Seorang Gembala Sidang (16)

a-19

Eforia Jemaat

Kerendahan hati juga menghadapi ujian terberatnya ketika seorang Gembala Sidang melihat jemaat yang dilayaninya terkena eforia tertentu dan menyukai pengkotbah yang anda undang datang ke gereja anda. Di satu sisi anda merasa para hamba Tuhan itu telah menjadi berkat. Tetapi di sisi lain, anda merasa kurang dihormati oleh anak-anak yang agak nakal. Anda sulit menyampaikan kepada mereka bahwa sejelek-jeleknya orang tua sendiri, tetaplah orang tua mereka. Demikian sebaliknya sejelek-jeleknya mereka, tokh mereka tetap anak-anak rohani kita juga. Pengertian sederhana ini seringkali dilupakan. Terutama pada kondisi di mana krisis pribadi sedang menerpa anda, maka hal-hal seperti ini yang umumnya bisa ditanggulangi dengan pengertian, menjadi sangat sensitif untuk anda.

Ini adalah ujian kerendahan hati. Anda mungkin telah menjadikan gereja anda “terkunci” sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya “kesalahan” seperti ini. Caranya adalah dengan menentukan siapa-siapa yang akan berkotbah dalam gereja anda. Tetapi anda tak bisa menjamin bahwa pengalaman ini tidak akan datang. Suatu kali pintu yang terkunci rapat itu akan terbuka. Anda harus menghadapinya! Bagaimana? Sebab semua ini adalah soal harga diri bukan? Ya soal harga diri! Dan terutama kesetiaan yang kita tunjukkan, ternyata dinilai tak lebih dari kebutuhan sesaat yang bisa segera dilupakan. Tetapi ingatlah, bahwa harga diri anda sudah terjual di kaki salib Tuhan ketika anda menyerahkan diri anda untuk melayaniNya sepenuhnya. Anda bersedia menjadi hamba-Nya, anda sudah tahu harga yang anda harus bayar.

Setiap gembala pernah mengalaminya. Ada yang sampai sakit-sakitan karena memendam kemarahan dan kekecewaan. Tetapi ada juga yang berhasil melewatinya dengan baik. Mereka yang gagal melewatinya, telah mengubah diri menjadi orang yang pemarah, sensitif, mudah tersinggung dan paranoid. Mereka menimbun kepahitan karena merasa terhina dan direndahkan. Merasa disandingkan secara tidak adil. Mereka kemudian berubah menjadi sangat kritis, berbicara pahit, menyendiri, kotbah mereka cenderung menyerang orang lain.

Tetapi mereka yang berhasil melewatinya, menjadi orang yang tenang dan berhikmat. Mereka adalah orang-orang hebat yang bijaksana dan tangguh. Mereka tak menelan pil pahit. Mereka bahkan mengolah pil pahit menjadi madu. Mereka adalah orang yang diikat dengan besi dan dilemparkan ke sungai yang dalam tetapi seperti Houdini pesulap Amerika yang terkenal itu, bisa melepaskan diri dari ikatan dan kembali kepermukaan dengan menerima pujian.

Bagaimana mereka melewatinya dengan baik? Beberapa kali saya melewatinya dengan lumayan baik. Tak seberhasil seperti beberapa orang lain yang saya kenal. Tetapi saya ingin tunjukkan beberapa langkah penting untuk anda. Langkah ini sederhana tetapi sangat bermanfaat.

Betapa pentingnya untuk membiarkan orang lain melihat anda apa adanya. Tertawakan saja eforia orang mengagumi orang lain, bukan mengagumi gembalanya. Banyak di antara mereka yang bertindak seperti itu akan kembali kepada anda seolah-olah mereka tak berbuat sesuatu yang salah sedikitpun. Ada yang benar-benar seperti tidak sadar apa yang dilakukannya. Ada juga yang sadar telah melakukan yang salah tetapi berpura-pura tak bersalah. Tidak apa, satu kali mereka akan belajar sesuatu dari Tuhan. Bukan pembalasan yang saya maksud di sini, tetapi anda harus benar-benar siap dengan apa yang bisa dilakukan orang terhadap anda.

Pada masa-masa tekanan seperti itu, masuklah ke kamarmu dan berlututlah dipinggir tempat tidurmu dengan tangan terlipat. Berdoalah demikian,

“Tuhan Yesus, Engkau mengenal hati setiap orang. Engkaulah yang paling berharga dalam hidupku, bukan mereka, bukan apapun di dalam dunia. Hanya Engkau Yesus yang paling mempesona hatiku. Berkatilah hatiku dan berikanlah cinta tak bersyarat, untuk mengasihi orang lain sekalipun itu adalah mereka yang tak kusukai. Dalam namaMu aku berdoa, Amin!”

Setelah itu tariklah nafas panjang, dan cintailah mereka sepertinya mereka adalah anak-anakmu yang tak mengerti apa-apa. Paling tidak, biarkan mereka menjadi anak-anak, dan anda harus tetap memiliki kebijaksanaan seorang bapak yang tak mereka miliki. Sebab anda tahu jika anda adalah seorang pendeta, anda kini tahu sebuah pelajaran penting. Jangan pernah menunjukkan kebodohan kita dalam hal tak bisa membedakan mana yang menjadi tugas Gembala Sidang sebuah gereja dan mana yang menjadi tugas pendeta tamu undangan. Jangan pernah mau menduduki tempat yang bukan tempatmu. Jangan juga mau disodorkan bangku temanmu jika temanmu ada di situ. Tetaplah duduki bangku tamu. Dengan itulah seseorang dihormati oleh sesama pelayan Tuhan.

Salah satu pesan penting yang bisa saya sarankan anda pegang sebagai Gembala Sidang yang berjuang berdasar nurani yang tulus adalah pastikan bahwa anda akan tidur nyenyak setiap malam. Minta hal ini kepada Tuhan. Sebab suatu kali anda mengerti bahwa dapat tidur nyenyak bagi seorang Gembala Sidang adalah suatu karunia Tuhan. Cukup banyak Gembala Sidang yang tidak dapat tidur dengan nyenyak karena menguatirkan banyak hal. Mereka meninggal muda karena tekanan, atau terlalu banyak makan, dan membiarkan kendali diri mereka lepas dari tangan mereka.

Anda sudah tahu bukan bahwa Yesus sendiri yang mengatakan bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Renungkanlah dengan sungguh-sungguh apakah kekuatiran anda dapat menambahkan setengah meter pada jalan hidup anda? Tidak akan! Memperpendek sudah pasti. Tapi memperpanjang tidak mungkin.

Saran lain yang sangat praktis yang bisa saya berikan di sini adalah setiap manusia memiliki batas menyukai sesuatu. Manfaatkanlah kebenaran tersebut. Jika anda menyukai suatu makanan, pergilah berkali-kali sampai anda merasa bosan dan kehilangan selera. Jika anda tahu jemaat anda menyukai seorang pendeta tamu, anda merasa sedikit terganggu, undanglah beberapa kali secara sengaja, biarkan mereka sendiri yang mengatakan “Bosan!”. Itulah saat yang cukup melegakan bagi anda sebagai Gembala Sidang. Otot anda harus bertahan untuk suatu pertandingan ‘tinju’ 12 ronde. Jika anda hanya melatih diri anda di bawah 5 ronde, anda kemungkinan besar akan gagal. Strecht-out kemampuan otot rohani anda sebagai Gembala Sidang. Jangan cengeng menghadapi hidup! Ingatlah bahwa pekerjaan seorang Gembala Sidang adalah pekerjaan orang dewasa.

Bagaimana jika orang membuat pilihan meninggalkan gereja yang anda pimpin? Reaksi pertama kita adalah pertanyaan dalam hati mengapa orang melakukannya. Bukankah anda sudah menjadi sebaik yang anda bisa. Mengapa orang masih meninggalkan gereja anda juga.

Beberapa tahun yang lalu, saya berhadapan dengan krisis diri yang membuat saya harus mencari Tuhan dengan pergumulan dan air mata. Hantaman terhadap cadas keangkuhan diri kali itu seperti hantaman palu godam raksasa. Menyakitkan dan menimbulkan kemarahan yang luar biasa. Ada perasaan dikhianati, ditinggalkan dan sedih. Tak semua orang bisa memahami pergumulan batin seorang gembala. Kebanyakan gembala, memendam kesedihan, kegusaran dan kekecewaan dalam hatinya, dengan tidak berbagi kepada orang lain. Betapa pentingnya memiliki beberapa teman yang sehati dan mampu menjadi tempat mencurahkan isi hatinya. Saya belajar sesuatu, bahwa yang paling setia dalam hidup ini selain Tuhan adalah diri kita sendiri dan keluarga kita. Sedangkan yang lainnya, anda harus siap menemukan persahabatn jenis apapun akan punya sifat terbatasnya. Ini bukan sifat putus asa. Ini hanya menyadarkan bahwa hidup seorang gembalapun harus realistik.

Sekali lagi tentang mereka yang meninggalkan gereja anda, tentu saja jika anda memiliki anggota gereja lebih dari 1000 orang, anda sudah mengubah style kepemimpinan anda, dan bukan merupakan beban jika anda kehilangan beberapanya. Anda hanya cukup mengatakan seperti yang dikatakan Rick Warren, DNA-nya tidak cocok dalam gereja ini. Tetapi jika ukuran jumlah anggota gereja anda kurang dari 100 orang, kehilangan beberapa orang pastilah cukup menyolok. Dan ini banyak menimpa para hamba Tuhan.

Hal seperti ini jarang terjadi di tahun 1970-an. Tetapi seiring dengan kebebasan dan hak asasi manusia, perubahan jaman dan trend masyarakat modern memasuki era postmodernisme, anda tahu bahwa orang “memiliki” hak untuk memilih di mana mereka cocok berbakti. Anda tak perlu mengancam mereka jika mereka memutuskan untuk pindah. Anda juga akan sia-sia saja kalau mengecam mereka dan menyuruh anggota lainnya untuk memusuhi mereka, karena mereka akan tetap pergi. Sudahlah, relakan mereka seperti nasehat anda pada keluarga yang mengalami kedukaan. Tak usah terlalu dalam disesali. Anda hanya cukup meyakinkan bahwa paling tidak kepergian mereka dari gereja anda telah membawa hikmah.

Memang benar bahwa tak jarang seorang Gembala Sidang ingin melakukan “mental and spiritual suicide” (bunuh diri mental dan rohani). Dengarlah batin anda waktu batinmu berkata, “Ambillah aku sekarang Tuhan!”. Saat-saat itu adalah saat ketika anda sangat tidak suka ditemani oleh siapapun termasuk istri atau suami anda. Dunia serasa hanya tinggal anda dan Tuhan. Memang benar, hanya tinggal anda dan Tuhan. Anda harus masuk kedalam lingkaran selebar tangan Tuhan untuk merangkul. Sejauh pengalaman anda menyeret anda ke tempat yang anda tak kehendaki, jika anda sudah ada dalam lingkaran rangkulan tangan-Nya, diujung sana anda bisa rasakan tepian jemari kedua tangan Tuhan yang menjadi satu.

Mungkin anda tidak menyadari bahwa berbagai kecelakaan transportasi di Indonesia disebabkan terutama oleh “unsafe act” atau tindakan orang yang salah yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Demikian juga dalam pelayanan dalam gereja berlaku hal yang sama. Sebagai Gembala Sidang, bagaimana cara kita menanggapi masalah yang terjadi akan menentukan apakah kecelakaan bakal terjadi atau menimpa diri kita sendiri atau bahkan seluruh gereja.

Ijinkan orang memutuskan bagi diri mereka sendiri. Mereka pindah gereja mungkin disebabkan banyak faktor yang tak terkait dengan anda. Tetapi, sekalipun ada kaitannya dengan anda ambillah hikmahnya dan lakukan sesuatu yang sifatnya mengubah diri anda. Jika proaktif tidak memungkinkan, reaktifpun tak ada salahnya.

Jangan serahkan diri anda pada harapan banyak orang. Pilihlah untuk menyerah pada harapan Tuhan tentang anda. Kenali prinsip-prinsip yang Ia inginkan anda pegang. Prinsip adalah alat yang dingin dan tak terkait perasaan. Ia menggerakkan kehendak anda tanpa memperdulikan apa yang akan anda rasa. Sehingga jika anda melakukannya, prinsip selalu mengabaikan efek yang akan diakibatkan. Prinsip akan sering menyelamatkan anda dari kebimbangan dalam mengambil keputusan.

Anda tak perlu arogan dalam menerapkan prinsip. Anda hanya perlu menjalankan sesuatu dan tetap mengasihi. Maka anda akan dikenal sebagai seorang gembala yang bermental baja dan berhati sutra.

Yang penting anda sudah melalukan yang terbaik itu adalah prinsip. Sehingga kalau kemudian orang tetap memilih untuk pindah gereja atas alasan apapun, anda harus bisa menerima pilihannnya. Selebihnya anda harus serahkan kepada Tuhan.

Yang penting keputusan anda adalah bagi kepentingan dan kebaikan banyak orang yang anda layani. Walaupun tidak disukai oleh sekelompok orang, maka anda hanya perlu berdiam diri. Ingatlah bahwa anda tak mungkin menyenangkan semua orang, memuaskan semua orang. Keputusan yang anda buat, tindakan yang anda buat adalah untuk menghindarkan gereja dari premanisme dalam gereja, ketidak adilan orang terhadap orang lainnya, keangkuhan orang yang lebih lama di dalam Tuhan teradap jiwa-jiwa baru dan sebagainya, anda harus berani melakukannya.

(bersambung …)

Artikel oleh: September 14, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

2 Komentar

  1. Tania - September 16, 2009

    Hi,
    Ugh, I liked! So clear and positively.
    Tania

  2. Yolanda Anggi szoplanit - March 22, 2010

    Hi,,
    I LiKed

Tulis Komentar Anda