Tantangan Iman

Artikel oleh:

Tantangan

“Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Markus 1 : 45)

 

Yesus menyembuhkan orang kusta itu dengan satu catatan atau peringatan keras untuk tidak ‘membocorkan info’ sehubungan dengan peristiwa mujizat ini (Ay. 44).  Namun, orang kusta itu mengabaikan perintah Yesus,  karena pada akhirnya dia menceritakan mengenai kesembuhan yang telah dia alami karena kuasa Yesus.  Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus.   Tetapi pada kenyataannya, dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mujizat-mujizat, pengusiran setan, dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan, (Ay. 45).

Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib.  Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat, seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu. Sungguh patut kita Baca selanjutnya »

July 11, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Iblis Telah Ditaklukan!

Artikel oleh:

Iblis

“Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” (Markus 1:25)

 

Apakah Saudara percaya dengan keberadaan setan? Ada beberapa kalangan yang tak percaya dan menganggap orang yang disebut kerasukan sebenarnya mengalami penyakit syaraf dan kejiwaan tertentu.  Namun, banyak pula yang percaya bahwa setan itu ada.  Bahkan, dalam beberapa acara televisi, kerap ditampilkan tayangan mengenai “orang berilmu” yang sedang melawan roh halus alias setan. Orang ini memejamkan mata serta merapal doa dan mantra.

Alkitab jelas menyatakan setan itu ada. Tuhan Yesus kerap kali “berjumpa” dengan setan. Dan, dalam setiap kesempatan itu, Dia mampu mengatasi dan menaklukkannya.  Berbagai cara pengusiran setan juga dikenal dalam praktik Yahudi. Namun, Yesus mengejutkan orang banyak karena Dia melakukannya hanya dengan kata-kata. Cukup dengan sekali hardikan saja (ayat 25).  Betapa besar otoritas yang ada dalam diri Yesus! Roh jahat itu ketakutan karena mengenali siapa sesungguhnya Yesus dan tahu tujuan kedatangan-Nya (ayat 24). Ini hanya yang pertama dari sekian peristiwa Yesus mengusir setan yang dicatat dalam Injil. Di kayu salib, Yesus menuntaskan apa yang Dia mulai di rumah ibadah di Kapernaum ini, yakni menghancurkan kuasa roh jahat, setan, dan iblis Baca selanjutnya »

July 10, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Pengikut Kristus

Artikel oleh:

Pengikut

“Yesus berkata kepada mereka: Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”  (Markus 1 : 17)

 

Pada abad pertama, seorang Yahudi yang ingin menjadi murid seorang rabi (guru) harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk mengikuti sang rabi. Mereka akan menjalani hidup bersama selama 24 jam setiap hari. Mereka akan berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengajar dan belajar, serta bekerja. Mereka berdiskusi dan menghafalkan Kitab Suci serta menerapkannya dalam hidup mereka.

Panggilan menjadi seorang murid, seperti yang dijelaskan dalam berbagai tulisan Yahudi pada zaman mula-mula mengenai etika dasar, adalah menyelubungi dirinya dalam debu kaki [sang rabi], meneguk setiap perkataannya. Ia mengikuti rabinya dengan begitu dekat sehingga ia akan berjalan dalam debunya. Dengan melakukan hal itu, ia akan menyerupai sang rabi, gurunya.

Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes mengetahui bahwa ini merupakan tipe hubungan yang diinginkan oleh Yesus ketika Dia memanggil mereka. Jadi, mereka pun segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Dia (ayat 20). Selama rentang waktu tiga tahun mereka bergaul karib dengan-Nya. Mereka mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan berbagai mukjizat-Nya, mempelajari Baca selanjutnya »

July 9, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Dikuatkan Dalam Cobaan

Artikel oleh:

Dikuatkan

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. (Markus 1 : 11)

 

Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan baptisan sebagai tanda pertobatan. Namun pembaptisan Yesus bukan merupakan tanda pertobatan. Yesus tidak berdosa karena itu sebenarnya Ia tidak perlu dibaptis. Pembaptisan Yesus menandakan bahwa Ia mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang-orang berdosa yang mengakui dosa-dosa mereka, dan kemudian dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Baptisan ini adalah langkah awal bagi tindakan penyelamatan yang Yesus lakukan kelak.

Dalam penyerahan diri Yesus secara total melalui baptisan, Bapa dan Roh Kudus mengkonfirmasi fakta mengenai identitas Yesus sebagai Anak Allah. Namun peristiwa istimewa itu tidak membuat Yesus diantar ke takhta megah. Roh Allah malah membawa Yesus ke padang gurun. Di sana Yesus dicobai oleh Iblis. Yesus, yang telah mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia, selanjutnya menghadapi konsekuensi dari pengidentifikasian tersebut, yaitu pencobaan. Pencobaan bukan merupakan indikasi bahwa orang berada diluar kehendak Allah. Juga bukan berarti bahwa semakin jarang orang dicobai atau semakin jarang orang bergumul dengan Baca selanjutnya »

July 8, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Pertobatan!

Artikel oleh:

Pertobatan

“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya” (Markus 1 : 3b)

 

Yohanes Pembabtis diutus untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi kedatangan Tuhan. Bahkan jauh sebelum kedatangan Yohanes, Yesaya telah menubuatkannya (Yesaya 40:1-11). Pesan sentral Yohanes adalah metanoia, pertobatan! Tampaknya Tuhan lebih suka disambut dengan pertobatan ketimbang tarian dan pesta-pora!  Tidak cukup dengan penyesalan dan pengakuan dosa dalam sebuah ibadah. Tuhan menghendaki jauh dari itu, yakni perubahan dan pembaruan dalam hidup.

Sekitar seabad yang lalu, seorang laki-laki membaca koran pagi dan menjadi sangat terkejut. Mengapa? Karena ia membaca tentang dirinya. Ia membaca di koran itu tertulis namanya. Bukan kabar baik! Namun, kabar kematian. Koran itu telah salah mengutip nama orang.  Kemudian dalam berita itu, ia membaca sebuah kalimat yang dicetak tebal, headline  bunyinya, “Matinya Raja Dinamit”. Ia menelusuri terus teks itu hingga akhirnya ia benar-benar tercengang dengan penggambaran mengenai dirinya yang Baca selanjutnya »

July 7, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Mark (Renungan Alkitab dari Kitab Markus)  belum ada komentar

Bersyukurlah!

Artikel oleh:

Bersyukurlah

“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (1 Tawarikh 16:34)

 

Salah satu hal yang dikenal dalam kekristenan adalah kehidupan yang penuh dengan rasa syukur kepada Allah. Alkitab memang menunjukkan hal ini; dalam keseluruhan kitab-kitabnya, kita dapat menemukan banyak sekali perintah untuk bersyukur kepada Allah. Berarti, bersyukur haruslah menjadi suatu gaya hidup orang Kristen. Dalam bacaan kita hari ini, kita akan mempelajari ucapan syukur Daud.

Pertama, bersyukur adalah reaksi atau respon Daud kepada Allah. Manusia tidak pernah diciptakan Allah sebagai robot, tapi, sebagai suatu pribadi yang memiliki kehendak dan tanggung jawab untuk bereaksi pada Allah.  Dalam tiap detik kehidupan kita akan selalu bereaksi kepada Allah. Lukas 17 mencatat 10 orang memberikan reaksi kepada Yesus; 9 orang memberikan reaksi tidak bersyukur dan menganggap kesembuhan mereka adalah hak mereka, tapi, seorang lain bereaksi dengan bersyukur kepada Tuhan. Jika kita masih dapat bereaksi sama seperti orang Samaria ini, berarti kehidupan rohani kita sehat, tapi, jika kita tidak dapat memberikan reaksi yang tepat atas kebaikan Allah, hal ini menunjukkan bahwa kerohanian kita sakit. Demikian pula dengan Daud, ia Baca selanjutnya »

July 5, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Chronicles (Renungan Alkitab dari Kitab Tawarikh)  belum ada komentar

Allah Sumber Kesuksesan

Artikel oleh:

Allah Sumber

“Demikianlah orang Israel ditundukkan pada waktu itu, sedang orang Yehuda menjadi kokoh, karena mereka mengandalkan diri kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka.”

(2 Tawarikh 13 : 18)

 

Raja Yerobeam mengambil langkah yang salah. Allah telah memberikan kepadanya kekuasaan atas sepuluh suku di Israel, tetapi dia malah mencari jalan sendiri untuk mengokohkan kerajaan Israel. Sebaliknya, Raja Abia mengandalkan Tuhan, sehingga Allah mengokohkan kerajaan Yehuda.

Untuk memperkokoh kerajaan Israel, Raja Yerobeam membuat dua patung anak lembu jantan dari emas, lalu meletakkan kedua patung tersebut di dua buah kota perbatasan, yaitu yang pertama di kota Betel (perbatasan dengan Kerajaan Yehuda di sebelah Selatan) dan yang kedua di kota Dan (perbatasan dengan Kerajaan Aram di sebelah Utara), dengan tujuan utama agar bangsa Israel tidak pergi beribadah ke Yerusalem (2 Tawarikh 13:8; 1 Raja-raja 12:26-30). Sebaliknya, Raja Abia tetap setia dan berlindung kepada Tuhan. Oleh karena itu, saat terjadi pertempuran antara Kerajaan Yehuda dengan Kerajaan Israel, TUHAN membela Kerajaan Yehuda sehingga pasukan Yehuda memperoleh kemenangan, bahkan Raja Yerobeam pun akhirnya mati karena dipukul oleh Tuhan (13:20).

Menurut 1 Raja-raja 15:3, sebenarnya Raja Abia (atau Abiam) pun juga tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan.  Dia tidak berusaha mencegah pengaruh buruk dari bangsa-bangsa kafir yang tinggal di sekitar mereka. Akan tetapi, dia masih menyembah Allah dan mengandalkan Allah sehingga Allah memberi kemenangan dalam perang melawan Raja Yerobeam.  Kitab 2 Tawarikh tidak Baca selanjutnya »

July 4, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Chronicles (Renungan Alkitab dari Kitab Tawarikh)  belum ada komentar

Jangan Sombong!

Artikel oleh:

Jangan Sombong

“Raja Rehabeam menjawab mereka dengan keras; ia telah mengabaikan nasihat para tua-tua”

(2 Tawarikh 10 : 13)

 

Setelah diangkat menjadi seorang raja, Raja Rehabeam merasa berhak melakukan apa saja, termasuk menindas rakyat. Hilanglah sudah gambaran kesuksesan pemerintahan Salomo di tangan Rehabeam. Karena ingin menunjukkan kekuasaan dan kehebatan yang melebihi ayahnya, Rehabeam justru kehilangan wibawa di mata rakyatnya. Ia tidak berhasil menampilkan sosok pemimpin yang berhikmat dan bijaksana.  Ketika menghadapi rakyat yang mengajukan keluhan (1), sebenarnya Rehabeam mempunyai dua alternatif pertimbangan. Ia juga punya kesempatan untuk memilah-milah masukan mana yang patut diperhatikan. Sayangnya bukan kepentingan rakyat yang mendasari Rehabeam dalam mengambil keputusan. Seolah bagi Rehabeam, nasihat dari orang-orang tua merendahkan dirinya dan membuat dia berada dalam posisi sebagai orang yang melayani rakyat. Maka dia menolak mengikuti nasihat orang-orang tua itu (7-8).  Sementara masukan dari orang-orang muda jelas memperkuat eksistensinya sebagai penguasa. Rakyat harus tahu bahwa dia raja dan berotoritas. Maka masukan dari orang-orang muda terasa lebih pas bagi dirinya (9-11, 13-14).  Terlihat bahwa ego dan kesombongan melandasi keputusan Rehabeam atas rakyat. Tundukkah rakyat kepada Rehabeam? Ternyata tidak. Mereka malah menyerukan protes (16).  Akibatnya, kerajaan Israel pecah menjadi dua kerajaan dan dia kehilangan Baca selanjutnya »

July 3, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Chronicles (Renungan Alkitab dari Kitab Tawarikh)  belum ada komentar

Kefanaan vs Kekekalan

Artikel oleh:

Kefanaan

“Kemudian Salomo mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia”.

(2 Tawarikh 9 : 31)

 

Kuburan tua itu tidak terurus. Beberapa batu batanya sudah copot. Tanaman liar  tumbuh tinggi di sekelilingnya. Walau bekas-bekas kemegahannya dulu masih tampak; tiang penyangga berlapis keramik di bagian tengah, juga kayu jati berukir ikan dan ular yang menaungi batu nisan. Di batu nisan itulah tulisan ini tertera:

“Hidup ini fana. Demikianlah kiranya ujung dari kehidupan. Pun mereka yang memegang jabatan setinggi langit; menggenggam kekayaan sebanyak pasir di laut.”

Konon, itu kuburan seorang pedagang kaya raya yang hidup jauh sebelum zaman kemerdekaan.  Begitulah, akhir kehidupan di dunia: kematian. Maka sebetulnya, aneh kalau ada saja orang yang sampai mau mengorbankan apa pun, menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang kotor dan keji, demi meraih atau mempertahankan jabatan dan kekayaan. Sebab toh pada akhirnya semua itu akan ditinggalkan juga.  Tidak akan dibawa mati. Baca selanjutnya »

July 2, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Chronicles (Renungan Alkitab dari Kitab Tawarikh)  belum ada komentar

Hanya Sejauh Doa

Artikel oleh:

Hanya Sejauh Doa

“Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” 

(2 Tawarikh 7:14)

 

Dalam pasal 6 kitab ini, kita mendapati perikopnya tentang  “Doa Salomo”.  Ini adalah doa yang disampaikan Salomo pada waktu pentahbisan Bait Suci, di mana doa Salomo ini tertulis sebanyak 30 ayat.  Ini menunjukkan bahwa doa menjadi bagian terpenting dalam Bait Suci Salomo selain persembahan dan puji-pujian.  Setelah Salomo selesai berdoa, terjadi lawatan Tuhan secara dahsyat,  “…api pun turun dari langit memakan habis korban bakaran dan korban-korban sembelihan itu, dan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu.”  (2 Tawarikh 7:1).

Bagi orang percaya doa adalah nafas hidup, maka dari itu doa adalah suatu hal yang harus dikerjakan dan harus menjadi gaya hidup kita.  Sebagaimana Bait Suci Salomo menjadi rumah doa, kehidupan orang percaya pun dituntut untuk menjadi rumah doa.  Ada tertulis, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”  (1 Korintus 3:16).  Kata ‘rumah atau bait Allah’ di sini tidak berbicara tentang gedung atau bangunan secara fisik, tapi gambaran dari umat Tuhan itu sendiri atau keberadaan orang percaya.  Dan Tuhan menghendaki agar kita menjadi ‘rumah doa’  (baca  Lukas 19:46).  Orang Kristen yang disebut sebagai rumah doa adalah orang Kristen yang kesukaannya berdoa, memuji dan menyembah Tuhan;  seorang yang memiliki Baca selanjutnya »

July 1, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Chronicles (Renungan Alkitab dari Kitab Tawarikh)  belum ada komentar