Allah Yang Layak Disembah

Artikel oleh:

Allah Yang Layak Disembah

“Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelmatanku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung”. (Mazmur 18 : 3)

Menyembah Tuhan adalah tanggung jawab setiap orang percaya dan prioritas utama dalam hidup, Mengapa harus menyembah Tuhan? Secara Alkitabiah, penyembahan kepada Tuhan berbeicara tentang menyambut Tuhan dengan cara yang benar. Penyembahan haruslah berbicara tentang Allah, bukan yang lain. Kita ini sangat egosentris, di mana kepuasan diri, kesenangan diri, pemenuhan kebutuhan pribadi dan sejenisnya begitu menguasai sikap dan perilaku kita, sehingga penyembuhan yang kita lakukan cenderung terfokus pada diri sendiri dan ditujukan bagi kita.

Ada alasan utama mengapa kita harus melakukan penyembahan kepada Tuhan:

1) Tuhan layak atas penyembahan kita. Penyembahan adalah respon yang benar dan tepat ditujukan bagi Tuhan, baik karena siapa diriNya maupun karena apa yang telah diperbuatNya yang tak terbatas atas kita dalam segala hal. Pemazmur berkata, “TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang. TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa.” (Mazmur 99:1-2). Kita harus menyembah Tuhan karena perbuatanNya yang besar sebagai Sang Pencipta dan Sang Penebus. “Betapa banyak Baca selanjutnya »

November 13, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

Tak Terkalahkan

Artikel oleh:

Tak Terkalahkan

“Tuhan, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu!” (Mazmur 21 : 2)

 

Sebuah kapal pesiar yang sedang berlayar di perairan luas terlihat terombang-ambing akibat ombak yang begitu besar. Para penumpang benda berukuran besar pun terlihat panik dan mulai mencari tempat perlindungan. Beberapa diantara mereka ada yang komat-komit seperti orang berdoa, ada juga yang tetap berbaring dalam tempat tidur mereka karena pasrah dengan apa yang terjadi nanti dengannya. Namun, diantara suara gaduh tersebut, ada satu orang yang tetap tenang di saat mencekam tersebut, yakni sang kapten kapal.

Pria paruh baya tersebut tidak menunjukkan kegentaran terhadap apa yang ia dan orang-orang dalam kapal berukuran besar itu alami. Ia tetap memberikan arahan kepada anak buahnya agar tetap menjalankan kapal pesiar mereka. Sang kapten seperti berkata kepada lautan yang sedang bergelora bahwa ia tidaklah gentar dan pasti mampu melewatinya. Dan apa yang diyakini kapten kapal itu benar-benar terjadi. Kapal yang dipimpinnya tetap bertahan, sementara ombak besar mereda dan lautan menjadi tenang kembali. Sang kapten kapal membuktikan bahwa Baca selanjutnya »

November 12, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

Tuhan Selalu Beserta

Artikel oleh:

Tetaplah Termotivasi

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4)

 

Daud mengalami masa-masa yang berat sejak ia masih berusia muda. Perjalanan hidup yang penuh liku-liku kian membentuk karakter Daud menjadi sosok pemuda yang kuat dan bersahaja, dan satu hal yang terpatri di hati Daud adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya sendiri. Oleh karena itu, dalam mazmurnya Dauh mengungkapkan isi hatinya sebagai perwujudan pujian syukur bagi Tuhan yang adalah Gembala yang baik bagi dia: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:2-3)

Daud tahu benar pekerjaan seorang gembala karena memang sejak muda hari-harinya dihabiskan di padang menggembalakan kambing domba ayahnya, Isai. Sesungguhnya tugas dan tanggung jawab seorang gembala sangat berat, apalagi di kawasan Timur Tengah, menemukan daerah yang berumput hijau tidaklah mudah karena daerah tersebut adalah padang tandus dan penuh bebatuan. Dengan demikian, seorang Baca selanjutnya »

November 11, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

Benteng Kehidupan

Artikel oleh:

Benteng Kehidupan
“Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?  Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1)

 

Mazmur 27 ini  berlatar belakang penahbisan raja yang mengacu kepada penjanjian Allah dengan Daud.  Perjanjian tersebut di satu sisi bersifat kekal, tetapi di sisi lain perlu dibaharui ketika seorang raja baru ditahbiskan.  Raja yang sama, kemudian, juga dianjurkan untuk membaharui perjanjiannya dengan Allah setiap tahun.  Mengapa?  Karena ada dua jenis musuh yang selalu membayangi setiap raja.

* Dari luar, kekuatan asing selalu mengintai untuk menjatuhkan sang raja atau bahkan memutuskan kesinambungan keturunannya.

* Dari dalam, arogansi dapat menyeret sang raja untuk melupakan perjanjiannya dengan Allah dan mengabaikan kehendak serta pimpinan Allah.

 

Mana yang lebih berbahaya?  Tentu saja musuh dari dalam!  Arogansi itu bagaikan gelombang yang akan menyeret seseorang jauh ke tangah lautan yang penuh dengan hiu yang ganas tanpa seorang pun di sekitarnya.  Kebinasaan bagi orang congkak ada di pelupuk, hanya tinggal Baca selanjutnya »

November 10, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

Dalam Gendongan Allah

Artikel oleh:

Gendong

“Tuhan, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku diatas gunung yang kokoh” (Mazmur 30 : 8)

 

Mazmur ini jelas mengalir dari kerinduan untuk bersyukur dan memuji Allah. Di dalamnya berisikan pengakuan akan kebesaran dan kasih setia serta pertolongan Allah yang ajaib.  “Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku” (ay 2). Dan juga ayat 12 berkata, “Aku yang meratap telah Kau ubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kau buka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri”.

 

Ketika orang benar yang sedang menderita atau bergumul dengan masalah, mengarahkan pandang mata-Nya kepada Allah, maka segala ratapan dan keluhannya pasti akan berubah menjadi pujian sukacita.

 

Seorang pemimpin besar satu kali bersaksi,

“Pengalaman yang terindah adalah ketika seorang anak menengadah memandangi wajahku, lalu sambil memegangi tanganku, dia berkata, ‘Tolong gendong saya untuk menyeberangi jalan ini.”  Saya begitu bersukacita untuk membawa anak yang penuh kepercayaan tersebut ke Baca selanjutnya »

November 8, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

SIKAP ANDA MENENTUKAN NASIB ANDA

Artikel oleh:

 

Bilangan 13: 25 – 33

Sikap

By: Inawaty Suwardi.

 

Pengantar

Dalam Kitab Bilangan pasal 13: 1-2, kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Musa untuk memilih 12 pemimpin dari masing-masing suku bangsa Israel dan memberi tugas kepada mereka untuk pergi mengintai ke tanah Kanaan. Lalu pada ayat 17-20 Musa menyuruh mereka untuk menyelidiki bagaimana keadaan negeri itu, apakah penduduknya banyak atau sedikit, apakah mereka kuat atau lemah. Mereka diminta untuk memeriksa, apakah negeri itu baik atau tidak, dan apakah penduduknya tinggal di desa-desa yang terbuka atau dalam kota-kota yang berbenteng. Mereka disuruh melihat  apakah tanahnya subur dan banyak pohon-pohonnya. Mereka juga diminta untuk membawa pulang sedikit buah-buahan yang tumbuh di sana. Waktu itu permulaan musim anggur.

Sesuai dengan perintah Tuhan, Musa memilih para pemimpin yang mewakili setiap suku Israel untuk pergi melihat kebesaran atau kejayaan negeri yang sudah dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel.

Sdr, para pemimpin pada umumnya diharapkan untuk mengeksplorasi visi masa depan lalu menyusun rencana dan strategi untuk mencapai visi tersebut. Pertanyaannya, apa yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin untuk mencapai tujuannya? Jawabannya terletak pada sikap yang dipilih oleh para pemimpin itu. Sikap seseorang adalah faktor utama yang menentukan apakah ia akan sukses atau akan mengalami kegagalan. Sikap pribadi adalah bagaimana cara seseorang  memandang sesuatu.

Ilustrasi: Enam orang pejabat dari suatu perusahaan sepatu dikirim ke sebuah Negara Afrika yang baru merdeka. Mereka diberi tugas untuk membuat penelitian tentang kemungkinan mendirikan pabrik cabang di Negara tersebut. Mereka melakukan pengamatan dan mendiskusikan hasil pengamatan mereka. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang potensi pasar di sana. Empat orang pejabat mengirim laporan (dari kelompok mayoritas) hasil survei pasar yang menyimpulkan: “Tidak ada potensi pasar di negara ini. Semua penduduknya tidak memakai alas kaki.” Dua pejabat lainnya mengirimkan laporan (dari kelompok minoritas): “Setiap orang di Negara ini memerlukan sepatu. Kami merekomendasikan untuk segera membangun pabrik cabang dan kantor di Negara ini.” Enam orang pejabat itu semuanya mengamati kondisi yang sama, bahwa semua orang di Negara tersebut tidak memakai alas kaki. Yang membedakan pendapat mereka adalah bagaimana mereka menginterpretasikan situasi dan mengaplikasikannya dalam pekerjaan mereka.

Duabelas orang pengintai bangsa Israel mengintai negeri Kanaan dan hasil pengamatan mereka adalah sama. Pada ayat 23-27 mereka menemukan bahwa tanahnya kaya dan subur. Pada ayat 28-29 mereka melaporkan bahwa penduduknya kuat-kuat dan mereka tinggal di kota-kota yang besar dan berbenteng.

Persamaan hasil pengamatan mereka berhenti pada ayat 29. Selanjutnya pada ayat 30 Kaleb berkata, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”  Tetapi semua pengintai lainnya kecuali Kaleb dan Yosua pada ayat 31 berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”

Pada ayat 30 dan 31 Sdr melihat ada perbedaan antara Kaleb dan Yosua (minoritas) dan 10 pengintai lainnya (mayoritas) dalam menyikapi keadaan yang mereka hadapi. Saya akan menyebutnya  sikap pecundang vs. sikap pemenang.

Berdasarkan kisah pengintaian tanah perjanjian ini, Sdr tentu saja harus menghindari sikap pecundang.  Mengapa?  Ada 3 alasan.

1.   Sikap pecundang menghalangi datangnya berkat Tuhan Baca selanjutnya »

November 6, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Number (Renungan Alkitab dari Kitab Bilangan)  belum ada komentar

SABAR, TUHAN SEDANG BEKERJA

Artikel oleh:

Kisah Para Rasul 7: 20 – 34

Sabar, Tuhan sedang bekerja

By:Pdt. Rudy Suwardi

 

Rosi adalah seorang anak tunggal yang berusia 4 tahun dalam keluarga. Ia sangat merindukan seorang adik sehingga selalu merengek kepada ibunya, kapan ia akan mendapat seorang adik. Suatu pagi, Rosi berkata kepada ibunya, “Bunda, jika kita berdua bersama-sama berdoa dengan suara keras, Tuhan mungkin mau mendengar kita.” Maka mereka berdoa bersama-sama. Begitu selesai berdoa, Rosi bertanya, “Apa kata Tuhan?” Ibunya menjelaskan, bukan demikian cara Tuhan bekerja; kadang-kadang kita perlu menunggu lama untuk mendapatkan suatu jawaban. Rosi agak jengkel: “Bunda, apakah kita berdoa kepada mesin penjawab telepon?” Rosi ingin mendapat  jawaban langsung dari Tuhan. Rosi tidak mau menunggu. Ia tidak mau berbicara dengan mesin penjawab telepon. Ia tidak mau Tuhan menjawabnya nanti. Ia ingin mendapat jawaban saat itu juga. Rosi tidak sabar karena Tuhan tidak cepat menjawab.

Sdr, ketidaksabaran tidak hanya dialami oleh seorang anak yang berusia 4 tahun. Apakah anda sependapat, bahwa kita seringkali jengkel dan frustrasi karena kita sedang terburu-buru, sedangkan Tuhan tidak? Kita mudah bersikap tidak sabar dengan  Tuhan. Bahkan tokoh-tokoh Alkitab juga mengalami ketidaksabaran. Salah satu tokoh yang tidak sabar dengan Tuhan adalah Musa.

Musa adalah nabi besar, ia adalah pemimpin yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir; Musa adalah pahlawan iman yang menjadi panutan bagi kita semua, tetapi ia juga mengalami ketidaksabaran dengan Tuhan.

Kita akan menyimak suatu kejadian yang dicatat dalam Kisah Para Rasul  pasal 7, tentang seorang martir Kristen yang pertama, yang bernama Stefanus. Menurut pasal 6, Stefanus telah menjadi seorang penginjil yang sangat berpengaruh dan ayat 8 mengatakan “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.”

Sekelompok orang Yahudi yang tidak suka dengan pemberitaan tentang Kristus oleh Stefanus tidak sanggup melawan hikmat dan kebenaran yang disampaikannya, sehingga mereka mulai menyebarkan fitnah tentang Stefanus dan pada akhirnya mereka membawa Stefanus ke hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem.

Pasal 7 adalah pembelaan Stefanus tentang imannya. Salah satu kisah yang diceritakan oleh Stefanus pada saat pembelaan dirinya adalah tentang Musa yang dipakai oleh Tuhan untuk membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan oleh bangsa Mesir.

Musa dilahirkan pada masa yang sulit. Bangsa Israel sudah tinggal dengan tenang dan damai di Mesir selama beratus-ratus tahun. Tetapi kemudian Firaun naik tahta dan memandang bangsa Israel sebagai suatu ancaman bagi bangsa Mesir. Firaun takut bangsa Israel akan mengambil alih kekuasaaan karena jumlahnya besar.

Karena itu Firaun memutuskan untuk mengurangi risiko itu dengan mengurangi jumlah prajurit bangsa Israel yang mungkin akan menyerang mereka. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan perintah untuk membuang setiap bayi laki-laki yang baru lahir ke Sungai Nil. Ketika Musa lahir, ibunya, Yokebed, memiliki gagasan untruk menyelamatkannya. Musa dihanyutkan di Sungai Nil di dalam sebuah peti pandan. Yokebed percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan anaknya. Imannya dihargai, sehingga Tuhan mengatur agar putri Firaun menemukan bayi itu, mengasihinya dan membesarkannya. Sebagai tambahan, Yokebed juga ditunjuk menjadi pengasuhnya. Baca selanjutnya »

November 4, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Acts (Renungan Alkitabiah dari Kitab Kisah Para Rasul)  belum ada komentar

Pengaruh Yang Baik

Artikel oleh:

 Pengaruh Yang Baik

“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, ditangan kanan-Mu ada nikmat  senantiasa”. (Mazmur 16 : 11)

 

Seorang penulis kenamaan yang pernah lahir di dunia ini Mark Twain pernah menulis, “Menjauhlah dari orang-orang yang berusaha menghalangi ambisi-ambisi Anda. Orang-orang kecil biasa melakukannya, tetapi yang benar-benar besar membuat Anda merasa bahwa Anda juga dapat menjadi besar.” Bagaimanakah perasaan sebagian besar orang di sekitar Anda? Apakah mereka merasa kecil atau tidak berarti, ataukah mereka percaya diri dan mempunyai harapan besar tentang masa depan mereka?

Kunci cara Anda memperlakukan orang lain terletak pada cara Anda berpikir tentang mereka. Itu adalah masalah sikap. Apa yang Anda percaya tersingkap dari cara Anda bertindak.  Johann Wolfgang von Goethe berkata: “Perlakukanlah orang lain seperti penampilannya dan Anda akan membuatnya semakin buruk. Tetapi, perlakukanlah seseorang seolah-olah ia telah meraih potensinya, dan Anda akan menjadikan dia sebagaimana seharusnya.”

Harapan mungkin adalah karunia terbesar yang dapat kita berikan kepada orang lain. Bila orang itu gagal melihat arti dirinya sendiri, ia masih Baca selanjutnya »

November 3, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

Allah Memberi Kemenangan

Artikel oleh:

Allah Memberi Kemenangan

“Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya”. (Mazmur 12 : 6)

 

Kemenangan atas bani Amon dan Moab adalah salah satu sejarah terbesar yang dimiliki bangsa Israel dan bisa dikatakan sangat spektakuler (Tawarikh 20). Bukan hanya karena hasil rampasannya yang banyak (ayat 25), tetapi juga sebagai bukti bahwa Allah Israel adalah Allah yang perkasa, yang senantiasa menyertai dan membela umatNya, sehingga “Ketakutan yang dari Allah menghinggapi semua kerajaan negeri-negeri lain, ketika mendengar, bahwa Tuhan yang berperang melawan musuh-musuh Israel.”(ayat 29).

Kemenangan di medan perang bukan hal baru lagi bagi bangsa Israel. Ketika mereka berperang mengandalkan Tuhan, sudah dipastikan mereka berhasil mengalahkan musuh dengan gilang gemilang.  Sungguh benar firman-Nya: “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14).  Tetapi kemenangan atas bani Amon dan Moab kali ini terasa begitu istimewa karena diraih tanpa harus mengerahkan pasukan ke medan perang.  Apakah ini pemberian cuma-cuma dari Tuhan? Apakah perbuatan Israel sehingga Tuhan menyatakan perlindunganNya secara luar biasa?  Adalah karena raja Yosafat yang langsung bertindak tepat: mencari Tuhan begitu mendengar kabar adanya Baca selanjutnya »

November 1, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar

Allah Selalu Perhatikan

Artikel oleh:

Allah Selalu Perhatikan

“Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10 : 1)

 

Mengapa kadang Tuhan menuntun hidup kita dengan cara dan arah yang sulit kita mengerti? Bahkan sepertinya yang dikatakan oleh Pemazmur bahwa kadang-kadang Tuhan “bersembunyi” terhadap kita ketika kita direndung masalah? Tentu karena Dia lebih tahu apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita, sehingga apapun bentuk tuntunan-Nya pasti terbaik.

Belajar dari kehidupan umat Israel, di dalam Keluaran 13 : 17-22 menceritakan bahwa mereka juga mengalami hal yang sama. Tuhan tidak langsung memimpin mereka melalui tanah Filistin yaitu jalan tercepat untuk sampai ke tanah perjanjian. Sebaliknya Tuhan memimpin mereka berputar melalui jalan yang harus dilintasi dan Laut Teberau yang harus diseberangi.  Tuhan tidak ingin mereka menyesal dan kembali ke Mesir karena harus menghadapi pencobaan yang tidak dapat mereka tanggung (peperangan dengan orang Filistin, yang kuat dan suka berperang dengan senjata yang lengkap). Tuhan tahu mereka adalah mantan budak yang belum siap dan terlatih untuk berperang (terjemahan lebih tepat ay. 18b, adalah “tersusun dalam pasukan”, bukan siap sedia berperang” karena Kel. 12 : 11 mengatakan mereka hanya membawa tongkat saja).

Walaupun perjalanan mereka agak berputar, Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Tuhan hadir melalui tiang awan pada siang hari (21-22) supaya mereka tidak kepanasan dan tiang api pada malam hari supaya mereka tidak kedinginan (di padang gurun perubahan suhu pada Baca selanjutnya »

October 31, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Psalm (Renungan Alkitabiah dari Kitab Mazmur)  belum ada komentar