Hidup Untuk Tuhan

Hidup Untuk Tuhan

“Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel” (Ulangan 32 : 52)

 

Ada bermacam-macam tujuan orang mendekat kepada Allah. Bila ditanyakan kepada sebagian besar orang, maka akan muncul jawaban-jawaban spontan seperti, ”Ingin mendapatkan kedamaian, ketenangan, berkat, pengampunan, kesembuhan, kecukupan”, dan lain sebagainya. Semua orang pasti mendambakan hal-hal tersebut diberikan oleh Allah. Namun jika mau direnungkan lebih mendalam, ada kecenderungan kita sebagai manusia terjebak dalam ego kita yang memperjuangkan kepentingan diri kita sendiri, atau mendapatkan keuntungan atau nilai plus-plus pada saat kita dekat dengan Allah. Dan jika Allah tidak memberikannya, kita merasa ada yang salah dengan keputusan atau rencana Allah.

Musa dalam hidupnya berjuang untuk taat dan setia pada Allah. Ada kalanya ia gagal, seperti di Bilangan 20:12. Karena kegagalannya, ada konsekuensi yang harus diambilnya sebagai wujud tanggung jawabnya atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Musa tidak diperkenankan mengambil bagian dalam tanah perjanjian Kanaan, walau ia sudah berjerih lelah memimpin bangsa yang keras dan tidak mudah diatur. Hal ini tidak menyurutkan semangat dan perjuangan Musa hingga akhir tugasnya selesai. Ia terbukti tetap giat dan kuat mengemban semua yang Tuhan perintahkan kepadanya.

Jadi, kita bisa melihat teladan Musa yang benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untuk kesenangan dan kepuasan dan kebanggaan Tuhan.  Bukan untuk kenyamanan dan kenikmatan hidupnya sendiri. Musa melayani Tuhan bukan karena ingin mendapatkan sesuatu dari Tuhan, melainkan karena kasih dan setianya kepada Tuhan. Berbeda dengan orang-orang percaya yang melayani Tuhan dengan menuntut balasan setimpal dari Tuhan dan akan mengendur semangat dan imannya bila merasa apa yang ia lakukan untuk Tuhan tidak berdampak apa-apa bagi hidupnya.

 

Mari kita belajar dari Musa, bagaimana arti hidup yang sesungguhnya

untuk Tuhan yang diterjemahkan dengan mudah dalam praktik hidupnya.

 

Artikel oleh: September 14, 2014   Kategori : Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda