PRAY MORE, ACHIEVE MORE (III)

(Dan. 10:1-11)

a-147

J.H. Bomberger berujar, “The sweetest side of any fruit or vegetable is the side which grows toward the sun.” Pernyataan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut, “Orang benar yang hidupnya paling bercahaya adalah yang bertumbuh tiap-tiap hari di dalam hadirat Allah.” Inilah orang-orang yang terangnya akan semakin benderang, dan hidupnya akan semakin bercahaya, tidak peduli betapa pun gelap llngkungan di mana dia tinggal dan betapa pun kelam dunia di masa mereka hidup dan melayani.

Daniel membuka hari-harinya dengan berlutut dan menerima curahan kasih Allah. Tidaklah mengherankan jika, di mana pun mereka berada, ke mana pun mereka pergi, orang-orang di sekitar mereka mendapatkan sedikitnya percikan kasih sayang Allah, bahkan termasuk para ahli nujum dan pemimpin-pemimpin kafir.

Simaklah doa-doa Daniel dan marilah kita semaksimal menerapkanya dalam kehidupan kita semua.

Ya Allah, Dengarkanlah!
(Dan. 7:1-8 bnd 9:17a)

Banyak orang tua, apalgi pada zaman sekarang ini, yang berteriak sekeras-kerasnya kepada anak-anaknya: “Dengarkanlah apa kata ayah!” Demikian juga guru-guru, tidak kalah keras, berteriak, “Dengarkanlah apa yang saya ajarkan!” Mengapa? Karena semakin banyak anak-anak dan murid-murid yang tidak mau mendengarkan nasihat orang tua dan ajaran guru-gurunya. Kenyataan tersebut ter-refleksi dalam berbagai ungkapan populer di antara kaum muda, umpamanya,

  • “suka-suka”
  • “peduli amat”
  • “EGP-Emang Gua Pikirin”

Semangat ‘cuek’ – ‘atau tidak peduli akan orang lain’ ini bahkan sudah merambah ke usia yang semakin muda, sehingga anak-anak kecil pun beberapa sudah memakai istilah yang sama.

Ada juga anak-anak yang harus berteriak kepada orang tua atau kakek-neneknya. Kali ini, bukan karena tidak mau, melainkan karena orang tua atau kakek dan neneknya tidak lagi mampu mendengar dengan baik karena usia tua. Kita harus berbicara sa-ngat dekat dan berbicara sangat keras, barulah mereka mengerti.

Syukurlah, kita memiliki Allah selalu mau bahkan senang mendengar doa-doa kita. Bagaikan seorang Bapak yang baik yang selalu menyediakan segenap dirinya untuk mendengar anaknya berbicara. Dia juga selalu mampu mendengar doa kita. Telinganya tidak pernah menjadi kurang tajam untuk mendengar karena Dia Allah yang kekal-tidak pernah menjadi tua apalagi terlalu tua.

Setelah mendapatkan satu rangkaian mimpi dan penglihatan tentang kerajaan demi kerajaan yang silih berganti akan menunjukkan kekuasaaan sekaligus kegarangannya, Daniel berseru, “Ya Allah, dengarkanlah!” Demi masa depan yang lebih baik bagi kota Yerusalem, Daniel berseru, “Ya Allah, dengarkanlah!”

Sesungguhnya, keluarga dan kota ini sedang sangat membutuhkan doa-doa kita. Daripada kita berteriak dalam kejengkelan atau dalam arak-arakkan kampanye, lebih baik kita berseru kepada Tuhan, “Ya Allah dengarkanlah: lawat kelaurga dan kota kami!”

Ya Allah, Sinarilah!
(Dan. 7:9-18 bnd 9:17b )

Ketika Daniel berdoa, “Ya Allah . . . Sinarilah tempat kudusmu dengan wajah-Mu,” kemungkinan besar dia teringat akan “doa berkat imam.” Pertama-tama diajarkan langsung oleh Allah sendiri kepada Musa untuk diajarkan kembali kepada Harun dan anak-anaknya sebagai doa baku untuk memberkati orang Israel. Secara lengkap tercantum dalam Bilangan 6:24-26:

Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;

Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya

dan memberi engkau kasih karunia;

Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada-Mu

dan memberi engkau damai sejahtera.

Bagi mereka yang cermat, pasti langsung teringat bahwa “ucapan berkat” tersebut, sekarang ini, acap kali dipakai oleh banyak gembala untuk memberkati jemaat Tuhan pada akhir kebaktian. Akan tetapi, sebenarnya setiap orang percaya dapat menaikkan doa yang sama untuk bangsanya. Bukankah kita yang telah percaya adalah imamat yang rajani? (Lih 1 Pet. 2:9).

Mungkin sebagian besar dari kita perlu bertobat dari kecenderungan untuk mengeluh dan mencemooh bangsanya sendiri. Jauh lebih bermanfaat jika saya dan Saudara mulai belajar untuk menaikkan doa berkat bagi bangsa kita yang terkasih justru di saat keadaannya tidak sebaik yang kita harapkan. Bukankah itulah yang dilakukan Daniel bagi bangsanya ketika keadaan sangat buruk karena sedang mengalami penjajahan dan pembuangan serta perbudakan? Tennyson bersaksi: More things are wrought by prayers than this world dreams of.

Allah, dengan tegas, berkata: “Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka” (Bil 6:27). Sudah saatnya saya dan Saudara untuk meletakkan nama Yesus atas ‘orang Indonesia’ – apa pun latar belakang ras dan sukunya supaya Tuhan memberkati.

Ya Allah, Ampunilah!
(Dan. 7:19-28 bnd 9:19b)

Orang Indian belum mempunyai abjad tertulis ketika dikenal pertama kali oleh orang kulit putih. Mereka mempunyai bahasa yang sangat primitif, tetapi perbendaharan kata lisan mereka dapat dikatakan sama banyaknya dengan perbendaharaan kata orang Inggris dan Jerman. Seringkali mereka justru mempunyai istilah yang jauh lebih hidup untuk kata-kata tertentu. Sebagai contoh kata “sahabat” dalam bahasa Indian adalah “seseorang yang bersedia menanggung kesedihanku di pundaknya-one-who-carries-my-sorrows-on-his-back.” (United Church Obrserver).

Daniel tidak tahu istilah Indian untuk sahabat, tetapi dia telah menempatkan diri sebagai sahabat rohani bagi pemimpin-pemimpin bangsa Israel. Walaupun Daniel berhasil mempertahankan kehidupan yang benar, bahkan sangat diberkati dan menjadi berkat di Babel. Akan tetapi, dengan sungguh, dia berseru dalam doanya, “Ya Tuhan, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah menjadi malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau” (Dan 9:8). Itulah sebabnya, Daniel berseru dari kedalaman hatinya, “Ya Allah, Ampunilah!”

Mungkin banyak di antara kita perlu bertobat dari kecenderungan untuk mendaftarkan kekurangan, kelemahan, kesalahan dan kebobrokan para pemimpin bangsa klita sendiri. Jauh lebih bermanfaat jika kita ‘mengidenfikasi’ diri kita dengan mereka, seperti Daniel mengidentifikasi dirinya dengan para pemimpin bangsa Israel. Lalu dengan sungguh, kita mulai memohon pengampunan Allah, sehingga dengan iman kita meletakkan pengharapan supaya pemimpin-pemimpin bangsa kita Indonesia di masa depan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tentunya, kita tidak akan menemukan pemimpin bangsa yang sempurna karena mereka juga manusia. Paling tidak, kita dapat beriman dan berharap munculnya pemimpin-pemimpin yang lebih baik dari sebelumnya dan semakin baik.

Ya Allah Perhatikanlah!
(Dan. 8:1-14 bnd 9:19c)

Daniel, pada pasal 8 ini, melihat domba jantan bertanduk dua dikalahkan oleh kambing jantan bertanduk satu. Siapakah mereka? Mereka adalah kerajaan Media Persia dan Yunani.

Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Babelonia ditaklukkan oleh kerajaan Media-Persia. Kerajaan Media-Persia, kemudian, ditaklukkan oleh kerajaan Yunani, di bawah pimpinan seorang raja brillian-Aleksander Agung. Dalam garis raja-raja Yunani, salah satunya bernama Antiokhus Epiphanus, yang kelak akan mecemarkan Bait Allah. Salah satu tradisi bahkan menyebutkan bahwa dia membawa masuk patung dewa Zeus ke dalam Bait Allah Lih Dan 8:9-12).

Daniel pun berseru dalam doanya, “Ya Allah, perhatikanlah!” Perhatikan apa? Ada banyak tentunya, tetapi yang terutama: Bait Allah supaya kembali ada penyembahan yang benar. Dalam bahasa kontemporer: “Supaya Gereja mengalami kebangunan rohani!”

Beberapa wartawan turun dari London untuk mengumpulkan laporan pandangan mata tentang kebangunan rohani Welsh pada pergantian abad 19 ke abad 20. Ketika mereka sampai di Wales, salah satu bertanya kepada polisi, di mana kebangunan rohani Welsh terjadi. Dengan kepala tegak dan wajah berseri-seri, polisi itu menjawab dengan ramah dan sungguh-sungguh, sambil meletakkan tangannya di dada, “Tuan-tuan, kebangunan rohani Welsh, terjadi di balik seragam ini!”

Pada suatu hari, Gypsy Smith ditanya, bagaimana memulai suatu kebangunan rohani? Dia menjawab, “Pulanglah ke rumah, kuncilah dirimu di sebuah ruangan, dan berlututlah. Setelah itu, buatlah satu lingkaran di sekitar dirimu dan mintalah kepada Allah untuk memulai kebangunan rohani di dalam lingkaran tersebut. Ketika Dia sudah menjawab doamu, kebangunan rohani sudah dimulai!” Sesungguhnyalah, gereja membutuhkan kebangunan rohani dan itu dimulai di dalam diri masing-masing orang percaya.

Ya Allah, Bertindaklah!
(Dan. 8:15-27 bnd 9:19c)

“Saya rindu Saudara-saudari untuk menyediakan sedikitnya 15 menit untuk berdoa setiap hari untuk misi,” himbau seorang gembala kepada jemaatnya. “Akan tetapi,” lanjutnya, “Bersiaplah-siaplah karena engkau harus siap membayar harganya.”

“Bayar harga?” mereka bertanya dengan terkejut.

“Ya, bayar harga,” jawab sang gembala, “Ketika Carrey berdoa untuk pertobatan bangsa-bangsa, dia bayar harga, de-ngan menyerahkan seluruh hidupnya untuk misi.

Ketika Brainerd berdoa untuk keselamatan orang-orang kulit hitam, maka dua tahun kemudian, dia pun menyerahkan hidupnya untuk melayani mereka.

Dua orang pelajar di dalam sekolah musim panas Moody mulai berdoa agar Tuhan mengirimnkan lebih banyak hamba-Nya untuk menuai jiwa-jiwa; dan lihatlah, tahun-tahun berikutnya, sekitar 5000 pemuda-pemudi Amerika menerjunkan diri dalam penuaian.

Yakinkan dirimu bahwa Allah tidak pernah menunda-nunda untuk bertindak dalam menjawab doa untuk kemajuan pekerjaan Tuhan asalkan si pendoa bersungguh-sungguh, yaitu siap bayar harga. Tidak seorang pun dapat berdoa dengan sungguh dan menolak untuk terlibat dalam pelayanan, atau berdoa sambil menggengam uangnya erat-erat.

Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, maka dia siap menyerahkan segala kepemilikan dan keberadaan dirinya untuk dipakai oleh Tuhan. Sesungguhnya, acap kali Allah bertindak dengan melibatkan seoptimal mungkin si pendoa untuk memenuhi jawaban doanya. Itulah yang telah dilakukan-Nya terhadap Daniel, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan Yohanes serta tokoh-tokoh Alkitab yang lain. Maukah Saudara berdoa dan dipakai Tuhan sampai bangsa-bangsa dipenuhi kemuliaan-Nya?

Ya Allah, Biarlah Amarah-Mu Segera Berlalu!
(Dan. 9:1-19)

Kisah tentang bagaimana jemaat Tuhan dijamah oleh khotbah Jonathan Edwards berjudul, “Orang Berdosa di Tangan Allah yang Marah” dikenal luas oleh masyarakat.

Edwards mempunyai catatan khotbah yang dipegang begitu dekat dengan wajahnya, sehingga sebagian besar jemaat tidak dapat melihat wajah pengkhotbahnya. Dia terus menyampaikan Firman Tuhan sampai jemaat yang berdesak-desakan di gereja tersebut memberikan tanggapan yang luar biasa.

Salah satu berlari ke altar dan berteriak, “Ya Allah, nyatakan belas kasihan-Mu!” Beberapa menggenggam erat sandaran kursi seolah-olah takut terjatuh ke dalam sebuah lubang. Sebagian besar berpikir bahwa penghakiman akhir telah dinyatakan atas kehidupan mereka. Kuasa yang mengalir dari khotbah tersebut masih dapat dirasakan di Amerika sampai sekarang ini.

Akan tetapi, rahasia mengalirnya kuasa dari khotbah tersebut hanya diketahui oleh beberapa orang Kristen saja. Sebenarnya, beberapa orang percaya di kota Enfield, Massachussets telah mendapatkan peringatan dari Tuhan: Betapa besar amarah-Nya terhadap masyarakat yang terus menerus hidup di dalam dosa yang bahkan semakin parah. Mereka, kemudian, bersatu hati dan berdoa, bergumul, bahkan meratap dengan sungguh-sungguh supaya Allah berkenan untuk melalukan amarah-Nya dan kembali mencurahkan kasih sayangnya. Mereka terus berdoa sampai satu malam sebelum kebangunan rohani itu dimulai. Certita selanjutnya, sudah diketahui umum.

Alkitab sangat konsisten dalam mengungkapkan sikap Allah terhadap dosa. Tidak pernah dipakai unsur pelembut atau penghalus atau pewangi. Dosa itu najis. Dosa itu menjijikkan. Dosa itu menimbulkan murka Tuhan. Kesadaran itulah yang mendorong Daniel untuk berdoa dengan sungguh agar Allah segera melalukan amarah-Nya atas pemimpin dan rakyat Israel. Dengan iman yg teguh bahwa janji pemulihan-Nya segera akan digenapi.

Ya Allah, Curahkanlah Kasih Sayang-Mu!
(Dan. 9:20-27)

Ketika Billy Sunday bertobat pertama kali dan bergabung di sebuah gereja, salah seorang jemaat memeluk bahunya dan berkata,

William, ada tiga aturan sederhana yang dapat saya berikan kepadamu, dan jika engkau tetap memegangnya dengan teguh, maka engkau tidak akan pernah mundur apalagi meninggalkan Tuhan.

Ambillah minimal 15 menit setiap hari untuk mendengar Allah berbicara kepadamu; 15 menit yang lain untuk engkau berbicara kepada Allah; dan 15 menit yang lain lagi untuk menceritakan tentang Allah kepada orang lain.

Petobat muda yg baru ini sangat terkesan dan berketapan untuk menjadikan tiga aturan sederhana tersebut sebagai prinsip hidupnya.  Sejak hari itu dan seterusnya di sepanjang hidupnya, Billy membuka hari-harinya bersama dengan Allah dan Firman-Nya. Sebelum dia membaca sebuah surat atau melirik surat kabar atau membaca telegram, dia membaca Alkitab terlebih dahulu. Dia pastikan bahwa kesan dan pesan pertama yang dia dapat pada hari itu adalah langsung dari Allah.

Pada tahun 1923, dunia mendaftarkan ada 7 orang paling kaya dan paling sukses di dunia.

1. Charles Schwab-presiden perusahaan logam terbesar.

2. Arthur Cutten-pengusaha gandum terbesar.

3. Richard Whitney- presiden Bursa Efek New York.

4. Arbert Fall-anggota cabinet kepresidenan.

5. Jesse Livermore- pialang terbesar di Wall Street.

6. Leon Fraser-presiden “Bank of International Settlement.

7. Ivar Krueger- kepala monopoli dunia.

Akan tetapi, 27 tahun kemudian, inilah nasib mereka:

1. Charles Schwab: mati dengan meninggalkan hutang.

2. Arthur Cutten: mati tanpa diketahui makamnya.

3. Richard Whitney: baru saja keluar dari penjara Sing Sing.

4. Arbert Fall: mati tak lama setelah keluar dari penjara.

5. Jesse Livermore: mati bunuh diri.

6. Leon Fraser: mati bunuh diri.

7. Ivar Krueger: mati bunuh diri.

Satu demonstrasi yang kuat sekali akan kenyataan bahwa orang yang yang hidup semata-mata untuk mencari kekayaan dan kekuasaan, justru akan kehilangan segala sesuatu.

Sekarang, lihat kehidupan Daniel. Dia tidak pernah mengejar kekayaan dan kekuasaan. Kemegahan dan kemewahan justru yang mengejar Daniel-dari sejak usia 20 tahun pada masa Nebukadnezar, sampai sekarang berusia 90 tahun di bawah kepemimpinan Darius dari Media sebagai raja wilayah Babelonia dan Koresh dari Persia sebagai kaisar. Mengapa? Karena Daniel selalu mencari Tuhan!

TAHUN

USIA

TAHAPAN

KEHIDUPAN

LINGKUNGAN

605 SM

20 th

Tawanan perang (Daniel 1) Nabopolasar

600 SM

25 th

Lulus dari perguruan tinggi istana sebagai siswa terbaik. (Daniel 1) Nebukadnezar

( di awal pemerintahannya )

590 SM

35 th

Penafsir mimpi raja yang terbaik (Daniel 2) Nebukadnezar (mulai mereguk berbagai kemenangan dlm peperangan)

580 SM

45 th

Kepala orang bijaksana di Babel

(Daniel 3)

Nebukadnezar

(mulai membangun kembali kota Babel)

570 SM

55 th

Penafsir dan penasihat raja yang terbaik

(Daniel 4)

Nebukadnezar

(Di puncak kejayaannya)

560 SM

65 th

Saksi akan penggenapan nubuatan Tuhan Nebukadnezar

(Dihukum, dipulihkan untuk sesaat, lalu mati)

550 SM

75 th

Tidak dilibatkan dalam pemerintahan, tetapi lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga mendapatkan berbagai mimpi dan penglihatan tentang kedaulatan Allah atas kerajaan-kerajaan di bumi (Dan 7-8) Evil Merodakh

Neriglissar

Labashi Marduk

Nabonidus

(silih berganti berebut takhta kerajaan Babelonia)

Belsazar

540 SM

85 th

  • Menafsirkan penglihatan dan menubuatkan penghukuman Tuhan (Daniel 5)
  • Menjadi pejabat tinggi untuk wilayah Babelonia (Daniel 6)
Belsazar

(Takhta dan kerajaan Babelonia ditaklukkan oleh raja Media-Persia)

Darius

(sebagai gubernur Babelonia)

530 SM

95 th

  • Menjadi pendoa syafaat bagi pembaharuan dan pemulihan bangsa Israel (Daniel 9)
  • Mendapatkan wahyu dari Tuhan tentang masa depan dunia, masa depan bangsa Israel, bahkan tentang datangnya kerajaan Allah di bumi dan tentang akhir zaman (Daniel 10-12)
Koresy

(kaisar Media-Persia yang digerakkan Tuhan untuk menggenapi nubuat kepulangan bangsa Israel ke Yerusalem Bnd Ezr 1)

Dari sejak muda dan belum memiliki apa-apa sampai sekarang usianya sudah sangat lanjut dengan segala sesuatu praktis telah dia miliki sebagai pejabat tertinggi, Daniel tetap mencari Tuhan dengan segenap hatinya. Selama lebih dari tiga minggu, “makanan sedap” tidak disentuhnya, daging dan anggur tidak dicicipinya, air mandi pun tidak mengenai tubuhnya (ay 2-3).”

Saudara-saudariku, camkanlah: jika kita hanya mencari berkat, kita mudah melupakan Tuhan. Sebaliknya, jika kita tekun mencari Tuhan, Dia tidak pernah lupa melimpahkan berkat-Nya. Daniel mengingatkan kembali rumus yang sangat simple tapi penting dan berhasil guna: Pray More, Achieve More! Sesuai dengan teladan Daniel, baiklah kita mengembangkan kehidupan yand ditandai dengan kenyataan penting: Semakin bertambah usia kita, semakin banyak kita berdoa, sehingga semakin banyak pencapaian yang memuliakan Tuhan dan memberkati banyak orang.

Janganlah kita hidup dengan PARADIGMA TERBALIK: mudah sekali berpuas diri dengan pencapaian sekecil apapun, tetapi sulit sekali mencukupkan diri dengan penghasilan sebesar apa pun. Baiklah kita hidup dengan PARADIGMA TERBAIK: tidak pernah berpuas diri dengan pencapaian sebesar apapun, tetapi mampu mencukupkan diri dengan penghasilan berapa pun juga. Dengan demikian, Tuhan yang tidak terbatas dapat terus memakai kita semakin heran dan luar biasa!!

Artikel oleh: October 23, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Umum  Sebarkan 

5 Komentar

  1. Heri widagdo - October 26, 2009

    Pertama tks tuk artikelnya yg sgt jadi berkat, luar biasa memang teladan kehidupan persekutuan daniel dg Tuhan; ada 1 hal yg menurut saya belum dicatat dlm artikel adalah bhw ketika daniel mencapai keberhasilan iia juga dengan rendah hati menolong temen2nya berhasil.

  2. Hengly Kasenda - November 1, 2009

    Artikel anda sangat indah dan membangun,lebih mengena dan memenuhi kebutuhan. Doa adalah kekuatan terbesar dalam dunia ini. Banyak pemimpin rohani mengetahui dan menyadari dan mengajarkan kebenaran ini, tetapi sayang, tidak dilakukan dengan konsisten seperti Daniel.Terima kasih. Aku seungguh diberkati !

  3. Antonius Mulyanto - November 11, 2009

    Trims untuk dorongannya Mas Herry dan Pak Hengly. Khusus untuk mas Herry, di artikel sebelumnya, PRay More Achieve More (I) saya ada mengulas tentang salah satu karakter unggul Daniel, yaitu: Setia Kawan. Kalau ada ksempatan boleh dibaca. GBU.

  4. Keliek Andreas - November 19, 2009

    Yang dikasihi Tuhan
    Bapak Mulyanto

    sungguh artikel yg membangun karakter, bukan saja secara pribadi tetapi memberkati keluarga
    mohon ijin Bapak untuk menjadikan artikel ini sebagai referensi bahan khotbah saya.
    Tuhan memberkati Pelayanan Bapak Mulyanto

    keliek

  5. Antonius Mulyanto - November 25, 2009

    Pak Keliek, terima kasih untuk dorongannya. Bapak juga dapat menggunakan tulisan-tulisan saya sebagai referensi khotbahnya. Tuhan memberkati kita semua.

Tulis Komentar Anda