Yesus Memberi Kepuasan

Artikel oleh:

Roti

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi …” (Yohanes 6 : 35)

 

Di tengah kerumunan banyak orang, Yesus menyatakan diri sebagai Roti Kehidupan. Kalimat itu bukan tanpa makna, bukan juga tanpa kelanjutan. Jika Yesus menyatakan diri sebagai Roti Kehidupan, maka diri-Nya seharusnya tampak dalam diri setiap orang yang memakan Roti Kehidupan itu.  Dengan kata lain, setiap orang yang mendengar perkataan itu ditantang untuk menjalani hidup sebagai murid Kristus. Dan tidak mungkin seseorang yang mengakui diri sebagai murid Kristus itu tidak mengakui bahwa Yesus memiliki hubungan yang unik dan istimewa dengan Bapa yang telah mengutus Yesus.

Yesus menolak murid-murid yang mengerumuni-Nya secara spontan atau karena tertarik secara intelektual. Murid sejati adalah setiap orang yang berusaha terlibat dalam persekutuan dengan Kristus dan Bapa-Nya. Percaya berarti menyadari bahwa diri kita secara mutlak bergantung kepada Allah. Percaya berarti menerima bahwa berkat Kristus, manusia memperoleh kebangkitan dan Baca selanjutnya »

September 26, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Karena Yesus Sanggup

Artikel oleh:

ikan

Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. ( Yohanes 6:6,11)

 

 

Tuhan Yesus mampu memberi makan kepada begitu banyak orang hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan.  Suatu peristiwa yang dilakukan oleh Yesus untuk meneguhkan kuasa dan kesanggupan-Nya.  Namun, ternyata kita juga tidak boleh melupakan orang-orang yang turut andil dalam peristiwa ajaib ini. Yaitu orang-orang yang ikut menentukan terjadinya mujizat tersebut.  Mereka memang bukan pembuat mujizat, karena hanya Yesuslah satu-satunya yang sanggup melakukan mujizat. Tetapi orang-orang ini sangat berpengaruh terhadap mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus.

Disitu terdapat Andreas, yang sangat berbeda perangainya dengan Filipus.  Filipus adalah seorang yang kurang beriman kepada Tuhan.  Filipus seakan-akan mengatakan “keadaan ini sangat gawat dan tak ada satu pun yang dapat dilakukan”. Sedangkan Andreas adalah orang yang mengatakan: “Akan aku coba apa yang dapat aku lakukan, dan aku yakin bahwa Yesus akan melakukan yang selebihnya”.  Andreaslah yang membawa anak laki-laki kecil yang memiliki 5 roti dan 2 ekor ikan kepada Yesus sehingga dengan Baca selanjutnya »

September 25, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Bersama Yesus

Artikel oleh:

Kolam

“Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”. (Yohanes 5 : 14)

 

Di Yerusalem terdapat sebuah kolam yang terkenal pada masa itu, yaitu kolam Betesda. Pada saat-saat tertentu kolam Betesda itu bergoncang dan goncangan-goncangan yang terjadi pada kolam itu dipercaya bahwa malaikat yang menggoncangkannya. Dengan demikian siapa pun orang yang sakit yang pertama-tama masuk ke kolam pada saat kolam itu bergoncang maka orang itu dipercaya bisa mengalami kesembuhan, apapun penyakit yang dideritanya. Tidak heran begitu banyak orang sakit datang ke kolam itu dan menunggu terjadinya goncangan.

Orang zaman dulu percaya kepada roh-roh tertentu, baik roh jahat maupun roh yang baik. Bagi masyarakat zaman sekarang hal itu hanyalah takhayul, tetapi orang-orang zaman dulu mempercayainya sebagai suatu kebenaran.  Kepercayaan itulah yang diyakini oleh orang-orang sakit yang sedang antri di pinggir kolam Betesda menunggu goncangan kolam itu.  Tetapi masalahnya bukanlah tentang kolam itu, tetapi fokus kepada seseorang perlu dikasihani dan membutuhkan pertolongan.  Dia adalah seorang yang sudah sangat menderita. Selama tiga puluh delapan tahun dia mengalami penderitaan sakit dan ia sama sekali tidak mempunyai penolong. Baca selanjutnya »

September 24, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Yesus Air Kehidupan

Artikel oleh:

Yesus

               Bacaan ini tentang sebuah kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di pinggir sumur. Tepat tengah hari di saat terik-teriknya, Yesus duduk melepas lelah di pinggir sebuah sumur. Pada saat itu datanglah seorang perempuan Samaria. Ada beberapa hal yang menarik untuk kita simak lewat sosok perempuan Samaria ini.  Pertama, ia jelas berasal dari bangsa Samaria. Menyandang status sebagai orang Samaria pada masa itu tidaklah terpandang di mata orang Yahudi.   Sejarah mencatat bahwa orang Samaria dan Yahudi memiliki catatan perseteruan yang panjang.   Kedua, ia adalah seorang perempuan. Dalam status budaya saat itu perempuan bukanlah ditempatkan diposisi utama. Pria memiliki status yang lebih tinggi dari perempuan pada saat itu.   Ketiga, kita bisa melihat bahwa perempuan Samaria ini adalah orang yang sudah gagal dalam urusan cinta.  Lima kali menikah, dan setelahnya tinggal bersama pria yang bukan suaminya. Ini menunjukkan bahwa ia telah kenyang mengalami kegagalan dalam percintaan.

Hal-hal diatas cukup menjadi alasan bagi bangsa Yahudi untuk tidak mempedulikannya. Tapi Yesus tidaklah demikian. Yesus Baca selanjutnya »

September 23, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Hidup Yang Dibaharui

Artikel oleh:

Hidup

               Pasal ini diawali dengan pertemuan antara Nikodemus dengan Tuhan Yesus.  Dimana dituliskan bahwa Nikodemus itu datang menemui Yesus pada malam hari.  Cerita Injil ini memiliki kebenaran dan makna yang dalam bagi setiap orang, bahwa tidak seorangpun manusia yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa Kristus dalam hidupnya. Kepada Nikodemus, Yesus menekankan bahwa setiap orang yang mau melihat dan mengalami kerajaan Allah dalam hidupnya maka yang terpenting adalah adanya suatu perubahan di dalam hidup batiniah seseorang sedemikian rupa, yaitu suatu perubahan hidup yang disebut sebagai kelahiran baru. Istilah yang dipakai oleh Yesus adalah “Kelahiran Kembali”.

Tentang hal itu William Barclay menjelaskannya sebagai berikut: “Dilahirkan kembali adalah sama dengan mengalami suatu perubahan yang benar-benar radikal seperti suatu kelahiran baru; perubahan itu adalah sesuatu yang terjadi di dalam jiwa dan hanya dapat dijelaskan dengan ungkapan dilahirkan kembali sekali lagi; dan seluruh proses perubahan itu bukan karena kemampuan manusia, sebab perubahan itu terjadi karena anugerah dan kuasa Allah”. Dan Barclay juga melanjutkan, “Perubahan itu terjadi kalau Baca selanjutnya »

September 22, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

RAHASIA HIDUP PENUH SUKACITA

Artikel oleh:

FILIPI 1: 12-26

Sukacita

by: Pdt. Rudy Suwardi

Kebanyakan orang tidak menikmati hidupnya.  Mereka hanya sekedar bertahan dalam menjalani hidupnya. Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak dapat mengalami sukacita akibat banyaknya masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Hidup mereka haruslah sempurna untuk bisa merasakan sukacita.

Tetapi kita semua tahu, tidak ada kehidupan di dunia ini yang bebas dari masalah. Jika Sdr menunggu sampai Sdr terbebas dari semua persoalan, maka Sdr tidak akan pernah mengalami sukacita. Jika Sdr ingin belajar bagaimana bisa mengalami sukacita, maka Sdr harus melakukannya di tengah-tengah persoalan yang sedang Sdr hadapi.

Pertanyaan saya, menurut Sdr, siapakah yang memiliki gaya hidup yang paling sempurna?  Milyuner?  Celebrities?  Pengusaha? Eksekutif?  atau Pensiunan?

Sdr, saya beritahu jawabannya; mereka yang memiliki gaya hidup yang sempurna bukanlah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan materi. Mereka yang memiliki gaya hidup yang sempurna adalah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan sukacita.

Patut disayangkan, banyak orang tidak memiliki sukacita dalam hidupnya. Kalau sekarang kita menyebarkan sebuah angket survei, saya yakin, hasilnya adalah banyak orang yang hidup dari hari ke hari, hanya sekedar berusaha melewatinya. Karena itu banyak karyawan dalam hidupnya mempunyai semboyan TGIF: Thanks God It’s Friday. Terima kasih Tuhan, ini hari Jum’at dan besok adalah Sabtu dan Minggu.  Banyak orang hidup hanya menunggu weekends/ akhir minggu. Pada hari-hari lainnya mereka sekedar menjalani hidup tanpa sukacita.

Sdr,  kita semua pasti pernah merasakan sukacita. Jika Sdr pergi ke pekarangan sebuah sekolah, Sdr akan menjumpai kira-kira 90% anak-anak yang ada di sana sedang bersukacita. Apakah mereka punya masalah? Tentu saja.  Apakah mereka bersuka cita? Tentu saja. Sukacita bukanlah suatu keadaan tanpa persoalan, sukacita adalah sikap yang Sdr pilih terlepas dari persoalan yang sedang Sdr hadapi.

Kegembiraan atau kegirangan adalah terjemahan dari  “happiness.”  Happiness  sangat  tergantung dari happenings atau kejadian. Karena itu kegembiraan bersifat eksternal, sedangkan sukacita atau joy bersifat internal.

Sdr merasakan kegirangan/kegembiraan di Disneyland atau di Dunia Fantasi. Tetapi ketika Sdr keluar meninggalkan tempat itu, kegembiraan itu hilang. Sedangkan sukacita itu bersifat konstan atau berlangsung terus menerus.

Lalu bagaimana Sdr dapat terus merasakan sukacita terlepas dari situasi  yang sedang Sdr hadapi dalam hidup ini?

Pagi ini kita akan belajar dari orang yang memiliki sukacita paling besar dalam hidupnya.  Namanya adalah Paulus. Izinkan saya terlebih dahulu memberikan gambaran latar belakang dari kisah dalam perikop bacaan kita.

Paulus sedang berada dalam keadaan yang dari luar tampaknya sangat menyedihkan. Bayangkan, ia ditangkap dan sedang menjadi tahanan di suatu rumah di Roma untuk suatu kasus yang direkayasa. Ia sedang menunggu digelarnya sidang pengadilan yang kemungkinan hukumannya adalah hukuman mati. Sidang pengadilan itu rencananya akan digelar di hadapan Kaisar Nero yang sangat tidak menyukai orang-orang Kristen.

Dalam perjalanan ke Roma, kapal yang ditumpangi Paulus kandas, ia terdampar di sebuah pulau dan terkena gigitan ular beracun. Semuanya itu terjadi sebelum Paulus sampai di Roma dan kini ia akan tinggal selama 2 tahun dalam rumah tahanan di Roma.

Dalam rumah tahanan itu Paulus tidak mempunyai kebebasan. Selama 24 jam sehari Paulus dibelenggu dengan rantai pada tangan kanannya yang diikatkan pada tangan kiri prajurit Romawi. Prajurit Romawi itu berganti setiap 6 jam. Para prajurit itu bertugas untuk memastikan bahwa Paulus tidak melarikan diri.

Sdr pasti berpikir betapa sengsaranya Paulus menghadapi situasi demikian.

Tetapi apa yang dikatakan Paulus? Dalam ayat 18b ia berkata, “Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.”

Apa rahasia Paulus? Bagaimana ia dapat bersukacita dalam keadaan dibelenggu di dalam rumah tahanan?

Dalam bacaan kita pagi ini Paulus mengungkapkan tiga rahasia untuk memiliki hidup yang dipenuhi sukacita. Baca selanjutnya »

September 19, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Philipians (Renungan Alkitabiah dari Kitab Filipi)  belum ada komentar

Kuduskan Bait Allah!

Artikel oleh:

Bait Allah

                  Yesus sangat kecewa ketika berkunjung ke Bait Allah atau Rumah Tuhan itu.  Rumah tempat berdoa dan beribadah telah menjadi tempat berdagang atau berjual beli.  Tempat kudus telah menjadi “sarang penyamun”.  Orang Yahudi yang datang dari jauh membutuhkan lembu, domba dan burung merpati sebagai persembahan mereka di Bait Suci.  Menyadari akan kebutuhan itu maka banyak yang datang ke Bait Suci bukan lagi untuk tujuan beribadah tetapi berjualan untuk mendapatkan keuntungan. Yang ada di sana bukan saja para pedagang hewan dan penjual burung merpati tetapi juga penukar uang.  Kedatangan para peziarah ke Bait Suci dari seluruh dunia yang membawa bermacam-macam uang logamnya menyebabkan semakin banyaknya penukar uang di sekitar Bait Allah.  Hal itu disebabkan pula karena hanya uang Yahudi yang dapat dipakai sebagai pemberian untuk Bait Allah sedangkan uang logam lainnya dianggap asing dan tidak bersih.  Tentu saja keuntungan yang diperoleh dari para penukar uang itu sangat besar.

Jadi, mengapa Yesus marah dan mengusir para pedagang di Bait Allah itu, yakni:  Karena Rumah Allah dinajiskan.  “Dinajiskan” berarti ada kekotoran-kekotoran jasmani dan rohani ketika melakukan ibadah kepada Allah. Salah satunya dengan Baca selanjutnya »

September 19, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Arti Kehadiran-Nya

Artikel oleh:

Arti

              Masalah besar terjadi dalam sebuah pesta di Kana.  Masalah tersebut turut juga mengusik hati Maria ibu Yesus yang hadir di pesta itu karena menurut beberapa tulisan kuno bahwa Maria adalah bibi dari pengantin pria.  Pada masa itu (entah sampai sekarang) anggur merupakan hal yang sangat penting dalam pesta Yahudi.  Para rabi mengatakan, “tanpa anggur tak ada sukacita”. Bukan karena orang-orang tersebut datang ke pesta untuk mabuk karena kebanyakan minum anggur, tetapi karena anggur memang merupakan minuman penting bagi orang Timur Tengah. Bahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari selalu ada persediaan anggur. Jadi, kehabisan anggur dalam pesta kawin adalah penghinaan bagi kedua mempelai. Dan Maria tahu hal itu, makanya ia datang kepada Yesus dan menyampaikan masalah itu kepada-Nya.

Walaupun jawaban Yesus kepada Maria ibu-Nya tersirat ungkapan penolakan, yaitu: “mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba”, tetapi Maria tetap percaya kepada Yesus.  Terbukti, dimana Maria memberitahu para pelayan supaya menaati Baca selanjutnya »

September 18, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Yohanes Pembaptis, Sang Perintis

Artikel oleh:

Yohanes

          Mengenai diri Yohanes yang terkenal dengan sebutan “Yohanes Pembaptis” Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya, diantara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Mat 11:11). Keagungannya itu sesuai dengan kedudukannya sebagai perintis atau pelopor kedatangan Mesias. Bahkan kepadanya diberikan kehormatan yang tinggi untuk membaptiskan Yesus.

Yohanes Pembaptis menjadi orang terkenal pada zamannya sehingga berbondong-bondong orang datang kepadanya sambil mendengarkan perkataan-perkataannya.  Banyak orang yang memberi diri dibaptis dan menjadi pengikutnya.  Bahkan mereka mengira dialah Mesias (Luk 3:15), tetapi ia mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias itu, dan juga bukanlah Elia seperti yang mereka sangka (ay 21).  Pertanyaan-pertanyaan menyelidik dilontarkan kepadanya, khususnya dari utusan pemimpin agama di Yerusalem mengenai siapakah dirinya yang sebenarnya.  Yohanes dapat saja dengan jujur menjawab, “Aku adalah anak zakaria, imam itu.  Aku telah dipenuhi Roh Kudus sejak lahir”. Tetapi dengan kerendahan hati ia menjawab, “Akulah orang yang berseru-seru di padang gurun”. Yohanes menyebut dirinya “suara”. Istilah yang dipakai oleh Roh Kudus pada masa PL ketika Roh Kudus berbicara melalui nabi Yesaya, “Adalah bunyi suara orang yang berseru-seru di Baca selanjutnya »

September 17, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar

Firman Yang Menjadi Manusia

Artikel oleh:

 Firman

                  Siapakah “Firman” itu?  Tidak lain adalah Yesus Kristus, Tuhan kita.  Dialah Firman Allah yang mengutarakan atau mengungkapkan pikiran, kehendak dan isi hati Allah.  Kristus adalah pernyataan Allah yang sempurna. Jadi, jika kita mau memiliki pengertian yang lebih dalam dan lengkap tentang Allah, maka tidak ada cara lain selain kita harus mempelajari pribadi dan karya Yesus; meneliti dan merenungkan keagungan sang Juruselamat kita itu; sebab Dialah “Firman yang telah menjadi manusia”. Dengan pengenalan seperti itu maka kita akan “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar” tentang Allah, (Kolose 1:10).

Manusia dengan segala kemegahan dan kekayaan serta keahliannya tidak akan mampu mengadakan sehelai daun rumput.  Yang hanya bisa dilakukan oleh manusia adalah daun yang imitasi yang terbuat dari plastik ataupun benda mati lainnya.  Tetapi “Firman” itu telah menjadikan segala sesuatu.  Oleh Firman-Nya yang berkuasa semuanya tercipta.  Jadi Dia bukanlah ciptaan tetapi sebagai Pencipta.  Sebagaimana Dia sudah Baca selanjutnya »

September 16, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  belum ada komentar