TITHES & CLERGY SALARIES (Persepuluhan & Gaji Pendeta)
(Artikel ini kelihatannya menjadi pandangan GBKP. Walaupun kita tidak sependapat tetapi anda perlu merenungkan beberapa poin yang dikutip di sini. Tuhan memberkati!)

Bagian dari kitab Maleakhi tersebut menjadi teks favorit bagi banyak pendeta, khususnya ketika persembahan dan pemberian di gereja berkurang. Jika kita punya waktu untuk memperhatikan gereja modern maka kita akan mendengar bagian dari kitab Maleakhi tadi sering “bergemuruh” dari mimbar. Pertimbangkan retorika yang sering kita dengar ini: “Allah memerintahkanmu membayar perpuluhan dengan setia. Jika kamu tidak memberi perpuluhan maka kamu sedang merampok Allah dan menempatkanmu di bawah kutuk. Akankah kita ulangi bersama mengucapkan “doktrin perpuluhan?” Perpuluhan milik Tuhan. Di dalam kebenaran kita pelajari, di dalam iman kita percaya, dan di dalam sukacita kita memberikannya. Perpuluhan! Dan persembahanmu diperlukan jika pekerjaan Tuhan ingin jalan terus (“pekerjaan Tuhan di sini tentu artinya adalah gaji staf kependetaan dan pembayaran listrik bulanan gedung gereja”).
Apa akibat dari tekanan ini? Umat Tuhan merasa bersalah jika tidak memberikannya. Ketika mereka melakukannya mereka merasa membuat Tuhan senang lalu mereka dapat mengharapkan Dia untuk memberkati secara finansial. Ketika mereka gagal akan merasa jadi tidak taat dan kutuk finansial membayangi mereka. Tetapi marilah kita mundur ke belakang dan bertanya: “Apakah Alkitab mengajarkan kita tentang perpuluhan? Dan …. Apakah kita diwajibkan secara rohani untuk mendanai pendeta dan stafnya?” jawaban dari dua pertanyaan itu mengejutkan (jika Anda seorang pendeta, ini menarik perhatian, maka Anda mungkin akan mencabut hatimu dan mengobatinya sekarang).
Apakah perpuluhan alkitabiah?
Perpuluhan muncul di dalam Alkitab. Maka, ya, perpuluhan adalah alkitabiah. Tetapi ini bukanlah kekristenan. Perpuluhan adalah milik bangsa Israel kuno. Ini secara esensial merupakan pajak pendapatan mereka. Anda tidak pernah menemukan perpuluhan oleh kekristenan abad I dalam Perjanjian Baru.
Banyak orang Kristen tidak memiliki ide tentang apa yang Alkitab ajarkan mengenai perpuluhan maka marilah kita melihat hal tersebut. Kata “perpuluhan” secara sederhana artinya sepersepuluh bagian. Tuhan mengenalkan tiga macam perpuluhan bagi Israel sebagai bagian dari sistem perpajakan mereka yaitu :
- Perpuluhan hasil dari tanah untuk men-support orang-orang Lewi yang tidak memiliki warisan di Kanaan.
- Perpuluhan dari hasil tanah untuk mensponsori festival-festival keagamaan di Yerusalem. Jika hasil tanah pertanian tersebut sangat berat untuk dijinjing ke Yerusalem maka mereka dapat merubahnya menjadi uang.
- Perpuluhan dari hasil tanah yang dikumpulkan setiap tiga tahun untuk orang- orang Lewi lokal, yatim piatu, orang asing dan janda-janda.
Ini adalah perpuluhan alkitabiah. Memperhatikan bahwa Allah memerintahkan Israel untuk memberikan 23,3% dari pendapatan mereka tiap tahun maka sepertinya bertentangan dengan pemberian10% (20% per tahun dan 10% setiap tiga tahun = 23,3% per tahun…Allah telah memerintahkan 3 macam perpuluhan … Nehemia 12: 44, Maleakhi 3:8-12, Ibrani 7:5).
Perpuluhan itu dari hasil tanah yaitu benih, buah atau hewan ternak. Itu adalah hasil tanah bukan uang. Sebuah pararel yang jelas dapat dilihat antara sistem perpuluhan Israel dan sistem perpajakan modern yang sekarang ada di Amerika. Israel diwajibkan untuk mendukung pekerja-pekerja nasional mereka (imam-imam), hari-hari suci mereka (festival-festival), dan orang-orang miskin di tempat mereka (orang asing, janda dan yatim piatu) dengan perpuluhan tahunan mereka. Kebanyakan sistem-sistem pajak modern memiliki tujuan yang sama dengan itu.
Bersama kematian Yesus, semua upacara dan simbol-simbol agama yang dimiliki orang Yahudi telah dipakukan pada salib-Nya dan dikuburkan … tidak pernah muncul lagi untuk menghukum kita. Dengan alasan ini kita tidak pernah melihat orang-orang Kristen memberikan perpuluhan di dalam Perjanjian Baru. Tidak pernah kita melihat mereka mempersembahkan kambing domba untuk menutupi dosa-dosa mereka. Paulus menulis, “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka. Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari sabat; semuanya itu hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” Kolose 2:13-17
Perpuluhan dimiliki secara eksklusif oleh Israel di bawah hukum Taurat. Soal pengelolaan keuangan, kita melihat orang-orang kudus abad pertama memberi dengan gembira sesuai kemampuan mereka bukan tanggung jawab yang keluar dari sebuah perintah (ini jelas tertulis di 2 Korintus 8:3-13, 9:5-12. Paulus menulis tentang pemberian: Beri sesuai kemampuan dan kekayaan). Pemberian di gereja mula-mula adalah sukarela dan yang diuntungkan dari pemberian tersebut adalah orang miskin, yatim piatu, orang sakit, janda-janda, orang-orang di penjara dan orang-orang asing.
Saya dapat mendengarkan sekarang ini keberatan-keberatan seperti: “Tapi bagaimana dengan Abraham? Dia hidup sebelum hukum Taurat. Dan kita melihat dia memberikan perpuluhan kepada Imam Besar Melkisedek. Apakah ini tidak terbalik dengan argumen Anda bahwa perpuluhan adalah bagian dari hukum Taurat?”. Ada tiga hal yang seperti menjelaskan hal tersebut. Pertama, perpuluhan Abraham adalah sukarela sepenuhnya. Bukan sesuatu yang diwajibkan. Allah tidak pernah memerintahkannya seperti Dia memerintahkan perpuluhan kepada Israel. Kedua, perpuluhan Abraham berasal dari jarahan yang dia peroleh dari pertempurannya. Dia tidak memberikan perpuluhan dari pendapatan rejekinya sendiri atau kekayaannya. Tindakan perpuluhan Abraham tersebut sama seperti kalau Anda memenangkan undian berhadiah, atau penerimaan sebuah bonus dari pekerjaan, lalu diberikan sepersepuluhnya. Ketiga, dan yang paling penting, perpuluhan Abraham tersebut hanya sekali terjadi di sepanjang 175 tahun hidupnya di muka bumi. Kita tidak punya bukti bahwa dia kembali melakukan hal tersebut. Konsekuensinya jika kita menggunakan Abraham sebagai sebuah pembuktian untuk argumen kita bahwa orang-orang Kristen harus memberikan perpuluhan, maka kita hanya diharuskan memberikan perpuluhan sekali saja!
Ini membawa kita kembali kepada teks yang seringkali dikutip dalam Maleakhi 3. Apakah yang Allah katakan disana? Kutipan ini menunjukkan kepada bangsa Israel kuno dimana mereka ada dibawah hukum Taurat. Saat itu umat Tuhan menahan perpuluhan dan persembahan mereka. Bayangkan apa yang akan terjadi jika sebagian besar orang Amerika menolak membayar sebagian besar pajak pendapatan mereka. Hukum Amerika memandang hal tersebut sebagai perampasan atau perampokan. Maka kesalahan tersebut akan ditindaklanjuti dengan hukuman oleh pemerintah karena pencurian tersebut. Hal yang sama, ketika Israel menahan pajak (perpuluhan mereka) maka mereka sedang mencuri dari Allah yang telah mewajibkan sistem perpuluhan tersebut. Tuhan lalu memerintahkan umat-Nya untuk membawa perpuluhan mereka ke dalam rumah perbekalan/persediaan. Rumah perbekalan/persediaan tersebut lokasinya ada dalam ruangan bait suci. Ruangan tersebut disediakan untuk menyimpan perpuluhan (yang adalah produk dan hasil- hasil pertanian, bukan uang) untuk men-support orang Lewi, orang miskin, orang asing dan para janda.
Tuhan memberi peringatan dalam Maleakhi 3:5 dengan berkata bahwa Dia akan menghukum orang yang menindas para janda, anak piatu dan orang asing. Dia berkata: “Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman Tuhan semesta alam.”
Janda-janda, anak piatu dan orang asing adalah mereka yang paling berhak menerima perpuluhan. Karena Israel menahan perpuluhan mereka maka mereka bersalah telah menindas tiga kelompok orang tersebut. Di dalam hati Allah Maleakhi 3:10 merupakan penindasan kepada orang miskin.
Berapa banyak pengkhotbah-pengkhotbah yang telah Anda dengar membukakan poin tersebut ketika mereka bicara panjang lebar tentang Maleakhi 3 tersebut? Perpuluhan memiliki tujuan untuk mendukung janda-janda, anak piatu, orang asing dan orang Lewi yang termasuk kelompok yang tidak memiliki apa-apa. Inilah pandangan firman Allah mengenai Maleakhi 3.
Asal-usul perpuluhan dan gaji pendeta
Cyprian (200-258) adalah orang Kristen pertama yang menulis tentang praktek dukungan keuangan terhadap kependetaan (clergy). Dia berargumentasi bahwa imam-imam Lewi-lah yang di dukung oleh perpuluhan, maka kependetaan Kristen akan di dukung juga oleh perpuluhan tetapi sesungguhnya ini merupakan kesalahan pemikiran. Hari ini, sistem keimamatan Lewi telah dihapus. Kita semua sekarang adalah imam maka jika seorang imam menerima perpuluhan maka orang Kristen akan memberikan perpuluhan satu sama lain. Pendapat dari Cyprian sangat luar biasa pada zaman itu dan tidak disuarakan oleh kekristenan pada umumnya sampai beberapa lama kemudian.
Selain Cyprian tidak ada penulis Kristen sebelum Constantine yang pernah menggunakan Perjanjian Lama sebagai referensi untuk menyokong pandangan perpuluhan. Hal tersebut tidak ditemukan sampai pada abad ke-empat. 300 tahun setelah Kristus, beberapa pemimpin Kristen mulai mendukung pandangan mengenai perpuluhan sebagai sebuah praktek kekristenan untuk mendukung kaum clergi (kependetaan) tetapi ini pun tidak tersebar luas di antara orang-orang Kristen sampai abad ke-delapan. Seorang terpelajar pernah berkata, “Selama 700 tahun pertama perpuluhan sukar dijelaskan”. Peta sejarah perpuluhan Kristen adalah sebuah pelajaran yang menarik. Perpuluhan telah berkembang secara perlahan dari negara kepada gereja.
Pemberian perpuluhan dari hasil-hasil pertanian yang diperoleh seseorang adalah pembayaran pinjaman yang lazim untuk tanah-tanah yang disewakan di Eropa Barat. Gereja mengembangkan kepemilikan tanahnya melintasi Eropa; sepuluh persen dari biaya sewa tanah diberikan kepada gereja. Ini telah memberikan kepada peraturan “10% ongkos sewa tanah” sebuah makna yang baru. Ini diidentifikasikan dengan perpuluhan keimamatan Lewi. Konsekuensinya, perpuluhan Kristen sebagai sebuah adat atau kebiasaan yang didasarkan atas sebuah gabungan praktek Perjanjian Lama dan institusi dunia. Pada abad ke-delapan perpuluhan diharuskan oleh hukum dan banyak tempat di Eropa Barat.
Akhir abad ke-sepuluh pembedaan perpuluhan sebagai sebuah ongkos sewa dan sebuah persyaratan moral didukung oleh Perjanjian Lama telah dihilangkan. Perpuluhan menjadi diwajibkan ke seluruh kekristenan Eropa. Sebelum abad ke-delapan perpuluhan dipraktekkan sebagai pemberian sukarela. Tetapi pada akhir abad ke-sepuluh dipindahkan ke dalam sebuah persyaratan legal untuk mendanai gereja pemerintah … diminta oleh klergi dan dikuatkan oleh otoritas sekuler! Syukurlah banyak gereja-gereja modern menghapuskan perpuluhan sebagai persyaratan legal. Tetapi praktek perpuluhan hari ini tetap saja sebanyak ketika hal tersebut mengikat secara legal di masa yang lalu. Tentu Anda tidak akan dihukum secara fisik jika gagal memberi perpuluhan. Tetapi jika engkau bukan seorang pemberi perpuluhan maka di banyak gereja-gereja modern Anda akan disingkirkan dari posisi pelayanan. Dan Anda akan selamanya dipersalahkan dari mimbar.
Selama tiga abad pertama, pelayan-pelayan Tuhan tidak menerima gaji tetapi ketika Constantine muncul, dia mewajibkan praktek pembayaran gaji tetap kepada kependetaan dari dana-dana gereja dan pemerintahan serta kekayaan kerajaan. Jadi lahirlah gaji kependetaan, sebuah praktek berbahaya yang tidak mempunyai akar dalam Perjanjian Baru.
Akar dari segala kejahatan
Jika seorang pemercaya berharap memberikan perpuluhan karena keputusan atau keyakinan pribadi, itu lebih baik. Perpuluhan menjadi sebuah masalah ketika dikatakan sebagai perintah Allah yang mengikat setiap orang percaya.
Perintah perpuluhan sama dengan penindasan terhadap orang miskin. Tidak sedikit orang-orang Kristen yang miskin yang merasa jatuh kepada kemiskinan lebih parah lagi sebab mereka telah mengatakan bahwa jika mereka tidak memberikan perpuluhan, mereka sedang mencuri milik Allah. Ketika perpuluhan dikatakan sebagai perintah Tuhan, orang-orang Kristen yang tidak dapat memenuhi perintah tersebut akan merasa bersalah dan jatuh ke dalam kemiskinan lebih dalam lagi. Ini menyebabkan perpuluhan telah menjauhkan Injil untuk menjadi “berita baik untuk orang miskin”. Bukannya menjadi berita baik malahan menjadi beban berat. Bukannya kemerdekaan, hal tersebut malah menjadi penindasan. Kita cenderung melupakan bahwa perpuluhan yang asli yang ditetapkan Allah untuk orang Israel sebenarnya untuk mendatangkan keuntungan untuk orang Israel, bukannya untuk melukai mereka.
Sebaliknya, perpuluhan modern adalah berita baik untuk orang kaya. Bagi seseorang yang berpenghasilan tinggi, 10% adalah jumlah yang sedikit. Pemberian perpuluhan akan menenangkan hati orang kaya dan hal tersebut tidak akan mempengaruhi gaya hidup mereka. Tidak sedikit orang Kristen yang makmur diperdaya kepada pemikiran bahwa mereka “sedang taat kepada Allah” sebab mereka melemparkan 10% saja dari pendapatan mereka ke dalam kantong persembahan. Tetapi Allah memiliki pandangan yang berbeda tentang persembahan. Dalam perumpamaan janda yang miskin, dalam Lukas 21:1-4 dikatakan: Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan 2 peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”
Sungguh menyedihkan, perpuluhan sering ditampilkan sebagai sebuah kertas lakmus penguji bagi kepemimpinan. Jika Anda adalah seorang Kristen yang baik, Anda akan memberikan perpuluhan. Tetapi ini adalah sebuah penerapan yang palsu. Perpuluhan bukan tanda dari penyembahan Kristen. Jika perpuluhan adalah tanda kekristenan, seluruh orang Kristen pada abad pertama akan dihukum karena tidak taat.
Akar lama dibalik penekanan perpuluhan dalam gereja modern adalah gaji kependetaan. Tidak sedikit gembala-gembala merasa bahwa mereka harus mengkhotbahkan perpuluhan untuk mengingatkan jemaat mereka tentang kewajiban- kewajibannya mendukung gembala dan program-programnya. Dan mereka akan menggunakan janji berkat keuangan atau ketakutan akan kutuk keuangan untuk memastikan perpuluhan jalan terus.
Perpuluhan modern sama dengan sebuah lotere Kristen. “Bayar perpuluhan dan Allah akan memberimu kembali banyak uang. Tolak perpuluhan, dan Allah akan menghukummu.” Banyak pemikiran-pemikiran yang merobek dan mengoyak jantung dari berita baik Injil. Hal yang sama dapat dikatakan tentang gaji kependetaan. Ini bukan nilai Perjanjian Baru. Pada kenyataannya clergi salary (gaji kependetaan) cenderung berlawanan dengan seluruh watak Perjanjian Baru. Penatua-penatua (gembala-gembala) pada abad pertama tidak pernah digaji, mereka orang-orang yang mempunyai pekerjaan dan profesi. Mereka memberi kepada jemaat bukan mengambil dari mereka.
Penggajian gembala-gembala membuat mereka menjadi profesional-profesional yang dibayar. Ini mengangkat mereka melampaui umat Allah yang lain. Ini menciptakan sebuah kasta kependetaan yang memutarbalikkan kehidupan Tubuh Kristus ke dalam sebuah bisnis. Sejak gembala dan stafnya dibayar untuk melayani , mereka menjadi profesional bayaran. Segala perilaku gereja masuk dalam sebuah tingkat ketergantungan yang pasif. Jika setiap orang Kristen dipanggil untuk berfungsi sebagai imam-imam dalam rumah Tuhan (dan mereka diijinkan untuk menggunakan panggilan itu), pertanyaan yang segera muncul: Apakah kita harus membayar pastor-pastor kita? Tetapi hari ini, dalam keimamatan yang pasif, banyak pertanyaan-pertanyaan tidak pernah muncul. Sebaliknya ketika gereja berfungsi sebagaimana seharusnya, kependetaan profesional menjadi tidak perlu. Tiba-tiba pemikiran yang mengatakan, “itu adalah pekerjaan pendeta” terlihat tidak alkitabiah. Sebuah kependetaan profesional akan mendorong pengembangan pemikiran salah bahwa firman Allah digolongkan sebagai hal yang hanya dapat di handle oleh orang- orang yang ahli saja.
Membayar seorang pendeta atau gembala juga akan mendorongnya menjadi seorang “man-pleaser” (asal orang lain senang). Ini membuat dia menjadi budak manusia. “Kupon makan”-nya bergantung seberapa baik dia menyenangkan jemaatnya. Jadi dia tidak bebas untuk bicara tanpa takut bahwa dia akan kehilangan pemberi-pemberi perpuluhan. Bahaya lebih jauh lagi dari sistem penggajian pendeta adalah kecenderungan menghasilkan manusia-manusia yang tidak memiliki banyak keahlian. Sayang sekali banyak umat Tuhan sangat polos dan tidak mengerti tentang kekuasaan yang berlebihan dari sistem kependetaan. Allah tidak pernah mengharapkan lembaga kependetaan yang profesional untuk eksis. Tidak ada mandat atau penegasan alkitabiah mengenai hal tersebut. Pada kenyataannya tidak mungkin menyusun sebuah pembelaan alkitabiah untuk itu.
Seringkali para usher dipilih untuk menangani pengumpulan keuangan selama kebaktian berlangsung. Mereka menyodorkan “kantong persembahan” kepada jemaat. Praktek mengedarkan kantong persembahan tersebut dimulai pada tahun 1662 meskipun peti persembahan dan piring persembahan telah ada sebelum itu. Usher bermula dari Ratu Elizabeth I (1553-1603) yang pada waktu itu mengorganisasikan kembali liturgi gereja di Inggris. Para usher memiliki tugas mengawasi orang-orang duduk, mengumpulkan persembahan dan mencatat siapa yang telah mengambil perjamuan suci. Yang ada lebih dulu dari usher adalah “kuli pengangkut” (sama dengan “porter” gereja). Porter-porter itu memiliki tugas mengawasi penguncian dan pembukaan pintu gereja, menjaga bangunan dan mengawasi peraturan umum bagi para diaken.
Kesimpulan
Perpuluhan, sekalipun alkitabiah, bukan kekristenan. Yesus Kristus tidak menyatakan hal itu. Kekristenan abad pertama tidak melakukan hal tersebut dan selama 300 tahun umat Allah tidak mempraktekkannya. Perpuluhan tidak menjadi praktek yang diterima meluas di kalangan kekristenan sampai abad ke-delapan. Pemberian di dalam Perjanjian Baru adalah sesuai kemampuan seseorang. Orang- orang Kristen memberikan pertolongan kepada orang-orang percaya yang lain dan juga mendukung pekerja-pekerja apostolik, mendanai perjalanan dan perintisan jemaat. Satu dari kesaksian yang paling terkenal dari gereja mula-mula adalah betapa murah hatinya orang-orang Kristen terhadap orang miskin dan orang-orang yang dalam kebutuhan. Inilah yang membuat orang-orang luar, termasuk filsuf Galen, untuk melihat hal yang mengagumkan, kekuatan yang menarik dari gereja mula-mula dan berkata: “Lihatlah mereka mengasihi satu sama lain”.
Perpuluhan hanya disebutkan 4 kali dalam Perjanjian Baru tetapi tidak satu pun dari konteks itu diaplikasikan kepada kekristenan. Sekali lagi, perpuluhan merupakan bagian dari Perjanjian Lama dimana sistem perpajakan dibutuhkan untuk mendukung orang miskin dan dalam masa dimana sebuah keimamatan dipisahkan secara khusus untuk melayani Tuhan. Bersama dengan kedatangan Yesus Kristus ada sebuah “perubahan hukum”–yang tua “dibatalkan” dan menjadi usang oleh karena yang baru.
Kita semua sekarang adalah imam, bebas berfungsi di dalam rumah Allah. Hukum Taurat, keimamatan yang lama, dan perpuluhan semuanya telah disalibkan. Tidak ada lagi sekarang tirai bait Allah, pajak rumah Allah atau pun keimamatan khusus yang berdiri di antara Allah dan manusia.
Anda, orang-orang Kristen, telah dibebaskan dari perbudakan perpuluhan dan dari kewajiban untuk mendukung sistem klergi yang tidak alkitabiah.
Judul: PAGAN CHRISTIANITY (The Origins of Our Modern Church Practices)
Pengarang: Frank Viola
Penerbit: Present Testimony Ministry
Halaman: bab 7 “Tithes and Clergy Salaries” — (217-229)
(Sumber: http://groups.yahoo.com/group/gbkp/message/7928)
Artikel oleh: Budi Setiawan
July 10, 2009
Tags: Artikel Kategori : Umum Sebarkan



Satu komentar
Tjian Wie - December 18, 2011
1. Kita harus tahu latar belakang Frank Viola menulis ini, asumsi saya:
a. menghancurkan ke Kristenan (Bgmn ke Kristenan bisa menyebarkan Injil ke pedalaman tanpa uang?)
b. Dia sbg pembicara seminar atau pengarang buku, cari hal-hal yang tidak populer spt ini utk menyenangkan pendengar-nya atau pembaca bukunya, di industri spt ini jgn kaget kalau seseorg menggunakan keKristenan utk mencari uang spt Da Vinci Code yg sukses besar di pasar. Pdhl sdh tertulis di cover depan ini cerita FIKSI.
2. Bgmn dg Habil yg mempersembahkan hasil ternaknya? Bahkan Kain yg punya hati yang jahat pun tahu mempersembahkan hasil tanahnya, masakan kita sebagai orang Kristen tidak punya Hikmat untuk memberi kepada Tuhan karena itu menyenangkan Tuhan, inti dari perpuluhan adalah mempercayai Tuhan/beriman kepada Tuhan, bahwa Tuhan sanggup memberi kita kekuatan, kesehatan, kepandaian & pekerjaan itu sendiri sehingga kita BERSYUKUR atas itu. Tidak memberi perpuluhan walau kita orang miskin, maka itu artinya tidak percaya Allah adalah Sang Pemberi, Penjaga & Pemelihara.
Ilustrasi: ttg anak-anak yg dipungut di jalan dari Perang Dunia, mrk tdk bisa tidur dg tenang kalau tangannya tidak pegang roti.
Krn mrk biasa tdk makan berhari-hari shg kekuatiran menguasai hidupnya, waktu mrk pegang roti, mrk jadi tenang.
3. Banyak perkataan yang bertentangan di buku Frank Viola ttg perpuluhan ini, kalau kita perhatikan dg cermat, spt perpuluhan memberatkan orang miskin, pdhl Tuhan memuji persembahan janda miskin tsb yg lebih dari 10%.
Matius 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Dari ayat ini jelas Kristus menetapkan Persepuluhan sebagai hal yang jangan diabaikan
Ibrani 7 (baca Ibrani 7 secara lengkap untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap)
7:5 Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham.
Ibrani 7:9
Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan,
Bukan cuma jemaat (yg merupakan imam memberi perpuluhan), tapi pendeta juga memberi perpuluhan.
4. Walau perpuluhan berupa hasil tanah tapi tetap 10%, ternak dihitung, ternak yang kena angka ke-10 hrs dipersembahkan sbg perpuluhan & boleh diuangkan jika perjalanan itu jauh, saat ini perpuluhan berupa uang, karena persembahan korban sudah ditiadakan dg diganti darah Kristus sbg persembahan yg eternal.
5. Perpuluhan bukan 23,3%, tapi 10%, sdgkan 1/3 dari perpuluhan kita adalah bagian untuk orang miskin. Kalau 23.3% maka bagian lain dari Alkitab spt Maleakhi dll tdk akan menyebutnya 10% atau perpuluhan. Dari sini sdh kelihatan Frank tdk mempelajari keseluruhan Alkitab dg teliti tapi hanya menggunakan Alkitab utk cari uang dari seminar & penjualan buku.
6. Ada 3 macam Hukum di Hukum Taurat yaitu Hukum Moral, Hukum kenegaraan, Hukum social, Hukum ibadah. Hukum Kenegaraan, Social & ibadah memang telah dihapus dg darah Kristus, tapi tidak dg Hk. Moral justru Darah Kristus menyempurnakan Hk. Moral tsb, yaitu kita harus melakukan dg Kasih bukan krn takut hukuman dari Tuhan.
Kalau kita mengasihi kita pasti tdk akan mencuri atau membunuh orang lain. Kalau 10 Hukum Moral dari Taurat itu dihapus berarti kita boleh mencuri, membunuh, dll ? Prinsip yg sama itu kita lakukan dlm membaca Alkitab PL, kita ambil prinsipnya, jadi dari ke-3 hukum yang lain, kita bisa ambil prinsipnya termasuk prinsip perpuluhan. Kalau kita cuma membaca PB tanpa mengerti prinsipnya dari PL, kita akan salah mengerti menafsirkan Alkitab, ya seperti Frank Viola ini dlm mengerti Alkitab.
7. Ttg jemaat pertama, Inilah uniknya keKristenan kita tidak disuruh bayar dulu baru nonton bioskop, Ke-Kristenan kita mengerti, menyadari, memahami & mengimani, dulu baru memberi perpuluhan, jadi saya memang lebih setuju gereja tidak pakai kantong tapi pakai kotak di depan pintu keluar, yang tergerak boleh memberi, yang belum beriman & tidak tergerak tidak usah memberi dulu. Jadi tidak ada unsur paksaan. Kecuali kebaktian Sekolah Minggu perlu pakai kantong, karena pemahaman anak-anak terbatas.
8. Abraham memang memberi 1x kpd Melkisedek, tapi Abraham sering mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, bagaimana kalau persembahan Abraham itu ternyata juga 10%, Abraham layak disebut Bapa orang beriman, karena dia terus menerus memberi 10% sepanjang hidupnya, sdgkan persembahan kpd Melkisedek adl persembahan khusus.
9. Bahwa pelayananan kependetaan profesional tidak diperlukan karena semua yang bertobat bisa melayani jadi iman, maka nantinya keKristenan akan jadi agama yang paling ngawur di dunia, krn semua orang boleh mengungkapkan pendapatnya sendiri & saya yakin akan bertentangan 1 jemaat dg jemaat yg lain, shg menimbulkan pertengkaran diantara jemaat. Frank Viola aja ngawur, bagaimana menyuruh jemaat yang belum pernah baca seluruh Alkitab tapi baca 1 bagian aja sdh disuruh kotbah?
Ilustrasi: seorang awam disuruh kotbah, lalu dia pakai cara cap cip cup, dia buka Alkitab dg mata terpejam, lalu dia tunjuk bagian Alkitab dg mata terpejam juga, lalu keluar ayat dari Hosea 1:2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: “Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal..â€
Dengan polosnya dia kotbahkan itu, ya jemaat kawinilah perempuan sundal & peranakan anak-anak sundal. Jadi apa dunia ini kalau ke Kristenan spt itu? Apakah dunia ini akan lebih cepat spt Sodom & Gomora?
10) Pendeta tidak digaji krn tdk sesuai dg PB, coba lihat ayat2x ini
I Korintus 9:9-10
“Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” Lembukah yang Allah perhatikan? Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.â€
I Timotius 5
5:18 Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.”
11) Pendeta menjadi pembicara yang asal orang lain senang, Frank ke Gereja mana sih? Coba datang ke KKR Billy Graham atau dengarkan kaset-kaset KKR Billy Graham atau suruh ke Gereja Stephen Tong kalau dia di Indonesia. Hal itu tergantung pribadi si pembicara, jangan sampai ada pembicara brengsek seperti itu lalu digeneralisasi ke semua pembicara. Saya termasuk pengkotbah yang suka menegor atau membawa berita tegoran di mimbar kepada jemaat. Justru dia yang seperti itu, maling teriak maling. Dia justru mengarang buku ini untuk menyenangkan semua orang yang merasa bersalah krn tdk perpuluhan & dia berusaha memberi ketenangan pd org berdosa dg cara yg salah. Banyak skrg org yg cari popularitas & uang dari Alkitab dg cara yang melenceng, jgn heran.
12. Perpuluhan disebutkan 4x ? krn hal ini sdh jelas pd saat itu, maka tidak perlu dijelaskan dg panjang lebar. Hal yg sudah jelas di PL tdk perlu dijelaskan lagi di PB dg panjang lebar, justru yg tdk jelas itu yg dijelaskan dg panjang lebar di PB. Soal perpuluhan adalah hal yang jelas, tapi dibuat tidak jelas oleh Frank, cara hidup jemaat pertama cuma 5 ayat tapi digeneralisasi oleh Frank jadi keseluhan PB. Dan di jemaat pertama jelas peraturan belum berkembang dengan baik, sama seperti semua hal lain, yang pertama selalu tidak akan ada peraturan yg lengkap, Hk. Taurat baru diberikan berapa ribu tahun setelah Kejatuhan Adam ?
Menerbitkan artikel ini di web jelas-jelas ikut menyesatkan orang Kristen & ikut mau menghancurkan ke Kristenan, apalagi kalau jawaban saya tidak dimuat
Tulis Komentar Anda