Yesus Sang Pembela

Artikel oleh:

Yesus Sang Pembela

“Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku — Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.” (Keluaran 28:43).

 

Harun bukanlah imam yang sempurna. Tetapi Yesus adalah imam yang sempurna. Karena peraturan Allah menyebutkan bahwa hanya Harun dan keturunannya yang patut memegang jabatan imam, maka Yesus disebut Imam Besar, tetapi menurut peraturan Melkisedek. Penulis Ibrani berkata, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia” (Ibrani 8:1, 2).

Perhatikan, di dalam Bait Suci para imam tidak pernah duduk. Tidak ada satu pun referensi di Alkitab yang menyebutkan adanya kursi di dalam Bait Suci. Satu-satunya “seat” (kursi) dalam Bait Allah adalah “the mercy seat” (kata ini diterjemahkan dengan ‘tutup pendamaian’). Anda tentu tahu bahwa tutup pendamaian atau the mercy seat ini adalah penutup dari tabut perjanjian – satu-satunya perkakas yang berada di dalam ruang maha suci. Tidak ada satu pun imam yang pernah bermimpikan untuk menyentuh apalagi duduk di atas ‘kursi belas kasihan’ tersebut. Tetapi Yesus melakukannya. Sebab dikatakan bahwa Yesus duduk. Ada dua hal yang harus Anda ketahui mengenai Yesus duduk di sebelah kanan Bapa:

Pertama, duduk di sebelah kanan itu menunjukkan tempat yang penuh kehormatan dan otoritas. Bukankah Anda juga diwajibkan melakukan segala sesuatu dengan tangan kanan? Misalnya bersalaman. Tidak ada yang melakukannya dengan tangan kiri.  Kedua, di Sanhedrin (pengadilan tertinggi Yahudi), adalah hal yang biasa bagi 2 panitera pengadilan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri hakim. Yang duduk di sebelah kiri menuliskan penghukuman, sedangkan di sebelah kanan menuliskan pembebasan.  Yesus duduk di sebelah kanan untuk membebaskan kita dari belenggu dosa dan hukuman maut, bahkan menjadi pembela dan penolong bagi orang percaya.

 

Bila Yesus adalah Pembela kita, masih adakah yang perlu kita takuti?

 

October 7, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Bait Yang Suci

Artikel oleh:

Bait Yang Suci

“Tutup pendamaian itu haruslah kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus”. (Keluaran 26 : 34)

 

Pada masa Perjanjian Lama, di dalam kitab Keluaran dijelaskan bahwa kemah suci itu dibangun sesuai dengan perintah Allah ( Kel 26), sehingga tempat itu sungguh-sungguh dijaga ke kudusannya, bahkan setiap orang yang datang beribadah kedalam kemah tersebut pun tidak boleh main-main (harus tertib), kalau tidak maka Allah akan murka.  Apa kepentingan kita, umat masa kini, untuk membaca detail cara pembuatan Kemah Suci? Sebenarnya, kita bisa belajar prinsip rohani dari detail yang dipaparkan. Misal, kemah yang terdiri dari material yang berbeda-beda, tetapi dipersatukan menjadi sebuah tenda besar. Ini menggambarkan kesatuan tubuh Kristus dalam keragaman anggota-anggotanya (bdk. 1Kor. 12).

Hal yang penting dari pembuatan Kemah Suci dan juga perabotannya ialah bahwa cetak birunya berasal dari Allah sendiri (30, Kel. 25:9, 40). Musa menerima visi dari Allah tentang seperti apa Kemah Suci akan terlihat nantinya. Kemudian Musa mengomunikasikan visi ini kepada perajin yang melakukan pembangunan yang sebenarnya. Tuhan bekerja melalui visi untuk menunjukkan pekerjaan yang ingin Dia lakukan melalui diri kita, anggota-anggota tubuh-Nya. Tuhan tetap menjadi Kepala dan merupakan tujuan bagi semuanya. Hal menarik lainnya adalah pintu yang dibuat dari kayu yang bersalutkan emas dan tembaga yang sudah diproses melalui api pemurnian (36-37). Sebuah gambaran kemurnian dan daya tahan melalui kesengsaraan.  Pintu masuk ke Kemah Suci bisa melambangkan apa yang Yesus telah lakukan bagi kita.

Dalam Perjanjian Baru ,Yesus Kristus menegaskan kepada kita betapa Bait Allah itu suci adanya, hal ini terbukti pada saat Yesus dengan murid-muridnya datang di Yerusalem dan mendapati banyak orang yang berjualan di Bait Allah. Baru saat itulah Alkitab mencatat bahwa Yesus benar-benar marah dan mengusir semua yang berjualan disana dan membalikkan meja-meja dagangan mereka itu (Markus 11:15). Hal ini menunjukkan betapa sucinya Bait Allah itu, yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik oleh umatNya.

 

Sekalipun Bait Suci itu hanya berupa bangunan, namun hormatilah ketika kita sedang beribadah didalamnya; terlebih lagi Bait Suci Rohani yakni tubuh kita!

October 6, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Pokok Keselamatan

Artikel oleh:

Pokok Keselamatan

“Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel” (Keluaran 25:22).

 

Allah menetapkan untuk berbicara kepada Musa setelah tabut perjanjian dibuat. Firman disampaikan tepat di atas tutup pendamaian dan di antara kedua kerub. Replika kemuliaan Tuhan ini adalah perlambang bahwa di kemudian hari Yesus akan datang sebagai penggenap dan Dia akan masuk ke dalam tempat maha kudus tersebut dengan membawa darah-Nya sendiri.  Perhatikan bahwa Allah memberikan instruksi ini kepada Musa. Ini menunjukkan bahwa ide dan gagasan keselamatan itu berasal dari Allah, bukannya manusia.  Keselamatan ini sebenarnya telah direncanakan Allah ketika manusia mula-mula jatuh di dalam dosa dan Allah memberikan pakaian kulit binatang kepada mereka (Kejadian 3:21).

Kata “tabut” sendiri dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan “ark”. Ada 3 tabut yang semuanya berbicara tentang keselamatan di dalam Alkitab:  Pertama, tabut Nuh (Kejadian 6:14). Dalam Alkitab kita, ‘tabut Nuh’ diterjemahkan dengan ‘bahtera Nuh’. Memang aneh kalau diterjemahkan dengan ‘tabut Nuh’ dalam Alkitab kita. Tetapi yang penting adalah arti bahwa bahtera itu menjadi tempat yang menyelamatkan mereka ketika banjir besar melanda bumi.  Kedua, tabut Musa (Keluaran 2:3-6). Dalam ayat ini dikatakan bahwa Musa diselamatkan dengan peti pandan. Peti itu adalah ‘ark’ dalam bahasa Inggrisnya.  Kita melihat bahwa peti itu menjadi keselamatan bagi Musa. Karena peti itu pula, maka ia lolos dari pembunuhan yang dilakukan oleh penguasa Mesir saat itu.  Ketiga, tabut perjanjian. Dalam pembacaan ini, cara pembuatan tabut perjanjian telah disebutkan. Tabut ini melambangkan takhta Allah di bumi. Sebab Allah berbicara dari atap tutup pendamaian dan di antara kedua kerub.  Ini lambang dari kemuliaan dan kehadiran Tuhan. Dan lebih jelas lagi Allah menyatakan diri-Nya melalui Yesus. Dia adalah pokok keselamatan kita; Allah yang menjelma menjadi manusia.

 

Kalau manusia ingin melihat Allah, maka mereka harus melihat  kepada Yesus dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

 

October 5, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Libatkan Tuhan!

Artikel oleh:

Libatkan Tuhan

“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.”(Keluaran 17:11)

 

Musa bukan hanya menjadi teladan bagi kita dalam hikmatnya mengatur bangsa yang besar dalam urusan strategis, tetapi juga dalam hal kebergantungannya kepada Tuhan yang dia yakini sebagai Pemimpin yang sesungguhnya. Pada saat menghadapi bahaya Amalek, Musa tahu bagaimana mengatur orang-orang disekitarnya: ada yang berperang langsung, sementara ia sendiri ‘mempertaruhkan’ nasib bangsanya di hadapan Tuhan dengan berdoa di puncak bukit mengangkat tongkatnya.  Memang, dalam perhitungan secara militer, pertempuran orang Israel melawan tentara Amalek sungguh tidak seimbang. Orang-orang Amalek jauh lebih kuat dan lebih menguasai medan dibandingkan orang-orang Israel yang baru saja keluar dari perbudakan. Selama di Mesair orang-orang Israel hanyalah para pekerja kasar, bukan tentara yang terlatih untuk berperang.  Bagi mereka ini merupakan pertama kali terlibat dalam peperangan. Namun, pada akhirnya, bangsa Israel memgalami kemenangan yang gilang-gemilang.

Bangsa Israel yang berperang mungkin tidak tahu bahwa kemenangan mereka pada hari itu tidak hanya ditentukan oleh keahlian mereka berperang dan keahlian Yosua memimpin bangsa Israel. Ada faktor lain yang justru paling berpengaruh yaitu usaha Musa, Harun, dan Hur di atas bukit. Merekalah orang-orang yang paling berperan dalam kemenangan bangsa Israel tersebut. Tuhan sangat sadar dengan hal itu, sehingga meminta Musa untuk menulis kisah kemenangan bangsa Israel ini dalam sebuah kitab (ay. 14). Musa pun taat dan juga melakukan hal yang lain, yaitu mendirikan mezbah bagi Tuhan dan menamainya “TUHANlah panji-panjiku” (ay. 15-16).

Dari kemenangan ini kita bisa melihat pentingnya sebuah kerjasama untuk mencapai keberhasilan. Namun, lebih penting dari itu, kita juga belajar bahwa campur tangan Tuhan mutlak diperlukan untuk keberhasilan kita. Prinsip-prinsip itu juga berlaku untuk menghadapi masalah kita sehari-hari. Jangan menghadapi masalah Anda sendirian dan jangan lupa melibatkan Tuhan.

 

Dengan menjalin kerjasama terlebih meibatkan Tuhan, maka hidup kita akan semakin kuat!

 

September 28, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Tuhan Yang Pelihara

Artikel oleh:

Tuhan Yang Plihara

“Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” (Keluaran 16 : 16)

 

Bangsa Israel adalah bangsa keras kepala yang selalu sulit untuk bersyukur. Meski sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung bagaimana penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut.   Pada pembacaan pasal ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin, setelah satu setengah bulan berada dalam perjalanan, karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka bersungut-sungut (ay 3). Tuhan mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit (ay 4). Meskipun Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun ada sebuah pesan penting dari Tuhan agar mereka memungut secukupnya saja. Tapi mereka merasa belum juga cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan dalam ayat 16.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa meski Tuhan bisa memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki oleh anak-anakNya.  Ada banyak orang yang salah kaprah dalam menyikapi berkat yang diberikan Tuhan. Mereka berpikir bahwa semua itu adalah untuk membuat mereka bisa hidup mewah, berfoya-foya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu benar. Kita harus ingat bahwa Tuhan memberi berkat bukan untuk kita simpan sendiri tetapi untuk memberkati orang lain.

Jika hari ini ada diantara kita yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Sebaliknya, apabila kita diberkati hari ini dengan penghasilan yang besar, bersyukurlah dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang kekurangan, menolong yang kelaparan, memberi pakaian bagi yang kurang mampu, semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya.

 

Dalam keadaan apapun, ingatlah bahwa di atas segalanya, Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita.

 

September 27, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Menjadi Milik KesayanganNya!

Artikel oleh:

Umat Kesayangan

“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku” (Keluaran 19 : 1 – 6)

 

Keluarnya bangsa Israel dari Mesir menunjukkan kuasa Tuhan yang luar biasa. Disaat bangsa Israel hidup dalam penderitaan dan keputusasaan, Tuhan bertindak melalui hamba-Nya Musa membawa mereka keluar dari perbudakan kepada kebebasan dan kemerdekaan menuju tanah perjanjian, tanah Kanaan.  Mengenai karya pembebasan inilah yang disampaikan Tuhan kepada Musa untuk disampaikan kepada umat Israel; karya yang mereka lihat sendiri apa yang Tuhan lakukan kepada Mesir bangsa yang memperbudak mereka, bagaimana Tuhan telah mendukung mereka di atas sayap rajawali dan membawa mereka kepada-Nya. Dari umat Israel, Tuhan menuntut untuk sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjianNya. Dengan hidup demikian umat Israel akan menjadi harta kesayangan Tuhan dari antara segala bangsa dan mereka menjadi kerajaan iman dan bangsa yang kudus bagi Tuhan.

Sebagaimana umat Israel dibawa keluar oleh Tuhan dengan perbuatan-perbuatan yang besar, demikianlah kita orang-orang percaya dibebaskan dari perbudakan dosa dan kuasa kematian oleh karya-Nya yang ajaib di dalam diri Tuhan Yesus Kristus yang menderita, mati di salib, turun ke dalam kerajaan maut dan bangkit pada hari yang ketiga. Karya Tuhan di dalam diri Yesus Kristus  kita telah diangkat menjadi anak-anakNya dan menjadi pewaris di dalam kerajaanNya.

Sebagai anak-anak Allah, tentu saja kita menginginkan supaya kita menjadi harta kesayangan-Nya. Untuk menjadi harta kesayangan Tuhan kita harus menunjukkan hidup yang taat dan setia kepada-Nya dengan sungguh-sungguh mendengar firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya. Firman Tuhan harus menjadi pelita dan terang dalam perjalanan hidup yang kita lalui (Mzm.119:105), kita menjadi pelaku firman Tuhan (Mat.7:24-27), kesukaan kita adalah taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam (Mzm.1:2); artinya firman-Nya menjadi menu utama dalam kehidupan kita (bnd. Luk.4:4).

 

Menu utama orang yang menjadikan Allah berkuasa dalam kehidupannya, yakni Firman Tuhan!

September 26, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Dengarkan Nasehat!

Artikel oleh:

Dengarkan Nasihat

Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. (Keluaran 18 : 19)

 

Dalam kisah Musa dengan mertuanya, yaitu Yitro yang seorang Imam di Midian, kita dapat mempelajari bagaimana Yitro menasihati Musa untuk meminta bantuan orang lain dalam memimpin bangsa Israel. Ketika Yitro, melihat bagaimana Musa menangani sendiri semua hal tentang pengelolaan masalah bangsa Israel, ia mengingatkan bahwa itu “tidak baik” (ayat 17). Yitro lalu mengusulkan agar dalam menjalankan tugasnya ini, Musa memakai strategi yang lebih tepat, termasuk bahwa ia dapat melibatkan orang-orang yang cakap sebagai mitra pelayanan. Musa mendengarkan usulan ini dan sungguh-sungguh melakukannya. Setelah beres, barulah Musa melepas mertuanya pergi (ayat 27). Artinya sang mertua masih bisa melihat bagaimana Musa memperbaiki sistem pelayanannya. Apa yang diperbaiki oleh Musa? Yakni sistem pelayanannya!  Sesuai dengan nasehat Yitro, maka Musa akhirnya tidak lagi melayani umat seorang diri, namun Musa mulai mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kepada orang-orang yang tepat.

Di bidang pekerjaan apa pun:  di kantor, perusahaan, gereja atau pelayanan, pembagian atau pendelegasian tugas sangatlah penting, sehingga seorang pemimpin tidak harus menangani semua pekerjaan sendiri.  Tetapi ia harus memilih orang-orang yang mumpuni, yang dapat menjalankan perannya dengan baik. Tidak mungkin kita mempercayakan suatu tugas penting kepada sembarangan orang.  Musa harus memilih orang-orang yang memang sudah teruji kualitas hidupnya.  Mereka yang dipilih adalah orang-orang yang cakap, takut akan Tuhan, bisa dipercaya dan benci kepada suap.  Di zaman sekarang ini mungkin banyak sekali orang yang cakap di bidangnya masing-masing, tapi sulit sekali untuk menemukan orang-orang yang bisa dipercaya, takut akan Tuhan dan benci kepada suap.

Jadi, jangan pernah merasa malu untuk meminta bantuan orang lain, karena suatu saat orang lain juga akan minta bantuan kepada kita. Dan juga, jangan merasa diri mampu mengatasi semua masalah kehidupan.

 

Meminta bantuan kepada orang lain bukan tanda dari suatu kelemahan kita, tetapi tanda bahwa kita mau belajar untuk lebih baik.

September 25, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Ingat Janji Tuhan!

Artikel oleh:

Ingat Janji Tuhan

“Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan”  (Keluaran 24:7).

 

Lewat ayat bacaan terlebih ayat yang ke –7 kita sedang diingatkan Tuhan, bahwa kita ini adalah umat yang hidup di dalam perjanjian-Nya. Perjanjian itu tidak ada satu pun yang merugikan, semuanya menguntungkan umat-Nya dan memuliakan nama-Nya. Namun seberapa banyak orang yang kadang menganggap sepi perjanjian-Nya, atau tahu tetapi mengabaikannya. Sehingga tidak heran kalau hidup kita sering kali lebih banyak diwarnai dengan putus asa, amarah, ambisi pribadi, dan lain-lain.

Kata-kata firman sering dijadikan hiasan dinding dan pemanis meja belajar tetapi tidak satupun yang di amin-kannya. Tetapi hari ini kita sedang diingatkan Tuhan untuk terus menerus mengingat janji Tuhan. Karenanya mengapa Musa saat itu mengambil kitab Pejanjian dan membacakannya keras-keras kepada umat Israel.  “Dibaca”, artinya diucapkan secara verbal, ini sangat penting sekali, Allah mau setiap orang percaya setiap hari tekun membaca Alktiab, jika perlu ayat renungannya dibaca secara berulang-ulang sampai di mengerti dan di pahami.  Bagaimana dengan saat teduh kita? Apakah kita menyediakan waktu khusus untuk membaca Firman-Nya?

Berikutnya selain dibaca firman itu juga harus “didengar”, artinya di dengar secara aktif. Mendengar aktif itu artinya memperhatikan, meneliti dan berusaha memahami pesan dan janji Tuhan, kalau perlu dihafalkan. Dan selanjutnya firman itu juga harus dilakukan. Saat itu umat Israel mengambil komitmen dengan berkata secara serempak: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan” (Keluaran 24:7).

Inilah yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita dapat mengingat janji Tuhan. Mengapa mengingat janji itu sangat penting?  Sebab dengan mengingat perjanjian kita akan dituntun untuk hidup kudus, memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah, mengerti suara Tuhan, mengerti rencana Tuhan, dan mengerti kehendak Tuhan, sehingga hidup kita diberkati Tuhan.

 

Yang tidak kalah penting ketika kita mengingat janji-Nya ialah bahwa iman kita diteguhkan dan dikuatkan!

 

September 24, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Bersekutu Dengan Allah

Artikel oleh:

Bersekutu Dengan Allah

“Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada”. (Keluaran 20 : 21)

 

Setiap kali halilintar menggelegar di udara, di tengah hujan deras dan angin yang berembus kencang, anak-anak kecil selalu akan menjerit dan segera lari ke pelukan orang tuanya. Ya, suara halilintar yang mengerikan itu, selalu membuat anak-anak ketakutan.

Kedahsyatan guntur juga pernah membuat umat Israel ketakutan-seperti dalam bacaan hari ini. Keluaran 20 menyaksikan kehadiran Allah dengan sedemikian megah: “guruh mengguntur, kilat sam-bung-menyambung, sangkakala berbunyi, gunung berasap” (ayat 18). Bagaimana umat tidak tergetar dengan tanda-tanda itu? Mereka takut, gemetar, dan berdiri jauh-jauh … bahkan tak berani mende-ngar Allah yang dahsyat itu berbicara (ayat 19). Ya, kedahsyatan alam yang mewakili kehadiran Allah memang menggetarkan.

Namun, betapa menarik apa yang ditulis pada ayat 21: “Tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada”. Allah yang dahsyat ternyata juga bisa berada di tengah kekelaman embun, yang dalam bahasa Ibrani bisa berarti “awan pekat”. Di sini kita mendapat kesan yang berkebalikan dari gambaran kedahsyatan. Tiba-tiba muncul suasana temaram, dingin, dan teduh. Demikianlah Allah menjelaskan bahwa selain dahsyat, Dia juga bisa teduh. Kedahsyatan dan keteduhan Allah tak perlu dilawankan. Allah bisa hadir dalam kedua suasana itu.

Firman Tuhan mengajar kita bahwa Dia dapat dijumpai dalam hal-hal yang besar dan hebat, juga dalam keteduhan yang menenteramkan. Dia bisa hadir dalam berbagai persoalan hidup. Dalam segala keadaan kita. Sudahkah Anda bertemu Allah hari ini?  Sadarilah bahwa Allah ada dan selalu hadir dalam segala situasi atau keadaan apapun dalam kehidupan kita.

 

Hampirilah Dia dan bersekutulah dengan-Nya, maka hidup Anda semakin disayangiNya!

 

September 23, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar

Tuntunan Tuhan

Artikel oleh:

Tuntunan Tuhan

“Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju laut Teberau” (Keluaran 13 : 18)

 

Mengapa kadang Tuhan menuntun hidup kita dengan cara dan arah yang sulit kita mengerti ? Tentu karena DIA lebih tahu apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita, sehingga apapun bentuk tuntunan-Nya pasti terbaik.

Dalam Keluaran 13 : 17-22, kita membaca bahwa umat Israel juga mengalami hal yang sama. Tuhan tidak langsung memimpin mereka melalui tanah Filistin yaitu jalan tercepat untuk sampai ke tanah perjanjian. Sebaliknya IA memimpin mereka berputar melalui jalan yang harus dilintasi dan Laut Teberau yang harus diseberangi. Tuhan memiliki pertimbangan sendiri. Dia tidak ingin mereka menyesal dan kembali ke Mesir karena harus menghadapi pencobaan yang tidak dapat mereka tanggung (peperangan dengan orang Filistin, yang kuat dan suka berperang dengan senjata yang lengkap). Tuhan tahu mereka adalah mantan budak yang belum siap dan terlatih untuk berperang (terjemahan lebih tepat ay. 18b, adalah “tersusun dalam pasukan”, bukan siap sedia berperang” karena Kel. 12 : 11 mengatakan mereka hanya membawa tongkat saja).

Walaupun perjalanan mereka berputar, Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Tuhan hadir melalui tiang awan pada siang hari (21-22) supaya mereka tidak kepanasan dan tiang api pada malam hari supaya mereka tidak kedinginan (di padang gurun perubahan suhu pada siang dan malam hari biasanya sangat tajam). Yang indah di sini adalah mereka merespons penyertaan Tuhan ini dengan mempercayai bahwa Tuhan sedang menggenapkan janji-Nya pada nenek moyang mereka, Yusuf. Oleh karena itu mereka membawa serta tulang belulang Yusuf untuk dimakamkan ulang di tanah perjanjian kelak (19; lih. Kej. 50:25).

Banyak hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan hidup kita, yang tentunya ada dalam izin dan rencana Tuhan. Namun jangan gentar apalagi ragu. Roh-Nya yang kudus akan menyertai kita. Kristus menjadi sahabat sejati mendampingi kita. Allah Bapa menaungi dan memberkati kita dari atas.

 

Serahkan hidup Anda dalam tuntunan Tuhan, maka Anda akan menikmati kebahagiaan.

 

September 21, 2015   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Exodus (Renungan Alkitabiah dari Kitab Keluaran)  belum ada komentar