Menjadikan SATI sebagai Perguruan Tinggi

a-47

Ide cemerlang! Sesuai dengan langkah pengayaan SDM Pelayan Injil GSJA maka ide tersebut perlu didukung dan dikerjakan segera. Seingat saya gagasan ini timbul dari Pdt. Hariagus pada salah satu Rapat Majelis Pusat di Jakarta tentang pentingnya menambahkan wawasan dan keajegan para lulusan SATI maka diperlukan kelengkapan pengetahuan selain teologi. Sedangkan fakultas apa saja yang dijadikan jurusan muncul kemudian.

Ini juga akan meramaikan poros pendidikan GSJA karena orang memiliki alternatif dan sekaligus bisa mengambil ‘dual’ degree (gelar ganda). SATI akan menjadi lebih menarik menurut definisi baru yaitu sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang bertugas sebagai agen dan pencerdasan bangsa dan kekristenanan. SDM kita jelas akan meningkat dan ruang gerak lulusan SATI akan menjadi luas juga.

Dewasa ini, masalah integrasi ilmu baik teologi dan psikologi, teologi dan ekonomi, teologi dan bahasa, menjjadi sangat kritis. Sesuai perkembangan jamannya bahwa masalah kemanusiaan adalah masalah holistik dan bukan monolitik, maka sebaiknya kita melangkah serius dengan ide menjadikan SATI sebagai Perguruan Tinggi.

Bagaimana nasib Sekolah Teologi atau Sekolah Alkitab GSJA lainnya? Mesti dirampingkan. Ketimbang memiliki 14 kapal layar ukuran tanggung, lebih baik memiliki 1 atau 2 kapal selam bagus. Dari pada memiliki belasan Sekolah Teologi atau Sekolah Alkitab yang tanggung kemampuannya lebih baik dirampingkan, difokuskan menjadi 1 atau 2 selain SATI sebahai perguruan tinggi.

Kekuatiran bahwa sebaran pelayanan makin sulit karena terkonsentrasi di Jawa atau pada beberapa Sekolah unggulan saja tidak perlu dibesar-besarkan. Akan ada semacam ‘inertia’ baru yang di luar dugaan bahwa melalui Sekolah Alkkitab unggulan GSJA maka SDM akan makin terseleksi dan masa depan GSJA makin baik juga. Garbage in garbage out. Jika tetap saja kita menganut paham pemerataan tanpa memikirkan prioritas unggulan maka kita akan kembali kepada problem SDM.

Terobosan penuh perhitungan harus dilakukan, tetapi tetap harus berbobot terobosan. Kita ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang ingin masuk ke dalam pelayanan, bahwa ‘panggilan’ Tuhan akan mengandung komponen-komponen tertentu dan bukan asal-asalan.

Betapa menyenangkannya jika di hari depan produk Sekolah Alkitab GSJA mampu menembus perkotaan. Mungkin salah satu cara terbaik ‘menciptakan’ DNA perkotaan dalam tubuh GSJA adalah dengan mengubah Sekolah Alkitab yang ada. Organisasi lain memiliki mekanisme mudah ke arah itu karena alasan lain. Tetapi khusus organisasi kita mungkin jalannya mesti demikian, Sekolah Alkitabnya diubah.

Memiliki produk Sekolah Teologi yang juga ‘mumpuni’ secara ekonomi dan psikologi akan ‘wow’ secara kriteria umum, tetapi tokh tetap diperlukan ‘anointing’ bagi semua itu. Nah, untuk hal ini kita perlu minta Roh Kudus bekerja mengurapi hamba-hamba Tuhan.

Artikel oleh: February 5, 2010  Tags:   Kategori : Ilustrasi  Sebarkan 

13 Komentar

  1. Ferry Tabaleku - February 5, 2010

    Sebenarnya ide mendirikan perguruan tinggi ini sudah lama sekali ketika saya di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Ide ini telah saya bagikan kepada beberapa kawan di Jakarta antara lain Pdt. Bambang Sutrisno MBA, namun oleh karena satu dan lain hal ide ini mandek lagi. Bentuk dari pendidikan Perguruan Tinggi ini, akan didesain kurikulumnya 70% materinya sekuler,dan 30% materi teologia/beblical(perguruan Tinggi Plus). Out put dari pendidikan ini akan menghasilkan sarjana yang berkwalitas dalam Science dan Teologia/rohani dengan harapan mereka akan melayani melalui profesi mereka, dan tidak menutup kemungkinan untuk melayani secara fulltime di kemudian hari bila mereka merasa terpanggil sepenuh masa, bahkan melalui PT ini kita dapat memperoleh banyak manfaat, antara lain mendapatkan jiwa baru, calon pemimpin, dan keuangan juga serta secara langsung terlibat bersama pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. Disamping itu, potensi gereja kita yang sangat besar dan belum digarap/digali secara maksimal, contohnya, gereja kita memiliki banyak sarana prasarana yang tidak dikelola dengan maksimal seperti SATI, dan Parakletos, Katekate Ambon mempunyai lahan tanah yang sangat luas, sebenarnya sudah memungkinkan untuk membangun suatu perguruan tinggi, anggota jemaat kita berasal dari berbagai GSJA di Indonesia seperti IES, CWS, K.Gading, Betlhem, Ambengan, Batu Tulis dan lain sebagainya, banyak yang terlibat dalam dunia pendidikan dengan gelar profesor, Ph.D, Master dan lain-lain, belum lagi GSJA yang ada diluar negeri, paling dekat adalah Singapura, Malaysia dan Australia. Banyak sekali anggota jemaat dari negara-negara ini, yang bisa di pakai sebagai tenaga pengajar bahkan bisa juga menjadi missionaris di Indonesia dan PT ini akan menjadi platform mereka, kita tidak perlu bayar gaji mereka sebab mereka di kirim oleh Gereja sebagai tenaga profesional plus missionaris dan ini menjadi aset bagi PT dan GSJA sendiri. Kenapa SATI tidak bisa menjadi perguruan tinggi, sebagai contoh saya pernah mengajar di TCA(Teological Centre for Asia) Malaysia under DR. Naomi Doudy, sekarang telah di ganti menjadi university mungkin kita bisa connect dengan mereka dan bisa menjadi partner atau kerjasama dalam tenaga pengajar, atau dari Australia, Amerika.
    Oleh karena itu doa dan harapan saya, hal ini bukan suatu wacana saja, tetapi sungguh mau direalisasikan dengan membentuk sebuah Board/commette untuk mulai merencanakannya. Tuhan Yesus memberkati.

  2. Ekaputra Tupamahu - February 7, 2010

    Saya mendukung sepenuhnya ide ini. Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah apakah GSJA bersedia untuk menjadi penopang finansial utama bagi pengembangan Sati menjadi sebuah perguruan tinggi? Ingatlah, bahwa Sati itu milik GSJA. Kalau Satya Wacana atau Duta Wacana di Jawa Tengah bisa menjadi leading reseach universities di Indonesia, mengapa kita tidak bisa? Tapi itu membutuhkan kerja sama kita semua. Mengingat tradisi Pentakosta yang sangat anti-intelektual, saya rasa perlu ada perubahan paradigma besar di antara para hamba Tuhan di Indonesia. Pendidikan tidak boleh dianggap sebagai ancaman bagi spiritualitas dan perkebangan gereja. Pendidikan adalah tempat produksi generasi kepemimpinan baru bagi gereja masa depan. Saya berharap ide ini bisa terimplementasi dan bukan saja menjadi wacana pembicaraan dalam rapat-rapat.

  3. roberto hutapea - February 10, 2010

    sangat-sangat setuju dengan pak ferry apa lagi dengan pak eka…kalau mau jujur kita ini udah tertinggal jauh dengan gereja2 yang ada di indonesia dalam banyak hal…dari segi pendidikan teologi pun…apa lagi dalam pendidikan umum…secara teknis kita punya sdm yang luarbiasa kok…kalau sy boleh pinjam istilahnya pak gani dulu waktu sya masih kuliah, ” main bola tidak kalah rohani dengan doa.” ya…kita terlalu banyak waktu di “dalam gereja” pada hal Tuhan suruh kita untuk “Pergi”….ya sudah saatnya kita “berbicara” lebih banyak…sy harap wacana jadikan SATI jadi PT tidak sekedar wacana tok…kenapa kita tidak didik “anak-anak kita sendiri”….Hidup GSJA, Hidup Indonesia….Tetap semangat teman2….tugas kita belum selesai…

  4. Sintong P. Tandjung - April 21, 2010

    Sangat setuju dengan menjadi Universitas. Kalau Universitas = GSJA akan terkenal, dan akan diperhitungkan di Indonesia dan Internasional. Tapi pengelolaannya harus profesional. Lanjutkan……….. dengan mendirikan sekolah-sekolah “Sekuler”, melaluinya juga bisa menjaring jiwa-jiwa. “CERDIK ……. DAN TULUS……”

  5. Gamaliel - June 4, 2010

    Menjadikan SATI sbg universitas, setuju-setuju saja asal tidak menyimpang dari tujuan pendirian SATI
    itu sendiri; Agar jadi terkenal atau diperhitungkan wah…bukan itu tujuannya. Perampingan sekolah teologia wah rasanya lucu,…sekolah-sekolah alkitab yang sudah ada dijadikan apa? Jadikan gudang ya…Lepas dari kekurangan sekolah-sekolah Alkitab yang ada; sekolah-sekolah itu telah menjadi
    penyedia SDM yang penting bagi daerah dimana sekolah itu berada; apalagi ditengah ketidak-jelasan pogram nasional pendidikan di lingkungan GSJA; wah,….

  6. Aldrian P. Santiago - June 10, 2010

    Sebaiknya tidak usah dijadikan universitas, kalau hanya menjadi universitas
    yang ecek-ecek…..; apalagi di Malang, ditengah persaingan yang sangat
    ketat dalam dunia pendidikan. Jadikan saja SATI sebagai sekolah teologia
    lokal namun berkwalitas international. Di Protestan punya STT Jakarta, Baptis
    punya STT Baptis Semarang; ya,….untuk Pentakosta punya SATI di Malang. Tapi
    dosennya jangan alumni SATI dan APTS melulu, itu jeruk makan jeruk. Itu
    namanya “incest”, seperti kata Rektor ITB, dosen di ITB hanya boleh 5 orang
    yang berasal dari ITB; selebihnya harus berasal dari berbagai perguruan tinggi.
    Jadi kaya….

  7. Jeremia A. - June 29, 2010

    Ide menjadikan SATI sebagai universitas mungkin cemerlang, tetapi merampingkan sekolah teologia
    yang ada; gagasan dari mana itu? Yang perlu dilakukan adalah dibentuknya Team Penjamin Mutu untuk untuk meningkatkan kwalitas sekolah-sekolah teologia dilingkungan GSJA. Dibina, difasilitasi, diarahkankan, dllnya. Nah kalau semua itu sudah dilakukan namun tidak tercapai, baru dilikwidasi ketingkat SOM atau sejenisnya. Jangan ditutup….dong!
    Selama ini sepengetahuan saya usaha-usaha kearah itu belum pernah dilakukan, stt yang ada persentase terbesar hidup sendiri-sendiri. Koq muncul ide melikwidasi….

  8. Paulus J. - September 8, 2010

    Menutup STT yang lemah dilingkungan GSJA kemudian menjual aset-asetnya, merupakan ide yang kehabisan akal dan keputus-asaan dan sekaligus cenderung egosentris. Egosentris karena sudah pasti dana hasil penjualan aset itu nantinya untuk SATI вАШkan? Sudah saatnya Departemen Pendidikan kita direformasi.

  9. Jemmy Rio Kaawoan - January 5, 2011

    Sangat Setujuh! 2 kapal yang besar, modern, lengkap dengan berbagai “persenjataan” yang dibutuhkan dalam pelayanan masa kini akan lebih baik dibandingkan 10 kapal yang sudah tua, kecil, minim persenjataan (ilmu; karena hanya teologi saja; sangat baik jika dilengkapai dengan berbagai disiplin ilmu.

  10. tandjung - February 25, 2011

    Harus segera diwujudkan ……………… !

  11. Pdt.Yanes G.Tity - March 4, 2011

    Menurut saya, SDM sangat banyak dikalangan GSJA baik Dalam atau luar negeri,Soal Dana pasti ada banyak jalan. Tapi persoalan utamanya adalah kapan memulai/merealisasikan maksud yang baik ini.
    Semoga dengan berbagai pengkajian yang matang maksud ini segera direalisasikan.

  12. Melvin - July 9, 2011

    bagaimanpun ide ini cukup inovatif mengingat situasi dan perkembangan dunia saat ini..saya kira kapal besar (modern) hanya bisa sampai di pelabuhan besar saja, tidak bisa masuk ke perairan sungai kecil, oleh karena itu kapal kecil (apapun keterbatasannya)tetap memiliki peran cukup strategis dan bernilai..setuju jika didirikan satu PT milik GSJA yang qualified dan excellent di Indonesia, tapi sekolah alkitab GSJA lainnya jangan dilebur alias ditutup..STT Baptis di semarang tidak dibangun dengan melebur sekolah alkitab Baptis di tempat lain, justru didirikan lagi STT Baptis di Jakarta, papua, dan daerah lainnya..dan mereka ber-affiliasi dengan STT Baptis di Semarang. Demikian pula halnya dengan STT Jakarta..Nampaknya peluang dan potensi menjadikan SATI sbg sebuah PT adalah sangat besar,dan merupakan sebuah tantangan yang besar pula bagi para pengelola SATI, pemimpin dan warga GSJA di Indonesia..

  13. Rosita Wondal - November 21, 2017

    Menurut saya ide ini seharusnya sdh ada sejak dulu…tp belum terlambat utk menjadikan SATI sbg 1 univ besar…SDM ckup byk & tdk diragukanlagi. Namun perlu memikirkan STT yg mau di merger kan…bgm kelanjutannya krn mhsw tdk hrs dikorbankan dlm 1 perubahan sistem. Saya sbg org pendidikan sangat ingin SATI buka jurusan2 kependidikan. Krn dg jurusan tsb qt bisa terbuka utk menjangkau jiwa2 di bangku pendidikan….mulai dr PAUD sampai jurusan SMA….THX…kiranya Allah melihat maksud baik dr semuanya ini dan bukan qt yg dipermuliakan tp Allah…amiiiin

Tulis Komentar Anda