APAKAH PUJIAN KITA MEMBANGUN KARAKTER?

 a-113

by Lina Bustami

Karin masuk kelas sekolah minggunya sambil tersenyum.  Seperti yang diduganya, guru sekolah minggunya menyapanya dengan riang, “Cantik sekali kamu hari ini, Karin!”  Karin memang cantik.  Kulitnya putih, matanya bulat jernih, giginya putih dan rapi, rambutnya tebal sehat.  Sejak kecil dia sudah sering mendengar pujian seperti itu, dari banyak orang, dan setiap kali itu membuatnya gembira. Dia bahkan akan kecewa bila tidak ada yang memujinya.

 

“ Kamu cantik sekali!”    “Kamu pandai sekali!”    “Bajumu bagus sekali!”

 

Sekilas, apa yang salah dengan pujian-pujian seperti itu?  Hanya satu.  Pujian semacam ini tidak membangun, baik bagi anak yang dipuji maupun bagi anak lain yang mendengarnya.  Ketika Karin tersenyum gembira mendengar pujian tentang kecantikannya, Anna tertunduk lesu.  Bila Karin adalah angsa rupawan, maka dia adalah bebek buruk rupa.  Seingatnya tidak pernah ada orang yang memujinya.  Ketika Andi tersenyum mendengar pujian tentang kecerdasannya, Iwan tertunduk lesu.  Biarpun dia sudah belajar keras berminggu-minggu sebelum ulangan umum tiba, tidak pernah nilainya beranjak dari angka 7. Tuhan tahu dia sudah berusaha.  Ketika Susan tersipu mendengar pujian tentang gaun barunya yang indah, Ani memandang kaus lusuhnya.  Ingin sekali dia memiliki baju seindah Susan.  Dan apa hasil pujian itu bagi Karin, bagi Iwan, bagi Susan selain membuat keakuannya semakin besar.  Mereka mendapatkan pujian untuk sesuatu yang sama sekali tidak mereka usahakan.

 

Jadi apa yang harus Anda lakukan supaya pujian Anda membangun?  Sederhana sekali.  Jangan memuji siapapun untuk sesuatu yang tidak mereka upayakan.   Jangan memuji seseorang karena kecantikan mereka.  Atau kecerdasan mereka.  Atau baju yang mereka kenakan.  Pujilah mereka untuk kualitas karakter yang mereka tunjukkan.  Lebih baik lagi bila Anda juga mengatakan bagaimana hal itu telah mendorong atau menolong Anda dan orang lain.

 

“Karin, tadi ibu lihat kamu mengambilkan Oma minum tanpa ada yang menyuruh.  Ibu bangga sekali kamu menunjukkan inisiatif seperti itu.”

“Andi, Ayah bangga melihatmu tekun belajar sepanjang minggu ini.  Ketekunanmu mendorong adikmu untuk rajin belajar.  Teruslah seperti ini.”

“Susan, sikapmu yang penuh perhatian ketika mendengarkan kakak bercerita menolong teman-temanmu untuk juga memperhatikan. Terima kasih.”

“Anna, terima kasih kamu sabar menunggu giliranmu.  Karena kamu menunjukkan kesabaran, teman-temanmu semua ikut antri.  Teladanmu membuat acara hari ini berjalan sangat baik.”

 

Semua anak senang dipuji.  Anak-anak yang mendengarkan pujian semacam ini akan terdorong untuk melakukan hal yang sama karena mereka tahu mereka dapat melakukannya.  Hal yang mendatangkan pujian tidak berada di luar jangkauan mereka.   Semua anak senang dipuji.  Marilah kita mulai memuji untuk membangun.

Artikel oleh: July 13, 2009  Tags:   Kategori : Umum  Sebarkan 

Satu komentar

  1. wiwik tedjobudiono - September 14, 2009

    tolong dong website dsmn dimasukkan di Departemen Sekolah Minggu nasional, masak klik dsmn isinya bukan dari dsmn…..sorry..

Tulis Komentar Anda