Berpegang Teguh

Artikel oleh:

Berpegang Teguh

“Tetapi di gunung Sion akan ada orang-orang yang terluput, dan gunung itu akan menjadi tempat kudus; dan kaum keturunan Yakub akan memiliki pula tanah miliknya” (Obaja 1 : 17)

 

Latar belakang kitab Obaja adalah menceritakan tentang bangsa Edom yang bersikap sombong, kejam dan keras, merasa paling hebat, terkuat dan tak terkalahkan. Mereka menunjukkan kekuatannya kepada Bangsa Israel, bahkan pada masa kesusahan yang dialami Bangsa Israelpun Edom tidak berempati justru memperkeruh suasana yang sudah sulit.

Namun, dalam berita nubuat Obaja juga tetap menegaskan bahwa Allah sendiri akan menyatakan keselamatan kepada setiap orang dan bangsa yang mau mengakui Dia sebagai Tuhan mereka. Tuhan memakai figur Sion, bukit di Yerusalem di mana bait Allah berdiri sebagai mercusuar keselamatan (ayat 17). Dari Sion akan datang keselamatan, mula-mula tentu bagi umat-Nya sendiri setelah melewati masa penghukuman yang panjang (ayat 20). Kemudian bagi setiap bangsa yang menerima pengajaran Tuhan dari Sion dan taat kepada Dia. Sedangkan sikap keras dan melawan seperti yang ditunjukkan Edom, akan menghasilkan pemusnahan lagi (ay 18).

Belajar dari apa yang dialami oleh bangsa Israel, kita mungkin juga pernah merasakan masa sulit.  Berbagai pergumulan dan tanggungjawab yang dipikul terasa semakin berat bahkan terasa melebihi kekuatan yang ada. Mungkin tidak ada orang yang sungguh-sungguh mengerti dan memahami yang terjadi dalam kehidupan kita, bahkan adakalanya justru menambah kesusahan yang kita alami. Tetapi percayalah Tuhan tidak tidur, Tuhan mengerti segala kesusahan yang dirasakan. Akan datang masanya dimana umat pilihanNya akan dilepaskan dari segala kondisi sulit yang menekan. Allah memiliki rencana yang baik dan indah dalam hidup kita, namun sebelum mencapai keindahan mungkin ada banyak jalan berliku, sempit, berlubang dan bahkan mungkin amblas ditengah jalan. Berdoalah kepada Tuhan agar memberikan kekuatan dalam hati dan pikiran supaya kita dapat terus melanjutkan perjalanan kehidupan ini.

 

Kesetiaan untuk tetap terus beriman kepada Tuhanlah yang harus dipegang teguh, sampai tiba masanya, dimana kesusahan berganti sukacita.

 

October 22, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Obadiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Obaja)  belum ada komentar

Jangan Sombong!

Artikel oleh:

Jangan Sombong

“Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, demikianlah firman TUHAN”. (Obaja 1:4)

 

Kesempurnaan atau keindahan fisik, keluarga yang hebat, kemampuan berbicara atau menulis, kekayaan materi, pendidikan yang tinggi, penguasaan ilmu, pencapaian karir, bakat seni, pangkat dan jabatan, dan lain-lain bagi kita orang beriman adalah karunia Allah. Sebab itu pantas disyukuri, dikembangkan sebaik-baiknya. Satu lagi: digunakan untuk kebaikan bersama.

Namun sebagian orang menjadikan karunia Allah itu justru sebagai dasar meninggikan dirinya di hadapan sesama, dan lebih parah meninggikan dirinya di hadapan Allah. Orang tersebut lupa bahwa kecantikan, kekuatan, kekayaan, kepintaran, kekuasaan dan kehebatan yang dimilikinya adalah pemberian Allah yang lebih merupakan titipan untuk dijaga dan dipertanggungjawabkan kelak kembali kepada Allah. Alih-alih bersyukur dan mengakui Allah, orang yang ditiipi berbagai karunia itu malah menjadi sombong dan congkak, menganggap dirinya sebagai pusat dan sumber serta kiblat kehidupan dunia, sambil menganggap rendah semua yang di sekelilingnya.

Tuhan Allah sangat benci kepada orang sombong. Dia selalu menjatuhkan orang sombong (agar bertobat) dan sebaliknya meninggikan orang rendah hati. Itulah yang dilakukannya kepada bangsa Edom di masa lalu: “Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau!”. Semoga itu tidak dikatakanNya dan dilakukanNya kepada kita sekarang. Sebab itu marilah kita merendahkan hati kita dan bersyukur kepada Allah. Mari kita mengakui bahwa semua yang baik yang ada pada kita sekarang adalah karunia Allah.

Namun sebaliknya Tuhan juga tidak mau kita menjadi rendah diri karena merasa tidak cantik atau gagah, tidak pintar atau tidak kaya, atau tidak memiliki banyak bakat seni. Tuhan menciptakan kita semua sebagai pribadi yang spesial dan berharga, citra Allah dan anak-anak yang dikasihiNya.

 

Pastikan hidupmu berbangga dan berbahagia dalam Tuhan, seraya mengasihi dan hormat kepada sesama.

 

October 21, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Obadiah (Renungan Alkitabiah dari Kitab Obaja)  belum ada komentar

SEPERTI ANGGUR DI ATAS ENDAPANNYA

Artikel oleh:

Pada waktu itu Aku akan menggeledah Yerusalem dengan memakai obor dan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dan yang berkata dalam hatinya: TUHAN tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat! Maka harta kekayaannya akan dirampas dan rumah-rumahnya akan menjadi sunyi sepi. Apabila mereka mendirikan rumah, mereka tidak akan mendiaminya; apabila mereka membuat kebun anggur, mereka tidak akan minum anggurnya.” Zefanya 1: 12-13

Anggur

By. Pdt. Rudi Suwardi

 

Saya ingin menggarisbawahi ayat 12, bahwa Tuhan akan menghukum orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya …………………….

Istilah ini saya pilih sebagai judul kotbah hari ini: “Seperti Anggur Di Atas Endapannya.”

Ketika anggur dibiarkan untuk waktu yang lama, akan terbentuk endapan yang menumpuk di dasarnya. Istilah ini juga digunakan dalam Yer 48:11: Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya dan baunya tidak berubah.

Saya mau ceritakan bagaimana cara anggur dibuat zaman itu. Ketika orang memetik buah anggur kemudian diperas, mereka menggunakan batu kilangan biasa tanpa alat. Pada zaman itu mereka tidak punya saringan, diperas, airnya dituang disebuah tempayan dan kulit serta bijinya juga  akan masuk kesitu. Kemudian  orang akan mencedok bagian atasnya karena ampasnya sebagian ada d ipermukaan. Kemudian anggur itu dibiarkan beberapa hari, untuk apa? Supaya kotoran yang didalamnya mengendap, tidak boleh ada goncangan atau apa apapun juga, harus dibiarkan kotorannya mengendap.

Lalu kemudian diambil tempayan yang berikutnya, anggur itu dituang pelan-pelan kedalam tempayan yang kedua, dengan sangat berhati-hati supaya endapannya tidak ikut masuk ketempayan yang kedua. Di tempayan kedua anggur diendapkan lagi, butuh beberapa saat sampai kotoran dan endapan itu sungguh-sungguh mengendap dibawah lalu kemudian anggur dituang ke tempayan berikutnya. Proses itu berlangsung beberapa kali membutuhkan waktu beberapa saat yang cukup lama. Setelah menjadi bening tempayan ditutup dan disimpan di dalam ruangan yang gelap dibawah tanah dan dibiarkan untuk waktu yang sangat lama, supaya apa? supaya terjadi fermentasi/peragian.

“Seperti anggur di atas endapannya.” Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan keadaan orang yang sudah puas dengan dirinya sendiri atau puas dengan pencapaiannya sehingga mereka tidak menghendaki perubahan.

Apa yang membuat orang berubah adalah proses yang terus mau digoncang, diendapkan, digoncang, diendapkan,  digoncang, diendapkan semakin kita biarkan prosesnya berlangsung seperti itu maka rasa dan bau harum-mu akan makin hari makin luar biasa.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari, ayat 12 itu dinyatakan sebagai berikut: Akan Kuhukum penduduknya yang acuh tak acuh itu serta yang puas dengan dirinya sendiri.

Orang-orang yang telah mengental seperti anggur di atas endapannya dijelaskan dalam Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari sebagai orang-orang yang acuh tak acuh serta puas dengan dirinya sendiri.

Dalam pelayanan, kadang-kadang orang Kristen terbawa oleh arus pemikiran yang bodoh dan berbahaya seperti ini: “Jangan terlalu kuatir, biarkan saja keadaan seperti apa adanya. Biarlah orang lain yang mengurusnya, turunkan kecepatan, bersantailah, dan lihat apa yang terjadi. Bagaimanapun juga pada akhirnya Tuhan yang akan mengerjakan segala sesuatunya untuk kita. Jangan turut campur jika kita bisa menghindar dari suatu kegiatan.”

Ketika hidup mereka baik-baik saja, hidup terasa mudah dan nyaman  serta tidak ada persoalan, Tuhan menjadi hal terakhir yang mereka pikirkan. Ketika mereka berada dalam kesulitan, mereka biasanya mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tetapi ketika hidup terasa mudah dan mereka mengalami kemakmuran, mereka sangat mudah menjadi tidak peduli terhadap Tuhan dan Kerajaan-Nya. Mereka memiliki perasaan puas dengan dirinya sendiri. Selain itu mereka juga tidak sadar akan bahaya atau kesulitan yang mungkin akan datang.

Iblis sangat ingin membuat orang Kristen tetap acuh tak acuh dalam pelayanan atau bahkan apatis dengan pertumbuhan rohani pribadi kita sendiri.

Ada sebuah kisah kuno tentang Iblis yang memanggil tiga orang asisten tertingginya untuk merencanakan bagaimana mereka dapat menghentikan pekerjaan misi dari satu grup orang Kristen yang memiliki dedikasi tinggi.

Salah satu letnannya, yang bernama Dendam, berkata kepada iblis, “Kita harus meyakinkan mereka bahwa Tuhan itu tidak ada.” Iblis menyeringai pada Dendam dan menjawab, “Itu tidak akan berhasil. Mereka tahu bahwa Tuhan itu ada.”

Asisten Iblis yang kedua, Kepahitan namanya, berkata, “Kita akan meyakinkan orang-orang Kristen bahwa Tuhan sebenarnya tidak peduli terhadap perbuatan yang benar atau salah.”  Iblis senang untuk sementara dengan gagasan ini, tetapi kemudian menolaknya karena ia tahu terlalu banyak orang Kristen yang tahu bahwa Tuhan sebenarnya peduli apakah perbuatan mereka benar atau salah.

Kedengkian, nama asisten Iblis yang ketiga, mengajukan gagasan. “Kita akan membiarkan orang-orang Kristen terus berpikir bahwa Tuhan memang ada, dan bahwa Tuhan itu peduli dengan perbuatan yang benar atau perbuatan yang salah. Tetapi kita akan terus berbisik kepada mereka, tidak perlu tergesa-gesa, tidak perlu terburu-buru.”

Iblis melolong dengan gembira. Ia memberikan promosi jabatan kepada Kedengkian di dalam organisasinya yang jahat. Iblis tahu bahwa ia akan melihat siasatnya berhasil pada banyak orang Kristen.

Saudara, Tuhan kita tidak suka dengan orang Kristen yang acuh tak acuh, apatis atau suam-suam kuku. Wahyu 3:16 mengatakan, Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Suam-suam kuku berarti sedang-sedang saja atau rata-rata. Ingatlah bahwa rata-rata pada dasarnya adalah “yang terbaik diantara yang terburuk,” atau “yang terburuk diantara yang terbaik.”

Apabila Sdr berada dalam kondisi berpuas diri  dan acuh tak acuh maka Sdr mudah sekali terkena panah berapi si Iblis.

Ada satu perumpamaan yang diceritakan oleh seorang pastor di Haiti kepada jemaatnya tentang perlunya komitmen yang penuh kepada Kristus.

Tristan ingin menjual rumahnya dengan harga Rp. 1 milyar. Harun sangat ingin membeli rumah itu, tetapi ia tidak sanggup membayar harga rumah itu sepenuhnya. Setelah bernegosiasi, Tristan setuju untuk menjual rumahnya dengan separuh harga, tetapi  dengan satu syarat, yakni ia akan menahan kepemilikan sebuah paku yang menonjol di atas pintu rumah itu.

Beberapa tahun kemudian, Tristan yang menyesal telah menjual rumah itu dengan separuh harga, ingin membelinya kembali. Tetapi Harun tidak mau menjual rumah itu kembali.  Karena itu Tristan mencari bangkai seekor anjing dan menggantungkannya pada paku di atas pintu  yang masih menjadi miliknya. Tidak lama kemudian, rumah itu tidak dapat lagi dihuni karena baunya sangat menyengat sehingga Harun terpaksa menjual rumah itu kembali kepada pemilik paku diatas pintu yang tidak lain adalah Tristan.

Kesimpulan dari pastor orang Haiti itu adalah, bahwa jika kita mengijinkan Iblis untuk memliki sebuah paku atau gantungan kecil dalam hidup kita, ia akan menggantungkan sampah yang busuk di atasnya, sehingga membuat hidup kita tidak layak untuk menjadi tempat kediaman Kristus.”

Saudara, kepuasan akan diri sendiri adalah sebuah paku atau gantungan di dalam hidup seseorang yang bisa dipakai oleh Iblis.

Jika kita berpuas diri sehingga menjadi acuh tak acuh, apatis atau menjadi suam-suam kuku, maka hal itu akan menjadi kanker yang bukan hanya melemahkan hidup kita tetapi bahkan dapat menghancurkan hidup kita. Karena itu kita harus menghindarinya.

Marilah kita pelajari beberapa hal yang terkait dengan kondisi “Telah mengental seperti anggur di atas endapannya”

I. APA AKIBAT DARI KEADAAN ORANG KRISTEN YANG TELAH MENGENTAL SEPERTI ANGGUR DI ATAS ENDAPANNYA?

1. Menurunkan Tekad Anda

Dalam Kitab Hakim-Hakim, Simson dijelaskan akhirnya berada dalam kondisi yang tentram dalam kenyamanan, berpuas diri dan acuh tak acuh untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia bahkan memberitahukan rahasia kekuatannya kepada Delila. Ia berpikir apa yang dilakukannya tidak apa-apa; ia berpikir semuanya akan baik-baik saja. Tetapi apa yang dilakukan oleh Simson adalah sebuah dosa. Ia tidak taat kepada perintah Tuhan yang sudah menyuruh dia untuk tidak memotong rambutnya. Akibatnya, Simson mengakibatkan keruntuhan bagi seluruh bangsanya.

2. Menurunkan Standar Tuhan

1 Raj 11: 1-4 : (1) Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, (2) padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. (3) Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. (4) Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.

Keadaan Salomo yang berpuas diri dengan istri-istrinya membuat ia acuh tak acuh terhadap Tuhan dan terhadap perintah-perintah-Nya sehingga ia jatuh ke dalam dosa berhala dan mengalami konsekuensi yang menghancurkan

3. Menurunkan Moral Dan Sikap Anda Baca selanjutnya »

October 19, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Zephaniah  belum ada komentar

Melayani Tuhan

Artikel oleh:

Melayani Tuhan

“Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga…” (Keluaran 31: 2-4)

 

Tuhan menunjuk Bezaleel dan Aholiab untuk membuat perkakas-perkakas yang ada di kemah suci. Selain Tuhan menunjuk mereka, Dia juga memberikan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan untuk membuat perkakas-perkakas itu semua. Tidak diketahui apakah Bezaleel dan Aholiab sebelumnya memiliki latar belakang untuk membuat barang-barang dari logam-logam dan semua yang dibutuhkan untuk mendirikan Kemah Suci. Tapi yang pasti bahwa Tuhan menyertai apa yang mereka lakukan untuk mendirikan Kemah Suci.

Dalam melayani Tuhan, kadang kita ragu, apakah kita mampu untuk melakukannya atau tidak? Banyak yang ketika diminta atau ditunjuk untuk melayani, menolak dengan alasan tidak bisa, belum pernah dan masih banyak alasan lainnya. Melihat dari apa yang terjadi dalam bangsa Israel ketika mendirikan Kemah Suci kita bisa melihat keadaan jemaat dalam membangun gereja milik-Nya.

Dalam melayani, Tuhan yang menunjuk seseorang untuk melayani-Nya. Melayani Tuhan merupakan sebuah anugerah, sebuah kehormatan karena tidak semua orang bisa melayani Tuhan. Orang bisa mau melayani Tuhan tapi belum tentu Tuhan berkenan untuk menunjuknya. Ada orang yang ditunjuk Tuhan untuk melayani-Nya tapi orang itu menolak untuk melayani.   Selain itu ketika Tuhan menunjuk seseorang untuk melayani-Nya maka Dia tidak akan membiarkan orang itu berjuang sendirian. Tuhan memberikan semua yang dibutuhkan bagi kita untuk melayani Dia. Tuhan yang melengkapkan kita dengan hikmat, keahlian, kemampuan, dan semuanya untuk pembangunan rumah Tuhan.

Jangan takut untuk melayani Tuhan, sebab ketika Tuhan menunjuk kita untuk melayani Dia, maka Dialah yang akan memperlengkapi kita dengan semua yang dibutuhkan untuk melayani-Nya.

 

October 10, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Pemujaan Terhadap Allah

Artikel oleh:

Pemujaan Terhadap Allah

“Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya” (Keluaran 30:7)

 

Mezbah pembakaran ukupan menggambarkan doa dan penyembahan orang-orang kudus. Mezbah ini khusus dipakai untuk membakar ukupan dari wangi-wangian, dan tidak boleh dipakai untuk keperluan lain. Ukupan yang kudus (30:34-37) diatur campurannya oleh Tuhan.  Setiap pagi saat lampu-lampu dibersihkan, maka ukupan dari wangi-wangian itu harus dibakar. Sekali lagi ini merupakan lambang dari penyembahan kita kepada Allah. Menarik sekali apabila kita mengetahui bahwa api untuk membakar ukupan itu berasal dari lampu dian dengan tujuh cabang yang berada di dalam ruang suci bersama-sama dengan mezbah ukupan tersebut. Dan lampu dian itu berbicara mengenai Roh Kudus.  Penyembahan yang benar harus keluar dari hati yang apinya dibarakan dengan kuasa Roh Kudus.  Dalam Kemah Suci, setiap hari harus ada asap yang keluar dari bakaran ukupan. Kelalaian melakukan ibadah ini akan menyebabkan hukuman. Bahkan salah mengambil api saja akan mengakibatkan kematian, seperti  peristiwa Nadab dan Abihu (Imamat 10:1, 2).

Penyembahan adalah pemujaan terhadap Allah dan bagaimana Ia layak untuk dipuji dan disembah.  Roh Kudus sangat suka berada bersama dengan mereka yang dengan tulus membesarkan, menyembah dan memuliakan Allah.  Penyembahan adalah cara yang luar biasa untuk menghormatiAllah.  Jadi, penyembahan adalah perkara serius bagi Allah. Toh, masih saja banyak orang Kristen yang main-main saat menyembah Allah. Mereka menganggap penyembahan itu suatu perkara yang remeh.

Biarlah Allah menaruh pengertian di dalam hati kita supaya kita semakin tahu arti penyembahan kepada Allah. Dan Yesus berkata, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:23). Hanya Tuhan yang patut kita sembah. Dan di surga sendiri gema pujian dan penyembahan tak henti-hentinya terdengar. Dan di bumi juga anak-anak Tuhan menyembah Dia.

 

Kita tidak menggunakan ukupan untuk menyembah, namun dengan hati yang telah dikuduskan oleh Roh Kudus.

October 9, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Korban Pujian Syukur

Artikel oleh:

Korban Pujian Syukur

“Suatu korban bakaran yang tetap di antara kamu turun-temurun, di depan pintu Kemah Pertemuan di hadapan TUHAN. Sebab di sana Aku akan bertemu dengan kamu, untuk berfirman kepadamu” (Keluaran 29:42).

 

Harus ada korban pada setiap pagi dan petang dalam Kemah Suci. Kalimat yang amat menarik perhatian adalah “sebab di sana Aku akan bertemu dengan kamu, untuk berfirman kepadamu”.  Korban yang dinaikkan akan mengundang Allah ke tengah-tengah kita.  Prinsip mempersembahkan korban binatang tidak lagi kita lakukan pada zaman sekarang, sebab Yesus sudah menyempurnakan seluruh korban dengan jalan menjadi korban di atas kayu salib. Korban yang dapat kita persembahkan kepada Allah dapat kita lihat di kitab Ibrani, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya”. (Ibrani 13 : 15).

Dalam banyak kasus di Alkitab tercatat kuasa Allah dinyatakan ketika umat-Nya sedang menaikkan pujian kepada Allah. Misalnya Yosafat yang berhasil menghalau musuhnya setelah ia beserta rakyatnya menaikkan pujian kepada Allah (2 Tawarikh 20). Dan dalam kisah para rasul kita melihat keperkasan tangan Allah ketika Paulus dan Silas menaikkan pujian kepada Allah (Kisah Para Rasul 16:25, 26). Mereka bukan sekedar berdoa, namun juga menaikkan pujian dan penyembahan yang tulus kepada Allah.

Jelas sekali bahwa korban syukur adalah salah satu korban yang menyenangkan hati Tuhan. Dengan cara bagaimana kita memberikan korban itu?  Dengan ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Ini berbicara mengenai pujian dan penyembahan dalam hidup kita. Temukanlah kebenaran tentang berkat di balik pujian dan penyembahan! Semakin kita kuat di dalam pujian dan penyembahan, maka semakin nyata pula kehadiran Allah dalam hidup kita. Kerap kali kita berdoa kepada Allah tanpa disertai korban syukur ini. Doa yang dinaikkan seperti todongan pisau yang mengharuskan Allah melakukan ini dan itu. Mana ucapan syukur yang mempermuliakan nama-Nya?

 

Kalau kita mau mengundang Allah, undanglah dengan korban pujian dan syukur kepada-Nya.

 

October 8, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Yesus Sang Pembela

Artikel oleh:

Yesus Sang Pembela

“Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku — Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.” (Keluaran 28:43).

 

Harun bukanlah imam yang sempurna. Tetapi Yesus adalah imam yang sempurna. Karena peraturan Allah menyebutkan bahwa hanya Harun dan keturunannya yang patut memegang jabatan imam, maka Yesus disebut Imam Besar, tetapi menurut peraturan Melkisedek. Penulis Ibrani berkata, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia” (Ibrani 8:1, 2).

Perhatikan, di dalam Bait Suci para imam tidak pernah duduk. Tidak ada satu pun referensi di Alkitab yang menyebutkan adanya kursi di dalam Bait Suci. Satu-satunya “seat” (kursi) dalam Bait Allah adalah “the mercy seat” (kata ini diterjemahkan dengan ‘tutup pendamaian’). Anda tentu tahu bahwa tutup pendamaian atau the mercy seat ini adalah penutup dari tabut perjanjian – satu-satunya perkakas yang berada di dalam ruang maha suci. Tidak ada satu pun imam yang pernah bermimpikan untuk menyentuh apalagi duduk di atas ‘kursi belas kasihan’ tersebut. Tetapi Yesus melakukannya. Sebab dikatakan bahwa Yesus duduk. Ada dua hal yang harus Anda ketahui mengenai Yesus duduk di sebelah kanan Bapa:

Pertama, duduk di sebelah kanan itu menunjukkan tempat yang penuh kehormatan dan otoritas. Bukankah Anda juga diwajibkan melakukan segala sesuatu dengan tangan kanan? Misalnya bersalaman. Tidak ada yang melakukannya dengan tangan kiri.  Kedua, di Sanhedrin (pengadilan tertinggi Yahudi), adalah hal yang biasa bagi 2 panitera pengadilan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri hakim. Yang duduk di sebelah kiri menuliskan penghukuman, sedangkan di sebelah kanan menuliskan pembebasan.  Yesus duduk di sebelah kanan untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan hukuman maut, bahkan menjadi pembela dan penolong bagi orang percaya.

 

Bila Yesus adalah Pembela kita, masih adakah yang perlu kita takuti?

 

October 7, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Bait Yang Suci

Artikel oleh:

Bait Yang Suci

“Tutup pendamaian itu haruslah kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus”. (Keluaran 26 : 34)

 

Pada masa Perjanjian Lama, di dalam kitab Keluaran dijelaskan bahwa kemah suci itu dibangun sesuai dengan perintah Allah ( Kel 26), sehingga tempat itu sungguh-sungguh dijaga ke kudusannya, bahkan setiap orang yang datang beribadah kedalam kemah tersebut pun tidak boleh main-main (harus tertib), kalau tidak maka Allah akan murka.  Apa kepentingan kita, umat masa kini, untuk membaca detail cara pembuatan Kemah Suci? Sebenarnya, kita bisa belajar prinsip rohani dari detail yang dipaparkan. Misal, kemah yang terdiri dari material yang berbeda-beda, tetapi dipersatukan menjadi sebuah tenda besar. Ini menggambarkan kesatuan tubuh Kristus dalam keragaman anggota-anggotanya (bdk. 1Kor. 12).

Hal yang penting dari pembuatan Kemah Suci dan juga perabotannya ialah bahwa cetak birunya berasal dari Allah sendiri (30, Kel. 25:9, 40). Musa menerima visi dari Allah tentang seperti apa Kemah Suci akan terlihat nantinya. Kemudian Musa mengomunikasikan visi ini kepada perajin yang melakukan pembangunan yang sebenarnya. Tuhan bekerja melalui visi untuk menunjukkan pekerjaan yang ingin Dia lakukan melalui diri kita, anggota-anggota tubuh-Nya. Tuhan tetap menjadi Kepala dan merupakan tujuan bagi semuanya. Hal menarik lainnya adalah pintu yang dibuat dari kayu yang bersalutkan emas dan tembaga yang sudah diproses melalui api pemurnian (36-37). Sebuah gambaran kemurnian dan daya tahan melalui kesengsaraan.  Pintu masuk ke Kemah Suci bisa melambangkan apa yang Yesus telah lakukan bagi kita.

Dalam Perjanjian Baru ,Yesus Kristus menegaskan kepada kita betapa Bait Allah itu suci adanya, hal ini terbukti pada saat Yesus dengan murid-muridnya datang di Yerusalem dan mendapati banyak orang yang berjualan di Bait Allah. Baru saat itulah Alkitab mencatat bahwa Yesus benar-benar marah dan mengusir semua yang berjualan disana dan membalikkan meja-meja dagangan mereka itu (Markus 11:15). Hal ini menunjukkan betapa sucinya Bait Allah itu, yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik oleh umatNya.

 

Sekalipun Bait Suci itu hanya berupa bangunan, namun hormatilah ketika kita sedang beribadah didalamnya; terlebih lagi Bait Suci Rohani yakni tubuh kita!

October 6, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Pokok Keselamatan

Artikel oleh:

Pokok Keselamatan

“Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel” (Keluaran 25:22).

 

Allah menetapkan untuk berbicara kepada Musa setelah tabut perjanjian dibuat. Firman disampaikan tepat di atas tutup pendamaian dan di antara kedua kerub. Replika kemuliaan Tuhan ini adalah perlambang bahwa di kemudian hari Yesus akan datang sebagai penggenap dan Dia akan masuk ke dalam tempat maha kudus tersebut dengan membawa darah-Nya sendiri.  Perhatikan bahwa Allah memberikan instruksi ini kepada Musa. Ini menunjukkan bahwa ide dan gagasan keselamatan itu berasal dari Allah, bukannya manusia.  Keselamatan ini sebenarnya telah direncanakan Allah ketika manusia mula-mula jatuh di dalam dosa dan Allah memberikan pakaian kulit binatang kepada mereka (Kejadian 3:21).

Kata “tabut” sendiri dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan “ark”. Ada 3 tabut yang semuanya berbicara tentang keselamatan di dalam Alkitab:  Pertama, tabut Nuh (Kejadian 6:14). Dalam Alkitab kita, ‘tabut Nuh’ diterjemahkan dengan ‘bahtera Nuh’. Memang aneh kalau diterjemahkan dengan ‘tabut Nuh’ dalam Alkitab kita. Tetapi yang penting adalah arti bahwa bahtera itu menjadi tempat yang menyelamatkan mereka ketika banjir besar melanda bumi.  Kedua, tabut Musa (Keluaran 2:3-6). Dalam ayat ini dikatakan bahwa Musa diselamatkan dengan peti pandan. Peti itu adalah ‘ark’ dalam bahasa Inggrisnya.  Kita melihat bahwa peti itu menjadi keselamatan bagi Musa. Karena peti itu pula, maka ia lolos dari pembunuhan yang dilakukan oleh penguasa Mesir saat itu.  Ketiga, tabut perjanjian. Dalam pembacaan ini, cara pembuatan tabut perjanjian telah disebutkan. Tabut ini melambangkan takhta Allah di bumi. Sebab Allah berbicara dari atap tutup pendamaian dan di antara kedua kerub.  Ini lambang dari kemuliaan dan kehadiran Tuhan. Dan lebih jelas lagi Allah menyatakan diri-Nya melalui Yesus. Dia adalah pokok keselamatan kita; Allah yang menjelma menjadi manusia.

 

Kalau manusia ingin melihat Allah, maka mereka harus melihat  kepada Yesus dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

 

October 5, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Libatkan Tuhan!

Artikel oleh:

Libatkan Tuhan

“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.”(Keluaran 17:11)

 

Musa bukan hanya menjadi teladan bagi kita dalam hikmatnya mengatur bangsa yang besar dalam urusan strategis, tetapi juga dalam hal kebergantungannya kepada Tuhan yang dia yakini sebagai Pemimpin yang sesungguhnya. Pada saat menghadapi bahaya Amalek, Musa tahu bagaimana mengatur orang-orang disekitarnya: ada yang berperang langsung, sementara ia sendiri ‘mempertaruhkan’ nasib bangsanya di hadapan Tuhan dengan berdoa di puncak bukit mengangkat tongkatnya.  Memang, dalam perhitungan secara militer, pertempuran orang Israel melawan tentara Amalek sungguh tidak seimbang. Orang-orang Amalek jauh lebih kuat dan lebih menguasai medan dibandingkan orang-orang Israel yang baru saja keluar dari perbudakan. Selama di Mesair orang-orang Israel hanyalah para pekerja kasar, bukan tentara yang terlatih untuk berperang.  Bagi mereka ini merupakan pertama kali terlibat dalam peperangan. Namun, pada akhirnya, bangsa Israel memgalami kemenangan yang gilang-gemilang.

Bangsa Israel yang berperang mungkin tidak tahu bahwa kemenangan mereka pada hari itu tidak hanya ditentukan oleh keahlian mereka berperang dan keahlian Yosua memimpin bangsa Israel. Ada faktor lain yang justru paling berpengaruh yaitu usaha Musa, Harun, dan Hur di atas bukit. Merekalah orang-orang yang paling berperan dalam kemenangan bangsa Israel tersebut. Tuhan sangat sadar dengan hal itu, sehingga meminta Musa untuk menulis kisah kemenangan bangsa Israel ini dalam sebuah kitab (ay. 14). Musa pun taat dan juga melakukan hal yang lain, yaitu mendirikan mezbah bagi Tuhan dan menamainya “TUHANlah panji-panjiku” (ay. 15-16).

Dari kemenangan ini kita bisa melihat pentingnya sebuah kerjasama untuk mencapai keberhasilan. Namun, lebih penting dari itu, kita juga belajar bahwa campur tangan Tuhan mutlak diperlukan untuk keberhasilan kita. Prinsip-prinsip itu juga berlaku untuk menghadapi masalah kita sehari-hari. Jangan menghadapi masalah Anda sendirian dan jangan lupa melibatkan Tuhan.

 

Dengan menjalin kerjasama terlebih meibatkan Tuhan, maka hidup kita akan semakin kuat!

 

September 28, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar