MENYENANGKAN HATI TUHAN

WP_000604

Zakharia 7: 1-14

Apa yang dapat membuat Bapak/Ibu merasa senang?

Kata “senang” diturunkan dari sebuah kata dalam bahasa German kuno “GLAT” (dalam bahasa Inggris “GLAD”), yang artinya adalah bersinar. Jadi tidak salah kalau lawan kata bersenang-senang yang artinya bersinar adalah ber-muram durja. Senang hati dapat dikatakan adalah senyum yang terlukis pada wajah Bapak/Ibu yang tidak terhapuskan.

  • Bapak/Ibu dapat merasa senang karena sesuatu yang baik terjadi dalam hidup Bapak/Ibu, atau karena sesuatu yang buruk tidak menimpa keluarga Bapak/Ibu.
  • Bapak/Ibu merasa senang karena menemukan selembar cek di dalam kotak pos Bapak/Ibu.
  • Bapak/Ibu merasa senang karena hasil medical check up tidak menunjukkan adanya kelainan.
  • Senang hati dapat timbul ketika Bapak/Ibu melihat keindahan matahari terbit di Bromo atau di Bali.
  • Bapak/Ibu merasa senang melihat kehadiran seseorang yang Bapak/Ibu kasihi atau hanya karena berpegangan tangan dengan pasangan Bapak/Ibu.
  • Bapak/Ibu juga merasa senang ketika melihat bayi tersenyum.
  • Bapak/Ibu dapat merasa senang ketika menerima kabar baik melalui tilpon atau ketika menerima janji untuk masa depan, atau menerima pengampunan atas kesalahan di masa lalu.
  • Percaya atau tidak, beberapa orang bahkan dapat merasa senang karena agama. Pemazmur dalam Mzm 92:5  menyanyikan pujian tentang Tuhan: Sebab telah Kau buat aku bersuka cita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.”

Senang hati adalah suatu emosi yang sedang dirasakan atau pernah dirasakan oleh setiap orang pada suatu masa dalam hidupnya. Kita dapat membuat suatu daftar yang sangat panjang tentang apa yang dapat membuat saya atau  Bapak/Ibu merasa senang.

Tetapi apakah Bapak/Ibu pernah merenungkan apa yang dapat menyenangkan hati Tuhan?  Apa yang dapat menimbulkan senyum di wajah Tuhan? Apa yang dapat membangkitkan sukacita di dalam hati-Nya? Apa yang membuat Tuhan senang?

Meskipun kita jarang bertanya tentang hal itu, namun sebenarnya pertanyaan itu sangat penting. Salah satu alasan mengapa Bapak/Ibu dan saya diciptakan adalah untuk menyenangkan hati Tuhan. Seringkali dunia ini memenuhi hati Tuhan dengan kekecewaan dan kesedihan.

Tema pembahasan bulan ini di Rajawali, seperti tertulis dalam poster ini adalah “Berdoa,  Bersyukur dan Berkarya.” Saya yakin bahwa tiga hal itu : Berdoa, Bersyukur dan Berkarya, apabila dilakukan oleh kita semua, maka tiga hal itu pasti akan menyenangkan hati Tuhan.

Pagi ini kita akan belajar dari Kitab Zakharia pasal 7, tentang tiga hal yang dapat menyenangkan hati Tuhan.

Kita menyenangkan hati Tuhan pertama-tama apabila kita melakukan sesuatu bagi Tuhan.

 

I. KETIKA KITA BERBUAT SESUATU UNTUK TUHAN (ayat 1-7)

 kid_praise_god

Kita menyenangkan Tuhan ketika kita berbuat sesuatu untuk Tuhan.

Kitab Zakharia pasal 7 menjelaskan keadaan yang terjadi 2 tahun setelah nabi Zakharia mendapat penglihatan-penglihatan dari Tuhan, yang dijelaskan dalam pasal-pasal sebelumnya.

Pasal 7 menjelaskan kondisi dimana orang-orang Yahudi telah menyelesaikan kira-kira separuh dari pekerjaan membangun kembali Bait Allah. Mereka menerima kunjungan utusan dari kota Betel, yang jaraknya kira-kira 20 KM di utara Yerusalem.

Sebelum masa pembuangan, kota Betel terkenal sebagai pusat penyembahan berhala di Kerajaan Israel bagian utara. Tetapi sejak masa pembuangan, mereka tampaknya sudah menjadi sadar,  dan sekarang mereka hanya menyembah kepada Tuhan.

Penduduk Betel mengirimkan satu grup utusan ke Yerusalem yang dipimpin oleh Sarezer dan Regem-Melekh. Tujuannya menurut ayat 2 adalah “untuk melunakkan hati Tuhan” atau dengan kata lain mereka datang untuk berdoa dan mencari perkenanan Tuhan.

Penduduk kota Betel yang tadinya tidak menghormati Tuhan, sekarang malah ingin tahu bagaimana menyenangkan hati Tuhan, bagaimana caranya menimbulkan senyum di wajah Tuhan,  bagaimana  membuat Tuhan bersuka-cita.

Mereka membungkus maksud mereka dalam pertanyaan seperti pada ayat 3“Haruskah kami sekalian menangis dan berpantang dalam bulan yang kelima seperti yang telah kami lakukan bertahun-tahun lamanya?”

Selama hampir 70 tahun, bangsa Israel menetapkan satu hari dalam setahun untuk berpuasa dan menangisi jatuhnya Yerusalem oleh bangsa Babel. Pada hari yang ditetapkan itu, mereka berpakaian kain kabung, berpuasa, dan berdoa untuk mengakui dosa mereka dan memohon agar Tuhan membawa mereka pulang dari tempat pembuangan ke tanah airnya.

Sekarang pembangunan Bait Allah sudah hampir selesai, penduduk Betel ingin tahu apakah Tuhan menilai  penderitaan mereka sudah cukup? Mereka bertanya kepada Tuhan “Apakah kami belum cukup berdoa dan belum cukup berkabung?  Kapan Tuhan mengijinkan kami pulang ketanah air?

Bangsa Israel berperilaku seperti seorang anak kecil yang sedang menjalani hukuman di sudut ruangan dan terus menerus bertanya kepada ayahnya: “Apakah aku sudah boleh keluar sekarang?  Apakah aku sudah boleh keluar sekarang?  Apakah boleh sekarang?”

Penduduk Betel tidak benar-benar menyesali perbuatan mereka. Yang mereka inginkan hanyalah  supaya hukuman segera berakhir.

Melalui nabi Zakharia Tuhan menjawab dalam ayat 5-6: “(5) Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku? (6) Dan ketika kamu makan dan ketika kamu minum, bukankah kamu makan dan minum untuk dirimu sendiri?”

Dengan kata lain, Tuhan bertanya: “Apakah engkau benar-benar melakukan doa puasa dan pengakuan dosa untuk Aku? Apakah semua ritual agama itu engkau lakukan karena engkau benar-benar bertobat dan siap untuk taat, ataukah karena engkau ingin memanfaatkan Aku untuk memperoleh apa yang engkau inginkan?”

Tuhan bertanya supaya mereka memeriksa motivasi mereka. “Apakah engkau melakukan semua ini untuk Aku ataukah untuk dirimu sendiri?”

Ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Sangat mudah bagi kita melakukan hal-hal yang religius demi kepentingan diri sendiri, tetapi mengklaim bahwa kita melakukannya untuk Tuhan. Sangat mudah merubah doa kita menjadi daftar panjang tentang apa yang harus dilakukan Tuhan untuk kita. Seharusnya melalui permohonan-permohonan kita nama Tuhan yang dipermuliakan.

Sangat mudah bagi kita membaca Alkitab dan mencari ayat-ayat  untuk membenarkan diri sendiri.  Sebagian dari kita mungkin membaca Alkitab bukan untuk mencari Tuhan.

Sangat mudah kita datang ke gereja karena alasan “apa yang dapat kita peroleh dari ibadah ini.” Sebagian dari kita mungkin datang bukan untuk menyembah Tuhan.

Bapak/Ibu dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik – perbuatan rohani – bahkan perbuatan agamawi untuk alasan yang egois, artinya tidak bermaksud atau hanya  sedikit pemikiran untuk menyenangkan Tuhan.

Sebenarnya kita menyenangkan Tuhan jika kita melakukan apa yang kita perbuat untuk Tuhan.

Yesus menggemakan kebenaran ini dalam Mat 6: 1-7. Dalam ayat-ayat  tersebut Yesus berbicara tentang memberi, dan tentang doa.

Beberapa orang memberi untuk mendapat tepukan di bahu atau untuk mendapat pujian dari orang lain. Banyak orang berdoa untuk kepentingan pribadinya semata-mata.

Orang-orang tersebut berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan berbuat sesuatu untuk Tuhan.  Perbuatan berdasarkan motivasi yang egois tidak dapat menyentuh hati Tuhan

Bagaimana dengan motivasi Bapak/Ibu? Siapa yang mengetahui motivasi di balik semua pilihan yang bapak/Ibu buat? Ada satu alasan yang harus menjadi prioritas dibandingkan alasan-alasan lainnya. Alasannya bukan untuk kesenangan diri sendiri, tetapi alasan seharusnnya adalah untuk menyenangkan Tuhan. Ingatlah 1 Kor 10:31 “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Apa sebabnya Bapak/Ibu melakukan apa yang sedang Bapak/Ibu kerjakan? Apa sebenarnya yang memotivasi Bapak/Ibu? Mengapa Bapak/Ibu bekerja? Mengapa Bapak/Ibu berdoa? Mengapa Bapak/Ibu makan atau minum? Apakah Bapak/Ibu melakukannya untuk kesenangan pribadi, demi kenyamanan pribadi atau untuk  kepuasan nafsu pribadi? Ataukah Bapak/Ibu benar-benar ingin, diatas semua hal lainnya, Bapak/Ibu melakukannya untuk menyenangkan hati Tuhan? Salah satu cara menyenangkan hati Tuhan adalah  melakukan segala sesuatu yang kita perbuat  untuk Tuhan

Seorang wanita bertanya kepada temannya, “Apakah engkau pikir suamimu sulit untuk dibuat senang? Temannya menjawab: Aku benar-benar tidak tahu, karena aku tidak pernah mencobanya.”

Apakah Bapak/bu sedang mencoba menyenangkan hati Tuhan? Apakah hidup Bapak/Ibu membuat hati Tuhan menjadi senang?

Cara kedua untuk menyenangkan Tuhan adalah:

II. KETIKA KITA BERBUAT SESUATU YANG BENAR UNTUK SESAMA (ayat 8-10)

god's blessings

 

Ada satu kisah nyata tentang seorang pelayan restoran. Ia sedang membawa satu wadah berisi saus untuk salad (salad dressing) untuk dituangkan ke dalam wadah saus salad di tempat salad bar. Tiba-tiba pelayan itu tersandung dan menumpahkan sausnya ke atas badan seorang tamu restoran  yang sedang mengambil salad di tempat itu.

Tamu restoran itu adalah seorang pria yang memakai stelan jas baru. Pria itu sangat marah dan memaki dengan sangat kasar menggunakan semua nama binatang yang dapat diingatnya. Istrinya juga membantu suaminya, ikut memarahi dan memaki pelayan restoran yang malang itu.

Mereka minta bertemu dengan manajer restoran dan minta penggantian untuk jas baru yang ketumpahan saus salad. Sudah pasti penggantian itu akan dibebankan kepada sang pelayan. Satu hal lagi, musibah itu terjadi pada suatu hari Minggu sore. Coba terka, dari mana datangnya seorang yang berpakaian lengkap dengan stelan jas  pada suatu hari Minggu sore. Pria itu tampaknya baru pulang dari gereja! Ia mungkin baru saja mendengar kotbah tentang kasih kepada sesama seperti yang sedang didengar oleh Bapak/Ibu saat ini.

Ada satu kesalahan yang paling umum terjadi dalam agama. Banyak orang berpikir bahwa  hubungan kita dengan Tuhan sama sekali tidak terkait dengan kualitas hubungan kita dengan sesama.

Orang-orang berusaha untuk menjadi kudus dan pada saat yang sama mereka juga menjadi orang yang membenci orang lain. Tetapi hal itu sia-sia. Rasul Yohanes menuliskan pada 1 Yoh 4: 20 “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”

Nabi-nabi Perjanjian Lama secara terus menerus mengaitkan bagaimana seseorang berhubungan dengan Tuhan dan bagaimana mereka memperlakukan sesama. Zakharia membuat koneksi itu dengan membuat daftar tentang cara-cara menyenangkan Tuhan  melalui cara kita  memperlakukan sesama.

Ayat 9: “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!”

Laksanakanlah hukum yang benar.” Dalam Bible NKJV digunakan istilah “Execute true justice.” Terjemahan yang lebih tepat seharusnya adalah “berlakulah adil.”

Berlaku adil berarti bahwa orang lain diberi apa yang menjadi haknya. Tetapi lebih dari itu, berlaku adil juga berarti menaruh belas kasihan dan merasa iba kepada mereka yang bertobat dari kesalahan-kesalahannya. Berlaku adil juga berarti melakukan apa yang benar, dan menuntut orang lain untuk melakukan apa yang benar, tetapi pada saat yang sama merasa iba kepada mereka yng melakukan kesalahan. Berlakulah adil, sama seperti Tuhan juga adil. Milikilah belas kasihan dan rasa iba, sama seperti Tuhan juga berbelas kasihan dan merasa iba.

 

Ayat 10: Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing.”

Janda, anak yatim, orang asing dan orang miskin adalah orang-orang yang memerlukan pertolongan, bukan malah diperas. Dalam kisah yang diceritakan oleh Yesus tentang orang kaya dan Lazarus, Tuhan tidak senang apabila orang-orang yang lemah dan tidak berdaya itu diabaikan.

Jangan menipu satu sama lain. Jangan memelihara dendam dan kebencian. Jangan memiliki kepahitan terhadap orang lain, tetapi lepaskanlah semua perasaan buruk dan kebencian dan berilah pengampunan. Demikianlah seharusnya kita memperlakukan sesama kita.

Zakharia memperingatkan kepada kita bahwa setiap perbuatan kita membawa dampak apakah kita membuat Tuhan menjadi senang atau sebaliknya menjadi sedih.

Dalam perikop tentang Penghakiman Terakhir,  yang diceritakan Yesus dalam Mat 25: 31-46, perbedaan antara mereka yang masuk ke surga dan mereka yang masuk ke neraka ditentukan oleh bagaimana mereka memperlakukan “orang-orang yang terlupakan”, yaitu mereka yang lapar, yang haus, orang asing, orang yang tidak berpakaian, orang sakit, dan narapidana. Pada dasarnya, Yesus mengatakan bagaimana Bapak/Ibu memperlakukan orang orang itu, demikianlah Bapak/Ibu  memperlakukan Yesus.

Tuhan tidak mengajarkan bahwa kita memperoleh jalan ke surga dengan cara memberi makan orang yang lapar, memberi minum yang haus, atau mengunjungi orang sakit.

Yesus sebenarnya sedang menjelaskan bahwa jika Bapak/Ibu memiliki hubungan yang benar dengan Dia, maka Bapak/Ibu akan memperlakukan sesama dengan benar.

Yesus memperhitungkan bagaimana pribadi Bapak/Ibu memperlakukan sesama. Jika Bapak/Ibu memperlakukan orang lain dengan adil, dengan belas kasihan, dan dengan kasih, maka Bapak/Ibu akan membuat hati Tuhan menjadi senang.

Bagaimana Bapak/Ibu dapat menyenangkan hati Tuhan? Perlakukanlah orang lain dengan benar. Perlakukanlah sesama dengan kebajikan, kesabaran, belas kasihan dan kasih sayang, sama seperti Bapak/Ibu berharap bagaimana orang lain memperlakukan dirimu. Perbuatan itu menyenangkan Tuhan.

Menurut Kitab Zakharia pasal 7, masih ada satu cara lagi untuk membuat Tuhan menjadi senang.

 

III. KETIKA KITA BERBUAT SESUATU YANG DIPERINTAHKAN OLEH TUHAN KEPADA KITA    (ayat 11-1)       

  1. sadrach csAda pepatah yang mengatakan bahwa rasa sakit yang paling dalam di hati Tuhan terjadi karena perbuatan anak-anak-Nya yang tidak taat.

Tuhan tidak dapat memberi toleransi terhadap ketidak-taatan umat-Nya. Pelanggaran kita kepada Tuhan menimbulkan kekecewaan, kesedihan, kemarahan, atau bahkan penghukuman. Tetapi sebaliknya, ketaatan kita menimbulkan kesenangan dalam hati  Tuhan.

Zakharia menekankan hal ini dalam ayat 11-14 dengan memperingatkan Israel tentang konsekuensi dari ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Tuhan berbicara kepada mereka, tetapi ……………………

(11) Tetapi mereka tidak mau menghiraukan, dilintangkannya bahunya untuk melawan dan ditulikannya telinganya supaya jangan mendengar. (12) Mereka membuat hati mereka keras seperti batu amril, supaya jangan mendengar pengajaran dan firman yang disampaikan TUHAN semesta alam melalui roh-Nya dengan perantaraan para nabi yang dahulu. Oleh sebab itu datang murka yang hebat dari pada TUHAN. (13) Seperti mereka tidak mendengarkan pada waktu dipanggil, demikianlah Aku tidak mendengarkan pada waktu mereka memanggil, firman TUHAN semesta alam. (14) Oleh sebab itu Aku meniupkan mereka seperti angin badai ke antara segala bangsa yang tidak dikenal mereka, dan sesudahnya tanah itu menjadi sunyi sepi, sehingga tidak ada yang lalu lalang di sana; demikianlah mereka membuat negeri yang indah itu menjadi tempat yang sunyi sepi.”

Apakah Tuhan menikmati ketika Dia memberi hukuman? Pasti tidak. Tuhan akan menjadi jauh  lebih senang jika umat-Nya taat.

Ulangan 5: 29 “Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya!”

Mazmur 81:14 “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!”

Yesaya 48:18 “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,”

Salah satu suka-cita yang paling besar yang dapat dirasakan oleh Bapak/Ibu selaku orang tua adalah ketika mengetahui bahwa anak-anak taat kepada Bapak/Ibu karena mereka benar-benar percaya bahwa apa yang dikatakan Bapak/Ibu kepada mereka adalah hal yang benar dan yang paling baik.

Sebaliknya, salah satu kekecewaan yang paling besar yang dirasakan oleh Bapak/Ibu selaku orang tua adalah ketika mengetahui anak-anak melakukan pelanggaran tanpa memikirkan konsekuensi atau dampak dari perbuatan mereka.

Perasaan yang sama memenuhi hati Tuhan ketika anak-anak-Nya menaati atau melanggar perintah-Nya. Ketika kita tidak taat, Tuhan merasa sedih sekaligus marah.

Kejadian 6:5-6 “(5) Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, (6) maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”

Beberapa kepedihan yang paling dalam di hati Tuhan dirasakan akibat pelanggaran anak-anak-Nya yang tidak taat.

Menaati perintah Tuhan membawa kesenangan di dalam hati-Nya.

3 Yoh 1:4 berlaku baik bagi Tuhan maupun bagi para Rasul: “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.”

Apakah Bapak/Ibu ingin mengisi hati Tuhan dengan sukacita karena berjalan dalam ketaatan kepada-Nya?

Seorang Hamba Tuhan pernah bercerita bahwa pada suatu hari ia mendengar salah seorang anaknya berkata kepada si bungsu, “Kamu harus menjadi anak yang baik. Kalau tidak, ayah tidak akan menyayangimu.”

Hamba Tuhan itu segera memanggil si bungsu dan berkata dengan lembut, “Itu tidak benar, anakku.”  Anak itu bertanya:  “Tetapi ayah tidak akan menyayangi kami jika kami bersikap tidak baik, bukan?” “Aku akan tetap menyayangimu anak-ku, ketika kamu bersikap baik, aku akan menyayangimu dengan kasih yang membuat aku senang; namun ketika kamu bersikap tidak baik, Aku akan menyayangimu dengan kasih yang membuat hatiku terluka.”

Kasih Tuhan kepada Bapak/Ibu tidak pernah berubah. Ia selalu mengasihi Bapak/Ibu terlepas dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh Bapak/Ibu. Tetapi sikap, perkataan, dan tindakan Bapak/Ibu menentukan apakah kasih Tuhan itu kasih dalam keadaan marah, sedih, atau suka-cita.

(Oleh: Pdm Rudy Ruwardi, GSJA CWS Rajawali)

 

 

 

 

 

Artikel oleh: May 22, 2013   Kategori : Bahan Khotbah  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda