Mengenai Persepuluhan

Dalam Peraturan Pelaksanaan GSJA pasal XI, dicantumkan penyebutan bahwa

“Gereja ini menolak pengajaran yang menerangkan bahwa semua persepuluhan harus diberikan kepada Gembala Sidang untuk biaya penghidupannya.”

Sedangkan di beberapa denominasi lain yang beraliran Pentakosta, mencantumkan tentang Persepuluhan dan persembahan diatur dengan bijaksana oleh Gembala. Saya ingin mengajak teman-teman memberi komentar, apa baik buruknya soal persepuluhan jemaat ke gereja di kelola langsung oleh gembala atau dikelola oleh orang lain dalam gereja?

Silahkan memberi komentar anda, baik sekedar pendapat pribadi atau pandangan alkitabiah, atau keyakinan anda! Pendapat anda tidak akan dipersalahkan … !

Artikel oleh: March 22, 2010  Tags:   Kategori : Artikel  Sebarkan 

31 Komentar

  1. Hendra Mulyana - March 22, 2010

    Saya mohon ijin menyumbangkan masukan-masukan berikut:
    (1) Persepuluhan diberikan kepada Gembala Sidang untuk biaya penghidupannya masih cocok diterapkan di level Gereja Pratama.
    (2) Persepuluhan diatur dengan bijaksana oleh Gembala tidak sama dengan diberikan kepada Gembala Sidang untuk biaya penghidupannya.
    (3) Pengelola Keuangan Gereja, entah itu Gembala Sidang atau Diaken yang menjadi Bendahara, hanya pantas jika betul-betul memenuhi syarat seperti yang dicontohkan dalam Kisah 6:3 yaitu “terkenal baik, penuh Roh dan hikmat”.
    (4) Keuangan dikelola oleh orang yang bukan Gembala lebih baik karena memberikan Gembala kesempatan untuk “dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman” dan mengurangi resiko kejatuhan karena “cinta akan uang” (I Tim 6:10).
    (5) Jika kenyataan di lapangan tidak ada diaken yang layak untuk dipercayakan mengelola keuangan sementara Gembala memang lebih memenuhi syarat, keuangan dikelola Gembala masih lebih baik daripada dikelola diaken yang dipaksakan.
    (6) Pada kenyataannya masih ada juga orang-orang yang tidak penuh Roh Kudus (bahkan yang tidak pernah dibaptis dalam Roh Kudus) dapat lolos dan menerima beslit Pelayan Injil.
    (7) Kesimpulannya, aplikasi kaidah yang diberikan Alkitab lebih penting untuk ditekankan daripada aturan formal yang dapat di”akal”in.
    Tuhan memberkati!

  2. Irvan Grosman - March 22, 2010

    Menarik disimak dan didiskusikan memang soal persepuluhan…
    Pertama, Selama ini pendapat jemaat maupun sebagian Hamba Tuhan GSJA bahwa perpuluhan itu untuk membantu penghidupan Hamba Tuhan..Itu realita dalam berjemaat dan tidak bisa dihindari dan sudah berlangsung lama…
    Kedua, apakah Pelayan Injil, Pendeta GSJA wajib memberikan perpuluhan? Lantas Perpuluhan itu untuk siapa dan untuk apa? Dalam pemilihan BPD GSSJA Sulut I sempat dicantumkan, pemilih atau peserta rakerda yang berhak memilih, salah satu persyaratannya rajin membayar perpuluhan.Jika tidak, berarti yang bersangkutan tidak ada hak suara dan hak dipilih..Dasar Alkitabiahnya memang tak ditanyakan….(???)
    Pendapat saya:
    1. Kondisi sosial ekonomi setiap jemaat GSJA di Indonesia berbeda. Seringkali Hamba Tuhan justru diperhadapkan dengan kesulitan ekonomi. Persembahan jemaat kadangkala tidak mencukupi baik untuk operasional pelayanan, apalagi untuk menopang penghidupan Hamba Tuhan. Inilah yang terjadi sehingga pesepuluhan itu justru terfokus diberikan kepada Hamba Tuhan untuk penghidupannya.
    2. Apakah Hamba Tuhan/Pelayan Injil GSJA wajib memberikan persepuluhan? Inilah yang menjadi pertanyaan saya…Pendapat saya, Hamba Tuhan/Pelayan Injil GSJA seharusnya ‘tidak diwajibkan’ membayar persepuluhan, apalagi jika hal itu dijadikan tolok ukur penjenjangan status kependetaan. Yang mungkin harus dipikirkan BPP GSSJA dalam Kongres nanti bahwa disiasati satu iuran wajib semampunya dari Hamba Tuhan untuk menunjang operasional organisasi, bukan persepuluhan.
    3. Terkait pengelolaan persepuluhan, kita harus melihat kembali pada kondisi sosial ekonomi jemaat. Jemaat yang mapan tentunya ada baiknya membagi persepuluhan tersebut untuk pelayanan sosial kemasyarakatan, atau program lainnya yang bermanfaat bagi pelayanan. Tetapi jika sebaliknya, tak ada salahnya juga persepuluhan itu digunakan dan difokuskan untuk membantu penghidupan pelayan setempat.

  3. Udin Timothy Sinaga - March 22, 2010

    Menurut saya sebaiknya Perpuluhan dikelola oleh orang lain dalam gereja? Ini penting untuk meminimalisir kecurigaan jemaat kepada pendeta. Dan memang dalam Mal. 3:10 juga berkata: Bahwa perpuluhan dibawa ke rumah Tuhan bukan untuk diberikan langsung kepada Gembala Sidang untuk biaya penghidupannya, tetapi keperluan lainnya yang ada di rumah Tuhan.

  4. Vera - March 22, 2010

    Persepuluhan mrpkan Hak Tuhan yg wajib kita kembalikan pdNya..
    Persepuluan dipergunakan bagi Rumah Tuhan . Pengelolaan oleh siapapun tidak menjadi masalah, yg terpenting adalah dimanfaatkan bg kpntngan Rumah Tuhan n hal2 lain yg b’hubungan dengan jemaat. Kl Pengelola keuangan tsb menyimpang dr hal tsb. Itu adlh ursnnya dgn Yang Diatas. Yg t’pnting kita selaku umat Tuhan sdh memberikan apa yg wajib kita berikan..

  5. luhut sihotang - March 23, 2010

    PERSEPULUHAN MILIK SIAPA? YA MILIK TUHAN
    Alkitab tidak mengajarkan supaya berikan kepada pendeta, tetapi Alkitab ajarkan “bawalah kerumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumahKu” jadi persepuluhan itu harus di bawa kegereja (bukan di transfer) setelah itu kan sudah ada majelis (imam lewi) yang mengekelola keuangan gereja,bukan pribadi gembala. urusan di kemanakan ya itu uruasn gereja sesuai kebutuhan gereja tersebut.tugas kita memberi apa yang menjadi milik Tuhan. tq

  6. Elia - March 25, 2010

    Peraturan Pelaksanaan GSJA no XI sdh jelas menolak, apa lagi sih yang hrs didiskusikan! Just do it! Tlng pak ditertibkan bagi mereka yang tidak menjalankannya !

  7. Irvan Grosman - March 25, 2010

    Semua yang tertulis dalam PL sudah digenapi di PB…saya tertarik akan tulisan yg pernah di muat di gsja.org tentang persepuluhan dari satu denominasi….Sebagai warga GSJA nampaknya kita juga harus mengkaji kembali landasan pesepuluhan…apakah hanya mengacu pada PL saja ataukah kombinasikan dengan PB. Latar belakang Maleakhi sangat jelas karena ada ketidakpedulian orang Israel kepada kaum Lewi yang melayani baik Allah.

    Yesus Kristus juga tidak menyinggung secara eksplisit maupun implisit tentang persepuluhan.

    Pemberian apapun itu termasuk persepuluhan harus dilandaskan pada KASIH….bukan memakai konteks Maleakhi…MENAKUT-NAKUTI…

  8. yohana - March 26, 2010

    Kalau peraturan sudah ditulis ya…diikuti sajalah. Tapi yang jelas menurut saya pribadi janganlah gembala yg kelola keuangan, lebih baik bendahara gereja aja yg atur. kecuali gereja perintisan!!

  9. Hendra Mulyana - March 26, 2010

    Melengkapi persyaratan di Kis 6:3, kita juga perlu memperhatikan persyaratan dalam I Tim 3:3,8 dan Titus 1:7 yaitu ‘tidak serakah (bukan hamba uang)’. Ciri-ciri orang yang tidak serakah (bukan hamba uang) dalam mengelola keuangan gereja adalah:
    (1) Lebih mengutamakan pemanfaatan keuangan gereja untuk Pekerjaan Tuhan dan bukan berusaha menimbun (Mat 25:25)agar dapat dituai bunganya karena jika Tuhan sanggup memberikan pokoknya mengapa harus menahan pokoknya demi bunga yang hanya dibawah 1% per bulan? Pemanfaatan keuangan gereja yang benar (I Tim 6:17 keuangan gereja dinikmati kegunaannya dengan benar)akan mempercepat perluasan Kerajaan Allah. Penyimpanan (tabungan/deposito) hanya perlu dilakukan jika sudah tidak terpikirkan lagi peruntukan penggunaan yang segera yang harus diprioritaskan.
    (2) Bukan mengutamakan penggunaan untuk kepentingan sendiri (I Petr 5:2) tetapi memperhatian kesejahteraan seluruh fulltimer yang melayani dalam Pekerjaan Tuhan sama seperti kesejahteraannya sendiri. Standar perlakuan istimewa bagi Gembala Sidang yang baik adalah dua kali lipat Pelayan Injil lainnya (I Tim 5:17).
    (3) Standar kesejahteraan Pelayan Injil adalah sebesar persepuluhan dari sepuluh jemaat yang menjadi kepala keluarga/pencari nafkah; itulah sebabnya mengapa level di atas Gereja Pratama bukan lagi semua persepuluhan diserahkan untuk biaya penghidupan Gembala Sidang. Dengan standar seperti itu maka kesejahteraan Gembala Sidang tidak mencolok jauh di atas jemaat level ekonomi atas, juga tidak berada di bawah level ekonomi rata-rata jemaat.
    (4) Kebijaksanaannya dalam mengatur/mengelola keuangan gereja dapat diuji oleh jemaat melalui keterbukaan Laporan Keuangan. Perlu diingat bahwa Laporan itu harus ‘disampaikan’ dan merupakan semacam ‘pertanggung-jawaban’. Jadi accountable gitu; di luar gereja good governance sudah lama dicanangkan dan lembaga-lembaga yang menerima dana dari masyarakat umumnya diwajibkan membuat Laporan Keuangan yang diumumkan melalui media massa. Masa iya Hamba Tuhan yang bukan hamba uang kalah dengan pemimpin di luar Tuhan yang lebih transparan?
    Terimakasih untuk kesempatan menyumbangkan masukan ini. GBU!

  10. pitriani lie - March 27, 2010

    Perpuluhan tak usah pdt yg pegang apalagi gembala sidang. biar jemaat (team manajemen keuangan yang urus). Sebab tidak semua jemaat kembalikan perpuluhan dan biar mereka tau berapa operasional gereja / bulan.

  11. Horry - April 13, 2010

    Syalom , semua yang di kasihi Kristus

    Menurut saya perpuluhan harus nya dikelola oleh Gereja lokal itu sendiri sesuai Maleakhi 3:10 , supaya ada persediaan makanan dirumahKu ,dengan jelas Alkitab tegaskan bahwa harus ada persediaan makanan di rumahKu , bukan di organisasi ,jadi mungkin menurut saya para hamba hamba Tuhan yang ada di GSJA perlu duduk bersama untuk menafsirkan kembali apa yang di maksud harus ada persediaan dirumahKu sehingga ada suatu kepastian dalam memberikan penjelasan kepada jemaat yang kita layani.Tuhan memberkati

  12. adi nugroho - April 26, 2010

    Kalau Gembala yang atur, nge-check nya gampang. kalau pada laporan keuangan tahunan di BPD. Perpuluhan Gembala kira2 separonya Perpuluhan Sidang. Kalau sebaliknya…nah lho!

  13. KJ.E.Rory - April 28, 2010

    Untuk denominasi GSJA tentunya sudah diatur di ADARTnya, prinsipnya persepuluhan tidak sama dengan persembahan.Perbedaannya Persepuluhan mengembalikan milik Tuhan, jadi bukan memberi. Kalau persembahan itu memberi tentunya dengan sukarela. Saya melihat ada banyak jemaat mencampur adukan persepuluhan tidak dibawa atau dikembalikan dengan jujur tapi dibagi-bagi.Sekian persen untuk persepuluhan sekian persen untuk persembahan dengan bermacam-macam bentuknya:kolekte,pembangunan,dll. lalu sekian persen untuk persembahan tetangan buat hamba Tuhan.Padahal itu kan milik Tuhan bukan milik kita lagi ini bisa diartikan mencuri kemuliaan Tuhan, uangnya Tuhan tapi seolah-olah kita yang beri kita yang dapat nama.
    Yang benar mestinya 10% dibawa ke rumah perbendaharaan/gereja lokal tempat jemaat berbakti.Dan untuk persembahan lain lagi bukan ambil dari persepuluhan.Jadi 10 % persepuluhan tambah 10 % atau berapa persen untuk persembahan-persembahan.
    Sebab masing masing ada ayatnya.Persepuluhan-Maleakhi 3:10-12, Persembahan 2 Kor.9 :6-12.(tentunya masih ada ayat lainnya).
    Untuk pengelola persepuluhan sudah tepat gembala jemaat untuk menjaga kekudusan dan kebenaran bila jumlahnya sudah besar perlu ada team pengurus keuangan persepuluhan .Tetapi tetap dipilih hamba-2 Tuhan yang full timer (imam-imam) diketuai oleh gembala jemaat,imam-imam yang mengelola ini yang benar-benar tahu penggunaan persepuluhan yang benar.Bukankah banyak terjadi di gereja-2 lokal persepuluhan dipakai untuk membiayai KKR, undang pendeta2 tamu,akomodasi transportasi untuk bangun gedung gereja dll.Untuk keperluan yang seperti itu sumber dananya dari persembahan jemaat atau sponsor pribadi sesuai gerakkan Roh Kudus.
    Alkitab berkata Bilangan 18:21 Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.
    Jadi prinsipnya persepuluhan untuk kesejahteraan hamba-hamba Tuhan( di gereja lokal gembala dan stafnya sesuai tanggung jawabnya menurut kebijakan gembala jemaat).Sedangkan persembahan dapat di Kas Kan dan dipegang bendahara namanya diaken bidang keuangan ditunjuk bukan sembarang orang sesuai kriteria firman. Orang yang murah hati, jujur, cinta pekerjaan Tuhan .
    Masalah persepuluhan apabila jemaat benar-2 jujur dalam membawanya , maka gembala-gembala akan tambah sejahtera tidak mengenaskan, memalukan,tidak terus dalam kekurangan.Sekarang kalau jumlahnya besar sekali jangan jadi laut mati harus dibagikan dengan benar kepada yang lain. Amin.Bagaimana mereka bisa dapat bagian kalau uang persepuluhan dipakai dengan tidak benar atau dicampurkan dengan Kas Gereja. Tuhan memberkati.

  14. Syalomita - May 12, 2010

    Menurut saya, kita juga harus bijaksana dalam mengembalikan perpuluhan, karena ada juga gembala sidang yang seenaknya mengambil tunjangannya dari perpuluhan tersebut tanpa ada batasan/limit (jika perpuluhan lagi banyak, maka tunjangannya juga ikut naik, tetapi sebaliknya jika perpuluhan lagi sepi justru tunjangannya tidak turun) malahan sampai terjadi kekurangan Kas akibat tidak tertibnya gembala tersebut dalam pengambilan tunjangan untuk biaya penghidupannya. Dan lebih parahnya, kekurangan kas tersebut diumumkan di mimbar dan kemudian meminta PERSEMBAHAN EXTRA dari jemaat dengan alasan bahwa perpuluhan jemaat yang harus disetor ke BPP menjadi penyebab kekurangan kas tersebut.
    Dan yang extra parah, gereja masih menghimbau jemaat memberi persembahan untuk membeli inventaris gereja sehingga dalam 1x ibadah bisa sampai 5x persembahan. Akibatnya, persembahan yang diberikan oleh jemaat adalah DIAKALI menjadi pecahan2 seribu (dengan muka yang sangat masam) karena HARUS 5X persembahan tersebut.
    BERHATI-HATILAH terhadap gembala yang demikian.!!

  15. Peter - May 22, 2010

    Roh memberi adalah Roh Surgawi, Perpuluhan seharusnya milik Gembala Sidang/Hamba Tuhan.Kolekte,Ucapan Syukur,persembahan sulung dll ini boleh dikelola Kas Gereja.Bagaimana gereja yang tidak digaji oleh Synodenya.Apa Pendeta di GSJA digaji dari Pusat??jika yaa,boleh perpuluhan ke KAS, jika tidak maka perpuluhan adalah hak Pendeta Lokal.

  16. Suwandoko - May 23, 2010

    Perpuluhan ke gereja lokal wajib ditaati sesuai Alkitab. Pengelolaannya harus mengikuti prinsip-prinsip management keuangan yang prudent, sehat, dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan jemaat. Siapapun pengelolanya yang penting pengelolaannya seperti di atas. Tetapi, persepuluhan kepada organisasi tidak ada dasar Alkitabnya. Yang ada yaitu peraturan organisasi. Karena itu “mensakralkan” perpuluhan kepada organisasi adalah tidak tepat. Jangan jadikan organisasi sebagai “super-church” di atas gereja lokal, karena jelas hal itu tidak sesuai Alkitab. GSJA bukan gereja Katolik dengan pimpinan tertinggi ada di Roma. GSJA adalah suatu persekutuan gereja-gereja lokal dengan gembalanya. Waktu peraturan itu dibuat di tahun-tahun 1950-1960 an, organisasi GSJA masih kecil, para pelayan Injil baru seratusan orang, jadi pembiayaan organisasi perlu didukung oleh gereja-gereja lokal. Setelah GSJA besar seperti sekarang,dimana pelayan Injilnya sudah beberapa ribu, persepuluhan sebaiknya diganti iuran keanggotaan, yang harus dibayar oleh pelayan Injil dan gereja-gereja lokal sesuai jumlah anggotanya. Hampir semua GSJA di luar negeri sudah meninggalkan keharusan membayar persepuluhan ke organisasi, diganti iuran. Jumlah iuran-nya ? Dihitung saja keperluan operasional dll dari organisasi, lalu dibagi sepantasnya. Jumlahnya pasti tidak memberatkan, tetapi tetap organisasi dapat beroperasi. Di sisi lain, akan ada dana yang sedikit lebih di gereja-gereja lokal yang dapat dipakai untuk mendukung misi-nya. Jadi, sudah waktunya hal ini diperbaiki. Gereja-gereja lokal dianggap sebagai ujung tombak pertumbuhan GSJA, perlu semua dana yang dapat dipakai untuk pengembangannya.

  17. Hendra Mulyana - May 23, 2010

    Melihat persembahan persepuluhan (perpuluhan) dalam gereja Perjanjian Baru secara alkitabiah:

    (1) Ayat yang seringkali digunakan untuk “dasar penerapan” sistim perpuluhan dalam gereja di zaman Perjanjian Baru adalah I Kor 16:1-2. Dari ayat ini didapat bahwa persembahan yang dikumpulkan tersebut tidak dikhususkan untuk penatua / penilik jemaat / gembala tetapi untuk orang-orang kudus yang bukan dari jemaat setempat. Jadi “perpuluhan seharusnya milik Gembala Sidang / Hamba Tuhan” tidak didukung oleh ayat ini, juga tidak oleh Tata Gereja dan Peraturan Pelaksanaan GSJA.

    (2) Ayat yang seringkali digunakan untuk “dasar sistim” perpuluhan yang diterapkan dalam gereja di zaman Perjanjian Baru adalah Maleakhi 3:10. Dari ayat ini didapat bahwa perpuluhan harus di bawa ke rumah perbendaharaan (bilik-bilik perbendaharaan) yang diawasi oleh beberapa orang (Neh 12:44, 13:5) agar tersedia makanan di rumah Tuhan untuk para imam, orang-orang Lewi, para penyanyi dan penunggu pintu gerbang.

    (3) Jemaat yang mula-mula di Yerusalem menerapkan lebih dari sekedar perpuluhan (Kis 2:44-45, 4:32) sehingga terjadi pemerataan yaitu kelebihan yang seorang mencukupkan kekurangan orang yang lain seperti prinsip yang diajarkan Rasul Paulus dalam II Kor 8:14. Jadi perpuluhan bukan untuk dijadikan milik seseorang, tetapi untuk mencukupkan kebutuhan hidup mereka yang tidak mencari nafkah karena menggunakan waktunya untuk melayani pekerjaan Tuhan secara penuh waktu. Karena itu “perpuluhan seharusnya milik Gembala Sidang / Hamba Tuhan dan hak Pendeta Lokal” bertentangan dengan prinsip pemerataan ini seperti dijelaskan dalam contoh pemisalan berikut ini:
    Sebuah gereja yang digembalakan oleh seorang Pendeta dibantu dengan lima Pendeta lain menerima perpuluhan dari sekitar 200 orang dengan jumlah per bulan berkisar 30-40 juta. Gembala Sidang secara resmi digaji 5 juta lebih per bulan sedangkan Pendeta-Pendeta lainnya digaji berkisar 1 juta lebih per bulan. Sisanya tidak jelas digunakan untuk apa, tetapi ada dalam kebijakan Gembala Sidang. Bukankah jika digunakan cara seperti ini yang terjadi bukan pemerataan (kelebihan yang seorang mencukupkan kekurangan yang lain) akan tetapi ketidakseimbangan? Ketidak seimbangan di antara para Pendeta sendiri, maupun ketidak seimbangan di antara Pendeta dan jemaat. Dengan tidak mengabaikan Gal 6:6 cara seperti ini dapat mengakibatkan seorang secara tidak resmi memperoleh 20 juta lebih sedangkan yang lainnya harus kembali ke ladang mereka (Neh 13:10). Bayangkan jika contoh yang diambil adalah gereja dengan total persepuluhan ratusan juta atau bahkan miliaran…., tidak applicable bukan? Sekali lagi saya ulangi, Gereja Pratama atau Gereja Perintisan tidak dapat disamakan dengan Gereja seperti yang dicontohkan ini.

    Mohon dikoreksi komentar saya ini… GBU!

  18. FIRMAN - May 24, 2010

    membaca artikel ini dari atas beserta komentar yang ada buat saya
    satu hal yang menarik adalah artikel ini ada PASTI karena ada seseorang yang melihat ketidakadilan ketidak pantasan atas tindakan, sikap ,kelakuan,arogansi seorang Hamba Tuhan atau gembala sidang di suatu gereja….saya bisa pastikan hal ini tidak terjadi di suatu gereja saja tapi di banyak gereja saat ini….bahkan karena uang banyak gereja menjadi pecah dan ribut dan timbulah banyak pendapat tentang perpuluhan ini apakah ya atau tidak, benar atau tidak benar ,perlu atau tidak perlu dsb

    himbauan saya kepada para jemaat Tuhan
    ” TAAT lah akan Firman Tuhan karena persepuluhan adalah HAK nya Tuhan”

    kepada para Gembala Sidang dan Lembaga Gereja
    ” Anda adalah mewakili Tuhan di dunia ini bagi kami, maka jadilah bijaksana dalam mengelolanya…karena setiap manusia bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri…dan Tuhan kita melihat segala perbuatan manusia dan jadilah serupa seperti Yesus dari hari kehari dan tidak menjadi serupa seperti dunia ini”

    biarlah Hikmat dari Tuhan ada terus dalam hidup kita sebagai gereja Tuhan
    Sadarlah dan jadilah semakin Kudus suci menjelang kedatangannya kali yang ke dua

    kepada para Gembala sidang…Firman Tuhan berkata

    1Pe 5:2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.

    ( MAAF BUKAN MENGHAKIMI… sering kali saya melihat gembalanya kaya raya, jemaatnya miskin bangeut buat makan saja susah ,yang luar biasa keluarga besarnya otomatis menjadi kaya….hehehe )

    barang kali ayat ini bisa mengingatkan
    dua hukum Allah
    Luk 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

    bagi saya siapapun yang mengelola perpuluhan apakah itu Gembala Sidang atau majelis biarlah menjadi baik dan benar menurut aturan yang ada…

    saya interest dengan artikel ini supaya kita sama sama mencari kebenaran dan melayani Tuhan lebih lagi.
    GBU

  19. Sonofaras - May 27, 2010

    Topik yang menarik.
    (1). Persepuluhan adalah wajib bagi semua umat TUHAN tanpa terkecuali termasuk Gembala Sidang untuk diserahkan ke Rumah TUHAN (Gereja lokal masing-masing), karena ini sesuai dengan FIRMAN TUHAN.
    (2). Untuk mengelola keuangan Gereja seharusnya diserahkan para Diaken-diaken atau para Majelis gereja setempat, tetapi dengan catatan tetap di pantau oleh Gembala sidang agar penggunaannya sesuai dengan sasaran untuk menunjang pelayanan gereja tersebut. Karena persembahan umat TUHAN di gunakan untuk kemuliana nama TUHAN.
    (3).“Gereja ini menolak pengajaran yang menerangkan bahwa semua persepuluhan harus diberikan kepada Gembala Sidang untuk biaya penghidupannya.”
    Ini adalah Peraturan yang sangat adil dan seharusnya di laksanakan oleh setiap Gembala Sidang. Karena sepengetahuan saya Alkitab tidak pernah mencatat bahwa
    “PERSEPULUHAN HARUS DI SERAHKAN KEPADA GEMBALA SIDANG”
    (4). Apabila persembahan/persepuluhan umat TUHAN disalahgunakan oleh Gembala Sidang atau siapapun, maka sebagai umat TUHAN kita hanya bisa mengikhlaskan semuanya, yang penting apa yang menjadi bagian kita telah kita lakukan, karena pembalasan adalah haknya TUHAN. Kita tidak perlu mempersoalkan atau memperdebatkannya karena hal tersebut hanya akan menambah dosa kita sendiri. Kita dan anak cucu kita pasti akan menyaksikan sanksi dari TUHAN kepada mereka bahkan hingga keturunan mereka. (Saya pernah mendengar dan juga menyaksikan kehidupan keturunan para “penyalahguna” keuangan rumah TUHAN.)
    Mungkin saat ini mereka tidak mengalami apapun bahkan kelihatan “diberkati” tetapi yakin dan percaya bahwa TUHAN tidak akan tinggal diam. JBU

  20. Hendra Mulyana - May 28, 2010

    Saya mendukung pandangan Bpk. Suwandoko “Perpuluhan ke gereja lokal wajib ditaati sesuai Alkitab. Pengelolaannya harus mengikuti prinsip-prinsip management keuangan yang prudent, sehat, dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan jemaat. Siapapun pengelolanya yang penting pengelolaannya seperti di atas.” dan pandangan Bpk. Firman “… jadilah bijaksana dalam mengelolanya… bagi saya siapapun yang mengelola perpuluhan apakah itu Gembala Sidang atau majelis biarlah menjadi baik dan benar menurut aturan yang ada…”

    Saya rasa yang perlu kita sadari adalah adanya perbedaan antara “diatur dengan bijaksana oleh Gembala” dengan “diatur menurut kebijakan Gembala”.
    Ada tiga point penting yang harus difahami:

    (1) CARA (bijaksana): diatur dengan cara yang bijaksana tidak bergantung kepada tingkat kebijaksanaan pelaksananya. Cara yang bijaksana tentunya adalah cara yang menuruti hikmat yang dari atas seperti yang diajarkan Alkitab. Pelaksana yang tidak bijaksana dapat mengatur dengan baik sepanjang ia mengikuti pedoman yang bijaksana. Seorang yang bukan ahli tehnik elektronika dapat merakit komputer dengan baik jika mengikuti panduan/manual yang baik dengan cara yang benar.

    (2) PELAKSANA (Gembala): Seharusnya seorang Gembala (penatuan / penilik jemaat) adalah orang yang bijaksana karena dalam I Tim 3:2, Titus 1:8 hal itu dipersyaratkan; sehingga kalaupun yang menjadi pelaksana Gembala (bukan Diaken) tidak akan menjadi masalah (adanya keserakahan / ketidak adilan). Namun memang kita tidak dapat menyangkali bahwa banyak orang yang diangkat menjadi Gembala bukanlah orang yang bijaksana, sehingga timbullah masalah-masalah seperti yang disinggung dalam komentar-komentar sebelumnya. Penetapan pelaksana yang tidak bijaksana masih bisa tertolong apabila pelaksana tersebut mengikuti pedoman bijaksana yang berdasarkan ajaran Alkitab.

    (3) PENENTU KEBIJAKAN: Seharusnya yang menjadi penentu kebijakan adalah Allah melalui apa yang diajarkan dalam Alkitab. Selanjutnya untuk menjabarkan kebijakan yang diajarkan Alkitab secara lebih jelas (terperinci) kebijakan ditetapkan melalui keputusan bersama para penatua (dalam hal GSJA adalah Keputusan Kongres yang dituangkan dalam Tata Gereja dan Peraturan Pelaksanaan). Hanya untuk hal-hal yang tidak diatur dengan jelas (terperinci) dalam Alkitab maupun keputusan bersama para penatua, barulah diperlukan kebijakan Gembala namun dengan tetap menjaga agar tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Jika “diatur menurut kebijakan Gembala” sedangkan Gembalanya sendiri tidak bijaksana, maka itu berarti “diatur dengan TIDAK BIJAKSANA oleh Gembala”.

    Kita bisa bersikap masabodoh dengan segala ketidak-bijaksanaan yang ditemukan, atau berperan dalam menuntun orang ke jalan yang benar. Itu tergantung kepada panggilan kita dan apakah kita memilih untuk mengerjakan panggilan kita itu atau tidak. Tidak semua orang terpanggil untuk suatu tugas khusus, sehingga sikap masing-masing kita bisa berbeda-beda. Tuhan memberkati!

  21. Hengky - June 10, 2010

    Terima kasih bila saya diijinkan untuk menyampaikan pikiran saya mengenai perpuluhan.
    Pertama-tama harus kita persamakan dahulu persepsi. yaitu Maksud Allah mengenai perpuluhan yaitu “untuk perbendaharaan rumah Tuhan” lalu yang kedua adalah bahwa kita sebagai jemaat harus mengetahui dahulu kenapa kita harus memberikan perpuluhan dan untuk apakah perpuluhan diberikan. Sudah jelas dikatakan yaitu : “perpuluhan untuk perbendaharaan Tuhan. Supaya tidaklah kekurangan”. Dan Janganlah kita sampai dianggap pencuri oleh Tuhan, Mengapa dianggap seperti pencuri? yaitu mempergunakan uang perpuluhan selain untuk keperluan Gereja, jemaat, dan diluar gereja untuk pelayanan. Bila kita sudah pahami ini maka saya ambil kesimpulan bahwa..
    1. Uang Perpuluhan siapa saja boleh memanagenya. Dengan syarat yaitu bahwa orang tersebut benar-benar mengerti apa arti dari perpuluhan tersebut.
    2. Mengerti penggunaan Uang perpuluhan bagi gereja dan pelayanan serta jemaat.
    3. Gerejapun harus mempunyai aturan yang jelas mengenai penggunaan uang perpuluhanini.

    Demikian mungkin pikiran saya….
    Shalom………..

  22. Agus Prihardjo - June 15, 2010

    Kalau menurut saya, apakah persepuluhan ataupun persembahan lain, sebaiknya di kelola oleh suatu team, semacam team penggembalaan, yg diketui oleh Gembala senior. Saya coba membayangkan gimana sulitnya, kalau hanya dikelola oleh seorang gembala, ketika jumlah jemaat sudah mencapai 33,000 seperti City Harvest Singapore, wah berapa ya, perpuluhannya? Sifat pengelolaannya berupa kepercayaan penuh kepada team ini. Ekstremnya, jemaat nggak perlu selidik-selidik (dari paadangan teokrasi); seorang imam apalagi jemaat yg tidak berhak dilarang menyelidik (tengok kanan-tengok kiri) di rumah Allah. Tuhan akan bunuh dia.(di PL).
    Dampak lainnya : kepercayaan jemaat akan bertambah, shg ketika akan menyerahkan persepuluhan tidak ragu-ragu. Nah kalau memberikan persembahan dgn tidak bimbang berarti manthap, hidupnya akan diberkati. Sampai saat ini Saya masih suka dan percaya ayat ttg perpuluhan yg di Maleaki.
    Meski saat ini saya nggak bergereja di GSJA, I still love you GSJA. Saya banyak diberkati dan didewasakan di GSJA. Salam buat Koh Hendra, Oom Awuy, tante Liana, Tante Inggrid..

  23. Rudi Wirjan - June 16, 2010

    Soal Perpuluhan ? Simple sekali….jangan dibikin jelimet …..1. Untuk apa ? jwb : untuk perbendaharaan rumah Tuhan . 2.Apa rumah Tuhan ? jwb : Gereja . 3.Apa komponen gereja ? Jwb: ada gembala,ada jemaat, ada persekutuan .OK OK…. Serahkan aja milik Tuhan tadi. Jangan dicuri. Udah beres…..masalah nanti yg ngurus,yg pake,yg ngatur,yg simpen….jgn dibikin JELIMET.
    Puji Tuhan…..Simple X Bro…..

  24. brahim - July 8, 2010

    Sebaiknya Badan Pengurus pusat mendata semua pelayan Injil di daerah yang perlu dibantu,krn banyak sekali Hamba Tuhan senior yg sdh mengabdikan diri utk GSJA yang mengalami kekurangan,dan sangat lebih baik sebagian dr persepuluhan dibagikan utk kesejahteraan dan membelikan sebuah rumah layak pakai yg memadai utk keluarga HT tersebut.Saya sangat setuju seandainya persepuluh diberikan pada pusat dan dibagikan sesuai dengan kebutuhan daerah.Daerah yg lemah dr segi keuangan diberikan lebih banyak dr daerah yg mampu.

  25. Dony - July 20, 2010

    Gereja dan Gembala sidang tentu perlu uang untuk biaya operasional dan biaya hidup Gembalanya, dari mana uang itu didapat kalau tidak dari Jemaatnya bisa diterapkan perpuluhan bisa juga iuran bulanan sebagai anggota dengan tidak ditentukan jumlahnya.Gembala dalam khotbahnya harus bisa mengingatkan jemaatnya sedemikian rupa sehingga orang yg berlebih dapat memberi lebih banyak sementara yg tak punya tidak jadi terbeban dengan keharusan perpuluhan. Suatu kebiasaan buruk insan terutama di Jakarta, Karena ingin dikenal/terkenal agar diperhatikan dia sering memberikan salam tempel pribadi lebih besar daripada untuk Gereja, sehingga Gembala dibebankan dgn budi baik pemberinya.Dan bagi yg tidak punya timbul kesan orang kaya dapat prioritas lebih,padahal mungkin saja suatu kejadian bersamaan terjadi. Orang yg punya biasanya sudah teratur untuk keperluannya sudah di ajukan jauh hari sebelumnya sedangkan orang yg kurang biasanya instan minggu depan perlu baru diajukan.Hal ini kecil tapi sering luput dari ingatan.Gereja yg sudah bertumbuh dan banyak cabangnya diperlukan pimpinan yg lebih dari biasanya seperti dari cabang yg makmur memberikan tunjangan bagi yg kurang bukan menutup kegiatan Gereja yg kurang itu,ini bukan bisnis.

  26. dony - July 20, 2010

    Di Surga ada tiga denominasi masing2 punya satu ruangan:
    1.Katolik : ketika pintu dibuka terdengan suara doa yg seragam katakanlah Doa Novena
    2.Pentakosta : pintu dibuka terdengar puji-pujian gembira dengan musiknya
    3.Protestan : didalamnya terdapat meja panjang diduduki orang dengan wajah serius (rapat)HT mau
    ambil uang bensin.segala pengeluaran harus diputuskan dalam rapat. kata bung Rudi Wirjan
    JELIMET

  27. Muntaz - July 28, 2010

    Sepersepuluhan? Ya menurut Alkitab itu ada di peraturan taurat, sejak Israel keluar dari Mesir s/d Yesus wafat di kayu salib. Abraham tidak melakukan “ketaatan” hukum Taurat mengenai sepersepuluhan, Yakub juga tidak, Paulus & para Rasul juga tidak, jadi saya juga tidak; karena saya tidak ada di dalamnya (Taurat); kami melakukannya dengan inisiatif pribadi (roh). Sejak Tahun 1988 s/d 2008 saya taat “MENGEMBALIKAN” sepersepuluhan, sekarangpun saya tetap “memberi” sepersepuluhan sebagai COVENANTAL OFFERING (jANJI) saya, karena saya mengasihi Dia. Saya tidak lagi berharap balasan Tuhan kembali & saya juga tidak lagi cemas akan akibat ketidak taatan saya. Semua anak Tuhan seharusnya “MEMBERIKAN” “COVENANTAL OFFERINGNYA” kepada Tuhan…

  28. Gokmen Pasaribu - August 2, 2010

    Kita para Hamba Tuhan harus jujur memberikan Persepuluhan. Kalau kita tidak jujur, bagaimana jemaat boleh jujur. Mauliate. Horas !!!

  29. rully lumentah - September 24, 2010

    ….saya ingin menanggapi tentang siapa yang harus memberi perpuluhan…
    ….bagaimana dengan pelayan Injil/ Gembala sidang…?
    ada banyak ayat Alkitab yang bisa di jadikan acuan, Alkitab mengajarkan bahwa inti dari pemberian persepuluhan adalah “pengakuan bahwa Allah yang memiliki segala sesuatu dan manusia berhutang kepadanya untuk setiap hirupan nafas…
    …salah satu yg cukup penting dan TERDAPAT DALAM PERJANJIAN BARU adalah

    Ibrani 7:9
    “..dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham DIPUNGUT juga persepuluhan dari Lewi, yang BERHAK menerima persepuluhan,…”
    …jadi orang Lewi sekalipun wajib memberi persepuluhan…

    Ibrani 7:7-8
    “…memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi. Dan dari sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan…”
    yang berarti, kita wajib memberi persepuluhan kepada mereka yang memberkati kita, yang menumpangkan tangan atas kita.
    …siapa yang menumpangkan tangan secara lahiriah kepada kita pada saat diangkat sebagai PI/Gembala sidang? siapa yang mengeluarkan SK-nya (sekali lagi, secara lahiriah dalam konteks kita sebagai manusia-manusia fana), merekalah yang menerima Persepuluhan kita sebgai perantara Tuhan.

    …kalau Abraham saja memberi persepuluhan apalagi keturunannya, baik secara jasmani maupun rohani,kecuali beslt PI/Gembala membuat kita lebih besar dari Abraham…

    …memberi persepuluhan adalah kewajiban setip manusia dengan predikat apapun, baik PI,Pdp,Pdm,Pdt, bahkan ketua BPP sekalipun, sebagai pengakuan bahwa hidupnya adalah milik Tuhan, segala yang ia miliki adalah pemberian Tuhan. AMIN, TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA. Maju terus GSJA di Indonesia.

  30. phill - October 22, 2010

    Prinsipnya saya setuju setiap anggota jemaat/orang Kristen, wajib membayar perpuluhan sesuai Maleakhi 3 : 10 dan banyak lagi ayat lainnya dlm PL maupun PB. Saya juga setuju peraturan Organisasi GSJA bahwa persepuluhan itu tidak seutuhnya utk kebutuhan hidup Gembala gereja lokal, melainkan utk kebutuhan perbendaharaan Rumah Tuhan agar tidak berkekurangan.

    Kebutuhan rumah Tuhan disini menurut persepsi saya, adalah utk para Hamba Tuhan yg dlm versi PL disebut orang Lewi, dan segenap pekerja gereja, termasuk diaken, para janda dan yatim piatu, musafir (hamba Tuhan yg dalam perjalanan penginjilan).

    Pengertian orang Lewi di jaman PL dan jaman PB jelas sudah berbeda. Di jaman PL mereka adalah salah satu suku dari 12 suku Bani Insrail yg tidak mendapat pembagian wilayah untuk sumber penghidupan seperti 11 suku lainnya, di Tanah Perjanjian/Kanaan, kecuali harus hidup dari persepuluhan penghasilan 11 suku yang mendapat pembagian tanah garapan. Dan suku Lewi ini tidak mempunyai profesi lain kecuali mengurus pekerjaan di Bait Allah. Berbeda dengan sekarang, yang disebut orang Lewi tidak hanya para Hamba Tuhan, karena anggota jemaatpun sudah mengambil bagian ataupun diberi tanggung jawab pelayanan dalam jemaat/gereja lokal.

    Sementara itu para hamba Tuhan/Gembala/pendeta banyak yang tidak hanya focus pada pelayanan di jemaatnya, melainkan sudah punya jabatan rangkap. Ada yang dosen, guru, pegawai swasta, berbisnis dan punya usaha lain seperti peternakan/pertanian dsbnya. Seluruh anggota keluarganya/ keturunannya tidak lagi bekerja untuk pelayanan tetapi sudah terjun di dunia sekuler. Jadi para hamba Tuhan/gembala tidak tepat lagi utk menggunakan label orang Lewi dalam pemanfaatan persepuluhan dari Jemaat.

    Belum lagi effek negatif jikalau seluruh persepuluhan itu diklaim utk kebutuhan Gembala dan keluarga seutuhnya. Bagaimana kalau dalam jemaat sudah ada 100 anggota jemaat yang kaya, Berarti si Gembala menjadi orang terkaya 10 kali lipat dari orang kaya yang ada dalam jemaat. DAn bagaimana dengan Gembala yang hanya menggembalakan kurang dari 10 keluarga ekonomi lemah? Apakah ada keseimbangan dan keadilan dalam sebuah organisasi gereja jika hal seperti ini terjadi karena tidak diatur? Belum lagi jerat iblis menggoda para hamba Tuhan dengan menyebarkan roh materialisme dan roh konsumerisme lewat penggunaan dana pesepuluhan.

    Akhirnya hamba Tuhan menjaring jiwa bukan utk keselamatan jiwa mereka melainkan demi dompet dan kekayaan mereka. Lalu teologi yg diutamakan pasti teologi kemakmuran, dengan menjadikan mimbar sebagai ATM. Lihatlah kecenderungan sekarang ini banyak Hamba Tuhan yang hijrah dari tempat kering di pedalaman untuk mencari tempat basah pelayanan di kota kota besar. Dan kasihan para Hamba Tuhan yang benar benar berhati hamba, tetap bertahan dengan cucuran airmata di pelosok pelosok desa hanya dgn 2 atau 3 anggota jemaat yang papah tapi kaya rohani. Sementara di kota besar begitu banyak hamba Tuhan yang merasa diri sudah diberkati, tinggal membagi jadwal khotbah yg padat di banyak gereja, mall, hotel dsbnya, hidup mewah dengan rumah mentereng, mobil mercy dan hampir setiap bulan terbang ke luar negeri. Tentu itu tidak salah. Tetapi apakah mereka punya empaty terhadap sesama rekan hamba Tuhan yang menderita di pedalaman?

    Inilah dasar pertimbangan saya, bahwa Persepuluhan itu penting dan harus dilakukan setiap jemaat, tetapi penggunaannya tak boleh menggunakan lagi standar kaku menurut PL, karena kondisi sekarang yg telah berbeda. Sebaiknya setiap hamba Tuhan diberikan standar upah sesuai berat ringannya pelayanan. Organiasi gereja harus mengatur standarisasi ini, dan pengupahannya diambil dari dana persepuluhan yang disentralisasi. Memang organisasi gereja yang ada di jaman moderen sekarang tidak disebut dalam Alkitab baik PL maupun PB karena kondisi emberio gereja zaman itu memang demikian. Di Zaman PL baru ada satu pusat tempat ibadah ialah Bait Allah.

    Di zaman PB, baru ada jemaat jemaat lokal yg dikordiner/dibina langsung para Rasul dan pengikutnya. Tapi gereja di abad sekarang tak mungkin jika tidak diatur sebuah organisasi. Dengan demikian organisasi gereja sekarang, sebenarnya harus ditafsirkan sebagai pusat/ Bait Allah di zaman moderen yang fungsinnya harus mengatur gereja gereja lokal anggotanya, termasuk mengatur persepuluhan.

    Demikian pemahaman saya sebagai kaum awam ttg persepuluhan pemanfaatannya.

  31. frans onesimus kansil - November 16, 2010

    saya setuju dengan pendapat pastor Suwandoko. pertanyaan :

    1. Apakah organisasi seperti BPD dan BPP adalah sama dengan Rumah Allah/Gereja?
    2. Di mana ada ayat yang mengatakan bahwa sebuah Organisasi yg bukan gereja lokal/rumah Tuhan berhak menerima persepuluhan?
    3. jika GSJA_GSJA di luar negeri sudah sadar bahwa perpuluhan hanya diberikan ke gereja lokal, mengapa GSJA di Indonesia masih mempertahankan sesuatu cara lama?

Tulis Komentar Anda