Jangan Lupakan Tuhan!

Jangan Lupakan Tuhan

“Sungguh, segala meja penuh dengan muntah, kotoran, sehingga tidak ada tempat yang bersih lagi”. (Yesaua 28 : 8)

 

Dalam bagian ini, Yesaya menggambarkan bahwa keberadaan pemimpin-pemimpin Israel tidak lagi mencerminkan kepemimpinan yang dituntut Tuhan. Mereka dimabukkan oleh anggur sehingga kepemimpinan mereka tidak lagi menjadi teladan. Pemimpin-pemimpin Israel itu pun dimabuk kekuasaan, mabuk jabatan, sehingga kesombongan, keangkuhan dan pementingan diri sendiri terjadi dimana-mana. Bagi mereka hal ini sudah lazim dan bahkan dipandang baik-baik saja. Oleh karena itu tidak heran, umat sendiripun berada dalam kondisi seperti itu. Dan yang lebih parah lagi adalah baik pemimpin umat maupun umat sendiri telah melupakan ciri khas dan identitas mereka sebagai umat pilihan Tuhan yaitu sebagai umat yang taat beribadah dan bersekutu dengan Tuhan. Mereka kini lebih memilih pada penyembahan-penyembahan berhala daripada datang menyembah kepada Tuhan Allah yang sejak dulu menyatakan kuasa dan keajaiban-keajaiban bagi perjalanan hidup mereka.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, sehingga Yesaya berkali-kali memperingatkan bangsa ini namun tidak dihiraukan.  Oleh karena itu Yesaya menyampaikan bahwa akibat perbuatan ini maka umat Tuhan akan dihukum oleh Tuhan sendiri (ay.21). Penderitaan itu digambarkan bahwa Yerusalem akan hancur (ay.12), padahal Yerusalem bagi Israel merupakan kota yang kudus, kota yang menjadi simbol kehadiran Allah. Akan tetapi kehancuran ini tidak akan terhindarkan oleh karena kehidupan umat Tuhan yang tidak lagi taat dan setia kepada Tuhan.  Sangat ironis memang, umat yang dipilih dan umat yang diberkati kini berada diambang kehancuran.

Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa sebagai umat Tuhan kita harus menyadari bahwa hidup yang kita jalani adalah pemberian Tuhan dan tanda kasih Tuhan bagi kita. Adalah sangat ironis apabila kita yang telah merasakan pemeliharaan dan kasih Tuhan itu justru meninggalkan Tuhan dan berpaling pada kekuatan-kekuatan manusia dan dunia.  Mabuk oleh kekuasaan atau jabatan, kesombongan dan keangkuhan bukanlah ciri khas kita sebagai orang percaya.  Benar bahwa kita tidak lagi menyembah berhala seperti umat Israel di masa itu, tetapi tidak dapat kita pungkiri bahwa berhala-berhala modern seringkali menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita.

 

Ketika kita mulai beranggapan persekutuan dengan Tuhan tidak lagi penting, maka kita sedang menuju jalan maut!

 

Artikel oleh: May 30, 2016   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Isaiah (Renungan Alkitab dari Kitab Yesaya)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda