From Limited to Unlimited

FROM  LIMITED TO UNLIMITED

Mark.6:30-42.

By Ferry Tabaleku

 

Baru saja kita kembali dari kongres GSSJA yang ke XXII di Surabaya, masih terasa begitu kentalnya berkat-berkat yang kita terima, baik jasmani  maupun rohani, khususnya khotbah-khotbah yang penuh dengan urapan serta memberi semangat dan kekuatan baru bagi kita dalam melayani DIA yang Agung dan yang tak terbatas. Disamping itu pula telah terpilih juga para pemimpin kita yang akan memimpin gereja ini untuk jangka waktu 5 tahun kedepan. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang telah terbukti dedikasi dan komitmen mereka dalam membangun GSSJA yang kita cintai. Oleh karena itu, sebagai salah satu anggota gereja ini, hanya dapat mendoakan mereka agar Tuhan beri mereka hikmat dan kekuatan dalam menjalankan roda operasional gereja ini, disamping itu juga penulis ingin dapat menyumbangkan suatu tulisan, sebagai alat pendukung bagi kemajuan gereja kita di Indonesia.

Merujuk pada tema dan teks di atas, penulis dapat menemukan beberapa alasan dan harapan yang  mendasar tentang perkembangan GSSJA di Indonesia dari Limited to Unlimited. Penulis dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan perkembangan GSSJA 5,sampai 20 tahun mendatang, jika kita betul-betul menganalisis Mark.6:30-42 dengan teliti. Coba kita bayangkan suatu fenomena yang sangat spectakuler dari teks ini, yaitu dari 5 potong roti dan 2 ekor ikan dapat mencukupi 5000 laki-laki saja, belum termasuk perempuan dan anak-anak dan mereka semua makan sampai keyang bahkan masih ada sisa lagi 12 bakul. Ini sesuatu yang tidak dapat diterima dengan akal sehat, artinya dari yang terbatas (dapat dihitung) menjadi tidak terbatas. Luar biasa bukan? Yang menjadi pertanyaan kita, Apakah, memang ini hanya suatu ceritera biasa saja atau memang suatu kebenaran yang perlu di imani dan diterapkan dalam pelayanan kita. Melalui peristiwa di atas penulis menemukan beberapa prinsip mendasar yang akan membawa perubahan secara dramatis didalam perkembangan GSSJA di masa depan yaitu; hamba Tuhan yang melihat, hamba Tuhan yang digerakkan hatinya oleh belas kasihan, hamba Tuhan yang memberi,hamba Tuhan yang mengucap syukur dan hamba Tuhan yang berinvestasi.

 Prinsip pertama melihat, dapat kita baca dalam kitab Markus 6:34 bahwa “Ketika Yesus mendarat, Ia “melihat”sejumlah besar orang banyak maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan pada mereka, karena mereka seperti demba yang tidak mempunyai gembala…Lalu Ia mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka.” Kata “melihat” merupakan suatu kata yang sangat penting dan strategis bagi Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sedang melihat suatu kawasan yang kaya dengan orang banyak, dan suatu kawasan yang kaya dengan orang-orang yang memerlukan seorang gembala, serta juga suatu kawasan yang kaya dengan orang-orang yang letih, lesu dan lapar. Tiga kawasan itu menjadi fokus penglihatan bagi Tuhan Yesus dalam pengembangan pelayananNya saat itu.

Sebagai seorang pengusaha jika ingin mengembangkan usahanya, hal pertama yang harus ia lakukan adalah “melihat” kawasan-kawasan mana saja yang dapat menguntungkan usahanya, barulah ia mau mengembangkannya. Sebagai contoh seorang pejuang apartheid, ia melihat bahwa tidak ada keadilan didalam negeranya, akhirnya memaksakan dia harus mendekam selama 27 tahun dipenjara, kemudian dibebaskan dan menjadi presiden pertama kulit hitam di usia 70 tahun yaitu Nelsen Mandela. Mother Teresia pun demikian, Ia melihat kawasan kumuh di India yang perlu diperbaiki, dan akhirnya ia pergi mengubah kawasan itu dan ia mendapat hadiah nobel perdamaian. Hal yang  sama juga terjadi dengan Marten Luther King Jr yang melihat bahwa di negaranya tidak ada kebebasan maka lahir visinya yang terkenal yaitu I have dream. Akibat dari visinya ia ditembak mati dalam usia muda, namum hasil dari visinya lahirlah seorang presiden kulit hitam pertama di US yaitu Barak Obama. Oleh karena itu, kita sebagai hamba Tuhan seyogyanya meminta dari Tuhan Yesus sebagai kepala Gereja agar memberi kita Kuasa Penglihatan ke kawasan-kawasan mana saja yang perlu kita kembangkan di dalam gereja kita.

Tidak cukuplah bila  kita hanya dapat Melihat kawasan-kawasan yang kaya sebagaimana telah disebut di atas tetapi harus ada juga gerakkan yang timbul dari dalam hati kita oleh Belas Kasihan ini adalah prinsip kedua, yang tertuang dalam (ay.34 Maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka). Artinya jika kita hanya melihat sesuatu tetapi tidak tergerak hati oleh belas kasihan bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Atau dengan kata lain tidak ada gunanya. Sebagai contoh 3 tokoh yang telah diungkapkan diatas, jika mereka hanya melihat keadaan ketidakadilan di Negara mereka dan tidak tergerak hati dengan belas kasihan untuk mengubah atau melakukan sesuatu bagi negeranya maka tidak mungkin akan ada perubahan yang terjadi. Kita sebagai hamba Tuhan di gereja ini, kita telah melihat keadaan gereja kita sesungguhnya, dan apakah ada gerakkan dari dalam hati kita oleh belas kasihan untuk membangun gereja ini?. Perkembangan gereja ini hanya boleh terjadi apabila semua gembala sidang tergerak hatinya dengan penuh belas kasihan untuk membangun tanpa berharap kepada siapa pun juga walau pun telah terpilih pemimpin-pemimpin kita dalam kongres yang lalu. Bagaimanakah dengan hati kita? Apakah ada rasa belas kasihan untuk terus, menerus membangun dan membangun sampai gereja ini bertumbuh hingga tak terbatas?. Jawabannya ada didalam hati kita masing-masing, semoga Tuhan memberi roh belas kasihan didalam hati kita senantiasa.

Selanjutnya apabila prinsip 1 dan 2 di atas telah kita miliki, maka unsur ke tiga adalah memberi . Coba kita renungi ketiga tokoh yang telah kita sebut di atas jika mereka hanya melihat dan ada gerakkan didalam hati mereka dengan belas kasihan tetapi tidak memberi tenaga, pikiran bahkan harta benda mereka mungkinkah akan ada perubahan? Pelayanan Tuhan Yesus bersama murid-muridNya dari pagi sampai sore (mulai malam) begitu lelah dan penat, bahkan tidak cukup waktu bagi mereka untuk  istirahat, sehingga dalam ay.35-36, mereka menyatakan perasaan hati mereka agar Tuhan Yesus menyuruh orang banyak itu pergi mencari makanan dan mencari tempat penginapan di kampung-kampung sekitarnya. Tetapi didalam ay.37, Tuhan Yesus memberi perintah agar mereka (murid-muridNya) memberi makan kepada orang banyak itu. Coba kita bayangkan saja hari sudah mulai malam, pasti belum ada lampu listrik pada saat itu, jumlah laki-laki saja 5000 orang (belum termasuk wanita dan anak-anak), pasti tidak ada pabrik roti disekitar kawasan tersebut, dan kira-kira berapa banyak uang yang di butuhkan murid-murid untuk membeli roti( memberi – makan). Seandainya ada uang dan ada pabrik roti, kira-kira pabrik roti itu dapat mensupplay sekian banyak potongan roti untuk memenuhi keperluan 15000 orang dalam waktu yang singkat? Banyak pertanyaan yang dapat kita ajukan dalam kasus di atas, tapi penekankan adalah berilah mereka makan. Memberi adalah sesuatu tindakan yang tidak mudah dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu sebagaimana terjadi dengan murid-murid Yesus. Namun Tuhan Yesus mengatakan sesuatu kepada mereka tentang hal memberi dengan sebuah contoh yang terdapat di dalam Yoh.12:24 yaitu “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Artinya memberi adalah suatu pengorbanan, dan pengorbanan itulah yang akan menghasilkan buah. Sebab pemberian tanpa pengorbanan maka sia-sialah apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan pemberian kita, demi kemajuan kerajaan Allah melalui GSSJA di Indonesia.

Apabila kita telah melihat sesuatu dari Tuhan, dan ada gerakkan di hati kita dengan belas kasihan serta siap memberi untuk itu, tetapi tidak disertai dengan ucapan syukur sebagai unsur keempat maka janganlah kita mengharapkan sesuatu akan terjadi dalam perkembangan gereja kita. Kenapa demikian? Coba kita kembali kaji ke teks ini yaitu ay.37-38 bagaimana murid-muridNya menjawab Tuhan Yesus dengan mengajukan pertanyaan bahwa “kami harus memberi mereka makan? Lebih lanjut Yesus menyuruh mereka mencari tahu berapa banyak roti yang ada pada mereka. Yesus tidak menyuruh mereka pergi membeli roti sebanyak mungkin, tetapi Yesus mau tahu berapa banyak roti yang ada ditangan mereka. Kemudian seorang murid melaporkan bahwa ada lima roti dan dua ekor ikan. Lalu apa respon Yesus dengan 5 roti dan 2 ekor ikan itu? Sebagai pemimpin Ia tidak ragu dan bimbang dengan apa yang ada padanya, tetapi secara langsung Ia memerintah murid-muridNya supaya segera mengatur orang banyak itu dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 50 rang dan 100 orang agar dengan dapat muda mensupplay bahan makan bagi mereka. Setelah kelompok-kelompok sudah di bentuk maka Ia mengambil 5 roti dan 2 ikan itu lalu Ia menengadah kelangit dan mengucap berkat atasnya (ay.40-41). Apa maksudnya Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, tidak lain adalah Ia datang pada alamat yang tepat yaitu surga untuk mengucap syukur atas berkat yang ada padaNya, dan memohon respon dari bapa di surga agar supaya pintu surga terbuka untuk menuangkan berkat-berkat keatasnya. Dan terbukti bahwa pintu surga terbuka menjawab dan menuangkan berkat-berkat sehingga dengan 5 roti dan 2 ekor ikan dapat memberi makan kurang lebih 15000 orang sampai keyang dan masih ada sisa 12 bakul. Bukankah dari 5 roti dan 2 ekor ikan menjadi tidak terhitung jumlahnya? Marilah kita renungi hal ini bahwa from limited to unlimited dapat terjadi dalam gereja kita.

Ketika kita sudah diberkati oleh Tuhan, maka Tuhan mau ingatkan kita supaya kita tidak menghabiskan berkat-berkat itu untuk diri sendiri dan pelayanan kita saja. Tetapi Tuhan mau agar supaya sebahagian dari berkat itu, kita dapat investasikan bagi orang lain yang dapat di percayai seperti Yesus sedang membagikan berkat kepada murid-muridNya dan kemudian murid-muridNya membagikan kepada orang lain ay.41. Artinya ada banyak bidang-bidang pelayanan yang dapat kita investasikan antara lain; misi-dan penginjilan, hamba-hamba Tuhan fulltime di seluruh tanah air khususnya yang memerlukan bantuan, sekolah-sekolah Alkitab atau Teologi yang sangat membutuhkan, dan  orang-orang miskin yang ada di dalam dan di luar gereja serta orang-orang cacat yang memerlukan bantuan. Gereja kita sangat sedikit berinvestasi dalam pelayanan sosial, sebaiknya marilah kita renungi apa yang dikatakan Yesus dalam Mat.25:35-46, ketika, ia menjadi orang asing, ketika ia lapar, ketika ia haus dan seterusnya, lalu murid-muridNya menjawab kapan ia mengalami semua hal yang telah disebut di atas, kemudian Yesus menjawab; “sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu juga tidak melakukannya juga untuk Aku.

Marilah dan janganlah kita membatasi kuasa Tuhan dalam diri kita, sebab Dia tidak terbatas dan akan membuat kita juga tidak terbatas dalam pelayanan kita, seperti David Mohan mulai dengan 7 anggota jemaat dan sekarang telah mencapai 40 puluh ribu jemaat dalam  kurung waktu 30 tahun.

Semoga tulisan ini menjadi berkat buat saudara pembaca, Tuhan Yesus memberkati.

 

Artikel oleh: August 31, 2011   Kategori : Artikel Kepemimpinan  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda