Persiapkanlah Jalan untuk Tuhan

Markus 1:1-8

oleh A. Mulyanto

Tolong jawab dengan jujur: “Apa yg umumnya dipersiapkan jemaat masa kini menjelang Natal?”

· Baju baru yg termewah

· Makanan yg terlezat

· Tempat yg termegah

Coba kita bandingkan secara obyektif dengan “Apa yg Alkitab ceritakan
tentang Yohanes Pembaptis?”

· Bajunya sangat sederhana

· Makanannya sangat murah

· Tempatnya sangat gersang

Ternyata gaya kehidupan jemaat masa kini menjelang Natal bertolak belakang dengan gaya kehidupan Yohanes Pembaptis. Padahal, Yohanes Pembaptis adalah “Utusan Tuhan” untuk membuka jalan bagi Yesus.

Tidaklah berlebihan untuk saya mengatakan:

GEREJA MASA KINI PERLU MENATA ULANG KEHIDUPANNYA

AGAR SUNGGUH-SUNGGUH MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI YESUS

Mari renungkan dan camkan secara lebih mendalam teladan-teladan kehidupan Yohanes Pembaptis

CHRISTOCENTRIS
( Berpusat kepada Kristus )

Lih Mrk 1:7-8 bnd Yoh 3:22-30

Yohanes Pembaptis, dengan penuh kerendahan hati, memberitakan, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Tidak terpancar barang sedikit pun ambisi untuk mempromosikan diri sendiri. Dia mengatakan dan melakukan segala sesuatu hanya bagi Tuhan Yesus.

Suatu hari, saya membaca suatu kisah tentang perlombaan sepeda di India. Bayangkan kalau ada seseorang yang mengikuti perlombaan tersebut tanpa memahami peraturan lomba. Ketika perlombaan dimulai, dia mengayuh pedal sekuat dan secepat yang dapat dilakukannya. Dia hampir kehabisan nafas. Dia mandi keringat. Dia sangat senang ketika mengetahui peserta lomba yang lain jauh tertinggal di belakang. “Saya akan memecahkan rekor,” pikirnya. “Sungguh fantastik!” Dia berteriak, sambil memacu sepedanya lebih keras dan lebih cepat lagi.

Akhirnya, dia mendengar tembakan tanda pertandingan berakhir. Dia sangat senang karena menjadi yang terdepan. Tak dinyana, dia justru menjadi pecundang karena tidak memahami peraturan lomba. Tujuan lombanya adalah untuk dapat menempuh jarak sependek mungkin pada jangka waktu yang telah ditetapkan. Mereka yang mengerti berusaha sebaik mungkin untuk tidak menjauh dari garis start. Kedua kaki mereka memang harus tetap ada di pedal karena mereka akan didiskualifikasi jika salah satu kaki mereka saja menyentuh tanah. Kalaupun mereka harus bergerak maju, maka itu pun hanya beberapa centimeter, secukupnya untuk mempertahankan keseimbangan tubuh mereka. Ketika batas waktunya habis, maka orang yang paling dekat dengan garis start itulah juaranya.

Tuhan Yesus memberikan peraturan dalam perlombaan menuju hidup kekal. Garis finishnya berada di sisi lain setelah kematian kita, tepat di depan takhta Allah sendiri. Di sana kita akan mendapat upah Surgawi setelah kebangkitan orang percaya. Strategi untuk memenangkan perlombaan iman ini adalah untuk memperhatikan orang lain, bukan hanya kepentingan diri sendiri. Menolong yang lain untuk berkembang, bukan mengedepankan ambisi pribadi. Memberi tanpa mengharapkan pamrih dari si penerima.

Kunci kemenangannya adalah belajar rendah hati seperti Yesus. Belajar untuk mengembangkan kehidupan yang berpusat kepada Kristus, seperti Yohanes Pembaptis.

COURAGEOUS
( Berani Menyatakan Kebenaran )

Lihat Mrk 1:4 bnd 6:17-18

Bukan hanya di padang gurun, Yohanes Pembaptis berseru, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,” tetapi kepada siapapun juga. Ketika Herodes mengambil Herodias, yang adalah istri saudaranya, sebagai istrinya, Yohanes dengan berani menegur, “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu!”

Gordon MacDonald, seorang hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa, bersaksi,

Suatu kali, lebih dari 20 tahun yang lalu, saya berada di Jepang sebagai pembicara seminar bersama dengan seorang sahabat rohani. Dia lebih tua dari saya. Sementara kami berjalan-jalan di Yokohama, saya teringat tentang seorang teman yang lain, dan mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang dia. Pernyataan-pernyataan yang kasar dan sinis serta merendahkan meluncur deras dari mulut saya. Tiba-tiba, sahabat rohani saya itu berhenti, berbalik dan menghadapkan wajahnya tepat di hadapan wajah saya. Dengan suara yang dalam, perlahan-lahan dia berkata, “Gordon, seorang yang mengaku bahwa dia mengasihi Allah tidak akan berkata seperti itu tentang seorang teman.”

Tegurannya itu serasa jauh lebih pedas dari sebuah tamparan. Akan tetapi, saya bersaksi: lebih dari puluhan ribu kali selama 20 tahun ini, saya terluput dari kesalahan yang dapat menghancurkan integritas saya. Setiap kali saya tergoda untuk mengatakan sesuatu yang buruk tentang saudara atau saudari seiman atau seorang teman, suara sahabat rohani saya itu bergema kembali, “Gordon, seorang yang mengaku bahwa dia mengasihi Tuhan tidak akan berkata seperti itu tentang temannya.”

Seorang yang sungguh mengasihi Tuhan pasti mengasihi sesamanya. Kasih yang murni tersebut akan membangkitkan keberanian untuk mengatakan kebenaran. Kebenaran itu lah yang akan memerdekakan dan menyelamatkan sahabat-sahabat kita.

CONVINCING
( Berpengaruh secara meyakinkan)

Lihat Markus 1:5

Markus menceritakan dengan lugas seberapa besar tanggapan masyarkat terhadap seruan Yohanes Pembaptis, “Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Jelas sekali bahwa kehidupan dan pelayanan Yohanes sangatlah meyakinkan!

Josephus, seorang sejarawan Yahudi yang sekuler saja mengakuinya. Ketika Aretas, raja Petra, yang marah karena anak perempuannya diceraikan Herodes, mengalahkan raja Herodes dalam suatu peperangan yang dahsyat, Josephus menuliskan,

Bagi beberapa orang Yahudi, kehancuran pasukan Herodes dipandang sebagai hukuman Tuhan, suatu hukumkan yang adil, karena perbuatannya terhadap Yohanes Pembaptis. Herodes telah membunuhnya walaupun sebenarnya seorang yang baik. Dia telah menginsafkan banyak orang Yahudi untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, lalu membaptis mereka.

Bagaimana supaya kehidupan dan pelayanan kita juga dapat meyakinkan banyak orang? John Maxwell dan dan Jim Dornan menulis sebuah buku berjudul “Becoming a Person of Influence.”

Mereka mendaftarkan 10 nasihat penting berikut ini agar kita dapat menjadi orang yang berpengaruh:

1. Jujur dengan orang lain.

2. Memelihara orang lain.

3. Yakin kepada orang lain.

4. Mendengar orang lain.

5. Memahami orang lain.

6. Mengembangkan orang lain.

7. Menjadi navigator bagi orang lain.

8. Berhubungan dengan orang lain.

9. Memperlengkapi orang lain.

10. Mereproduksi orang berpengaruh yang lain.

Perhatikanlah bahwa mereka menempatkan kejujuran pada urutan pertama. Tanpa kejujuran, kita hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain mendekat kepada Yesus. Dengan bersikap jujur, menjunjung tinggi integritas, kita meluruskan jalan untuk banyak orang datang kepada Yesus. Camkanlah betapa tegas peringatan Maxwell dan Dornan,

Ada orang yg dapat dibeli karena mereka belum membereskan masalah uang sebelum datangnya godaan. Cara terbaik untuk menjaga diri dari pelanggaran integritas adalah dengan mengambil keputusan sekarang juga bahwa Anda tidak akan menjual integritas Anda: tidak untuk kekuasaan, balas dendam, keangkuhan, atau uang – dalam jumlah berapa pun.

Itulah langkah pertama kita harus lakukan dalam mempersiapkan jalan bagi Yesus: Kejujuran.

Perhatikanlah lebih saksama lagi bahwa Maxwell dan Dornan menempatkan pelipatgandaan sebagai klimaks dari kehidupan yang berpengaruh. Secara figuratif, mereka memberikan dorongan,

Jika Anda berlari cepat tetapi tidak mampu meneruskan tongkat ke pelari lain, Anda kalah dalam perlombaan. Akan tetapi, jika Anda berlari cepat, merekrut, melatih pelari cepat yang lain, dan belajar menyerahkan tongkat dengan mulus, Anda akan menang. Dalam hal pengaruh, jika Anda dapat melakukan proses itu berulang, Anda dapat melipatgandakan pengaruh Anda secara luar biasa.

Mari kita garis bawahi: Dengan mereproduksi orang berpengaruh yang lain, kita dapat melipatgandkan pengaruh kita secara luar biasa.

Saya sendiri lebih senang memakai istilah, kita dapat memiliki pengaruh yang SANGAT MEYAKINKAN (CONVINCING), seperti Yohanes Pembaptis. Sungguh membesarkan hati, pengaruh yang meyakinkan ini ternyata:

· Tetap hidup ketika kita sudah meninggal (Mrk 6:29).

· Tetap eksis ketika kita sudah tidak aktif (Mrk 11:27-33).

Itulah yang Markus saksikan tentang apa yang terjadi terhadap Yohanes Pembaptis.

Di dalam autobiografinya, Johny Cash menceritakan tentang saudara tuanya, Jack, yang baru berusia 14 tahun ketika dia meninggal. Jack bekerja memotong pohon-pohon Ek di sebuah toko pertanian. Penghasilannya dipakai untuk menopang keluarga mereka, yang waktu itu bergumul untuk dapat tetap hidup dengan bekerja di sebuah perkebunan kapas di pinggiran Arkansas. Suatu kecelakaan yang mengerikan menimpanya. Gergaji besar yang dipakai Jack melukai dirinya sendiri, sehingga dia meninggal beberapa hari kemudian.

Beberapa waktu selum kematiannya, Jack telah mengungkapkan kepada keluarganya dan segenap komunitas bahwa dia rindu menjadi seorang Pengkhotbah. Setiap orang sepakat bahwa dia akan menjadi seorang pengkhotbah yang efektif karena keunggulan karakter Kristianinya telah dikenal luas.

Johny Cash selalu mengingat saudara tuanya itu, dan teladan Jack terus memberikan pengaruh yang kuat dalam kehidupannya. Cash menulis, “Jack tidak pernah sungguh-sungguh pergi meninggalkan saya. Pengaruhnya terhadap saya sangatlah luar biasa. Waktu kami bertumbuh bersama, dia berusaha untuk meluputkan saya dari jalan kebinasaan dan menuntun saya di jalan kehidupan di bawah terang Tuhan. Walaupun dia sudah meninggal, namun nasihat-nasihat dan teladan-teladan kehidupannya tetap menjadi pedoman kehidupan saya.

Sesuai dengan teladan Yohanes Pembaptis, mari kita tata ulang kehidupan kita untuk mengisi masa raya Natal dan menyongsong tahun baru dengan kehidupan yang:

· Christocentris – berpusat kepada Kristus,

· Courageous – berani menyatakan kebenaran, dan

· Convincing - berpengaruh secara meyakinkan.

Dengan demikian kita sungguh-sungguh dapat mempersiapkan dan meluruskan BANYAK JALAN bagi Tuhan Yesus. Amin.

Artikel oleh: December 18, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Umum  Sebarkan 

Satu komentar

  1. Theofillus GSJA Tumbang Samba Katingan Kalteng - January 6, 2010

    trima kasih,saya sangat di berkati oleh artikel ini, memang seharusnya kita sebagai hamba2 Tuhan harus belajar seperti Yohanes Pembaptis yg penuh kesederhanaan,berani melawan arus dan hanya menampilkan pribadi Yesus saja dlm hidupnya, untuk itu kita harus berkaca, apa kita sudah menampilkan Yesus sepenuhnya dalam hidup kita,biarlah kita semakin kecil dan Yesus semakin besar dlm hidup kita..Amin.Gbu

Tulis Komentar Anda