Menjadi Orang Benar!

Artikel oleh:

Dahulukan Tuhan

“Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. “ (Yehezkiel 18 : 22)

 

Kita sering mendengar perkataan, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”. Kalimat ini sudah sering digunakan untuk melegitimasi ketidakdisiplinan kita, atau sifat ‘jam karet’. Kalimat lain, ‘Buat saja apa yang kita mau setiap hari saja, toh ada pengakuan dosa di gereja pada hari minggu’. Kalimat ini pun sudah sering digunakan untuk melegitimasi hobi kita melakukan perbuatan yang salah.  Masih banyak kalimat lainnya, yang sudah dijadikan alat legitimasi. Nah, ternyata itu sudah menjadi semacam pola dalam perilaku beriman kita. Karena kita tahu, Tuhan itu pengasih dan pengampun, dan pasti mengampuni setiap orang yang mengaku dosanya dengan jujur dan tulus, jadi lakukan saja perbuatan dosa, toh nanti juga diampuni Tuhan. Bukankah hal tersebut adalah paham yang keliru? Bahkan, Tuhan sendiri tentunya tidak senang dengan cara hidup seperti itu.

Ayat bacaan kita menunjukkan bahwa pengampunan dosa itu dikerjakan Tuhan kepada orang yang sejak semulanya fasik, lalu karena mengenal Tuhan, berbalik kepadaNya. Bukan kepada orang-orang yang sudah diselamatkan, atau telah dibenarkan oleh Tuhan, tetapi selalu berulang-ulang berbuat pelanggaran dihadapan Tuhan. Seperti kita tidak suka atau benci jika ditipu, Tuhan juga tidak mau ditipu. Ia juga tidak mau kita berdusta dalam hal apa sekalipun, dan sekecil apa pun.  Allah merindukan agar kita berbalik dari kesalahan dan menikmati hidup dalam kehendak-Nya. Namun, tidak jarang bahwa kita menolak kerinduan hati Allah tersebut, padahal inilah yang seharusnya kita lakukan: Bertobat dan hidup hanya bagi Allah.

Jangan biarkan hidup kita ditipu oleh iblis, sehingga kita lebih condong melakukan apa kata iblis dari pada apa kata Tuhan!

Tetaplah menjadi orang benar; berpikiran benar dan lakukanlah yang benar!

 

August 5, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Ezekiel (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yehezkiel)  belum ada komentar

Pertolongan Yang Sejati

Artikel oleh:

Pertologan Sejati

“Pada suatu kali raja Zedekia menyuruh Yukhal bin Selemya dan imam Zefanya bin Maaseya kepada Yeremia untuk meminta: “Berdoalah hendaknya untuk kami kepada TUHAN, Allah kita!” (Yeremia 37 : 3)

 

Bebas dari kesulitan dan penderitaan bukanlah indikator (tanda) bahwa kita sudah hidup benar di hadapan Allah.  Orang Israel merasa gembira ketika tentara Mesir datang membantu mereka yang sedang dikepung oleh orang Babel (orang Kasdim). Mereka memang telah meminta bantuan orang Mesir untuk mengusir orang Babel. Ketika tentara Mesir tiba, orang Babel langsung pergi dari Yerusalem. Orang Israel yakin bahwa pertolongan mereka telah tiba. Mereka merasa bahwa saat pembebasan dari orang Babel telah menjadi kenyataan. Bahkan, mereka menganggap nubuatan Yeremia salah karena Yeremia bernubuat bahwa orang Babel akan menaklukkan, menghancurkan dan menawan orang Israel.

Orang Israel pada saat itu memiliki pandangan hidup yang sekuler. Pertama, mereka beranggapan bahwa mereka bisa mendapatkan pertolongan dengan bersandar kepada kekuatan manusia. Kedua, mereka berpikir bahwa dengan terbebas dari orang Babel, mereka menemukan penyelesaian masalah mereka; padahal masalah mereka bukan sekedar masalah politik luar negeri atau peperangan, tetapi masalah hubungan dengan Allah yang tidak beres. Jadi, sekalipun orang Babel sudah pergi, permasalahan terbesar mereka tetap ada, yakni ketidaktaatan mereka kepada Allah. Kekuatan manusia, walaupun sangat kuat, tidaklah dapat menyelesaikan masalah tersebut. Mesir bukanlah jawaban bagi masalah kerohanian orang Israel.

Sebenarnya, pertobatan kepada Allah, menghormati Firman Allah, mengikuti dan menaati suara Allah, serta menjalani kehidupan dalam kebenaran dan keadilan, itulah yang menjadi sumber pertolongan dan pemulihan kita.

 

Hidup dalam kebenaran itulah kemerdekaan yang sejati. Bersandar pada Tuhan itulah pertolongan yang sejati.

 

July 31, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Kitalah Orang Merdeka!

Artikel oleh:

Merdeka

“Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan..” (Yeremia 34 : 8)

 

Pada zaman kini, kita semua telah sepakat bahwa perbudakan atau perhambaan sungguh-sungguh bertentangan dengan hakikat kemanusiaan kita yang mulia yang diciptakan Tuhan. Perbudakan atau perhambaan sebab itu dilarang oleh undang-undang, deklarasi bangsa-bangsa, dan ajaran–ajaran agama. Namun pada zaman dahulu, termasuk zaman penulisan Alkitab, kita paham bahwa perbudakan masih merupakan praktek kehidupan yang lazim atau dianggap biasa. Para leluhur Israel seperti Abraham, Ishak dan Yakub juga memiliki para budak atau hamba (beberapa budak perempuannya bahkan dinikahi mereka). Umat Israel pernah menjadi bangsa budak di Mesir. Di zaman Perjanjian Baru kita tahu bahwa sebagian anggota jemaat Kristen juga berasal dari kalangan budak dan sebagian lagi justru para tuan yang memiliki budak (lihat: Kolose 3:22, 4:1, Efesus 6:5-9).

Namun Alkitab memahami perbudakan bukan hanya dari segi ekonomi dan politik, tetapi juga secara teologis. Manusia bukan hanya bisa diperbudak oleh oleh manusia lain, tetapi terutama telah diperbudak oleh kejahatan dan dosa. Sebab itu pembebasan atau pemerdekaan dalam perspektif Alkitab juga tidak boleh lagi hanya dibatasi dalam arti politik dan ekonomi, tetapi harus dihayati juga secara teologis, yaitu: pembebasan dari dosa dan maut.

Tuhan memanggil kita menjadi orang-orang merdeka (1 Petrus 2:16). Dimana ada Roh Tuhan maka di sana juga ada kemerdekaan (2 Korintus 3:17). Hukum yang diberikan Tuhan kepada kita adalah hukum yang memerdekakan (Yakobus 1:25, 2:12). Ingat juga proklamasi Tuhan sebelum menyampaikan 10 Hukum: Akulah Tuhan, Allahmu, yang memerdekakan engkau dari rumah perbudakan di Mesir! (Keluaran 20:2). Namun ada suatu hal yang sangat menarik menjadi bahan renungan kita: semakin terikat kita kepada Tuhan semakin merdeka pulalah kita. Dengan menjadi hamba Tuhanlah maka kita tidak perlu menjadi hamba apapun atau siapapun lagi.

 

Ingatlah hal ini, bahwa kita adalah orang-orang yang paling merdeka di dunia ini dan juga paling berbahagia

July 30, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Datang Pada Tuhan

Artikel oleh:

Datang Pada Tuhan

“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui”. (Yeremia 33 : 3)

 

Kehidupan kita itu tidak selalu berjalan seperti yang kita ingin atau harapkan; suka dan duka, berhasil dan gagal, sehat dan sakit datang silih berganti dalam kehidupan kita. Bila kita berada dalam duka, gagal, dan sakit bahkan dalam keterpurukan hidup, kadang kita kehilangan harapan dan jatuh pada keputusasaan.  Adakah harapan bagi kita untuk dipulihkan?

Umat Yehuda berada pada keterpurukan, akibat murka Allah yang menghukum mereka karena dosa dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Hukuman itu berupa kekalahan perang melawan serangan Babel serta kehancuran dan kesengsaraan yang mengikutinya (ay. 4, 5, 10).  Namun di tengah keterpurukan itu, ada harapan yang disuarakan Nabi Yeremia mengenai  janji pemulihan Tuhan kepada umat-Nya.  Di tengah kehancuran yang sedang dan masih akan dialami umat sampai bertahun-tahun ke depan, Tuhan berjanji bahwa kelak Tuhan akan memulihkan mereka ketika mereka datang dan berseru kepada Tuhan (ay. 1-3).

Janji pemulihan Tuhan itu meliputi:  Pemulihan fisik, yaitu pemulihan akibat perang yang menyengsarakan umat, yang Tuhan timpakan di dalam murka-Nya kepada kota Yerusalem dan penduduknya (10 – 12). Kelak umat akan mengalami Kesehatan, kesejahteraan, dan keamanan yang melimpah di Yerusalem (6).  Pemulihan rohani: yaitu pemulihan akibat dosa yang menjerat umat pada masa lampau (8). Hasil pemulihan itu menimbulkan sukacita dan sorak sorai umat, serta dipermuliakan Tuhan oleh  segala bangsa .

Firman Tuhan ini menunjukan kepada kita bahwa kasih dan kepedulian Allah kepada umat-Nya tidak akan pernah pudar.  Betapa pun jahat dan najisnya mereka karena pelanggaran dan dosa mereka, sehingga harus dihukum Allah dengan dahsyat, Allah tetap menginginkan pertobatan sehingga Ia bisa mengampuni dan memulihkan mereka.

Keterpurukan dalam hidup ini bisa dialami oleh siapa pun, baik pribadi mau pun keluaga, bahkan gereja Tuhan dan bangsa. Bila kita mengalami keterpurukan, marilah kita introsfeksi diri, mungkinkah keterpurukan itu akibat dosa dan kejahatan kita kepada Tuhan?

 

Datanglah dan berserulah kepada Tuhan dengan pertobatan, sehingga janji pemulihan Tuhan  menjadi milik kita.

 

July 29, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Tuhan Yang Memulihkan

Artikel oleh:

Tuhan Memulihkan

“Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli”. (Yeremia 30:18)

 

Tidak ada pemimpin yang dapat diharapkan untuk memulihkan harkat dan martabat bangsa Israel sebagai negara berdaulat yang diberkati Allah. Mereka  tak dapat berbuat apa-apa sebab berada dalam jajahan bangsa Babel. Semua terjadi karena mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, karena lebih suka hidup dalam penyembahan berhala, melakukan perbuatan amoral dan lebih mempercayai nubuat nabi palsu daripada mempercayai Allah Yahweh.

Bangsa Israel tidak mungkin bangkit dengan kekuatannya sendiri. Allah dengan jelas mengatakan bahwa ‘akan datang waktunya’ (3). Penderitaan dan kegentaran akan berakhir jika Allah sendiri yang mengadakan pembaharuan. Artinya pembaharuan itu adalah anugerah Allah sebab mereka adalah bangsa yang berdosa (11). Pembaharuan yang dilakukan Allah adalah pembaharuan yang sejati sebab tujuan utama pembaharuan-Nya bukanlah sekadar membebaskan bangsa Yehuda dari jajahan bangsa lain (8, 9) ataupun memberikan kehidupan yang tenang dan aman (10). Tujuan utama pembaharuan Allah adalah agar umat Israel kembali beribadah kepada Allah (9). Arah pembaharuan sejati adalah mengembalikan manusia ke dalam hubungan yang benar dengan Allah yaitu manusia yang menyembah, memuliakan dan mentaati kehendak-Nya.

Janji pemulihan Allah merupakan kabar baik yang membawa sukacita pengharapan kepada kita; karena Allah sejatinya tidak pernah meninggalkan kita. Tanpa campur tangan Allah, kita akan selamanya hidup dalam permusuhan, sakit penyakit, kesalahan dan mustahil dapat membangun masa depan kita. Namun oleh anugerah Allah, dalam kesetiaanNya, kita mengalami pemulihan-Nya. Waktu Tuhan untuk bertindak membaharui hidup manusia adalah satu kepastian yang tidak perlu diragukan.  Untuk itu, mari kita memberi diri untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah sampai Tuhan datang kembali dalam kemuliaan-Nya.

 

Lebih dari siapa pun, Allah adalah Bapa yang baik, yang janji-Nya teguh, sehingga kita dapat sungguh mempercayai setiap firman-Nya.  

 

July 28, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Jangan Menyerah!

Artikel oleh:

Jangan Menyerah

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7)

 

Allah, melalui nabi Yeremia, meminta umat-Nya dalam pembuangan memiliki sikap yang tidak pantang menyerah, penuh antusias bahkan berdampak baik, walaupun mereka ada dalam pembuangan.  Allah menghendaki situasi atau kondisi dimana mereka berada, tidak mempengaruhi iman mereka kepada Tuhan.  Sebagai keturunan Abraham, bangsa Israel telah dipilih untuk diberkati dan memberkati segala bangsa (bandingkan Kejadian 12:1-3). Memang tujuh puluh tahun di Babel adalah hukuman atas pelanggaran mereka, namun rancangan berkat Allah tetap akan digenapi pada waktu-Nya (ayat 10-14). Tak heran Allah mengutus mereka mengusahakan shalom di tempat yang tidak mereka suka itu (ayat 7). Allah mau mereka hidup normal, bahkan maksimal (ay 4-6), sebagai wujud kesaksian umat pilihan-Nya di tengah bangsa asing. Dalam perspektif surga, bangsa yang dibuang itu sebenarnya juga sedang diutus Allah.

Apakah kita baru pindah rumah, kuliah, atau bekerja di tempat yang tidak kita sukai? Sebagai orang percaya, kita punya dua pilihan sikap. Pertama, kita bisa berkata: “Tempat dan orang-orang yang tak kusukai ini tidak menjanjikan masa depan buatku!” Kedua, kita bisa berkata: “Aku akan lakukan yang terbaik. Allah ada di tempat ini, dan Dia punya rencana atas hidupku, juga atas tempat dan orang-orang yang tidak kusuka ini melalui hidupku.” Sikap mana yang Anda pilih?

Ingatlah bahwa, di tangan Allah tertulis rencana-Nya yang penuh berkat dan masa depan yang cerah serta penuh harapan bagi orang percaya dan mengandalkan Dia. Jadi dimana pun kita berada, itu bukanlah hal penting; sebab yang terpenting adalah siapa yang memegang hidup kita dan merancang masa depan hidup kita.

 

Pastikan Anda tetap percaya dan memegang janji Tuhan dan tidak menyimpang dari kebenaran-Nya, maka pastilah masa depan yang indah dan mulia menjadi milik kita.

 

July 27, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Berserulah Kepada Tuhan!

Artikel oleh:

Berseru

“Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi…, mereka menurunkan Yeremia dengan tali.  Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu.” (Yeremia 38:6). 

 

Mungkin kita berkata dalam hati, “Menjadi orang percaya ternyata tidak mudah, acapkali kita diperhadapkan pada masalah atau kesesakan.”  Tapi bukan hanya orang Kristen saja yang punya masalah, semua orang tanpa terkecuali, pasti punya masalah.  Jadi kita tidak mengalaminya sendiri!  Karena itu, stop mengasihani diri sendiri karena ada satu hal yang pasti, yaitu jaminan pemeliharaan Tuhan bagi anak-anakNya.  Pemazmur berkata, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu;”(Mazmur 34:20).  Tuhan selalu punya cara ajaib untuk menolong dan menyediakan jalan keluar bagi setiap permasalahan.  Masalah tidak hanya dialami orang Kristen awam, tapi bisa terjadi dalam kehidupan pelayan Tuhan atau orang-orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.

Yeremia, meskipun sebagai nabi Tuhan, pun mengalami masa-masa yang sulit.  Ketika menyampaikan nubuat yang diperintahkan Tuhan kepadanya, Yeremia dibenci dan dianiaya.  Dalam keadaan demikian, sudah tentu sebagai manusia Yeremia merasa takut dan nyaris putus asa.  Tetapi Yeremia tidak berteriak-teriak minta tolong kepada manusia.  Alkitab mencatat Yeremia berseru kepada Tuhan, “Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam.  Engkau mendengar suaraku!  Janganlah Kaututupi telingaMu terhadap kesahku dan teriak tolongku!”  (Ratapan 3:55-56).

Sungguh, Tuhan itu bukan Tuhan yang tuli, Dia mendengar teriak anak-anakNya yang berada dalam kesesakan.  Maka Tuhan memakai Ebed-Melekh untuk menyelamatkan Yeremia.  Orang Etiopia itu melapor kepada raja bahwa Yeremia telah dimasukkan dalam perigi (Yeremia 38:7-9).  Lalu raja menyuruh Ebed-Malekh untuk membebaskan Yeremia, “Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!”  (Yeremia 38:10).

Bila saat ini kita sedang dalam ‘perigi masalah’ dan sepertinya tidak ada harapan, berserulah kepada Tuhan, Dia pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik.

 

Bila menghadapi masalah, maka berseru kepada Tuhan adalah langkah iman yang tepat bagi kita.

 

July 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

TIGA MODEL KESETIAAN ORANG KRISTEN

Artikel oleh:

2 Timotius 2: 3 – 7

Soldier

By: Pdt. Rudy Suwardi

Pada awal abad 20, sebuah surat kabar di London memuat sebuah iklan yang isinya: “Diperlukan orang-orang yang mau bergabung dalam sebuah ekspedisi yang berbahaya. Gaji kecil, amat sangat dingin, berbulan-bulan dalam kegelapan, senantiasa berhadapan dengan bahaya. Diragukan akan kembali dengan selamat. Penghargaan dan pengakuan tersedia apabila sukses.”  Ribuan orang menanggapi iklan itu. Bp/Ibu terkejut? Ternyata iklan itu dipasang oleh seorang penjelajah Kutub Utara yang sangat terkenal, Sir Ernest Shackleton. Nama itulah yang membuat ribuan orang tertarik menanggapi  iklan tersebut,.

Warren Wiersbe, seorang penulis dan dosen Kristen dalam bukunya “Be Faithful” membuat analogi dari iklan tersebut. Katanya, apabila Yesus memasang iklan untuk mencari pengerja, isinya mungkin akan berbunyi: “Diperlukan laki-laki dan perempuan untuk tugas yang sulit, membantu membangun gereja-Ku. Engkau akan sering salah dimengerti, bahkan juga oleh mereka yang bekerja sama denganmu. Engkau akan senantiasa menghadapi serangan dari musuh yang tidak kelihatan. Engkau mungkin tidak akan melihat hasil dari pekerjaanmu. Engkau tidak akan menerima upah secara penuh sampai seluruh pekerjaanmu selesai. Engkau mungkin harus membayar harga dengan keluargamu, ambisimu, bahkan hidupmu.”

Meskipun iklannya berbunyi demikian, Yesus menerima banyak aplikasi/lamaran dari orang-orang yang bersedia menyerahkan diri mereka. Yesus tentu saja seorang Tuan/Majikan yang paling hebat bagi pekerja. Selain itu tugas membantu membangun gereja Tuhan dan memuridkan semua bangsa adalah tantangan yang paling besar bagi setiap orang percaya yang harus ditanggapi dengan menyerahkan hidupnya.

Timotius adalah seorang pemuda yang menanggapi panggilan Kristus untuk memuridkan bangsa-bangsa. Ia adalah salah seorang asisten yang istimewa bagi Paulus. Bersama-sama dengan Titus, Timotius menjalankan tugas-tugas yang sangat sulit di gereja-gereja yang dibangun oleh Paulus. Timotius menghadapi kesukaran, hambatan dan juga oposisi dalam melaksanakan penginjilan di Efesus.

Itulah sebabnya, dalam Surat Yang Kedua Kepada Timotius, Paulus memberikan banyak nasehat dan dorongan agar Timotius tetap kuat dan setia di tengah-tengah kesukaran dan penderitaan. Paulus berpesan agar Timotius jangan mudah menyerah.

Pada ayat-ayat yang sudah kita baca pagi ini, Paulus mendorong Timotius untuk tetap setia dengan mengikuti teladan dari orang-orang yang berasal dari tiga profesi sekuler, yaitu prajurit, olahragawan dan petani.

Pelajaran yang dapat ditarik dari tiga profesi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi Timotius dan para penginjil pada umumnya, tetapi juga bermanfaat bagi setiap orang yang melayani Tuhan. Bahkan, setiap orang Kristen perlu belajar tentang kesetiaan dari prajurit, olahragawan dan petani.

Karena itulah kotbah pagi ini saya beri judul “Tiga Model Kesetiaan Orang Kristen”  Marilah kita simak satu persatu.

 

1.    DEDIKASI SEORANG PRAJURIT

Model kesetiaan pertama yang akan kita pelajari adalah dedikasi seorang prajurit. Ada tiga karakter yang perlu kita teladani dari seorang Baca selanjutnya »

July 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from 2 Timothy (Renungan Alkitabiah dari Kitab 2 Timotius)  belum ada komentar

Saling Mendukung

Artikel oleh:

Bergandengan

“Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh” (Yeremia 26 : 24)

Di dalam pelayanan, kita tidak dapat berjuang sendiri. Kita membutuhkan rekan-rekan pelayanan yang saling mendukung dan memperhatikan.  Dalam bagian ini kita membaca tentang konspirasi “istana raja” dan “rumah Tuhan” (26:10).  Raja, imam dan nabi bersekongkol untuk membunuh Yeremia karena berita yang ia sampaikan adalah tentang kehancuran Israel, sekalipun Yeremia telah berkali-kali menegaskan bahwa ia adalah utusan Allah. Persekongkolan itu telah membunuh seorang nabi lain yang bernama Uria (26:20-24), tetapi mereka tidak puas sebelum darah Yeremia juga ikut ditumpahkan.

Akan tetapi, kali ini kita mendapatkan kisah dengan nada yang lain. Yeremia menemukan orang-orang yang membela dia dan bahkan melindungi dia (26:16-19, 24). Sekalipun tidak dikenal satu per satu oleh Yeremia, mereka adalah orang-orang yang dapat dia sebut sebagai sahabat, yang menguatkannya di kala ia mengalami tekanan.

Sebenarnya, itulah salah satu kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita di dalam pelayanan, yakni perasaan ditopang dan ditemani oleh sahabat-sahabat di kala kita mengalami kesusahan. Tekanan dan kesusahan akan menjadi tidak terpikulkan bila kita merasa berjuang sendiri. Kesepian secara rohani bisa melumpuhkan seluruh daya juang kita (bandingkan dengan pengalaman nabi Elia, 1 Raja-raja 19:9-10).

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya pergi berdua-dua. Perasaan sebagai satu tubuh yang saling memikul beban akan menguatkan kita di dalam pelayanan dan kehidupan kita. Rekan kerja yang sehati dan keluarga yang saling menopang akan menjadi modal yang berharga sekali dalam menjalankan mandat dan pekerjaan Tuhan di dalam masyarakat yang memusuhi kebenaran Tuhan.

 

Betapa pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat untuk membantu kita makin diperkuat dalam iman dan pelayanan kita kepada Tuhan.

July 15, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar

Buah Yang Baik

Artikel oleh:

Buah

“Keranjang yang satu berisi buah ara yang sangat baik seperti buah ara bungaran, tetapi keranjang yang lain berisi buah ara yang jelek, yang tak dapat dimakan karena jeleknya” (Yeremia 24 : 2)

 

Tuhan berfirman, “Apa yang kau lihat?” Jawab Yeremia, “Buah ara, buah yang baik itu sangat baik dan buah ara yang jelek yang tak dapat dimakan karena jeleknya.” Buah ara adalah buah asli di Palestina dan ada 3 jenis buah ara. Dan jenis buah ara yang dimaksud di sini adalah buah ara bungaran, jenis yang paling digemari karena segar dan enak. Pohon ara dalam Alkitab sering dihubungkan dengan janji-janji Allah lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Dua keranjang buah ara yang Tuhan berikan melambangkan harapan dan hukuman.  Buah ara yang baik melambangkan orang buangan, tapi Allah memberikan kasih karunia-Nya dengan memberi mereka suatu hati yang mengenal Dia dan membawa mereka kepada pertobatan dengan segenap hati. Allah berjanji akan menjadikan mereka umat kepunyaan-Nya. Allah akan memperhatikan dan mengarahkan mata-Nya dan melimpahkan kebaikan. Allah akan mengembalikan mereka pada tanah perjanjian, akan membangun tidak meruntuhkan, akan menanam tidak mencabut (ayat 4-7). Buah ara yang jelek melambangkan raja Zedekia dan para pengikutnya yang masuh tertinggal. Allah akan memberikan hukuman yang mengerikan, Allah akan mencerai-beraikan mereka, mendatangkan kutuk, perang, kelaparan, penyakit, sampai mereka lenyap dari tanah perjanjian.

Mari kita jadi buah ara yang baik. Mungkin saat ini Tuhan mengijinkan kita ada dalam “masa pembuangan”, seolah-olah terasing, banyak kesulitan bahkan penderitaan. Ingatlah, Tuhan memberi kita hati yang mengenal Dia. Dia pasti akan membawa kita mengalami penggenapan janji-janji-Nya. Tuhan selalu memperhatikan dan mengarahkan mata-Nya untuk melimpahkan kebaikan-kebaikan-Nya.  Tuhan akan membangun seluruh aspek kehidupan kita dan tidak akan menghancurkannya.  Kita makin tertanam dan tidak tercabut dari kasih karunia dan anugerah-Nya.

 

Kenali Tuhan makin dalam dan biarlah semua peristiwa dalam hidup kita membawa kita pada pertobatan yang sungguh-sungguh, sehingga menghasilkan buah yang baik.

July 14, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Jeremiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Yeremia)  belum ada komentar