inilah agenda eksternal PGI yang perlu dijalankan di masa-masa mendatang dengan arif dan tanpa takut.”
  2. Membiasakan diri dengan berbagai bahasa oikoumenis dalam percakapan dengan anggota-anggota PGI. Dalam lingkungan PGI berbagai istilah yang bersentral pada ke-oikoumenikal-an PGI sangat dijunjung tinggi. Menanggalkan bahasa denominasi sendiri dan segala topik percakapan yang biasa kita percakapkan dengan sesama anggota di denominasi yang sama. Kenali jenis-jenis pemerintahan gereja yang dapat anda ketahui dari buku-buku. Di dalam PGI lebih banyak dipercakapkan suatu usaha bersama, aksi jejaring dan dasar teologis tindakan yang sangat penting bagi suatu tindakan. Jadi biasakan diri anda untuk mengenal pemikiran-pemikiran yang berkembang melalui berbagai tulisan yang dikeluarkan oleh PGI sendiri – misalnya majalah oikoumene PGI, Dokumen Keesaan Gereja (DKG), Pokok-Pokok Tugas Pangilan Bersama (PTPB). Hindari sikap “kita paling benar” karena sikap tersebut adalah halangan terbesar dalam pergaulan sesama anggota PGI.
  3. Mengembangkan cakrawala pengetahuan dan berpikir kita untuk merambah ranah yang selama ini kita tabukan, misalnya gerakan kemasyarakatan, arah politik dan pembangunan, hak asasi manusia, hukum dan isu-isu sosial lainnya termasuk lingkungan hidup. Banyak kali percakapan dengan bobot filosofis, ilmiah dan teologis menjadi obrolan biasa di kalangan anggota-anggota PGI. Mulailah rajin membaca kajian-kajian teologis sekalipun mulanya sulit untuk memahami karena tidak biasa. Koran-koran yang menyajikan pandangan-pandangan dari berbagai agama sangat penting untuk dicermati.
  4. Mengembangkan diri dalam cara berorganisasi, mengenali peraturan dan etika pergaulan. Sangat penting bagi teman-teman yang ingin lebih dekat dengan anggota-anggota lain PGI untuk belajar kembali berorganisasi: pelajari Tata Dasar dan Tata Rumah Tangga PGI, garis kewenangan PGI, kenali tata cara berorganisasi, dsb. Saran saya, lebih banyak mendengar dulu sebelum anda
  5. Meluangkan waktu untuk bersama-sama mereka. Tidak ada cara lain untuk membiasakan diri di tengah mereka kecuali anda membuka diri, berbicara dan mengemukakan pendapat anda. Obrolan di kalangan PGI ditandai dengan keberanian mengemukakan pendapat anda sendiri. Mungkin mulanya anda canggung karena tidak biasa, atau mungkin pandangan anda kurang didengarkan, bertahan saja, karena biasanya butuh waktu sebelum kalimat-kalimat anda didengarkan.

Demikianlah 5 tips untuk mulai benari-benar masuk dalam pergaulan sesama anggota PGI dengan martabat yang baik sebagai Pelayan Injil GSJA.

Artikel oleh: November 25, 2009  Tags:   Kategori : Artikel  Sebarkan 

3 Komentar

  1. Nicolas - November 26, 2009

    Hello,
    Interesting, did you plan to continue this article?
    Nicolas

  2. Theofillus GSJA Tumbang Samba Katingan Kalteng - January 8, 2010

    thanks bnyk pak buat lima tips utk masuk dlm pergaulan sesama anggota PGI kami sangat senang dapat info yg sangat penting ini sehingga kami yg ada di daerah tdk ketinggalan dgn info-info yg terbaru,maju terus pengurus BPP dan kami selalu berdoa kiranya website GSSJA semakin OK dan artikel2ya selalu up to date sehingga dpt memberkati para PI GSJA di seluruh Indonesia dan luar negeri yang membuka website ini.Gbu

  3. Budi Setiawan - January 8, 2010

    Jangan lupa kunjungi juga http://www.cwsgading.com

Tulis Komentar Anda