Seorang Gembala Sidang (7)

a-19

Belas Kasihan

Saya membenci kata-kata ini terutama ketika seorang Pelayan Tuhan lebih mengandalkan belas kasihan orang kepadanya daripada penilaian orang atas hasil kerjanya. Walaupun saya orang yang tergolong mudah tersentuh, tapi memanfaatkan penderitaan dan kesusahan sebagai alasan untuk membuat orang tergerak menolongnya, ini menyebalkan hati saya. Sehingga kadang-kadang saya terkesan agak sadis terhadap orang yang tidak jelas menderita sungguh atau memperlama penderitaannya sendiri. Saya menegaskan kepada orang-orang yang bekerja bersama-sama dengan saya dalam pelayanan bahwa jemaat tergerak menolong kita karena mereka melihat bahwa kita sungguh-sungguh melayani Tuhan. Sangat aneh jika setelah beberapa tahun bekerja dalam sebuah gereja, tak ada satupun anggota gereja yang tergerak menolong kita.

Belas kasihan yang halal yang saya maksudkan! Belas kasihan yang timbul pada orang yang kita layani karena merasa sungguh tidak adil jika setelah dilayani dengan begitu baik tetapi tidak menunjukkan sikap berterima kasih sama sekali. Perasaan itu adalah seperti bara api yang ditaruh di atas kepala orang. Orang memberi bukan dengan kesal tetapi karena rasa terima kasih. Itulah kekudusan berkat yang datang kepada para pelayan Tuhan. Semua berkat yang datang karena terpaksa selalu memiliki kepedihan diujungnya. Jika anda ingin menyelamatkan diri anda setelah menerima semua pemberian orang kepada anda, pastikan bahwa semua itu lahir dari rasa terima kasih mereka karena pelayanan anda yang sungguh-sungguh kepada Tuhan dan sesama.

Betapa menyedihkannya jika kelihatan di mata orang banyak bahwa pelayanan kita dilakukan karena alasan ekonomi. Alasan ekonomi atau perjuangan ekonomi adalah alasan terendah dalam pelayanan.

Dalam semua jenis pelayanan yang bersifat pengabdian, kita tidak boleh terkecoh oleh profesionalisme, yang menempatkan harga jasa kemampuan anda di atas kodrat dasar pelayanan.

Atas Nama Firman Tuhan

Dalam beberapa denominasi, penjelasan tentang penggunaan persepuluhan mengacu pada konsep Perjanjian Lama tentang persepuluhan bagi imam. Semua ayat-ayat yang dikemukakan tentu tidak salah. Tetapi sekarang saya ingin mengajak anda sebagai Gembala Sidang merenungkan sisi lain dari yang dipikirkan oleh orang-orang di sekeliling kita.

Begini! Pernahkah anda berpikir bahwa keuangan adalah bidang dalam gereja yang dengan mudah menyeret kita atau orang lain ke arah yang jauh dari asas mengapa gereja itu sendiri ada dan berdiri. Saya tak berargumen dari sisi teologis karena bukan itu yang dipikirkan orang. Yang menjadi keprihatinan orang adalah ketika sebuah gereja menjadi begitu kaya dan hamba Tuhan menjadi seorang milyuner karena menggunakan ‘kebenaran’ Alkitab atau Firman Tuhan. Bisakah gereja tetap sebagai gereja jika ia sangat kaya? Dan bisakah seorang hamba Tuhan tetap ‘hamba’ ketika ia sudah menjadi ‘tuan’?

Orang-orang di dalam gereja memberi dengan kepercayaan penuh bahwa yang dilakukannya adalah tanda ketaatan kepada Tuhan. Tetapi ketulusan dan ketaatan mereka tak sekaligus menjamin bahwa penggunaannya adalah sesuai dengan maksud dorongan dalam hati mereka.

Saya tak menggugat sahnya setiap pendeta atau setiap gereja menjadi ‘kaya.’ Yang saya gugat adalah falsafah, kodrat dan misi dari gereja. Saya juga menyodorkan kenyataan rohani bahwa seorang pelayan Tuhan jarang diteguhkan dan dikuatkan dengan kekayaan yang mendatanginya. Penjelasan saya ini mungkin hanya relevan bagi mereka yang di kota-kota besar, tetapi baik juga jika para Gembala Sidang di pedesaan dapat mengetahui cara berpikir ini.

Pada asasnya gereja adalah sebuah badan berpelayanan sosial. Pelayanan yang intinya mengacu pada contoh Tuhan kita Yesus Kristus. Model yang kita ikuti juga sama yaitu Yesus Kristus. Kemanapun anda pergi ke seluruh dunia ini, anda takkan pernah bisa membaca satupun Injil yang akan membuat Yesus dari kitab Injil tergambar sangat selebritik. Ia menjadi populer tetapi dengan tema kemiskinan dan kebergantungan kepada Bapa di sorga. Ia hanya selebritik di sorga sana ketika kemuliaan yang dimilikinya dikembalikan kepadaNya setelah Ia duduk kembali pada tahta kemuliaan. Semua malaikat menyembahNya. Itulah ke-Tuhan-annya. Tetapi selama di dunia, Ia datang dengan sebuah misi penting, “bukan dilayani melainkan melayani!”

Seperti kita memuji indahnya alam semesta, decak kagum kita berkorelasi dengan alam yang sangat luas, tak ada seorangpun yang akan menjadi ‘berkepala besar’.  Tak akan ada yang menjadi sombong ketika kita berdecak kagum karena keindahan alam. Kekaguman kita tak berpengaruh pada siapapun. Tetapi akan sangat berbeda jika anda berdecak kagum memandangi gedung kembar Petronas sementara arsiteknya berdiri di samping anda. Pasti ada yang merasa bangga karena pujian anda. Demikianlah selebritik-nya Yesus, sangat berbeda dari selebritiknya manusia.

Salib Yesus selamanya terbuat dari kayu. Basis sosial, pelayanan dan pengorbanan selalu menjadi ciri sebuah gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus maupun hamba Tuhan yang mengikuti jejak Tuhannya. Berpihak kepada kaum yang ‘tertindas’, dengan misi pembebasan, kelepasan, dan kekuatan rohani, amat jauh dari gambaran tentang seorang Gembala Sidang atau hamba Tuhan dengan aksesoris diri yang menyilaukan mata.

Apa yang salah dengan kita sehingga dewasa ini pelayanan lebih menjanjikan kemewahan dan kekuasaan atau uang? Saya tak mempermasalahkan gereja yang ‘diberkati’ dan sangat kaya dalam keuangan, sepanjang itu adalah tetap gereja dan pengelolaannya masih melibatkan orang-orang lain selain Gembala Sidang dan keluarganya untuk tujuan-tujuan pelayanan, saya masih merasa itu lebih baik. Tetapi, betapa celakanya jika anda membiarkan diri anda dan keluarga anda melibatkan diri tanpa orang lain mengatur keuangan berlimpah yang orang berikan dengan pemikiran ‘sosial’ dalam benak mereka, kemudian anda mengelolanya sebagai keuntungan perusahaan keluarga.

Anda mungkin tidak cinta uang! Tetapi anda pasti tak lolos dari hal ini, yaitu anda cinta kekuasaan. Uang adalah manifestasi kekuasaan. Kelebihan uang selalu memperkenalkan kenikmatan dan kekuasaan. Di sinilah anda mesti mengerti tentang bagaimana harus memperlakukan diri kita sebagai hamba-hamba Tuhan.

Keserakahanlah yang menjadi alasan mengapa kita tidak hidup lagi seperti Tuhan kita Yesus Kristus! Anda tak perlu menjadi sangat kuno dan terbelakang dalam teknologi, miskin dalam penampilan untuk tetap benar sebagai imam di jaman modern. Anda hanya perlu membatasi diri anda! Kelebihan yang membuat anda berubah sehingga berperilaku sebagai selebritis adalah alat efektif dalam genggaman Iblis. Tak ada yang salah dengan diperlakukan orang bak selebritis. Anda mungkin tak bisa menghindarinya. Yang salah hanyalah bahwa anda kemudian menjadi sangat menyukainya, anda mulai mencarinya, hidup dengannya, membayarnya, mempertahankannya, dan melegalkannya. Anda tak bisa lepas lagi dari itu. Apa yang saya maksudkan adalah tentang kedagingan kita.

Pernahkah terlintas dalam pikiran anda bahwa ketika Allah memberikan peraturan tentang persepuluhan itu karena Allah dalam keadilannya harus memelihara suku yang tak menerima lahan atau tanah warisan? Tahukah anda bahwa persepuluhan yang diberikan kepada para imam adalah pada intinya menjalankan prinsip keadilan Tuhan. Karena itu, kalau keadilan Tuhan bagi hidup seorang Gembala Sidang atau keluarga Gembala Sidang sudah terpenuhi, mampukah ia berkata, “Sudah cukup, terima kasih!”. Ataukah kita akan menggunakan ayat tentang persepuluhan itu dan kewajiban memelihara para imam sampai-sampai ayat-ayat suci mengabdi pada kepentingan anda? Saya rasa seharusnya tidak!

Ini adalah masalah kejujuran hati di hadapan Tuhan. Kita tidak boleh membonsai kecerdasan umat untuk menilai apa yang baik dan apa yang benar. Menyadarkan dan mencerdaskan orang selalu mengandung resiko bagi kita juga. Tetapi sekali lagi, ini adalah masalah kejujuran hati. Jika anda tak melihat kebenaran yang sesungguhnya maka jemaat yang kita layani juga tak pernah akan sampai kepada kebenaran yang sesungguhnya.

(Bersambung …)

Artikel oleh: August 26, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

8 Komentar

  1. Lucky Juventy - August 26, 2009

    Artikelnya sangat memberkati, semua gembala bahkan Pelayan Injil GSJA perlu merenungkannya… tapi tidak semua gembala yang dapat buka internet apa tidak lebih baik dicetak di buletin kharisma punya BPP.

  2. Yusuf Eko W - August 27, 2009

    Thanks Ps.BS, tulisannya sangat menggugah hati & memberikan inspirasi, serta mengingatkan setiap Gembala, termasuk saya.
    Jbu!

  3. someone - August 29, 2009

    Tulisan ini, lebih baik dicetak menjadi sebuah buku…

    Keseluruhan tulisan ini (dari bag 1 s/d akhir) tidak ditulis oleh kekuatan manusia, tetapi oleh kekuatan dan dorongan Roh.

    Sesungguhnya melayangkan suatu tanggapan atau komentar menjadi sulit,bukan karena tulisan ini tidak mendapat perhatian atau sulit dipahami, tetapi tulisan ini telah membuat suatu cermin diri bagi pembaca, mencelikkan nurani dan menelanjangi kekeliruan – yang mungkin sekian lama terabaikan, dan membuat pembaca terdiam untuk suatu terobosan rohani yang berarti.

    Tulisan ini terbuka bagi tanggapan atau komentar, tetapi lebih tepat lagi, bukan tulisan ini yang terbuka, tetapi Kuasa Tuhan yang terbuka bagi setiap hati pembaca yang mau jujur dan hancur hati datang kepada Tuhan.

    Tulisan ini, lebih baik dicetak menjadi sebuah buku…

    Gbu.

  4. roberto hutapea - September 4, 2009

    ya sy setuju dgn teman2 yg udah comment….sebaiknya dibukukan saja…supaya lebih banyak yang diubahkan dan diberkati…kita sebenarnya patut bersyukur gsja dikaruniai Tuhan dengan banyak pemikir2 yang diurapi, seperti pak budi misalnya….tapi sayang hampir tidak ada yng menuangkan pemikirannya dalam bentuk buku, padahal kita punya penerbit Gandum mas…..knapa ya???…dari org gereja lain, banyak kalau ditelita…bobot pemikirannya biasa saja( cendrung kesaksian)…sangat aktif buat buku dan laris juga tuh…nah usul nih coba pak budi buat buku…setuju??

  5. Tres - September 4, 2009

    Maaf Pak Budi, bagaimana kalau sebagai jemaat bertanya :”apakah perpuluhan itu sesuatu yang wajib?”

    Tx.
    Gb

  6. Budi Setiawan - September 4, 2009

    Jawab saja YA, sebab demikianlah rumah Tuhan bisa dihidupi. Dantekankan pada hati yang ‘dermawan’, generous, karena tujuan semua pemberian adalah hati yang generous, dan hidup berkeadilan terhadap mereka yang melayani. Selebihnya adalah perlu pengurus gereja bersama gembala mengatur keuangan gereja, tetapi lebih baik gembala tidak mengontrol langsung keuangan.

  7. Budi Setiawan - September 4, 2009

    Setuju saja bro! GBU

  8. duma - November 11, 2009

    setuju aja, tapi itu bagi sebagian gembala saja. kita perlu menggunakan tanda kutip bagi para gembala. ntar mereka jadi sakit hati lagi

Tulis Komentar Anda