Bolehkah Seorang Hamba Tuhan Belajar Hipnotis?

a-167

Jika anda melihat bagaimana Romy Raphael, Yan Nurindra, dsb. anda mungkin tertarik. Dalam bayangan anda, mungkin orang-orang tertentu yang melayani Tuhan telah ‘menggunakan’ sejenis hipnotis sehingga kelihatannya mereka lebih ‘laku’ dalam pelayanan. Anda mungkin menduga bahwa ‘jatuh dalam kuasa Tuhan’, ‘kesembuhan di atas panggung’,  ‘tertawa dalam roh’, atau ‘kepenuhan Roh Kudus’ adalah sejenis hipnotis. Beberapanya mungkin benar begitu, tetapi tidak semua begitu. Saya tidak akan menyebut nama, tetapi para ahli hipnotis dapat tertawa kalau melihat beberapa jenis praktek hamba Tuhan dalam pelayanan. Mereka dengan mudah mengidentifikasi bahwa seorang hamba Tuhan ‘diduga’ menggunakan sejenis hipnotis.

Saya kutip pengakuan seseorang yang mempelajari hipnotis di sebuah web milik gereja tertentu :

“Kebetulan saya certified hypnotherapist dan instruktur hypnoterahapist, dan saya juga anak Tuhan namun saya tidak melihat kejanggalan apapun dalam prosedural hypnotist ini, bahkan peserta kamipun banyak yang pendeta kok. Mereka belajar bagaimana mensugesti dan menaruh pesan di pikiran bawah sadar seseorang supaya Firman Tuhan yang diajarkan bisa dilakukan bukan cuma lewat kuping kiri keluar kuping kanan. Seluruh hidup kita 80% digerakkan oleh pikiran bawah sadar, misalnya sambil menyetir bisa main HP tapi tidak nabrak, nonton sinetron bisa sambil nangis, dan lainnya. Jadi tidak ada sama sekali yang bertentangan dengan ajaran agama kok, mungkin pandangan orang saja tentang hypnotist yang masih mistis banget…”

Adanya segelintir ‘hamba Tuhan’ yang menggunakan hipnotisme dalam pelayanan tidak boleh membuat kita menafikkan pekerjaan Roh Kudus, atau mencurigai berlebihan apa yang dapat terjadi pada sebuah KKR atau pelayanan. Tidak semua terjadi dengan rekayasa. Jika pekerjaan Roh Kudus mengandung prinsip-prinsip hipnotis yang dapat direproduksi, atau diusahakan untuk ‘membantu memperkuat Roh Kudus dan pekerjaan-Nya’ maka satu saja yang tidak mungkin dimengerti yaitu apakah Allah mau menerima pertobatan yang tidak lahir dari kesadaran sendiri tentang dosa?

a-168

Hipnotis sebagaimana anda lihat di televisi dan hipnotis yang dipelajari oleh dokter ahli jiwa sangat berbeda penggunaannya. Hipnotis adalah kemampuan untuk mengendalikan pikiran seseorang untuk sebuah tujuan tertentu. Hipnotis yang dipakai untuk mengobati disebut hipnoterapi. Misalnya mengubah kesukaan seorang dari merokok menjadi tidak merokok, dsb.

Semuanya berangkat dari kenyataan bahwa alam bawah sadar manusia memiliki ‘storage’ yang dapat dibangkitkan, dibersihkan dan dikendalikan, serta diubah. Hipnotis atau mengendalikan pikiran orang, yang anda lihat di televisi adalah contoh kerawanan yang bisa timbul karena mengendalikan pikiran orang adalah perbuatan yang tidak beda dengan menguasai seseorang. Dalam ilmu kdokteran hipnotis hanya boleh digunakan dengan persetujuan orang yang akan dihipnotis. Tujuannya juga hanya terbatas dan bukan untuk tujuan ‘entertainment.’

Itu sebabnya hipnotis tidak seharusnya menjadi alat entertainment apalagi kejahatan.

Seorang hamba Tuhan sebaiknya tidak menggunakan hipnotis dalam pelayanannya, tidak mencobanya dan tidak mempelajarinya untuk tujuan praktek. Hipnotis saat ini sangat mudah dipelajari. Dengan 15 menit kemampuan anda menghipnotis orang akan dapat dipraktekkan.

Tetapi, sekali prinsip itu melekat dalam diri seseorang, sangat sulit melepaskan diri dari praktek hipnotis. Hipnotis adalah cara cepat mengubah orang, situasi dsb. Hipnotis dapat menjadi alat Iblis di tangan mereka yang didorong oleh ketidak taatan, keinginan dan hawa nafsunya untuk populer, menguasai orang, dan kekayaan. Hipnotis hanya layak dipakai dalam dunia kedokteran dengan pengawasan ketat dan persetujuan cerdas orang yang akan dihipnotis.

Bagaimana membedakannya? Kecuali dengan karunia membedakan roh oleh seorang hamba Tuhan yang sunguh-sungguh, maka tidak mudah membedakan apakah sesuatu dihasilkan dari hipnotis atau tidak. Tetapi barangkali jika unsur ‘entertainment’ dan ‘mempesona’ lebih kuat daripada ‘perubahan’nya, maka anda dapat menduganya bahwa unsur hipnotis dicampur di situ. Roh Kudus tidak pernah bekerja dalam diri seseorang dengan maksud mempermainkan orang atau tidak membawa kepada pertobatan pikiran, jiwa dan hati. Roh Kudus memberikan kepekaaan tetapi Ia tidak pernah menyerahkan ‘penguasaan atas orang’ kepada tangan manusia.

Kiranya Tuhan memberkati!

Artikel oleh: September 11, 2009  Tags:   Kategori : Artikel  Sebarkan 

Satu komentar

  1. Lex dePraxis - October 26, 2009

    Hmmm, sepertinya Anda mengambil kesimpulan terlalu sempit dan cepat. Apakah Anda pernah melihat sendiri proses hipnosis yang sebenarnya, bukan apa yang ada dalam TV?

Tulis Komentar Anda