Teguh Dalam Panggilan-Nya

Artikel oleh:

Teguh Dalam PanggilanNya

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.  Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung” (2 Petrus 1 : 10) 

 

Rasul Petrus merasa bahwa sebelum ia menanggalkan kemah tubuhnya, ia berkewajiban untuk mengingatkan kepada orang percaya yang menerima dan membaca suratnya akan pangilan dan pilihan Allah atas mereka. Petrus juga berharap bahwa sesudah kepergiannya mereka tetap mengingat semua yang ia ajarkan. Karena Allah telah mengaruniakan segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh oleh pengenalan akan Dia, maka orang percaya harus terus berjuang untuk menambahkan kepada imannya kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Semua itu akan membuat orang percaya menjadi giat dan berhasil dalam usahanya untuk mengenal Kristus Yesus dengan benar.

Perjuangan selanjutnya adalah berusaha sungguh-sungguh supaya panggilan dan pilihan Allah makin teguh. Hasilnya adalah karunia hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat manusia, Yesus Kristus. Luar biasa berkat yang terkandung dalam panggilan dan pilihan Allah atas kita. Dan bila kita mengerti dan menyadari akan hal itu, maka kita tidak akan mudah melepasnya, bahkan kita pasti akan berjuang untuk mempertahankannya apa pun tantangannya.

Namun memang benar bahwa tantangan kedepan akan semakin berat, untuk itu kita harus lebih lagi bersungguh-sungguh berusaha supaya panggilan dan pilihan Allah atas kita semakin teguh. Paulus lebih meyakinkan hal itu dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, “Teramat besar kekayaan kemuliaan yang terkandung dalam panggilan Allah yang menjadi bagian kita, maka, berusahalah sungguh-sungguh supaya panggilan dan pilihan-Nya atas kita makin teguh” (Efesus 1:18).

 

Ingat, banyak yang dipanggil tapi sedikit yang terpilih, untuk itulah kita harus memperkuat panggilan-Nya atas hidup kita.

 

April 22, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Gembalakanlah!

Artikel oleh:

Gembalakanlah!

“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri”. (I Petrus 5 : 2)

 

Umat Allah atau orang-orang milik Allah seringkali dilukiskan sebagai kawanan domba. Tuhan memanggil Saudara menjadi gembala atas sejumlah kawanan domba atau orang-orang milikNya itu. Gembala artinya: penjaga dan pemelihara. Mungkin karena kemudaan Saudara saat ini, Tuhan baru akan mempercayakan sejumlah orangNya agar Saudara pimpin, jaga dan tanggungjawab beberapa tahun kemudian, namun Dia ingin agar Saudara sekarang berlatih dan mempersiapkan diri, minimal dengan menjaga dan memelihara diri sendiri. Dengan kerangka berpikir itu kita akan sadar bahwa ayat di atas tertuju kepada semua orang Kristen dewasa, bukan hanya kepada segelintir orang yang bertugas sebagai pendeta, penginjil, penatua atau pemimpin organisasi kristen. Besar atau kecil, dalam berbagai bentuk, kita semua adalah penjaga dan pemelihara sejumlah orang yang dipercayakan ada di dekat kita.

Ada tiga hal yang ingin disampaikan firman itu kepada kita. Pertama: sebagai penjaga atau gembala, kita dipanggil bertanggungjawab atas kehidupan orang lain juga, tidak hanya diri sendiri saja. Kedua: kita dipanggil menjaga dan memelihara milik Allah dan bukan milik kita pribadi. Orang-orang yang dipercayakan kita pimpin dan arahkan itu adalah milik Allah, sebab itu kita bukan saja harus berhati-hati tetap kelak harus mempertanggungjawabkannya kepada sang empunya, yaitu Allah. Ada satu hal yang harus kita ingat: kita tidak boleh melakukan kekerasan kepada kepunyaan Allah itu dan harus selalu menjaga dan memeliharanya sesuai dengan keinginan Sang Pemilik. Ketiga: kita adalah orang-orang yang tadinya berhutang kepada Allah namun dihapuskanNya, berdosa namun diampuniNya, dan menerima begitu banyak berkat dan belas kasihanNya.

Allah memanggil saudara menjadi gembala atau penjaga atas sejumlah orang milikNya. Mereka itu bisa jadi anggota keluarga atau anggota persekutuan, tetangga atau sahabat.

Kerjakanlah tugas penjaga dan pemelihara itu sebaik-baiknya sesuai kehendak Allah.

 

April 21, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Menderita Karena Benar

Artikel oleh:

Menderita Karena Benar

“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar” (1 Petrus 3 : 14)

 

Pada umumnya tidak ada seorang pun yang mau menderita. Yang dicari tentu saja yang sebaliknya, yaitu “kebahagiaan”!  Penderitaan, bukanlah sesuatu yang nyaman. Penderitaan, bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Terhadapnya, komentar kita pun mungkin bernada sama: “Amit-amit, jangan sampai mengenai kita, sebab mendengar namanya saja sudah tak mengundang selera!”.

Tapi alangkah terkejutnya kita, bahwa dari ayat 14 pembacaan kita ini ternyata terdapat juga jenis penderitaan dalam kehidupan orang percaya yang membawa kebahagiaan! Penderitaan macam apa itu? Menurut nas ini yaitu menderita karena berbuat “kebenaran”! Bukan menderita karena dosa, atau menderita karena hukuman Tuhan seperti kebanyakan orang fahami.  Memang, apa pun di dunia ini pasti ada resikonya., termasuk mengalami penderitaan. Itulah sebabnya, orang semakin enggan mengatakan dan melakukan yang benar. Merasa lebih aman jika menyembunyikan kebenaran. Namun penderitaan karena kebenaran seperti  ini berujung pada kebahagiaan.  Penderitaan hanyalah sebuah proses atau sebuah jembatan yang menghantar seseorang pada kebahagiaan, walau pun proses penderitaan itu memang tidaklah mengenakkan.

Orang-orang Kristen yang menyadari hakikatnya sebagai pengikut Kristus adalah orang-orang Kristen yang mampu mempersepsikan dirinya dalam pengabdian dan pelayanannya di tengah-tengah dunia di mana ia hadir di dalamnya.  Orang Kristen yang tidak mau berbuat kebenaran karena takut menderita adalah orang-oramg Kristen yang telah kehilangan kesadaran akan panggilannya di tengah-tengah dunia di mana ia ditempatkan.  Tugas orang Kristen atau gereja bukan sekedar nikmat-nikmat rohani saja; atau penjaja doa dan mujizat, pengusir penderitaan yang sementara semata! Kalau hanya itu, maka akan menjadi orang Kristen yang pincang dan mandul secara rohani.

Melakukan kebenaran dengan resiko penderitaan hanya dapat dikenakan oleh orang-orang Kristen yang sungguhan; bukan yang tiruan. Dan selanjutnya, kebahagiaan yang sesungguhnya akan diberikan oleh Allah sendiri secara absolut tak meragukan, tanpa rekayasa apalagi kekeliruan! Apakah anda juga termasuk hitungan?

Menderita karena kebenaran adalah mulia dan  Alkitabiah!

 

April 19, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Berbuat Baik, Berkata Benar

Artikel oleh:

Berbuat Berkata BEnar

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat”. (1 Petrus 3:12)

 

Di dalam masyarakat dan negeri yang normal, orang-orang berhati dan bekerja benar dan baik akan hidup senang dan sejahtera, sebaliknya orang-orang yang tidak benar akan hidup susah. Namun di masyarakat kita yang sedang amburadul yang terjadi seringkali sebaliknya. Orang-orang jujur, tulus, bekerja keras dan selalu taat hukum dan moral bisa-bisa malah hidup susah dan melarat. Bahkan pernah di negeri ini orang yang mencoba hidup benar justru dikurung dalam penjara sebaliknya orang-orang jahat, hidup bebas bernikmat-nikmat. Lantas bagaimana?

Rasul Petrus mengingatkan dalam suratnya bahwa iman dan kebajikan kita tidak serta-merta membuat hidup kita di dunia ini aman, tenteram dan nyaman serta berkelimpahan materi. Ada kalanya iman dan kebajikan kita justru membuat kita menderita. Dan kita tidak usah terlalu kaget, sebab hal itu sudah lebih dulu dialami oleh Yesus dan para nabi dan rasul Kristus. Mereka semua benar dan baik, namun hidup malah menderita. Selanjutnya bukan sekedar tidak kaget, tetapi agar kita tidak kapok atau jera berbuat baik dan benar. Dengan kata lain kesusahan atau penderitaan tidak boleh dijadikan alasan menghentikan berbuat dan berkata benar.

Namun, Rasul Petrus tidak hanya mengingatkan, dia juga mau menghibur kita yang menganggap penderitaan kita tidak adil sebab merupakan ganjaran kebenaran dan kebajikan kita.  Dia mengatakan mata dan telinga Tuhan tetap tertuju kepada orang-orang benar yang terjepit dan berteriak minta tolong. Tuhan tidak akan meninggalkan orang-orangNya yang mengikut Yesus berbuat benar sekali pun kebenaran itu memiliki resiko yang tak menyenangkan.

 

Kesusahan atau penderitaan tidak boleh dijadikan alasan menghentikan kita untuk berbuat dan berkata benar.

 

April 18, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Reaksi Terhadap Penderitaan

Artikel oleh:

Reaksi Terhadap Penderitaan

“Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah”. (1 Petrus 2:20b)

 

Hidup kekristenan tidak selamanya berlangsung dengan penuh ketenangan. Ada masa-masa dimana penderitaan, baik secara fisik atau emosi terjadi dalam kehidupan kita. Kedekatan kita dengan Allah menentukan reaksi apa yang akan timbul karenanya.  Dari ayat ini, ada beberapa hal yang dapat kita renungkan :

1. Menderita karena berbuat baik.  Dalam beberapa bagian di perikop ini, dengan jelas disebutkan mengenai penderitaan yang Yesus alami sebagai manusia. Meskipun tujuan kedatangan-Nya adalah untuk sesuatu yang sangat baik, yaitu menebus dosa seluruh umat manusia, tapi Yesus mengalami berbagai penderitaan yang tidak selayaknya diterima. Demikian juga kadangkala kita mengalami penderitaan, disalahmengerti, bahkan difitnah karena berbuat baik, justru hal tersebut merupakan kebanggaan sebagai pengikut Kristus.

2. Belajar dari Tuhan Yesus.  Sebagai Pribadi yang sering mendapat perlakuan tidak adil, Yesus memberi teladan yang luar biasa. “Ketika dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi menyerahkannya kepada Dia yang menghakimi dengan adil” (ayat 23).

Hanya dengan persekutuan yang erat dengan Allah serta pengenalan kita akan firman-Nya, kita dapat bereaksi dengan benar ketika suatu saat kita merasa diperlakukan tidak adil, bahkan ketika mengalami penderitaan. Ketidakadilan akan selalu terjadi, dan mungkin kita sedang “menunggu giliran” untuk mengalaminya. Allah mau agar kita memiliki respon yang berbeda dibanding orang-orang yang belum mengenal Tuhan.  Miliki sikap hati dan respon yang benar terhadap hal tersebut, supaya pembentukan Allah boleh berjalan sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Kasih karunia Allah cukup bagi kita.

 

Jangan pernah menolak penderitaan, jika hal itu memang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita.

 

April 17, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Yesus Sebagai Batu Penjuru

Artikel oleh:

Yesus Sebagai Batu Penjuru

“Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan” (1 Petrus 2 : 6) .

 

Kekudusan dan kecemaran tidak dapat disandingkan, maka, jika mau mengejar kekudusan tidak bisa tidak segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan dan fitnah harus dibuang dari kehidupan setiap orang percaya. Membuang segala bentuk kejahatan menjadikan seorang secara rohani kembali menjadi sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan rohani, yakni firman Tuhan demi pertumbuhan rohaninya.

Dan untuk itu semua hanya bisa ditemukan didalam Yesus Kristus. Allah sendiri telah memilih dan menetapkan Yesus Kristus sebagai batu penjuru yang hidup sekalipun Ia ditolak dan dibuang oleh manusia. Bagi setiap orang yang percaya, Ia mahal, tapi bagi mereka yang tidak percaya, Ia menjadi batu sentuhan dan batu sandungan. Mereka yang percaya, mereka juga yang telah dipilih-Nya dan yang datang kepada-Nya, juga akan dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani yang dibangun diatas dasar Batu Penjuru yang mahal tersebut.

Agama bukan jaminan bahwa seorang telah menempatkan Allah benar-benar sebagai Allah dalam hidupnya.  Demikian juga dalam iman kekristenan, tidak semua orang yang beragama Kristen telah menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Kenyataanya masih banyak orang yang tersandung dengan kebenaran didalam-Nya sehingga dapat dengan mudah melepas imannya. Kita tidak akan pernah dapat dibangun atau bertumbuh dalam iman jika tidak didalam Dia, dan itu berarti kita harus benar-benar menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.  Seperti yang Paulus tuliskan dalam 1 Korintus 3 : 10-11 yang berbunyi: “Baiklah setiap kita memperhatikan bangunan rohaninya, adakah kita sudah membangun diri diatas Batu Penjuru yang hidup atau masih diatas kebenaran diri sendiri, sebab jika tidak demikian bangunan itu akan mudah runtuh”.

 

Bangunlah diri Anda diatas dasar iman yang paling suci.

April 16, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Firman Allah Yang Murni

Artikel oleh:

Firman Allah Yang Murni

“Tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya” (1 Petrus 1 : 24b)

 

Banyak orang beranggapan bahwa mereka hidup dengan Firman Allah ketika mereka membaca Firman Allah setiap hari dengan beberapa terjemahan Alkitab bahasa Inggris dan beberapa komentari! Apakah artinya hidup dengan “setiap Firman” Allah?  Ini berarti kita harus membaca, mempelajari, merenungkan, meneliti, dan mencerna “setiap Firman” Allah dengan hati yang penuh doa, mau diajar, penuh iman, dan taat. Ini berarti bahwa ketika kita membaca Alkitab, kita berdoa, “Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1Sam. 3:9) dengan percaya, takut dan gentar, “Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku” (Yes. 66:2).

Setiap Firman Allah adalah susu murni untuk pertumbuhan rohani kita, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh” (1Ptr. 2:2).  Sehingga kita harus menerima, bergantung, dan tunduk kepada setiap Firman Allah yang murni, tanpa penambahan, pengurangan, atau modifikasi. Kita harus berhati-hati atas Firman Allah yang tidak murni jika ini didasarkan pada tulisan-tulisan yang bobrok atau diputarbalikkan oleh pikiran, ide, jalan pikiran, filosofi manusia, terjemahan yang berubah-ubah atau kritikan tekstual.

Banyak orang berkata, “Saya suka pendeta itu. Pengajarannya sangat berkuasa. Dia menceritakan begitu banyak cerita dan pengalaman menarik. Dia mengutip banyak perkataan terkenal dari orang-orang besar, dll.” Tetapi mereka gagal memeriksa diri sendiri dan bertanya, “Apa yang Allah katakan lewat Firman-Nya hari ini?” Jika mereka diberi makan dengan cerita, pengalaman makanan sampah, perkataan manusia, maka jiwa mereka tidak akan dikuatkan untuk mengalahkan natur mereka yang berdosa, pencobaan dan keduniawian.

Hanya Firman Allah yang mampu melahirbarukan dan menyucikan kita, “Karena kamu telah dilahirkan kembali… oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal” dan “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (1Ptr. 1:23; Yoh. 17:17).

 

Hanya Firman Allah yang merupakan makanan rohani kita, maka bacalah setiap hari!

April 15, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Iman Yang Dimurnikan

Artikel oleh:

Iman Yang Dimurnikan

“Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1 Petrus 1 : 7)

 

Pencobaan hidup dapat sangat menekan dan menguras emosi. Pertanyaan umum yang sering mengisi pikiran kita ketika kita menghadapi pencobaan adalah “Mengapa?”, “Mengapa ini harus terjadi pada kami, Tuhan?”, “Mengapa ini sangat menyakitkan?”. Tuhan menjawab dengan satu ilustrasi dalam  ayat mas diatas (1 Petrus 1:7).

Proses pemurnian emas digunakan sebagai analogi untuk pemurnian iman orang Kristen lewat berbagai ujian. Ketika kita baru percaya kepada Tuhan, iman kita seperti biji emas yang belum murni yang baru dikeluarkan dari tambang emas. Proses pemurnian ada tiga langkah. Langkah pertama, adalah memisahkan biji emas dari pasir dan kerikil menggunakan air mengalir. Pasir dan kerikil terbuang, sedang emas yang lebih berat tenggelam dan tertinggal. Langkah kedua, menambahkan merkuri kepada emas. Logam cair ini segera menyatu dengan emas dan membuatnya rapuh, sehingga dapat dipisahkan dengan mudah dari bahan lainnya.  Langkah terakhir, proses pemurnian adalah pemanasan terus-menerus, sehingga emas meleleh. Proses ini membuat merkuri yang ditambahkan pada langkah kedua menguap, dan juga membakar zat lain yang tersisa.

Hasil akhirnya adalah emas murni yang sangat berharga dan indah. Emas adalah logam berharga bagi manusia. Bagi kita orang Kristen, iman kita bahkan lebih berharga dari emas. Iman kita perlu dimurnikan seperti emas. Iman kita akan mencapai bentuk terbaiknya, sebuah bentuk yang lebih bernilai daripada emas termurni!  Iman seperti ini akan membawa pujian, hormat, dan kemuliaan bagi Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

 

Meskipun menyakitkan, proses pemurnian itu efektif untuk memurnikan iman Anda kepada Tuhan.

April 14, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Peter (Renungan Alkitab dari Surat Petrus)  belum ada komentar

Tetaplah Berdoa!

Artikel oleh:

Tetaplah Berdoa

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” (Yakobus 5 : 13a)

 

Bagaimana reaksi kita pada waktu kita menghadapi penderitaan? Kecenderungan manusia adalah bersungut-sungut, mengeluh, mengomel, marah, sedih, mengasihani diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain. Padahal semuanya itu bukanlah jalan keluar atau cara yang baik ketika dilanda penderitaan ataupun kesulitan hidup.  Jika kita marah, maka bukan saja diri kita yang makin menderita tetapi orang lain pun kena dampaknya.  Jika kita mengasihani diri, maka kita akan semakin terpuruk dalam penderitaan itu dan hilanglah gairah atau semangat kita.  Jadi, bagaimana cara yang terbaik?  Alkitab memberikan solusi yang benar bagi kita, yaitu dengan berdoa.  Tidak ada cara yang lebih ampuh dari doa.  Berdoa adalah reaksi yang benar ketika mengalami penderitaan sekaligus solusi yang benar.

Bagaimana jika kita dalam keadaan gembira?  Reaksi yang benar bukannya berfoya-foya atau bersenang-senang dengan cara duniawi, tetapi Alkitab jelas mengatakan sebaiknya kita menyanyi memuji Tuhan. Pujian kepada Tuhan adalah obat yang manjur bagi kita dalam menghadapi segala perkara. Pujian merupakan  ekspresi dari sukacita kita atas kasih dan pemeliharaan Tuhan serta berkat-berkat-Nya yang melimpah bagi kita.  Allah pun senang dengan puji-pujian kita kepada-Nya dan Allah hadir dan bertahta diatas setiap pujian yang keluar dari mulut kita.

Bagaimana  kita sebagai orang percaya menghadapi sakit penyakit?  Penyebab itu bermacam-macam. Ada yang disebabkan oleh iblis; ada yang diakibatkan oleh keadaan alam; ada yang karena dosa manusia. Yang pasti bahwa Tuhan tidak pernah memberikan penyakit kepada kita.  Kalaupun penyakit itu terjadi dalam diri kita, itu berarti diijinkan oleh Tuhan untuk menguji iman kita kepada-Nya. Tetapi yang perlu untuk kita lakukan adalah berdoa dengan iman yang sungguh.  Kita juga bisa memanggil hamba Tuhan untuk mendoakan kita atau keluarga kita yang sakit.  Yang terpenting disini adalah doa yang sungguh-sungguh dengan iman. Jika tidak sungguh-sungguh, maka jangan harapkan kesembuhan terjadi.  Kesungguh hati dalam berdoa mengundang kuasa dan hadirat Allah dinyatakan.

 

Berdoalah sungguh-sungguh, maka Anda akan melihat mujizat Allah nyata dalam kehidupanmu!

 

 

 

 

April 11, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from James (Renungan Alkitabiah dar Kitab Yakobus)  belum ada komentar

Tetaplah Sabar!

Artikel oleh:

Tetaplah Sabar

 “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yakobus 5 : 8)

 

Tidak ada manusia yang akan tahan menghadapi kesusahan ataupun penderitaan.  Ada banyak orang yang kehilangan kesabaran ketika menghadapi kesulitan hidup. Ada yang kemudian mengambil jalan pintas, ada yang nekad, putus asa ataupun mundur dari Tuhan.  Tetapi apakah Tuhan menghendaki itu terjadi dalam kehidupan kita?  Tentunya tidak!  Tuhan mau kita tetap bertahan dan bersabar dalam segala keadaan, senang maupun susah, sebab cobaan hidup ataupun ujian iman itu ada masanya, batas waktunya dan tingkatnya.  Artinya, tidak untuk selama-lamanya kita harus diperhadapkan dengan masalah yang berat itu, pasti ada akhirnya.  Kalaupun kita mengalaminya, itu berarti atas seijin Tuhan dan Dia pun tahu bahwa kita sanggup menghadapinya.

Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya yang berseru dan meminta tolong kepada-Nya.  Tuhan pasti akan datang menolong dan melawat umat-Nya yang tetap bersabar dan bertahan menantikan Dia.  Sama seperti petani yang harus bekerja dengan sabar dan tekun pada waktu menabur benih; ia menahan lapar, berpeluh serta bermandi keringat menahan panas teriknya matahari, namun segala jerih lelahnya akan terobati ketika ia bersabar menunggu sampai panennya tiba.  Demikian juga dengan kita, ada hasil yang akan kita dapatkan jika kita tetap bersabar dalam menantikan lawatan Tuhan. Ketika masalah itu datang, kita perlu mengatakan kepada jiwa kita, “Bersabar dan bertahanlah. Cobaan ini tidak akan lama. Jangan berputus asa, pertolongan Tuhan pasti ada”.

Ada satu kebiasaan buruk yang seringkali menghinggapi hati manusia ketika mengalami kesulitan hidup yaitu bersungut-sungut (ay 9).  Bersungut-sungut dan saling mempersalahkan adalah tipu daya yang dipakai iblis untuk menye-rang kita. Iblis suka sekali mengadu domba kita, karena dia tahu bahwa itulah cara yang tepat untuk menghancurkan kita.  Tetapi orang yang bersabar pasti memetik hasilnya seperti yang dialami oleh Ayub (ay 11).  Makanya, sebagai orang beriman kita harus tetap bersabar dan berharap pada Tuhan sampai Dia menyatakan kuasa-Nya atas kita.

 

Ingatlah bahwa kuasa dan kekuatan Tuhan itu nyata bagi orang yang tetap bersabar.

 

April 10, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from James (Renungan Alkitabiah dar Kitab Yakobus)  belum ada komentar