Allah Yang Murka

Murka

“Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku”. (Ulangan 9 : 19)

 

Konsep “murka Allah” diungkapkan dengan berbagai-bagai istilah dalam bahasa aslinya (Ibrani), antara lain: hith ‘anaf (menjadi marah), harah (bernyala-nyala, menjadi panas), hemah (kepanasan, kemarahan), hith ‘abber (membiarkan diri meluap), qatsaf (memutus, pecah, meluap), ka’as (menjadi tersinggung, marah, sakit hati), dan masih ada lain lagi. Namun, perlu diingat bahwa konsep “murka” atau “amarah” ini ada sesuatu dalam sifat tabiat Tuhan yang mirip dengan kemarahan manusia.  Namun tetaplah ada perbedaan juga!  Kemarahan manusia diperhitungkan sebagai dosa, sedangkan amarah Tuhan dianggap suci.  Beberapa catatan penting mengenai perbedaan konkrit antara kemarahan manusia dan amarah Tuhan :

  • Kemarahan manusia biasanya timbul dari rasa benci (entah bersifat permanent atau sementara). Tetapi Tuhan adalah kasih, sehingga di dalam diri-Nya tidak ada kebencian sedikitpun terhadap perbuatan tangan-Nya. Dia marah terhadap makhluk-Nya bukan karena membenci melainkan karena makhluk itu menyimpang dari jalan lurus yang ditentukan-Nya.
  • Kemarahan manusia biasanya berhubungan dengan frustrasi, kewalahan, atau rasa tidak mampu mengatasi ketegangan, halangan dan “kepala batu”.  Tuhan yang mahakuasa tidak mengenal frustrasi yang berlandaskan ketidak-mampuan itu.
  • Kemarahan manusia sering timbul karena harga diri manusia menjadi tersinggung, sedangkan harga diri itu sering berdasarkan keangkuhan, kesombongan dan egoisme.  Tetapi kasih sejati yang dari Tuhan adalah “meluap keluar”, yaitu bersifat memberi.  Tidak ada unsur sombong dalam kasih yang murni.  Itu berarti bahwa amarah Tuhan pun tidak mengandung unsur sombong atau egois.
  • Kemarahan manusia sering ada hubungannya dengan sikap memaksakan hal-hal yang bukan-bukan. Sedangkan amarah Tuhan selalu bertujuan menegakkan kebenaran serta membela kesucian.

Jadi, amarah Tuhan tidak bertentangan dengan kasih dan kebenaran, melainkan justru menegakkan kasih dan kebenaran.

 

Jangan menyimpan amarahmu sampai matahari  terbenam, karena kemarahan yang berlebihan adalah dosa.

Artikel oleh: September 2, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Deuteronomy (Renungan Alkitabiah dari Kitab Ulangan)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda