Yesus Memberi Kepuasan

Roti

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi …” (Yohanes 6 : 35)

 

Di tengah kerumunan banyak orang, Yesus menyatakan diri sebagai Roti Kehidupan. Kalimat itu bukan tanpa makna, bukan juga tanpa kelanjutan. Jika Yesus menyatakan diri sebagai Roti Kehidupan, maka diri-Nya seharusnya tampak dalam diri setiap orang yang memakan Roti Kehidupan itu.  Dengan kata lain, setiap orang yang mendengar perkataan itu ditantang untuk menjalani hidup sebagai murid Kristus. Dan tidak mungkin seseorang yang mengakui diri sebagai murid Kristus itu tidak mengakui bahwa Yesus memiliki hubungan yang unik dan istimewa dengan Bapa yang telah mengutus Yesus.

Yesus menolak murid-murid yang mengerumuni-Nya secara spontan atau karena tertarik secara intelektual. Murid sejati adalah setiap orang yang berusaha terlibat dalam persekutuan dengan Kristus dan Bapa-Nya. Percaya berarti menyadari bahwa diri kita secara mutlak bergantung kepada Allah. Percaya berarti menerima bahwa berkat Kristus, manusia memperoleh kebangkitan dan hidup kekal.

Kata orang bijak, hakikat manusia ditentukan oleh apa yang dimakannya.  Memakan tubuh dan meminum darah Kristus berarti hidup sebagaimana Kristus hidup. Hanya dengan itulah dunia dapat sungguh-sungguh mengenal Kristus.   Itu jugalah yang digemakan Paulus dalam suratnya: “ … aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku “ (Gal. 2:20). Itu berarti, kita harus hidup sebagaimana Kristus hidup.

Jadi, tidaklah sinkron bila kita menyebut diri murid Kristus namun dalam sikap keseharian kita, baik dirumah, di kantor, atau dimanapun kita berada tidak menunjukkan sifat dan karakter Kristus.   Yesus adalah Roti Hidup yang memberi kepuasan dan kekenyangan rohani dalam hidup kita, sehingga kita tidak menjadi orang Kristen yang kurang gizi atau tak bertenaga dalam menjalankan tugas panggilan kita untuk menjadi saksi bagi Kristus.

 

       Hiduplah di dalam kasih dan anugerah Kristus, maka Anda akan selalu dipuaskan-Nya!

 

Artikel oleh: September 26, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from John (Renungan Alkitabiah dari Injil Yohanes)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda