Dalam HadiratNya

Artikel oleh:

Dalam hadirat Allah

“Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.”  (Markus 15 : 38)

 

Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa hadirat Allah itu bersemayam di dalam bait yang dibuat oleh manusia. Namun, ketika Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, tabir Bait Suci yang memisahkan hadirat Allah di dalam Ruang yang Kudus dan yang Mahakudus terbelah dari atas sampai ke bawah.

Sekarang Hadirat Allah tidak saja untuk kita, tetapi Dia juga di dalam kita.  Hal ini menjadi fakta yang harus kita percayai, karena firmanNya mengatakan, “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”  (1 Yohanes 4:4).  Syukur kepada Tuhan!  Kini kita tidak perlu takut terhadap apa pun yang ada di dunia, karena ‘lebih besar Roh (Allah) yang ada di dalam kita, dari pada dia (roh) yang ada di dalam dunia.’

Jadi, sangat jelas bahwa Allah kita di dalam nama Tuhan Yesus lebih besar dari semua ujian dan persoalan yang sedang kita alami dan hadapi di dunia ini.  Dia lebih besar daripada segala krisis apa pun:  sakit-penyakit, keuangan, atau penderitaan.  Dia Mahabesar dan yang Terbesar!  Roh Kudus yang lebih besar dari pada segala roh yang ada di dunia akan selalu menolong kita!  Alkitab berkata, “tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumahNya; dan rumahNya ialah kita, jika kita sampai kepada Baca selanjutnya »

August 8, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Dahulukan Tuhan

Artikel oleh:

Dahulukan Tuhan

“Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku”.(Markus 14 : 6)

 

Kemiskinan masyarakat pada saat itu tidak menjadi penghalang bagi seorang perempuan yang membawa buli-buli pualam berisi minyak Narwastu murni yang curahkannya keatas kepala Yesus. Perempuan itu yang bernama Maria (Yoh. 12:3) merupakan masyarakat biasa; dia bukan dari kalangan bangsawan telah menunjukkan sesuatu hal yang bertentangan dengan keadaan pada saat itu, jika dipandang dari sisi rasionalitas.  Sekalipun tindakan tersebut telah menjadi pertentangan dari seseorang yang gusar dengan tindakan perempuan itu. Dia berkata hal itu adalah pemborosan dan bahkan memarahi perempuan itu.  Tindakan perempuan itu menjadi sesuatu yang luar biasa dari sisi iman, ia menunjukkan dan menyatakan imannya, ia percaya bahwa Yesus adalah yang lebih berharga daripada minyak Narwastu itu. Maka sebagai orang-orang percaya, kita diingatkan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi Tuhan seperti yang dilakukan oleh perempuan itu.

Dalam ayat 6, Yesus menyatakan bahwa yang dilakukan oleh perempuan itu itu adalah perbuatan baik padaNya. Perbuatan itu Baca selanjutnya »

August 7, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Tetaplah Bertahan!

Artikel oleh:

Tetaplah Bertahan

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.” (Markus 13 :13b)

 

Bagi seorang prajurit, ‘bertahan’ berarti suatu usaha untuk melindungi diri dari serangan musuh. Bertahan juga menunjukkan suatu kondisi di mana seseorang memiliki kekuatan untuk tetap berjaga, waspada dan mempertahankan diri secara konsisten ditengah segala hambatan dan kesulitan yang dihadapi.

Tuhan Yesus memperingatkan kita tentang keadaan di dunia di akhir zaman dan konsekuensi sebagai pengikut Kristus.  Kristus  menghendaki kita agar terus bertahan, apa pun yang terjadi. Dalam kotbahnya, Tuhan Yesus mengungkapkan adanya penganiayaan yang hebat terhadap gereja Tuhan menjelang kedatanganNya itu: “Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.” (Ay 9).

Namun kita tidak perlu takut dan cemas, karena di tengah penganiayaan itu kuasa Tuhan turut bekerja dan semakin dinyatakan atas kita. Tuhan tidak akan membiarkan gerejaNya berjuang sendirian, Dia pasti akan memberikan kekuatan kepada anak-anakNya yang teraniaya. Inilah janjinya: “…sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.” (Zakharia 2 : 8). Tidak hanya penganiayaan, kita juga dihadapkan pada pencobaan dan segala bentuk tipu muslihat iblis. Orang Kristen yang lemah, suam-suam kuku dan tidak punya pondasi yang kuat adalah sasaran empuk iblis!  Jadi, “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan Baca selanjutnya »

August 6, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Mengasihi Sesama

Artikel oleh:

Mengasihi Sesama

“Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12 : 31)

 

Selain mengasihi Tuhan Allah, maka “Kasihilah sesamamu manusia” merupakan mandat Alkitab dan perintah Tuhan yang harus ditaati; tetapi frase ini belumlah lengkap tanpa tiga kata yang mengikutinya, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Ay. 31). Bila kita rindu untuk menjadi bejana yang mampu mencurahkan kasih Allah kepada orang lain, maka terlebih dahulu kita harus dapat memandang mereka dengan kasih.

Allah begitu mengasihi kita, tanpa memandang tindakan ataupun perasaan kita.  Buktinya tertulis di Yohanes 3:16, Allah begitu mengasihi manusia sehingga Dia memberikan Anak-Nya untuk mati bagi dosa-dosa mereka. Dan Dia melakukan hal ini ketika manusia masih menjadi seteru-Nya! (Roma 5:8-10). Meski tidak ada seorang pun yang layak akan pengorbanan yang diberikan Yesus, namun tetap saja dalam pandangan Allah, kita dilayakkan untuk menerimanya. Jadi, jika Dia saja memandang kita sebagai pribadi yang berharga, maka kita pun wajib memandang orang lain dengan cara yang sama.

Bila kita sudah mengalami kasih Allah, seharusnya kita pun terdorong untuk mengasihi sesama kita yaitu setiap orang yang berada di lingkaran pengaruh kita meskipun di antara mereka ada yang lebih mudah untuk kita kasihi dan ada yang lebih sulit.  Di dalam Injil, Yesus sering mengulangi perintah ini kepada murid-murid-Nya, karena Dia tahu bahwa mereka akan menghadapi orang- Baca selanjutnya »

August 5, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Percaya Dan Bertindak

Artikel oleh:

Percaya & Bertindak

“Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (Markus 11 : 23).

        Berapa banyak kali kita diingatkan Tuhan, baik melalui khotbah, renungan, ataupun melalui apa saja, agar kita percaya akan kuasa Tuhan, tapi seringkali kita lupa dan mengabaikannya begitu saja.  Terlebih saat masalah dan penderitaan menimpa kita, entah itu sakit, krisis keuangan dan sebagainya, kita panik, stres, kecewa dan mengeluh kepada Tuhan.  Dalam Ibrani 11:1 tertulis:  “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  Namun, sudahkah kita mengaplikasikan iman tersebut dalam kehidupan kita secara nyata?  Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati  (Yakobus 2:17).

Iman perlu adanya tindakan yang membuktikan bahwa kita benar-benar percaya pada kuasa Tuhan.  Jadi  “…manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”  (Yakobus 2:24).  Saat kita berada di lingkungan gereja, atau bersekutu dengan saudara seiman, iman kita diteguhkan melalui doa, kesaksian, puji-pujian yang kita naikkan ke hadirat Tuhan;  terlebih saat pemberitaan Firman Tuhan, iman kita pun mulai menyala-nyala.  Tetapi saat kita dihadapkan pada masalah yang silih berganti, sakit-penyakit yang belum kunjung sembuh, anak-anak yang memberontak pada orang tua dan berbagai doa meminta pertolongan dari Tuhan yang belum juga beroleh jawaban, iman kita mulai lemah dan keraguan menguasai hati dan pikiran kita:  “Apakah mungkin masalahku terselesaikan?  Dokter sudah memvonis bahwa sakitku tidak bisa disembuhkan. Apa Tuhan sanggup menyembuhkan?”  FirmanNya menyatakan,  “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23).  Arti ‘percaya’ di sini Baca selanjutnya »

August 4, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Harta Bukan Segalanya

Artikel oleh:

Orang Kaya Sukar Masuk Sorga

“Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang miskin” (Markus 10 : 21)

 

Banyak orang yang tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidupnya. Mereka umumnya mengira kalau kesejahteraan, kedamaian hidup itu hanya bisa diperoleh dalam kekayaan yang melimpah, jabatan yang tinggi. Dalam kenyataannya banyak orang kaya dan pejabat tinggi tetap merasa tidak bahagia, tidak tenang dalam hidupnya. Memang kekayaan, pangkat, ketenaran, dan sebangainya, tidak akan pernah bisa memberikan ketenangan, kedamaian batin; apalagi kalau kekayaan, jabatan itu diperoleh dengan cara-cara yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab.

Bacaan hari ini dikisahkan tentang seorang kaya yang merasa tidak tenang dengan hidupnya. Ia merasa sudah melaksanakan perintah Allah seperti yang tertuang dalam hukum Taurat. Meskipun demikian hidupnya tetap tidak tenang. Karena itu ia kemudian bertanya kepada Yesus untuk memohon petunjuk-Nya. Jawaban Yesus sangat mengejutkan dan membuat ia semakin kecewa.  Memang harus diakui, ikatan yang paling sulit dilepaskan manusia untuk mengikuti Yesus adalah harta benda. Karena memiliki uang maka orang dapat beli narkoba dan menghancurkan hidupnya. Karena memiliki banyak uang maka orang bisa main perempuan, berjudi, dan mabuk-mabukan. Bahkan karena harta warisan, orang tua dan saudara sekandung saja, rela dianiaya bahkan dibunuh. Baca selanjutnya »

July 28, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Seturut KehendakNya Saja!

Artikel oleh:

Hamba Melayani

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”(Markus 9 : 35)

 

Dalam Injil dilukiskan sesuatu yang “bertolak belakang”. Ketika Yesus berbicara tentang kematian-Nya, para murid sedang asik membahas masalah ambisi dan kuasa. Ketika Yesus sedang berbicara tentang salib yang akan Dia pikul, para murid sedang berdebat perihal siapa dari antara mereka yang terbesar. Ketika Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Surga, para murid berbicara tentang kerajaan dunia.  Ketika Yesus bertanya pada para murid menyangkut topik yang sedang mereka perdebatkan, para murid tersadar bahwa Yesus rupanya mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka terdiam. Mereka tak sanggup memberi jawaban, apalagi pembelaan diri. Mereka merasa malu.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini?  Kalau kita membawa segala sesuatu ke hadapan Yesus, maka hal itu akan membuat perubahan besar pada diri kita. Misalnya, kalau kita sebelum bertindak, terlebih dahulu bertanya: “Apakah saya akan melakukan hal ini, kalau Tuhan melihat aku melakukannya?” Atau kalau kita hendak mengatakan sesuatu, kita bertanya terlebih dahulu: “Apakah saya akan mengatakan hal ini atau suka bercerita seperti ini kalau Yesus ternyata sedang mendengarkan saya?”  Kalau pertanyaan seperti ini kita tanyakan sebelum kita melakukan sesuatu,  maka banyak perubahan yang terjadi dalam tindakan Baca selanjutnya »

July 27, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Ditangan Yesus

Artikel oleh:

Di tangan Yesus

“Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” 

(Markus 8 : 4)

 

Yesus meminta para murid untuk menunjukkan kepedulian bagi orang banyak yang mengikuti-Nya hingga kelaparan. Yesus tidak tega membiarkan mereka pergi dalam keadaan lapar.  Karena itu, para murid harus memberi mereka makan. Melihat jumlah orang yang begitu banyak, para murid mau lepas dari tanggung jawab. Mereka hanya memiliki tujuh roti dan beberapa ikan yang mungkin hanya cukup untuk bekal mereka sendiri dan bukan untuk orang banyak.  Mana mungkin dengan tujuh roti dapat memberi makan bagi empat ribu orang? Sungguh sesuatu yang mustahil.

Pertanyaan yang sama dikemukakan juga oleh para murid yaitu bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang? Tetapi Yesus dengan tegas bahwa orang banyak itu harus diberi makan (ayat 2 – 3).  Yesus kemudian mengambil prakarsa dengan tujuh roti itu. Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada orang banyak itu. Bahkan masih sisa tujuh bakul roti. Kalau lima roti dan dua ekor ikan dimakan 5000 laki-laki serta sisa 12 bakul adalah menunjuk pada bangsa Yahudi maka tujuh roti tanpa ikan dimakan 4000 orang serta sisa 7 bakul adalah menunjuk pada bangsa- Baca selanjutnya »

July 26, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Masalah Hati

Artikel oleh:

Masalah hati

“Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”. (Markus 7 : 6)

 

Ada banyak orang mengenal Tuhan dan bertobat, bukan karena argumentasi doktrin dan ajaran, melainkan karena tersentuh oleh kebaikan hati seseorang yang menjalankan hidupnya sebagai totalitas ibadah. Agustinus seorang bapak gereja tersohor, ia adalah seorang ahli filsafat. Kita mungkin membayangkan ketika ia menjadi seorang kristiani pastilah melalu perdebatan logika serius dengan Uskup Ambrosius. Kenyataannya tidak. Agustinus berkata bahwa kebaikan Ambrosiuslah yang mengubah kehidupannya; bukan argumentasi ilmiah.

Namun, sayangnya apa yang seharusnya tidak menjadi apa yang nyata. Yang ideal, yang dulu diwanti-wanti Musa semakin luntur, orang Farisi dan ahli Taurat terjebak dalam seremoni dan tradisi. Beratus tahun kemudian orang Yahudi pada zaman Yesus lebih mengutamakan ritual tradisi ketimbang hakekat dalam ibadah.  Mereka lebih suka memelihara tradisi nenek moyang secara harafiah dan enggan menggali makna. Akibatnya memandang ritual dan tradisi itu adalah segalanya.  Padahal Tuhan tidak hanya melihat tampak luarnya saja melainkan dan yang terutama adalah apa yang terkandung dalam hati seseorang. Hati itulah sebenarnya Baca selanjutnya »

July 25, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Berkat Memberi

Artikel oleh:

Memberi

“Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.”  (Markus 6 : 43)

 

Karena kondisi ekonomi tak menentu, hari-hari ini sebagian orang terpaksa mengencangkan ikat pinggangnya begitu rupa;  sebisa mungkin tidak boros atau konsumtif.  Akibat dari itu orang cenderung menjadi egois dan tidak lagi memiliki kepedulian terhadap orang lain.  Kita menghemat begitu rupa dengan harapan kita berkecukupan dan berkelimpahan, tidak kekurangan suatu apa pun.  Tertulis:  “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”  (Amsal 11:24)..

Untuk mengalami kelimpahan atau hidup diberkati, kita harus mengikuti prinsip yang Tuhan ajarkan kepada kita:  “Berilah dan kamu akan diberi:  suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.  Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Lukas 6:38).  Namun seringkali kita berpikir,  “Bagaimana saya bisa memberi kepada orang lain, sedangkan untuk kebutuhan sendiri saja pas-pasan?”  Jangan pernah membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita!  Tuhan Yesus melakukan mujizat yang besar.  Hanya dengan 5 roti dan 2 ikan Ia sanggup memberi makan 5000 orang lebih, bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul.  Ketika mendapatkan 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus  “…menengadah ke langit dan mengucap berkat,”  (Markus 6:41).  Tuhan Yesus mengucap syukur atas apa yang ada padaNya meski Baca selanjutnya »

July 24, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar