Percaya Pada Janji-Nya

Percaya Pada Janji-Nya

“Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu”. (Galatia 3 : 6 – 14)

 

Paulus menunjukkan kepada Abraham sebagai teladan iman yang sejati.  Abraham percaya kepada Allah, yaitu dengan memelihara hubungan yang setia kepada Allah serta ia percaya kepada janji-janji Allah.  Kepada Abraham, Allah telah menyatakan janji-Nya yang agung bahwa melalui dirinya, segala bangsa dibumi ini akan diberkati (Kej 12:3).  Abraham berkenan kepada Allah bukan karena ia patuh kepada hukum Taurat, sebab pada masa itu hukum Taurat belum ada; melainkan karena perwujudan imannya yang teguh dalam mematuhi kehendak Allah.  Kemudian Allah menjanjikan berkat-Nya kepada keturunan Abraham.

Rupanya, pada janji itulah orang-orang Yahudi selalu bersandar.  Mereka sangat meyakini bahwa garis keturunan secara lahiriah dari Abraham itu mereka anggap sebagai suatu ciri yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain.  Itulah yang menyebabkan orang-orang Yahudi pada waktu itu menjadi sombong rohani; merasa diri lebih baik dan lebih utama dari pada bangsa-bangsa lain di dunia.  Namun Paulus menjelaskan bahwa yang menandakan seseorang sebagai keturunan Abraham yang benar bukannya darah dan daging.  Keturunan Abraham yang sesungguhnya adalah orang-orang yang perbuatannya adalah perwujudan dari iman yang teguh kepada Kristus.  Jadi, dengan demikian, bukanlah mereka yang mencari jasa melalui Taurat yang akan mewarisi janji-janji Allah itu, melainkan siapa saja dari bangsa mana saja yang melakukan kehendak Allah dalam iman.

Lihatlah Abraham!  Iman percayanya diperhitungan Allah sebagai kebenaran.  Ia dibenarkan karena percayanya dan ia pun layak menerima janji-janji Allah dan berkat kelimpahan Allah dalam kehidupannya.  Dalam Perjanjian Baru, iman seperti itu adalah iman kepada Kristus dan kematian-Nya yang membawa penebusan bagi dosa dunia.

 

Tidak ada sesuatu apapun selain kematian Kristus sebagai korban disalib yang menjadi landasan bagi pendamaian dengan Allah.

 

Artikel oleh: May 8, 2014   Kategori : Biblical Devotion (Renungan Alkitabiah), Biblical Devotion from Galatians (Renungan Alkitab dari Kitab Galatia)  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda