Pilihan Allah

Pilihan Allah

“Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal” (Roma 9 : 6)

 

Dalam sebuah adegan film drama silat Mandarin, dikisahkan mengenai seorang pemimpin sebuah partai silat ternama yang harus memilih murid diantara murid-murid yang lain untuk dijadikan muridnya sendiri sesuai dengan ketentuan perguruan silat yang sudah turun-temurun. Kemudian dilakukan lomba bagi para murid. Pemenang dalam lomba itu otomatis dialah yang akan terpilih sebagai murid ketua partai.  Setelah diadakan lomba, pada akhirnya hanya 2 murid yang masuk grand final dan kembali berlomba untuk menentukan pemenang pertama. Pada saat pengumuman, yang mencengangkan semua orang adalah ternyata sang ketua partai memilih juara kedua bukan juara pertama untuk menjadi muridnya, tidak sesuai dengan ketentuan perlombaan. Ketika sang ketua dimintai pertanggungjawaban, maka sang ketua kemudian menyatakan bahwa murid yang menjadi juara pertama telah menggunakan trik yang jelek demi ambisi untuk menjadi muridnya, sedangkan murid juara kedua melakukan dengan hati yang jujur dan bersih, makanya sang guru memilih murid yang tulus tersebut.

Israel adalah bangsa pilihan Allah, pewaris perjanjian Allah. Dari merekalah akan lahir Mesias, sang Juruselamat. Mereka memiliki hak istimewa untuk menjadi saksi mata penyataan kemuliaan Allah, terutama ketika mereka keluar dari Mesir. Semua keistimewaan ini tidak diperoleh bangsa lain. Walau demikian mereka menolak Yesus Kristus. Mereka malah menyalibkan Dia, yang akan menyelamatkan mereka. Penolakan ini berdampak fatal bagi mereka. Israel sendiri seolah tutup mata terhadap fakta tersebut. Mereka membanggakan diri sebagai keturunan Abraham dan umat pilihan. Padahal pilihan Allah atas Israel bukan hanya karena faktor keturunan (ayat 6-10).

Allah mempunyai kehendak dalam diri setiap orang (ayat 22-24). Musa menerima kasih karunia Allah dan ia menjadi alat untuk menyatakan kasih karunia itu. Namun Firaun, sang pemberontak, menerima murka Allah. Lalu apakah Allah dapat dituduh tidak adil atas hal ini? Allah tidak dapat dikatakan tidak adil bila Ia memilih seseorang dan menolak yang lain, karena ini adalah masalah kasih karunia. Kita tidak bisa mempertanyakan mengapa demikian, sebab itu berarti kita telah melampaui hak kita sebagai ciptaan.

Hal yang terpenting untuk selalu dihayati adalah: Allah memilih untuk menyelamatkan kita, bukan karena kita lebih baik, atau lebih suci dari orang lain, tetapi semata-mata karena kemurahan hati Allah. karena itu hiduplah dengan penuh kerendahan hati di hadapan Allah, dan bermurah-hatilah kepada sesama kita.

 

Allah memiliki kebebasan untuk menyatakan kasih karunia kepada orang yang Dia kasihi. 

 

Artikel oleh: February 20, 2016   Kategori : Bibical Devotion from Rome (Renungan Alkitabiah dari Kitab Roma), Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda