Seorang Gembala Sidang (2)

a-15

Saya juga tak menyangkal bahwa beberapa orang yang seharusnya sudah mencapai tahap tinggi sebagai seorang pemimpin baik di organisasi atau di gereja lokal ternyata gagal dan akhirnya ia mengakhiri pelayanannya sebagai orang yang tersisih, penuh kepahitan, kehancuran keluarga dan pribadi, atau jatuh karena berbagai jenis dosa. Salah satu teman saya selama di seminari di Filipina telah mengakhiri hidupnya dengan kecelakaan yang disengaja hanya karena kesulitan ekonomi dalam pelayanan di negerinya sendiri. Tragis memang jika ada seorang pemberi kekuatan kepada orang lain, mesti kehabisan kekuatan lalu mengakhiri hidupnya sendiri. Hal itu tidak seharusnya terjadi! Tetapi di sisi lain hal itu juga menunjukkan bahwa seorang Gembala Sidang adalah manusia biasa seperti orang lain.

Tidak jarang juga bahwa kemunduran kepercayaan jemaat kepada seorang Gembala Sidang, menjadi permulaan dari kehancuran pelayanan yang berlangsung secara sistematis. Ia harus menyaksikan kehilangan orang satu demi satu meninggalkannya. Ini bukan akhir pelayanan yang baik. Jadi saya hanya memberi suatu dorongan agar kita memasuki dan menjalankan pelayanan sebagai Gembala Sidang dengan dengan serius dan sungguh-sungguh. Penggembalaan adalah pekerjaan yang menantang tetapi dengan kepuasan yang sangat tinggi. Ia menyaksikan hal-hal yang ajaib dimana orang-orang yang dulu tanpa harapan kemudian menjadi orang yang mengubahkan orang lain, dari orang yang sederhana melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dsb. Itulah sukacita terbesarnya.

Seorang Gembala Sidang tak bisa menghindari akibat langsung yang ditimbulkan oleh kemajuan maupun kemunduran pelayanannya sendiri. Seperti buah Simalakama jika ditelan bisa berakibat tertentu, jika tidak ditelan juga bisa berakibat lainnya, maju kena, mundur juga kena. Kemajuan pelayanan membawa efek yang kelihatan positif tapi sering menjadi jebakan perubahan life-style-nya. Ia dapat tergoda untuk menyejajarkan dirinya dengan para selebritis rohani dan memulai langkah kemundurannya sendiri.

Sedangkan di sisi lain, kemunduran pelayanan juga menyediakan jejak tapak-tapak mengerikan yang sering sangat menakutkan untuk dilalui oleh seorang Gembala Sidang maupun keluarganya. Saya sering berpikir bahwa jika saja para Gembala Sidang memiliki kepekaan kapan ia memimpin, kapan ia menyerahkan estafet kepemimpinannya, maka banyak kerusakan bisa dihindari. Tetapi karena manusia pada dasarnya egois, ia ingin lebih lama berada di tempat yang seharusnya ia sudah serahkan kepada orang lain maka ia segera menjalani jalan penuh bahaya dan menyesakkan. Ini bukan tantangan kemajuan lagi, ini adalah buah dari kekesalan hati Tuhan karena kita tidak peka.

Apakah gambaran pelayanan Gembala Sidang begitu suran sehingga sampai pada halaman ini saya kelihatan belum mampu menampilkan sisi positif dan menyenangkan dari pelayanan ini? Oh Bukan! Saya menyimpannya menunggu saat paling baik untuk mengungkapkan kepada anda bahwa pelayanan menjadi Gembala Sidang adalah pelayanan yang melebihi apapun. Bukan hanya dari nilainya saja, tetapi dari keunikan dan keindahannya.

Sebelum saya mengalir lebih jauh, saya sangat ingin agar anda membaca sebuah sajak yang saya tulis di tengah gelapnya malam. Ketika pikiran dan hati menyatu dengan jari jemari menuliskan tentang perjalanan diri sendiri. Dalamilah sajak ini dan mintalah pengertian bagi goresan tulisan tersebut. Saya menuliskannya dengan sepenuh hati dan kedalaman pengertian saya tentang seorang Gembala Sidang. saya adalah gambaran dalam sajak tersebut. Tetapi mungkin kita memiliki banyak kesamaan.

Seorang Gembala Sidang

“Anda tak bisa mengembalikannya, ia sudah melesat bagai anak panah meninggalkan busur

Tak ada jejak untuk kembali, yang ada hanya bentangan hutan untuk dilalui. Jalan hutannya adalah jalan sekali tanpa jejak untuk kembali. Kekayaannya bukanlah jejak yang telah dibuatnya, melainkan penemuan baru dan rekaman pikiran bersahaja tentang gagal dan menang.

Seorang gembala tak memiliki lautan, ia hanya dianugerahi sungai. Alurnyapun ditentukan oleh Sang Pencipta. Ia tak menguasai kedigdayaan samudera luas, sebab alamnya membutuhkan sembilan nyawa manusia. Tetapi pengertiannya pada setiap lekuk aliran air tak bisa dimiliki oleh seorang raja sekalipun.

Gembala adalah musuh dari kemiskinan akan kerendahan hati dan kawan kebaikan. Hatinya adalah magma cair di inti bumi. Lunaknya bukanlah kemauannya tetapi lingkungannya. Ia memburu bayangannya sendiri, mencela kesalahannya sendiri, dan mebunuh hasrat dirinya, asalkan burung dan langit tetap bahagia.

Ia memberikan nafas bagi babi dan anjing hutan, dan dihukum Tuhan jika tak bermandikan lumpur dan makan daging mentah. Kesialannya adalah kelahirannya di tangan leluhur keselamatan, memilih hari mendapat tahun. Mencium tanah tertindih batu, meminta hujan terbenam air, menangis sekejab meratap kekal.

Matahari sekalipun, tak seindah seorang gembala. Kawanan bintang, tak menghibur seperti kawanan domba. Mata serigala bagaikan embun, gigi domba bagaikan duri. Pagutan ular adalah belaian, bulu singa adalah kebohongan

Langit menurunkan hujan menurut jadwal angin dan matahari. Tak ada sinar tanpa kegelapan. Gembala adalah harga mati bagi kemashyuran. Telanlah bulan, lahirkanlah bintang. Hitunglah punggung gunung, seperti menghitung jari Tuhan. Tak ada pekerjaan, seindah menjadi gembala.

Ya Tuhan, bunuhlah impianku jika mulai menjilat manisnya pekerjaan lain!”

(Bersambung …)

Artikel oleh: August 24, 2009  Tags:   Kategori : Artikel, Artikel Gembala Sidang  Sebarkan 

Tulis Komentar Anda