Esensi Natal

b-28

Matius 20:28

“Yesus berkata, Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,

tetapi untuk melayani . . .”

oleh A. Mulyanto


Kecenderungan ‘narcis’ bertahun lamanya dianggap sebagai penyimpangan kejiwaan, tetapi sekarang ini justru jadi ‘trend’. Amatilah betapa banyaknya program televisi yang memberikan hadiah kepada ‘video ter-narcis’. Telitilah betapa banyak foto-foto diri yang diupload melalui facebook dan jejaring sosial lainnya tiap-tiap detik.  Jika tidak diwaspadai, spirit narcis ini juga dapat merasuki juga dapat merasuki masa raya Natal.  Tidak heran jika banyak orang Kristen hanya sibuk memikirkan baju baru, door prize, kado yang ingin diperoleh untuk dirinya sendiri.

Seorang yang tidak mau mencantumkan namanya menuliskan,

Dia lahir di sebuah desa terpencil, lahir dari seorang wanita yang sederhana.

Dia bertumbuh besar di suatu desa yang lain. Dia bekerja sebagai tukang kayu sampai berusia 30 tahun. Setelah itu selama 3 tahun di manjadi pengkhotbah keliling. Dia tidak pernah menulis sebuah buku, Dia tidak pernah memiliki sebuah kantor. Dia tidak pernah berkeluarga. Dia tidak pernah kuliah di suatu perguruan tinggi. Dia tidak pernah menginjakkan kakinya di satu kota besar. Dia tidak pernah bepergian lebih dari 300 km dari tempat kelahirannya. Dia tidak pernah menduduki satu jabatan kepemimpinan organisatoris. Dia bahkan tidak memiliki beslit kependetaan.

Di usianya yang masih sangat muda, gelombang pendapat yang popular bergerak menyerang dia. Salah satu sahabatnya mengkhianati dan menjualnya kepada musuh. Salah satu sahabat terdekatnya menyangkali dia. Sahabat-sahabatnya yang lain meninggalkan dia. Dia menjalani pengadilan yang penuh pelecehan. Dia disalibkan di tengah dua orang penjahat besar. Para algojonya berjudi atas satu-satu asset yang dia miliki di bumi ketika dia sedang sekarat yaitu jubahnya. Setelah meninggal, dia diturunkan dan dimakamkan di sebuah kuburan yang dipinjamkan oleh seorang teman yang berbelas kasih.

Dua puluh abad telah datang dan pergi. Saat ini dia adalah pusat sejarah manusia dan pemimpin masa depan yang dinanti-nantikan.

Dia lah Yesus yang memberi teladan agung dengan mengatakan dan mendemosntrasikan, “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”

Jack Whitaker melakukan apa yang sama sekali berbeda. Dia memenangkan lotere yg sangat besar, yaitu sekitar 25 M rupiah pada hari natal tahun 2002. Akan tetapi, sejak saat itu, hidupnya justru terus dililit berbagai masalah.

Tanggal 5 Agustus 2003, Whitaker sedang minum di sebuh klub malam ketika 5 M rupiah dicuri dari mobil sportnya. Seseorang memecahkan kaca jendela dan mengambil sebuah tas berisi 2 M rupiah tunai dan tiga buah cek sebesar 1 M rupiah.

Tanggal 6 Januari 2004, setelah dicekal dari Billy Sundays Bar and Grill di St. Alban, West Virginia, Jack Whitaker dilaporkan telah mengancam untuk membunuh manager dan keluarganya sendiri.

Tanggal 25 Januari 2004, Whitaker ditahan karena mengemudi sambil mabuk di Nitro, Virginia Barat. Polisi mendapatkan kandungan Alkohol dalam darahnya 190 atau dua kali dari batas resmi.

Tanggal 1 Desember 2004, Jack Whitaker di usianya yang ke-57 kembali ditangkap karena mengemudi sambil mabuk, sehingga menabrak pembatas jalan di Tumpike, dekat Beckley, Virgina Barat.

Perwira Polisi bernama Pinardo melaporkan bahwa mulutnya bau alkohol keras sekali dan menolak untuk mengikuti pengujian kadar alkohol. Di samping itu, mereka mendapatkan sebuh pistol kecil di sepatunya dan uang tunai sebesar 800 juta rupiah di dompetnya. Mereka tidak memiliki pilihan lain kecualI memasukkannya ke penjara.

Mengapa Whitaker terus menerus berkubang dalam berbagai masalah? Karena dia hidup untuk dirinya sendiri. Itulah jalan hidup yang dirawarkan dunia ini.

Saudara-saudariku, “Janganlah kita terus menerus berpikir untuk diri sendiri, kita perlu juga memikirkan orang lain!” Natal adalah masa raya untuk berpikir tentang orang lain dan tentang apa yang kita dapat lakukan untuk mereka. Itulah jalan hidup yang Yesus ajarkan. Itulah esensi Natal.

Paling sedikit, ada tiga ekspresi dalam memikirkan orang lain: 1) Berbagi dengan orang lain ; 2) Berdoa bagi orang lain ; 3) Menjangkau orang lain.

I. BERBAGI DENGAN ORANG LAIN

Ibr 13:16, “Janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”

Gal 6:10, “Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.”

Ayat-ayat tersebut tidak membutuhkan penjelasan, tetapi membutuhkan demonstrasi:

Kita dapat mengirimkan kartu Natal.

Kita dapat mengirimkan hadiah Natal kepada mereka yang biasanya tidak pernah mendapatkannya.

Kita dapat menolong mereka yang miskin.

Kita dapat memberikan makanan gratis kepada para pemulung.

Kita dapat membagikan kue-kue Natal kepada anak-anak jalanan.

Kita dapat memberikan tumpangan kepada mereka melakukan perjalanan.

Kita dapat mengucapkan kata-kata penghiburan kepada mereka yang sedang putus asa.

Kita dapat memberikan senyum yang terbaik kepada setiap orang yang kita jumpai.

Kita dapat memikirkan berbagai cara kreatif lain untuk berbagi dengan keluarga, saudara seiman, dan sesama yang lain.

Natal memang saat terbaik untuk berbagi dengan orang lain.

Kita semua perlu memikirkan tindakan-tindakan kebaikan. Terkadang ungkapan kebaikan yang sangat sederhana sanggup menanamkan kesan mendalam kepada orang lain.

II. BERDOA BAGI ORANG LAIN

Kol 1:3 “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu.

Natal adalah masa raya untuk mengingat orang lain dalam doa-doa kita. Ingatlah bahwa kita percaya terhadap pentingnya doa dan kuasa doa!

Yak 5:14, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

Kami percaya pentingnya berdoa untuk orang sakit. Kita harus terus menerus melakukannya. Kita percaya bahwa para penatua gereja seharusnya rajin mendoakan orang sakit.

AKAN TETAPI, MENDOAKAN ORANG SAKIT HARUS DAN DAPAT DILAKUKAN OLEH SETIAP ORANG PERCAYA.

Untuk berdoa, kita tidak harus memiliki bakat tertentu atau jabatan gerejani tertentu,

Ef 6:18, “Dalam segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus,

Sesungguhnya kita dapat berdoa untuk apa saja dan siapa saja. Allah, kemungkinan besar, lebih mudah menjawab doa yang dinaikkan bagi orang lain, apa pun kebutuhan mereka, karena kita tidak sedang mementingkan diri sendiri.

Natal adalah masa raya terbaik untuk berdoa bagi orang lain.

III. MENJANGKAU ORANG LAIN

Natal adalah masa raya untuk mengkhotbahkan Kristus, mengajarkan Kristus, menjangkau orang lain dengan berita tentang Kristus karena Dia adalah jawaban atas segala persoalan manusia. Dia adalah Jawaban.

1 Pet 3:15, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhyan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang . . . Tentang perngharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.”

Kita harus selalu siap untuk berbicara tentang Kristus. Walaupun kita minoritas, tetapi kita dapat meminta keberanian kudus untuk menyaksikan Kristus.

Kita seharusnya justru mencari dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk me-nyaksikan Kristus di setiap acara Natal.

Mengapa? Karena di dalam Kristus dan melaui iman percaya kepadanya ada damai sejahtera, sukacita, kebahagiaan dan keselamatan kekal yang dicari umat manusia.

HIDUP BAGI ORANG LAIN

Tuhan, tolonglah aku

untuk hidup dari hari ke hari

Dengan tidak mementingkan diri sendiri.

Bahkan ketika saya berlutut untuk berdoa

Saya juga berdoa untuk orang lain.

Tolong saya untuk selalu bekerja

Di dalam kebenaran dan ketulusan

Ajar saya untuk melayani orang lain

Seperti untuk Tuhan

Biarlah “manusia lamaku” disalibkan

Dan dikuburkan dalam-dalam,

Biarlah “manusia baru” ku bangkit

Yang hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain

Kiranya Tuhan tolong saya terus

Untuk hidup menyenangkan hati Tuhan

dan memberkati sebanyak mungkin orang lain.

Artikel oleh: December 9, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Umum  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda